Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sampai Demam


__ADS_3

"Huuu ...."


Ia menangis pelan, memelukku dan berlindung di balik dadaku.


"Ma-maaf ayang. Maaf, sudah ya ... jangan nangis."


Aku membelai rambutnya sambil sesekali mencium puncak kepalanya.


"Ka-kata aku juga apa?! Sakit tahu!" sentaknya.


Kembali memukuli bahuku bertubi-tubi. Entah ini pukulan yang ke berapa kali. Belum lagi punggungku perih karena beberapa kali dicakarnya.


"Huuks, Aa maksa 'sih! Sudah kubilang itu tidak akan cukup!" rutuknya.


Sekarang sambil mencubit perutku. Ya ampun, aku tidak menyangka jika malam pertamaku akan sedramatis ini. Menegangkan!


"Maaf ayang, maaf. Nanti, kita coba lagi. Aa masih penasaran."


"Enggak mau!" tolaknya.


"Tapi ayang, 'kan belum berhasil."


"Pokoknya aku enggak mau! Titik! Huuu, ibu ... bapak ...."


Lanjut memanggil ibu bapaknya seraya terisak-isak. 'Duh, aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan untuk membujuknya? Serius, tadi itu belum berhasil. Dan aku teramat sangat-sangat penasaran. Tadi itu .... Hmm, pengalaman perdana yang tidak akan terlupakan seumur hidupku. Hatiku berdesir-desir mana kala mengingatnya. Aku bahagia. Sayangnya, belum berhasil.


"Ya sudah, Aa minta maaf. Aa akan bersabar sampai kamu benar-benar siap."


"A Abilnya harus diet dulu," pintanya sambil mengusap air mata di pelupuk matanya.


"Diet? Kenapa Aa harus diet. Berat badan dan tinggi badan Aa 'kan sudah ideal ayang."


"Ya biar punya Aanya kurus dulu."


"A-apa?!"


Aku terkejut dengan jawabannya. Rasanya mau tertawa ngakak sampai guling-guling. Terpaksa menutup mulutku sendiri demi menahan tawa agar ia tidak tersinggung.


"Kenapa?! Ada yang lucu?!"


"Emm, eng-enggak ayang, enggak ada yang lucu. Baik, nanti Aa diet ya."


Diiyakan dulu saja 'lah. Yang penting, Listi lebih tenang. Setelahnya, aku akan merayunya lagi. Aku akan membuatnya tidak berkutik, lemas, dan berteriak seperti tadi. Sayangnya, menaklukannya ternyata tidak semudah menjentikkan jari.


"Aku mau tidur ya A, ngantuk, lelah, lemas, sakit. Maaf," keluhnya dengan suara pelan.


"Tidak masalah, Aa usapin kamu supaya kamu rileks ya. Mau diusap di bagian mana? Punggung? Perut? Tangan? Kaki? Atau di ---."


"Tidak perlu A, terima kasih," selanya. Suaranya parau, dan itu terdengar seksi.


"Aa ikhlas mau usapin kamu."


"Ya sudah, terserah A Abil saja."


Aku lantas memijat punggungnya. Lalu ia mulai terpejam dan terlihat nyaman. Seraya menatap wajahnya, bibirku terus menebar senyuman. Kejadian tadi terus terbayang. Aku malu saat mengingatnya, namun ... aku tidak bisa melupakannya. Pada dasarnya, aku dan Listi sama-sama menahan rasa malu.


Aku ingin mengulanginya lagi. Tapi sepertinya, harus bersabar dulu. Akhirnya, hanya bisa senyum-senyum sendiri.


"Kruwuuk."


Bising ususku meronta. Tiba-tiba lapar. Kegiatan tadi rupanya membuat kaloriku sedikit terbakar.


"Ayang, Aa mau ngemil dulu ya. Lapar," bisikku.


Lalu bangun perlahan setelah menyelimutinya. Untungnya, kemarin aku membeli buah mangga dan menyimpannya di kulkas. Ya, aku makan buah itu saja. Segera ke dapur untuk mengekseskusi si buah mangga. Kemudian memakannya di tempat tidur sambil memandangi istri cantikku. Keindahannya kembali terbayang.


"Aaarrggh." Spontan beteriak karena gemas.


"A Abil! Kenapa?" Jadilah Listi terbangun.


"Hahaha, maaf ayang. Barusan enggak sengaja kegigit."


"Aa enggak ngasih aku 'sih. Makanya kegigit."


"Ayang lapar? Mau mangga juga? Aaa," segera menyupinya. Namun saat Listi membuka mulutnya, aku memakannya.


"A Abil! Iseng banget sih! Ish!"


"Hahaha. Maaf. Baik, Aa suapin lagi. Tapi tidak pakai sendok."

__ADS_1


Aku menggigit potongan mangga dan mendekatkannya pada Listi. Listi tersenyum, lalu memeluk bahuku dan mengambilnya. Jadilah mangga dengan rasa yang sangat spesial. Manis, lembut, dan hangat. Adegan itu terjadi berulang-berulang.


"Kita coba lagi yuk sayang," ajakku setelah menyimpan sisa mangga ke atas nakas.


"Mencoba apa?" Malah pura-pura tidak tahu.


"Yang tadi. Mau?"


"Emm, mau enggak ya?" Sambil mengetuk-ketuk ujung bibirnya dengan jari telunjuk.


"Please my honey."


Aku berubah bak kucing kecil yang ingin dimanja oleh majikannya.


"Ehm, aku mau tanya-tanya sama Daini dulu ya, A."


"Lho, untuk apa?"


"Kali saja Daini punya solusi."


"Hmm, ya sudah, terserah ayang saja. Cepat tanyakan sekarang juga."


"Apa? Sekarang? Ya enggak mungkin sekarang 'lah A. Ini sudah malam."


"Bu Daini pasti belum tidur ayang. 'Kan ada Raja dan Cantik."


"Aku enggak mau ganggu Daini, A Abil."


Mau bertanya pada Daini ternyata hanya alasan. Intinya, Listi belum mau mengulanginya lagi.


"Hmm, ya sudah."


Aku menarik selimut dan memunggunginya.


"A Abil marah?"


Aku diam saja.


"A Abil."


"Abilnya sudah tidur," jawabku.


"Enggak tahu."


Apa harus mengikuti saran pak Zulfikar? Aku harus pura-pura cuek dulu untuk mendapat perhatiannya.


"A Abil, jangan marah atuh."


"Aku mau tidur di sofa saja."


Aku beranjak ke sofa.


"Hei, Pak Sabil!" panggilnya.


Aku tidak menyahut. Segera meringkuk di sofa. Listi akhirnya bangun dan mengikutiku. Kupikir dia akan merayuku. Ternyata hanya datang untuk menyelimutiku.


"Pakai selimutnya ya."


"Enggak mau!" tolakku.


Bahkan langsung mengulurkan selimut tersebut hingga jatuh ke lantai.


"Ya sudah kalau enggak mau mah. Aku enggak akan maksa."


Haish, aku jadi kesal sungguhan. Apa lagi saat ia meninggalkanku dan kembali naik ke tempat tidur. Sabaaar .... Melihatnya merebahkan diri membuat pikiranku kacau. Segera memejamkan mata untuk melupakan kejadian tadi. Tapi, tubuhnya dan seluruh kemolekannya sulit lekang dari ingatan.


Beberapa saat kemudian ....


"A Abil," panggilnya.


Karena kesal, aku tidak menyahut. Pura-pura tidur.


"A Abil, apa Aa punya paracetamol?"


Paracetamol? Untuk apa ya? Ada 'sih, tapi aku tidak mengindahkannya.


"A Abil, kayaknya aku demam A."


Demam? 'Kok bisa demam? Apa gara-gara terkesima dengan kejadian tadi? Ah, paling juga ia pura-pura sakit. Lanjut diam saja dan tetap pura-pura tidur.

__ADS_1


"A Abil, sudah tidur ya?"


Karena khawatir, aku mengintipnya dengan sedikit membuka mata. Listi bangun dan mengambil ponselnya. Aduh, bagaimana kalau ia menelepon ibu atau bapak? Gawat!


"Ayang!"


Aku bangun cepat-cepat dan mengampiri. Saat kulihat, wajahnya memang terlihat memerah.


"Aku serius demam tahu, A."


"Astaghfirullah."


Aku lekas naik ke tempat tidur dan mengeceknya. Benar saja. Kening dan lehernya panas. Jadi panik.


"Kok tiba-tiba sakit? Ayang kemarin-kemarin kehujanan apa bagaimana 'sih? Masa tiba-tiba demam?"


Serius, aku panik. Mencari termometer sambil mengoceh. Jadi merasa bersalah karena mengabaikannya. Harusnya, aku tetap di sisinya dan memeluknya.


"Aku juga enggak tahu A."


"Nah ini termoternya ketemu. Paracetamol ada di mobil. Nanti Aa ambil."


Segera aku cek, dan hasilnya 38,8 derajat celcius. Ya ampun, 'kok bisa jadi begini? Mana di lehernya banyak tanda cinta. Apa demamnya akibat dari aku menghisapnya terlaku kuat?


"Aa ambil paracetamol dulu ya. Ayang tenang dulu."


"Aku mau pulang A. Biar dikerik sama ibu. Kayaknya masuk angin."


"Dikerik? Tidak boleh ayang. Keseringan dikerik tidak baik. Kulit kamu juga bisa terluka gara-gara dikerik."


"A Abil berlebihan. Pokoknya aku mau pulang."


Kalau kubawa pulang, bagaimana aku menjelaskan pada bapak dan ibu? Setidaknya harus turun dulu demamnya baru boleh pulang.


"Minum obat dan makan dulu baru kita pulang."


Sambil bergegas untuk mengambil paracetamol.


...⚘️⚘️⚘️...


"Bagaimana? Sudah terasa baikan?"


Listi sudah minum obat. Aku sudah mengompresnya, dan sudah memakan roti bakar yang kubuat seadanya.


"Alhamdulillah," jawabnya.


Keningnya mulai bekeringat, dan wajahnya tidak memerah lagi.


"Apa yang kamu rasakan, hmm? Apa kita perlu ke dokter?"


"Tidak perlu A."


"Besok tidak usah kerja ya. Biar aku yang jelaskan sama pak Zulfikar."


"Tapi, besok ada rapat penting A."


"Biar Anwar saja yang urus. Oke?"


"Emm, aku pikir-pikir dulu ya A."


"Kalau besok ayang enggak kerja, Aa juga mau izin enggak masuk kerja. Kita akan seharian di kamar ini dan mencobanya lagi."


"Apa?! Jadi, tujuan Aa melarangku kerja untuk itu? Bukan karena khawatir dengan demamku?"


Aduh, salah lagi 'deh. Aku garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


"Bu-bukan begitu ayang, ja-jangan salah sangka. Tujuan utamanya tentu saja supaya kamu bisa istirahat."


"Emm, baiklah. Aku mau izin sakit."


"Sungguh?"


Aku bahagia. Kupastikan akan mencobanya lagi dan lagi. Listi mengangguk.


Yes!


Spontan tanganku mengepal. Namun kutahan agar tidak kentara menunjukkan kebahagianku.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


Semoga bisa mengobati rindu. Maaf karena mengintainya tidak bisa lama-lama. Alasannya karena nyai sibuk dan lumayan malu juga saat melihat kelakuan pak Iptu dan bu Listi. Maafkan nyai karena belum bisa menjenguk baby Raja dan baby Cantik. Padahal, nyai juga sudah kangen sama mereka. Tapi, berhubung banyak yang DM untuk mengintai pak Iptu dan bu Listi, nyai mengintai mereka dulu. Salam rindu dari nyai. Semoga kita semua selalu ada dalam lindungan-Nya. Aamiin.


__ADS_2