
Iptu Sabil Sabilulungan
Kalau saja buatan manusia, mungkin tubuh ini sudah lembek seperti bubur ayam. Gara-gara wanita tomboy itu, pekerjaanku terasa semakin rumit dan runyam. Andai dia bukan sahabat baiknya bu Daini, akan kupastikan dia dipidana akibat mulut embernya.
Semalam, setelah puas menangis dan memukuliku, dia minta diantar ke kedai bakso ikan. Katanya, kalau sedang stres, nafsu makannya meningkat.
"Kalau sedang stres, nafsu makanku meningkat setengah kali, bagi, kurang, tambah, pangkat, akar, kurung kurawal," ocehnya.
Ternyata, kedai bakso ikan langganannya sudah tutup. Terpaksa menemani dia mencari bakso ikan di tempat lain. Sepanjang jalan, dia terus memaki pria bernama Akmal. Setiap makian, berakhir dengan cubitan di lenganku.
Sial!
"Tak ada bakso ikan, cilokpun jadi," katanya.
Karena tak kunjung menemukan penjual bakso ikan, ia akhirnya membeli cilok di pinggir jalan.
"Pak, Bapak bukan penjual cilok jadi-jadian 'kan? 'Kok tengah malam masih nongkrong di sini?" protesnya. Apa maksudnya coba mengatakan hal seperti itu.
"Hahaha, ya ampun, Mbak. Saya memang biasa keliling dari jam 9 malam. Mbaknya saja yang baru bertemu saya," jawab pedagang cilok.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, bungkus dua porsi ya, Pak. Hey, kamu mau cilok, enggak?" Melirikku.
"Enggak mau," tolakku saat itu.
"Kok enggak mau 'sih? Ya sudah, bungkus satu porsi saja. Dia enggak mau makan cilok karena punya trauma, Pak. Dulunya pernah keselek alias tersedak cilok dan tusukannya. Hahaha, jadi, nyawanya hampir tak tertolong gara-gara makan cilok," ledeknya.
"Apa?!" Aku melotot. Ini sama sekali tidak lucu!
"Ya ampun, Mas. Kasihan sekali. Saya turut senang karena Masnya berhasil selamat."
"Jangan percaya sama dia, Pak!" teriakku. Emosi.
"Dia masih trauma sama cilok, Pak. Jadi begitu 'tuh sampai sekarang masih suka marah-marah."
"Kamu!" Aku menarik tangannya untuk dibawa ke dalam mobil.
"Eh, Mbak, Mas, itu ciloknya belum dibayar." Pedagang cilok mengejar.
"Ini uangnya, Pak. Ambil kembaliannya." Aku memberikan selembar uang 50 ribu.
"Pak, jangan mau ambil uang dari dia. Uang dia itu uang panas. 'Nih uangku saja." Dia membayar dengan uang pas.
Pedagang cilok kebingungan, menatapku dan si tomboy secara bergantian.
"Ya sudah, saya ambil uang dari Mbaknya saja."
"Tuh, 'kan? Terbukti, bapak ciloknya lebih memilih uang dari gue daripada dari situ," ujarnya setelah kembali ke dalam mobil.
"Cukup wanita aneh! Cukup! Diam, atau mulut kamu aku bekap! Atau mau sekalian aku borgol?" gerutuku sambi melajukan kemudi.
"Akmaaal! B e r e n g s e k!" Malah tak menggubris rutukanku. Sibuk makan cilok dan kembali menangis.
"Hey, kalau kamu makan cilok sambil nangis, nanti bisa tersedak! Sudahlah, lelaki masih banyak! Untuk apa kamu terus menangisi dia?!" teriakku.
"Huuu, gue nangis karena ciloknya pedas woy. Dan gue lupa beli minumannya. Huuu, hhh hhh. Huuh, pedas gila," keluhnya.
"Hahaha. Makanya, punya mulut 'tuh harus dijaga, Bu." Aku senang melihatnya kepedasan. Bibirnya merah sekali. Keningnya bekeringat.
"Pak Sabil. Hhh sshhh, tolong turun dulu please. Aku mau beli minum." Sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan bibirnya.
"Kamu tidak lihat? Di sini tidak ada yang jual air mineral."
"Sshh, hhh, 'kok enggak bilang ya si bapaknya kalau ciloknya pedas? Gue memang suka pedas, tapi tak sepedas ini."
"Kamunya saja yang tak teliti, jelas-jelas ada tulisan di gerobaknya. 'Cilok setan.' Ya pasti pedas 'lah."
"Masa 'sih? Benar ada tulisannya? Tunggu, ini tumbler punya Anda, kan?"
__ADS_1
"Ada di mobilku. Sudah dipastikan milikku."
"Yey, bisa jadi barang sitaan juga, 'kan? Ibu-ibu ditilang, jaminannya tumbler. Hahaha. Sshhh." Masih kepedasan rupanya.
"Listi Anggur Merah! Aku perwira! Aku polisi propam! Bukan polantas!" sangkalku.
"Gue enggak nanya Anda polisi apa. Enggak penting!"
Sambil terburu-buru membuka tumblerku yang masih berisi air minum. Ditenggaknya cepat tanpa menempelkan bibir ke sisi wadahnya. Karena ada secuil rasa iba, akupun menepikan mobil agar ia tak tersedak. Aku geleng-geleng melihat cara minumnya. Tak minta izin pula! Si tomboy ini asli, parah!
"Eu."
Setelah minum langsung sendawa. Ya Tuhan, 'kok bisa bu Daini berbestie dengan wanita seperti ini. Heran, 'deh.
"Kamu tak izin dulu? Seenaknya saja meminum minumanku."
"Oiya lupa. Maaf, ini darurat. Gue enggak kuat tadi 'tuh. Sekarang lumayan 'lah. Agak lega."
"Enggak bilang terima kasih? Wah, wah, wah, kamu benar-benar minim atitude." Kembali melajukan kemudi.
"Oh, jadi Anda tak ikhlas?! Mau diberi penghargaan dengan ucapan terima kasih begitu?! Berarti, Anda polisi yang gila hormat!" Malah menyalahkanku.
Aarrghh ... rasanya ingin kupites lehernya. Sayangnya dia perempuan. Pantas saja cowoknya marah-marah terus kalau pasangannya wanita se-bar-bar ini.
"Cara minum kamupun beda jauh sama bu Daini? Masa ditenggak?"
"Hey, Daini ya Daini. Gue ya gue. Jangan disamakan! Lagi pula, gue minum kayak begitu karena ada alasannya! Gue enggak mau ciuman bibir secara tidak langsung dengan Anda! Itu bekas minum Anda, kan?"
"Apa?!" Mataku kembali melotot dibuatnya.
"Komunikasi sama kamu, lama-lama bisa menyebabkan aku darah tinggi!" tambahku.
"Siapa juga yang mau bicara sama Anda! Asal Anda tahu ya, bicara sama Andapun dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin!" Dia tak mau kalah, kalimatnya bahkan lebih sadis dari yang kukatakan.
"Kamu pikir aku rokok apa?!"
"Listi Anggraeni! Aku perwira polisi! Aku sehat lahir dan batin!" teriakku.
"Oya?! Hahaha, sombong sekali Anda! Memangnya yang bisa sehat lahir batin hanya polisi perwira saja?! Gue juga yang bukan siapa-siapa alias warga sipil, bisa 'kok sehat lahir dan batin!"
"Aarrghh!" Aku tak tahan, aku beteriak sambil injak gas.
"Woy! Pak Sabil! Ini ngebut gila! Anda melarangku ugal-ugalan! Tapi Anda sendiri sekarang ngebut!" Dia spontan memegang bahuku. Punya rasa takut juga rupanya.
"Cukup! Mari kita taruhan!"
Aku akhirnya memelankan laju kemudi. Tangannya yang memegang bahuku, membuat dadaku tiba-tiba panas. Jadi tak nyaman. Bahaya 'nih. Beresiko terjadi kecelakaan.
"Maksudnya?"
"Mari kita diam-diaman. Yang lebih dahulu bicara, silahkan keluar dari mobil ini. Dimulai dari hitungan ke tiga ya. Satu ---."
"Tunggu, interupsi! Kalau kentut, sendawa, terus bersin dan spontan mengucap hamdalah, atau tiba-tiba kaget dan refleks mengucap istighfar, bagaimana? Apa termasuk bicara juga?!" Ya ampun, wanita ini!
"Ya Rabbi, mimpi apa aku semalam?"
Aku menghelas napas. Ingin segera sampai ke apartemen Luxury dan berharap tak bertemu lagi dengan wanita ini.
"Paling juga mimpi basah, hahaha," ledeknya.
"Listiii." Harga diriku seperti diremat-remat.
"Apa?!"
"Huph, ya sudah, sekarang aku tak peduli lagi! Mau kamu memakiku, menuduhku, atau mau jungkir balik sekalipun, aku tak peduli! Yang penting, aku mengantarmu ke apartemen dan semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi," tegasku.
"Ya, gue juga berharap tak bertemu lagi sama polisi sombong seperti Anda!"
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
"Wah, gebetan baru ya Pak? Cantik," kata seorang polantas yang sedang menjaga rute menuju apartemen Luxury. Kebetulan, dia mengenalku.
"Bukan! Enak saja! Jangan asal duga ya, Pak!"
Sebelum aku menjawab, dia sudah menyela. Polantas itu melongo. Lalu, aku memberikan kode memiringkan jari telunjuk di keningku.
"Tahanan RSJ? 'Kok cantik sekali 'sih? Hahaha, bening banget, Pak," ujar polantas yang melakukan pengecekan.
"Yang gila itu kalian berdua! Pak Sabil! Gue turun!"
'BRAK.'
Dia turun dan menutup kencang pintu mobilku sebelum aku mengatakan apapun.
"Listi, tunggu!" Aku memepetnya, melajukan kemudi perlahan.
"Huuu, pergi!! Semua laki-laki sama saja! Kecuali bapakku." Dia terus berjalan dan menangis.
"Listi, maaf kalau kamu tersinggung. Jarak ke apartemen Luxury dua kilometer lagi. Yakin kamu mau jalan kaki?"
"Huuu huuu, aku sebenarnya tak yakin! Ini semua gara-gara Anda!"
"Oke, aku yang salah. Aku minta maaf. Kalau kamu tak mau naik mobilku lagi, aku juga turun. Aku akan menemanimu jalan kaki sampai ke apartemen." Lantas turun dari mobil.
"Tak perlu sok peduli dan mengayomi! Pergi!" Mendorong dadaku.
"Listi, jangan keras kepala! Yuk, naik mobil lagi!"
Sebelum dia protes, aku cepat-cepat membopongnya. Aku tak memedulikan beberapa orang polantas yang melihat kejadian ini dengan tatapan bingung.
"Hey! Lepas! Anda gila ya?!"
Aku tak peduli. Mendorongnya ke kursi dan mengunci pintu mobil.
"Huuu."
Sepanjang perjalanan dia terus menangis. Malah disengajakan menghabiskan tissue yang ada di mobilku hingga berserakan.
...⚘️⚘️⚘️...
"A Abil? Tumben, pagi-pagi begini sudah senyum-senyum."
Sapaan dari bunda membuatku kaget, dan tentu saja membuyarkan lamunanku. Berarti, saat mengingat kembali kejadian semalam, aku senyum-senyum? Oh, itu tidak mungkin! Bunda pasti salah lihat.
"Memangnya tak boleh kalau Aa senyum-senyum?" Sambil menyambar susu dan bergegas.
"Boleh, 'sih. Eh, tunggu, kamu tak menghabiskan sarapan kamu dulu?"
"Tidak, Bun. Aa mau langsung ke kantor."
"Buru-buru sekali. Apa ini masalah pak Zulfikar lagi?"
"Ya, Bun. Tugas Aa memantau doang 'sih." Aku bergegas setelah mencium tangan bunda dan cipika-cipiki.
"Dadah, Bunda. Tolong bilang sama ayah kalau Aa berangkat duluan."
"Sip, hati-hati ya sayang. Ingat, jabatan bukan segalanya. Utamakan kejujuran. Kamu abdi negara. Bukan beban negara."
"Siap, Bun. Doain Aa terus ya, biar Aa jadi polisi yang mengayomi, bukan oknum yang bisa disumpal uang."
"Aamiin." Bundaku melambaikan tangan.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1