Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Proses Interogasi


__ADS_3

"Pak Sabil, lapor Pak. Kita hampir sampai. Bapak melamun ya?"


Juniorku menepuk bahuku. Ya ampun, apa gara-gara bertemu dengan wanita aneh itu aku jadi sering melamun?


"Apa aku melamunnya lama?" tanyaku sambil garuk-garuk kepala yang padahal sama sekali tidak gatal.


"Saya tak tahu berapa lamanya. Bapak melamun setelah dapat telepon dari polisi provos dan menelepon pak Zulfikar. Saya kira Bapak tidur, ternyata melamun. Hehehe, melamunkan apa 'sih, Pak? Pacar baru apa kasus baru?" tanyanya.


"Kita sudah sampai. Cepat siapkan semuanya!" titahku. Sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Siap, Pak."


Rencananya, aku akan menemui Zulfi dan bu Daini bersama penyidik. Tapi, mereka belum tiba. Mobilku tertahan di lobi. Langsung dikerumuni wartawan.


"Bagaimana? Apa Bapak mau keluar?"


"Keluar saja 'lah, biar aku beri keterangan seadanya." Aku keluar.


Suasana sesak. Kaki sulit begerak. Kasus ini memang menyita perhatian publik. Apa lagi di dalamnya dibumbui dengan berbagai kabar burung seperti cinta segitiga, dendam, perselingkuhan, orang ketiga, sampai kasus setingan yang sengaja dibuat untuk mengalihkan issue.


Baik issue tentang anjloknya saham kerajaan bisnis keluarga Antasena, maupun issue hangat seputar negara Republik Indonesia dan berbagai macam permasalahannya.


"Pak, tolong beri tanggapannya?"


"Apa peran Bapak dalam kasus ini?"


"Apa benar jika Anda memiliki hubungan yang sangat dekat dengan keluarga Antasena?"


"Apa benar kasus ini berhubungan dengan issue orang ketiga?"


"Apa mungkin pelakunya memiliki dendam kesumat pada keluarga Antasna?"


Pertanyaan mereka memberondong.


"Tolong beri jalan," seru petugas keamanan.


"Pak, cepat berikan tanggapannya, Pak."


"Peranku dalam kasus ini sebagai pengawas. Ya, aku memang dekat dengan keluarga Antasena. Pak Zulfikar adalah teman sekolahku. Ayahkupun sahabat baiknya pak Zulfikar."


"Apa Anda terlibat menangani kasus ini karena memiliki kedekatan dengan keluarga Antasena?"


"Kalaupun aku membantu, tak ada salahnya bukan? Yang penting, aku bekerja secara profesional. Oiya, untuk kasus ini, tolong kalian jangan berasumsi terlalu jauh. Mohon bersabar untuk menunggu hasil penyelidikan dan keterangan resmi dari pihak yang berwenang."


"Cukup! Cukup! Mundur! Mundur!"


Suasana semakin riuh, apa lagi saat mobil penyidik tiba di halaman utama rumah sakit.


Fokusku buyar seketika. Namun bukan kedatangan komandan dan penyidik yang membuat pandangan dan konsentrasiku terbuyarkan. Tapi, gara-gara makhluk tak berakhlak itu.


Mobilnya datang bersamaan dengan mobil komandan. Dia turun dengan gaya sok elegan. Rambut pendeknya yang berponi, menutupi sebagian besar keningnya. Dia memakai kaca mata hitam, denim, dan t-shirt yang dipadu padankan dengan jaket.


Gila, kenapa dia ke sini? Cara turunnya dari mobil dan cara berjalannya bak artis. Apa dia mau numpang tenar? Wanita ini, menyebablkan!


"Permisi, saya mau lewat," ucapnya.


Ia berjalan sambil mengangkat sedikit dagunya. Congkak sekali. Benar-benar cari panggung 'nih cewek.


"Maaf, Mbak siapa ya? Bukannya pengunjung pasien dilarang masuk dulu?" tanya seorang wartawan.


Bersamaan dengan itu, wartawan lain tampak berdesakan ingin mewawancara komandan. Petugas keaman dan polisi patwal sibuk menghalau.


Patwal atau Polisi Patroli dan Pengawalan  adalah polisi yang memiliki tugas utama mengawal perjalanan orang-orang penting. Mereka merupakan bagian dari anggota Satuan Lalu Lintas atau Satlantas.


"Saya sahabat baiknya bu DH. DH adalah istri mudanya pak Direktur. Saya datang ke sini atas permintaan bu DH dan tim kuasa hukumnya," terangnya.


Sontak, jawaban itu membuat wartawan merespon. Ia langsung disorot kamera. Alih-alih mewawancara komandan, wartawan malah mengalihkan fokus kamera pada wanita itu.


"Dan, kita langsung ke dalam saja," ujar penyidik sambil memberi kode lambaian tangan ke arahku. Komandan hanya mengangguk. Harusnya komandan tak perlu datang. Akupun tak tahu alasannya.


"Dan, saya mohon izin mengawas dia." Maksudku, mengawas si tomboy yang saat ini sedang diwawancara wartawan.


"Silahkan, pastikan ada informasi yang bisa diambil dari keterangannya," jawab komandan seraya bergegas. Bahkan tak menolehku.


"Siap, Dan. Saya akan menyusul."


Aku memberi hormat. Lantas mendekat ke arahnya. Entah dia sadar atau tidak, sebab aku tak memakai seragam polisi dan memakai masker.


"Bisa perkenalkan diri, Mbak? Namanya siapa?"


"Maaf, saya mau diwawancara bukan untuk dikenal publik. Saya di sini karena ingin membela sahabat saya. Beberapa waktu lalu media memfitnahnya. Jujur, saya tak terima. Asal kalian tahu ya, DH itu orang baik. Dia bahkan tak berani membunuh semut," belanya. Aku menyimak.


"Saya heran, kenapa media selalu menyudutkan DH? Padahal, polisi dan para saksi bahkan pelaku yang menyebabkan DH tidur bersama pak Direktur sudah memberikan keterangan pada kalian. Kanapa kalian seolah tak percaya? Dan selalu saja ada media yang menggiring opini publik jika DH itu pelakor."


"Mohon tanggapan Kakak untuk kasus pembunuhan yang terjadi di depan unit apartemen milik pak Zulfikar."


"Lho, Anda bagaimana 'sih? Jelas-jelas kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Harusnya tak perlu kepo sebelum pihak kepolisian memberikan keterangan resmi! Sudah ah, saya mau lewat! Permisi!" ketusnya. Ia menyibak kerumunan wartawan dengan tangannya. Bahkan ada wartawan yang terinjak kakinya.

__ADS_1


"Duh, Kak. Saya keinjak."


"Sorry, tak sengaja," ucapnya santai.


Aku mengejarnya, lalu patwal melarang media melewati area pembatas yang sudah ditentukan.


"Kami akan stay di sini sampai penyidik memberikan keterangan," ucap wartawan dari media Nusantara.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kamu?!"


Dia kaget karena aku tiba-tiba masuk ke dalam lift.


"Ada yang cari panggung 'nih?" tuduhku.


"Maksud Anda?!"


"Lihat penampilan kamu? Hmm, enak ya bisa numpang tenar."


"Jaga mulut Anda, Sabil Linglung!" Dia berkacak pinggang. Untungnya, di dalam lift ini hanya ada aku dan dia.


"Hey, namaku Sabil Sabilulungan!"


"Gue capek bertemu sama Anda terus! Semalam Anda sendiri yang berkata tak mau bertemu dengan gue lagi! Tapi kenapa kamu malah mengejar gue, hahh? Bukankah liftnya ada banyak?!"


"Aku tak tahu kalau kamu ada di sini. Aku juga malas bertemu kamu. Ini hanya kebetulan," kilahku.


'Ting.'


Sampai juga di lantai lima, tempat bu Daini dirawat. Dia keluar terlebih dahulu. Bahkan sengaja menabrakku.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kak Listi," bu Daini terlihat senang dengan kedatangan Listi. Mereka berpelukan.


Komandan sedang mengobrol dengan Zulfi dan Dhimas. Tumben Dhimas peduli dengan masalah Zulfi.


Penyidik telah menyerahkan angket kasus pada pak Ikhwan. Bu Gendis bersama Listi menenangkan bu Daini. Aku menyalakan laptop untuk mencatat poin-poin utama. Tampak dua orang patwal berjaga di depan pintu.


Interogasi akan dimulai dalam waktu sepuluh menit lagi.


"Anggap saja yang mengiterogasi itu abah kamu ya, Neng. Jadi, kamu tak perlu tegang." Aku dan penyidik saling menatap mendengar nasihat Listi untuk bu Daini.


"Aku sudah siap 'kok, Kak?"


"Bu Listi, Anda juga akan kami interogasi," ucap penyidik.


"Apa?! Lho, 'kok mendadak 'sih, Pak?"


"Bu, apa Ibu tidak membaca lampirannya? Disitu sudah dijelaskan kalau Ibu juga harus memberi kesaksian. Sebab, Ibu adalah orang yang berkomunikasi dengan Bu Daini selain petugas keamanan apartemen."


"Okey, siapa takut?" katanya sambil menyingsingkan lengan bajunya. Ya ampun tomboy, ini mau interogasi. Bukan mau tauran. Penyidikpun mengangkat bahu serayang mengerling ke arahku.


"Pak Sabil, Anda yang interogasi Bu Listi ya," bisik penyidik.


"Apa?!" Jelas kaget. Ingin rasanya aku angkat tangan. Tapi, masa ya menolak tugas?


"Draft pertanyaannya sudah disusun. Pak Sabil tinggal bertanya saja." Masalahnya bukan itu, Pak. Andai mereka tahu.


Saat waktunya tiba, Zulfi menggandeng bu Daini menemui penyidik. Bu Daini terus menunduk.


"Duduk di sini, sayang," ajak Zulfi. Dhimas, pak Reza, dan bu Juju menunggu di depan kamar sampai proses interogasi selesai.


"Tenang, aku dan Pak Komandan masih memiliki hubungan kekerabatan," tambahnya. Ya ampun, aku baru tahu. Pantas saja komandan datang kemari.


"Semangat, Neng."


Dari arah ruang tamu, Listi menyemangati. Sikapnya pada bu Daini begitu ramah. Dia semakin manis kalau tersenyum. Aih, apa-apaan aku ini! Konsentrasi Abil! Interogasi akan segera dimulai!


"Bu Daini, bisa menatap saya," kata penyidik. Bu Daini ragu. Memegang tangan Zulfi dan menatapnya.


"Tak masalah sayang, tatap saja," bujuk Zulfi.


Bu Daini mengangkat kepalanya perlahan, menghadap ke penyidik. Tapi tak bertemu pandang. Penyidik malah melongo. Kecantikan bu Daini memang bisa mengalihkan dunia. Dan aku baru tersadar jika si tomboy dan bu Daini ternyata memiliki satu kesamaan.


Sama-sama cantik.


Aih, aku kenapa? Abil! Konsentrasi.


"Pak Penyidik, apa bisa dilanjutkan?" Zulfi sepertinya tak nyaman. Kulihat tangannya mengerat pada sisi sofa.


"Ehm, maaf. Saya terpukau," jawab penyidik sambil tersenyum.


"Kenapa penyidiknya tak yang wanita saja, Pak?" protes Listi.


"Pihak yang belum saatnya diberi kesempatan untuk bicara, harap diam," tegas komandan. Nada bicaranya penuh penekanan.

__ADS_1


"Maaf, Pak," sahut Listi. Ia menunduk.


...⚘️⚘️⚘️...


Proses interogasi pada bu Daini telah usai. Syukurlah, tak ada hambatan sedikitpun. Seluruh keterangan bu Daini telah disinkronisasi dengan hasil rekaman CCTV. Karena tak ingin menimbulkan kekacauan, aku menolak menginterogasi Listi dengan dalih bukan tupoksiku. Zulfipun telah dimintai keterangan.


Pak Ikhwan kembali ke firma setelah membaca berkas penyidikan. Dhimaspun pamit, entah aku salah lihat atau tidak. Kurasa, Dhimas sering curi pandang pada bu Daini.


Agenda selanjutnya adalah menemui wartawan. Zulfi yang turut serta. Ia akan mewakili bu Daini untuk memberikan keterangan pada media.


"Pak, kami ingin bertemu dengan istri muda Bapak."


"Oiya, seperti apa rasanya poligami, Pak?"


Ocehan salah satu wartawan benar-benar tak sopan. Mereka sepertinya lebih tertarik dengan kehidupan rumah tangganya Zulfi ketimbang kasus pembunuhan itu.


"Maaf, aku ada sini untuk mewakili istriku. Hanya akan menjawab pertanyaan seputar kasus pembunuhan. Itu saja." Wajah Zulfi menujukkan kemarahan, dan ia sedang berusaha mengendalikan amarahnya tersebut.


"Kenapa bu DH tidak bisa hadir, Pak? Kenapa harus diwakili?"


"Bu DH sedang hamil, dia juga baru pulih dari traumanya. Kami yang meminta Pak Zulfikar untuk mewakilinya," jawab penyidik.


Lalu pak Zulfikar menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan keterangan dari bu Daini.


"Sekarang, kami ingin bertanya pada penyidik. Apakah ada kemungkinan bu DH terlibat dalam kasus pembunuhan ini?"


"Kamu?! Jaga asal bicara kamu ya?! Dari media mana kamu, hahh?! Berani sekali mengira istriku terlibat!"


Kali ini, Zulfi tak bisa menahan emosinya lagi. Wajar dia marah. Andai aku adalah Zulfi, akupun pasti akan marah atas tuduhan itu.


"Pak Zulfikar, Anda tenang ya. Bagaimana kalau kembali ke atas?" ajakku setelah mendapat bisikan dari penyidik untuk membawa Zulfi.


"Baik," ucap Zulfi. Segera balik badan. Aku menguntit.  Penyidik lanjut menjawab pertanyaan dari wartawan.


...⚘️⚘️⚘️...


Di kamar perawatan, bu Daini dan Listi sedang melihat berita di televisi.


"Hanin." Baru juga tiba, Zulfi langsung memeluk bu Daini.


"Ke-kenapa, Pak?"


"Aku emosi sayang. Pokoknya, aku akan menandai wartawan itu! Aku sudah hafal namanya, biar dia dipecat sekalian!" rutuknya.


Aku duduk di sebelah Listi, ikut menonton TV yang saat ini sedang menayangkan berita kriminal. Oiya, aku tak melihat bu Juju, ke mana ya?


"Jangan dekat-dekat!" gumam si tomboy.


"Istighfar, Pak. Jangan emosi, sabar. Coba Bapak berwudhu dulu supaya tenang," ucap bu Daini sembari mengusap dada Zulfi.


Ah, mereka terlalu manis dan romantis. Sama sekali tak pengertian dengan gelar lainku, jomlo.


"Baik, aku akan berwudhu. Tapi, mau cium kamu dulu sayang." Zulfi mengusap bibir bu Daini. Aku dan Listi terbelalak.


"Hey, jangan ciuman di depan gue, please," seru Listi.


"Pak Zulfikar! Jangan! Ada Pak Sabil dan Kak Listi!" teriak bu Daini. Ia berusaha menolak dan menjauhkan wajahnya.


"Tak bisa sayang. Harus sekarang. Jika ditunda, aku bisa tambah emosi." Zulfi memaksa, merangkum wajah bu Daini, sambil mendekapnya. Aku dan Listi terpaksa jadi penonton. Refleks mengintip dari balik jemari yang direnggangkan.


"Pak! Jang ---. Emmhh ...," lenguh bu Daini.


Terbungkam sudah. Zulfi benar-benar sadis. Dia juga tak peduli dengan keberadaanku dan Listi. Ia melakukannya sambil menggiring tubuh bu Daini menuju kamar tunggu. Bu Daini memukuli bahu Zulfi. Mungkin maksudnya agar Zulfi melepaskan tautannya.


"OH MY GOD!" seru Listi.


Dia spontan memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dengan arahku berpaling. Karena kami duduk sejajar, otomatis kami jadi berpandangan.


Dia terkejut. Matanya mengerjap berulang saat menatapku. Pipinya bersemburat merah.


Dan aku ....


Aku malah fokus pada bagian itu. Aku menatap bibir tebal memerah milik wanita tomboy itu. Tidak hanya itu, aku juga spontan membasahi bibirku sendiri menggunakan indra pengecapku. Lalu menelan saliva.


Tidaaak! Apa yang kulakukan?! Aku tak bisa mengendalikan diri.


'Buk.'


Sebuah bantal sofa terbang melayang menghantam wajahku.


"Dasar polisi mesum! Menjijikkan!" teriaknya.


Ya Tuhan, aku malu setengah mati. Aku memasygul kuat-kuat rambutku seraya menunduk. Aku tak berani menatap dia lagi. Apa ada tumpukan pasir? Aku ingin mengubur diri di tumpukan pasir itu. Lebih baik bertemu kotoran kucing di balik tumpukan pasir, daripada harus bertemu dengan wanita ini.


Bundaaa, ayaaah. Tolooong, Aa malu.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2