Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Dua Sisi yang Berbeda


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Bisa-bisanya aku mengiyakan. Dokter Rahmi jadi tahu kalau semalam aku dan pak Zufikar .... Tapi sudahlah, yang penting tidak terjadi hal yang membahayakan.


"Tidak perdarahan, kan?" tanya dokter Rahmi.


"Tidak," jawabku.


Lantas kumenelepon ummi untuk menanyakan kabar pak Zulfikar. Yang mengangkat malah abah.


"Ummi tak sempat bawa HP, Neng. Abah dan Pak Ihsan sekarang mau ke rumah sakit. Kamu istirahat ya. Jaga kandungan kamu, setelah Abah melihat kondisi mas Zul, kita berunding lagi. Kamu mau pulang ke Bandung, apa tetap di sini? Untuk sekarang, rencana pulangnya kita batalkan dulu," kata abah.


"Muhun (ya), Abah."


Setelah panggilan berakhir, aku merenung. Aku juga tak mungkin meninggalkan pak Zulfikar. Dia masih suamiku, masa ya aku tak memedulikannya?


"Ssshh, jangan melamun," dokter Rahmi menepuk bahuku.


"Dok, setelah cairan infusnya habis, kita ke rumah sakit ya."


"Boleh, tapi saya harus izin sama pak Aksa atau bu Yuze dulu."


"Kalau mereka tak mengizinkan?"


"Berarti Neng jangan memaksakan diri. Tetap di sini."


"Tapi aku ingin melihat langsung kondisinya, Dok."


"Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang, Neng istirahat ya. Saya mau ke kamar kak Gendis dulu. Saat saya menolong pak Zulfikar, kak Gendis masih tidur. Katanya, kalau sudah tidur dia sulit dibangunkan. Saya kira dia bohong, ternyata benar. Buktinya, kak Gendis sama sekali tak mendengar suara ambulance ataupun mobil polisi. Ditambah lagi kamarnya kedap suara. Lengkaplah sudah," kata dokter Rahmi sambil menghela napas.


"Saya harus menjelaskan kejadian ini pada kak Gendis," tambahya. Lalu ia pergi setelah merapikan selimutku dan memastikan cairan infus berjalan lancar.


.


Setelah dokter Rahmi pergi, aku tetap tak bisa istirahat. Aku menatap nyalang pada tetesan infus. Tidak, aku tak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu yang bisa menenangkanku.


Benar, kenapa aku tidak shalat dan berdzikir saja?


Aku lalu beranjak ke kamar mandi sambil mendorong tiang infus. Dengan sedikit kesulitan aku berwudhu. Kemudian menggelar sajadah dan memakai mukena.


Lantas kuberdzikir demi kesembuhannya. Air mata ini tak henti menetes.Terbayang lagi akan kondisinya yang memprihatinkan. Terngiang kembali saat dia beteriak memanggil namaku sesaat sebelum menyelamatkanku.


Pak Zulfikar ... bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai masa nifas tiba aku tak sanggup melepasmu? Bagaimana kalau rasa cinta ini semakin dalam saja? Bagaimana kalau cinta ini tumbuh semakin subur?


"Huuu ...."


Setelah berdzikir, aku meratapinya. Dari cara dia memperlakukanku, tutur bahasanya, bahasa tubuhnya, dan tatapannya ... selalu saja membuatku jatuh pada kesimpulan jika dia memang benar-benar mencintaiku.


Apakah kamu jodohku? Tolong segera berikan jawabannya, Yaa Rabbi .... Apakah meninggalkannya akan menjadikan hidupku lebih tenang? Tolong lepaskan aku dari belenggu rasa ya tak pasti ini.


.


"Assalamu'alikuum, Neng Dai**ni," suara kak Gendis.


"Wa'alaikumussalaam," aku beranjak pelan untuk membuka pintu kamar.


"Neng, huuu ...." Kak Gendis langsung memelukku.


"A-aku baik-baik saja, Kak."


Akupun menangis lagi karena terharu. Sedari awal, sikap kak Gendis tak berubah. Sikapnya selalu menunjukkan jika ia menerimaku.


"Neng, tadi aku lihat rekaman CCTV-nya. Gila! Itu mobil kencang banget. Aku nggak bisa membayangkan kalau sampai Zul tak bisa menyelamatkan kamu. Bisa jadi aku kehilangan calon ponakanku," sambil mengelus perutku.


"Tapi Kak ...gara-gara aku ---."


"Sssttt, jangan menyalahkan diri sendiri, kamu mau bilang merasa bersalah karena Zul yang celaka, kan? Neng, dengar ya, ini murni kelalaian pengemudi. Bukan salah kamu," tegasnya.


"Terima kasih, Kak."


"Hey, terima kasih untuk apa?"


"Karena Kak Gendis tak menyalahkanku."


"Memangnya ada orang yang menyalahkanmu? Hanya orang gila yang berani menyalahkanmu."


"Ti-tidak ada, Kak. Tidak ada yang menyalahkanku. Aku hanya khawatir," kilahku.


"Oiya, dokter Rahmi dan pak Reza berangkat ke rumah sakit. Jadi, aku yang temani kamu. Harusnya, dokter Rahmi yang menenami kamu. Tapi, aku sengaja menyuruh dia ke rumah sakit supaya bisa menyerap informasi medis tentang Zul lebih banyak lagi," jelasnya.


"Kak, tolong bantu aku."


"Bantu apa?" Sambil menggandengku menuju tempat tidur.


"Tolong bujuk bu Yuze atau pak Aksa agar memperbolehkanku menjenguk pak Zulfikar."


"Oh, kupikir minta bantuan apa? Tenang saja, nanti aku bicara sama mereka. Sekarang, kamu istirahat ya. Ihh, kamu cantik banget 'sih, Neng. Setelah kamu ada di rumah ini, aku jadi tersaingi. Awalnya yang paling cantik itu, aku. Hahaha."


"Kak Gendis berlebihan, bu Dewi lebih cantik," kataku.


"Ya, Dewi memang cantik, tapi aku merasa kamu lebih cantik. Serius," ungkapnya.


"Semua wanita cantik," selaku sambil memejamkan mata, dan aku terkejut karena kak Gendis tiba-tiba memelukku.


"Aku jadi merasa punya adik tahu, Neng. Si Zul 'tuh orangnya cuek, gak pernah mau mendengarkan keluh-kesahku. Sekalinya mau, selalu pas akunya sudah malas bicara lagi," terangnya.


"Kak Gendis tak pernah mengobrol sama bu Dewi?"


"Dewi? Haish, malas, Neng. Semenjak dia dijodohkan sama Zul, aku sebenarnya kurang suka. Aku lebih suka sama Angel, sama kayak kamu, Angel juga ramah. Sayangnya dia penipu. Dengar-dengar, akhir tahun ini dia mau keluar dari penjara."


"Angel? Dari namanya, dia pasti cantik," gumamku sambil menatap langit-langit. Entah kenapa, tiba-tiba ada perasaan risih saat mendengar wanita itu akan keluar dari penjara.


"Ya benar, dia memang cantik. Rambutnya panjang kayak kamu. Tapi kamu lebih cantik." Lagi-lagi, kak Gendis memujiku.


"Sudah ah, jangan memujiku terus Kak, takut hidungku terbang."


"Hihihi, memang kenyatannya begitu, kan? Gak kebayang nanti anak kamu mirip siapa ya? Kuharap semuanya mirip kamu," katanya sambil memijat cuping hidungku.


"Kak Gendis?"

__ADS_1


"Hmm."


"Kenapa Kakak tak menjudgeku seperti halnya orang lain? Kakak tak menuduhku sebagai pelakor seperti yang diberitakan?"


"Karena aku percaya pada kamu dan pada Zul. Neng Dai, dengar ya, Zul itu tipe pria yang sulit jatuh cinta, dari kelas dua SMA pacarannya ya sama Angal saja. Sampai mereka berdua lulus kuliah dan bekerja, Zul tetap setia sama Angel. Awal-awal ketahuan Angel menyelewengkan dana perusahaan, dia malah mati-matian membela Angel karena tak percaya kalau Angel berani melakukan kejahatan."


"Setelah polisi membuktikan kalau dia salah, Zul sangat tertekan dan terpuruk. Penderitaan Zul bertambah karena seluruh keluarga Antasena menyalahkan Zul yang tak teliti memilih pasangan. Kita bahkan perlu waktu lima tahun untuk memastikan Zul benar-benar telah melupakan Angel dan melupakan semua kenangannya bersama wanita itu."


"Di tahun ketiga Angel dipenjara, mama sudah mulai memperkenalkan Dewi. Saat itu, Zul tak mengatakan penolakan. Tapi, pada kami semua Zul meminta agar diberi waktu untuk berani mengatakan ya dan bersedia. Barulah dua tahun kemudian, atau setelah Angel dipenjara selama lima tahun, ia bersedia dijodohkan dan menikah dengan Dewi."


Aku manggut-manggut. Ternyata, seberat itu perjuangan pak Zulfikar untuk melupakan wanita itu.


"Apa mungkin pak Zulfikar masih mencintainya?" Tanpa sadar aku mengatakan pertanyaan itu.


"Sepertinya tidak lagi, Neng. Zul pernah cerita jika rasa benci dia pada Angel sama besar dengan rasa cinta dia pada Angel. Jadi, seluruh perasaan cintanya pada Angel telah tergantikan oleh kebencian."


"Apa pak Zulfikar belum memaafkan Angel? Bukankah dia telah mendapat hukuman yang setimpal?"


"Masalah penipuan, bisa jadi Zul sudah memaafkannya. Tapi selain ditipu, Zul juga ternyata dikhianati, Neng. Kata polisi, Angel merencanakan penipuan dengan pria yang mengaku sebagai kekasihnya. Saat dilakukan penyelidikan lebih lanjut, ternyata pria itu sudah berpacaran dengan Angel sejak Angel masuk kuliah. Intinya, Zul diselingkuhi. Bayangkan, wanita itu berani selingkuh dari adikku yang tajir, tampan, dan setia. Dasar cewek gila!" rutuknya.


"Saat di persidangan, si Angel sempat memeluk kakinya Zul. Dia memohon-mohon agar dimaafkan dan bisa menjalin hubungan kembali. Katanya, 'Maafkan aku Mas, ayo kita mulai lagi dari awal.' Apa kamu mau tahu jawaban Zul apa? Kata Zul, 'Jangan mimpi! Aku yakin suatu hari nanti bisa mendapatkan wanita berhati malaikat berwajah bidadari yang tulus mencintaiku. Bukan wanita bernama malaikat namun berhati iblis!' Saat itu, kalimat Zul langsung diamini oleh anggota Majelis Hakim dan seluruh peserta sidang."


"Tadaaa, dan kamulah malaikat yang berwajah bidadari itu. Doa Majelis Hakim dan peserta sidang dikabulkan," katanya sambil tersenyum.


"A-apa? I-itu terlalu lebay, Kak."


"Serius, Neng. Kehadiran kamu membuat Zul seperti hidup kembali. Kamu paket lengkap tahu, Neng."


"Tapi, gara-gara kehadiranku, hubungan pak Zulfikar dan pak Aksa, lalu dengan bu Yuze ---."


"Ssstt, itu hal wajar, Neng. Anggap saja sebagai bumbu-bumbu cinta," katanya.


Andai kak Gendis tahu rencana orang tuanya merampas hakku sebagai ibu, mungkin kak Gendispun akan kecewa pada mama papanya dan yakin akan berada di pihakku.


Sepertinya, infusnya mengandung obat tidur. Efeknya baru kurasakan saat cairannya hampir habis. Aku menguap berulang kali. Atau aku memang mengantuk karena semalam pak Zulfikar terus mengusik dan menggodaku dengan sesuatu yang menyenangkan.


"Kamu ngantuk?"


"Ya, tapi saat mau memejamkan mata, ingat terus sama pak Zulfikar," jelasku.


"Kamu mau rujak gak? Hehehe," tawarnya.


"Ru-rujak? Mau, Kak."


Aku antusias, sebab selama ini pak Zulfikar selalu melarangku makan rujak-rujakan atau sejenis petis-petisan yang menurut dia tak sehat untuk lambungku. Padahal, tidak semua rujak rasanya kecut ataupun pedas. Karena kadar kepedasannya bisa ditentukan sesuai selera.


"Asyik, aku suka makan rujak-rujakan, Neng. Setelah makan siang, kita beli ya," katanya.


.


Lalu ponsel kak Gendis bedering.


"Tar ya, Dai. Aku angkat dulu." Dia bangun, menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.


"Dari dokter Rahmi." Berekspresi terkejut. Akupun demkian, langsung terbangun.


"Loudspeaker, Kak."


"Hallo, Dok."


"Ya, hallo. Kak Gendis sudah lihat neng Daini?" Kak Gendis menatapku. Lalu aku berbisik di telinganya.


"Katakan saja sudah melihatku, tapi tidak sedang bersamaku. Khawatir dia tak menjelaskan kondisi detail pak Zulfikar saat tahu ada aku."


"Sip," kata kak Gendis, pelan. Syukurlah, kak Gendis ternyata bisa diajak kerja sama.


"Hallo, hallo," sapa dokter Rahmi.


"Sudah, tadi sudah lihat."


"Posisi Kak Gendis di mana sekarang? Sedang sama Daini, gak?"


"Nggak, aku ada di kamarku. Cepat ceritakan, kondisi Zul bagaimana?"


Aku menyimak dengan perasaan gundah. Bibirku berkamit melafalkan dzikir. Berharap jika yang dijelaskan dokter Rahmi adalah hal yang baik-baik saja.


"Mohon do'anya ya, sekarang sudah masuk ruang operasi. Belakang kepalanya terkena serpihan material plat mobil. Ada serpihan yang tertanam sampai menembus tulang tengkoraknya. Tapi alhamdulillah tak sampai melukai organ dalam otaknya."


Penjelasan dokter Rahmi sudah cukup membuatku merinding, aku mengatur napas perlahan. Kak Gendis menggenggam tanganku.


"Terus, itu 'kan di CCTV aku lihat hidung dan telinganya mengeluarkan darah, bagaimana itu, Dok?" Saat menanyakan itu, air mata kak Gendis menetes.


"Gendang teling kirinya pecah, Kak."


"Pecah?! Astaghfirullah, terus bagaimana itu, Dok?" Kak Gendis panik. Aku menutup bibirku yang terbuka karena terkejut.


"Tenang Kak, gendang telinga yang pecah dapat sembuh dengan sendirinya, kok. Bisa kembali seperti semula lagi tapi membutuhkan waktu untuk penyembuhannya. Bisa beberapa minggu hingga tiga bulan. Tapi dengar-dengar, pak Aksa inginnya segera dilakukan operasi agar telinganya pak Direktur cepat sembuh. Nama operasinya timpanoplasti, tapi sedang dirundingkan dengan dokter bedah THT."


"Apa ada cidera yang lainnya?" tanya kak Gendis.


"Ada, tulang rusuk melayangnya patah. Lupa saya, kiri atau kanan ya? Sama itu, tulang tempurung lututnya begeser, dan tulang betisnya retak lumayan panjang. Jadi, untuk beberapa waktu pasca operasi dan pemulihan, pak Direktur sepertinya harus menggunakan roda."


Ya Allah, pak Zulfikar ....


Airmataku bederai. Tak sanggup membayangkan bagaimana menderita dan kesakitannya dia saat efek obat biusnya hilang.


"Tapi, Dok. Syarafnya tak ada yang terganggu, kan? Amit-amit, tak sampai beresiko pada kelumpuhan, kan?"


"Kita doakan semoga saja tidak. Untuk mengetahui kondisi syarafnya, biasanya harus melihat dulu respon tubuh pasien pasca operasi. Nanti akan dilakukan beberapa tes oleh dokter spesialis neurologi, dan dokter ahli fisioterapis."


"Oh, begitu ya. Kapan bisa dijenguknya? Daini boleh menjenguk, kan?"


"Setelah operasinya selesai dan pak Direktur masuk ruang pemulihan, nanti akan saya kabari lagi. Untuk masalah neng Daini, Kak Gendis konfirmasi sama pak Aksa atau bu Yuze saja. Tapi, kata ummi, saat masih di IGD dan siuman, pak Direktur langsung menanyakan kondisi neng Daini. Katanya bilang begini, 'Hanin, Hanin, bagaimana kondisi Hanin? Suster, suster, istriku bagaimana?' Begitu katanya."


"Sampai-sampai perawat di IGD menanyakan pada pak Aksa dan ummi tentang Hanin yang dimaksud pak Direktur. Setelah dijelaskan kalau neng Daini baik-baik saja, pak Direktur baru bisa tenang. Sebelum tahu kabar neng Daini, dia benar-benar gelisah."


Mendengar cerita itu, hatiku berdesir, aku tak pernah menyangka ataupun membayangkan jika pak Zulfikar akan sepeduli itu terhadapku.


"Ya sudah, untuk sementara, itu dulu ya Kak Gendis, nanti dikabari lagi. Assalamu'alaikuum."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalaam," jawab kak Gendis.


Panggilanpun berakhir. Aku dan Gendis menghembuskan napas secara bersamaan, lalu kami saling menatap, berpelukan, dan menangis.


"Dia pasti baik-baik saja," ucap kak Gendis seraya mengusap air mataku.


...⚘⚘⚘⚘⚘...


Dewi Laksmi


Tadi, sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, bahkan hingga saat ini, batinku masih dipenuhi kecemasan. Aku takut dia cacat, wajahnya berubah jelek atau lumpuh dan tak bisa melayaniku lagi.


Bagaimana kalau dia sampai tak mampu memberiku kenikmatan lagi? Tidak! Jangan!


"Tenang sayang, Zul pasti baik-baik saja," kata mama, dia mengelus pundakku.


Kita sedang menunggu di depan ruang operasi. Beberapa menit yang lalu, mas Zul baru saja dimasukkan ke ruang operasi. Aku belum mendengar penjelasan dokter tentang kondisi mas Zul.


Tadi, saat dokter penanggung jawab menjelaskan, aku tak ada di tempat karena sedang menelepon papi dan mamiku agar segera ke rumah sakit. Saat ini, papi dan mamiku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Kondisinya bagaimana, Ma?"


"Tadi, kata bu Fatimah, saat di IGD, Zul sudah sadar 'kok sayang. Dia langsung menanyakan Daini," jawab mama.


"Apa?! Mas Zul langsung ingat si Daini? Kenapa dia tak ingat aku, Ma?"


"Ssstt, sayang, jangan keras-keras. 'Kan yang tadi hampir celaka Daini, bukan kamu. Wajar kalau yang ditanyakan Zul adalah Daini," jawab mama sambil menghela napas.


Selain aku dan mama, di ruangan ini juga ada bapaknya si Daini. Sementara papa Aksa, ibunya si Daini, dokter Rahmi, dan pengacara kampungan itu disarankan oleh petugas keamanan untuk menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Sebab, penunggu di depan ruang operasi jumlahnya dibatasi.


Bapaknya si Daini terlihat sok alim. Dari aku datang hingga sekarang, tangannya tak lepas dari memegang tasbih. Entah dzikir apa yang ia ucapkan. Hal itu pasti dilakukan untuk menarik simpati mama dan papa agar anaknya semakin diperhatikan.


Dasar keluarga munafik! Tak anaknya, tak orang tuanya, semuanya berprilaku sok suci. Menyebalkan!


.


Lalu ada panggilan dari papiku. Mereka sepertinya sudah ada di area rumah sakit.


"Ma, aku jemput papi dan mamiku dulu ya. Kayaknya mereka sudah ada di depan." Aku beranjak.


"Boleh sayang, ajak mereka menunggu di ruang tunggu saja. Atau kamu suruh pak Reza tanya ke pihak administrasi, boleh tidak kalau pihak keluarga langsung menunggu di ruang perawatan? Soalnya, tadi pak Reza sudah Mama suruh memesan ruang perawatan super VVIP."


"Baik, Ma. Nanti aku konfirmasi ke pak Reza." Aku berlalu meninggalkan mama.


...***...


Setibanya di parkiran, aku langsung memasuki mobil mami papiku. Mereka tak datang bersama sopir. Papi yang jadi pengemudi.


"Lain kali, kalau Papi nyuruh orang jangan yang ceroboh, 'dong! Yang celaka mas Zul, Pi! Bukan si Daini!"


"Wi, jangan marah-marah 'dong. Harusnya kamu beterimakasih sama papa kamu karena sudah menjalankan rencana sesuai kemauan kamu. Kalau pada pratiknya gagal, ya bukan salah Papa lagi," ketus mami.


"Sudah, sudah, nanti kita membuat rencana baru yang lebih baik lagi. Maaf kalau Papi mengecewakan kamu. Oiya, bagaimana sikap pak Aksa dan bu Yuze? Apa mereka benar-benar menerima wanita itu?"


"Gara-gara si Daini hamil mereka berubah Pi. Mereka sering terang-terangan memuji si Daini di depanku. Bahkan mama Yuze berani membentakku demi membela si Daini."


"Apa?! Kurang ajar!" Papi terkejut. Tangannya mengepal.


"Wi, Papi, bagaimana kalau kita batalkan saja rencana pembunuhan itu? Terus terang Mami tak tenang. Mami takut ketahuan. Kalau sampai ketahuan, kita sekeluarga bisa masuk penjara."


"Issh, Mami cemen!" dengusku, kesal.


"Mami tenang saja. Papi menggunakan trik penyamaran saat mengundang para pembunuh bayaran itu. Papi menggunakan identitas palsu dan pihak ke tiga. Papi yakin identitas kita tidak akan mudah terbongkar." Papi meyakinkan mami.


"Papi yakin sopir yang menabrak itu tak akan buka suara?" Mami masih panik. Tangannya bahkan gemetaran.


"Yakin. Kalaupun mereka buka suara, yang akan mereka sebut pasti bukan nama Papi. Selain itu, para penjahat yang papi sewapun sudah siap dikurung. Mereka berani membunuh dan dipenjara asalkan kita sanggup mencukupi kehidupan keluarga mereka. Dengan uang, semuanya jadi lebih mudah," jelas papi.


"Bagus, Pi. Papi memang paling bisa diandalkan." Aku memeluk papi.


"Tapi, Papi ada permintaan untuk kamu."


"Permintaan?" Aku menautkan alis.


"Ya sayang, permintaannya mudah, 'kok. Besok, kamu harus mau mengikuti tes psikotes dan kontrol ulang penyakit kamu. Dokter Gibran mau tahu perkembangan sikologis kamu."


"Apa?! Aku tak mau, Pi! Lebih baik aku minum obat tiap hari daripada harus bertemu dokter gila itu!"


"Sayang, obat anti depresan yang kamu konsumsi itu dosisnya sudah tinggi. Penggunaannya dalam jangka panjang kata dokter Gibran bisa merusak ginjal kamu. Kita semua khawatir dengan kondisi kesehatan kamu, Nak," bujuk papi.


"Pi, aku pasti dan selalu lepas obat kalau mas Zul bersamaku dan melayaniku. Setelah aku bercinta sama dia, aku selalu merasa nyaman. Jadi, obat terbaikku sebenarnya adalah Zulfikar Saga Antasena," jelasku.


"Ya ampun sayang, tapi kamu tak mungkin tiap hari bercinta dengan Zul, kan? Sudah ya, patuh sama Papi, kalau tidak, Mami akan memaksa Papi agar menghentikan rencanan pembunuhan itu," sela mami.


"Arrhh, oke! Oke! Aku mau!" Terpaksa aku menyetujuinya.


"Nah, begitu dong." Papi mengusap kepalaku.


"Oiya, di rumah sakit ada orang tuanya si Daini. Papi dan Mami harus mempersiapkan diri mau bersikap seperti apa saat menghadapi mereka," terangku.


"Kamu tenang saja, Papi dan Mami tak akan mengecewakan kamu," kata papi.


Lalu kami turun dari mobil dan bersiap bergabung dengan yang lain untuk menunggu mas Zul melewati proses operasi.


.


"Oiya Wi, kenapa kecelakaan yang terjadi pada suami kamu tak muncul di berita?" tanya papi saat kami berada di dalam lift.


"Dengar-dengar, papa Aksa sengaja merahasiakannya. Papa Aksa curiga jika ini bukan murni kecelakaan. Jadi, dia sengaja diam-diam saja. Kata mama Yuze 'sih tujuannya agar musuh yang ingin mencelaikai keluarga Antasena jadi lengah. Hahaha, mereka bodoh ya, Pi?"


"Sssttt, jangan bahagia dulu, Wi. Mertua kamu bukan sembarang orang. Kita harus banyak berdoa agar berada di pihak yang menang." Papi mengingatkanku.


"Kita ada pihak yang teraniaya, Pi. Yang diselingkuhi itu aku. Yang suaminya direbut itu aku. Dari awal, kita memang sudah ada di pihak yang benar. Kalaupun kita membunuh si Daini, ya wajar-wajar saja. Toh, si Daini yang terlebih dahulu menjahatiku. Si Daini itu begal! Dia mencuri suamiku, dan aku adalah korbannya. Kita boleh membunuh begal untuk membela diri, kan?"


"Huft, ini beda kasus, sayang!" sela mami.


"Mami membela si Daini?!"


"Ti-tidak sayang. Maksud Mami, peraturan di negara kita tentang begal dan dibegal masih simpang-siur dan kontroversi. Ada yang mengatakan begal boleh dibunuh. Tapi pembunuh begal banyak yang dijadikan tersangka dan dipenjara. Jadi, Mami pusing."

__ADS_1


"Ssstt, sudah mau sampai," kataku.


...~Tbc~...


__ADS_2