
"Maaf ya sayang. Aku tak cerita masalah vidio itu karena takut kamu jadi kepikiran."
"Huuu, a-apa benar vidio itu hanya akal-akalannya saja?"
"Be-benar sayang." Faktanya, aku tidak yakin.
"Syukurlah," lirihnya. Wajah cantiknya sembab karena terus menangis.
"Oiya, ummi sudah membaik. Tapi harus kontrol ke rumah sakit khusus jantung," jelasku seranya merengkuhnya.
"Alhamdulillah, emm ... maaf atas sikapku tadi pagi. Tadi ... a-aku marah."
Ia menengadah, menatapku lekat. Permintaan maafnya benar-benar tulus.
"Akulah yang seharusnya meminta maaf. Bukan kamu." Sambil mengusap airmatanya. Lalu mengecup bibirnya yang begitu merah. Merah alami.
"Aku tidak mengira papinya bu Dewi akan sejahat itu. Setelah melihat rekaman di HP-nya pak Septa, aku baru yakin kalau semua ini adalah nyata, dan nyawa Anda benar-benar terancam."
"Kamu melihat HP-nya pak Septa? Kamu berkomunikasi dengan pria lain tanpa sepengetahuan dan seizinku?" telisikku.
"Aku mendapatkan HP pak Septa dari kang Hendra. Kang Hendra ternyata berusaha mencari cara untuk meredakan kemarahanku pada Anda. Aku tak berkomunikasi dengan pak Septa. Jangan asal menuduh," jelasnya.
"Oh, begitu ceritanya? Maaf ya sayang. Aku cemburu karena terlalu mencintai kamu."
"Oiya Pak, aku baru ingat lagi." Hanin terkejut tiba-tiba.
"Kenapa sayang?"
"Pak, tadi ibunya kak Listi telepon aku. Katanya, kak Listi belum pulang lagi ke rumah semenjak olah raga. Kak Listi olah raga bawa sepeda sekitar jam setengah empat pagi. Ibu dan bapak kak Listi khawatir karena nomor kak Listi tidak bisa dihubungi. Kak Listi juga tidak masuk kerja."
"Apa?!"
Aku terhenyak. Merasa dejavu dengan informasi ini. Jadi ingat sama pak Sabil yang kondisinya mirip dengan Listi. Lost contact.
"Tenang, katakan sama orang tuanya Listi kalau aku akan membantu untuk menemukannya. Listi karyawanku, dia juga sahabat baik kamu. Jadi, aku akan bertanggung jawab."
"Terima kasih," sahutnya.
Jujur, batinku terusik. Aku khawatir jika loss contactnya pak Sabil dan Listi ada hubungannya dengan permasalahanku. Semoga saja tidak. Aku mengelus kepala Hanin sambil berpikir.
"Pak, Anda tadi menceraikan bu Dewi dalam keadaan emosi," protesnya.
"Sayang, aku memang emosi. Namun apa yang kuucapkan berasal dari lubuk hati terdalamku. Dia pantas mendapatkannya. Beruntung dia sedang hamil dan memiliki masalah kejiwaan. Jika tidak, aku sudah menjebloskannya ke jeruji besi."
"Aku kasihan sama bu Dewi, Pak. Bagaimana respon keluarganya kalau mereka tahu Anda sudah menceraikannya?"
"Sayang, papinya Dewi terbukti ingin melenyapkan aku dan kamu. Apa kamu yakin mereka masih layak dikasihani?"
"Emm, jika benar papinya bu Dewi adalah dalang penculikan itu dan ia terbukti ingin membunuh Anda, kenapa tidak ditangkap saja, Pak? Kenapa polisi terkesan lamban menangani kasus kita?"
"Sayang, tidak ada satupun pelaku yang menyebutkan nama papinya Dewi. Penculik kamu bersaksi jika mereka ada dendam pada papaku. Yang menabrak papaku mengatakan tak sengaja, dan yang berusaha menembakku bersaksi jika dia meletupkan senjata ke arahku karena terdorong emosi dan spontanitas."
"Mereka seperti sudah terlatih untuk memanipulasi fakta dengan bermain kata-kata. Selain itu, keluarga Dewi juga ada yang memegang jabatan penting di kepolisian, jadi ---."
Aku tak melanjutkan kalimatku karena tidak mau berandai-andai pada hal yang sifatnya masih kemungkinan ataupun isu.
"Ini adalah kali pertamanya kak Listi tak ada kabar."
"Sayang, sebenarnya, pak Sabil juga hilang kontak."
__ADS_1
"Pak Sabil?"
"Ya sayang."
"Apa mungkin pak Sabil pergi bersama kak Listi?" duganya.
"Emm, aku tidak tahu sayang. Tapi, untuk apa Listi pergi sama pak Sabil?"
"Emm ... aku hanya menebak, Pak."
"Ya sudah sayang, sekarang kamu istirahat lagi ya. Aku mau mengurus Dewi dulu. Tapi harus konsultasi sama dokter Rahmi dulu bagaimana baiknya. Untuk masalah Listi, aku akan meminta bantuan sama anak buahnya pak Komandan. Ya ampun, hari ini, aku merasa sangat sibuk."
"Sabar ya, Pak. Aku akan berdoa agar masalahnya cepat selesai."
"Terima kasih, sayang. Kamu adalah alasan utama yang membuatku tetap semangat dan percaya diri. Sebelum aku pergi, kita bemesraan dulu yuk sayang," ajakku.
"Hahh? A-apa?"
"Berikan aku ini dulu," pintaku sambil menyentuh yang kuinginkan. Hanin langsung mengerjapkan mata.
"A-apa harus?" Pipinya merona.
"Harus atuh Neng geulis. Biar akunya semangat sayangku. Boleh ya?"
"Emm ...." Dia terdiam. Menunduk.
"Diam berarti yes," godaku.
Aku lantas membuka jilbabnya. Sebenarnya, tidak banyak yang kuinginkan. Hanya ingin berlama-lama memagut bibirnya, memeluknya, lalu ....
Ssstt, rahasia.
...⚘️⚘️⚘️...
Aku merenung bingung setelah tersadar beberapa menit yang lalu. Aku menatap atap mobil yang sedang melaju kencang sambil mengingat-ingat kejadian sebelumnya.
Lantas ketakutanpun datang melanda. Aku gemetar. Air mataku kembali menetes. Namun sebisa mungkin kuusahakan agar tak mengeluarkan suara. Kugigit bibirku kuat-kuat hingga terasa perih.
Beberapa jam yang lalu, setelah memijat punggungku, pak Sabil menghubungi pos polisi terdekat.
Dari pembicaraannya, kudengar ia meminta bantuan agar dikirim mobil polisi dan seorang Polwan. Ia juga meminta agar Polwan yang dimaksud membawa obat anti nyeri, pembalut, ce la na da lam wanita, celana pajang atau rok, selimut, roti, susu, serta minyak hangat.
"Sabar, oke? Bantuan akan segera tiba," katanya pada saat itu.
Dia begitu peduli terhadapku. Karena perutku sakit, aku tak fokus dan tak memedulikannya. Bahkan tak memedulikan diriku sendiri hingga pria itu berulang kali memalingkan wajah dan merapikan pakaian bawahku.
"Maaf, jangan lihat-lihat!"
Saat sakitku berkurang, aku membentaknya. Jujur, risih dan malu sekali karena kaki dan punggungku sudah dilihatnya. Tangannya bahkan sudah memijat seluruh bagian dari punggungku.
"Ini darurat! Setelah ini, Anda harus melupakannya dan anggap saja jika kejadian ini tak pernah terjadi."
"Siap!" jawabnya singkat. Tak banyak komentar. Tidak seperti biasanya.
Lalu seseorang menghubunginya.
"Ambulance? Kenapa tidak mobil Patroli saja? Ya sudah, tidak apa-apa. Bawa masuk saja mobilnya ke halaman samping kanan mushola," titahnya.
Ambulancepun tiba, dan aku tidak bisa melihat sosok yang membawa ambulance tersebut.
__ADS_1
Pak Sabil berlari dan mengambil kantung plastik yang diberikan oleh seseorang dari dalam mobil. Isinya kupastikan adalah barang-barang yang kubutuhkan. Lalu ia kembali memangkuku tanpa izin. Aku dibawa ke toilet wanita, lalu dia memintaku untuk segera berganti.
Singkat cerita, saat aku keluar dari toilet, tiba-tiba ....
Ada seseorang yang membekap bibirku dengan kain basah yang aromanya sangat menyengat hingga membuatku mual, pusing, dan pingsan seketika sebelum tahu siapa pelakunya.
.
Ibu ... bapak ... ratapku saat ini.
Apa salahku? Kenapa aku mengalami semua ini? Ternyata, tangan dan kakiku telah terikat. Aku terbaring tak berdaya di dalam ambulance asing. Entah akan dibawa kemana. Kaca mobil ini tentu saja gelap gulita. Namun mobil ini tak menyalakan sirinenya.
Aku memberanikan diri untuk menoleh ke sisi lain dengan perlahan-lahan. Deg, jantungku berdegup dan bergejolak.
"P-Pak Sabil?" gumamku.
Pria itu ternyata terbaring miring menghadap ke sisiku. Tepatnya di kursi untuk pengantar pasien. Sementara aku, aku berada brankar ambulance. Kondisi pak Sabil membuatku kian ketakutan.
Tubuhnya diikat ke kursi, tangan dan kakinya terikat, bibirnya pecah, pipi kanannya lebam, kelopak mata kirinya bengkak, dan dia belum siuman. Ingin kubeteriak sekuat tenaga, tapi ... aku takut.
"Suatu hari, kamu akan sadar jika ucapanku benar. Dengar baik-baik, cepat atau lambat, kamu akan menyesal karena sudah berteman dengan Daini. Jika wanita itu tak menikah dengan pak Zulfikar, mungkin aku masih bisa mentolelir." Aku jadi teringat akan ucapan Akmal.
"Akhiri pertemanan kamu sebelum kamu menyesalinya!"
Apa kejadian seperti ini yang ditakuti Akmal? Tapi ... aku tetap tidak bisa mengakhiri persahabatanku dengan Daini.
"Uhhuk."
Pak Sabil terbatuk. Aku memalingkan wajah, dan memejamkan mata. Pria itu merintih pelan, sepertinya ada sesuatu yang membuat tubuhnya kesakitan.
"Siapa kalian?!" teriaknya. Namun tak digubris.
"Ssstt," kataku. Akhirnya kembali menolehkan kepala dan bersitatap dengannya.
"Kembalikan pistol dan tasku!" Malah beteriak lagi.
"Pak Sabil, bisa diam tidak?" kataku dengan suara pelan.
"Tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu," katanya.
"Bisa apa? Kita diikat, Pak." Aku pesimis. Ia menautkan alisnya.
"Aku punya ide. Tapi kita harus bekerja sama."
Apakah dia bisa dipercaya? Melihat keadaannya, aku merasa tak yakin.
"Kamu harus yakin. Aku seorang perwira." Dia seolah tahu isi hatiku.
"Buktinya, Anda tertangkap dan babak belur. Itu berarti Anda kurang hebat. kalau hebat, harusnya tak tertangkap, 'kan?"
"Mereka licik! Mereka membiusku. Selain itu, aku mudah tertangkap karena ingin menyelamatkan kamu. Tidak tahu kenapa, aku merasa jadi lemah dan kepayahan saat melihat mereka berhasil membawa kamu."
"Apa?" Aku tak percaya dengan apa yang dia katakan.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc...
_____________________
__ADS_1
Hari ini, nyai akan menjalani berbagai macam prosedur medis pra operatif. Mohon doanya ya. nyai deg-degan, semalaman hampir enggak bisa tidur. nyai sudah ikhlas menjalani operasi, namun sebagai manusia, nyai tak bisa menghindar dari perasaan cemas ini. Hehehe.