Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sabilulungan


__ADS_3

Iptu Sabil Sabilulungan


IPTU (Inspektur Polisi Satu)adalah perwira pertama tingkat dua di Kepolisian Republik Indonesia. Yaitu, pangkat di atas Inspektur Polisi Dua atau dibawah Ajun Komisaris Polisi, lambang pangkatku di kesatuan Polri untuk IPTU adalah 2 balok emas.


Jabatanku adalah Kasi Propam yang bertugas membantu Kapolres dalam merumuskan kebijaksanaan umum atau pokok dalam bidang pembinaan fungsi Provos di lingkungan Polri, melaksanakan dan menyelenggarakan fungsi penegakan hukum dan peraturan-peraturan lainnya, tata tertib dan disiplin, serta pengamanan di lingkungan Polri.


Propram adalah Divisi Profesi dan Pengamanan atau biasa disebut sebagai salah satu unsur pengawas dan pembantu pimpinan di bidang pembinaan profesi dan pengamanan di lingkungan internal organisasi Polri. Divisi Propam Polri berkedudukan langsung di bawah Kapolri.


.


Halah, apa guna aku menjelaskan semua itu. Intinya, aku polisi. Titik. Profesi yang sering disudutkan dan dicaci oleh oknum masyarakat dan oknum pihak terkait.


Sebenarnya, akhir pekan ini jadwalnya aku libur. Tapi, ya sudahlah.


Punya sahabat konglomerat itu, enak tidak tidak. Enaknya banyak, tak enaknya juga banyak. Kadang, mereka seenaknya saja meminta bantuanku, padahal, yang harus dilakukan bukan tanggung jawabku.


Jika sudah berhubungan dengan keluarga Antasena, tak ada cara lain kecuali mengiyakan dan melakukan koordinasi dengan atasan. Ya, mereka keluarga berpengaruh, dan tentu saja memiliki kedekatan khusus dengan pejabat tinggi di kepolisian.


Masalahnya adalah, rival keluarga Antasenapun bukan orang sembarangan. Saat Zulfi memintaku menyuruh seseorang untuk menyelidiki istri pertamanya, aku benar-benar stres. Akhirnya, aku menyerahkan tugas itu pada dedektif swasta. Namun tetap di bawah pengawasanku.


Kejadian malam inipun di luar dugaan, aku yang baru saja merebahkan diri di kasur empukku, harus meluncur ke kantor setelah mendengar tugas dari Zulfi. Padahal, saat itu aku baru memejamkan mata selama dua detik.


Setelah koordinasi dengan komandan, aku langsung ke apartemen seorang diri. Namun sudah mempersiapkan beberapa anggota untuk jaga-jaga.


"Pak Sabil, aku merasa tidak tenang meninggalkan Hanin sendirian. Pak Sabil tolong ke apartemen istriku ya. Ya tak perlu masuk, cukup berjaga di depannya saja," kata Zulfi kala itu.


"Apa ada gerak-gerik yang mencurigakan?" tanyaku.


"Ada, Pak. Gerak jantungku berdegup kuat," jawabnya.


Haish, jawaban yang aneh bukan? Tapi ya sudahlah. Walaupun aku seorang perwira, tapi aku percaya pada firasat. Kenapa aku percaya? Sebab, aku menangani kasus menggunakan barang bukti-bukti dan firasatku.


Ternyata, firasat Zulfi benar. Oiya, jika tidak sedang bertugas, aku memang memanggilnya Zulfi. Zulfi adalah nama panggilan dia semasa sekolah.


Di lantai dua apartemen yang merupakan pusat berbelanjaan khusus penghuni apartemen, aku melihat bu Daini dengan penampilan yang mencurigakan. Berjalan terhuyung, dan berdarah-darah. Saat itu, aku langsung berlari tunggang-langgang untuk mendekat dan menangkap tubuhnya yang hendak terhempas ke lantai. Aku berhasil menangkapnya.


"Maaf Bu Daini, ini darurat. Saya pangku ya," kataku saat itu.


Aku faham dia tak nyaman. Namun keadaan memaksanya. Badannya lemah, wajahnya pucat dan menyiratkan ketakutan yang luar biasa. Aku memangkunya sambil menghubungi tim khusus yang sudah bersiap.


"Siapkan ambulance dan anggota! Meluncur sekarang! Apartemen Luxury!" titahku.


"Siap 86," sahut anggota.


Istilah 86 sebenarnya sering dipakai saat seseorang memberikan sejumlah uang untuk oknum polisi dengan maksud agar polisi tersebut dapat melancarkan penanganan kasusnya. Namun kemudian, kode 86 ini diplesetkan menjadi bermakna 'saling mengerti dan saling membantu.' Bahkan sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.


Kode 86 adalah istilah eksentrik yang sudah ada dalam sastra Inggris berabad-abad tahun yang lalu dan menjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Karena makna 86 bisa berarti membubarkan atau membatalkan, menghalangi atau memberikan layanan lebih lanjut kepada seseorang, dan perintah untuk membunuh.


Jadi, baiknya tak sembarangan mengatakan kode 86.


Bantuan datang dengan cepat. Tim yang ditugaskanpun menghubungi Zulfi untuk menyediakan rumah sakit tujuan yang akan digunakan oleh bu Daini.


...⚘️⚘️⚘️...


"Aduh, dasar wanita aneh!" rutukku.


Aku mengusap bahuku. Baru kali ini merasa diperlakukan tak sopan oleh seorang wanita. Sifat dia berbanding terbalik dengan bu Daini. Padahal, aku berharap bertemu dengan sahabat bu Daini yang penampilan dan sikapnya minimal mirip 'lah dengan bu Daini.


Tapi, yang kudapat malah zonk. Ya, dia cantik juga 'sih. Namun penampilannya tomboy, dan aku kurang suka dengan gadis tomboy, aku sukanya yang feminim.


Aku berjalan cepat menuju kamar perawatan bu Daini. Ada informasi penting dari detektif terkait rekam medis milik bu Dewi. Entah dengan cara seperti apa data ini didapat, yang jelas, data ini asli. Ada tanda tangan dokter dan kop rumah sakitnya.


...⚘️⚘️⚘️...


"Permisi." Aku masuk terburu-buru. Segera menunjukkan ponselku pada Zulfi.


Dih, wanita bernama Listi itu ternyata ada di ruangan ini. Dia duduk menopang kaki. Gayanya sama sekali tak elegan. Intinya mirip dengan cara duduk pria.


"Pak Zulfikar, ada kabar baik."


Zulfi yang sedang memeluk bu Daini segera memeriksa ponselku.


"Sudah kuduga! Mereka menipuku!" teriaknya.


"Ada apa, Pak?" tanya bu Daini, lirih.


"Dewi memiliki penyakit kepribadian ganda, sayang. Aku sebenarnya sudah punya bukti pendukung. Tapi, bukti ini adalah yang paling akurat. Rekam medis ini sulit bisa dibantah."


"Setelah acara papa selesai, aku akan menuntutnya. Aku tak peduli kalaupun dia mengancamku."


"Mengancam?" Aku menatap Zulfi.


"Ya, Dewi mengancamku. Nanti akan kujelaskan pada Pak Sabil, tapi tidak sekarang."


"Kapan Pak Zulfikar mau menjelaskannya? Aku berharap secepatnya, Pak."


"Ya, secepatnya. Sekarang Pak Sabil ke rumah pak Ikhwan ya. Maksudku sekalian pulang, 'kan searah. Tunjukkan bukti-bukti ini pada pak Ikhwan. Oiya, terima kasih ya kawan, Pak Sabil sahabat terbaikku." Memuji sambil merangkul bahuku.


Asyik, akhirnya aku disuruh pulang, kukira harus berjaga di sini. Menolak orang baik itu susah, selain dia sahabatku, pak Aksa alias papanya Zulfikar, kata ayahku adalah orang yang berperan membantuku masuk Akademi Kepolisian. Aku sempat tak terima karena aku yakin masuk Akpol dari jalur yang sewajarnya. Aku bekerja keras dengan belajar, latihan fisik, dan lain-lain.


"Ya, kamu memang lulus murni," terang ayahku. Jadi, hingga saat ini, aku tak tahu bantuan seperti apa yang diberikan pak Aksa. Yang jelas, papaku juga perwira polisi.


"Kak Listi, Kakak juga boleh pulang. Tak perlu menemaniku. Sekali lagi terima kasih ya, Kak." Bu Daini memeluk lengan wanita tomboy itu.


"Santuy, Neng. Lagi pula, besok 'kan libur. Kayaknya tak masalah 'deh kalaupun aku menemani kamu."


"Kamu juga harus istirahat, Listi. Kata Hanin, mobil kamu masih di rumah sakit, 'kan? Bagaimana kalau diambil dulu? Maksudku, biar ke sananya bareng sama Pak Sabil saja. Tak masalah 'kan Pak Sabil?" Ide Zulfi membuat mataku mengerling.


"Ih, ogah ah. Mending naik ojek 'deh," tolak Listi. Wanita ini benar-benar memandangku sebelah mata.


"Hey, aku juga tidak mau bareng sama wanita jadi-jadian!" sentakku.


"Apa kamu bilang?! Anda tak sopan ya, Pak! Semua pria sama saja! Jangan mentang-mentang Anda polisi jadi bisa seenaknya sama wanita!" Sumpah, dia bicara sambil mendorong kuat-kuat bahuku.


Bu Daini dan Zulfi saling berpandangan. Aku mengerjapkan mata. Wanita ini tak ada lembut-lembutnya.

__ADS_1


"Maaf ya Pak Sabil, Kak Listi memang seperti itu. Tapi dia baik, 'kok." Malah bu Daini yang meminta maaf.


"Pertama kali bertemu sama Listi, aku malah ditampar," sela Zulfi sambi garuk-garuk kepala.


"Hahaha." Aku spontan tertawa.


"Anda mentertawakanku?! Bisa diam tidak?! Dai, gue balik dulu ya! Enek gue lihat dia! Mentang-mentang punya seragam dan senjata, seenaknya saja menghinaku!" hardiknya.


"Apa?! Hey, aku tidak menghina kamu!" Wanita ini sepertinya harus dites urine. Jangan-jangan dia lagi mabuk.


"Kak Listi, tunggu," panggil bu Daini saat Listi berlalu dan membanting pintu. Aku dan Zulfi melongo. Sikapnya benar-benar tak sopan.


"Ya ampun sayang, 'kok bisa kamu lengket sama dia? Sikap Listi tak baik ditiru," kata Zulfi. Ia sampai mengusap dadanya.


"Bu Daini harus bilang amit-amit jabang bayi," selaku.


"Hmm, aku yakin kak Listi lagi ada masalah. Mungkin sedang banyak tekanan di tempat kerja. Dia tak biasanya membanting pintu," bela bu Daini.


"Sayang, bukankah itu HP-nya Listi?" Zulfi menunjuk ke sofa.


"Ya, Pak. Kak Listi pasti kembali lagi."


"Ya sudah, biar aku menyusulnya. Berati sekalian pamit ya." Setelah mengambil HP Listi, aku bersalaman dengan Zulfi. Dengan bu Daini juga bersalaman, tapi tak bersentuhan.


...⚘️⚘️⚘️...


Di dalam lift, ponsel Listi berbunyi. Aku mengeceknya.


'Abang Sayang Calling.'


Huh, pasti dari kekasihnya. Angkat, jangan ya? Panggilannya berulang-ulang. Ya sudah, terpaksa aku angkat. Biar aku jelaskan kalau HP-nya ketinggalan. Listi juga pasti belum jauh dan bakal menyadari ponselnya ketinggalan saat memesan ojek online.


"Yank! Kenapa lama sekali angkatnya?! Di mana posisi kamu sekarang, hahh?! Cepat jawab!" teriak pria di ujung telepon. Aku jadi bingung mau jawab apa.


"Listi! Jangan diam saja kamu, yank! Berteman sama pelakor itu benar-benar membawa pengaruh buruk untuk kamu! Abang jadi khawatir kalau kamu juga kedepannya akan mengikuti jejak teman kamu! Jadi pelakor!"


Mataku membulat. Aku yakin ini ada hubungannya dengan bu Daini.


"Hallo," sapaku. Terpaksa berbicara.


"Hallo? Hey, kamu siapa?! Kenapa HP tunanganku ada di kamu?! Di mana Listinya?!"


"Sabar Bung, biar aku jelaskan dulu," jawabku.


"Aku mau bicara sama dia! Cepat!"


"Bung sabar, HP Listi ke ---."


"Cepat!" selanya.


"Ya ampun, sedang datang bulan ya Bung? Kok sewot terus?"


"Hey, kamu siapa sih?! Ya sudah, begini saja, tolong katakan pada Listi kalau aku ingin mengembalikan cincin pertunangan!" tegasnya.


"Tunggu dulu, hallo, hallo." Panggilan terputus.


"Listi," aku mengejarnya hingga ke dalam lift.


"Ada apa? Mau ngetawain gua lagi? Sok silahkan tertawa sesuka Anda!" ketusnya. Matanya memerah. Ternyata, wanita garang ini bisa menangis juga. Apa yang dia tangisi?


"Nggak ada apa-apa, aku hanya mau memberikan ini."


"Harusnya Anda tak perlu repot-repot," menyambar ponselnya.


"Terima kasih," lanjutnya. Lalu menekan tombol lift menuju lobi.


"Emm, bagaimana kalau aku antar ke apartemen? Sekalian, 'kan kita sejalan." Ada rasa sedikit iba setelah mendengar kekasihnya ingin mengembalikan cincin pertunangan. Jelas, aku tak berani mengatakannya.


"Tak perlu, aku bisa naik ojek atau minta dijemput tunanganku." Sibuk memainkan ponsel. Sepertinya sedang menelepon pria datang bulan itu.


"Isshh, kok tak diangkat 'sih," gerutunya.


"Yakin tak mau ikut denganku?"


"Nggak! Anda cepat pulang saja! Sono!" Kembali mendorong bahuku.


"Aku akan menunggu sampai kamu dapat tumpangan. Ini sudah jam sebelas malam lho," kataku.


"Jangan sok perhatian ya, Pak! Aku sudah punya tunangan! Kalau tunanganku salah faham bagaimana? Lagi pula, aku tak suka sama pria beseragam!" Wanita ini benar-benar menyebalkan.


"Hahaha, jangan kePD-an ya, Nona. Kalaupun kamu lajang, aku juga tak suka sama cewek kasar, tak sopan, dan tomboy seperti kamu."


"Baguslah," ketusnya. Sekarang sibuk membuka aplikasi untuk memesan ojek. Namun sepertinya tak ada yang terkoneksi.


"Listi, aku beri tahu ya, imbas kasus pembunuhan itu, jalur ke apartemen Luxury sedang dijaga polisi. Kendaraan umum tak bisa ke sana. Kecuali ambulance, pemadam kebakaran dan yang berwenang," jelasku.


"Bisa diam tidak?!" sentaknya. Gila, 'nih cewek benar-benar bar-bar.


Sepertinya dia menelepon mantan tunangannya lagi. Kali ini terhubung. Dia menjauh. Aku terus memantau. Mereka bercakap-cakap. Aku terpaksa mendekat saat melihat wanita tomboy itu berbicara keras sambil berjongkok dan tertunduk.


"Bang! Dengarkan dulu penjelasanku! Kamu harus percaya sama aku! 'Kok bisa kamu seperti ini Bang?!"


"Akmal! Pecundang kamu ya!"


Kali ini, dia mengangkat kepala sambil mengusap air mata di pipinya. Aku jadi kasihan. Mereka sedang bertengkar. Pantas tadi dia marah-marah. Oh, jadi, dia melampiaskan kemarahannya padaku? Kurang asem!


"Apa?! Selingkuh katamu! Siapa yang selingkuh, Bang! Jangan mengada-ada ya! Oke, kalau kamu memang mau mengembalikan cincin pertunangan! Aku jabanin! Aku juga tak sudi memakai cincin dari kamu lagi! Akan kukembalikan!" Sambil melepas cincin yang terpasang di jari tengahnya. Lalu dimasukkan ke dalam tas.


Dia bicara galak dan tegas. Namun airmatanya bederai. Ternyata, masih memiliki sisi kewanitaan juga. Lucu.


Lalu dia mengakhiri panggilan dan terisak-isak. Kebetulan di tasku ada **tiss**ue, akupun memberinya tissue.


"Tak perlu! Gue juga punya," tolaknya.


"Emm, sabar ya. Semoga pertengkaran kalian segera berakhir."

__ADS_1


"Tak perlu ikut campur, dan jangan sok peduli! Emm, Anda tadi bilang bisa mengantarku ke apartemen, 'kan?"


"Ya, benar."


"Mana kunci mobilnya? Di sebelah mana parkirnya? Biar gue yang nyetir."


"Kamu sedang sedih, tak baik kalau menyetir."


"Gue baik-baik saja, cepat berikan kuncinya! Itung-itung balas jasa karena Anda sudah berbaik hati mau mengantar! Cepat! Anda polisi, 'kan? 'Kok lelet, 'sih?!"


"Siap," ya ampun, sabar, dan mau-maunya aku mengalah sama wanita ini. Akhirnya, aku menunjukkan lokasi parkir dan memberikan kunci mobilku.


...⚘️⚘️⚘️...


"Wah, keren juga mobilnya. Kredit apa cash belinya? Bukan hasil korupsi, kan?" tuduhnya. Arrgh, aku nyaris tak bisa menahan diri. Sabar ....


"Kredit, lima bulan lagi lunas," jelasku sambil memasang sabuk pengaman. Diapun memakai sabuk pengaman.


"Baguslah, kukira mobil sitaan yang dimodifikasi jadi kendaraan pribadi."


"Listi, jangan asal bicara ya! Dari mana kamu mendengar istilah seperti itu?!"


"Dari tadi," jawabnya enteng. Mulai melajukan kemudi.


"Kok jalannya ke sini? Bukannya ke arah Harmoni lebih cepat?" protesku.


"Gue mau muter ke arah Thamrin City, boleh, 'kan?"


"Ya sudah terserah kamu."


Lagi, aku mengalah. Lalu ....


'Brum, brum, bruuum.'


Dia tiba-tiba tancap gas saat melewati jalanan yang lenggang.


"LISTI! STOP!" teriakku.


"Akmaaal! Lu pikir laki-laki di dunia ini cuma lu doang, apa?! Lu pikir lu yang paling tampan?! Gue akan buktikan sama lu kalau gue juga bisa melepas lu!" teriaknya. Posisi masih tancap gas.


"LISTI! Ini berbahaya! Kita bisa ditilang!"


"Kamu 'kan polisi! Kalaupun ditilang, ujung-ujungnya pasti akan dibebaskan! Huuu hwaa."


Sekarang menangis kencang, tapi tetap ugal-ugalan. Padahal, saat ini sudah memasuki area yang lumayan ramai dengan pengendara lain.


"Aaarggh! Akmaaal, kamu laki-laki b a j i n g a n!"


'Tidd.'


'Tiidd.'


'Tiiidd.'


Klakson pengendara lain mulai bersahutan. Mereka jelas marah dengan aksi jalanan yang membayakan ini.


"Woyyy!"


"Gila 'tuh mobil!"


"Punya sembilan nyawa apa?!"


"Kalau celaka baru tau rasa!"


Samar, aku mendengar makian dan umpatan dari para pengemudi. Ini tak bisa dibiarkan. Aku terpaksa menodongkan senjata.


"Berhenti! Listi! Atau kakimu aku tembak!"


"Hahaha, silahkan tembak saja! Aku tak peduli!"


"Listi! Berhenti! Aku hitung sampai tiga ya! Satu, dua ---."


Tak berhasil, masih melajukan kemudi dengan kecepatan tinggi. Dia tak memedulikan perintahku. Harus menggunakan cara lain.


Berpikir! Berpikir! Bagaimana caranya menghadapi wanita seperti ini? Tak mungkin googling dulu. Tak ada waktu.


Karena dia juga berani, berarti aku juga harus menggunakan cara yang berani. Saat posisi mobil berada di jalur yang mendukung. Aku cepat-cepat melepas sabuk pengaman. Lantas merebut kemudi dengan cara memeluknya erat.


"Hey, lepas!"


Dia berontak, kemudi oleng. Aku merangsek. Terpaksa sedikit mendudukinya dengan satu kaki agar bisa menginjak rem.


'Ckiiit.'


Berhasil. Mobilku terpelanting ke kiri namun tak sampai terjadi banturan. Listi mematung. Mengatur napas sambil menatapku.


"Maaf," ucapku setelah mobil berhenti dan kunci mobil berhasil kurebut.


"Aaaa! Berani sekali kamu menindih kakiku dan memelukku! Dasar mesum!"


'Plak.'


Setekah melepas sabuk pengaman, ia menamparku. Giginya gemeretak. Dia marah.


"Huuu huuu." Lalu menangis sembari memeluk setir. Sesekali memukuli setir juga.


"Maaf, tadi itu berbahaya."


"Anda senang ya melihatku seperti ini?! Hukks."


"Lumayan," jawabku.


"Apa?! Dasar pria tak beperasaan! Kudoakan agar kamu jadi polisi tidur!" teriaknya.


Lalu memukuli bahuku membabi buta. Aku pasrah. Dari jarak sedekat ini, ternyata ... dia terlihat lebih cantik. Jangan bilang kalau aku tertarik dengan wanita ini. Oh, itu tidak mungkin!

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2