Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Menjadi Pasangan


__ADS_3

Siti Fatimah


Ibu mana yang tidak sedih setelah mengetahui kenyataan pahit yang terjadi pada putrinya. Aku baru saja dijelaskan oleh suamiku tentang sebuah tragedi yang terjadi pada Daini. Setelah aku siuman, abah mengatakan kebenarannya.


Aku segera masuk ke kamarku dan menangis sepuasnya.


"Huuu, Daini ... deudeuh teuing (kasihan sekali), anaking jimat awaking (anakku pujaan hati belahan jiwa), malang benar nasibmu, Nak." Airmataku menganak sungai saat tangan ini mengambil kebaya putih yang akan digunakan oleh Daini saat ijab kabul.


Kebaya ini adalah peninggalan dari ibuku. Saat menikah dengan bapak, ibu memakai ini. Pun saat aku menikah dengan abah, aku juga menggunakan baju ini. Dulu, aku berpikir pasti akan bahagia sekali saat aku mengambil baju ini untuk dipakaikan pada putriku di hari bahagianya.


Tapi ... kenyataan yang terjadi malah sebaliknya. Aku justru bersedih dan tak bahagia sama sekali. Ingin aku menolak pernikahan ini dan membantah keputusan suamiku. Namun kata suamiku ... jalan terbaik ya harus dengan pernikahan ini.


Yaitu sebuah pernikahan darurat yang aku sendiri tidak tahu akan sampai mana Daini bisa bertahan. Pernikahan ini tidak didasari cinta. Semua berawal dari kesalahan dan ketidak sengajaan, namun kepedihan yang ditimbulkan adalah kenyataan.


Kepedihan ini terasa berlipat ganda saat aku tahu bahwa laki-laki itu adalah salah satu putra konglomerat tersohor di negeri ini. Dengan sombongnya dia bahkan mengatakan mampu memberikan mahar hingga sepuluh miliar untuk menikahi putriku.


"Daini ...." Baju berwarna putih tulang ini kubasahi dengan air mata.


Sebagai manusia, aku bukannya menolak takdir ini. Tapi sebagai ibu, aku tentu saja tidak rela jika setelah pernikahan ini anakku dicampakkan. Lalu bagaimana jika istri pertamanya mengetahui semua ini? Bagaimana dengan nasib putriku kedepannya?


Aku takut putriku dihina dina oleh orang-orang yang tidak tahu kebenarannya, tidak mau tahu, ataupun menutup telinga mereka dari fakta sebenarnya.


"Ya Allah ... tolong kuatkan hati putriku jika di masa mendatang ia akan terluka akibat pernikahan ini." Aku menengadahkan tangan, memohon kepada Yang Maha Kuasa.


"Jika pernikahan ini adalah ikhtiar terbaik, tolong bukakan pintu hati pria itu untuk mencintai Daini dan bisa berlaku adil pada Daini maupun pada istri pertamanya. Tolong bukakan hati istri pria itu agar bisa menerima Daini dan ikhlas berbagi ranjang dengan putriku."


Doa ini terdengar begitu menyakitkan. Aku pribadi tidak sanggup jika harus berbagi ranjang dengan wanita lain. Namun demi kebahagiaan putriku, dengan segala kerendahan hati dan kehinaanku, aku rela menguntaikan doa itu ke hadapan-Nya.


"Ummi, apa bajunya sudah siap?" Ceu Jani mengetuk pintu dan masuk ke kamarku. Aku segera mengusap air mata agar kesedihan ini tidak terlalu kentara.


"Su-sudah Ceu, Dainina tos dangdos (Daininya sudah berias)?"


"Parantos (sudah) Ummi. Maniku geulis pisan, abdi pangling ningalina (cantik sekali, saya pangling melihatnya)," puji Ceu Jani.


"Tos teu ceurik, kan? (sudah tidak nangis, kan?)."


"Si teteh masih nangis Ummi, untungna (untungnya) riasannya tahan air, tapi lumayan tenang sih, gak terlalu sesegukan," jelas Ceu Jani.


Setelah itu, aku dan Ceu Jani beranjak ke kamar Daini, di hari yang seharusnya bahagia ini, aku sengaja memanggil sahabat dekatku yang biasa merias pengantin untuk memoles wajah Daini agar lebih cantik.


Aku ingin agar momen ini menjadi spesial walaupun di baliknya ada berjuta kesedihan. Daini sebenarnya menolak untuk dirias, tapi aku memaksanya. Setibanya di kamar Daini, aku termangu, aku terpesona pada putriku sendiri. Dia tengah melamun menatap cermin. Raut kesedihan terpancar di wajahnya.


Aku berusaha tegar. Aku tidak mau menambah kelukaan dan kesedihan Daini. Aku menghampirinya, tersenyum, dan membantunya memakaikan baju pengantin turun-temurun ini. Baju ini tetap bagus, sebab selalu dirawat secara berkala.


"Ummi ... a-aku ---." Dia menatapku, matanya berkaca-kaca. Seolah ingin mengatakan banyak hal kepadaku.


"Ssstt, Ummi tidak mau mendengar keluhan apapun, ini jalan hidup kamu, Dai. Allah tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Stop mengeluh, stop bersedih, mari tersenyum, Dai. Walaupun hati Teteh sedang terluka, untuk saat ini, mari kita pura-pura bahagia, kamu setuju?"


"Ta-tapi, Ummi ...." Air mata putriku mengkristal di pelupuk matanya.


"Teteh, Ummi mohon, ikhlas ya cantiknya Ummi, Ummi tahu kamu kuat, ayo pakai baju pengantinnya geulis (cantik), Ummi bantu ya."


Dainiku tidak jadi menangis. Dengan bibir gemetar ia berkata ....


"Muhun (ya) Ummi," lirihnya.


"MasyaAllah, kamu cantik sekali. Kamu tetap di sini sama Ceu Jani ya, Ummi mau menyaksikan ijab kabulnya. Setelah sah, nanti Ummi akan ke sini lagi untuk menjemput kamu dan menyerahkan kamu pada suami kamu." Aku segera membalikan, badan melengos dari Daini sebelum Daini sempat mengatakan apapun.


Aku bergegas meninggalkannya karena tak kuasa menahan tangis. Dadaku sesak saat melihat wajah Daini.


.


Di ruang tamu, para pria sudah berkumpul. Mereka duduk melingkar mengelilingi suamiku dan pria itu. Aku menyebutnya 'pria itu' karena masih bingung mau memanggilnya apa.


Ya, dari segi fisik dan harta, dia memang tidak diragukan lagi, tapi ... aku mendambakan pria yang mencintai Daini, bukan pria yang menikahi Daini karena keterpaksaan akibat tragedi itu. Lagi, air mata ini kembali menetes. Aku mendekat, aku menjadi wanita satu-satunya yang ada di ruangan ini.


Abah menganggukkan kepala dan tersenyum kepadaku saat kami bersitatap. Seolah ingin mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Padahal, jauh di lubuk hati terdalamnya, aku yakin suamiku juga terluka.


Di ruangan ini ada ustad Abdurrohman, dan ustadz Hanif yang akan menjadi saksi perkawinan. Walinya adalah Abah. Putra dan Mang Hendra sebagai penyimak. Kulihat mata Putra memerah. Aku yakin dia juga pasti merasa sedih.


Proses ijab kabul sepertinya akan segera dimulai. Petuah pernikahan telah disampaikan oleh ustadz Hanif saat aku masih berada di kamar. Jantungku bertalu saat Abah meraih tangan pria itu. Entah aku salah lihat atau tidak, pria itu terlihat gugup, tangannya bahkan gemetar dan tak berani menatap wajah suamiku.

__ADS_1


"Ananda Zulfikar Saga Antasena Bin Bapak Aksa Adiwangwa Antasena, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Daini Hanindiya Putri Sadikin dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, dan emas 24 karat seberat 3 gram, tunai." Suara Abah terdengar begitu tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Daini Hanindiya Putri Sadikin Binti Bapak Hussein Sadikin dengan maskawinnya yang tersebut, tunai." Walau suaranya gemetar, tapi dia melafalkannya dengan lancar. Ya, ini kan ijab kabul kedua kalinya. Jadi dia sudah berpengalaman.


"Bagaimana saksi?" tanya Abah seraya menghela napas.


"Sah," sahut ustadz Hanif dan ustad Abdurrohman secara bersamaan.


"Alhamdulillahirabbal'alamiin," kata Putra dan Mang Hendra, pun kataku. Walau aku menyesali pernikahan ini, tapi aku senang karena dia dapat melakukannya tanpa kendala.


Tanpa kusadari, aku menitikkan airmata lagi. Aku melihat Abah tertunduk sambil mengucapkan ....


"Baarakallaahu laka, wa baarakallahu 'alaika, wa jama'a bainakuma fii khaiir, mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan."


Diamini oleh semua yang hadir, termasuk aku. Tak kusangka, hari ini aku dan Abah harus melepas putri kesayangan kami pada pria itu.


"Menikah adalah solusi terbaik bagi seorang pemuda. Karena dengan pernikahan, sempurnalah separuh agama dan perjalanan hidupnya. Pernikahan itu adalah perjuangan dalam suka dan duka yang berlangsung panjang dan lama, semoga sakinah mawaddah warahmah, ya Mas," kata ustadz Hanif.


Ustad Hanif dan ustad Abdurrohman tentu saja tidak tahu misteri di balik pernikahan ini. Ustad Abdurrohman menepuk bahu menantuku dan memujinya jika dia dan Daini adalah pasangan yang serasi.


"Ummi, cepat bawa Daini ke sini," titah Abah


"Muhun (ya), Abah." Aku bergegas ke kamar ditemani Putra.


.


Daini Hanindiya Putri Sadikin


Aku menunggu ijab kabul selesai dengan perasaan berkecamuk. Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan perasaan ini.


"Heran Ibumah, kok kamu kelihatan sedih terus Neng Dai?" tanya bu Fajriyah, perias pengantin. Sahabat dekat ummi.


"Aku sedih karena akan berpisah dari abah dan ummi, Bu," elakku.


"Terus itu pipi dan bibir kamu kenapa bisa bengkak dan lebam begitu, Neng? Ibu sebenarnya mau tanya dari tadi, tapi gak enak. Sekarang sih gak terlalu kelihatan karena sudah dimakeup." Bu Fajriyah kembali memoles perlahan pipiku yang lebam menggunakan powder brush.


"Ini tak sengaja kepentok pintu lemari, Bu."


"Ya ampun aya-aya wae (ada-ada saja). Eh, ari calon kamu orang mana? Itu dita'arufin sama abah, atau kamu yang pilih? Tadi Ibu lihat sekilas, Neng. Beuh, kasep kacida (ganteng banget)."


'Tok, tok, tok.'


"Assalamu'alaikuum, Teteh." Terdengar suara Putra, disusul dengan terbukanya pintu kamar dan masuknya Ummi. Jantungku langsung dag dig dug tak karuan.


"Wa'alaikumusalaam," jawabku dan Bu Fajriyah.


"Teteh, huuuks." Putra malah menyambar tubuhku dan menangis. Entah apa yang dirasakan adikku ini.


"Putra, tong kitu ah (jangan begitu ah)!" Ummi menarik bahu Putra. Bu Fajriyah melongo kebingungan.


"Yuk ke depan, Teh. Ijab kabulnya selesai. Kamu sudah sah jadi istrinya."


"Su-sudah sah?"


Lututku mendadak gemetar. Ummi dan Putra memapah tubuhku. Ini laksana mimpi, tapi aku tidak tahu apakah ini mimpi indah, ataukah seburuk-buruknya mimpi.


Jantung ini semakin meronta, apalagi saat langkahku mendekat ke sana. Aku tak berani mengangkat kepala. Aku terus menunduk menatap lantai marmer rumahku.


"Teteh, sini duduk dekat Abah," Abah berdiri, meraih tanganku lalu menghadapkanku pada Pak Zulfikar. Aku terus menunduk.


"Sekarang, Mas Zulfikar suami kamu, ayo jabat tangannya, Nak," kata Abah.


Dengan gemetar aku akhirnya meraih tangan Pak Zulfikar yang terulur padaku. Perlahan, aku mencium tangan wangi itu dan membasahinya dengan air mata.


"Hanin ...."


Suara Pak Zulfikar terdengar lirih dan berat. Belum sempat aku menarik tanganku dari genggamannya, dia sudah terlebih dahulu menarik dan mengecup punggung tanganku. Aku terkejut, pria ini sungguh pandai berakting, bisa-bisanya dia begitu lembut padaku, sementara di rumahnya ada wanita lain yang tengah menunggunya, atau bisa jadi sangat merindukannya.


Dengan beraninya, bahkan di hadapan Abah dan yang hadir, tangannya menangkup lembut pipiku, lalu mengecup keningku. Walaupun wajahku sudah ada di hadapannya, aku tetap tak berani menatap Pak Zulfikar. Kugulirkan bola mataku ke arah yang lain.


Kenapa aku melakukan itu?

__ADS_1


Karena ... aku merasa tidak mimiliki hak atas Pak Zulfikar. Ya, dia memang suamiku, tapi hatinya, hati Pak Zulfikar bukanlah untukku. Aku tidak boleh mendalami pernikahan setingan ini secara berlebihan. Aku sadar diri akan posisiku yang tak pernah diharapkannya.


Air mata ini tumpah lagi saat tangannya masih menangkup pipiku, dan dia juga berani mengusap air mataku dengan jemarinya.


"Jangan menangis lagi ya," dengan mudahnya dia mengatakan itu. Dasar pria tak beperasaan.


"Abah, karena sekarang mereka sudah sah, saya dan ustadz Hanif mau ke pondok lagi, sebentar lagi jadwal muhadhoroh" kata Ustadz Abdulrohman.


"Ya, silahkan Ustadz, terima kasih atas kehadirannya, dan mohon maaf karena sudah mengganggu waktunya."


"Tidak sama sekali, Abah. Justru kami senang karena sudah menjadi bagian dari janji suci ini," timpal ustadz Hanif seraya tersenyum.


Setelah mereka pergi, aku dan Pak Zulfikar melakukan sungkem pada Abah dan Ummi. Aku menjadi orang pertama yang tersungkur di pangkuan Abah. Aku tidak bisa mengucap kalimat apapun kecuali menangis dan menangis.


"Sabar ya geulis, semua yang terjadi sudah ada yang mengatur. Sekarang tugas Abah menjaga kamu sudah selesai. Mulai detik ini, suami kamulah yang akan mengajamu. Tolong patuhilah semua perintah suami kamu selama apa yang dikatakannya bukan merupakan kemungkaran."


Abah mencium puncak kepalaku. Harapan Abah pada pernikahan ini terlalu berlebihan. Abah tidak tahu jika setelah ini, atau bisa jadi beberapa menit lagi, Pak Zulfikar akan menceraikanku.


Lalu kuberpindah ke pangkuan Ummi. Sama sepertiku, Ummi tak mengatakan apapun, ia malah menangis di pundakku.


"Saya titipkan putriku pada Anda. Terlepas seperti apa pernikahan ini bermula, saya berharap, Anda bisa belajar untuk mencintai putri saya. Jikapun Anda kesulitan untuk mencintainya, bisakah Anda berpura-pura mencintai Daini?"


Ucapan Abah pada Pak Zulfikar membuat hatiku sakit. Kalimat itu laksana panah yang menusuk dada hingga membuatku tak perdaya dan merasa semakin rendah diri.


"InsyaAllah, Pak. Mohon bimbingannya," ucapnya. Menyebalkan, dia pandai berakting.


Sungkeman singkat itu akhirnya selesai juga. Putra berpamitan untuk kembali lagi ke pondok. Mang Hendra dan Ceu Jani pergi ke belakang, lalu Abah dan Ummipun beranjak meninggalkan aku dan Pal Zulfikar.


"Kalian istirahat dulu, setelah ini, kita makan bersama," ucap Abah sesaat sebelum berlalu.


Kini hanya ada aku dan dia. Aku terdiam, pun denganya. Karena tidak memiliki bahan untuk dibicarakan, akupun beranjak meninggalkan ruangan ini tanpa mengajaknya.


Aku pergi ke kamarku, cepat-cepat membuka pintu kamar setibanya di sana. Saat aku akan menutup pintu, seseorang menahan tanganku.


"Hanin, tunggu. Kenapa kamu meninggalkan suamimu?"


"Kk-kamu? Kenapa Anda ikut ke kamarku? Pergi! Pergiii," usirku. Dia malah memaksa masuk dan menutup pintu.


"Hanin, sekarang aku suami kamu, aku berhak memasuki kamarmu," sambil memegang tanganku.


"Tidak, Pak. Anda tidak berhak, pernikahan ini hanya sandiwara, tolong jaga jarak, jangan bertindak di luar batas. Aku tidak mau menyakiti istri Anda. Lepas!" Aku membentaknya sambil menangis.


"Hanin, setidaknya untuk hari ini, mari kita pura-pura jadi suami istri sungguhan. Kita tunjukkan pada abah dan ummi ya."


"Aku tidak mau!"


"Hanin, bagaimana pipimu? Apa masih sakit? Kakimu bagaimana, tidak apa-apa, kan?" Dia meraih pipiku, mimik wajahnya berakting seolah sedang khawatir.


"Aku tidak apa-apa!" Menepis tangannya.


"Kakimu?" Dia bahkan berlutut dan hendak memeriksanya.


"Anda jangan kurang ajar!" Aku menjauh.


"Hanin, kamu istriku, justru sikap kamulah yang kurang ajar." Dia bicara tenang, lalu beranjak ke tempat tidurku.


"Anda mau ke mana?!" teriakku.


"Tidur," jawabnya singkat.


"Pak Zulfikar!"


"Ssstt," katanya.


"Kalau Anda tidak pergi, aku yang pergi!" Saat aku hendak membuka pintu, dia malah menghalangi jalanku.


"Mau kamu apasih?!" bentakku.


"Kalau aku mengatakan mau kamu?" katanya, sungguh menyebalkan!


"Apa?! Jangan main-main dengan pernikahan ya Pak!" Aku beteriak lagi.

__ADS_1


"Yang main-main siapa? Aku atau kamu?" Sambil mengunci pintu, lalu memasukan kunci kamarku ke sakunya. Aku mematung di dekat pintu. Belum juga satu jam usia pernikahan kami, dia sudah membuatku bingung.


...~Tbc~...


__ADS_2