
Aku memasuki unit tanpa menekan bel. Suasana unit terasa sepi. Saat melewati ruang tamu, aku melihat bu Juju sedang lap-lap. Dia hendak menyapaku. Namun aku segera meletakan ujung jari telunjuk di bibirku agar bu Juju tak mengatakan apapun. Aku juga menunjukkan perangai yang tentu saja tidak mengenakan. Hal itu membuat bu Juju tertunduk.
Lanjut melangkahkan kaki ke sana. Ke kamar utama.
Di mana Hanin ya? Di kamar, aku tidak melihat batang hidungnya. Di kamar mandipun tidak ada.
"Bu Jujuuu," teriakku.
"Ya, Pak." Langsung mendatangiku dan berdiri di ambang pintu.
"Di mana Hanin?"
"A-ada di dapur Pak."
"Lho, 'kok di dapur? Sedang apa dia di dapur?" Segera ke sana untuk melihatnya. Bu Juju menyusul.
"Ka-katanya mau membuat sambal tomat, Pak."
"Apa?! Sambal?!"
"I-iya, Pak." Tangan bu Juju sedikit gemetar. Apa aku terlihat menakutkan?
"Hanindiya." Aku sudah di dapur. Benar saja, dia sedang membuat sambal dengan jumlah cabai yang banyak sekali.
"Ba-Bapak sudah pulang?" Dia terkejut. Matanya melihat jam dinding yang berada di dapur.
"Cepat cuci tangan!" teriakku.
"Ta-tapi, Pak. Ini belum selesai."
"Hanindiya!" Hari ini aku tidak mau siapapun membantahku.
"Pak, ja ---."
"Bu Juju diam!" sentakku. Lalu menarik tangan Hanin dan membawanya ke wastafel.
"Aku bisa cuci tangan sendiri, Pak," tolaknya.
"Kenapa kamu membohongiku, hahh?" tanyaku sambil mencuci tangannya. Lalu memberi kode pada bu Juju agar segera pergi.
"Membohongi? Si-siapa yang membohongi Anda?"
"Tadi kamu bilang mau makan dan tiduran saja, 'kan?! Lalu, sekarang kamu lagi apa?! Lihat cabai itu?! Apa kamu mau membuat anak-anakku kepedasan?!" teriakku. Sungguh, aku tidak bisa menahan diri dari masalah itu.
"P-Pak ... A-Anda kenapa?" Hanin mundur beberapa langkah.
"Apa kamu juga ingin membantahku?! Ingin membohongiku?" Kembali menarik tangannya untuk kubawa ke kamar.
"Pak, seharian ini aku sudah banyak makan dan tidur. Kalaupun sore ini aku membuat sambal, harusnya tidak masalah, 'kan? Lagi pula, kalau aku tiduran terus, ya tidak sehat, Pak," protesnya.
"Kamu berani protes?! Sambal itu saksinya! Cabainya banyak sekali?!"
"Pak, cabai itu mengandung vitamin. Lagi pula, aku membuat sambal itu bukan untukku. Tapi untuk pak Budi dan bu Juju." Sembari menepis tanganku. Dan aku tidak suka dia menolak tanganku.
"Hanindinya."
Lantas menatapnya dalam-dalam sambil mengatur napasku. Sejatinya, aku sedang menahan diri demi melupakan masalah itu. Tapi, aku tidak berhasil.
"Ya ...," lirihnya. Malah menunduk.
"Kenapa kamu tidak mau melihatku, hah?"
Secepatnya meraih dagunya agar menghadap ke wajahku. Hanin diam saja. Dengan perlahan ia akhirnya menatapku, dan di pelupuk matanya sudah ada linangan air mata.
"Cengeng," gumamku. Lalu meninggalkannya dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
"Huuks."
__ADS_1
Dia terisak dalam keadaan masih berdiri dan menatapku. Hari ini, aku benar-benar bodoh! Bisa-bisanya aku membiarkan Hanin menangis. Dia pasti merasa heran dengan sikapku.
...⚘️⚘️⚘️...
Maaf sayang, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu sama kamu.
Di kamar mandi, aku menyesalinya. Lalu aku melepas kemejaku dan melemparnya sembarang. Aku mendudukkan diriku di sisi bathroom. Kemudian menyalakan shower dan mengguyur kepalaku dengan air hingga basah kuyup di sekujur tubuh.
Aku memejamkan mata dan membiarkan air terus menyala. Apa dia seperti itu karena aku tidak adil terhadapnya? Apa aku juga mendapatkan dosa dari perbuatannya itu?
"Yaa Rabbi ...."
Tiba-tiba, shower berhenti mencucurkan airnya. Aku membuka mata perlahan. Bersamaan dengan itu, sebuah tangan halus mengusap air di wajahku. Aku tahu jika ini adalah tangan wanita yang sangat aku cintai. Saat mataku terbuka sempurna, aku melihatnya. Dia menatapku seraya tersenyum. Senyuman itu nyatanya menorehkan luka di benakku. Sebab, dia terenyum sambil meneteskan air mata.
"Sa-sayang ... maaf, aku ---."
"Sstt," selanya. Dia menempelkan telunjuk di bibirku. Lalu mengambil shampo untuk diteteskan di kepalaku.
"Sayang," aku berdiri dan menahan tangannya.
"Aku hanya ingin membantu Anda mandi dan keramas? Boleh 'kan?"
"Boleh," jawabku. Segera mendekapnya dan berbisik ....
"Will you m a k i n g l o v e to me?"
"Haa? A-apa?" Dia terkejut.
"Give me your pleasure," bisikku lagi.
"A-aku hanya ingin memandikan Anda. Tidak mau yang lain."
"Aku juga tidak mau menyia-nyiakan shampoku," jawabku. Aku berdiri sambil menggiringnya pelan menuju bathup.
"A-aku, emm, a-aku sedang haid, Pak." Gugup. Apa lagi saat aku membuka ikat pinggangku.
Aku melepaskan cekalanku, kembali lagi ke sisi wastafel dan duduk seperti posisi semula. Lalu membiarkannya memijat kepalaku hingga rambutku berbusa.
"Dengan dipijat seperti ini, semoga pusing Anda berkurang dan tidak marah-marah lagi."
Selain kepala, dia juga memijat kening dan pundakku. Aku sangat menikmati sentuhannya hingga mata ini perlahan terpejam.
"Bapak pindah ke bathup ya. Maksudku, supaya Anda bisa kupijat sambil tiduran dan berendam. Aku mau menyiapkan air hangatnya dulu."
Dia bergegas. Aku memerhatikannya dengan perasaan cemas. Seperti itulah dia meredam emosiku yang terkadang tidak stabil. Selalu saja memiliki cara yang membuatku mematuhinya.
Saat ini, aku telah berendam. Hanin duduk di kursi kecil di luar bathup. Ia sedang memijat bahuku.
"A-aku, emm, a-aku sedang haid, Pak."
Kalimat itu terngiang kembali. Tunggu, bukankah dia hamil? Karena pikiranku kacau, aku baru mengingatnya. Saking takutnya, dia sampai membuat alasan yang tidak masuk akal.
"Hahaha." Aku jadi tertawa.
"A-Anda baik-baik saja, 'kan?"
"Cepat masuk ke bathup," titahku.
"Emm, ba-baik."
...⚘️⚘️⚘️...
Listi Anggraeni Mutiara
"Alhamdulillaah."
Akhirnya tamat juga puasanya. Karena banyak pekerjaan, terpaksa berbuka puasa di kantor dengan menu ala kadarnya. Aku melemburkan diri sendiri agar pekerjaanku tuntas. Sekarang sedang menggeliat-geliat untuk meluruskan punggungku yang terasa sedikit kaku. Lalu ada pesan masuk.
__ADS_1
"Ayang, aku belum menemukan pedagang bubur sumsum yang kamu maksud. Apa kamu yakin alamatnya sudah benar? Apa mau menggantinya dengan menu yang lain?"
Sekitar pukul lima sore, dia mengabari akan datang ke kantor untuk menemaniku. Karena tidak ingin dia menggangguku, aku memintanya mencari bubur sumsum di suatu tempat.
"Baiklah, enggak perlu dicari lagi. Aa pulang ke rumah saja ya," balasku.
"Aa mau ketemu kamu dulu. Selesai shalat Maghrib, aku ke kantor kamu ya."
"Enggak perlu A Abil. Akunya juga sebentar lagi mau pulang."
"Ya sudah, Aa ke rumah kamu ya." Dia bersikukuh.
Aduh, bagaimana ini ya? Sebab, aku sudah bilang sama ibu dan bapak kalau malam ini aku tidak pulang karena ada lembur mendadak. Berpikir-berpikir.
"Apa Aa enggak kelelahan? Kenapa tidak pulang saja dan istirahat?"
"Pokoknya, Aa mau ketemu kamu. Mau ke rumah kamu. Kangen kamu. Sayang kamu. Cinta kamu. Titik selesai. Aa mau shalat dulu. 'Dah ayang."
Ya ampun, percakapan ini benar-benar telah mengindikasikan kalau aku dan dia adalah pasangan kekasih. Aku tersenyum. Ada perasaan senang yang muncul secara tiba-tiba. Aku senang karena ada orang yang merinduiku.
"Ya sudah shalat dulu sana. Kalau A Abil mau ketemu aku, ke kantor saja." Pesan terkirim.
"Siap ayang."
'Dih, katanya mau shalat, 'kok masih membalas pesanku? Jadi senyum-senyum sendiri. Eh, 'kok aku juga jadi begini 'sih? Kenapa senyum-senyum coba?
"Ayang sudah shalat?"
"Sudah. Cepat shalat, A. Yang shalatnya telat, kata Daini juga akan merugi dan menyesal dikemudian hari."
Tidak ada balasan lagi. Artinya, dia sudah mulai shalat. Beberapa menit kemudian ada pesan lagi.
"Ayang sudah makan belum? Mau makan sama apa? Atau mau makan sesuatu mungkin?"
"Tadi sudah makan camilan, A. Belum makan besar."
"Ya sudah, mau apa? Kita makan bareng yuk! Mau makan di kantor, apa kita makan di luar?"
"Di kantor saja, aku masih ada pekerjaan. Terserah A Abil mau membelikan apa."
"Yes. Tunggu ya ayang." Diakhiri emoji senyum sumringah.
Aku menghela napas dan kembali tersenyum. Tiba-tiba menguap. Enggak apa-apa kali ya kalau tidur sebentar? Akhirnya memejamkan mata. Seperti biasa, pipi ditempelkan pada permukaan meja.
Entah berapa lama aku tertidur. Saat membuka mata, mataku langsung membulat. Pak Sabil sudah ada di hadapanku. Dia duduk di kursi lain dengan posisi yang sama denganku. Bedanya, dia tidak tidur. Dia sedang menatapku.
"Sudah kenyang tidurnya?" Terus menatapku sambil tersenyum.
Aku mengangkat kepala cepat-cepat, sadar sepenuhnya dan langsung mengusap bibirku. Bagaimana kalau saat tidur aku ternyata mangap dan mengeluarkan air liur yang meleleh di sudut bibir? Dia pasti ilfeel.
"Kamu tidak ngiler 'kok. Kamu tidur sley. Tetap cantik dan elegan," pujinya.
"Ish, kenapa enggak dibangunin saja?!" Sedikit kesal.
"Tidak tega, ayang. Ayangnya terlihat nyenyak pisan (sangat nyenyak)."
"Ya sudah, kita makan yuk! Aku mulai lapar." Langsung berdiri dan malah tersandung karena kakiku tidak seimbang.
"Ayang, hati-hati!" Ia sigap menangkap tanganku. Jadinya, aku terjatuh di pangkuannya.
"Ah," pekikku.
Terdiam sejenak dan terkesima. Setelah sadar, barulah berdiri dan meminta maaf. Ternyata, kakiku tidak seimbang karena hanya memakai sepatu hak tinggi di satu kaki. Dan dia, dia masih terdiam. Dadanya naik turun, kaget kali ya?
"A Abil," panggilku sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...