Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sebuah Kabar dari Kotak Kecil


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Oh, jadi begitu?"


"Ya Bu, a-aku pindah ke hotel untuk sementara waktu."


Aku sedang berada di mobil bu Caca. Tadi, saat bu Caca melihatku, ia memanggilku dan mengajakku agar lari ke dalam mobilnya. Bu Caca heran karena malam-malam begini aku ada di sini. Padahal, yang bu Caca tahu, aku tidak kost di daerah ini. Mana hujan-hujanan pula, katanya.


Bu Caca adalah mantan manajerku yang saat ini poisisinya digantikan oleh bu Dewi.


"Kenapa sampai pindah ke hotel, Dai? Jangan katakan kamu pindah gara-gara tidak bisa bayar kostan. Tapi masa bayar kost tidak bisa tapi bayar hotel bisa?" Sambil menatap keheranan ke arahku.


Mobil bu Caca belum melaju. Masih terparkir di depan ruko. Kami menunggu hujan mereda. Bu Caca mengatakan mau mengantarku sampai hotel, tapi mau ngobrol-ngobrol dulu.


"Emm, alasan pindahnya karena mau cari tempat kost baru, Bu. Mau suasana baru. Aku tak ada masalah apapun sama bu kost," jelasku.


Semoga bu Caca tak bertanya tentang kostan lagi. Sebab, aku sudah kebingungan mencari alasan.


"Terus, barang-barangmu? Masa dibawa ke hotel semua?" Bu Caca rupanya masih penasaran.


"Masih ada di kostan lama, Bu."


"Oh begitu. Ya sudah, sekarang kamu makan di mobil saja nasi gorengnya. Ibu bawa kotak makanan yang bersih dan belum dipakai. Kamu pindahkan saja," tawarnya.


"Tidak, Bu. Terima kasih. Mau makan di hotel saja."


Masa aku makan sendirian?


'Kan jadi tak enak sama bu Caca. Padahal, usus-ususku sudah kelaparan. Sabar ya Nak, aku jadi teringat pada calon janin kembarku.


"Oiya, bagaimana pendapatmu tentang manajer baru kita?" Bu Caca bertanya tentang bu Dewi.


"Baik, Bu. Sama-sama baik dan ramah seperti ibu," jawabku.


"Syukurlah, Ibu sempat khawatir dia akan sewenang-wenang karena orang tua dan suaminya punya kawasan dan punya kuasa. Hahaha, ternyata Ibu salah sangka. Aduh, jadi tak enak," katanya.


Aku hanya tersenyum sambil menatap keluar dan berharap agar hujan cepat reda.


"Ada hal lain juga yang ingin Ibu katakan sama kamu. Begini Dai, mau tidak kamu dikenalkan sama adiknya Ibu? Maaf, Ibu sebenarnya pernah mengambil foto kamu tanpa izin. Hehehe."


"A-apa?"


Pipiku rasanya langsung memerah. Merasa malu karena fotoku dilihat oleh orang lain yang tak pernah mengenalku.


"Maafkan Ibu, ya Dai. Saat lihat foto kamu, dia langsung mengatakan suka. Dia dokter, tapi masih internship," jelasnya sambil memegang tanganku.


"Bu ... maaf, a-aku ... sudah ada yang punya."


"Hahh? Ya ampun, sayang sekali. Aduh, telat deh." Bu Caca sampai tepuk jidat.


"Aku doakan semoga adiknya Ibu segera mendapatkan wanita yang baik dan cocok dengannya, aamiin." Bu Cacapun mengamini sambil menghela napas.


"Ngomong-ngomong, siapa laki-laki beruntung itu, Dai? Jadi penasaran," ucapnya.


"Emm, ada deh," jawabku.


Serius, aku langsung teringat pada wajahnya. Lalu teringat dengan tatapan nakalnya saat ingin main-main dengan tubuhku.


Pak Zulfikar itu ibarat toxic yang telah berhasil memaparkan zat beracunnya ke dalam jiwa dan ragaku.


"Dai, kok melamun? Hujannya mulai kecil. Kalau saja kaca mata Ibu tak ketinggalan di kantor, mungkin sudah dari tadi Ibu antar kamu. Ibu rabun jauh, Dai. Kalau bawa mobil pas hujan besar seperti tadi tanpa kaca mata, ya tak bisa lihat jalanan," ungkapnya.


"Ti-tidak Bu, aku tidak melamun. Ibu setiap hari lembur?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Tidak dong, Dai. Masa tiap hari? Hahaha," gelaknya.


Ya ampun, karena gugup aku jadi salah bicara.


...🍒🍒🍒...


"Itu hotelnya Bu," sambil menunjuk ke sana dengan jempol kananku.


"Oh, yang itu? Oke, Ibu putar arah sebentar."


"Maaf ya, Bu. Jadi merepotkan Ibu."


"Tidak merepotkan sama sekali, Dai. Kamu itu anak baik, jadi wajar kalau Ibu suka sama kamu. Kalau karyawan lain, belum tentu Ibu ajak. Selain itu, kamu juga 'kan sering memberi gratifikasi oleh-oleh dari Bandung. Ya begini deh jadinya," candanya sambil tertawa.


"Hahaha, ah Ibu bisa saja," kataku. Bersamaan dengan sampainya kami di lobi hotel.


Seorang petugas hotel menghampiri sambil membawa payung karena hujan belum sepenuhnya reda.


Deg, jangtungku bak tersengat listrik. Saat hendak menginjakkan kaki di halaman hotel, tepatnya di depan lobi. Lututku seolah melemas seketika.


"Eh, itu kok kaya mobil pak Direktur? Ngapain beliau di sini? Menginap? Masa 'sih sultan nginap di hotel bintang tiga?"


Ternyata bukan aku saja yang melihat keberadaan mobil pak Zulfikar. Nomor plat mobilnya cantik dan unik, siapapun pasti mudah mengenalinya.


B 0055 ZUL.


Kakiku kaku. Kepanikan melanda.


Kenapa Jakarta bisa jadi sesempit ini? Dari ratusan hotel bintang tiga yang ada di Jakarta, kenapa dia bisa berkunjung ke hotel yang sama denganku? Bagaimana ini?


"Neng Dai, kamu jadi turun gak? Apa mau nginap di rumah Ibu?"


"Ma-mau Bu, terima kasih atas tumpangannya. Semoga Allah membalas kebaikan Ibu dengan pahala yang berlimpah-ruah. Aamiin." Sambil meraih tangan bu Caca untuk kucium.


Aku segera turun dan membungkukkan badan. Bu Caca tersenyum sambil melambaikan tangan. Petugas hotel masih mamayungiku saat aku menatap kepergian mobil bu Caca sampai tak terlihat lagi.


"Terima kasih, Pak," ucapku setelah sampai di lobi.


"Sama-sama," jawabnya.


Aku bergegas menuju kamarku dan tak menoleh ke manapun. Aku fokus pada lantai yang kupijaki seraya memohon kepada-Nya agar dia tidak menemukanku.


"Ini fotonya, Kak. Dia istriku. Kami sedang bertengkar."


Astaghfirullah.


Itu suara pak Zulfikar.


Apa dia mengatakan 'istriku' maksudnya untukku?


Tidak, jangan sampai untukku. Mungkin untuk bu Dewi, harapku.


Jantungku berdegup. Aku melihat punggungnya yang pernah aku cakar. Posisi pak Zulfikar sedang membelakangiku. Sedang berbicara dengan resepsionis.


"Oh, kakak-kakak berhijab ini? Ya, Pak. Kakak ini memang tamu kami."


Dag dig dug.


Jawaban resepsionis membuatku hampir jatuh pingsan. Secepatnya aku memasuki lift.


"Apa?! Jadi istriku benar-benar ada di sini? Alhamdulillah," serunya.


Saat pintu lift menutup, samar aku mendengar pak Zulfikar berucap demikian.


Bagaimana ini? Oh tidak. Aku panil luar biasa.


Tanganku gemetar saat menekan tombol nomor lantai.


Sungguh, aku tidak mau bertemu dengannya.


...***...


Tiba di lantai yang kutuju, aku lantas berlari menuju kamarku. Ingin segera mengurung diri dan mengunci pintu. Rasanya seperti mimpi dikejar hantu.


Setibanya di kamar, aku cepat-cepat bersembunyi di bawah selimut. Rasa lapar mendadak hilang. Nasi gorengpun aku abaikan. Kuletakan begitu saja di atas meja.


'Tok tok tok.'


"Permisi."


Beberapa menit kemudian, terdengar suara itu dari balik pintu.


"Aku tidak pesan layanan kamar," jawabku.


"Kak, ada yang mengaku sebagai suami, Kakak. Ingin bertemu Kakak," sahutnya.

__ADS_1


Ya ampun, dia bahkan melibatkan petugas hotel untuk menemuiku. Dasar pria banyak akal!


"Secara hukum negara aku tidak punya suami!" teriakku.


Kok aku jadi emosional begini ya?


"Sayang, cepat buka pintunya. Tak baik marah lama-lama. Mari kita bicara." Suara pak Zulfikar.


Dia berakting seolah kami tengah bertengkar. Dia memang cocok jadi aktor!


"Tidak mau!" teriakku.


Aih, ada apa denganku? Kok jadi terkesan seperti wanita manja 'sih?


"Jadi benar ya ini suami Kakak? Kalau begitu, kami akan membuka kamar Kakak."


"A-apa?!" Aku terkejut.


'Trak.'


Belum sempat aku mengatakan apapun, pintu kamar telah terbuka. Pak Zulfikar langsung masuk. Tanpa basa-basi, dia segera menghampiri dan memelukku.


"Sa-sayang, kamu baik-baik saja, kan?"


"Lepas!" Aku menepisnya.


"Baik, kalau begitu kami pergi. Mohon pengertiannya agar pertengkaran Kakak dan suami tidak sampai mengganggu pengunjung lain," kata petugas hotel sebelum mereka berlalu dan menutup pintu.


"Hanin, kenapa kamu pergi dariku, kenapa?" Padahal sudah ditepis, tapi dia kembali memelukku.


"Lepas! Anda tidak boleh mengekangku lagi! Jangan mengganggu hidupku lagi, Pak!" Aku menjauh, mengurai tangannya yang melilit di pingganggu.


"Hanin, apa maksudmu? Kamu istriku," tegasnya.


"Pak, aku sudah tidak peduli lagi dengan status janda itu. Mau Anda menceraikanku ataupun tidak menceraikanku, aku tetap akan pergi dari hidup Anda. Jika Bapak sungguh-sungguh mencintaiku, tolong lepaskan aku, Pak! Biarkan aku pergi, kumohon ...." Aku berucap sambil mengusap air mata yang datang tidak tanpa diundang.


"Tidak Hanin, tidak!" Dia memegang tanganku.


"Pak, a-aku letih menjadi wanita tertuduh. Aku juga tak bisa membiarkan Anda dibenci orang tua Anda, dibenci bu Dewi, pun dibenci orang lain yang sama sekali tak faham duduk perkaranya. Aku lelah, Pak. Huuu ... lelah ...."


"Tidak Hanin, kamu harus tetap bersamaku. Kamu tahu? Ini adalah hotel pertama yang kudatangi. Entah kenapa aku tiba-tiba saja mau ke hotel ini. Aku juga tak mengira bisa menemukan kamu secepat ini. Kamu tahu alasannya? Itu pasti karena Allah meridhoi pertemuan kita. Kamu juga pasti tahu 'kan kalau di dunia ini tak ada yang kebetulan? Begitupun dengan pertemuan kita malam ini." Dia bersikukuh. Tak mau melepas tanganku.


"Pak, tolong fahami perasaanku, tolong .... Setelah aku melihat seperti apa kehidupan Anda, aku jadi yakin kalau kita lebih baik tak bersama. Jika hubungan ini terus dipaksakan, aku khawatir kehidupan Anda dan keluarga Anda akan hancur. Bapak pasti tahu seberapa berkuasanya orang tua bu Dewi. Harusnya Anda sadar diri, Pak. Akan sangat berisiko kalau Bapak tetap bersamaku."


"Sayang, sekarang jawab dulu, apa benar kamu hamil?"


Tiba-tiba saja dia menanyakan itu dan seolah tak memedulikan penuturanku.


"Apa?!" Aku teperangah dan spontan mengelaknya.


"Tidak Pak! Aku tidak hamil."


"Sayang, aku tidak bodoh. Aku pria dewasa. Aku menghitung hari pernikahan kita. Aku bahkan ingat berapa kali aku menyetubuhi kamu. Hanin, ini hari ke-38 pernikahan kita. Tidak, ini mau nenginjak hari ke-39 pernikahan kita. Apa selama itu kamu tidak haid? Aku sangat yakin kalau kamu belum haid semenjak kita bertemu."


"A-aku memang jarang haid, Pak! Siklus haidku dua bulan sekali!" Tak bisa kupungkiri, saat ini, aku merasa wajahku panas dingin.


Mungkinkah aku terlihat pucat dan pak Zulfikar menyadari kalau aku berbohong?


"Benarkah, kalau begitu, ayo kita buktikan. Buktikan kepadaku kalau kamu tidak hamil," tegasnya


"Anda keterlaluan, Pak! Huuu, kenapa Anda memaksaku?"


"Ssshh, sayang jangan nangis terus, aku hanya perlu bukti sayang. Hanin, jika benar kamu hamil, itu artinya ... tidak ada alasan untuk kita berpisah. Sayang, please jujur saja ya," bujuknya. Sambil berlutut untuk mengelus perutku.


"Hentikan, Pak!" Aku kembali menepisnya.


"Mari buktikan. Aku punya tespek," katanya.


Dia serius sangat niat ingin tahu. Mengeluarkan tespek dari tasnya.


"Aku punya banyak," tambahnya.


"Harus ya beli sebanyak ini?" protesku.


"Cepat sayang," memberikan satu untukku.


"Emm, aku punya cara agar kamu bisa buang air kecil." Mendekat.


"Cara? Cara apa?! Anda jangan mengada-ada ya!" teriakku.


"Sayang, aku tak bercanda. Aku bisa melakukannya. Bukankah kamu per ---."


"Stop!" teriakku. Dia benar-benar gila!


"Hahaha, kamu faham maksudku?" Bisa-bisa dia tertawa di saat seperti ini.


"Sini! Dan aku tak perlu bantuan Anda!" teriakku. Sambil merebut tespek dari tangannya.


Dia tersenyum. Lalu mengikutiku ke kamar mandi.


"Anda mau apa?!"


"Sayang, aku harus memastikan kalau yang kamu gunakan bukan air keran."


"Apa?!" Padahal, aku sudah berniat akan melakukan trik itu.


Kok bisa dia terpikirkan kalau aku mau menipunya?


"Anda tetap di luar!"


"Tidak bisa, Hanin." Dia mendorong bahuku hingga kami berdua berada di kamar mandi.


...***...


"Anda keras kepala!" teriakku.


"Harus sayang, laki-laki harus keras," katanya. Entah apa maksudnya. Aku tak mengerti.


"Aku tak bisa buang air kecil kalau ada Bapak."


"Sayang, aku sudah sering melihatnya. Kenapa masih sungkan?"


"Pak, i-ini kondisinya berbeda. Please, Anda di luar!" usirku.


"Sayang, apa benar kamu tidak akan membohongiku?"


Aku terdiam.


"Baik, kalau memang kamu tidak akan berbohong, aku pergi. Hanin, ingat ya, aku mencintai kamu setulus hati. Kehamilanmu adalah hal yang sangat aku harapkan. Bahkan, mama dan papaku juga sangat mendambakan kehadiran seorang pewaris baru untuk keluarga Antasena," tandasnya sebelum meninggalkanku.


Aku kembali menangis mendengar perkataannya. Seenaknya saja dia mengatakan pewaris Antasena.


Apa dia sudah lupa kalau aku hanya istri sirinya?


"Huuu." Aku bingung.


Haruskah aku jujur?


Aku masih merenung saat pak Zulfikar mengetuk pintu.


"Sudah belum sayang?" tanyanya.


"Belum," jawabku. Padahal, aku tak melakukan apapun.


"Oke, aku akan menunggumu sayang."


Aku terus berpikir dan berpikir.


Hingga pada akhirnya, dengan perasaan takut dan kalut, aku keluar dari kamar mandi.


...***...


"Sayang?"


Pak Zulfikar merebut tespek di tanganku. Tapi dia menautkan alisnya karena tespek tersebut kemasannya masih utuh.


"Kenapa tak dicek?" tanyanya.


Aku tak lantas menjawab. Aku berjalan gontai, lalu duduk di sisi tempat tidur. Pak Zulfikar membuntuti. Dia kemudian duduk di sampingku.

__ADS_1


"Pak, Anda harus janji dulu," kataku. Memberanikan diri menatap wajahnya.


"Janji apa sayang? Asalkan tidak untuk meninggalkanmu, insyaaAllah ... aku akan melakukannya."


"Pak .... A-aku takut mengatakannya," lirihku.


"Sayang," dia meraih tanganku.


"Pak, jika itu bukan tentang perpisahan, apa Anda yakin akan mengikuti keinginanku?"


"Ya, sayang." Sambil membelai lembut pipiku.


Dan aku spontan menangkup tangannya. Lalu kulepas lagi saat menyadarinya. Apa yang kulakukan itu, seakan-akan menyiratkan jika aku merindukan belaian tangannya.


"Cepat katakan, Hanin."


Kulihat dada bidangnya naik-turun. Jelas sekali jika jantungnya berdegup cepat gara-gara hendak mendengar penuturanku.


"Pertama, Anda harus janji untuk merahasiakan apapun yang aku katakan dari siapapun termasuk dari bu Dewi, orang tua Anda, dan dari orang-orang terdekat Anda." Dia menyimak, menatapku lekat-lekat.


"Kedua, Anda tidak boleh mengekangku. Maksudku, jika aku ingin tinggal di kostan dan hidup mandiri, Bapak harus mengizinkanku."


"Ketiga, di hadapan orang lain, Anda harus bersikap seolah-olah tidak mencintaiku."


"Apa?! Itu tidak mungkin sayang!"


"Pak, tolong lakukan saja. Please .... Aku ingin demikian demi kebaikan Anda. Pak, apa jadinya kalau publik tahu tentang aku? Apa Bapak tega membiarkan aku dituduh sebagai pelakor? Apa Bapak siap dihujat publik sebagai suami tak tak tahu diri?"


"Please ... lakukan saja ya, huks." Aku mencium tangannya seraya terisak.


"Hanin ...," lirihnya. Mengusap jilbabku.


"Pak ... aku memiliki keluarga yang harus aku jaga nama baiknya. Pun dengan Anda, walaupun Anda tidak pernah diekspos media sebagai putra pak Aksa Antasena, tapi ... sama denganku, Anda juga harus menjaga nama baik keluarga Anda."


"Hanin, aku tak tenang sayang, sebenarnya ... apa yang ingin kamu katakan?" Pak Zulfikar memegang dadanya. Dia menghembuskan napas berulang-ulang.


"Pak, aku akan mengatakannya. Tapi, Anda belum mengatakan sanggup untuk menyetujui permintaanku."


"Ba-baik, tapi ... aku juga punya syarat. Kamu tidak akan meninggalkanku, kan?"


Aku mengangguk.


"Kamu tidak akan minta cerai 'kan, sayang?"


Aku juga mengangguk.


"Kamu tetap istriku, kan?"


Aku kembali mengangguk.


"Aku masih bisa melihatmu, kan?"


"Ya," jawabku singkat.


"Aku emm ... ma-masih bisa bercinta dengan kamu, kan?" Pertanyaan yang ini terdengar begitu absurd.


"I-iya," jawabku. Sedikit ragu.


"Intinya, aku masih suami kamu yang berhak atas nafkah lahir dan batin kamu, kan?"


Aku mengangguk lemah.


"Baik, cepat katakan." Wajahnya terlihat semakin cemas.


"Tunggu, aku harus mengambil sesuatu dulu," kataku.


Aku beranjak untuk mengambil tespek dan foto hasil USG.


Lalu kembali menghampirinya dengan perasaan tak karuan. Aku memeluk kotak kecil berisi benda itu dengan tangan gemetaran.


Tak kusangka, dengan gerakan cepat, pak Zulfikar mengambil kotak tersebut sebelum aku menyerahkannya.


"Pak, tunggu dulu," cegahku.


Dan dia segera membuka kotak kecil itu dengan tak sabaran.


Kotak terbuka.


Dan ....


"A-apa ini milikmu?!"


Dia mengambil tespek garis dua itu sambil membelalakan mata.


Aku mengangguk.


"Apa?! Jadi benar kamu hamil?" teriaknya. Matanya berbinar, tapi berkaca-kaca.


"Ya, Pak," gumamku.


"*A*llahu Akbar, terima kasih ya Allah."


Dia segera berdiri dan melakukan sujud syukur di atas lantai. Aku melongo. Aku terharu atas responnya. Aku menutup bibirku menahan tangisan.


Apa dia benar-benar menginginkan kehamilanku? Apa yang dilakukannya bukan akting?


"Huuu, ya Allah, Kau Maha Baik, terima kasih karena Engkau telah mengabulkan doaku," katanya. Dia menangis dalam keadaan masih bersujud.


Bagaimana mungkin aku tak terharu?


"Huuu, huks." Akupun terisak-isak dan kembali menangis.


"Sayang, aku sangat-sangat bahagia, maaf jadi cengeng begini. Aku tak bisa menahan air mata kebahagiaanku."


Pak Zulfikar menangkup pipiku. Lalu mengecupi lelehan air mata di wajahku dengan bibirnya.


"Sa-sayang ... saat kamu memintaku mencari kerak telur, aku sebenarnya sudah ada firasat kalau kamu berbada dua," katanya. Lalu menunduk untuk mengusap perutku.


Bibirnya menyunggingkan senyuman, namun matanya terus melelehkan air mata.


"Pak, ta-tapi Anda salah, a-aku tidak berbadan dua."


"Maksud kamu? Tespek ini milik kamu 'kan? Kamu juga mengiyakan kalau kamu hamil. Jangan membuatku bingung sayang."


"Maksudku, a-aku ... a-aku bukan berbadan dua, Pak. Tapi ... berbadan tiga," jelasku.


"Berbadan tiga? Maksudnya?" Terheran-heran.


"InsyaaAllah, a-aku hamil kembar, Pak. Jadi ... aku berbadan tiga."


"Apa katamu?! Ke-kembar?!" Langsung memegang dadanya.


"Ya, Pak."


"Sa-sayang .... k-kamu tidak sedang berbohong, kan?"


"Tidak, Pak."


"A-aku, sayang ... Hanin ... pe-peluk aku sayang, aku terlalu bahagia. Aku ---."


Dia menatap ke udara sambil memukul-mukul dadanya. Beberapa detik kemudian, tubuhnya goyah dan tersungkur begitu saja ke tempat tidur.


"Pak!" Sekarang aku yang panik.


"Pak, Bapak kenapa?!" teriakku sambil menepuk pipinya. Mata pak Zulfikar terpejam.


Apa dia pingsan gara-gara mendengar kalau aku mengandung anak kembar?


"Pak, Pak Zulfikar! Bangun Pak!" seruku.


Tapi dia tetap bergeming. Aku kian panik. Aku menempelkan telinga di dadanya. Detak jantungnya terdengar lemah.


Aku menempelkan telunjuk di ujung hidungnya. Dan dia seperti tidak bernapas.


"Pak, huuu, sadar Pak!" Aku memeluknya.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Pokoknya harus komentar! nyai tunggu ya....

__ADS_1


__ADS_2