
Iptu Sabil Sabilulungan
Ada yang mengatakan jika wanita lebih sering marah-marah jika dia merasa telah dikecewakan oleh pasangannya. Rasa kecewa inilah yang menyebabkan wanita tiba-tiba marah tanpa sebab. Aku harus segera meredam amarahnya. Jangan sampai marahnya berlarut-larut. Kalaupun aku tidak tahu permasalahannya, aku rela meminta maaf.
Masalahnya adalah, salahku apa coba? Bingung. Dia berjalan cepat di depanku. Untuk sementara waktu, biarkan saja dulu. Aku akan memberinya kesempatan untuk meluapkan amarahnya. Lebih baik aku fokus pada cara berjalannya yang terlihat bak model di atas catwalk. Seksi. Panggulnya meliuk-liuk. Astaghfirullah, apa yang kupikirkan?
Segera menekan tombol lift dan mempersilahkannya masuk terlebih dahulu. Aku menyusul dan berdiri di sampingnya. Lalu menekan tombol menuju area parkiran.
Senangnya, di dalam lift hanya ada aku dan dia. Jadi bisa memandang wajahnya berlama-lama. Rasanya ingin menciumnya lagi. Tapi, di atas sana ada CCTV. Untuk saat ini, hanya bisa membayangkan peristiwa indah yang terjadi di celah tangga darurat. Spontan tersenyum.
"Senyum-senyum lagi!" ketusnya.
"Apa marahnya sudah selesai?" tanyaku.
"Siapa yang marah?! Aku tidak marah! Aku hanya kesal!" tandasnya.
"Oh, sedang kesal ya? Ya sudah, lanjutkan kesalnya. Kalau kesalnya sudah kenyang. Beri tahu aku."
"Pak Sabil menyebalkan!" ocehnya. Dia melipat tangan di dada. Lalu kembali meninggalkanku saat pintu lift terbuka dan tiba di lantai dasar.
"Tia, tunggu dong ayang. Ayang sebenarnya kenapa 'sih bicara atuh geulis (cantik)." Aku berjalan cepat untuk mengejarnya.
"Sabodo! (Terserah)!" teriaknya. Dari mana dia tahu kata sabodo? Mungkin pernah mendengar dari bu Daini.
"Ayang, ini belun terlalu malam, lho. Apa kamu mau makan dulu. Ke mall, yuk! Belanja yuk!" ajakku. Menurut penelitian, belanja adalah aktivitas yang sangat disukai oleh setiap orang, terutama wanita.
"Enggak mau!" tolaknya. Dia melewati mobilku.
"Eh, ayang. Tunggu, mau ke mana?" Aku kembali mengejarnya. Sebab, dia tidak berhenti di mobilku.
"Aku mau naik taksi! Anda pulang saja! Tak perlu mengantarku!"
Ya ampun, cewek ini maunya apa 'sih? Sayangnya, aku tidak bisa marah. Walaupun dia pemarah, aku tetap menyukainya. Apa seperti ini definisi cinta buta? Ayah, apa bunda juga dulunya pemarah? Apa seperti ini bisa disebut sebagai kisah cinta yang diwariskan?
"Oke, kalau kamu mau naik taksi, aku juga naik taksi." Aku berdiri di sampingnya. Jangan harap bisa lepas dariku Listia Anggraeni Mutiara!
"Aku mau naik KRL!" katanya. Aku sampai terkejut mendengarnya. Di dekat sini memang ada stasiun KRL.
"Ikut," jawabku singkat.
Padahal, ada taksi yang melintas. Tapi wanita ini benar-benar nekad. Dia berjalan cepat keluar rumah sakit tanpa memedulikanku. Mungkin, dia berpikir aku akan menyerah. Sayangnya, aku adalah pria yang keras. Maksudku, keras dalam hal mencapai keinginan. Bahkan, komandanku pernah mengatakan jika aku adalah pemuda yang berani dan ambisius.
...⚘️⚘️⚘️...
Listi tidak main-main dengan ucapannya. Dia bersungguh-sungguh mau naik KRL. Sekarang, ia sedang menaiki tangga ke arah peron yang saat ini dipadati calon penumpang. Ya ampun, Tia. Aku geleng-geleng kepala, namun tidak akan menyerah begitu saja.
Aku memfokuskan pandangan pada sosoknya yang berada di antara banyaknya calon penumpang. Dia terlihat menonjol. Maksudku, dia paling cantik. Sial, aku melihat beberapa orang pemuda yang sepertinya sengaja berjalan sambil memepetnya.
"Masih luas 'kan tangganya? Bisa geser?" ucapnya.
Dia mendelik pada pemuda iseng itu. Bagus ayang, lanjutkan! Aku tersenyum sinis pada pemuda itu. Langkah Listi kian cepat saat ia melihat keberadaanku.
Jujur, aku jarang naik KRL. Seringnya naik kereta api. Apa lagi saat masih pendidikan, biasa naik kereta api Jakarta-Semarang. Listi sudah memidai barcode di HP-nya untuk memasuki peron. Akupun demikian. Segera memidai bacode di pintu masuk yang berada di sampingnya.
"Ayang, yakin mau naik KRL? Kenapa tidak MRT saja? Lihat, penumpangnya padat." Aku sudah berada di belakangnya dan berusaha melindunginya agar tidak terseret penumpang lain.
"Kalau tidak suka, Anda pergi saja! Bukankah tadi sedang ketemuan sama adik tingkat?"
Sambil terus berjalan menuju gerbong. Dia hendak ke gerbong khusus wanita, sayangnya sudah penuh. Syukurlah, berarti, aku dan dia bisa berada di gerbong yang sama. Tunggu, dia bilang apa tadi? Adik tingkat? Apa dia marah gara-gara aku bertemu dengan adik tingkatku? Aku langsung tersenyum.
"Apa salahnya bertemu adik tingkat? 'Kan silaturahmi."
Kami sudah berada di dalam gerbong yang cukup padat. Tidak ada kursi yang tersisa. Hanya bisa berdiri. Apa setiap hari sepadat ini? Entahlah. Karena penasaran, aku bertanya pada petugas yang melintas, posisi tetap siaga. Melindungi Listi tentunya. Dia berdiri di dekat pintu, dan itu membuatku khawatir.
"Pak, maaf. Apa seluruh gerbong padat seperti ini?"
"Ya, Bang. Malam ini memang padat. Biasanya 'sih lenggang."
"Kok bisa?" Aku keheranan.
"Hahaha, mereka habis demo kenaikan BBM, Bang," jelasnya.
"Apa?!" Pantas saja.
Aku menghela napas. Lalu membalikan badan dan berdiri tepat di belakang Listi. Aku merentangkan kedua tanganku pada pada pintu KRL untuk melindunginya. Listi diam saja. Aku yakin dia juga risih dengan kondisi ini. Apa ini pengalaman pertamanya naik KRL? Kenapa dia tegang sekali?
"Hei, are you oke?" bisikku. Sambil mengecup kecil cuping telinganya.
"Ihh, apa 'sih!"
Dia bergidik dan mengusap telinganya. Lanjut memandang keluar. Ke sisi perlintasan yang dihiasi oleh lampu-lampu yang berasal dari rumah warga sekitar dan bangunan lain seperti ruko dan semacamnya.
"Apa baru pertama kali naik KRL?"
"Aduh," keluhnya. Saat ada penumpang baru yang masuk dari arah lain dengan tergesa dan membuat tubuhku tak sengaja menghentak tubuhnya.
__ADS_1
"Maaf," kataku.
Lalu sigap memeluknya dan melindungi kepalanya dengan lenganku agar tidak membentur pintu KRL. Adegan ini membuat jantungku tidak baik-baik saja. Listi pasti bisa mendengar degup jantungku. Serius, ini seperti adegan di film romantis. Dan kejadian tak sengaja menghentak tubuhnya kembali terulang saat ada segerombolan penumpang yang berpindah ke gerbong lain.
"Maaf," bisikku.
Lalu kejadian tidak diduga terjadi. Tiba-tiba ada wangi tidak sedap alias burket. Listi spontan menutup hidung, akupun demikian. Sialnya, pemilik burket itu sepertinya ada di sampingku.
"Kamu merasakan baunya?" bisiku sambil mengulum senyum karena merasa lucu dengan kondisi ini.
"Hmm, ini lebih bau daripada kentutku," dia juga bicara dengan sangat pelan. Aku sampai menundukkan kepala agar bisa mendengarnya lebih jelas lagi.
"Mau terbebas dari baunya?" bisikku. Dia mengangguk.
"Begini saja," sambil merebahkan kepalanya agar menempel di dadaku. Awalnya dia terkejut. Namun, setelah menyadari sesuatu, Listi akhirnya tersenyum.
"Nah, kamu tahu maksudku? Dadaku wangi, bukan?" Kembali berbisik. Listi mengangguk. Ia bahkan menarik kemeja di bagian dadaku untuk dihidunya. Berhasil, tak sia-sia pakai minyak mahal. Hehehe, asyik juga ya berdesak-desak seperti ini?
Sayangnya, stasiun terdekat ke rumah Listi sudah ada di depan mata. Artinya, kesempatan langka ini akan segera berakhir. Eh, tunggu. Kenapa Listi tidak mengajak turun? Ya sudah, biarkan saja. Aku akan pura-pura tidak tahu.
"Pak, Kebayoran belum kelewat, 'kan? Aku tidak konsentrasi," tanyanya. Apa dia tidak konsentrasi karena posisi kami sangat dekat?
"Kok panggil 'bapak' lagi? Aku tidak tahu ayang," berbohong. Padahal stasiun Kebayoran sudah terlewat sedari tadi.
"Sekarang mau ke stasiun Sudimara, Mbak. Kebayoran sudah kelewat dari tadi. Mbaknya memang enggak dengar saat kita lewat Pondok Ranji dan Jurang Mangu?" jelas penumpang yang terindikasi pemilik burket.
"Hahh, apa?!" Listi terkejut.
"Apa?!" Aku terkejut belakangan. Terkejut yang dibuat-buat.
"Haish, 'kok bisa kelewatan?" keluhnya.
"Terus bagaimana dong, ayang?"
"Ya kita turun di Sudimara 'lah," jawabnya.
"Maaf ya, aku tidak tahu kalau kamu mau turun di Kebayoran."
"Sudah terlanjur," katanya.
"Ada yang kosong, ayang." Aku segera menariknya agar duduk. Lalu aku berdiri di depannya.
"Bisa tidak enggak berdiri di situ?" pintanya.
"Ish," dia memalingkan wajah.
Sekilas, aku melihat pipinya merona. Ada apa gerangan? Beberapa saat kemudian, aku baru menyadarinya. Ternyata, pemandangannya terganggu karena keberadaanku. Jika dia duduk dan aku berdiri di depannya, yang dia lihat adalah .... Baiklah, aku paham. Segera bergeser dan berdiri di dekat pintu sambil bersidekap.
...⚘️⚘️⚘️...
Akhirnya, bisa naik taksi juga. Sekarang sedang menuju rumahnya. Perjalanan tadi sangat luar biasa. Tidak akan kulupakan, dan akan kutulis di buku catatan perjalanan cinta.
"Kenapa? Mari bicara?" Sambil meraih tangannya dan memegangnya erat.
"Apa adik tingkat yang Anda temui perempuan?" Langsung bertanya demikian.
"Hahaha," aku spontan tertawa. Baru menyadari sepenuh hati kalau dia ternyata adalah pecemburu.
"Malah tertawa! Aku mendengar suara wanita saat menelepon Anda!" teriaknya. Sampai-sampai pak sopir taksi ngarencod (terperanjat karena kaget).
"Ya, adik tingkat yang aku temui memang perempuan."
"Sudah kuduga! Apa adik tingkat Anda juga memanggil aa?" Pertanyaannya membuatku bingung. Tapi, aku jadi bahagia karena menyimpulkan jika Listi sudah ada rasa terhadapku.
"Tidak, dia tidak memanggilku aa. Dia biasa memanggilku 'bang Abil.' Kenapa memangnya?"
"Bohong! Aku jelas-jelas mendengarnya," dia menarik tangannya dan bergeser menjauh.
"Sebentar, apa kamu tidak senang orang lain memanggilku aa?"
"Senang-senang saja, tidak masalah. Lagi pula, Anda mau dipanggil apapun bukan urusanku."
"Sebentar ayang. Lalu, masalahnya apa kalau kamu tidak masalah?" Aku menautkan alis.
"Aku tidak suka dengan pria yang dekat sama banyak wanita. Entah itu teman atau rekan kerja, aku tidak suka," tandasnya.
"Oh, jadi itu masalahnya? 'Kan kita bisa bicara baik-baik ayang. Tidak harus marah-marah sampai naik KRL segala, 'kan?"
"Suka-sukaku," timpalnya.
"Tia," sambil bergeser mendekatinya.
"Apa-apa! Pria selalu menyalahkan wanita. Pria itu rata-rata egois, karena merasa kuat, jadinya terlalu sombong," tuduhnya.
"Baik, aku minta maaf. Lain kali, aku tidak akan menemui teman yang berjenis kelamin perempuan tanpa seizin kamu. Kecuali untuk urusan yang berhubungan dengan pekerjaanku."
__ADS_1
Dia terdiam. Masih memalingkan wajah. Pak sopir saat kutatap sedang mengulum senyum. Aku yakin ia menyadari kalau kami adalah pasangan yang tengah bertengkar.
"Tapi, tolong jangan seperti ini lagi. Aku berani menemui adik tingkatku karena dia juga bersama suaminya."
"Apa?!" Listi terkejut. Sejenak melirikku dan berpaling lagi.
"Suaminya juga bukan orang asing, dia adalah keponakanku."
"A-apa?" Kembali terkejut. Sekarang menunduk sambil menautkan jemarinya.
"Saat kamu menelepon, aku, Febi, dan Rian sedang mengobrol. Saat itu, Febi sedang menyuapi Rian, lalu Rian tidak sengaja menumpahkan kopi milikku dan mengenai Febi. Aku beteriak karena khwatir Febi kenapa-napa. Apa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan yang membuatmu marah? Jika ya, apa kamu bisa memaafkanku?"
Aku merangkul bahunya. Dia tidak menolak. Lega rasanya.
"Tunggu, apa kamu mengira Febi memanggilku aa saat dia sedang menyuapi, Rian? Hahaha, ya ampun ayang, Febi bilang 'a' karena sedang menyuapi suaminya. Hahaha."
Aku tak kuasa menahan tawa. Listi mengatupkan bibirnya. Pipinya merona. Aku yakin dia pasti merasa malu karena telah salah sangka. Pak sopirpun tersenyum-senyum.
"Aku haus," dia mengambil kemasan air mineral yang tadi sempat kubeli. Aku merebutnya sebentar untuk membuka tutup kemasannya.
"Terima kasih," ucapnya. Lalu aku mengambil bekas minumannya. Aku meminun sisanya.
"Kenapa meminum bekasku? 'Kan masih ada yang baru?" protesnya.
"Kan kita sudah pernah berbagi saliva, ayang," bisikku. Dia mati kutu. Sekarang pura-pura sibuk memainkan ponsel. Aku segera mengirimnya pesan.
"Kamu sudah salah sangka padaku. Apa kamu tidak ada niat untuk meminta maaf?" Pesan terkirim.
"Maaf," balasnya singkat.
"Aku tidak akan memaafkanmu."
"Terserah."
Lucu sekali. Padahal, posisi kami berdekatan. Tapi bertukar pesan seperti ini malah lebih asyik.
"Give me your lips again. I wanna kiss you baby." Pesan terkirim.
"Don't hope anymore," balasnya.
Aku membalasnya dengan emoji menangis.
"Dosa tahu!" Ditambah dengan stiker menonjokku.
"Tapi 'kan enak ayang? Kamu juga suka, kan?" godaku.
"Balasannya di akhirat enggak enak tahu!" Wah, rupanya ayangku sudah terkontaminasi energi positif dari bu Daini.
"Biar yang kita lakukan jadi pahala, kita segera menikah yuk!" ajakku.
Saat kulirik, dia sedang menatap ponselnya sambil tersenyum. Apa itu pertanda baik? Semoga.
"Aku mau shalat hajat dulu. Beri aku waktu." Fix, dia adalah bu Daini versi sholehot. Kedepannya, semoga Listi juga mau berhijrah.
"Sampai kapan ayang?"
"Sampai ada jawaban dari langit. Semoga tidak lama."
"Baiklah." Aku lantas meraih tangannya dan kukecup berulang kali.
"Ehm, ehm, sudah sampai," seru pak sopir sambil berdeham. Listipun bersiap untuk turun.
"Emm, a-apa A Abil enggak mampir dulu?" Malu-malu.
"Mau, aku mau mampir dulu. Kalau kemalaman, aku mau sekalian menginap saja." Akupun turun.
"A-apa?" Dia kaget. Aku yakin niatnya hanya berbasa-basi. Sayangnya, aku justru akan menggunakan kesempatan ini untuk lebih dekat dengannya.
"Te-terus, mobil Anda bagaimana?"
"Mobilku? Gampang, 'kan tinggal menyuruh seseorang untuk mengambilnya. Sambil memberi kode pada pak sopir taksi agar tidak menungguku.
"Ba-baik. Ya sudah, masuk atuh," ajaknya.
"Haturnuhun geulis (terima kasih cantik)."
Aku mengikutinya dengan perasaan bahagia. Malam ini, rembulanpun bersinar terang-benderang. Seolah turut merasakan kebahagiaanku.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
"Terima kasih kepada reader tercinta yang minggu ini telah mendukung nyai dengan memberikan votenya. Hari Senin besok, jika berkenan, boleh vote nyai ya. Jangan lupa like dan komen agar nyai semangat mengintainya."
__ADS_1