Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kabar


__ADS_3

Jakarta, Indonesia


_______


Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Kamu kenapa sayang, hmm?"


Sedari pagi hingga saat ini, Anulika rewel. Walaupun tidak demam, aku sampai memanggil dokter karena khawatir dengan keadaannya.


"Dari hasil pemeriksaan, keadaan umum dan tanda-tanda vitalnya normal, Bu," jelas dokter.


"Baik, terima kasih dokter." Selesai memeriksa Anulika, dokterpun berpamitan untuk pulang.


"Sudah sama aku saja digendongnya, Neng. Neng Daini kasihan, mana lagi hamil." Bu Juju terlihat khawatir. Terus menguntitku.


"Tidak apa-apa, Bu. Biar aku saja. Selagi akunya masih kuat dan lagi enggak mual, aku yang gendong Anulika ya. Ibu dan Ipi jaga Raja dan Cantik saja."


"Raja dan cantik anteng, Neng. Sekarang lagi main di taman belakang sama Ipi dan pak Budi."


"Syukurlah kalau mereka anteng mah, Bu. Sshh, Anulika mau apa? Mau mimi lagi, ya. Ya sudah, kita ke kamar lagi yuk!" Aku mengelap keningnya yang dipenuhi keringat karena terus menangis.


"Coba Ibu yang gendong, Neng. Ini, biar mimi susu formula saja. Dari tadi juga sama Neng Daini sudah disusui, 'kan? Kali saja sekarang mah maunya susu formula." Bu Juju merebut Anulika dari pangkuanku. Lalu diberikan susu formula. Hasilnya, tangisan Anulika malah semakin kencang.


"Bu, sini sama aku lagi."


Kembali mengambilnya dan membawa Anulika ke kamar. Bu Juju menghela napas. Jika aku ke kamar, bu Juju pasti tidak berani menguntitku lagi.


Di kamar, aku segera mengatur suhu AC untuk disesuaikan dengan suhu yang direkomendasikan bagi bayi usia tiga bulan.


"Tunggu ya sayang, Mama Dai siap-siap dulu ya."


Aku membuka gamisku dan menggantinya dengan pakaian kebanggaan para ibu-ibu senusantara raya. Daster. Sengaja yang belahan di bagian dadanya rendah untuk memudahkanku. Aku juga membuka jilbabku.


Lalu rambutku dikuncir kuda. Rambutku sudah panjang, dan inginnya 'sih dipotong. Tapi seseorang berkata, "Rambutmu rambutku juga, jadi kalau kamu mau memotong rambut, harus seizinku." Siapa lagi yang berkata kalau bukan pak posesif Zulfikar Saga Antasena.


Ya, dia sekarang semakin posesif, apa lagi setelah tahu kalau aku hamil. Tapi, hamil yang ini memang beda, aku sering kelelahan dan mual-muntah. Saat mengandung Raja dan Cantik, aku justru merasa lebih baik.


"Anulika anak sholehah, Anulika anak baik, Anulika anak yang cerdas," ujarku saat memberinya ASI. Dia menikmati seraya menatapku, tidak lagi menangis, namun air mata di sudut matanya tetap menetes.


"Sabar ya, sebentar lagi mommy dan daddy Anulika mau pulang 'kok. Jangan sedih lagi, oke? Oiya, kan ada papa Zul. Papa Zul itu 'kan papanya Anulika. Mama Daini juga mamanya Anulika," jelasku sambil mengelus lesung pipinya. Serius, saat melihat wajahnya, aku seperti telah mengenalnya sejak lama. Apa itu karena Anulika mirip denganku?


"Apa iya ya aku mirip Anulika?"


Selalu tidak yakin karena menurutku, Anulika lebih cantik dan menggemaskan. Setelah diberi mimi, ia tidak nangis lagi. Tapi, Anulika tidak mau lepas dari pangkuanku. Maunya dipangku sembari mengelilingi kamar.


"Mama Dai agak lelah sayang, Anulika bobok ya." Aku merebahkannya perlahan. Eh, baru juga kepalanya menempel, ia sudah nangis lagi.


"Baiklah-baiklah, Mama Dai gendong lagi ya. Biar enggak pegal, Mama mau ambil kain dulu." Aku berlari mengambil kain. Daripada menggunakan gendongan modern. Aku memang lebih suka memakai kain panjang tradisional.


"Nah, begini lebih enak."


Aku kembali mengelilingi kamar. Lalu ponselku menyala. Hmm, pasti pak posesif yang menelepon. Ternyata dugaanku benar. Bukan menelepon, ini VC.


"Assalamu'alaikuum," sapanya.


Saat kamera on, ia langsung merapikan rambutnya dan tebar pesona. Padahal, yang ingin digodanya adalah seorang ibu muda berusia 25 tahun, beranak dua, sedang hamil lagi anak ketiga dan saat ini hanya menggunakan daster.


"Wa'alaikumussalam, Papa. Anulika, lihat Nak. ada Papa." Aku menghadapkan layar pada Anulika. Anulika tidak ada respon apapun. Ya, namanya juga bayi.


"Kamu yang gendong? Kenapa enggak sama Ipi atau bu Juju saja? Hanin, kamu lagi hamil muda sayang." Tuh, 'kan. Dia selalu mengkhawatirkanku.


"Anulikanya mau sama aku terus, Mas. Enggak apa-apa, 'kok."


"Kamu yakin tidak apa-apa? Hari ini muntah-muntah lagi enggak?"


"Enggak Mas. Tadi cuma muntah sekali."


"Tunggu, kenapa kamu pakai daster yang itu? Terlalu seksi tahu sayang. Ganti," pintanya.


"Seksi?" Kok terpikirkan ya mengatakan seksi.


"Rambut kamu juga jangan diikat begitu sayang."


"Lha, kenapa memangnya Mas?"


"Leher dan pundak kamu jadi terlihat jelas. Aku jadi mau pulang sayang. Apa kamu sengaja ingin menggodaku?" tuduhnya.


"A-apa?! Mas, jangan ngadi-ngadi ya."


"Dan kenapa juga belahan dasternya bawah sekali? Aku serius sayang? Aku pulang ya? Hehehe."


"A-apa? Mas!" Mataku sampai membulat.


"Serius. Lagi pula, hari ini tidak ada agenda penting. Tunggu aku ya cantik." Sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Issh, genit deh," ledekku.


"Hahaha, kayaknya perbawa bayi sayang. Kamu yang hamil, aku yang ngidam. Ngidamnya mau memakan kamu terus," tuturnya.


Ya ampun, aku jadi tidak bisa menahan tawa. Memangnya ada ya yang mau bercinta terus saat istrinya hamil?


Tiba-tiba, Anulika menangis lagi. Nangisnya kejer seperti kesakitan. Pak Zulfikar spontan terperanjat kaget. Senyum di bibirnya langsung sirna.


"Sayang, Anulika kenapa?!"


"M-Mas, a-aku juga tidak tahu."


"Kok bisa?! Apa dia tidak nyaman digendong kamu?!" Nada bicaranya yang tegas dan keras, membuatku jadi panik.


"Ma-maaf Mas." Aku memeluk Anulika dan meletakkan ponsel di atas kasur. Namun tangis Anulika tidak mereda.


"Sudah aku bilang, jangan kamu yang menggendong Anulika!" Pak Zulfikar seperti tidak memercayaiku mengasuhnya.


"Maaf Mas, sebenarnya ---."


"Aku segera pulang," selanya.


Ia mengakhiri panggilan. Padahal, aku baru saja hendak menjelaskan kalau Anulika sudah rewel sejak tadi pagi. Tepatnya setelah pak Zulfikar berangkat bekerja.


"Maafkan Mama Dai ya Anulika. Mama Dai belum bisa menjaga kamu dengan baik dan tidak bisa membuat kamu nyaman bersama Mama."


Aku kembali menyusuinya sambil menitikkan air mata. Aku bersedih karena pak Zulfikar seolah kecewa terhadapku. Yaa Rabbi, kenapa aku jadi berperasangka buruk kepada suamiku?


"Huuu, maafkan aku Mas Zul," lirihku sembari mencium Anulika yang tetap menangis dan menolak ASI-ku.


"Hoeek." Tiba-tiba mualku kambuh.


Astaghfirullah.


Karena terlanjur hanya memakai daster dan tidak berjilbab, aku membawa Anulika ke kamar mandi. Di kamar mandi, aku duduk di toilet dan muntah-muntah.


"Yaa Rabbi, bagaimana ini.m?" Aku juga merasa pusing. Dengan tertatih, segera keluar dari kamar mandi dan menelepon bu Juju melalui telepon paralel.


"Bu, cepat ke kamarku. Aku mual dan pusing-pusing. Anulika tidak mau minum ASI-ku, jelasku.


"Astaghfirullah! Ya sudah, Ibu ke sana." Bu Juju panik. Aku menutup telepon dan terus berusaha menenangkan Anulika.


"Kamu kenapa sayang? Apa mau VC sama mommy? Tapi 'kan mommy Anulika sedang umrah. Kalau Mama Dai telepon, khawatir mengganggu ibadahnya mommy Dewi." Sekarang, aku memberinya susu formula. Namun tidak berhasil. Anulika tetap menangis hingga semidu-midu.


Aku membuka baju dan mengecek popoknya. Tapi tidak ditemukan kejanggalan. Di tubuhnya tidak ada ruam, dan popoknyapun masih kering.


"Huks."


Aku nyaris putus asa karena merasa gagal menenangkannya. Lalu pintu kamar ada yang mengetuk.


"Masuk saja, tidak dikunci," sahutku. Yang masuk pasti bu Juju.


"Bu Daini," ternyata yang datang Ipi dan suster. Mereka membawa Raja dan Cantik yang juga menangis.


"Maaf Bu, Raja dan Cantik nangis," jelas Ipi.


"Tidak apa-apa, kemari para kesayangan."


Aku melambaikan tangan. Usia mereka saat ini adalah 13 bulan. Keduanya sudah bisa berjalan namun belum lancar bicara. Mereka juga sudah bisa mengeluarkan satu sampai dua kata dan seakan sudah mengerti saat diajak berbicara. Raja dan cantik menghampiriku.


"Ma-ma mi-mi," ucap Cantik.


"Ma-ma nye-nyeh," ucap Raja.


Tujuan mereka sama, tapi pengucapan dan caranya selalu berbeda. Jika Cantik akan merangkulku terlebih dahulu, beda halnya dengan Raja. Raja sukanya to the point, langsung menarik bajuku dan memosisikan diri.


"Anulika sama Mbak Ipi dulu ya," bujukku.


"Biar sama Ibu saja," bu Juju baru tiba.


Mareka kemudian membawa Anulika keluar dari kamarku. Airmataku kembali menetes. Masih merasa heran dengan sikap Anulika yang tidak seperti biasanya. Kemarin-kemarin, Anulika selalu anteng. Diberi mimi apapun tidak pernah menolak, entah itu ASI-ku ataupun susu formula.


"Tunggu ya."


Aku menaikkan mereka ke tempat tidur. Walaupun dokter menyarankan agar aku jangan sering-sering menyusui, tapi aku tidak tega. Selama mereka mau dan akunya merasa baik-baik saja, aku tetap menyusui mereka. Segera merebahkan tubuh dan membuka diri.


"Mama sedang hamil, di sini ada adik bayi. Raja dan Cantik jangan menekan perut Mama ya," pintaku.


Cantik mengangguk seolah mengerti. Sementara Raja, ia langsung melahapku begitu saja. Hmm, sifat Raja menurun dari siapa ya? Sisi kanan dan kiriku, saat ini tengah diserang.


MasyaaAllah, nikmatnya jadi seorang ibu. Momen ini selalu membuatku bahagia. Aku mengelus kepala keduanya. Lalu batinku kembali tidak tenang karena teringat pada Anulika. Apa ia sudah tidak menangis lagi?


Lumayan lama juga mereka menyerangku, saat kulirik, Cantik sudah tertidur. Sementara Raja, ia masih segar-bugar. Ia masih semangat menyerangku. Sepertinya, tidak ada tanda-tanda ia akan tidur.


"Kok bisa?! Apa dia tidak nyaman digendong kamu?!"

__ADS_1


"Sudah aku bilang, jangan kamu yang menggendong Anulika!"


Kalimat tegasnya terngiang lagi. Entah kenapa, kalimat itu membuatku merasa sedih. Apa kehamilan ini membuatku jadi sensitif? Hingga tidak terasa, airmatakupun kembali menetes.


'Klak.'


Pintu kamar terbuka. Setiap orang yang hendak ke kamarku pasti meminta izin dan mengetuk pintu. Kecuali pak Zulfikar. Benar saja, yang datang pak Zulfikar.


"Ma-ma cu-dah," kata Raja. Ia bangun dan fokus tatapannya langsung beralih pada pak Zulfikar.


"Pa-pa."


Raja langsung berdiri dan merentangkan tangan. Lalu bergaya apapun yang ia bisa. Raja berguling-guling di kasur sambil menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Benar-benar sedang mencari perhatian dari papanya.


"Assalamu'alaikum Rajanya Papa." Ia merangkul Raja dan segera menimangnya. Raja tertawa-tawa. Aku diam saja, menunduk sambil mengelus rambut Cantik.


"Raja sudah miminya, kan? Sekarang waktunya main lagi sama pak Budi. Papa antar Raja ke pak Budi ya," katanya. Lalu membawa Raja keluar kamar. Tak lama, ia kembali lagi dan langsung memelukku yang sedang mengeloni Cantik.


"Maaf ya sayang. Aku benar-benar minta maaf. Aku baru tahu dari bu Juju kalau Anulika sudah rewel sejak pagi."


"Ti-tidak apa-apa, Mas. A-aku memang tidak bisa mengurus Anulika." Padahal sudah kutahan. Namun airmataku tetap menetes.


"Hanin, kamu nangis? Ya ampun sayang, aku minta maaf." Ia membalikan tubuhku dan mengusap airmataku.


"Anulika hari ini memang rewel terus, Mas. A-aku sudah berusaha tapi ---."


"Ssst, aku tahu. Aku minta maaf. Aku menyesal sudah bicara keras sama kamu. Tadi, aku spontanitas karena panik. Kalaupun itu terjadi pada Raja dan Cantik, aku yakin akan melakukan hal yang sama. Aku akan bicara tegas sama kamu," jelasnya sambil mendekapku.


"Huuks, ta-tapi ... a-apa Mas bisa kalau bicaranya biasa saja? A-aku tahu menyusui adalah kewajibanku sebagai seorang ibu. Tapi, Mas harus tahu kalau menyusui itu tidak selalu mudah dan tidak sesimpel yang dilihat secara kasat mata."


"Ya sayang, Mas minta maaf."


"Hanya wanita yang tahu bagaimana rasanya. Pegalnya, sakitnya saat digigit, dan lain-lain."


"Ya sayang. Aku mengaku salah. Kamu pasti sangat lelah dan kesulitan. Kamu hebat, kamu luar biasa. Kamu menyusui tiga orang bayi dalam keadaan hamil muda. Maaf ...." Dia menarik tanganku dan mengecupnya berulang-ulang.


"Huuu."


"Apa yang harus kulakukan supaya kamu tidak menangis lagi?"


"Tolong tenangkan Anulika, Mas. Aku bingung harus apa lagi supaya ia tidak rewel."


"Baik, Mas mau coba telepon bang Radit ya. Mungkin saja 'kan Anulika rindu sama mommy daddynya? Tadi juga sudah sempat aku gendong, tapi tetap nangis," terangnya sembari beranjak untuk mengambil ponselnya. Namun ponselnya sudah menyala terlebih dahulu.


"Mami Silfa? Ada apa ya? Tumben. Mungkin mau menanyakan kabar Anulika." Sambil menautkan alisnya.


"Halo Mami."


"Mami? Kenapa?!"


"Mami tenang dulu, Mami kenapa?!"


"A-apa?!"


'Prak.' HP-nya sampai jatuh.


"Ke-kenapa, Pak?!"


"Sa-sayang ...." Ia berjalan gontai ke arahku.


"Kenapa, Mas?"


Lanjut mendekapku erat-erat.


"De-Dewi ...."


"Bu Dewi kenapa?"


"Dewi me-meninggal dunia di tanah suci," jelasnya dengan suara gemetar.


"Apa?!" Bak tersambar petir di siang hari. Aku merasa jika kabar ini adalah mimpi.


"A-Anda tidak salah dengar, 'kan?!"


"Ti-tidak sayang. Aku tidak salah dengar. Bu Silfa dapat kabar itu dari pihak travel dan sudah dikonfirmasi kebenarannya," lirihnya. Aku bisa merasakan degupan jantungnya. Ia pasti sangat terpukul dengan kabar ini. Begitupun dengan aku.


"Innalillahiwainnailaihirojiun," gumamku. Lantas memeluknya dan menangis.


"A-aku mau izin sama kamu untuk terbang ke sana ya sayang."


"Bo-boleh, Mas ...."


Tubuhku terasa lemas. Kabar itu benar-benar mengagetkan. Sebab setahuku, kondisi bu Dewi baik-baik saja. Tapi, kematiannya benar-benar membuatku iri. Sungguh kematian yang indah.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2