Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Penyelamat Rahasia


__ADS_3

~Beberapa Jam yang Lalu~


Ubay (nama samaran; seorang remaja putus sekolah)


Asyik, malam ini, aku dipastikan akan membeli miras murah-meriah. Dengan harga murah, aku bisa mendapat efek yang luar biasa. Ya, aku biasa beli minuman yang mengandung methanol agar bisa mabuk dan bersenang-senang bareng kawan-kawanku.


Sebenarnya, aku tahu kalau zat methanol tidak bisa dikonsumsi. Tapi aku tak peduli. 'Toh, kata emakku, aku adalah anak yang tidak berguna. Emakku bahkan pernah mengatakan menyesal telah melahirkanu. Hidupku keras, sekeras logam graphene. Hidupku sulit, sesulit menegakkan benang basah.


Umpatan dan makian emak yang selalu menyalahkan, mengataiku sebagai anak nakal dan bodoh, serta membanding-bandingkan aku dengan anak tetangga, membuatku tak percaya diri hingga akhirnya aku berusaha untuk menumbuhkan rasa percaya diri itu dengan caraku sendiri.


Penyebab utama aku melawan emak karena menurutku, emak terlalu otoriter. Sementara aku, aku adalah tipe anak yang tidak suka jika diatur-atur atau diperintah. Terlebih jika emak memerintahku dengan nada kasar dan sering membentakku di depan banyak orang. Aku merasa jika harga diriku sebagai anak telah terciderai.


"Ada proyek baru, Bay. Gila, bayarannya lima juta. Kita bagi dua ya. Tapi, karena gue yang pertama dapat proyek ini, lu yang dua jutanya, gue yang tiga juta ya."


Panggilan itu aku terima ketika sedang nongkrong di lapak. Setelah putus sekolah dan jarang pulang ke rumah, aku sering bergaul dengan orang-orang baru yang mudah menerimaku. Syarat bergabung dengan mereka sangat mudah. Hanya perlu modal nekad dan berani mati.


Walaupun mereka bukan keluargaku, setidaknya, mereka masih mau mendengar keluh-kesahku. Tidak seperti emak dan keluargaku yang tak pernah memberi kesempatan sedikitpun untuk aku bicara ataupun sekadar membela diri.


"Proyek apa? Wah, cuannya lumayan juga. Apa yang harus gue lakukan?" Langsung semangat, segera bangkit dari hamparan dus bekas yang menjadi alas lapak ini.


"Menculik orang, hahaha. Berani enggak lu? Jangan cemen ya. Kalau lu enggak berani, lebih baik mundur dari sekarang."


"Apa?!" Jujur, aku agak kaget. Biasanya cuma mengeroyok, mencuri dan kabur.


"Bagaimana? Sanggup enggak lu?"


"Sanggup 'lah." Pantang bagiku untuk mundur dari kesempatan mendapat cuan.


"Bagus, kita enggak sendirian, kok. Ada yang lainnya juga. Istilahnya ada bos di atas bos."


"Memangnya targetnya siapa?" tanyaku.


"Lu tak perlu tahu, pokoknya kita patuh saja. Tugas kita nanti akan diberitahu sama si bos. Gue tunggu lu di tempat biasa ya."

__ADS_1


Panggilan berakhir. Setelah meyakinkan diri, akupun bergegas. Menggunakan motor butut hasil rampasan dari pamanku. Sensasi dikejar polisi setelah melakukan keonaran ternyata sudah cukup membuatku tertantang dan merasa bahagia.


Entah apa sebabnya, aku selalu lolos dari kejaran polisi. Jujur, aku sering mencuri, tapi tak pernah ketahuan. Pernah menjambret juga tapi tak pernah menyakiti korbanku. Siapa 'sih yang akan diculik? Sepanjang perjalanan, aku merenung. Sudahlah, bagaimana nanti saja. 'Toh, aku bukanlah dalang dari penculikan berencana ini.


...⚘️⚘️⚘️...


"Ini dia korbannya. Kita berdua bertugas menyeret dia keluar dari kontrakan itu dan membawanya ke mobil yang berada di ujung jalan." Sambil menunjuk ke arah mobil tersebut.


"Kita harus melakukan sesuatu untuk menarik perhatiannya. Wanita ini sangat menyayangi kucing. Dia sering memberi makan kucing liar. 'Nah, kamu pakai kucing angora ini untuk menarik perhatian dia. Nantinya, kamu dan aku akan pura-pura jadi pemilik kucing ini. Jadi, kita masuk ke rumah itu karena mencari kucing." Sambil menyerahkan kucing angora berwarna putih dan berhidung pesek ke tanganku. Ya ampun, kucingnya lucu sekali.


Lalu aku memeriksa foto target. Langsung terkejut. Karena sepertinya aku pernah melihat wanita ini.


"Kaget lu ya? Ya, targetnya memang cantik. Gue juga tadi kaget 'kok. Tapi kata si bos, dia ini wanita munafik. Penampilannya saja yang akhwat, aslinya berhati busuk," jelas temanku saat aku masih memerhatikan fotonya.


Masalahnya adalah, aku yakin pernah bertemu dengan wanita ini, tapi di mana ya?


"Cepat! Bos sudah kasih sinyal, 'tuh! Aku memantau dari sini." Lampu sen mobil itu menyala, berkedip sebanyak dua kali.


Akupun bergegas. Saat kuintip, wanita yang dimaksud sedang merapikan keranjang. Pintu rumahnya terbuka. Setelah melepas kucing ke halaman, aku menyelinap, membungkuk, dan bersembunyi di antara pot tananam.


"Kamu tersesat ya? Tak apa-apa, sebentar lagi pemilik kamu akan mencarimu. Jangan takut." Dia mengusap kucing itu.


"Miaw, miaw." Suara kucing. Kucingnya malah bermanja di pangkuan wanita hamil itu.


"Permisi."


Temanku melongok dari pagar. Aku masih bersembunyi. Wanita itu menoleh dan langsung menyangka jika temanku adalah pemilik kucing.


"Cari kucing ya Mas?" tanyanya.


"Ya Mbak, ternyata lari ke sini."


Wanita itu mundur beberapa langkah saat temanku masuk. Lalu si kucing meloncat dari pangkuannya dan berlari ke dalam rumah. Wanita itu mengejar kucing, temanku ikut mengejar sambil memberi kode agar akupun bertindak.

__ADS_1


Di ruang tamu, wanita itu terkejut. Mungkin karena aku dan temanku masuk ke dalam rumah padahal belum dipersilahkan. Saat dia hendak menyapa, temanku membekuknya. Menyerang dan membekap wanita itu dengan obat bius. Dia meronta, tasnya jatuh ke lantai. Aku menangkap si kucing. Karena kurang teliti, aku tak sengaja menendang keranjang.


"Cepat masukan kucingnya ke dalam tas! Kita harus segera membawanya!"


Lalu kami membopongnya. Dia masih meronta, tapi gerakannya melemah, lalu pingsan. Tiba di depan kosan, mobil yang di ujung jalan sudah menunggu.


...⚘️⚘️⚘️...


"Uang untuk kalian!"


Kami dilempar gepokan uang setelah wanita cantik ini berhasil dimasukan ke dalam mobil. Aku dan temankupun turut masuk ke dalam mobil tersebut. Di dalam mobil ada tiga orang pria dengan penampilan yang serampangan.


Wanita ini masih pingsan. Kepalanya bersandar ke pangkuanku.


"Gila, mangsanya cantik benar. Sayang sekali kalau dibunuh begitu saja," ujar pengemudi.


"Kita nikmati dulu 'lah. Hamil lagi. Mitosnya, wanita hamil itu rasanya lebih mantap. Hahaha," sahut temannya.


Aku dan temanku berpandangan. Lalu mereka berdebat tentang tempat yang akan digunakan untuk mengeksekusi. Setelah satu suara, mereka tertawa terbahak-bahak. Saat kami semua terdiam, wanita itu mulai siuman. Kepalanya begerak perlahan, namun ia belum sadar sepenuhnya.


Aku tercengang sebab di alam bawah sadarnya yang ada di pikiran wanita ini adalah membaca Al-Qur'an. Dia melantunkannya dengan suara merdu dan fasih. Namun aku tidak tahu ayat apa yang dibacanya. Ponselku menyala.


"Bay, gue enggak yakin dia wanita jahat. Gue tersentuh dengar dia ngaji. Bagaimana ini woy?" Pesan dari temaku. Nama kerennya Boy. Nama aslinya Sudrajat.


"Sama, gue juga tersentuh, Boy. Gue sebenarnya pernah bertemu dengan wanita ini, tapi lupa di mananya," balasku.


Sepertinya, yang tersentuh bukan hanya aku dan Boy, penculik yang ada di kursi belakangpun demikian. Ia merenung sambil memainkan ponselnya.


"Duh, bikin telingaku panas saja."


Yang berada di kursi depan sepertinya tidak terpengaruh. Wanita ini terus mengaji, sementara matanya masih tertutup rapat. Sekarang mengajinya sambil menangis hingga terisak-isak. Airmatanya bederai.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2