
Kesal! Gara-gara manusia itu, aku jadi tak bisa tidur lagi. Ada perlu apa dia sama bu Tania? Jangan-jangan, itu hanya alasan. Bisa saja, 'kan dia sebenarnya naksir sama bu Tania? Titah dari pak Direktur hanya alibinya.
Harusnya, terbangun di jam ini bisa kugunakan untuk shalat malam. Aku pernah diajari tentang hal ini sama Daini. Tapi malasnya minta ampun. Kupikir, akan shalat malam di lain waktu saja. Akhirnya, kucoba untuk memejamkan mata kembali. Hasilnya ....
"Arrgghh."
Bayangan dada dan ketiak manusia itu terbesit lagi.
"Sial!"
Akhirnya kupaksakan bangun untuk shalat malam. Entah ini shalat malam yang keberapa. Yang jelas, masih bisa dihitung dengan jari.
Setelah shalat, langsung naik ke tempat tidur, tidak berdzikir dulu kayak Daini. Lagi, aku sulit memejamkan mata. Tiba-tiba, ada notifikasi di HP-ku.
"Issh, ada apa lagi, sih?" Ada pesan dari Uu.
"Hahaha." Lucu juga kalau aku memanggilnya Uu.
"Kamu harus tanggung jawab bu Listi. Aku enggak bisa tidur lagi. Tak tahu kenapa. Pastinya gara-gara kamu. Ya, kamu selalu membawa dampak negatif untuk hidupku."
"Apa dia bilang?!"
Aku sampai duduk setelah membaca pesannya. Karena emosi, aku segera meneleponnya. Langsung diangkat di setengah dering pertama. Cepat sekali.
"Kenapa nyalahin gue, hahh?!"
"Faktanya benar, 'kan? Gara-gara kamu, kualitas tidurku jadi buruk," tuduhnya.
"Hey, aparat sombong! Yang telepon gue duluan siapa?! Enak saja Anda menyalahkan gus! Ngaca dong! Anda yang menggangguku terlebih dahulu!"
"Hahaha, bukannya kamu ya yang menelepon terlebih dahulu? Hmm, maaf aku lupa." Malah disengajakan membuatku semakin emosi.
"Anda sebenarnya waras tidak 'sih? Heran 'deh gue! Lho 'kok bisa Anda lulus jadi perwira? Hahaha, pasti karena nyogok ya?"
"Apa?! Bu Listi! Jaga bicara Anda ya! Aku lulus murni! Silahkan kamu cek! Atau buktikan kalau tuduhan itu benar!" Dia terdengar kesal.
"Kalau enggak merasa yang tidak perlu marah keleus."
"Oke, kita kembali ke tema awal. Jam berapa kamu siap aku jemput?"
"Dijemput? Maksudnya?"
"Listi, aku ingin bertemu Tania sesegera mungkin. Jadi, aku dan kamu harus ke kantor bersama-sama."
"Apa?! Gue tidak mau! Oiya, Anda mau ketemu bu Tania untuk keperluan apa, 'sih? Naksir ya? Kalau ya, silahkan langsung menemuinya secara pribadi. Tak perlu ada campur tangan dari gue!"
"Naksir? Hahaha, Tania bukan tipeku. Sudahlah, aku lelah berdebat. Sepertinya, kita harus bicara secara langsung."
"Maksud Anda?"
"Kalau kita bicara ditelepon, aku merasa banyak kesalahpahaman dan miskomunikasi. Baiknya, kita memang harus bertemu secara langsung."
"Bertemu?" Aku masih tak mengerti maksudnya.
"Ya, kita harus bertemu. Bertemunya saat ini juga."
"Apa?! Jangan gila ya pak Sablon! Sekarang bahkan belum adzan Subuh."
"Ya, aku tahu. Tapi, aku sudah terlanjur naik motor menuju rumah kamu. Emm, sekalian menikmati udara pagi ibu kota tercinta Indonesia Raya, Jekarteh."
"Apa?! Anda tidak serius, kan?"
"Aku serius."
"Kebetulan pakai headset, makanya bisa langsung menerima panggilan dari kamu. Sekitar sepuluh menit lagi, aku akan sampai di depan rumah kamu."
"Apa?! Pak Sabil! Untuk a ---."
"Jangan tanya alasannya. 'Kan aku sudah jelaskan kalau kita harus bicara secara langsung."
"Ya, tapi enggak sekarang juga, Pak."
"Ayolah Listi. Aku ingin bertemu kamu. Aku menunggu kamu di mana 'nih? Langsung ke rumah kamu? Atau, kita bertemu di suatu tempat?"
"Pak Sabil! Anda benar-be ----."
"Ssstt, sebenarnya, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Ini ada kaitannya dengan bu Daini dan berurusan dengan nyawa seseorang."
"A-apa?!" Spontan langsung berdiri saking kagetnya.
"Anda tidak sedang mengerjaiku, kan?!"
"Tidak."
"Ba-baik, gue mau. Tapi bertemunya di alun-alun saja ya. Gue akan naik sepeda sekalian olah raga. Kalau alasannya mau bertemu pria, bapak dan ibuku pasti tak akan mengizinkan keluar. Apa lagi sepagi ini."
"Baik. Oiya, jangan pakai celana pendek ya. Jangan pakai baju ketat juga."
"Hey, terserah gue dong! Jangan mengaturku ya! Gue setuju bertemu saja harusnya Anda sudah bersyukur!"
"Listi, aku tidak ada niat mengatur kamu. Kalau kamu jatuh 'kan bahaya. Kaki kamu bisa terluka. Sebagai polisi yang bertugas mengayomi, aku berhak mengingatkan. Mencegah lebih baik daripada mengobati."
"Alasan Anda tidak masuk akal!"
__ADS_1
"Ya sudah, aku tunggu. Jangan biarkan aku menunggu lama."
"Yang datang pertama pastinya gue dulu, lah."
"Tidak, sebab aku sudah sampai di alun-alun."
"Apa?!"
"Serius. Sampai bersua, Listi. Dah." Dia mengakhiri panggilan. Padahal, aku yang meneleponnya.
"OMG. Mau dia apa 'sih?"
"Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Ini ada kaitannya dengan bu Daini dan berurusan dengan nyawa seseorang."
Mengingat kembali pada kalimat itu, akupun bergegas. Namun tentu saja harus pamit pada bapak dan ibu dulu.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba-tiba di alun-alun, aku mengedarkan pandangan. Dia tidak ada di tempat. Mau aku telepon, gengsi. Enak saja! 'Kan dia yang meminta bertemu. Artinya, posisiku lebih penting. Biarkan saja, aku memilih berkeliling. Lalu ponselku berbunyi. Aku berhenti sejenak.
"Aku melihatmu. Maaf, tadi ke toilet dulu."
"Di mana?" balasku.
"Di belakang kamu."
"Apa?!" Langsung membalikkan badan.
"Kok bisa?"
Aku terkejut. Dia benar-benar ada di belakangku. Memakai jaket hitam, topi dan kaca mata bening.
"Bisa dong." Sambil membuka jaketnya dan tanpa kuduga, dia memakaikan jaket itu ke tubuhku.
"Gue enggak perlu pakai jaket," tolakku.
"Tak masalah, sementara 'kok, selagi kita bicara. 'Kan udaranya masih dingin," katanya.
Lalu ia berjalan menuju ke tepi. Terpaksa membiarkan jaket ini menempel di tubuhku. Parfum jaketnya menguar. Wanginya menyegarkan. Minyak apa ya? Baunya enak sekali.
"Duduk di sini yuk!" ajaknya. Lalu meniup lantai yang akan kududuki. Aku patuh, duduk begitu saja tanpa basa-basi.
"Orang tua kamu mengizinkan kamu keluar?" tanyanya.
"Ya, seminggu tiga kali, gue memang rutin main sepeda sebelum Subuh."
"Rutinitas yang sedikit aneh." Sambil menatap langit.
"Enggak aneh, 'lah. Aku punya alasan."
"Kalau jam segini 'kan harapannya tidak ada orang atau tidak banyak orang. Kandungan oksigennya murni. Jadi, hanya gue doang yang menghirupnya. Tapi, pernah beberapa kali bertemu sama orang yang olah raga sebelum Subuh juga. Saat gue tanya, mereke ternyata atlit Timnas."
"I see," sahutnya sambil mengangguk.
"Tunggu, 'kok kita jadi ngobrol, 'sih? Langsung ke maksud dan tujuan saja ya," protesku.
"Oiya ya, jadi lupa. Begini, emm, ini agak rumit. Pertama, kamu jangan pernah memberikan keterangan apapun jika ada wartawan yang menemui kamu dan bertanya pada kamu tentang bu Daini, bu Dewi, ataupun keluarga Antasena. Kalaupun kamu tahu faktanya, tolong diam saja. Jadi miss no comment, siap?"
"Kalau wartawannya mau bayar gue?" Matanya langsung mendelik.
"Hahaha, becanda, Pak. Gue enggak mungkin mengkhianati Daini."
"Bagus, jangan sampai kamu jadi pengkhianat seperti Tania."
"Maksudnya?"
"Tania diduga menjadi biang kerok bocornya perjalanan rahasia pak Zulfikar."
"Perjalanan rahasia? Ini membahas apa 'sih? Gue enggak ngerti."
"Begini," dia mendekat. Duduknya begeser.
"Issh, jangan dekat-dekat," tolakku.
"Yang akan kuceritakan sebuah rahasia. Lebih dekat lebih baik. Maksudnya, supaya kamu tidak salah memahami atau salah dengar." Sambil merangkul bahuku.
"Pak Sablon, isshh! Anda kebiasaan tahu!" Aku menepis, namun dia tetap menahanku.
"Maaf." Baru melepasku setelah ia mengacak-acak rambutku.
"Kenapa ngacak-ngacak rambut gue?" Aku cemberut.
"Karena rambut kamu jelek. Sorry."
"Lama 'deh. Cepat cerita. Ada apa?"
"Baiklah, begini ...."
Dia lantas becerita. Aku menyimak dengan seksama.
"Aku mau ke Bandung," tegasku setelah ia mengakhiri penuturannya.
"Jangan," larangnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Bahaya."
"Gue harus memastikan Daini baik-baik saja."
"Tenang, di sana sudah ada polisi yang berjaga. Hematku, untuk saat ini, kamu harus menjauh dulu dari bu Daini."
"Apa?! Kenapa?!"
"Media sudah tahu identitas kamu. Aku khawatir, selain media, akan ada pihak ketiga yang sengaja mengincar kamu untuk mengancam bu Daini ataupun pak Zulfikar. Kamu faham maksudku, 'kan?"
"Itu tidak mungkin," sangkalku.
"Untuk menjamin keselamatan kamu, baiknya, kamu juga harus mendapat pengawalan. Kalau kamu setuju, aku akan menugaskan Polwan Patwal agar menjaga kamu atau berjaga di rumah kamu."
"Apa?! Itu terdengar berlebihan. Tidak, aku tidak mau dijaga."
Bibirnya baru saja hendak berujar, mamun ponselnya terlanjur bedering. Segera menerimanya dengan mimik wajah serius.
"Ya pak Zulfikar."
"...."
"APA?! 'Kok bisa?! Astaghfirullahaladzim!"
Ia berdiri seketika, wajahnya memucat. Ponselnya bahkan terjatuh ke lantai. Aku terperanjat dan refleks mengambil ponselnya.
"A-ada apa?!" tanyaku. Lalu dada ini tiba-tiba berdebar.
"Kita harus ke Bandung sekarang juga. Yuk!" Dia menarik tanganku.
"Sekarang? Ta-tapi ----."
"Sudah, jangan banyak tanya! Sepeda kamu nanti akan ada yang urus!"
"Ada apa sebenarnya?! Gue harus bilang sama ibu dan bapak dulu. Mereka harus tahu alasanku ke Bandung untuk apa." Aku menepis tangannya.
"Listi, ini darurat! Aku yakin ibu dan bapak kamupun akan memakluminya. Jika tidak, aku yang akan tanggung jawab. Ayo cepat!"
"Pak! Ada apa?! Tinggal bicara saja, 'kan?!" rutukku saat ia menyeret tanganku menuju motornya.
"Aku tidak bisa bicara sekarang karena aku sendiri belum melihat faktanya!"
"Naik!" titahnya saat ia sudah berada di atas motor dan telah memakai helmnya.
"Aku enggak pakai helm?"
"Tenang saja. Nanti di pos, aku akan pinjam sama petugas. Cepat naik!"
"Pak Sabil, emm ----."
"Listi!"
Ia membuka kaca helm dan menatapku dengan tatapan tak biasa. Bak tatapan sang pemangsa yang akan menerkam buruannya.
"Baik, gue naik! Tapi gue enggak mau pegangan!" Akhirnya, walaupun ragu, aku naik jua.
'Brumm.' Dia menghentak motornya.
Aku terkejut dan spontan memegang bajunya. Jaketnya masih kugunakan.
"Aku akan ngebut, pegang kuat-kuat!" titahnya.
"Ta-tapi ----."
"Listi! Aku sedang tidak ingin bercanda! Cepat!"
"Jaket Anda?" tanyaku.
"Kamu lebih membutuhkan! Pakai sama kamu saja! Arrggh, kamu lama 'deh!"
Dia menarik tanganku dan melingkarkan di pinggangnya. Aku membelalak. Jujur, ini pengalaman pertama aku naik motor dengan pria asing. Aku juga jarang naik motor. Entah kapan terakhir kalinya. Aku sudah lupa. Saat bersama Akmal, aku selalu naik mobil dan aku sendiri jarang naik angkutan umum. Ke mana-mana selalu bawa mobil sendiri.
'Bruuum.'
Aku belum sempat protes karena dia sudah terlebih dahulu menggeber motornya. Karena kaget, aku jadi sedikit takut hingga tak sadar memeluk erat punggungnya.
Tidaaak, apa yang kulakukan?
Hembusan angin pagi yang melintasi pipiku terasa kuat karena ia mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Mataku langsung perih dan spontan terpejam sembari menempelkan pipiku ke punggungnya. Jadi tak bisa berkata-kata. Punggungnya hangat. Parfum khasnya kembali menguar.
Uu, gumamku dalam hati.
Lalu aku terbayang wajah Daini.
Neng, kamu baik-baik saja, 'kan? Kenapa pak Sabil begitu panik? Ada apa ya?
Ingin rasanya bertanya kembali pada pria ini, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1
Punten hanya bisa mengintai sedikit, nyai sibuk. Ada program kerja baru yang berhubungan dengan profesi nyai di dunia nyata. Serta ada beberapa hal yang harus nyai lakukan untuk persiapan operasi jantung yang insyaaAllah akan dilaksanakan pada tanggal 20 Juli 2022. Mohon doanya. Terima kasih. Salam sayang. nyai sayang sama reader. Terima kasih untuk reader yang sudah berkenan mampir ke karya nyai.