
"Kita sudah banyak dosa, tahu!" Dia akhirnya berhasil melepaskan diri dari dekapanku.
"Ya, aku tahu."
"Lagi pula kenapa 'sih A Abil tidurnya enggak pakai baju? Aku 'kan jadi berpikir yang bukan-bukan."
"Oh, itumah kebiasaan Aa ayang. Memang biasanya juga melepas pakaian. Sudah ya, jangan dibahas. Toh, Aa juga hanya membuka baju, tidak membuka yang lain. 'Nih buktinya, Aa masih pakai jeans dan ikat pinggang, 'kan?"
"Ya, 'sih."
Sambil melengos meninggalkan kamar. Ya ampun, dia tidak merapikan tempat tidur dulu? Mau tidak mau, aku yang harus merapikannya. Ngomong-ngomong, bagaimana caranya cek CCTV? Kunci ruang CCTV-nya 'kan ada pada pak Direktur. Selesai merapikan tempat tidur, aku kembali memakai bajuku. Lalu menyusulnya ke ruang kerja. Listi ternyata sudah siap-siap hendak berangkat ke masjid. Sudah menenteng mukena dan tas mini ransel.
"Sini, Aa yang bawa." Aku meraih mini ransel yang dipegangnya.
"Terima kasih," sahutnya. Lalu berjalan mendahului. Aku menguntit.
Suasana kantor sangat sepi. Petugas keamananpun sepertinya masih berada di pos mereka.
"Kenapa ke masjid bawa tas segala?" tanyaku saat kami sudah berada di lift.
"Mau sekalian mandi, A."
"Kenapa enggak mandi di ruangan pak Zulfikar?"
"Ya enggak mau 'lah, A. Kalau A Abil ngintip bagaimana? A Abil juga 'kan belum jelas mau menemaniku sampai kapan."
"Oh, jadi seperti itu alasannya. Setelah shalat Subuh berjamaah, aku pulang 'kok."
"Mau langsung pulang? Terus, CCTV-nya bagaimana?" Dia terlihat khawatir.
"Masalah CCTV, jangan dipikirkan. Lagi pula, kita tidak melakukan yang aneh-aneh. Ya, bisa jadi 'sih semalam kita pelukan, tapi menurutku, kalaupun kita benar-benar berpelukan, itu terjadi karena tidak sengaja."
"Tapi A, rencanaku justru mau menghapus data CCTV-nya." Dia terlihat serius.
"Dihapus? Untuk apa?" Sambil mempersilahkannya agar keluar dari lift terlebih dahulu.
"Emm, aku takut rekamannya ketahuan sama pak Direktur. Kalau beliau tahu, beliau bisa salah sangka. Integritasku sebagai sekretarisnya dipertaruhkan oleh rekaman vidio itu. Bagaimana kalau pak Direktur melaporkan vidionya sama ibu atau bapakku. Aku bisa diusir dari rumah tahu, A Abil."
"Hahaha."
"Kok malah tertawa 'sih? Ishh!"
"Bagus atuh kalau bapak atau ibumu tahu. Semoga saja setelah melihat atau mengetahui vidio itu mereka jadi menyegerakan menikahkan kita."
"Apa?! A Abil, aku serius. Menikah itu bukan perkara mudah tahu."
"Ya, aku tahu. Tapi, aku inginnya kita segera menikah, ayang. Lama-lama seperti ini, aku takut tidak bisa menahan diri."
Dia terdiam, malah berjalan semakin cepat menuju masjid kantor yang sudah tampak di depan mata.
__ADS_1
"Tia, tunggu. Maaf kalau membuatmu tidak nyaman. Aku akan sabar menunggu," tandasku saat ia merebut tasnya dari tanganku.
"Kenapa aku ingin mendapat jawaban dari langit dulu, itu karena aku masih ragu, A. Selain itu, jujur, kehidupan rumah tangga Daini dan pak Direktur sedikit banyaknya telah mempengaruhi pola pikirku. Aku takut setelah menikah, kehidupanku akan banyak masalah seperti yang dijalani oleh Daini. Lagi pula, kedepannya, aku juga tidak tahu A Abil akan berubah atau tetap seperti ini."
"Maksud kamu?"
Aku menautkan alisku. Rupanya, kehidupan berbagi ranjang bu Daini, secara tidak langsung telah membuatnya khawatir, dan menimbulkan dampak traumatis terhadap persepsinya.
"Bisa jadi 'kan kedepannya A Abil tiba-tiba mau poligami? Kita 'kan enggak tahu hati manusia di masa mendatang akan seperti apa," jelasnya.
"Apa?" Terkejut. Tapi, jadi memahami maksudnya.
"Ayang, aku mendukung poligami jika tujuannya demi kebaikan dan demi hal-hal yang sifatnya bermanfaat. Misal untuk membantu perekonomian janda-janda yang memilki banyak anak. Tapi, aku bukan pria yang ingin melakukannya. Percaya sama aku, Tia." Aku jadi khawatir, bisa-bisanya pernikahan orang lain membuatnya takut dan trauma.
Tapi, dia tidak menanggapi penuturanku, malah bergegas ke dalam masjid dengan langkah cepat. Karena bu Daini adalah sahabat dekatnya, ia pasti mengetahui seluruh kemelut serta prahara yang di hadapi bu Daini. Walaupun Listi dan aku sudah mulai dekat, ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan hatinya. Aku harus meyakinkannya jika pernikahan aku dan dia akan baik-baik saja.
Ya, aku juga belum yakin bisa menjadi suami yang baik, tapi aku mau belajar dan berusaha menjadi yang terbaik untuk Listi. Saat melewati area shaf perempuan, aku melihatnya telah menggunakan mukena. Cantik sekali dia memakai mukena itu. Jadi membayangkan Listi menggunakan hijab seperti bu Daini.
...⚘️⚘️⚘️...
Kami sudah kembali dari masjid dan telah berada di ruang kerja pak Zulfikar. Aku berlalu ke pantri untuk membuat roti bakar dan minuman yang hangat-hangat. Listi menyusul.
"Aku bisa membuat roti bakar 'kok," katanya. Mengambil alih yang kulakukan.
"Yakin?" Aku kurang yakin.
"Yakin 'lah A, tinggal taruh di mesin pembakar doang, 'kan?" Dia terlihat PD saat melakukannya. Baiklah. Aku jadi percaya. Setelah matang, ia melumurinya dengan selai cokelat.
"Aa suka yang kamu sukai. Samakan saja, selai cokelat."
"Jangan lebay 'deh A Abil. Yakin mau menyukai yang aku sukai?" protesnya.
"Yakin," tegasku sambil mendekat ke arahnya. Seperti biasa, aku memeluknya dari belakang.
"Serius mau menyukai semua yang kusukai?" tanyanya lagi.
"Ya," jawabku. Karena dia sudah mandi, aroma tubuhnya jadi semakin wangi.
"Dasar aneh, kalau aku suka pakai lipstik, apa A Abil suka pakai lipstik juga?" Seraya membalikan badan dan menengadah menatapku. Ya ampun, posisi ini sangat tidak baik untuk jantungku.
"Aku pasti menyukai lipstik kamu. Lipstik yang kamu suka menempel di bibir kamu, 'kan? Dan aku menyukai bibir kamu." Sambil menyentuh bibirnya yang saat ini belum memakai lipstik. Walaupun tanpa lipstik, ternyata sudah tampak merah alami.
"Gombal terus. Sudah ah."
Dia memalingkan wajah, pipinya merona. Lucunya. Rasanya ingin segera mencicipi bibir alaminya. Tapi kuurungkan karena di pantri juga ada CCTV pengawas.
Aku dan Listi akhirnya sarapan dengan roti bakar selai cokelat. Ditemani kopi dan susu hangat yang masih mengepulkan asap, serta dilengkapi dengan pemandangan akuarium mini yang diletakan di sudut pantri. Gemericik air yang berasal dari percikan mini air mancurpun menambah suasana pagi ini menjadi sangat romantis dan hangat.
Perlahan, kugeserkan kursi agar bisa lebih dekat dengannya. Listi tidak menyadarinya. Ia tengah asyik menatap ikan-ikan kecil warna-warni yang menghiasi akuarium.
__ADS_1
"Tia," panggilku.
"Ya." Tatapannya tetap pada akuarium.
"Pernikahan bu Daini dan pak Zulfikar tidak boleh memengaruhi persepsi kamu tentang pernikahan. Jika kamu sudah memiliki keberanian untuk menjadi kekasihku, kenapa kamu tidak berani melanjutkannya ke arah yang lebih serius?" Lalu menggenggam tangannya.
"A Abil, pernikahan adalah ibadah yang mulia dan suci. Untuk itu, menikah tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena pernikahan merupakan bentuk ibadah terpanjang dan selayaknya dapat dijaga hingga maut memisahkan. Pernikahan sejatinya bukan hanya menyatukan dua insan untuk membangun biduk rumah tangga saja. Melainkan menyatukan dua keluarga yang terkadang berasal dari latar belakang yang berbeda."
Rupanya, Listi juga masih meragukan perbedaan latar belakang di antara kami. Padahal, aku dan keluargaku tidak pernah mempermasalahkannya. Lagi pula, aku sudah menyelidiki latar belakang Listi. Dia dan keluarganya adalah kelompok ekonomi menengah yang bersahaja dan berpendidikan, serta tidak ada satupun dari keluarga Listi yang pernah tersandung masalah hukum.
"Ayang, lihat aku."
Dia membalikan badan menghadapku. Aduh, kenapa di ujung bibirnya ada lelehan selai cokelat 'sih? Jadi galfok, 'kan? Berusaha keras untuk fokus.
"Ehm, jangan pernah membahas perbedaan lagi. Ayang, di hadapan Tuhan kita itu sama saja, 'kan? Hanya amal dan ibadah yang membedakannya. Ayang, kumohon jangan terganggu dengan kehidupan berbagi ranjangnya bu Daini. Mereka seperti itu karena ada alasan dan penyebabnya. Tolong jangan menyamakan hubungan mereka dengan kita, please ...."
Aku menempelkan tangannya di dadaku. Supaya ia bisa merasakan betapa berdegupnya jantungku saat ini.
"A-aku tahu setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda, a-aku hanya takut, A Abil. Aku adalah orang yang paling tahu bagaimana keluh-kesah dan tertekannya Daini selama ini. Hanya saja, Daini adalah orang yang pandai menyembunyikan masalah dan pandai bersabar," jelasnya. Pipinya semakin merona. Dia pasti gugup setelah merasakan degupan jantungku.
"Tia."
Aku semakin mendekatikan diri. Lelehan coklat di sudut bibirnya telah mengalihkan duniaku hingga tak peduli lagi dengan keberadaan CCTV.
"A-ada apa? Ke-kenapa?" Ia menatapku keheranan.
"Ehm, ada selai cokelat di bibir kamu."
"Selai cokelat?" Dia hendak menyekanya. Namun, aku cepat-cepat menahan tangannya.
"Biar aku saja yang bersihkan," pintaku. Seraya merangkum wajahnya. Matanya membulat kaget, sementara jantungku rasanya ingin meledak.
"A Abil ---." Dia terbungkam seketika.
Maaf ayang, aku tidak tahan. Aku membersihkan lelehan selai cokelat itu dengan bibirku. Awalnya, aku hanya berniat membersihkan saja, lalu selesai. Namun, rasa yang tercipta membuatku hilang kendali. Jadinya, aku malah melahap seluruhnya.
Listi masih mode terkejut, tapi dia juga tidak menolakku. Sejenak, aku dan dia bersitatap. Lalu napas kami jadi lebih cepat dari sebelumnya. Dia mengigit bibirnya tanpa sadar saat aku sejenak melepas tautan tersebut. Apa yang dilakukan Listi membuatku tersulut nafsu dan kembali memagutnya. Kali ini dengan gerakan lebih lembut, lalu perlahan menuntut dan sedikit memaksa.
Apa yang kulakukan membuat matanya terpejam dan tangannya mengerat pada kemejaku. Lalu tercipta lenguhan lirih dari bibirnya. Perlahan, akupun memejamkan mata. Aku sedang menikmati dosa ini seraya membelai rambutnya. Mohon jangan ditiru, ini duniaku. Bukan dunia bu Daini.
'PRANG!'
Cangkir kopi milikku tersenggol sikutku. Spontan kami berdua terperanjat kaget dan melepaskan jalinan manis nan lembut itu.
"Damn it!" dengusku. Kesal pada diri sendiri yang tidak berhati-hati. Sementara Listi langsung berlari menuju ruang kerja sambil menutup bibirnya.
Aku menatapnya sembari senyum-senyum. Telingaku rasanya panas, dan dadaku masih berdegup cepat hingga saat ini. Akhirnya, perjuanganku membuahkan hasil. Bisa kembali menikmati keranuman bibirnya adalah misiku. Sebenarnya keinginan itu sudah kurencanakan sejak semalam.
Tiba-tiba mataku bersitatap dengan lensa CCTV. Ya ampun, berarti harus segera melobi pak Zulfikar untuk mendapatkan akses membuka data CCTV yang ada di ruangan ini.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...