
Ingin rasanya aku membawa tangisan dan kepedihan ini ke alam mimpiku. Tapi, mata ini sulit terpejam. Saat aku memejamkan matapun, kantuk itu tak kunjung datang. Aku mendadak insomnia karena memikirkan masalah itu. Aku takut anakku diambil oleh mereka.
"Tidak, jangan! Jangan! Huuu." Aku kembali menangis seraya mengusap perlahan perutku.
Minggu ini, kehamilanku telah memasuki bulan kedua. Sebenarnya aku merasa masih ragu untuk melepas pak Zulfikar. Tapi, jika mereka tetap memaksa ingin mengadopsi anakku, mau tidak mau, aku memang harus melepasnya.
"Pak Zulfikar ...."
Selalu saja seperti ini. Di saat aku bersedih, aku selalu ingin agar dia berada di sisiku. Aku ingin menghilangkan rasa ketergantungan ini, tapi ... kenapa ini begitu sulit?
Untuk mengurangi kesedihan ini, aku mencoba melakukan hal-hal yang bisa membuatku sedikit sibuk. Aku membaca Al-Qur'an, membaca buku, lalu mengepang rambutku. Usai kegiatan itu, aku tetap tak mengantuk.
Lalu kuhampiri meja rias yang di setiap raknya telah tertata berbagai jenis lotion tubuh, kosmetik, dan teman-temannya. Kuambil salah satunya. Khasiat lotion yang ini ternyata untuk mencegah stretch mark.
Saat kucium, aromanya segar, wanginya sotfly dan tidak membuatku pusing. Aku lantas menggunakannya di bagian perut, kaki, lengan, dan bagian lainnya.
Lalu mataku melirik pada aneka parfum yang bentuk botolnya terlihat unik dan langka. Kuambil salah satunya. Ini parfum impor dari Italia. Namun telah berlisensi halal. Aku juga menyukai baunya. Jadi, aku menyemprotkan parfum ini ke tubuhku.
Lanjut membuka bagian lemari yang berisi deretan lingerie. Aku tak habis pikir, kenapa bu Yuze sampai terpikirkan membeli baju seperti ini? Ya, aku juga punya lingerie. Tapi tidak seseksi dan seterbuka ini. Dan entah kenapa, aku tiba-tiba ingin mencobanya. Sebelum kupakai, aku memastikan kembali jika pintu kamar telah terkunci.
Kuambil yang berwarna merah cabai. Astaghfirullah. Saat becermin, aku sendiri sampai terkejut dan membelalakan mata. Tubuhku nyaris terekspos seluruhnya. Ya ampun, lucu sekali. Aku tersenyum saat melihat perutku.
"Assalamu'alaikuum. Hanin, ini aku. Buka pintunya."
"APA?!"
Aku terkejut luar biasa. Bukankah pak Zulfikar bersama bu Dewi? Kenapa dia malah ke sini? Aku kelabakan. Saat kulihat jam dinding, ternyata sudah jam setengah dua belas malam.
"Bagaimana ini?" gumamku.
Karena ada dalam keadaan seperti ini, aku hanya menjawab salamnya dengan suara pelan. Aku berharap pak Zulfikar mengira kalau aku sudah tidur pulas. Jadi, aku memutuskan untuk tak membuka pintu.
"Sayang? Sudah tidur ya?" Dia masih berada di luar kamar. Aku tak memedulikannya.
Maaf ya Pak. Anda bersama bu Dewi saja, kataku dalam hati.
Lalu, suara pak Zulfikar dan ketukan di pintu tak terdengar lagi. Aku yakin dia sudah kembali ke kamar bu Dewi. Tapi ... baru juga hendak membuka lingerie, aku tiba-tiba mendengar suara kunci yang terbuka.
Aku kembali terkejut. Karena panik, aku langsung naik ke tempat tidur dan bersembunyi di balik selimut. Jantungku berdegup-degup. Kuintip pelan-pelan.
Bagaimana ini?
Pak Zulfikar berhasil masuk ke kamar. Ceroboh, aku melupakan sesuatu. Dia adalah putra dari pemilik rumah ini. Tentu saja memiliki otoritas untuk mendapatkan kunci duplikat kamar ini.
"Sayang?"
Aku mengintipnya dengan cara memejamkan mata sebanyak sembilan puluh persen.
Pak Zulfikar mendekat. Berjalan pelan menuju tempat tidur. Matanya mengitari. Lalu berhenti sejenak karena menatap pakaianku yang terkumpul di sofa. Mungkin merasa heran karena memang baru kali ini aku meletakan baju di atas sofa dalam keadaan berantakan.
"Sudah tidur ya?"
Dia semakin dekat. Tak ada pilihan lain kecuali pura-pura tidur. Aku memejamkan mataku kuat-kuat. Lalu berharap agar dia cepat pergi dan tak membuka selimutku.
"Hmhh, hmhh."
Pak Zukfikar mengenduskan hidungnya. Pasti karena terlalu banyak parfum yang kugunakan.
Aduh, tolong jangan mendekat! Jangan! Please ....
Batinku meratap. Sungguh, akan sangat memalukan kalau sampai dia tahu aku memakai baju ini. Rambutku bahkan dikepang dan tubuhku begitu warum mewangi.
Kenapa jadi seperti ini?
Malam yang tadinya terasa sendu, kini berubah tegang. Rasa sedihpun tergantikan oleh rasa malu.
Tidaaak, teriakku saat pak Zulfikar naik ke tempat tidur.
"Kamu wangi sekali," katanya. Dia memelukku, lantas menarik pelan selimutku. Untungnya hanya sampai batas leher. Kemudian mencium keningku.
"Dikepang?" gumamnya.
Dia membelai rambutku. Dari jarak sedekat ini, aku juga bisa mencium aroma shampo. Walaupun rambutnya tampak kering, tapi aku yakin kalau dia dan bu Dewi telah melakukan hal yang iya iya. Katanya mau tiga ronde. Oiya, kalau benar sudah tiga ronde, seharusnya dia sudah kelelahan, kan?
"Maaf meninggalkan kamu begitu lama, maaf karena aku tak ikut mengobrol bersama ummi, abah dan yang lainnya," katanya. Sekarang sambil memelukku. Masih belum membuka selimut.
"Malam ini, aku sengaja membagi setengah malam untuk Dewi, dan setengah malam untuk kamu." Lalu mencium pipiku.
"Sebelum tidur, aku mau mencium anak kita dulu."
Tidaaak, jangaaan. Semoga hanya dicium dari luar.
Lalu ....
"Ss-sayang?! K-kamu ---."
Terkejutlah sudah. Rasa malukupun pecah. Hanya bisa berusaha untuk melanjutkan kembali kepura-puraanku. Pura-pura tidur. Titik. Pak Zulfikar telah menarik selimutku. Kali ini, aku terpejam sempurna. Aku tak tahu ekspresi dia seperti apa. Untuk sementara waktu, yang kudengar hanya keheningan dan bunyi napasnya.
"Sa-sayang ... a-apa kamu sengaja menyiapkan semua ini untuk menggodaku?" Suaranya berat dan sedikit gemetar.
"Hanindiya, kamu harus bangun sayang."
Sekarang membangunkanku. Mengguncang pelan bahuku. Aku bergeming. Bernapaspun dipelankan. Dia menangkup pipiku. Lalu memosisikan tubuhku menjadi terlentang.
"Ke-kenapa kamu memakai ini, hmm? Cepat bangun sayang. Jangan menyiksaku, Hanindiya." Sekarang mencoba membuka mataku dan memijat hidungku. Karena aku diam saja. Dia menggunakan cara curang. Menggelitikku. Jadi, aku kalah. Aku spontan tertawa karena geli.
"Ahh, ha ha ha, a-ampun," kataku. Segera membuka mata dan menarik selimut. Namun pak Zulfikar sudah terlebih dahulu melempar selimut itu ke lantai.
"Apa kamu pura-pura tidur?" Mengurung tubuhku.
"Iya, Pak." Apa?! Kenapa aku malah jujur?
__ADS_1
"Apa?! Hahaha, sudah berani ya membohongiku?"
"Mmm, ma-maksudku aku sudah tidur, Pak." Aku menahan dadanya yang nyaris menindihku.
"Memangnya sudah boleh ya?" tanyanya sambil menelan saliva.
"Boleh? Boleh apa? A-aku tak mengerti maksud Anda." Aku memalingkan wajah agar tak tergoda oleh rayuannya.
"Seorang istri memakai baju seperti ini, terbaring di tempat tidur, lalu memakai banyak parfum? Apa lagi maksudnya kalau bukan mau di ---."
"Tidak, aku tidak mau diapa-apakan, Pak. Tadi hanya penasaran saja," selaku. Masih memalingkan wajah.
"Sayang, jangan berbohong," dia menangkup pipiku agar menghadapnya. Lalu sibuk melepas piyamanya dengan terburu-buru. Aku mematung sejenak. Jujur, aku terpesona dengan roti sobeknya yang tersusun indah dan pas.
"Aku tak bisa menahan diri lagi sayang. Aku janji akan hati-hati dan perlahan. Mau ya, cantik? Please ...."
Dia mulai merayuku, bahkan menciumi tanganku dengan mata mengiba. Aku menghela napas dalam-dalam. Haruskah aku menyampaikan rencana pak Aksa dan bu Yuze saat ini juga? Di saat seperti ini, apa pantas aku membahas masalah itu? Aku mengusap lembut rahangnya.
Menatap wajah tampannya dari jarak sedekat ini hampir saja membuatku serakah hingga ingin tetap bersamanya. Namun, apa yang dikatakan oleh orang tua pak Zulfikar, benar-benar telah menyakiti perasaanku sebagai seorang perempuan. Ya, mereka telah mencampakkan harga diriku sebagai ibu. Bahkan mengatakan akan memberiku semua hal asalkan menyetujui kesepakatan itu.
"Sayang, cepat jawab, aku sudah tak tahan ...." Napasnya naik turun, wajahnya mulai memerah.
"Bu-bukankah sudah tiga ronde?" Aku spontan mengatakan kalimat itu. Ini di luar skenario.
"Hahh? Tiga ronde? Maksudnya?" Dia malah kebingungan.
"Ma-maaf, maksudku, sa-sama bu Dewi," terangku dengan suara pelan.
"Tidak tiga ronde sayang. Hanya sekali, itupun a-aku bisa melakukannya setelah berimajinasi dengan tubuh kamu dan wajah kamu."
"Apa?!" Aku terkejut.
Pak Zulfikarpun tampak kaget setelah mengatakan hal itu. Dia menutup mulutnya sambil mengerjapkan mata. Kurasa dia keceplosan. Lantas memelukku.
"Maaf, a-aku minta maaf. Aku seperti itu se-sebab ... hanya kamu wanita yang kucintai. Maafkan aku, Hanindiya," katanya.
Aku membisu, aku tak tahu jika selama ini dia begitu tertekan dengan pernikahannya dengan bu Dewi.
"Se-sejak kapan?" tanyaku. Aku membalas dekapannya. Biarlah aku menggunakan kesempatan ini sebelum memintanya untuk melepaskanku.
"Sejak malam itu sa-sayang," jawabnya.
"Lalu ... sampai kapan Anda akan seperti itu?" tanyaku lagi sambil menelusuri bibirnya dengan jemariku.
"Mungkin sampai kamu mengizinkanku untuk pisah dengan Dewi." Bibirnya berkata demikian, namun tangannya tetap nakal. Perlahan tanganya mulai berulah. Akupun tak menolak, malah memberinya ruang.
"Apa Anda yakin rela mengorbankan semuanya demi aku? Bagaimana dengan orang tua Anda, perusahaan Anda, dan bagaimana dengan surat perjanjian pranikah itu? Aku sudah tahu semuanya dari pak Ihsan." Bicaraku lancar, tapi mataku tak kuasa menahan air mata. Sebab, aku bisa melihat dari tatapan matanya jika pria ini benar-benar mencintaiku.
"Sayang, aku pernah mengajakmu untuk kabur ke luar negeri. Apa kamu kira aku tak serius? Aku serius Hanin ...." Seraya menanggalkan sesuatu yang melekat di tubuhku.
"Bodoh, apa Anda akan jadi anak durhaka? Apa Anda mau menghancurkan nama besar keluarga Anda hanya karena aku? Anak-anak kita pasti tak sudi memiliki ayah yang pecundang dan tak berbakti pada orang tuanya," kataku. Lalu menelusupkan kepala di dadanya sebab baru saja merasakan sesuatu yang memalukan.
"Maka dari itu, tetaplah bersamaku Hanindiya. Agar aku tak berbuat hal di luar batas, tetaplah di sisiku, mendampingiku hingga aku tak mampu lagi bernapas," katanya.
"Aku akan membuat Dewi menyetujuinya sayang. Percayalah, aku sedang berusaha," jelasnya.
Lalu dia menekan daguku, mencekalku tanganku, dan memagutku dengan gerakan menggebu. Sudah tak tahan rupanya. Dasar pria! Aku memejamkan mata. Aku mengakui kesalahanku. Harusnya, aku tak iseng mencoba baju ini. Tapi ... ini sudah terlanjur.
"Bo-boleh aku mengunjungi anak-anakku?" Setelah puas membuatku sesak napas dia bertanya. Pertanyaan macam apa itu?!
"Mmm, a-apa tak bahaya?" Aku malah balik bertanya.
"Kuyakin tidak akan sayang. Mari kita buktikan," bisiknya.
Lalu dengan bodohnya kepalaku mengangguk begitu saja dan bibirku spontanitas bergumam lirih ....
"Tapi ... pe-pelan-pelan ...."
"O-oke sayang, te-terima kasih. Emm, tenang ya. A-aku tahu apa yang harus kulakukan. Dengar, aku tak mungkin membahayakan calon anak kita. Ta-tapi ... aku sedikit gugup," katanya seraya mengulum senyum. Wajahnya memerah, dan tangannya gemetaran.
Ya ampun, ini memalukan. Atas dasar apa aku menyetujuinya? Atas dasar apa aku melanggar nasihat dokter? Apa karena aku juga merindukannya? Entahlah.
Dia berujar lagi ....
"Kita alon-alon asal kelakon ya sayang."
"Ta-tapi harus tepat juga, Pak. Ma-maksudku, tak apa-apa lambat asalkan tepat," kataku.
"Ada satu kata lagi sayang," bisiknya.
"A-apa?" Aku tak mengerti.
"Mmm, harus lambat, tepat dan nikmat," katanya seraya menyentil cuping hidungku.
"Issh, Anda menyebalkan," kataku sambil memukul pelan lengannya.
Lalu ....
Setelah melewati berbagai hal yang menyenangkan, kamipun melakukannya dengan lembut, perlahan, dan hati-hati.
Sejenak, aku melupakan luka yang menganga di relung kalbuku. Andai pak Zulfikar hanya milikku seorang, andai pernikahan ini bukan terjadi karena ketidaksengajaan, kesalahan, dan kelalaian, mungkin ... aku akan menjadi wanita paling bahagia karena berhasil menjadi pemilik hati dan tubuhnya.
...***...
Menjelang Subuh, suhu di kamar ini terasa kian dingin. Aku membuka mata perlahan. Aku masih bergelung di dada hangatnya. Kita satu selimut. Malam ini terasa begitu indah. Syukurlah, setelah kegiatan yang membuaikan itu, perutku aman-aman saja. Hanya sedikit pegal, dan lelah. Tapi efeknya sementara. Sekarang sudah sembuh.
Sebenarnya, aku enggan beranjak dari kenyamanan dan kehangatan ini. Tapi ... aku tak bisa seperti ini selamanya. Aku harus membulatkan tekad demi harga diri dan nama baik keluargaku, terlebih demi anak-anakku.
Aku beranjak perlahan dari dekapannya. Setelah merapikan selimutnya, aku lantas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Seusai mandi, aku berbenah. Aku memasukkan kembali barang-barangku ke dalam koper. Rencananya, hari ini, aku akan kembali ke Bandung bersama abah dan ummi.
"Sayang? Hanin?"
__ADS_1
Pak Zulfikar terbangun. Dia belum membuka matanya, namun tangannya sibuk mencari keberadaanku. Aku mendekat setelah menyembunyikan koperku di balik tirai.
"Sudah mandi?" Matanya terbuka.
"Sudah," jawabku.
"Cantik, kamu terlihat segar dan wangi," pujinya.
"Terima kasih," jawabku.
"Belum adzan, kan? Ke sini 'dong sayang, aku mau peluk kamu lagi."
"Baik." Aku mendekat.
"Hmm, hari ini, aku sangat bahagia. Bisa melihat kamu berada di rumah ini adalah impianku." Dia berbicara seraya memelukku. Sikap manjanya ini membuatku ragu untuk berani beterus terang.
"Hari ini, setelah kamu kontrol kandungan, kita ke kelas ibu hamil ya sayang," katanya.
"Maaf Pak."
Cepat atau lambat, aku memang tak bisa membiarkannya berharap pada sesuatu yang bisa jadi akan menghancurkan masa depan dan karirnya.
"Maaf? Maaf untuk apa?"
"A-aku tak bisa tinggal di sini, Pak ...," lirihku.
"A-pa? Kamu sedang berguyon 'kan, sayang?" Langsung duduk dan menatapku.
"Aku serius, Pak." Simpatiku meningkat, melihat tatapannya yang penuh harap, hatiku tersayat.
"Hanindiya, jangan membuatku bingung. Maksud kamu apa ya? Tolong jelaskan!" Dia memegang tanganku erat.
"Maaf Pak, se-sebenarnya semalam ... aku dan orang tua Bapak sudah berunding tentang status anakku, lalu ---." Kalimatku tercekat. Aku tak kuasa menahan dorongan di pelupuk mata.
"Lalu? Lalu apa?" Wajahnya tampak cemas.
"Orang tua Anda akan mengambil bayiku, a-aku tak terima, aku tak rela, Pak," jelasku.
"Apa?!" Dia belum memahami maksudku.
"Ka-kata pak Aksa, jika bu Dewi tak pernah memberi restu, anak ini akan diadopsi dan secara hukum akan resmi menjadi anak Anda dan bu Dewi," tanganku gemetar saat menjelaskannya.
"A-apa?! Benarkah papaku mengatakan itu? Astaghfirullah, mereka keterlaluan! Tunggu sayang, aku mau mengklarifikasi masalah ini! Aku akan menentangnya! Ini tidak adil! Bisa-bisanya papaku terpikirkan ide gila seperti itu!"
Pak Zulfikar beranjak, meraih cepat piyamanya yang sudah kurapikan di sisi tempat tidur.
"Tidak, Pak. Jangan pergi, mari kita akhiri saja kerumitan ini." Aku menahan tangannya.
"Maksud kamu?"
"Aku ingin jadi orang tua tunggal saja, Pak. A-aku ingin kita pisah."
"A-apa?! Tidak Hanin, aku tidak bisa. Tolong jangan mengatakan perpisahan lagi. Harus berapa kali aku tegaskan padamu? Aku tidak ingin berpisah dari kamu, Hanin! Please ...." Dia memelukku.
"Pak, jika Anda tak mengalah, masalah ini akan semakin rumit. Tolong pikirkan posisi Anda, orang tua Anda, perusahaan Anda, bu Dewi, dan yang jangan lupakan surat perjanjian pranikah itu. Aku tak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan kehidupan Anda. Aku ingin hidup tenang bersama abah dan ummiku," tegasku.
"Hanin." Memegang bahuku.
"Aku sedang menyelidiki sesuatu. Kumohon bersabarlah. Tetap bersamaku, sayang." Entah apa maksudnya. Aku tak mengerti.
"Ma-maaf, aku tak bisa, Pak. Hari ini, aku akan ikut pulang lagi ke Bandung."
"Apa?! Hanin, kenapa kamu tega sekali?! Kenapa?" Pak Zulfikar beranjak ke sofa. Langsung terduduk dan memasygul rambutnya. Dia tampak terpuruk.
"Pak, maaf." Aku merangkul pangkuannya dan terisak.
"Huuu, maaf jika keputusanku melukai perasaan Anda. Tapi ... a-aku tak punya pilihan lain. Ada hal yang lebih penting dibanding kebersamaan kita. Selain itu, se-sebenarnya, a-aku hanya pura-pura mencintai Anda." Semoga dia percaya.
"Benarkah? Kamu yakin tidak mencintaiku?" Dia menatap tak percaya.
"Benar," aku menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin sayang, di matamu aku melihat ada cinta. Ada cinta untukku, ya 'kan? Tolong jangan membohongiku." Dia menatap mataku. Aku mengalihkan pandangan. Airmataku menganak sungai.
"Jika Anda benar-benar mencintaiku, harusnya ... Anda tak perlu keberatan saat harus melepasku. Pernikahan ini tak membuatku bahagia. Aku terluka dan terbebani dengan pernikahan ini. Bukan hanya aku, abah dan ummipun turut merasakan akibatnya. Bahkan ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan Anda juga bisa merasakan efeknya jika sampai keluarga Anda dan bu Dewi bersitegang."
"Sayang." Saat aku berdiri dan membelakanginya, pak Zulfikar memeluk punggungku.
"Jika memang ini yang terbaik, jika benar tidak ada cinta untukku, dan kamu begitu terluka dengan pernikahan ini, ba-baik ... ba-baiklah sayang. A-aku ... akan mengabulkannya."
Suaranya gemetar dan lirih. Tangannya yang melingkar di pinggangku terasa dingin. Ini membuktikan jika apa dikatakannya benar-benar membuatnya begitu rapuh dan tertekan.
"Tapi ... tolong jangan ikut ke Bandung hari ini ya sayang. Izinkan aku untuk bersamamu selagi ada waktu. Sampai anak kita lahir, sampai masa nifasmu usai, tetaplah di sisiku sayang. Aku ingin menikmati masa-masa bersamamu untuk dijadikan sebagai kenangan terindah."
Dia membalikan tubuhku, lalu menengadahkan kepalaku perlahan. Dia menangis, airmatanya benar-benar menetes. Apakah cintanya untukku begitu besar? Aku memalingkan wajah, aku tak sanggup menatap wajah pilunya.
"Bagaimana? A-apa kamu setuju? Sampai hari itu tiba, aku ingin memaksimalkan peranku sebagai seorang ayah dan suami yang bertanggung jawab. Sampai hari itu tiba, berpura-puralah untuk mencintaiku. Apa kamu bisa mengabulkan permintaanku?"
"Huuu ... a-aku setuju," jawabku.
"Te-terima kasih, Hanindiya."
Dia mendekap sambil menciumi puncak kepalaku. Aku mendengar jantungnya yang berdegupan. Aku merasakan napasnya yang menderu. Aku juga mendengar tangisan pelannya.
"Ha-Hanin ...," lirihnya.
Dia menangkup pipiku, lalu membersihkan airmataku dengan bibirnya. Kemudian mengusap perlahan bibirku.
Selanjutnya ....
Dia menyambar bibirku begitu saja sambil menangis. Sebagian airmatanya bahkan mengalir ke bibirku. Hingga pertautan ini jadi terasa ... hangat, lembut, manis, dan ada asin-asinnya.
__ADS_1
...~Tbc~...