
[Adult Area!!!]
--------------------
Aku terbangun dan sadar benar masih berada di ruangan yang sama. Yaitu, ruang pengambilan spesimen. Kepalaku masih pusing, aku memijatnya pelan.
"Kamu sudah sadar? Aku khawatir Mas."
Ternyata, di sampingku ada Dewi. Dia langsung memegang tanganku.
"Lepas!" sentakku.
"Mas, kamu kenapa, sih? Mas, ini hari penting untuk kita. Kata dokter, tenggang waktu pengambilan spesimennya hanya 12 jam. Karena kamu tidur, prosesnya tingal 9 jam lagi."
"Tidur katamu?! Aku tidak tidur! Aku seperti ini gara-gara kamu! Jangan bilang kalau kamu melupakan kejadian tadi! Sudah, kita batalkan saja! Lagi pula tubuhku tak merespon!" Aku teramat kesal. Ingin segera keluar dari kamar ini.
"Masalah jarum suntik itu maksud kamu? Mas, masalah itu tak perlu kamu ungkit lagi. Aku sudah mengatakan pada dokter kalau aku tak sengaja menjatuhkan jarum itu."
"Apa katamu?!"
"Iya, Mas. Setelah jatuh, saat berusaha mengambilnya, aku mengatakan kalau aku tak sengaja menekan pedal jarumnya. Jadi, obatnya keluar," jelasnya.
"Kamu memberikan keterangan palsu pada dokter?!" sentakku.
"Bukan keterangan palsu, Mas. Aku hanya berniat menutupi aib suamiku. Apa jadinya kalau mereka tahu putra seorang Aksa Atasena mengalami i m p o t e n s i," tuduhnya.
"Dewi, dengar ya! Aku tidak i m p o t e n! Pagi-pagi dia bangun dan baik-baik saja. Dia tidak berfungsi karena saat bersama kamu yang ada di pikiranku adalah semua kejanggalan sikap kamu! Aku jadi ilfeel!" Karena terdorong emosi, aku tak bisa memfilter ucapanku.
"Apa?! Tega kamu ya Mas! Kamu bilang ilfeel? Si Daini benar-benar telah mencuci otak kamu, Mas! Padahal, tadi aku membela kamu! Aku bilang pada dokter kalau kamu tidur karena efek obat nyeri dan obat tidur yang masih kamu konsumsi pasca kecelakaan itu! Aku juga sudah menghilangkan jejak darah yang ada di lengan kamu. Masalah tadi sudah clear! Yang tahu hanya kita, Mas!"
"Astaghfirullah. Wi! Enak saja kamu mengclearkan masalah tadi secara sepihak! Dengar ya! Aku akan menuntut kamu!"
"Hey! Apa yang akan kamu tuntut dari aku, Mas! Kamu benar-benar sudah dibutakan hatinya gara-gara pengasihan si Daini!"
"Dewi! Yang hatinya sudah buta itu kamu! Kamu tadi menusukku dengan jarum berisi obat bius! Kamu juga mengancamku dengan mengatakan ingin mati menggunakan jarum-jarum itu! Pokoknya, aku akan melaporkan masalah ini pada mama papaku. Juga akan melaporkan sikap kurang ajar dan kekerasan yang kamu lakukan pada papi dan mamimu! Kamu bisa kena pasal KDRT! Aku akan menuntutmu!"
"Silahkan saja kalau kamu berani, Mas! Lagipula, ini ruangan privasi khusus suami-istri! Di ruangan ini tak ada CCTV! Yang tahu hanya aku! Akan kupastikan kalau mama dan papamu justru akan menuduh jika kamu telah mengarang cerita!" tantangnya.
Aku memegang dadaku untuk mengatur napas. Aku yakin jika Dewi mengalami gangguan psikis. Apa dia bipolar? Aku menduga-duga.
Bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati secara drastis. Penderita bipolar bisa merasa senang, lalu berubah menjadi sedih pada waktu yang bersamaan. Tapi, Dewi juga sering melakukan kekerasan. Apa pengidap bipolar sering melakukan kekerasan juga? Aku tak tahu.
"Sudahlah Mas, tak perlu kamu bahas lagi. Sekarang, lebih baik kamu lanjutkan istirahatnya. Sejam lagi, dokter akan ke sini untuk mengambil spesimen kamu secara langsung," terangnya.
"Apa?! Wi, kamu benar-benar sudah gila ya?! Aku tak mau diambil secara langsung. Jika aku tak setuju, itu sama saja dengan pemaksaan! Intinya, aku ingin membatalkan program ini. Titik!" teriakku.
"Mas! Aku sudah mempersiapkan semuanya! Proses ini tak gratis dan sangat menyita waktuku!"
"Berapa kerugian kamu untuk mempersiapkan semua ini, hah?! Aku akan bayar! Kamu sendiri yang tak mau menggunakan uangku!"
"Aku tak butuh uang kamu, Mas! Aku hanya butuh s p e r m a kamu untuk membuahi empat sel telurku!"
"Apa?! Empat? Kamu menanam empat calon janin?!" Aku benar-benar tak percaya.
"Ya Mas! Empat! Jika si Daini bisa hamil dua anak, maka aku bisa hami 4 anak atau tiga anak! Kata dokter, tidak semua sel telur bisa berkembang. Jadi, aku tanam empat untuk cadangan."
"Astaghfirullah, Wi. Kenapa tidak satu atau dua saja? Kalau gagal, kita 'kan bisa mengulanginya lagi. Kamu kira anak itu mainan apa?! Bagaimana kalau empat-empat berkembang? Tolong kamu pikirkan juga masa depannya."
"Anak itu titipan yang harus dijaga, Wi. Bukan ajang untuk pamer apa lagi bersaing. Maaf, maksudku bukan masa depan masalah harta ya, aku hanya khawatir anak-anak itu tak mendapat kasih sayang yang layak dari kamu sebagai ibunya."
"Halah, sudahlah Mas! Aku malas berdebat lagi! Kalau kamu memang tak mau diambil secara langsung, ayo buktikan! Kamu lakukan sendiri saja! Cepat!" teriaknya.
"Aku tidak mau melakukannya selama kamu tak mengakui kesalahan kamu! Sekarang, kamu harus jujur. Apa kamu memiliki penyakit kejiwaan?"
"Apa?! Gila kamu, Mas! Pasti si Daini 'kan yang menghasut kamu dan mengatakan kalau aku memiliki penyakit kejiwaan?!"
"DEWI! Jangan pernah menyalahkan Hanin lagi! Dia tak ada urusannya dengan masalah ini! Asal kamu tahu ya, aku punya banyak data yang bisa membuktikan kalau kamu memiliki penyakit kejiwaan. Apa jangan-jangan, kamu sengaja memalsukan surat keterangan sehat supaya bisa menikah denganku? Ayo, kamu jujur saja!"
Akhirnya, semua praduga itu aku bongkar juga. Aku melakukan ini karena sudah tak tahan dengan sikapnya yang melampaui batas kesabaranku.
"Hahaha, hahaha, kamu mengada-ada, Mas! Oke, silahkan kamu menuduhku sesuka hati kamu! Silahkan kamu melaporkan aku ke polisi. Tapi, jika itu terjadi, kamu akan menanggung malu dan penyesalan seumur hidup kamu, Mas! Oiya, bukan kamu saja yang malu, tapi si Daini dan seluruh keluarganyapun akan malu. Bahkan keluarga kamupun akan menanggung malu! Hahaha."
"Apa maksudmu, hah?! Kenapa aku harus menanggung malu? Apa yang kamu rencanakan?! Cepat katakan! Cepaaat!" teriakku sambil berkacak pinggang dan menunjuk Dewi yang saat ini sedang duduk santai di kursi sambil menopang kakinya.
"Baik, aku akan mengatakannya. Dengarkan baik-baik ya, Mas. Sebab, aku tidak akan mengulang kalimat ini. Aku hanya akan mengucapkannya sebanyak satu kali."
"Cepat katakan! Jangan bertele-tele!" selaku.
"Aku punya rekaman vidio perzinaan kamu dan si Daini yang di kamar apartemen! Kamu puas, Mas?!"
"A-APA?!" Mataku sampai membelalak saking kagetnya.
"Saat mendapat kesempatan masuk ke kamar kamu, aku memang sengaja memasang kamera mini untuk jaga-jaga."
"Kamu benar-benar tak waras!" Tubuhku gemetar. Tanganku mengepal kuat hingga urat-uratku menyembul.
"Mana ada yang waras berzina. Jadi, siapa sebenarnya yang tak waras?!" ledeknya sambil tertawa sinis.
Sekuat tenaga aku menahan amarah ini agar tak sampai melukai Dewi.
"Aku dan Hanin tidak pernah berzina! Aku bercinta dengan dia karena dia istriku! Bahkan yang dilakukan di hotelpun tidak termasuk kategori zina karena aku dan dia sedang mabuk!" teriakku. Sengaja berbicara kencang untuk meluapkan emosiku.
"Itu menurut pendapat kamu, Mas! Menurutku tetap zina! Pokoknya, jika kamu tak menuruti keinginanku, aku akan menyebarkan vidio itu! Biar sekalian saja se-Indonesia tahu! Atau aku akan mengupload vidio itu ke situs dewasa!" ancamnya.
Menggigil sekujur tubuhku mendengar semua itu. Aku mungkin saja memaafkan Dewi kalau dia benar-benar tidak waras secara medis. Namun masalah ini lebih pelik dari sekedar ketidakwarasan. Ini kejahatan! Saking marah dan kecewanya. Lidahku nyaris kelu hingga sulit berkata-kata.
"Jika kamu menceraikan aku, jika kamu menolak bayi tabung, jika kamu ingin nikah sah, maka balasannya adalah --- vidio itu akan aku sebarluaskan. Aku bahkan sudah menyimpan file dan duplikatnya pada seseorang yang siap melakukan perintahku kapanpun dan dimanapun!"
"Le-lebih baik ... a-aku membayar denda dan mengakhiri se-semuanya." Emosiku yang memuncak membuatku terbata-bata.
"Termasuk jika kamu membayar denda, maka aku juga akan menyebarkannya, Mas! Aku menikahi kamu bukan karena uang ataupun perusahaan! Masalah perusahaan itu urusan papi-mami dan keluargaku! Aku mencintai kamu, Mas! Dan di dalam kamus hidupku, aku selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan!"
"K-kamu akan aku laporkan ke polisi dengan banyak tuduhan! KDRT! Pemalsuan dokumen! Fitnah! Perbuatan tidak menyenangkan! Penipuan dan undang-undang p o r n o g r a f i!"
"Hahaha, silahkan, Mas! Aku tak masalah kalaupun harus mendekam di penjara asalkan sudah berhasil mempermalukan kamu dan si Daini. Seluruh Indonesia, bahkan mungkin seluruh penduduk di dunia ini, nanti akan melihat tubuh indah kamu dan tubuh seksi si Daini berikut organ intimnya yang sering kamu ma ---!"
"DIAM!" Aku beranjak dan membekap mulutnya.
"Mmm ---." Dewi berontak. Dia berusaha menepis dan menggigit telapak tanganku.
"Cepat kamu tinggalkan ruangan ini! Atau aku akan mencekik kamu!" Lantas menghempas dan melepasnya agar dia cepat pergi.
"Mas, aku harus menemani kamu! Urusan kita belum selesai!"
"Pergiii!" usirku.
"Mas, tapi bayi tabung itu jadi, kan?!"
"Cepat pergi! Aku mau sendiri!" Sambil menunjuk ke pintu keluar.
"Mas, aku serius! Sel telurku harus dibuahi hari ini juga! Atau kamu yakin tak apa-apa kalau aku menyebarkan vidio itu?!" Kembali mengancam.
__ADS_1
"Baik, aku setuju! Aku akan melakukannya sendiri! Sekarang kamu cepat pergi! Aku ingin menenangkan diriku!"
"Oke! Aku pegang kata-katamu ya, Mas!" Dia lantas pergi.
...🍒🍒🍒...
Setelah Dewi pergi, tubuhku bak tak bertulang. Aku terpekur di lantai. Memasygul kuat-kuat rambutku. Aku tak mungkin membiarkan Dewi berulah sesuka hatinya. Tapi, aku juga tidak ingin mempermalukan semua orang yang berada di sekitarku.
Apa jadinya kalau vidio itu benar-benar disebarluaskan? Siapa gerangan orang yang telah menyimpan vidio itu?
Dewi orangnya nekad. Apa yang harus kulakukan?
Jalan pikiranku buntu. Saat ini, kalaupun aku membayar denda dan menceraikan Dewi, jadinya tetap akan sia-sia. Aku tak ikhlas lahir batin dunia akhirat kalau sampai tubuhku dan tubuh Hanin jadi konsumsi publik.
"Aaarghh!" teriakku.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Aku juga tak mungkin mengatakan hal ini pada siapapun. Termasuk pada Hanin. Jalan satu-satunya untuk saat ini hanyalah mengikuti keinginannya.
.
.
Lalu ada yang mengetuk pintu, sepertinya dokter. Benar saja, saat pintu kubuka, dua orang dokter masuk.
"Mohon maaf mengganggu. Apa sudah selesai?" tanya salah satu dari mereka.
"Belum," jawabku singkat.
"Baik, tak apa-apa, Pak. Masih banyak waktu, 'kok. Oiya, bagaimana dengan keadaan Bapak? Sudah membaik, kan? Kata bu Dewi, semenjak kecelakaan itu, Bapak memang sering mengantuk tiba-tiba. Apa itu benar? Saran saya, jika memang hal itu sering terjadi, Bapak harus melakukan CT-Scan ulang dan konsul ke dokter spesialis syaraf," jelasnya.
Kurang ajar!
Dewi mengarang cerita sedemikian rupa untuk menutupi kejahatannya.
"Baik, terima kasih atas sarannya, Dok."
Alih-alih mengelak, aku memilih untuk beterimakasih. Sebab, jika aku membantah pernyataan itu, pasti akan timbul banyak pertanyaan.
"Ya sudah, kapan kira-kira Bapak akan menyerahkan sampelnya? Nanti, tampung di dua tabung ya, Pak. Setelahnya, tabung-tabung itu tinggal Bapak masukkan saja ke kotak ini, lalu tekan tombol merah yang ada di sampingnya."
"Ya, Dok. Aku sudah mengerti. Tadi sudah dijelaskan, kok."
"Ya Pak, kami hanya mengulang supaya Bapak tidak lupa," katanya sambil tersenyum dan bersiap untuk meninggalkan ruangan.
"Oiya Dok, tunggu. Kenapa aku tak boleh membawa HP? Aku ingin menghubungi seseorang," kataku.
"Maaf, di ruangan ini memang tak diperkenankan membawa HP. Ruangan ini bebas radiasi karena radiasi bisa mempengaruhi kualitas spesimen," terangnya.
"Kalau Anda memerlukan bantuan, silahkan gunakan telepon pararel saja."
"Aku mau minum jus mangga dulu, Dok. Boleh, kan? Kalau boleh, tolong suruh istriku untuk membawakannya ke ruangan ini. Istriku yang sedang hamil ya, yang memakai gamis dan jilbabnya besar."
"Oh, maksud Anda, bu Daini?"
"Benar. Ingat, Daini. Bukan Dewi," tegasku.
"Baik, Pak."
"Tolong pastikan saat dokter menyuruh dia ke sini, istriku yang pertama jangan sampai tahu. Maaf karena aku melibatkan dokter dalam masalah ini. Aku hanya ingin menjaga perasaan istri pertamaku."
"Oh, begitu? Hehehe, tak masalah, Pak. Kami mengerti, kok. Lagi pula, tadi 'kan Anda sudah ditemani oleh bu Dewi, jadi wajar kalau sekarang giliran bu Daini yang menemani Bapak."
...🍒🍒🍒...
Aku akhirnya bisa bernapas lega. Semoga, dokter-dokter itu dapat dipercaya. Sekarang harus bersikap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa. Sambil menunggu Hanin, aku merebahkan diri.
Sekitar sepuluh menit kemudian, pintu kamar diketuk lagi. Aku bangun. Ada keraguan di dadaku. Aku khawatir jika yang datang bukan Hanin.
"Assalamu'alaikuum."
Alhamdulillah.
Ternyata Hanin. Hati ini langsung tenang saat melihat tatapan meneduhkan dan senyuman manisnya.
"Wa'alaikumussalaam, masuk sayang."
Aku meraih tangannya dan menariknya ke dalam. Lalu mengunci pintu.
"Maaf Pak, di abang jusnya ngantri pisan. Ini juga diprioritaskan setelah ada seseorang yang menyadari kalau aku sedang hamil," jelasnya.
"Oh ya ampun sayang, kenapa kamu tak menelepon pengawal saja? 'Kan aku sudah berikan nomor teleponnya? Mereka ada di parkiran."
"Punten (maaf), Pak. Aku *h*ilaf (lupa). Belinya dekat 'kok. Di kantin rumah sakit. Kalau sama pengawal pasti lebih lama," jelasnya sambil menyodorkan jus mangga tersebut ke hadapanku. Aku mengambilnya lalu diletakkan di meja.
"Tunggu, kamu bilang ada seseorang yang menyadari kamu hamil. Laki-laki apa perempuan?"
"A-apa? Apa pentingnya Bapak tahu itu?" Hanin malah senyum-senyum.
"Sayang, aku serius. Cepat jawab pertanyaanku. Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Pak."
"Muda apa tua?"
"Muda. Aduh, harus ya Bapak mengetahui itu?"
"Harus. Ganteng tidak orangnya? Dia tidak menatap kamu, 'kan? Tidak dekat-dekat kamu, 'kan? 'Kok bisa 'sih dia menyadari kalau kamu hamil? Padahal gamismu besar dan tak terlihat. Kecuali kalau kamu menyempitkan gamismu dengan cara seperti ini."
Aku mempraktikkannya. Menarik gamis Hanin di kedua sisi pinggangnya.
"Aku tidak tahu, Pak. Aku hanya melihat dia sepintas. Aku juga bukan tipe orang yang suka curi pandang ataupun memerhatikan orang lain," jelasnya.
"Baik, kali ini aku maafkan. Lain kali, jangan pernah mendekati kerumunan lagi. Suruh pengawal saja. Sayang, penampilan kamu itu sangat menonjol, kamu juga cantik. Kamu harus ingat kalau kamu sudah ada yang punya," tegasku.
"Ya, aku tahu. Maaf sudah membuat Anda khawatir. Sekarang, silahkan diminum jusnya, Pak. Takut keburu anget."
"Apa? Keburu anget?" Aku jadi tersenyum mendengar kata-katanya.
"Ya, jus 'kan dingin, jadi kalau tidak segera diminum takut keburu anget."
"Hahaha, hmm ... masuk akal," kataku.
Bersama Hanin, aku bahkan bisa tertawa. Padahal, masalahku dengan Dewi sedang menggunung.
"Ya sudah, aku permisi ya Pak." Beranjak.
"Tunggu." Aku mencekal tangannya.
"Pak, A-Anda mau apa?"
__ADS_1
"Sayang, jus itu hanya kamuflase. Aku sebenarnya ingin meminta bantuan kamu." Sambil merangkul punggungnya.
"Bantuan? Kenapa tidak sama bu Dewi saja?" Hanin sepertinya langsung faham.
"Emm, sama Dewi sudah. Sekarang tinggal sama kamu. Kata dokter, akan dipilih spesimen mana yang paling sehat," dalihku. Dengan terpaksa aku membohonginya.
"Be-benarkah?"
"Ya sayang," jawabku sambil mengulum senyum.
"Ca-caranya bagaimana?" tanyanya. Sekarang, ia membalikan badan menghadapku. Terlihat gugup.
"Hahaha, masa kamu lupa, 'sih? Ya sama saja, sayang."
"Oh, kukira berbeda. Ta-tapi, aku tak perlu mandi wajib, 'kan? Aku hanya perlu membantu Anda. Ya, kan?" duganya.
Hanin sebenarnya benar, tapi aku tak mau seperti itu. Maunya serius.
"Tidak sayang, aku ingin melakukannya seperti biasa. Aku ingin melewati seluruh fasenya."
"A-apa?!"
"Kenapa harus kaget sayang? Kamar ini memang diperuntukan untuk melakukan itu. Lihat kasurnya, nyaman bukan? Sambil bercinta, kita juga bisa melihat pemandangan kota," jelasku sambil membuka tirai dan mulai membuka ikat pinggang dan kancing kemejaku.
"Emm, aku ...." Hanin sepertinya kebingungan.
"Tenang sayang. Kamu hanya perlu pasrah. Selebihnya, biar aku saja yang beraksi." Aku menuntun dan merebahkannya sebelum Hanin mengatakan kalimat apapun.
"Pak ... a-apa Anda yakin?" Saat aku membuka jilbabnya, Hanin terlihat panik.
"Sangat yakin," tegasku.
Aku melempar sembarang bajuku. Lalu melucuti semua hal yang melekat di tubuh Hanin.
"Pak ... a-apa tidak akan ada yang melihat kita? Bagaimana kalau ada mata-mata di gedung itu? Bisa saja 'kan dia memakai teleskop untuk mengintip ke kamar ini?"
Hanin ragu, ia menutupi beberapa bagian tubuhnya yang padahal sudah tereskpos. Indah sekali. Perutnya mulai membulat, aku jadi makin gemas.
"Kamu pikir ini cerita novel fiksi apa? Hahaha, di dalam cerita kita tidak ada yang seperti itu, sayang. Lagi pula, kaca ini sudah didesain khusus agar tidak bisa terlihat dari luar."
...🍒🍒🍒...
Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera mengurung dan mencumbu tubuhnya. Aku memulainya dari bagian perut. Hanin terhenyak. Namun ia spontan membelai rambutku.
Ternyata, bersama Hanin, milikku tidak lemah. Dia gagah perkasa, bahkan aku merasa jika kali ini dia terlihat lebih berani dan tangguh. Mungkin akibat dari multivamin dan berbagai jenis mineral dan kalsium yang aku konsumsi selama masa pemulihan pasca kecelakaan itu.
Hanin saja sampai bergidik ngeri. Ia mengintip di balik jemari lentiknya dengan napasnya yang tak beraturan. Apa dia ketakutan? Ya, ini memang kali pertamanya setelah kecelakaan itu.
"Are you okey?" godaku. Mendekat. Menarik jemari yang menutupi wajahnya.
"P-Pak, a-aku ta-takut," lirihnya.
Wajahnya bahkan memucat. Benar, kan? Apa kubilang? Hanin benar-benar ketakutan.
"Sayang, ini bukan kali pertamanya. Kenapa harus takut, hmm?"
Aku menelusupkan kepalaku di daerah yang sangat aku sukai seraya menghidu aroma khasnya.
"Emmh ..., Pak ... tunggu. Itu ada pesawat lewat."
Ia memalingkan wajah, menatap ke balkon yang tadi kubuka tirainya.
"Sayang, aku tak tertarik dan tak peduli dengan pesawat itu."
"Pe-pesawatnya besar sekali. I-itu Garuda Indonesia," katanya.
Hanin masih menatap pesawat yang melintas. Padahal, pesawat itu sudah menjauh dan mengecil, lalu menghilang di antara awan-awan.
"Ohh ..., kukira kamu melihat pesawatku," bisikku. Seraya ....
Hanin tak mampu berkata-kata lagi, ia menutup bibirnya dan kembali memalingkan wajah menatap balkon. Sekarang menatap kumpulan burung yang sedang bermigrasi.
"Kamu melihat burungnya?" tanyaku
"Y-yahh ..., Pak ...," jawabnya.
Wajahnya mulai memerah, tubuhnya gemetar. Aku segera memagut bibirnya agar ia semakin menikmati dasyatnya terjangan kekuatan supranaturalku.
"Mmm ..., menurutmu, mereka burung jenis apa?" tanyaku saat aku sejenak memberinya jeda untuk mengatur dan mengendalikan napasnya.
"A-aku tidak tahu, tidak jelas," jawabnya. Sekarang tangannya meraih guling.
"Kamu nikmati saja pemandangan gedung-gedung dan langitnya. Tapi, biarkan aku menikmati tubuh kamu," rayuku saat aku memosisikan tubuh pasrahnya agar memeluk guling dan menghadap ke balkon.
Hanin mengangguk lemah. Ia tersenyum, namun matanya sedikit berkaca-kaca.
"Selain menikmati pemandangan, kamu juga harus menikmati permainanku. Bisa?" tanyaku.
Hanin kembali mengangguk. Lalu jemarinya tiba-tiba saja mengusap lembut bibirku.
"Kenapa? A-apa mau kucium lagi?"
"Yahh ...," jawabnya pelan. Pipinya merona.
"Ohh ..., ya ampun sayang ...."
Aku segara menyambarnya, lalu menyesapnya tanpa jeda hingga bibir manis ini melenguh jua.
Lalu, aku menikmati mahkota ranumnya setelah memanjakan dan menggoda tubuhnya dengan ribuan kupu-kupu.
Sungguh, aku bahagia saat dia menggumamkan namaku.
Sungguh, aku bahagia saat dia memeluk tubuhku.
Sungguh, ini sungguh terlalu.
Terlalu nikmat ....
...~Tbc~...
...|...
...|...
...|...
...|...
...|...
"Beban terberat nyai dalam menulis adalah saat harus mengintai adegan dewasa. Perlu beberapa kali editing agar bacaan yang disuguhkan tetap santun dan wajar, namun tak kehilangkan debaran rasa dan jedag-jedugnya."
__ADS_1
"Mohon koreksi dan dimaafkan jika hasil pengintaian nyai dirasa tidak patut atau kurang sopan."
"Jika berkenan, tolong ajak tetangga, rekan sejawat, saudara/saudari, pasangan, dan bestienya untuk membaca novel karya nyai. Terima vote. Eh, maksudnya terima kasih."