Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Rasa yang Membingungkan


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Air mata ini menjadi saksi bagaimana jiwa dan ragaku begitu tersiksa dan merana. Awalnya, aku ingin terus berlari saat keluar dari kamar milik pak Zulfikar. Tapi, di bagian itu masih terasa sakit.


Ummi, Abah ....


Aku memanggil nama mereka. Mereka selalu mengajarkan tentang etika, moral, dan nilai kebenaran kepadaku. Tapi dengan mudahnya, aku malah kehilangan salah satu nilai moral yang seharusnya bisa kujaga.


Aku segera memasuki lift, tubuh ini kian kedinginan. Aku ingin segera ke kostan dan membersihkan diri. Suasana hotel sangat sepi. Ya, mereka pasti tengah terlelap. Aku berharap tidak ada yang melihat kekacauanku. Aku menyesal telah mengikuti acara ini.


"Ada yang bisa kami bantu?" Seorang resepsonis menyapaku.


Aku terkejut tapi tetap berusaha tenang.


"Tidak ada, Kak." Aku melanjutkan langkah.


"Kakak dari kamar berapa? Mau check out?" tanyanya lagi. Mungkin merasa aneh dengan penampilanku.


"Tidak, aku hanya ingin keluar sebentar," jawabku asal.


"Emm, tadi tak sengaja jatuh ke kolam renang, belum sempat ganti, hehehe," kataku saat mata resepsionis itu menatapku dari atas hingga ke bawah.


Aku cepar beranjak karena tidak ingin menjawab pertanyaannya lagi. Setibanya di pintu keluar, aku baru sadar jika tasku dan seluruh isinya tertinggal di kamar pak Zulfikar.


"Ya Rabb." Cobaan ini begitu bertubi-tubi.


Apa aku ke kamarku saja menemui kak Listi? Tapi, kalau aku ke sana ... kak Listi pasti kaget dengan penampilanku.


Aku akhirnya duduk di bangku taman hotel, kembali menangis sambil memandangi sang rembulan yang seolah tersenyum bahagia atas segenap kesedihanku.


"Huuuks."


Pada siapa lagi aku akan mengatakan seluruh permasalahan ini jika bukan kepada-Nya. Kupandangi lagi sang rembulan, di sisinya ada bintang kecil yang berkerlip. Bintang itu seakan mengatakan jika harapan itu akan selalu ada.


"Jika Anda tulus ingin bertanggung jawab. Tolong nikahi aku."


Aku mengingat kalimat spontan itu. Terlepas dia mau atau tidak, aku tidak peduli. Yang jelas, aku tidak sudi harga diriku diinjak-injak.


Sebagai seorang muslim, pak Zulfikar harusnya tahu kalau aku adalah saudaranya sebagai sesama muslim. Dia tidak boleh mendzalimiku, tidak boleh mengacuhkanku, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh meremehkan ataupun merendahkanku.


Bagiku kehormatan adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli. Seperti halnya kebahagiaan yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang.


"Hek." Karena kedinginan, aku semidu-midu.


Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan tasku kembali?


Sambil semidu, aku melamun. Jangan ditanya lagi bagaimana hancurnya perasaanku saat ini. Hatiku seolah teriris sembilu. Seluruh ucapan pak Zulfikar membekas dalam ingatan. Menikam ulu hatiku, lagi, lagi dan lagi.


Tak terasa, karena lelah, akupun merebahkan tubuhku di bangku taman. Sebenarnya ada niatan pergi ke kamar nomor 38 untuk menemui kak Listi. Tapi, aku lelah ....


Ya sudahlah, untuk sementara waktu, aku istirahat di sini saja. Sungguh, awalnya aku hanya ingin istirahat, tapi ... beberapa saat kemudian, mataku mulai terpejam.


Lalu ....


"Daini, Hanindiya, hei Putri Sadikin," ada yang memanggil nama lengkapku.


Siapa sih?


Aku membuka mata pelan-pelan. Samar, kulihat siluet tubuh seseorang. Tinggi, tegap. Dia sedang memegang sesuatu. Lalu saat sosok itu mengeserkan tubuhnya, cahaya rembulan menyinari sisi wajahnya. Aku terhenyak. Sosok di hadapanku adalah pria yang kubenci dan tak kuharapkan kehadirannya.


"Aku harus memanggilmu dengan nama yang mana?" tanyanya. Pak Zulfikar benar-benar tak tahu diri.


"Kembalikan tasku!" ketusku sambil merebut tas dan KTP yang ada di tangannya.


"Hei, sabar dong." Malah menepis tanganku. Dia memegang erat tas dan KTP-ku.


"Anda tidak sopan! Berani sekali Anda membuka melihat tasku!" makiku. Aku memakinya sambil menunduk.


"Hanin, ya aku akan memanggilmu Hanin, boleh 'kan?" Sebuah pertanyaan yang sangat-sangat tidak penting.


"Kembalikan barang-barangku! Kita bukan muhrim! Tidak sepantasnya Anda dan aku berduaan seperti ini!" tegasku seraya berusaha merebut.

__ADS_1


"Ternyata aslinya kamu galak ya."


Dia malah menyembunyikan tasku ke belakang tubuhnya. Saat aku mencuri pandang, kulihat dia menatapku sambil tersenyum.


Laki-laki gila! Umpatku dalam hati. Dia jelas-jelas sudah beristri tapi masih berani menatap wanita lain tanpa ada rasa malu.


"Aku jadi ragu kalau Anda tak mengenali istri Anda sendiri! Jangan-jangan Anda memang sengaja ingin merasakan suasana dan rasa yang baru saat tidur bersamaku!" tuduhku.


"Apa katamu?! Hei wanita munafik, kamu jangan sembarangan bicara ya!" teriaknya.


"Cukup Pak, cukup! Kalau Anda tidak berniat memberikan barangku, ya tak perlu ke sini!" ketusku. Aku marah, aku buru-buru meninggalkan dia.


Aku kembali ke dalam hotel, dan dia malah menguntit. Pria ini benar-benar membuatku semakin membencinya. Aku segera menekan tombol lift, berharap bisa menghindar dari pria ini.


Terlambat, saat aku masuk, kaki panjangnya diulurkan. Sensor lift mendeteksi kakinya hingga pintu liftpun terbuka kembali dan ia bisa masuk dengan leluasa.


Aku merapatkan tubuhku ke dinding lift. Kami tidak saling bicara. Aku tak berani lagi mencuri pandang. Aku membisu.


"Aku sudah mengetahui identitas kamu. Maaf, tadi membuka KTP kamu. Ini tasnya." Dia mengalungkan tas ke leherku. Aku diam saja. Perjalanan ini terasa lama dan membosankan.


"Aku juga akan menyelidiki kasus ini. Jika kamu terbukti bersalah, maka kamu akan kupolisikan. Tapi jangan harap aku mau menikahi kamu kalaupun kamu terbukti tidak bersalah," tegasnya.


Aku diam saja, aku malas berdebat. Tapi air mata bodoh ini kembali merongrong. Dia mengalir lagi membasahi pipiku.


"Hanin," panggilnya saat aku keluar dari lift. Aku diam sejenak.


"Tolong rahasiakan masalah ini dari siapapun. Beri aku waktu untuk menyelidikinya. Setelah aku menemukan fakta-fakta. Aku akan bertanggung jawab padamu dengan caraku sendiri. Jika kebetulan bertemu di perusahaan atau dimanapun, anggap saja kalau kita tidak saling mengenal, faham?"


"Tidak, aku tidak faham!" jawabku saat kami berada di depan kamarnya. Aku bergegas menuju kamarku.


"Hanin, jangan bercanda! Kamu harus faham posisiku," katanya. Dia mengejarku.


"Jangan harap aku bisa memahami Anda sebelum Anda juga memahami posisiku," tegasku.


"Haisshh," sayup kudengar dengusan kesalnya.


Syukurlah, dia tidak menguntitku lagi.


.


.


Aku mengetuk pintu berulang-ulang, tapi kak Listi tidak menyahut. Aku teleponpun, kak Listi tidak menjawab.


"Kak Listi, aku kedinginan," keluhku. Tapi apalah daya.


Tidak ada jalan lain, aku harus pulang ke kostan saat ini juga. Airmataku kembali merembes saat kumelewati kamar pak Zulfikar.


Namun aku sadar akan kodratku. Sebagai manusia, aku pasti akan dihadapkan pada berbagai kesenangan maupun tantangan dalam hidup. Jadi wajar jika sewaktu-waktu aku merasakan berbagai perasaan seperti senang, sedih, marah, hingga terpuruk seperti saat ini.


Di dalam taksi, aku melamun. Walaupun teramat menyakitkan, aku tidak ingin masalah ini membuatku jatuh dan gagal. Masalah ini harus bisa memotivasiku untuk lebih memperbaiki diri, bersyukur, dan berpikir dewasa.


Tapi ... bagaimana dengan kesucianku?


Benar, hanya ada satu jalan untuk membuatku tetap terhormat. Ya, aku harus menikah dengan pak Zulfikar untuk mendapatkan gelar sebagai janda.


Kenapa harus seperti itu? Sebab, jika statusku janda, maka pria yang kelak menikah denganku pasti tidak akan mempertanyakan kesucianku lagi. Agar status jandaku sah di mata hukum, mau tidak mau pak Zulfikar dan aku harus menikah secara resmi.


"Mbak, sudah sampai," kata pak sopir.


Karena melamun, aku sampai tak sadar jika aku sudah berada di depan kostan.


...***...


Zulfikar Saga Antasena


Setelah mengembalikan tas milik Hanin, aku segera mandi. Aku bahkan mengulang mandi besarku sampai dua kali. Selepas mandi, aku kembali merangkak ke tempat tidur. Awalnya ingin tidur lagi, tapi sulit.


Daini Hanindiya Putri Sadikin.


Aku jadi hafal nama panjangnya. Bahkan tempat tanggal lahirnyapun aku jadi tahu. Teringat jua barang-barang yang ada di dalam tas wanita itu. Keberadaan tasbih, mukena, dan mushaf kitab suci di dalam tasnya, membuatku kembali ragu jika dia adalah wanita yang sengaja dikirim untuk menjebakku.

__ADS_1


Aku jadi tak bisa tidur lagi. Bayangan dia yang tidur di bangku taman, dan air matanya yang mengalir saat di dalam lift, membuatku sendikit tersentuh. Tiba-tiba, Dewi memelukku. Aku balas memeluknya.


"Wangi, sudah mandi ya?" gumam Dewi.


"I-iya sudah cinta."


"Mas, semalam aku dengar ada yang batuk, Mas dengar gak sih?"


"Kapan cinta? Suara apa?" Maaf Wi, Mas pura-pura tidak tahu.


"Em, suara batuk Mas. Tapi aku ragu sih kalau ini suara manusia."


"Maksud kamu?"


"Mungkin itu suara penunggu kamar ini, ihh seraaam," tuduh Dewi sambil berbisik. Dia mencium pipiku, lalu tangannya menelusup tak tentu arah. Aku segera menahan tangan Dewi.


"Jangan Wi, sebentar lagi adzan Subuh."


"Hahaha," Dewi malah tertawa dan menggelitikku.


"Hahaha, geli cinta, awas kamu ya," kubopong tubuhnya lalu kubawa ke kamar mandi.


"Mas, lepas, aku gak mau mandi dulu," tolak Dewi. Dia meronta.


Deg, setibanya di kamar mandi, aku mematung. Melihat bathup itu, aku jadi ingat pada Hanin.


"Kenapa, Mas?"


"Tida apa-apa, cinta." Kukecup pipi Dewi sambil meletakannya di sisi bathup.


"Mas, aku mau dimandiin," rayunya.


"Kalau Mas mandiin kamu, nanti kita bisa kesiangan shalat Subuhnya. Cinta, pada waktu Subuh, malaikat-malaikat siang akan bergantian mendampingi shalat kita dengan malaikat-malaikat malam. Nah, mereka itu akan berkumpul pada saat kita melaksanakan shalat Subuh dan Ashar."


"Shalat Subuh juga bisa melapangkan rezeki, kan Allah membagi-bagikan rezeki pada hamba-Nya di antara waktu sholat subuh dan terbitnya matahari, jelasku.


"Ya deh," sambil cemberut Dewi akhirnya mau juga mandi sendiri.


Saat menunggu Dewi, pikiranku kembali melayang pada sosok Hanin. Jika aku telaah, dari awal harusnya akulah yang sadar kalau wanita itu bukan Dewi. Kulit lembutnya, tubuhnya, parfumnya, bibirnya, dan semua hal yang ada dalam diri wanita itu memang terasa sangat berbeda.


Dia juga beberapa kali berusaha menolak perlakuanku, tapi aku tetap memaksanya. Ya, aku ingat. Pada saat itu, dia sering mengatakan 'jangan.' Jika dia adalah Dewi, tidak mungkin mengatakan 'jangan' kan? Harusnya, saat dia berusaha menolak, aku tidak melanjutkan kegiatan itu.


"Argh."


Aku memasygul rambutku.


Ada apa dengan hatiku? Kenapa terus memikirkan dia?


Aku pria beristri, tidak seharusnya aku seperti ini.


Apa ini karena aku belum benar-benar mencintai Dewi?


"Huft, maafkan Mas, Wi ...."


Rasa penasaran itu terus bergelung. Akupun mengambil ponsel untuk melihat profil perusahaan. Aku ingin tahu jabatan Hanid di perusahanku. Aku atasannya, wajar kan kalau aku ingin tahu lebih jauh lagi tentang bawahanku? Wajar tidak, sih?


"Mas, kok malah main HP? Biasanya sambil nunggu adzan Subuh, Mas suka lihat berita, kan?"


Dewi keluar dari kamar mandi. Hanya handuk kecil yang melilit di tubuh semampainya. Dia berjalan sambil mengeringkan rambut. Penampilan Dewi begitu seksi. Tapi, entah kenapa aku merasa biasa saja?


"Mas, biasa saja kali lihatnya," Dewi mungkin berpikir aku melihatnya karena berhasrat.


"Seksi," pujiku.


"Habis shalat Subuh, kita main lagi ya Mas. Hehehe," ucap Dewi sambil mengedipkan mata.


"Emm, kita lihat nanti ya cinta," aku melemparkan senyuman. Lalu beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Sepintas, kulihat Dewi melirikku dengan kening bekerut.


Di kamar mandi, aku kembali ingat pada Hanin. Di mataku, wanita itu terlihat berbeda. Apa yang beda dari dia ya?


Sungguh, rasa ini benar-benar membingungkan.

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2