
Zulfikar Saga Antasena
Dia pasti tertekan, aku memeluk erat tubuhnya. Hanin trauma. Syukurlah, kata dokter traumanya ringan. Dia memang pandai menjaga hati. Aku memainkan anak rambut yang menutupi keningnya.
"Mas ... Bang ..., sabar ya, aku akan menolong kamu." Hanin mengigau. Raut wajahnya menunjukkan gurat kesedihan.
"Sayang, Hanin, bangun sayang."
Aku mengguncang pelan bahunya. Sebenarnya, di ruang perawatan ini ada bu Juju. Ia datang setelah pak Sabil pergi. Namun sudah kusuruh tidur di kamar tunggu.
"Pak ...." Istri cantikku terbangun.
"Kamu mengingau sayang. Mau makan sesuatu?"
"Tidak, Pak." Kembali melamun.
"Jangan takut, kamu tidak bersalah, tenang ya sayang."
"Mau dipeluk, Pak. A-ku takut. Huuu ... aku kasihan sama pria itu, dia masih muda, Pak."
"Ssstt, ya sayang, ini 'kan sudah aku peluk. Jangan menangis lagi ya. Mau kuusap di bagian mana, hmm?"
"Tak perlu diusap-usap Pak, cukup peluk saja." Dia sadar diri kalau tanganku suka jahil dan banyak maunya. Suka pegang sana-sini.
Dia menelusupkan kepalanya di dadaku. Sesekali menengadah seraya mengusap janggut tipisku yang belum sempat dicukur. Seharusnya, Hanin mendapat obat penenang, tapi kata dokter, obat itu tak dapat diberikan karena bisa menyebabkan fetal distress pada janin.
"Setelah tim inafis mengidentifikasi identitasnya, nanti kita akan menghubungi keluarganya. Sampai identitasnya terungkap, dia akan disimpan di kamar jenazah dulu."
"Pak, apa tak apa-apa Bapak di sini? Bukankah mau menemani bu Dewi?"
"Malam ini memang jatahnya bersama kamu sayang. Jadi, tak masalah kalaupun aku tetap di sini. Selain itu, aku juga sengaja melakukan ini untuk membuatnya kesal sayang. Aku ingin mengumpulkan bukti lebih banyak lagi kalau Dewi mengalami penyakit kepribadian ganda."
Aku sengaja menonaktifkan ponselku agar Dewi tak bisa menggangguku. Lagi pula, aku yakin kalau dia pasti sudah mengetahui semua hal yang terjadi padaku dan juga Hanin.
"Pak, saat aku hampir jatuh, pak Sabil memangkuku. Maaf baru bilang, baru ingat," terangnya.
"Tak masalah sayang, itu darurat. Pak Sabil sudah cerita, kok. Maaf karena aku tak bisa kembali ke apartemen. Aku menyuruh pak Sabil menjaga kamu karena merasa ada hal yang akan terjadi. Entah itu firasat atau bukan, saat itu aku merasa tak enak hati sayang."
"Lalu bagaimana hasil preskonnya, Pak?"
"Intinya, aku sudah menjelaskan ke media kalau kita tak sengaja melakukan cinta satu malam karena adanya unsur kelalaian dan ketidaksengajaan dari pihak terkait. Alhamdulillah, paklik Aryo juga mau bersaksi sayang. Paklik jujur pada media kalau dia sudah mencekoki mimumanku. Teman kamu yang meracik minuman untuk istrinya dan tak sengaja diminum sama kamupun semalam dihadirkan dan telah memberikan kesaksian."
"Semuanya sudah diungkap. Sekarang ya kembali lagi ke penilaian dari publik. Terserah mereka mau percaya atau tidak, yang penting, aku sudah menjelaskan semuanya."
"Pak, apa aku akan jadi artis mendadak?" Pertanyaannya begitu lucu. Aku jadi tersenyum dibuatnya.
"Memangnya kenapa kalau kamu tiba-tiba jadi artis? Kali saja ada yang memintamu mengendorse produk."
"Lumayan ya, Pak." Sambil tersnyum, dan aku tahu kalau senyumannya dipaksakan.
"Ayo tidur lagi sayang. Apa aku harus mengunjungi si kembar dulu supaya kamu bisa tidur?" godaku. Seperti biasa, sambil menelusupkan tangan ke daerah sana. Maksudku ke daerah perut.
"Apa? Dalam keadaan seperti ini, Bapak masih bisa memikirkan masalah itu?" Menatap tak percaya.
"Hahaha, tak ada salahnya sayang. Daripada stres. Ya, 'kan?"
"I-iya juga, 'sih?"
"Lanjut?" Aku mengecup bibirnya. Dia langsung menggelengkan kepala.
"Aku belum tenang, Pak. Apa aku boleh menundannya? Aku tak menolak ya, Pak. Hanya menunda."
"Dasar cerdas. Bilang saja kalau kamu menolak, ya, 'kan? Hmm, tak apa-apa sayang, aku juga bercanda, 'kok. Jangan dipikirkan, oke?" Dia mengangguk. Padahal, aku sebenarnya serius 'sih. Kalau Hani bersedia, ya ... lanjut.
"Oiya sayang, kata pak Sabil, kemungkinan ada petugas keamanan apartemen yang ikut terlibat. Kalau di lobi empat mereka diperiksa, harusnya 'kan pisaunya terdeteksi metal detector."
"Ya, Pak. Aku juga sempat berpikir ke arah sana."
"Ya sudah, kita tidur yuk! Oiya sayang, kalau aku cium kamu tak masalah, 'kan? Mau ini," kataku sambil mengusap bibirnya.
"Pak, ada bu Juju. 'Kan malu kalau sampai terciduk."
"Bu Juju sudah tidur sayang."
"Ya sudah, boleh. Tapi ada syaratnya."
"Lho 'kok ada syaratnya segala? Biasanya juga enggak ada, 'kan?"
"Pak, aku mau melihat tayangan ulang preskon, apa boleh?"
__ADS_1
"Oh, boleh. Tapi tak sekarang."
"Issh, Bapak licik," protesnya saat aku mulai mendekatkan wajahku ke daerah yang manis dan lembut itu.
Saat Hanin memejamkam mata, aku segera beraksi. Menyesapnya perlahan-lahan, merenggutnya sampai ke bagian terhangat hingga ia merintih. Lambat laut menyambut kunjunganku dengan cara yang begitu melenakan. Ya ampun. Rasanya .... Hmm. Tak bisa kuungkap detailnya.
Semoga, hal menyenangkan yang dilakukan ini dapat membantu menenangkan perasaannya. Jika sudah terpaut, suka sulit berhenti. Inginnya berlanjut ke tahap selanjutnya, tapi kondisinya tak memungkinkan.
Kami baru melepaskan jalinan manis ini setelah pintu kamar perawatan ada yang mengetuk. Rupanya suster akan memberikan injeksi. Hanin segera memakai jilbabnya. Aku berdeham dan beranjak dari bed pasien agar tak dicurigai.
Setelah suster izin pamit dan benar-benar pergi Aku kembali naik ke bed pasien.
"Bagaimana? Sudah jauh lebih tenang, 'kan?"
"Aku mau wudhu dulu, Pak. Semoga jadi lebih tenang." Pipinya merona, bibir merahnya dikatupkan. Lantas aku memapahnya menuju kamar mandi sambil mengulum senyum.
...⚘️⚘️⚘️...
Malam berganti pagi, sinar mentari menyingsing, menelusup di balik tirai. Angin menyibak, berhembus sepo-sepoi melalui jendela balkon. Bu Juju mengintip ke bawah, katanya biar sekalian berjemur. Udara cerah, namun tak secerah hatiku.
Hari ini, atau tepatnya pukul sepuluh pagi, Hanin akan diinterogasi. Syukurlah, ada kebijakan dari penyidik dan interogasi itu akan dilakukan di ruangan ini. Hal ini mengingat pada kondisi Hanin yang tengah hamil dan baru saja melewati masa trauma.
Padahal, sekarang baru jam delapan pagi, namun para wartawan sudah berkumpul di depan rumah sakit. Entah dari mana mereka tahu jika hari ini Hanin akan diinterogasi.
Kak Gendis, dan pak Reza tiba di kamar ini sejak pukul lima pagi. Sementara Dhimas baru datang jam tujuh pagi. Mereka akan memberi dukungan pada Hanin. Aku sebenarnya tak butuh dukungan dari Dhimasi. Serius, tatapan dia pada Hanin seperti bukan tatapan biasa.
Hanin sedang diperiksa oleh dokter. Kak Gendis sibuk di depan laptopnya. Aku memberanikan diri mengaktifkan HP-ku. Sebenarnya agak malas karena enggan berkomunikasi dengan Dewi. Setelah aktif, pesan dari Dewi langsung bermunculan.
"Aku sudah tahu semuanya dari Anggraita, Mas. Bagaimana rasanya dapat karma? Aku yakin yang terjadi sama kamu dan Hanin adalah karma. Ternyata, doa orang yang teraniaya cepat dikabulkan ya."
Pesan dari Dewi membuatku meradang. Aku berusaha biasa saja dan lanjut membacanya.
"Ini bukan tipu muslihat kamu, 'kan, Mas? Bisa saja 'kan kamu sengaja membunuh orang untuk mengalihkan issue agar publik tak menyoroti anjloknya saham perusahaan keluarga kamu."
"Aku kecewa dengan keluarga kamu, Mas. Karena tak ada satupun dari keluarga kamu yang berani menyalahkan si Daini. Mereka bahkan rela saham perusahaan turun gara-gara kasus kamu dan penyihir itu. Guna-guna si Daini tenyata sangat dahsyat. 'Kok mau-maunya keluarga kamu menerima dia, Mas! Aku kecewa. Aku merasa tak dianggap sama keluarga kamu!"
"Papa dan mamaku marah besar. Siap-siap saja, Mas. Aku akan meminta keluarga besarku untuk mengakuisisi perusahaan kamu. Mari kita buktikan siapa yang paling kuat! Aku? Atau kamu?"
Tak terasa, tangan ini mengepal begitu saja. Pasca program bayi tabung, aku merasa jika sikap Dewi semakin menjadi-jadi.
Berani sekali dia mengancam keluargaku! Aku memutuskan untuk membaca pesan di luar ruangan. Kak Gendis menyusul. Sepertinya ia curiga dengan ekspresiku.
"Kalau saja tak khawatir program bayi tabung ini gagal, aku pasti sudah muncul ke publik untuk membela diri."
"Kurang ajar!" geramku. Lalu kak Gendis merebut ponselku.
"Kak, kembalikan!" teriakku.
"Zul, aku harus tahu! Aku kakak kamu! Wajar kalaupun aku sedikit ikut campur sama urusan kamu! Toh, hubungan kamu dan Dewi juga enggak baik-baik saja, 'kan?" Kak Gendis bersikukuh. Dia akhirnya membaca pesan dari Dewi. Matanya langsung membulat sempurna.
"Zul, jelaskan pada Kakak! Ini maksudnya apa?!" Sambil menarik tanganku agar menjauh dari area kamar perawatan.
...⚘️⚘️⚘️...
Kami menuju taman kecil yang ada sisi kanan ruang nurse station. Di sini aman, percakapanku dan kak Gendis tak akan didengar siapapun.
"Kata kamu Dewi suka melakukan KDRT, lalu maminya Dewi pernah memfitnahku. Dewi juga pernah mencekik dan menggigit Daini. Apa kamu yakin kalau dia tidak gila?! Aku curiga, Zul."
"Kak, begini ---."
"Dan apa ini?! Maksudnya vidio apa?!" selanya. Wajah kak Gendis memerah lantaran menahan emosi.
"Kak ...."
Aku terpaksa menjelaskan semuanya. Termasuk penemuan terbaru tentang rekam medis Dewi yang ternyata memiliki penyakit kepribadian ganda.
"Apa?! Astaghfirullah!"
Ia terbelalak setelah mendengar penjelasanku. Kak Gendis lesu. Lalu mengatur napas untuk meredam emosinya.
"Zul, posisi kita lemah."
"Maksud Kakak?"
"Kalau kamu menggugat Dewi dengan dugaan tidak waras, ya keluarga Dewi akan menang banyak, Zul. Orang yang mempunyai gangguan jiwa itu tidak dapat dipidana, Zul. Karena pada orang tersebut tidak ada unsur kemampuan bertanggung jawab terhadap perbuatan yang sudah dilakukannya walaupun perbuatannya jelas-jelas perbuatan yang bersifat melawan hukum."
"Ya, Kak. Aku juga tahu."
"Tunggu, kata kamu pak Sabil menemukan rekam medis kalau Dewi memiliki penyakit kepribadian ganda, kan?"
__ADS_1
"Ya, Kak."
"Coba tanyakan sama pak Ikhwan, penyakit kepribadian ganda dapat dipidana tidak ya?"
Panjang umur, pak Ikhwan baru saja mengirim pesan kalau ia sudah ada di ruangan perawatan. Aku lantas meneleponnya agar menemuiku.
"Pak Ikhwan, cepat jelaskan! Apakah orang yang berkepribadian ganda bisa dipidana?"
Karena tak sabar. Kak Gendis langsung bertanya. Pak Ikhwan yang baru saja tiba sedikit keheranan. Namun tetap menjawab pertanyaan tersebut.
"Menurut persatuan dokter spesialis kelainan jiwa, penderita dissosiative identity disorder atau kepribadian ganda dapat dipidana, Bu. Alasannya karena penderita dissosiative identity disorder bukan merupakan penyakit gangguan mental yang berat. Jadi, dia masih dapat dimintai pertanggungjawaban," jelas pak Ikhwan.
"Nah, sekarang semua keputusan ada di tangan kamu, Zul. Saran Kakak, data penyakit Dewi justru tak boleh dibocorkan. Tujuannya, agar mereka tak bisa berdalih dengan kata gangguan jiwa saat Dewi dituntut sama kamu."
"Tapi, Kak. Aku berencana menggugat dia atas tuduhan memalsukan rekam medis. Di surat perjanjian pranikah, jelas tertulis kalau Dewi sehat-sehat saja."
"Zul, jika kamu menggugat surat perjanjian pranikah, apa yakin KDRT dan ancaman Dewi akan terungkap juga? Aku inginnya kamu menggugat dia dengan pasal berlipat. Kalau hanya surat itu yang kamu gugat, ujung-ujungnya pernikahan kamu akan dibatalkan dan keluarga Dewi bayar denda. Bukan begitu pak Ikhwan?"
"Maaf Bu Gendis, untuk pernikahan, sepertinya tidak bisa dibatalkan. 'Kan Pak Zulfikar dan bu Dewi sedang program bayi tabung, pembatalan nikah hanya bisa dilakukan jika belum ada anak. Tujuannya untuk melindungi status anak."
Aku dan kak Gendis saling berpandangan,
"Sekarang aku jadi faham kenapa Dewi buru-buru ingin melakukan program bayi tabung, mungkin karena alasan ini. Ternyata, mereka sudah memperhitungkan semuanya dan sudah mewaspadai hal ini," gumamku.
"Zul, sabar, kita selesaikan satu persatu ya. Keluarga Dewi punya pengaruh. Kita harus jeli dan hati-hati. Pelan-pelan saja. Gegabah sedikit, kita bisa celaka. Sebenarnya, aku juga curiga dengan kejadian-kejadian yang terjadi pada keluarga kita akhir-akhir ini. Dari mulai kamu tertabrak, papa jadi korban tabrak lari, dan kasus yang semalam. Apa jangan-jangan ---."
Kak Gendis tak melanjutkan kalimatnya. Malah memegang tanganku. Lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Selanjutnya memelukku dan menangis.
"Maafkan Kakak, Zul. Harusnya, dari awal Kakak bisa mencegah dan menentang pernikahan ini. Sebelum perjodohan ini, Kakak sebenarnya sudah menyimpan curiga. Tapi, Kakak tak berani mengatakannya pada siapapun."
"Kak Gendis." Aku mengusap airmatanya.
"Ini kesalahanku, semuanya gara-gara aku, Kak. Andai saja saat itu aku tak terlalu mencintai Angel dan mengikuti saran Kakak, pernikahan ini mungkin tak pernah terjadi. Maafkan aku, Kak."
Dulu, saat aku dan Angel masih pacaran, kak Gendis pernah memergoki Angel jalan dengan pria, karena kak Gendis tak bisa menunjukkan buktinya, aku tak memercayainya. Aku malah menuduh kak Gendis sengaja ingin merusak hubunganku dan Angel karena Angel berasal dari keluarga yang sangat sederhana.
"Dari dulu aku sudah memaafkan kamu, Zul. Wajar kamu seperti itu. Angel 'kan cinta monyet selaligus cinta pertamanya kamu. Sekarang, Kakak yakin kalau Daini adalah cinta sejatinya kamu." Kak Gendis menengadah, dia berjinjit dan mengusap kepalaku.
Pak Ikhwan terdiam. Di hadapan kak Gendis, dia memang sering jadi pendiam.
"Ya sudah, kita ke ruangan lagi yuk! Kasihan Daini kalau ditinggal lama-lama."
...⚘️⚘️⚘️...
Kulihat Hanin sedang mengaji. Namun suaranya dipelankan. Bu Juju seperti biasa, beres-beres. Padahal, ruangan ini sudah bersih dan rapi.
Dhimas?
"Bisa tidak tak memandangi istriku terus, Dhimas?!" Teriakanku membuat semuanya terkejut. Dhimas memalingkan wajah. Pura-pura main HP.
"Zul, kamu apa-apaan 'sih? Kayak anak kecil, 'deh." Kak Gendis seolah membela Dhimas. Hanin mengakhiri kegiatannya. Menatapku sambil geleng-geleng kepala.
"Sayang, jangan bilang kalau kamu juga membela Dhimas."
Aku mendekatinya. Segera memeluk dan menciumi pipinya bertubi-tubi. Biar kutunjukkan pada semua orang khususnya pada Dhimas kalau wanita cantik dan baik hati ini adalah milikku. Istriku.
"Pak, malu." Hanin mencoba menepis. Dhimas memalingkan wajah. Yang lain tersenyum-senyum.
"Saat nanti diintrogasi polisi, kamu pakai cadar ya sayang. Aku kurang suka wajah kamu ditatap polisi."
"Sepertinya tak diperkenankan pakai cadar ataupun masker, Pak. Setahu saya, penyidik harus melihat ekspresi saksi. Untuk mengintrogasi terdakwa dan tersangka, biasanya malah melibatkan pakar ekspresi wajah," terang pak Ikhwan.
Lalu HP-ku berbunyi. Ada panggilan dari pak Sabil.
"Ya Pak Sabil? Kenapa?"
"Pak, jadwal interogasinya akan dimajukan jadi jam 9 pagi. Bu Daini harus segera bersiap. Aku dan tim sebentar lagi sampai."
"Apa?! Kenapa mendadak sekali? Lalu, kenapa Pak Sabil tak memberitahu lebih awal kalau jadwalnya berubah?!" Aku jadi tak tenang.
"Maaf, Pak. Aku juga baru diberitahu satu menit yang lalu. Itu juga bukan diberitahu sama komandan. Aku tahunya dari anggota provos."
"Ya sudah, terima kasih informasinya, Pak."
Panggilan berakhir. Lanjut memberitahu informasi ini pada Hanin. Ia awalnya terkejut, namun setelah aku dan semua orang yang ada di ruangan ini menyemangatinya, Hanin mengatakan jika dirinya sudah siap diinterogasi.
"Katakan semuanya, tak perlu takut, kamu hanya saksi sayang, bukan pelaku."
"Ya, Pak." Sambil memegang tanganku. Aku mencium tangannya agar dia semakin tenang. Selain Hanin, sebagai pemilik unit, aku juga akan dimintai keterangan.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...