Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Hari yang Istimewa di Tempat yang Istimewa


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian


_____


Bang Radit


Kami telah menyelesaikan seluruh rangkaian peribadatan haji kecil kami. Ihram, thawaf, umrah, sa'i, dan tahallul. Ini adalah hari-hari terakhir kami berada di tanah suci.


Saat ini, kami sedang beristirahat setelah hampir seharian menjalankan beberapa kegiatan seperti mengunjungi gua Hira', pergi ke Jabal Nur, ke rumah Nabi, dan tempat-tempat bersejarah lainnya.


Aku dan Dewi sudah mandi dan makan malam, ia sedang bersandar di dadaku sambil menatap ke sana. Ke area Ka'bah dan sekitarnya.


Sungguh, ini adalah pemandangan terbaik seumur hidupku. Lampu-lampunya, suasananya, dan yang paling utama adalah Ka'bahnya, benar-benar menakjubkan.


Aktivitas di sekitar Ka'bah tetap ramai. Tidak pernah luput dari jama'ah yang sedang melakukan ibadah. Kegiatan di sekitar Ka'bah hanya terhenti saat pandemi Covid-19 sedang mewabah ke seluruh dunia.


Kami menginap di hotel yang aksesnya paling dekat dengan Ka'bah. Bahkan, lobi hotel yang kami tempati seolah menyatu dengan area Masjidil Haram.


"MasyaAllah, indah ya, Bang. Rasanya aku ingin pindah ke Mekkah," gumam Dewi.


"Ya, memang indah. Ka'bah adalah tempat yang ingin dikunjungi oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia," sahutku sembari memeluknya erat. Sesekali mencium puncak kepalanya yang menguarkan wangi.


Saat ini, Tanah Suci sedang dilanda udara dingin akibat turun salju di beberapa tempat. Aku dan Dewi sempat terkena flu akibat kedinginan.


Kata bu Daini, turun salju di tanah Arab adalah pertanda akhir zaman. Beberapa pegunungan di Arab Saudi, bahkan ada yang sudah ditumbuhi rumput akibat tingginya curah hujan. Jika mengingat kalimat "Akhir zaman," bulu kudukku selalu merinding.


"Aku serius mau pindah ke sini, Bang."


"Membawa Anulika?" tanyaku.


Anulika adalah putri kecil kami. Nama panjangnya Anulika Diatmika Surawijaya.


"Kalau Anulika mau ya diajak," jawabnya sambil merangkul pundakku dan menatapku dengan tatapan manja.


"Issh, kamu cantik sekali."


Ditatap oleh Dewi, aku jadi salting. Karena pesonanya teramat menggiurkan, setelah menutup tirai, aku segera memangkunya dan membawanya ke tempat tidur. Dewi tersenyum sambil disengajakan mengelus-elus dadaku.


"Kata Daini, Dajjal tidak bisa masuk ke Makkah dan Madinah, makanya aku mau pindah ke Makkah," jelasnya saat tubuhnya kurebahkan.


Aku tidak terlalu memerhatikan yang ia katakan, saat ini sedang menciumi lehernya. Sementara tanganku asyik merayap-rayap dan membuka kacing baju gamisnya.


"Emh ..., memangnya boleh bercinta saat lagi umrah?" tanyanya.


"Wi, seseorang hanya dilarang melakukan hubungan in-tim dengan pasangannya jika dalam kondisi sedang ber-ihram. Baik ihram tatkala umroh maupun ihram saat haji. Adapun setelah bertahallul dari ihram umroh ataupun haji, maka sudah boleh lagi berhubungan badan. Asalkan melakukannya dengan istri sendiri," jelasku.


Untung saja sudah bertanya tentang hal ini pada bu Daini. Harusnya, kami umrah bersama, tapi karena bu Daini hamil tiga bulan, pak Zulfikar membatalkan keberangkatan dengan alasan khawatir bu Daini kecapekan dan membahayakan kandungannya.


"Uhh ..., Bang Radit ...."


Istriku mulai menggelinjang, apa yang kulakukan membuat pipinya memerah.


Oiya, Anulika tidak diajak. Kami hanya umrah berdua. Karena ASI Dewi tidak keluar, Anulika hanya meminum ASI dari bu Daini dan susu formula.


Dewi sangat terpuruk mendapati ASI-nya tidak bisa keluar. Ia sering menangis dan mengurung diri gara-gara hal itu. Sudah berupaya melakukan upaya medis dan non medis untuk membuat ASI-nya keluar, namun selalu gagal.


Hari-hari Dewi mendapati kenyataan itu sangat berat. Ia sering tidak tidur semalaman. Menangis dan menangis. Untungnya, ada malaikat lain penolong Anulika.


Ya, malaikat itu adalah bu Daini. Bu Daini rela membagi ASI-nya pada Anulika serta meminum obat-obatan dan susu pelancar ASI. Karena bu Daini kondisinya sedang hamil dan juga harus menyusui Raja dan Cantik, dokter menyarankan agar Anulika diberikan susu formula. Saat ini, Anulika kami titipkan di rumah pak Zulfikar.


"Kamu cantik sekali, su-sungguh."


Aku memujanya, aku tengah menikmati tubuhnya. Dewi memelukku erat seraya merintih-rintih. Tubuhnya sedang menyampaikan keterlenaannya. Indah sekali.


Bagiku, ini adalah malam terindah, dan entah kenapa, aku merasakan jika tubuhnya sangat nikmat dan menjeratku. Rasa nikmatnya berkali lipat, lebih nikmat dari biasanya hingga membuatku menggila dan nyaris hilang kendali.


"Bang Radit ..., su-sudah ya." Ia sampai memintaku menyelesaikannya.


"Ba-baik. Maaf ya istriku. Itu karena kamu sangat cantik dan seksi. Aku bahkan melihat jika tubuh kamu bersinar dan i-itu sangat indah," bisikku seraya menyesap daun telinganya.


"Bersinar? K-kamu lebay tahu, Bang." Ia mencubit punggungku.


"Se-serius, sebentar lagi ya, lima menit lagi," pintaku sembari memosisikan tubuhnya di posisi yang sangat disukainya. Ini juga posisi kesukaanku. Dewi mengangguk sambil tersenyum.


Ouhh ....


Senyumnya manis sekali. Bibirnya yang basah dan merah itu membuat hasratku semakin menggebu. Aku memagutnya dalam-dalam. Lalu lenguhan dan teriakannya kembali mengalun. Hingga pada akhirnya, kamipun mengerang, merintih, dan ambruk bersama-sama.


...⚘️⚘️⚘️...


Waktu berlalu begitu cepat. Aku memeluk tubuhnya yang berkeringat.


"Apa AC-nya perlu kumatikan? Keringatmu dingin, Wi." Aku mengusap keringat yang mengalir di punggungnya yang masih polos.


"Tidak perlu Bang, aku merasa biasa saja, 'kok." Ia membalikan badan, lalu menciumi dadaku.


"Jangan menggoda dong, Wi. Kalau aku tiba-tiba mau lagi, bagaimana? Mau tanggung jawab?" godaku.


"Hehehe, ih kamu 'tuh ya. Jangan 'lah. Akunya lelah tahu, nanti kalau Abang tidak bisa bercinta sama aku lagi bagaimana?"


"Ya pasti bisa 'lah. Kita 'kan suami istri." Aku medekapnya.


"Bang Radit."


"Hhmm."


"Sebelum Subuh, aku mau thawaf lagi, Bang."


"Boleh, Abang juga mau thawaf lagi. Berarti kita nanti mandinya pakai air hangat ya."


"Aku mau pakai air dingin saja, ah."


"Boleh." Serius, Dewi cantik sekali. Aku terus memandangi wajahnya dan terpesona.


"Kata Daini, melakukan thawaf berkali-kali hukumnya adalah sunnah, dan memperbanyak thawaf itu lebih utama jika dibandingkan dengan memperbanyak ibadah yang lain selama berada di tanah suci," jelasnya.


"Oke, kita thawaf bersama ya."


"Bang, aku rindu sama Anulika, apa boleh kalau kita VC Anulika lagi?"

__ADS_1


"Boleh, tapi jangan sekarang ya."


Aku melihat jam waktu Makkah menunjukkan pukul 22.40. Berarti, di Indonesia saat ini adalah pukul 02.40 untuk Indonesia bagian barat, termasuk Jakarta.


"Bu Daini dan Anulika pasti sedang tidur."


"Emm, baiklah."


Ia kemudian mengambil HP-nya dan membuka file-file yang berisi ribuan foto Anulika.


"Semakin mirip sama Daini ya? Hihihi," ia terkekeh.


"Bahkan ada lesung pipinya kayak bu Daini," sahutku.


"Iya Bang. Yang mirip aku hanya bentuk jari dan kukunya. Jari kaki dan bentuk kuku Anulika sama kayak aku. Kalau kata Daini kuku jengkol. Punya Daini 'kan kuku peuteuy. Hehehe."


Kembali terkekeh. Aku fokus pada wajahnya yang bersinar karena pantulan layar HP.


"Peuteuy itu petai 'kan? Wah, jengkol dan petai itu makanan kesukaanku."


"Bang Radit suka petai dan jengkol?" Ia terkejut.


"Ya."


"Lho? Perasaan, aku enggak pernah lihat Bang Radit makan petai ataupun jengkol. Padahal 'kan Inar sering masak semur jengkol dan sambal petai."


"Semenjak menikah dengan kamu, aku memang tidak pernah memakannya lagi."


"Kenapa, Bang?"


"Kan kamunya enggak suka sama jengkol dan petai. Aku takut kamu merasa bau dan aku jadi tidak bisa mencium kamu."


"Oh, ya ampun. Padahal kalau mau ya makan saja Bang. Aku tidak masalah 'kok. Kedepannya, Abang boleh makan petai dan jengkol ya. Aku tidak akan terganggu 'kok."


"Baiklah, pulang umroh aku akan meminta Inar masak semur jengkol. Hoaam, aku ngantuk Wi. Tidur yuk," ajakku.


"Aku masih ingin lihat-lihat foto Anulika."


"Ya sudah, aku tidur ya." Aku mengecup bibir dan keningnya, lalu mulai memejamkan mata.


...⚘️⚘️⚘️...


Jantungku selalu berdegup saat melangkahkan kaki untuk mendekat ke sana. Ke Ka'bah.


Dewi berjalan di depanku. Ia menggunakan gamis putih, memakai cadar dan terlihat begitu anggun.


"Kata Daini, pahala shalat di Masjid Al Haram itu lebih baik dari seratus ribu shalat di masjid lain," ocehnya.


Matanya menatap lurus ke sana. Dari sudut matanya yang menyipit, aku yakin kalau ia sedang tersenyum.


"Masyaallah, sungguh keutamaan yang sangat luar biasa ya. Hal inilah yang membuat banyak umat Islam sangat memimpikan dan berharap bisa mengunjungi Masjid Al Haram dengan melakukan ibadah haji ataupun umrah," sahutku.


Kondisi saat ini cukup ramai. Sama seperti aku dan Dewi, sebagian besar jama'ah umrah dari seluruh dunia telah berada di Masjid Al Haram sebelum Subuh. Bahkan, mungkin saja ada yang tidak pulang ke hotel atau penginapan karena mereka ingin memanfaatkan momen ini untuk memperbanyak ibadah.


"Aku mau shalat sunah di sana, Bang. Lihat! Di sana sedang sepi." Dewi berlari cepat menuju Raudhah.


"Kata Daini, Raudhah adalah tempat yang mulia dan istimewa. Sebab di sinilah sekitar 1400 tahun yang lalu, Baginda [Rasulallah SAW] beribadah, sholat, menerima wahyu, berdakwah dan juga tempat sholat para sahabat," jelasnya lagi dalam keadaan masih berlari.


Aku mengejarnya karena khawatir ia akan dicegat oleh askari atau orang Indonesia biasa memanggilnya askar.


Askar merupakan tentara yang biasa terlihat berjaga di dekat tempat-tempat ibadah, khususnya berjaga di sekitar Ka'bah, Raudhah, dan Masjid Al Haram.


Tak ku sangka, askar yang menjaga Raudhah justru malah memberi isyarat pada Dewi agar segera masuk, dan saat aku hendak menyusul, askar tersebut melarangku.


"Anta la tadkhul," katanya. Yang berarti 'Kamu dilarang masuk.


"Huwa zawji, nahnu min andunisya (Dia suamiku, kami dari Indonesia)," jelas Dewi. Aku tercengang. Aku tidak tahu kalau Dewi bisa bahasa Arab.


"Tafadhol (silahkan)," ucap askar.


Askar membolehkanku masuk. Aku bahagia, dan kakiku gemetar saat memasukinya. Tidak semua jama'ah bisa berada di sini. Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur. Aku segera shalat di samping Dewi. Dewi sudah shalat terlebih dahulu.


"Yaa Rabbi, ampuni hamba yang hina ini, aku tahu Engkau Maha Pengampun. Yaa Rabbi, tolong lindungi dan berkahi semua orang yang kusayangi dan menyayangiku. Mereka adalah mamiku, putriku Anulika, suamiku Radithya Wira, Daini, mas Zulfikar, Raja, Cantik, papa Aksa, mama Yuze, ummi, abah, Putra, Listi dan bapak-ibunya, pak Sabil, pak Komjen dan istrinya, Inar, Juju, Ipi, Agus, Budi, dan semua orang yang pernah kusakiti dan tidak bisa kusebutkan satu persatu. Huuks. Aku juga memohon agar Engkau mengampuni papiku."


Dewi berdoa seraya berderai air mata. Aku bisa mendengar doa-doanya karena berada di dekatnya. Dadaku sesak. Entah kenapa, aku jadi ingin menangis.


"Aamiin," lirihku pelan. Mengamini doanya.


"Ilahi lastu lil firdausi ahlaa. Wa’ala Aqwa 'alannaril jahiimi Fahabli taubatan waghfir dzunubi. Fainnaka ghafirudzdzambil 'adziimi."


Dewi melantunkan syair itu dengan suara gemetar. Aku tak sanggup lagi menahan tangis. Airmataku menetas membasahi lantai Raudhah.


"Aku tahu aku tak pantas berada dalam surga-Mu. Namun aku tak kuasa bila harus masuk ke neraka-Mu, Ya Rabbi. Sekarang ..., a-aku datang mengharap belas kasih dari-Mu. Kepada siapa lagi aku meminta selain pada-Mu, huuu ...," lanjutnya. Tangisnya terdengar menyayat hati.


"Maka berilah aku taubat dan ampunilah dosaku. Sesungguhnya ..., Engkau adalah Maha Pengampun dosa yang besar."


"Aamin," kembali mengamini.


"Yaa Rabbi, dosaku bagaikan bilangan pasir di muka bumi, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki seluruh keagungan. Umurku setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya? Huks, huks."


"Yaa Rabbi, hamba-Mu si pendosa ini telah datang kepada-Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada-Mu. Hanya Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah aku mengharap selain kepada Engkau. Huks."


"Aamiin," sahutku.


Nyaris tidak terdengar karena hatiku teramat pilu. Ya, aku juga mengingat semua dosa-dosaku.


Selanjutanya, entah apa yang ia katakan. Sebab, Dewi berdoa sambil bersujud. Pundaknya bergerak-gerak. Aku yakin dia sedang menangis.


Akupun berdoa memohon ampunan dan memohon kebaikan untukku dan untuk orang-orang yang kucintai.


...⚘️⚘️⚘️...


Dari Raudhah, aku dan Dewi lanjut melakukan thawaf.


Selesai thawaf, Dewi menarik tanganku menuju Hajar Al Aswad. Tangannya dingin sekali, mungkin karena cuaca dingin. Selama di Makkah, aku dan Dewi berpedoman pada Mazhab Hanbali, itu artinya kami tidak batal wudhu walaupun tangan kami bersentuhan.


Saat aku mencium Hajar Aswad dan bershalawat, aku mendengar keributan. Salah satunya berbahasa Indonesia.


"Awas! Itu ada yang pingsan! Cepat panggil askar!" serunya.

__ADS_1


Aku spontan menoleh dan baru menyadari jika tanganku tidak lagi menggenggam tangan Dewi.


"Dewi, Dewi," panggilku.


"Ini jama'ah dari Indonesia. Ada yang mengenal jamaah atas nama Dewi Laksmi binti Surawijaya?" teriak seseorang.


Seketika itu juga, aku langsung menyibak kerumunan jamaah untuk menuju ke sana. Berlari pontang-panting tanpa melihat pijakan.


"Aku suaminya!" teriakku.


Lalu askar dan jamaah lain memberi jalan padaku. Aku melihat istriku sedang diperiksa oleh tim medis.


"Dewi!"


Aku mendekat dan hendak menarik tubuhnya ke pangkuanku. Namun tim medis melarangku.


"Pasiennya mengalami henti napas dan henti jantung. Kami akan melakukan RJP." Itu yang dikatakan salah satu tim medis dalam bahasa Inggris.


"A-apa?! Henti jantung?"


Kakiku lemas seketika. Tubuhku langsung bersimpuh di lantai seraya menatap tubuhnya yang saat ini tengah dilakukan RJP oleh tim medis.


"Ti-tidak .... Yaa Rabbi, tolong selamatkan istriku."


"Sabar ya Pak."


"Apa pasien ada riwayat penyakit jantung?"


"Apa sebelum ke sini mengeluh sakit?"


Jamaah di sekitarku yang juga berasal dari Indonesia bertanya-tanya. Namun aku tidak mampu mengatakan apapun. Hanya bisa menggelengkan kepala dan menangis.


Dewi kemudian ditandu dan dipindahkan ke sisi kanan Masjidil Haram sambil terus di-RJP. Aku yang lemas dipegangi beberapa orang dan segera mengikuti tim medis. Mereka kemudian memasang sampiran untuk melakukan tindakan lanjutan pada Dewi. Hanya aku yang diperbolehkan masuk.


"De-Dewi, sa-sadar sayang ...," lirihku.


Aku bahkan baru sempat memanggilnya sayang. Kata itu baru terucap kali ini dan spontanitas.


Semua tim medis yang berada di balik sampiran adalah perempuan. Mereka kemudian membuka baju Dewi dan memasangkan alat rekam jantung di tubuhnya. Jantungku berdegup kencang, dan pandanganku kabur.


Kenapa demikian? Sebab, monitor pada rekam jantung tersebut tidak menunjukkan respon apapun.


"Ti-tidak mungkin! Lakukun RJP lagi, Dok!" teriakku saat seorang dokter menyenter bola mata istriku.


"Innalillahiwainnailaihirojiun," gumam dokter tersebut dan disahuti rekannya.


"Apa?! Tidak mungkin!" Aku mendekat dan membangunkannya.


"Dewi! Bangun sayang! Bangun! Dewi! Huaaaa ...."


Aku mengguncang tubuhnya. Namun seluruh tubuhnya telah terkulai. Aku meletakkan telinga di dadanya, tidak ada suara apapun. Aku menangkup wajah cantiknya dan berteriak bak orang gila.


"Dewiiiii!" teriakku.


Lalu pemandu umrahku berdatangan dan menanyakan kronologis kejadian pada askar, dan beberapa jama'ah.


"Huuu, huuu. Sa-sayang ...."


Aku memeluk tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya.


"Saya akan segera menghubungi keluarganya," kata salah satu pemandu umrah yang terlihat panik dan memucat. Lalu aku mendengar tangisan jamaah lain yang turut berduka-cita.


"Sa-sayang ...."


Aku mengecup bibirnya yang tampak tersenyum. Lalu mengecup matanya yang terpejam dengan tenang. Ia meninggal dalam keadaan istimewa. Di hari Jum'at, di hadapan Ka'bah, dan dalam keadaan sedang melakukan ibadah.


"De-Dewi, ma-maaf karena aku baru memanggilmu 'sayang' di hari ini. Di hari kepergiamu."


Aku juga menyesal karena tidak berada di sampingnya saat ia pingsan. Penyesalan itu menghujan dan menikam dadaku. Sakiiit.


"Innalillahiwainnailaihirojiun." Aku mengusap wajahnya. Lalu kembali memeluk tubuhnya.


Lalu teringat kembali percakapan kami saat memasuki area Masjid Al Haram.


"Bang, aku ingin tetap berada di Makkah."


"Visanya mau diperpanjang?"


"Kayaknya tidak diperpanjang juga enggak masalah, Bang. Aku mau berlama-lama berada di sini. Di tanahnya para Nabi dan para Syuhada. Kalau bisa, selamanya. Hehehe."


Di akhiri tawanya yang begitu riang. Lalu ia menuntun tanganku dan berjalan sambil melompat-lompat bak anak kecil. Akupun mengikuti cara berjalannya sampai kami berdua tiba di bukit Shafa dan Marwah yang jaraknya sekitar 100 meter dari Ka'bah.


Di depan bukit Shafa dan Marwah, ia berkata, "Aku ingin menjadi bidadari surganya Radithya Wira." Aku tersenyum dan mengamininya.


"Yaa Rabb, aku bersaksi jika wanita ini adalah wanita baik, dia istri sholehahku. Dia memang layak mendapatkan semua keistimewaan dari-Mu. Jika Engkau berkenan, tolong satukan dan pertemukan kembali kami di surga-Mu. Aamiin," lirihku.


Lalu mengikhlaskan jasadnya dibawa oleh petugas. Kemudian ratusan jama'ah umrah dari berbagai negara turut serta mengiring jasadnya.


"Pak Zulfikar, bu Silfa dan keluarga inti akan segera terbang ke sini," jelas pemandu umrah.


Aku mengangguk lemah. Kakiku bak tidak bertulang, jiwa dan ragaku lapuk dan rapuh laksana ranting kecil yang tertiup badai besar. Aku terhuyung-huyung, pemandu umrah terus menenangkan dan memegangi bahuku.


Yaa Rabbi, jika boleh egois, aku juga ingin pergi bersamanya dan menemui-Mu dalam keadaan seistimewa ini.


"Huuu."


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


_____


😭😭😭😭


Mata nyai bengkak. Ini adalah momen mengintai yang paling memilukan.


Semoga, semua reader nyai mendapat kesempatan untuk berhaji ataupun umrah, dan di manapun tempatnya, semoga kita kembali ke hadapan-Nya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin. 😇😇😇😇


RIP bu Dewi 😭😭😭

__ADS_1


Kepergianmu membuat kami iri.


__ADS_2