Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tragedi [Bagian 1]


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Lelah ....


Rasanya enggan untuk beranjak. Sekujur tubuhku seolah remuk. Semalam, gara-gara pengaruh obat itu, durasinya lama sekali. Walaupun keletihan, tapi aku menyukainya. Apa ini karena efek hormon kehamilan?


Kata dokter, seiring dengan hilangnya sejumlah gejala yang tidak menyenangkan di trimester pertama, dorongan s e k s u a l ibu hamil di fase ini mungkin saja akan meningkat. Hal ini karena tubuhku mulai beradaptasi dengan kehamilan dan menjadi lebih energik.


Perasaan pusing, mual, dan muntah-muntah itu, akhir-akhir ini memang sudah tidak pernah terjadi lagi. Aku juga merasa jika bagian dadaku jadi lebih besar dan lebih sensitif.


Dokter juga mengatakan akan terjadi pembengkakkan di salah satu organku. Pembengkakkan ini menyebabkan munculnya darah ekstra ke beberapa bagian tubuh serta mengakibatkan rasa yang lebih nikmat dan menyenangkan saat melakukan hubungan intim. 


Karena terjadi peningkatan kepekaan pada organ-organ sensitifku, tidak heran jika dorongan untuk melakukan hubungan itu jadi meningkat. Namun aku selalu berusaha menyembunyikannya dari pak Zulfikar. Ya, aku tahu jika 'meminta atau mengajak terlebih dahulu' pahalanya lebih besar. Tapi, aku belum berani melakukannya karena malu dan canggung.


Padahal sebaiknya, aku harus memanfaatkan fase ini. Sebab kata dokter, berhubungan intim selama masa kehamilan adalah salah satu cara yang baik untuk tetap terhubung secara mental, emosional, dan fisik.


Semalam, aku begitu menginginkannya, namun pak Zulfikar tak berada di sampingku. Untungnya, ada kak Listi yang bisa aku ajak bicara. Jadi, aku bisa melupakan hasratku hingga akhirnya bisa tertidur tanpa memikirkan hal itu. Ya ampun, aku malu pada diriku sendiri.


Saat aku terbangun, membuka mata dan mengira jika sentuhan nakal itu adalah mimpi, aku terkejut luar biasa. Dia yang kurindukan dan kuinginkan, benar-benar ada di hadapanku. Aku menyentuh wajahnya berulang kali untuk memastikannya. Sikapnya aneh dan tak seperti biasanya. Pak Zulfikar tiba-tiba menyerang bibirku dan merabai tubuhku dengan tergesa, menggebu-gebu dan sedikit kasar. Dia bahkan tak memedulikan keluhan kesakitanku.


"Ma-maaf sayang, a-aku dijebak Dewi. Aku di bawah pengaruh obat kuat. Ma-maukah kamu menolongku?"


Ternyata, hal itu terjadi akibat ulah bu Dewi. Pucuk dicinta ulampun tiba. Aku tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera membuka diri dan memasrahkan sekujur tubuhku untuk menuntaskan hasratnya dan juga hasratku.


Aku menghela napas, bibir ini spontan tersenyum. Kejadian semalam terbayang kembali dan membuat bulu romaku merinding.


Syukurlah, bayi di dalam rahimku baik-baik saja. Lagi, aku tersenyum sambil mengusap perutku. Merasa senang karena aku tak mengalami keluhan apapun pasca melakukan penyatuan yang tak biasa dan menegangkan itu. Semalam, pak Zulfikar seolah-olah lupa kalau aku sedang hamil.


"Senyum terus, dikasih apa kamu sama pak Direktur, Neng," goda kak Listi yang baru saja masuk ke kamarku setelah aku mengiriminya pesan.


"Hehehe." Aku bingung mau jawab apa. Ya sudah, hanya bisa tertawa.


"Sini, aku saja."


Kak Listi mengambil sapu yang ada di tanganku. Sebenarnya, kamar ini sudah disapu dan dipel, tapi aku merasa belum cukup bersih.


"Tak perlu, Kak."


"Enggak apa-apa Dai, gue juga di rumah suka nyapu, 'kok. Ya, walaupun jarang," katanya. Si sapu sudah berpindah ke tangannya.


"Eh, Dai. Gue tidak apa-apa ya kalau enggak ada pak Direktur bilang 'gue.' Kalau ada pak Direktur, gue tak berani. Katanya, kata 'lu' dan 'gue' itu kurang sopan. Padahal ya Neng, kata 'lu' dan 'gue' itu sudah ada di KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia," tambahnya sambil sibuk menyapu. Tapi, nyapunya asal. Baru kali ini aku melihat arah nyapu yang seperti itu.


"Tak masalah, Kak. Kakak mau panggil aku 'lu' juga tidak apa-apa, kok. Tapi, pak Zulfikar memang pernah melarangku mengatakan 'lu.' Alasannya, karena nenek-kakeknya dari mama Yuze bermarga Lu. Jadi, marga Lu itu sebenarnya berasal dari marga Wei, dan merupakan marga yang disegani karena nenek moyang marga Lu adalah pendiri negara Qi pada era kekaisaran China."


"Nenek moyang marga Lu adalah keturunan kaisar legendaris yang sangat berjasa dalam mengajarkan masyarakat di negeri tirai bambu tentang pertanian, dan pengendalian banjir. Bahkan, rakyat dari suku minoritas di Tiongkokpun banyak yang mengadopsi nama Lu sebagai nama marga. Seperti Manchu, Mongol, Tujia, Li, Tu, dan Korea," terangku panjang lebar.


"Kamu ngomong apa 'sih, Neng? Hahaha, becanda. Oh, jadi itu ya alasannya. Baik, gue jadi faham. Pantas saja mata pak Direktur suka mendelik kalau gue bilang lu sama kamu. Oiya, kita mau ke kontrakannya jam berapa, Neng?"


"Selesai aku shalat Dhuha, kita berangkat ya, Kak."


"Oke. Emm, Neng, maaf ya, hehehe. Semalam, 'kok pak Direktur pulang 'sih? Mana kayak orang mabuk lagi. Gue kaget tahu, Neng. Gue pikir dia mabuk. Mukanya merah banget, napasnya juga ngos-ngosan gitu. Tapi gue enggak mencium bau alkohol 'sih."

__ADS_1


Aku merenung sejenak. Tak mungkin 'kan kalau aku cerita? Suami-istri dilarang menceritakan urusan ranjangnya pada siapapun. Kecuali pada dokter karena alasan medis yang sifatnya darurat dan mendesak.


"Aku juga heran, Kak. Mungkin baru selesai olah raga futsal bareng teman-temannya. Pak Zulfikar pulang dulu ke sini karena mau mengambil sesuatu, Kak." Maaf kak Listi. Aku terpaksa berbohong. Semoga aku diampuni.


"Oh, tak kira karena ingin tidur sama kamu, Neng. Hehehe. Ngomong-ngomong, 'kok cara jalan kamu agak beda 'sih, Neng? Agak ringkih gimana gitu."


Malah memperhatikan caraku berjalanku. Ya ampun, kak Listi teliti banget 'sih. Heran 'deh. Padahal, aku sudah berusaha berjalan normal. Aduh, malu sekali. Terpaksa harus berbohong lagi. Hmm, alasan apa lagi ya?


"Emm, s e l a n g k a n g a n ku sedikit lecet, Kak. Karena faktor kehamilan dan berat badan yang bertambah, underwareku banyak yang minimalis size. Kalau orang Sundamah suka bilangnya babak, Kak. Artinya lecet." Astaghfirullah, aku berbohong lagi.


"Hahaha, kamu berbohong ya, Neng? Ayo ngaku saja. Muka kamu merah lho. Terus, kamu juga pakai pegang-pegang ujung hidung segala. Itu pertanda kalau kamu sedang berbohong."


"Apa?! Kak Listi! Sudah ah! Jangan bahas itu lagi. Lebih baik, Kakak juga siap-siap untuk shalat Dhuha," elakku.


"Hahaha, maaf Neng Dai."


"Shalat Dhuha itu keutamannya banyak, Kak. Bisa mendatangkan rizki, diampuni dosa, bernilai sedekah, bisa mengijabah doa, menghindari keburukan, menyehatkan tubuh, dan akan membuat wajah jadi bercahaya. Bahkan ada hadist yang mengatakan berpahala haji dan umroh, serta akan dibuatkan pintu khusus di surga," terangku. Sengaja mengalihkan tema pembicaraan.


"Yah, kalau kamu sudah ngomong masalah agama, gue menyerah Neng. Ya sudah, gue juga mau shalat ah. Sebenarnya, gua juga suka shalat Dhuha, Neng. Tapi jarang, hehehe, bisa diitung sama jari. Apa lagi shalat Tahajud, beuh jarang banget. Ngantuk dan malas tahu tahu, Neng. Gue bangun 'sih, tapi untuk pipis doang, setelah pipis ya bobok lagi, hahaha," ocehnya.


"Godaannya memang banyak, Kak. Aku juga sama 'kok, suka malas dan ngantuk berat. Tapi selalu dipaksakan."


"Apa lagi kalau lagi dipeluk sama pak Direktur kali ya, Neng. Malasnya pasti berkali lipat."


"Kak, untuk menjadi muslim sejati itu bukanlah perkara yang mudah. Pasti banyak tantangan dan rintangannya. Kebaikan tidak serta-merta hadir kecuali dengan pembiasaan dan ketekunan. Jadi, strategi terbaik untuk terus-menerus meningkatkan kualitas iman dan Islam kita tiada lain kecuali dengan semangat melakukan pembiasaan yang kadang kala harus dilakukan dengan sedikit pemaksaan."


"Wah, aku setuju sama kamu, Neng." Kak Listi mendekat. Lalu mencium perutku.


"Sip. Gue setuju. Ngomong-ngomong ibadah yang nikmat, gue jadi kepikiran sama ---." Kak Listi menjeda kalimatnya. Pipinya mendadak merona.


"Ih, Kak Listi!" Aku tahu apa yang dia pikirkan.


"Hahaha, tapi gue benar 'kan, Neng?"


"Ya, Kakak benar. Makanya, cepat menikah 'dong, Kak."


"Gue juga mau, Neng. Tapi, hubungan gue sama Akmal sedang di ujung tanduk."


Kak Listi lantas menceritakan permasalahannya dengan kak Akmal. Ia juga menceritakan tentang kesalahfahaman kak Amal terhadap pak Sabil.


"Hahaha."


Aku tertawa setelah mendengar jika kak Listi menganggap pak Sabil sebagai musuh bebuyutannya.


"Gue benci sama makhluk itu, Neng. Dia benar-benar sombong. Kalau saja dia bukan temannya pak Direktur, gue sudah tendang dia jauh-jauh sampai ke planet pluto supaya gue dan dia enggak akan bertemu lagi."


"Sebenci itukah Kakak sama pak Sabil? Kak, jangan terlalu membencinya. Bagaimana kalau pak Sabil berjodoh sama Kakak? Bisa saja, kan?"


"Dih, sorry ya, Neng. Dia bukan tipe gue. Amit-amit 'dah. Gue kagak minat sama aparat. Gue maunya nikah sama pengusaha. Minimal kayak Akmal. Akmal juga 'kan pengusaha, Neng."


"Kak Akmal memangnya pengusaha apa, Kak? Bukan afiliator, kan?"

__ADS_1


"Akmal punya usaha loundry dan foto copy. Cabangnya juga sudah lumayan banyak, Neng. Loundry ada empat cabang. Kalau foto copy baru tiga cabang. Sekarang sedang merintis usaha baru jasa cleaning room."


"Wah, hebat atuh ya kak Akmal."


Kak Listi menghela napas. Ia melamun sejenak. Berarti, hubungannya dengan kak Akmal benar-benar sedang tidak baik.


"Ya sudah, kita shalat Dhuha yuk, Kak!"


Ia mengangguk. Lalu bergegas untuk berwudhu.


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggraeni


"Jangan pulang terlalu malam ya, Neng. Kak Listi, tolong jaga Daini ya," kata bu Yuze.


"Siap, Bu," jawabku.


Aku dan Daini hendak berangkat ke kontrakan. Sampai jam sepuluh pagi ini, aku belum melihat pak Direktur pulang. Dia masih bersama istri tuanya. Tapi, tadi setelah shalat Dhuha, aku melihat Daini menerima telepon dari pak Direktur. Namun, aku tak bisa menguping yang mereka bicarakan karena Daini bicaranya sangat pelan.


Maafkan hamba Ya Rabb, sampai saat ini, aku masih suka menguping dan bergosip. Padahal, bergosip itu termasuk ghibah. Kata Daini, Alquran telah mengibaratkan mereka yang gemar menggunjingi atau mengghibah orang lain sebagai 'orang yang tega memakan bangkai saudaranya sendiri.' 


Sayangnya, tayangan yang mengandung berita gosip begitu marak. Hal ini, kata Daini menandakan jika pengawasan terhadap tayangan-tayangan seperti itu belum dijalankan dengan efektif, bahkan sejumlah peraturan tak ditaati dengan baik oleh para pengelola stasiun televisi.


"Ada pengawal juga Ma. Mama tak perlu khawatir. Aku baik-baik saja," timpal Daini.


Bersama bu Yuze, ia sedang menyiapkan keranjang kecil yang nantinya akan digunakan untuk menyimpan hasil paneh buah tomat dan cabai.


"Kalau sudah sampai, kabar Mama dan Papa ya." Tiba-tiba pak Aksa datang.


"Pasti, Pa." Daini langsung menghampiri pak Aksa untuk membantu mendorong kursi rodanya.


"Dai, tak usah. Biar sama suster saja, kamu sedang hamil," cegah pak Aksa.


Setelah pamitan, aku dan Dainipun pergi. Daini naik mobilku. Sementara pak Reza dan dua orang pengawal berada di dalam mobil lain. Entah siapa nama mereka. Yang aku kenal hanya pak Reza.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kak, aku mau es cendol, kita berhenti dulu ya."


Namanya juga bumil. Melihat yang segar-segar, langsung kelaparan. Mobil pak yang dikemudika pak Rezapun berhenti. Tapi tak turun.


"Karena dekat lagi, kita makan di kontrakan saja ya, Neng. Mau berapa bungkus?"


"Lima bungkus berarti, Kak. Eh, enam saja, 'deh. Takut aku mau nambah," katanya.


Setelah mendapatkan es cendol, perjalananpun berlanjut. Ketika memasuki gang, mataku beredar karena sebelumnya, di area ini, aku pernah merasa ada yang mengintip mobilku.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2