Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Membawanya


__ADS_3

Zulfikar Saga Antesana


"Aku ingin meminum jus dari bibir kamu. Dari mulut kamu sayang," godaku.


Gara-gara dia mengambil blender, gara-gara melihat roknya yang terangkat, kekesalanku langsung menguap. Aku jadi senyum-senyum saat mengingat kembali kejadian tadi.


"A-apa?" Dia kaget maksimal. Matanya mengerjap berulang kali.


"Cepat lakukan sayang, apa kamu tidak bisa melakukannya? Kalau tidak bisa, apa perlu aku ajari?" Aku mendekat untuk membuka cadarnya.


"Apa?" Wajahnya terlihat syok.


"Ayo dong sayang," desakku.


Dia menghela napas, pipinya merona. Ekspresinya gugup dan kikuk.


"A-aku tidak bisa Pak. Rasanya pasti akan aneh," tolaknya.


"Belum tentu aneh sayang. Untuk membuktikannya, mari kita coba," ajakku.


Aku kian mendekat ke wajahnya. Wanita seperti inilah yang aku mau. Saat aku dan dia berselisih faham seperti tadi, tak kusangka, Hanin malah mendekatiku dan meminta maaf terlebih dahulu. Padahal, dia tidak sepenuhnya salah.


"A-aku tidak bisa Pak. Maaf, untuk kali ini, tidak apa-apa 'kan kalau aku menolak?" katanya. Dia bergeser, menjauh dariku.


"Hmm, baiklah. Aku tidak serius kok sayang."


Aku lantas meminum jus buatannya. Rasanya pas dan memang tidak memakai gula. Jadi, manisnya alami.


"Mau berangkat jam berapa?" tanyanya sambil beres-beres.


Kalau ada di dapur, jari lentiknya tak bisa diam. Kalau tidak lap-lap, ya nyapu. Atau melap perkakas dapur yang padahal terlihat bersih dan baik-baik saja.


"Setelah shalat Isya, sayang," jawabku.


"Oh, berarti aku mau masak dulu."


"Sayang." Aku mendekat.


"Tidak perlu memasak. Kita pesan saja yuk! Mamanya Tania punya kedai sego bebek. Hari ini, kedainya sudah ada di aplikasi. Bagaimana kalau kita pesan?"


"Ehm, baik," jawabnya.


Aku dan Hanin kemudian menunggu pesanan di ruang keluarga. Dia membaca buku, aku menonton berita.


"Sayang, di sini dong duduknya." Aku menepuk area sofa di dekatku.


"Ba-baik, dia patuh." Bergeser ke sampingku.


"Pak, apa nanti ada pak Aksa juga?"


"Tidak ada. Papaku kebetulan sedang berada di luar kota. Baru bisa pulang besok. Kenapa menanyakan papaku? Bukankah putranya ada bersamamu?" godaku.


Setelah dia dekat. Aku langsung meletakkan kepala di pangkuannya. Hanin kaget, tapi dia tak menolak.


"Ya, bertanya saja, Pak. Tidak ada maksud apa-apa," jawabnya.


Lalu pesanan datang. Setelah makan, kita kembali lagi ke ruang keluarga. Hanin makannya sedikit, akupun demikian.


"Oiya Pak, kue apa yang disukai bu Yuze? Bagaimana kalau aku membuatnya?"


Dia benar-benar ingin beperan jadi menantu yang baik. Matanya berbinar saat menanyakan hal itu, seolah mengisyaratkan jika dengan membuat kue, mamaku akan luluh.


"Sayang, apa yakin kamu mau membuat kue untuk mamaku?"


"Yakin Pak. Sangat yakin."


Dia terlihat bersemangat. Semakin ia bersemangat, hatiku kian berdesir. Aku khawatir semangat dan ketulusannya tak dianggap oleh mamaku.

__ADS_1


"Mama pada dasarnya suka berbagai jenis kue sayang. Tapi yang paling ia sukai adalah puding buah-buahan. Mama cenderung menyukai kue-kue kering seperti keripik, peyek, sistik dan sejenisnya. Mama juga senang sama kue yang warnanya mencolok seperti rainbow cake," jelasku.


"A-aku bisa membuat semua itu, Pak."


"Sayang, tidak perlu, kamu mau buat semuanya? Nanti kemalaman," tolakku.


"Maksudku, bisa membuat yang Bapak sebutkan tadi. Tapi untuk sekarang, ya aku akan buat salah satu saja, Pak. Emm, aku mau membuat dua jenis. Sistik dan puding buah. Lagipula, bahan-bahannya ada semua kok."


Dia membelai kepalaku yang bersandar di pangkuannya sambil senyum-senyum. Mungkin ingin mengatakan agar aku lekas beranjak dari pangkuannya. Terpaksa aku bangun. Padahal sudah posisi enak.


Lalu ku sambar dulu bibirnya sebelum dia membuat kue. Jujur, dari tadi, bibirnya terlihat menggodaku. Terlihat manis bak delima merekah yang siap disantap.


"Mmph, emh ...."


Dia kaget, tapi tak menghindariku. Aku spontan memejamkan mata. Aku menyesapnya penuh kelembutan, kumainkan perlahan-lahan, kuperdalam lagi dan lagi hingga dia melenguh pelan sambil mencengkram erat bahuku. Suara lenguhannya indah sekali. Serius, ini membangkitkan gairahku.


Tapi ... dia mendorong bahuku sambil menggelengkan kepala. Terpaksa kulepas jalinan menyenangkan dan melenakan ini dengan berat hati.


"A-aku 'kan mau buat kue."


Dia beranjak. Terlihat gugup. Arah jalannya ke kamar, bukan ke dapur.


"Mau ke kamar?" tanyaku.


"Emm, ma-mau ke dapur," katanya. Berbalik arah.


"Yakin mau ke dapur? Bukankah itu arah ruang tamu?" Dia menggemaskan sekali.


"Ya ampun, a-aku memang mau ke kamar. Kan mau ganti baju," katanya dengan pipi merona. Lantas berlari ke kamar. Menggemaskan sekali istriku yang satu ini.


Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamar. Memakai daster kesukaannya dan berjilbab. Panjang dasternya hingga ke mata kaki. Mungkin tak ingin menggoda mataku lagi.


"Sayang, apa aku bisa membantumu melakukan sesuatu?"


"Tak perlu, Pak. Anda istirahat saja," jawabnya.


Hanin tersenyum.


Setelah Hanin berlalu ke dapur, aku merebahkan diri di sofa. Aku senyum-senyum. Manis dan lembutnya bibir Hanin rasanya masih lekat di ingatan. Kalau mengikuti nafsu, aku ingin menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah.


Karena sedikit kelelahan, tak terasa mataku terpejam. Niatnya menonton TV, tapi sekarang, malah TV yang menontonku. Aku terlelap. Aku melupakan apapun untuk beberapa saat dan entah berapa lama.


...🍒🍒🍒...


Pada pukul 16.53 WIB, aku tiba-tiba membuka mata dan terjaga.


Setelah menggeliat untuk meregangkan otot, aku bangun. Langsung ke dapur untuk melihat Hanin. Aku mengintip sosoknya dari balik partisi sketsel yang berada di antara dapur dan ruang makan.


Hatiku berdesir. Hanin terlihat sangat sibuk. Kondisi dapur lumayan berantakan. Terigu bececeran, perkakas untuk memasak tergeletak tak beraturan. Jilbab Hanin yang berwarna hitam terlihat kotor oleh terigu. Sekilas, aku juga melihat wajahnya bekeringat.


Dia sedang menggunting adonan sistik. Sementara di meja makan, aku melihat Hanin telah selesai membuat puding buah beraneka warna dengan bentuknya yang cantik.


Seserius itukah dia ingin membuat mamaku terkesan? Ya ampun Hanindiya, kamu membuatku terharu.


Mataku berkaca-kaca. Hampir saja aku menangis. Namun aku berusaha menahannya.


"Sayang, gak perlu banyak-banyak. Satu toples cukup ya. Lihat, kamu sudah terlihat lelah sayang."


Aku mendekat, memegang bahunya. Ya ampun, saat dilihat dari dekat, wajah cantiknya ternyata dihiasi terigu juga. Ada terigu di hidung, pelipis, dan dagunya.


"Sedikit lagi kok, Pak. Kalau sudah digunting, tinggal digoreng, ditiriskan, selesai deh," katanya. Tetap sibuk menggunting sampai-sampai tak melirikku.


"Bagaimana kalau aku bantu? Kamu yang goreng, aku yang gunting," tawarku.


"Boleh," dia memberikan gunting padaku. Saat aku coba ....


"Ya ampun Pak, ini kebesaran. Nanti tidak renyah. Biar aku saja," protesnya.

__ADS_1


"Ya ampun sayang, lebih besar lebih cepat, kan?"


"Pak, nanti hasilnya gak enak. Kalau kebesaran, nanti jadi keras." Dia merebut gunting dari tanganku.


"Kalau tahu kamu suka bikin kue, aku akan belikan cetakan kue juga. Cetakan untuk kue sistik juga ada 'kan?" tanyaku.


"Ada sih. Tapi manual juga bisa kok, Pak." Sekarang, dia sedang memanaskan minyak.


"Sayang, kamu yakin mau gunting adonan sambil menggoreng?"


"Ya, Pak. Selagi menggoreng, bisa sambil gunting," jawabnya.


Aku menghela napas sambil menatap wajahnya. Karena kulitnya putih, saat kepanasan jadi terlihat memerah.


"Sayang, sudahi saja yuk! Cukup bawa puding. Sistiknya kita beli saja di toko kue."


"Tidak Pak, aku mau tetap membuatnya. Mama Yuze, emm ... maksudku ibu Anda, mungkin lebih suka kue dadakan daripada kue dari toko," katanya.


"Hanin, kamu barusan memanggilnya mama, kenapa jadi ibu lagi?"


"A-aku malu Pak. Bu Yuze konglomerat. Aku takut beliau tidak berkenan saat kupanggil mama." Seraya membalikan sistik di wajan yang mulai menguning.


"Ya sudah, aku mau lihat kamu saja. Boleh aku duduk di sini?"


"Boleh, ini 'kan apartemen Anda."


"Hanin, ini apartemen untuk kamu. Rencananya, aku juga ingin membelikan mobil untuk kamu."


"Mobil? Ya ampun, jangan Pak. Lagipula, aku tak bisa menyetir."


"Kan bisa kursus, sayang."


"Tidak mau, tidak boleh beli, jangan beli, titik," tegasnya.


"Hmm, baiklah." Aku akhirnya diam. Menatapnya menggoreng sistik. Dia terlihat terampil dan cekatan.


"Pak, ini pudingnya. Sudah aku pisahkan untuk Bapak." Masih sempat-sempatnya menghidangkan puding buah untukku.


"Terima kasih, Hanin." Aku mengambilnya.


"MasyaaAllah, sayang. Ini lembut sekali. Manisnya pas." Aku angkat jempol.


"Alhamdulillah, kalau enak mah. Semoga, ibu juga suka ya Pak."


"Pasti suka sayang. Aku yakin." Ini memang enak. Ya ampun, dia berbakat sekali, pujiku dalam hati.


Aku lantas membantunya mengemas kue sistik yang sudah dingin ke dalam toples. Toples ini awalnya bening dan polos. Namun, Hanin menghiasnya jadi cantik. Dia membuat lipatan kertas berbentuk bunga mawar dan pita-pita. Lalu dilapisi plastik wrapping.


Setelah pengemasan selesai, Hanin memandangi toples itu sambil tersenyum. Lagi, batinku tersentuh dan terenyuh. Ketakutan kembali membelenggu. Aku takut mama tidak mau menerima pemberiannya.


"Sayang kalau nanti mamaku tidak menyukainya, tidak apa-apa ya. Kamu tidak boleh sedih. Nanti, aku yang makan semuanya. Kalau perlu, akan aku bawa ke kantor."


"Emm, kalaupun ibu tidak suka, insyaaAllah aku tidak akan sedih, Pak. Aku membuat ini ikhlas, kok. Tidak mengharapkan apapun apalagi mengharapkan simpati dari ibu. Aku membuat ini karena aku sangat menyukai dan menghormati ibu. Aku sebenarnya penggemar rahasia beliau. Hampir semua buku kiat bisnis karya bu Yuze sudah aku baca," ungkapnya.


Ya, mamaku memang seorang entrepreneur, pengusaha, sekaligus penulis buku. Buku yang mama tulis tentu saja tentang kiat bisnis dan pengalaman pribadinya membangun bisnis dari titik nol.


"Benarkah? Mama pasti senang bertemu dengan penggemarnya."


"Pak, kalau aku minta tanda tangan beliau, apa boleh?"


"Hahaha, boleh sayang. Nanti aku bantu. Ya sudah, dua puluh menit lagi 'kan adzan Maghrib, bagaimana kalau kita mandi. Mandi bersama," kataku sambil mengulum senyum.


"Bersama? Ta-tapi hanya mandi, kan?" Sambil berjalan menuju kamar, ia berulang kali menolehku. Mungkin takut diapa-apakan.


"Ya sayang, aku janji. Hanya mandi."


...~Tbc~...

__ADS_1


...Yuk komen yuk!...


__ADS_2