
"Pak, kumohon izinkan aku menemui bu Dewi," pintaku setelah menghapus pesan ancaman dari bu Dewi.
Aku menghapusnya untuk mencegah terjadinya keributan antara pak Zulfikar dan bu Dewi. Aku tidak ingin kehidupan kami menjadi konsumsi publik. Acara ini belum selesai. Jika sampai terjadi masalah akibat ancaman bu Dewi, maka reputasi keluarga besar Antasna akan kembali dipertaruhkan. Bukan hanya keluarga Antasena, keluargakupun akan terkena dampaknya.
"Tidak boleh," tegasnya.
Posisiku dan pak Zulfikar terpisah dari tempat duduk tamu undangan. Jadi, tidak ada yang bisa mendengar percakapan kami. Harus dengan cara apa membujuknya? Bagaimana kalau bu Dewi serius dengan ancamannya? Walaupun hubungan kami sedang membaik, tapi aku tidak yakin bu Dewi sudah sembuh dari penyakitnya.
"Apa ada yang bisa kulakukan sebagai syarat agar bisa bertemu bu Dewi?" Sambil menyandarkan kepala di bahunya dan mengelus lengannya.
"Kamu sengaja merayuku demi bertemu wanita itu?"
Pak Zulfikar masih belum berubah pikiran. Oiya, kenapa ya ia selalu memanggil bu Dewi dengan kalimat 'wanita itu?' Bukankah pak Zulfikar akhir-akhir ini rutin mengunjungi bu Dewi?
"Kalau aku jawab ya, apa Anda akan mengabulkan permintaanku? Please ..." Sekarang sambil mengecupi telapak tangannya.
"Tidak boleh. Tetap tidak boleh. Titik." Bersikukuh.
"Anda yakin tidak penasaran dengan kenakalanku? Pak, sebenarnya, aku bisa membuat Anda mabuk kepayang," bisikku sambil mengelus bagian atas lututnya. Posisi kami terhalang meja. Jadi, aku tidak khawatir tamu undangan melihatnya. Dia menghela napas sambil melonggarkan kerah bajunya. Sepertinya, mulai oleng.
"Dengan cara apa kamu membuatku mabuk?" Ia menahan tanganku yang baru saja melakukan kejahilan.
"Dengan tubuhku," bisikku.
"Ya ampun Hanindiya. Apa kamu kerasukan?" Ia malah memegang keningku.
"Hmm, ya sudah atuh kalau Anda tidak mau mah. Padahal, kalau Anda mengajukan persyaratan, aku akan melakukan apapun yang Anda inginkan. Asalkan tidak membayakan calon bayi kita, aku mau melakukannya."
"Baik, katakan pada wanita kalau kamu bersedia bertemu setelah acara tausiyah selesai." Akhirnya. Entahlah dia akan mengajukan syarat seperti apa. Yang penting, aku sudah diizinkan berbicara empat mata dengan bu Dewi.
"Aku akan menemui Kakak setelah acara tausiyah selesai." Pesan terkirim.
"Aku maunya sekarang, Daini."
"Pak, bu Dewi inginnya bertemu sekarang. Bagaimana ini?"
"Katakan saja aku tidak mengizinkan kamu bertemu sama dia sebelum tausiyah selesai dan tamu undangan pergi," jawabnya dengan ketus.
Aneh sekali. Kenapa pak Zulfikar seketus itu? Padahal, beberapa hari yang lalu, saat aku berkata, 'di tubuh Anda tidak ada lagi bekas cakaran ataupun lebam. Maaf, apa bu Dewi sudah berubah dan memperlakukan Anda dengan baik?' Lalu ia menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
"Kak, aku tidak diizinkan menemui Kakak sekarang. Kata pak Zulfikar, baru boleh menemui Kakak setelah tausiyah selesai dan tamu-tamu pulang."
"Baiklah."
Syukurlah, aku senang bu Dewi mau mengalah. Lanjut memerhatikan tausiyah.
"Kamu serius sekali, apa karena ustadznya lumayan ganteng?" protesnya.
"A-apa? Aku sedang serius menyimak tausiyahnya, Pak." Aku membelalak. Bisa-bisanya ia cembur sama pak ustad.
"Jangan melihat ke mimbar, melihatlah ke arah lain atau lihat saja ke wajahku," titahnya. Ia bahkan meraih kepalaku agar menoleh ke arahnya. Ya ampun, aku jadi tersenyum atas sikapnya.
Beberapa saat kemudian, bu Dewi muncul. Ia langsung duduk di samping pak Zulfikar dan merangkul lengannya. Pak Zulfikar bergeming dan sama sekali tidak mengatakan apapun. Ia tetap membisu hingga acara tausiyah usai dan tamu undangan mulai berpamitan.
"Aku mau salaman sama pak Ustadz. Aku tinggal dulu ya sayang." Ia berpamitan. Tapi hanya berpamitan padaku.
"Ya, Pak," sahutku.
"Mas," panggil bu Dewi saat pak Zulfikar berlalu. Namun, pak Zulfikar tidak mengindahkan panggilan bu Dewi. Ia tetap berjalan dan seolah-olah tidak mendengar suara bu Dewi.
"Mas." Bahkan saat bu Dewi memanggil untuk yang kedua kalinya, ia tetap tidak peduli.
"Maksud Kakak apa?"
"Ayo ikut aku Daini. Kita harus bicara."
Di saat para tamu sedang berpamitan pada mama Yuze dan papa Aksa, dan sebagian tamu lagi tengah berfoto dengan pak ustadz dan dekorasi, bu Dewi tiba-tiba menarik tanganku. Aku ingin menolak, namun takut menimbulkan masalah. Akhirnya, aku patuh dan menguntitnya hingga kami tiba di taman belakang.
...⚘️⚘️⚘️...
Kami lantas duduk berdampingan di bangku taman.
"Acaranya sudah selesai. Kita sudah boleh bicara bersama." Bu Dewi memulai pembicaraan dengan suara lirih.
"Ada apa, Kak? Ya, kita sudah boleh bicara. Terima kasih karena Kak Dewi mau menunggu."
"Dai, kenapa kamu tega sekali?" Ia bertanya sambil menatap bunga yang menghiasi taman.
"Tega? Maksud Kakak apa?" Aku benar-benar tidak mengerti.
__ADS_1
"Harusnya, sebagai istri yang paling disayang dan mengerti agama, kamu bisa mengingatkan suami kamu."
"Kak, aku tidak paham maksud Kakak. Lagi pula, pak Zulfikar juga suami Kakak."
"Jangan pura-pura bodoh, Daini. Kamu senang 'kan tiap malam ditiduri sama mas Zul?" Nada bicaranya mulai meninggi. Namun tetap menatap pada bunga.
"Kak, sungguh. Aku belum mengerti." Sambil memegang tangannya.
"Kamu yakin tidak paham maksudku?!" bentaknya. Kali ini sambil menatapku.
"Ya, Kak. Aku tidak paham. Sebab setahuku, akhir-akhir ini pak Zulfikar selalu menjalankan kewajibannya. Dia tidak pernah melalaikan jadwalnya bersama Kakak," terangku.
"Apa katamu?!" Bu Dewi terkejut. Aku hanya membalas tatapannya dan belum bisa berkata-kata lagi.
"Kamu bilang tadi mas Zul selalu menjalankan kewajibannya?! Dia tidak pernah melalaikan jadwalnya bersamaku?! Omong kosong macam apa itu?!" teriaknya.
"A-aku tidak bicara bohong, Kak. Kena ---."
"Selama seminggu ini Mas Zul tidak pernah menemuiku, Daini!" selanya.
"A-apa?!" Sekarang aku yang terkejut.
"Aku tidak berbohong Daini!" Dari tatapannya, aku seperti melihat kejujuran di mata bu Dewi.
"Kak Dewi," aku lantas memeluknya. Ia tidak menolak, namun tak membalas pelukanku.
"Apa mas Zul izin sama kamu mau menemuiku?"
"Ya, Kak. Aku akan mengkonfimasi dulu sama pak Zulfikar," ucapku.
Walaupun bu Dewi terlihat jujur, aku tetap tidak bisa langsung menyalahkan pak Zulfikar. Tapi, jika bu Dewi benar, berarti pak Zulfikar sudah membohongiku. Lalu, ke mana saja pak Zulfikar selama ini jika tidak pergi ke rumah bu Dewi? Jantungku langsung berdegup cepat. Kenapa pak Zulfikar seperti itu?
"Ayo kita temui mas Zul sama-sama Daini," ajaknya.
"Jangan sekarang, Kak. Masih ada tamu."
"Di kamar kamu saja. Kita bicara di kamar." Bu Dewi memberi saran sambil bergegas ke kamarku. Mau tidak mau, akupun menyusul.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...