
"Aku ngeri tahu A lihat Daini mau lahiran. Kayaknya tersiksa sekali," keluhku sambil berjalan bergandengan menyusuri selasar rumah sakit.
"Ya, memang sakit ayang. Tapi, itu 'kan kodratnya wanita dan pahalanya besar sekali."
Ia memegang erat tanganku. Lalu sesekali mengecup punggung tanganku. Ya ampun, mau menolak tapi tak tega. Ya sudahlah, hanya cium tangan 'kok. Tidak mencium yang lain.
"Aku kalau melahirkan mau di-SC saja 'lah."
"Enggak masalah ayang, aku setuju-setuju saja. Tapi, kalau SC 'kan anaknya dibatasi. Bunda dan ayah itu maunya aku punya anak banyak. Minimal 4 atau maksimalnya 5."
"A-apa?!" Aku terkejut seketika.
"Hahaha. Maaf membuatmu kaget. Masalah itu, nanti kita bicarakan setelah kita resmi menikah ya."
"Aku enggak mau banyak-banyak anaknya A, dua saja."
"Baiklah. Terserah kamu." Ia senyum-senyum penuh arti. Entah apa maknanya. Aku tidak tahu.
"Lewat tangga darurat yuk ayang," ajaknya. Menunjuk ke sana. Jalur tangga darurat yang tampak sepi.
"Enggak ah, A. Takut ada apa-apa. Nanti ngajak mesum lagi A Abilnya. Ogah. Kita lewat lift itu saja." Aku menunjuk ke jalur lain yang terlihat lumayan ramai.
"Hahaha." Dia malah tertawa sambil memiting leherku.
"Awh! A Abil! Sakit tahu! Jangan KDP ya, A!" ketusku. Padahal tidak sakit 'sih. Aku hanya mengerjainya.
"KDP? Maksudnya kekerasan dalam pacaran? Perasaan enggak kencang-kencang 'deh. Apa benar-benar sakit?" Memeriksa tubuhku. Aku menepisnya. Segera menjauh dan berjalan cepat di depannya.
"Ayang, tunggu. Kamu marah?" Dia tidak butuh banyak waktu untuk bisa mengejarku.
"Aku enggak marah, A. Tadi juga enggak ada yang sakit 'kok. Masalahnya, jalan sama Aa 'tuh jadi terasa lebih lama. Banyak gimiknya," tuduhku. Namun, aku tidak menolak saat dia kembali meraih tanganku untuk digenggamnya.
"Mau lebih cepat tiba di kamar bu Daini?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Begini saja." Tiba-tiba memanggulku. Aku terkejut.
"A Abil! Turunkan A! Aa apa-apaan 'sih?!"
Aku memukuli punggungnya. Serius, ini sangat memalukan. Walau pengunjung di sini tidak banyak, tapi tetap saja ada orang lain yang melihat adegan ini. Aku meronta, namun ia tidak memedulikan. Tetap membawaku sambil berlari dan terkekeh.
"A Abil! Turunkan A!"
"Selesai," katanya.
Baru menurunkan tubuhku saat kami tiba di depan lift. Pengunjung lain senyum-senyum melihatnya. Aku masuk ke dalam lift sambil cemberut. Mau memarahinya, tapi di sini ada pengunjung lain dan petugas keamanan.
"Kamu pas. Tidak berat, tidak terlalu ringan juga. Tinggi kamu 160 cm, BB berapa?" bisiknya saat lift sudah berjalan.
"Enggak tahu, sudah lama enggak nimbang!" ketusku.
"Kamu 'tuh lucu tahu kalau lagi marah."
Ia berbisik lagi. Lalu pintu lift terbuka di lantai pribadi milik pak Direktur. Ya, karena besok ada preskon dan dipastikan akan ada kunjungan pejabat penting dan kolega bisnisnya, pak Direktur menyewa satu lantai rumah sakit agar tidak mengganggu pasien ataupun pengunjung lain. Horang kayahmah bebas.
Tapi pak Direktur merahasiakannya dari Daini. Sebab, sedari awal Daini selalu meminta agar ia diperlakukan biasa saja dan tidak berlebihan.
Malah, inginnya Daini itu melahirkan di klinik bersalin biasa dan ditolong oleh bidan. Namun karena hamil kembar, ia diharuskan melahirkan di rumah sakit. Seperti itulah Daini. Ia tidak sombong dan tetap bersahaja dengan kekayaannya. Dia juga pasti belum tahu kalau sebentar lagi ia akan memiliki saham yang nilainya fantastik.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
Tiba di kamar Daini, pak Sabil dan orang tuanya segera berpamitan. Daini dan pak Direktur tampak bahagia. Bayi kembar merekapun telah dilakukan rawat gabung. Saat ini, keduanya berada tempat tidur khusus bayi yang diletakan di samping Daini. Akupun turut bahagia.
"Tia enggak pulang sekarang?" tanya bundanya pak Sabil. Karena sering mendengar pak Sabil memanggilku Tia, jadi ikut-ikutan.
"Aku mau menginap, Bu." Belum berani memanggilnya bunda.
"Bunda, Aa juga mau menginap di sini, 'kan banyak kamar kosong, boleh enggak?"
"Jangan." Pak Komjen yang menjawab.
"Kenapa, Yah?"
"Kata Ayah jangan, ya jangan."
"Baiklah." Dia anak baik. Dengan satu larangan langsung patuh.
"Pak Sabil mau menginap di sini karena ada Listi, 'kan?" duga pak Direktur. Daini kurang menyimak. Ia sedang menatap bayinya.
"Hehe, ya 'sih," jawabnya, dan hal itu membuatku malu.
Setelah berpamitan dengan pak Aksa dan mama Yuze, serta berpamitan pada abah dan ummi, merekapun pergi. Atas perintah Daini, akupun mengantar, namun hanya sampai lift.
"Dah ayang," serunya sebelum pintu lift tertutup.
Ia bahkan memberikan kiss jarak jauh dan lambang cinta dengan jari telunjuk dan jempolnya. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman. Berusaha bersikap biasa saja karena ada ayah dan bundanya.
Malam ini, aku benar-benar menemani Daini. Malam ini, Daini bak ratu. Ia sangat dicintai dan disayang. Setiap salah satu dari bayi kembar mereka menangis, pak Direktur dan yang lainnya terbangun untuk mengecek. Mereka bergantian menemani Daini saat sedang menyusui bayinya. Oiya, saat menyusui, Daini selalu memakai pelindung. Ia benar-benar menjaga auratnya, sekalipun di hadapan umminya sendiri.
Ia nyaris tidak tidur sepanjang malam. Padahal, ada suster dan asisten yang bisa membantu Daini kapan saja. Namun, setelah bisa duduk, Daini menolak bantuan suster. Katanya, ingin mengurus bayinya sendiri semaksimal mungkin.
...⚘️⚘️⚘️...
Sekarang, jam menunjukkan pukul 03. 00 pagi. Aku baru saja tertidur di sofa. Aku ketiduran. Saat menatap ke sana, pemandangan indah itu membuatku tersenyum. Pak Zulfikar sedang menyuapi Daini dengan makanan yang masih mengepul. Entah apa yang dimakannya. Aku tidak bisa melihatnya karena jaraknya lumayan jauh. Aku juga melihat bu Yuze dan ummi sedang mengganti popok si kembar.
Apa pernikahan gantungku akan berhasil? Jika pernikahan itu adalah bentuk ujian, apa aku dan pak Sabil akan berhasil? Apa bunda dan ayahnya pak Sabil akan benar-benar menyayangiku seperti halnya bu Yuze dan papa Aksa menyayangi Daini?
Lagi pula, Daini itu memiliki banyak kelebiha. Dia cantik, alim, dan seorang akhwat. Daini juga berasal dari keluarga yang terpandang dan masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan ulama besar Indonesia. Keluarga Dainipun terkenal religius dan merupakan keluarga teladan yang sering memberikan hartanya untuk perkembangan Islam. Dari mulai pembangunan masjid, pesantren, yayasan yatim-piatu, dan lain-lain.
'Lah, aku siapa? Aku hanya wanita tomboy yang kebetulan berteman baik dengan Daini. Lalu, apa yang bisa dibanggakan pak Sabil dan orang tuanya dari gadis sepertiku? Apa mereka melihatku karena aku adalah sahabat baiknya Daini?
Tiba-tiba, muncul perasaan minder dan tidak percaya diri. Kenapa ayah dan bundanya menyetujui kami nikah gantung? Bisa jadi, itu karena mereka ingin menseleksiku. Dengan nikah gantung terlebih dahulu, saat aku melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kriteria mereka, mereka bisa menyuruh pak Sabil untuk meninggalkanku kapan saja. Apa akan seperti itu? Aku merenung.
"Kak Listi bangun? Terganggu ya Kak tidurnya?" tanya Daini.
"Tidak, Neng."
"Lapar enggak Kak? Makan bubur kacang yuk!" ajaknya. Ternyata, yang dimakan Daini adalah bubur kacang hijau.
"Enggak lapar, Neng." Aku menggelengkan kepala. Lalu inisiatif mengambilkan air hangat untuk Daini.
"Hoaam," pak Direktur menguap.
"Kata aku juga tidur, Pak," komentar Daini.
"Ya sayang, setelah ini, aku bobok ya, tapi mau di samping kamu. Tempat tidurnya 'kan luas."
"Jangan dong, Zul," protes bu Yuze. Ummi diam saja.
"Enggak apa-apa 'kok Ma," bela Daini.
__ADS_1
"Asyik, terima kasih ya sayang." Pak Direktur benar-benar naik ke tempat tidur Daini.
"Ya ampun, Zul. Ini belum 40 hari lho," bu Yuze kembali protes. Daini tersenyum sambil menyelimuti pak Direktur.
"Enggak harus 40 hari, Ma. Kalau sudah bersih 'kan bisa langsung. Hahaha." Pak Direktur membuatku terkejut. Aku tentu saja paham maksudnya.
"Pak, sstt," Daini mendelik.
"Hati-hati kena perut Daini ya, Mas. Jangan motah (urakan) tidurnya." Ummi baru berkomentar.
"Siap Ummi," pak Direktur mulai memejamkan matanya. Dainipun perlahan merebahkan dirinya. Namun ....
"Ohwaa ...." Baby boy menangis.
"Ohwaa," disusul sama baby yang girl.
Lalu mereka menangis bersamaan. Kami saling menatap sambil tersenyum. Lalu tertawa bersama karena pak Direktur cemberut.
"Nah, Zul. Kalau sudah punya anak 'tuh begini," kata bu Yuze sambil memberikan bayi pada Daini untuk diberi ASI.
"Ya ampun, anak sholeh-sholehahnya Mommy-Daddy sudah lapar lagi ya?" Daini menyambut mereka dengan senyuman.
"Sainganku banyak," gumam pak Direktur.
"Anda tidur saja di kamar yang lain," pinta Daini.
"Tidak sayang, ini adalah malam pertama kita menjadi orang tua. Jadi, aku akan menemanimu." Pak Direktur bangun kembali dan membantu Daini.
Lalu ponsel pak Direktur berbunyi. Aku inisiatif mengambilnya. Ternyata dari bang Radit. Aku menyerahkan ponsel tersebut pada pak Direktur.
"Ya, Bang. Ada apa? Halo Bang?"
"A-apa?!" Pak Direktur terkejut. Kamipun jadi ikut terkejut dan penasaran.
"Kenapa, Zul?" Bu Yuze panik.
"Wa-wanita itu katanya ada perdarahan, Ma." Pak Zulfikar terlihat khawatir. Ia segera turun dari tempat tidur.
"Apa?! Maksud kamu wanita itu, Dewi?" duga bu Yuze.
"Ya, Ma. Sayang, aku pergi dulu. Aku harus memastikan anakku baik-baik saja. 'Kok bisa tiba-tiba perdarahan 'sih?" guman Pak Direktur sambil bergegas. Daini mengangguk sembari menatap kepergiannya.
"Zul, Mama ikut! Neng, Mama juga mau lihat Dewi dulu ya."
"Ya Ma, silahkan. Atau, kalau memang perlu dirawat, bu Dewi bawa ke rumah sakit ini saja," saran Daini. Ia juga terlihat khawatir. Daini memang berhati malaikat. Walaupun bu Dewi sering menjahatinya, ia tidak pernah menyimpan dendam.
...⚘️⚘️⚘️...
Zulfikar Saga Antasena
"Jangan cepat-cepat Pak Reza, santai saja," seru mama.
Aku diam saja. Jika bukan untuk anakku, aku pasti tidak akan ke rumahnya. Untungnya, karena aku dan Hanin tinggal di apartemen, jadi mama tidak tahu kalau aku tidak pernah menemuinya lagi. Pernah 'sih sesekali, tapi untuk menemui mami Silfa. Bukan untuk menemui wanita penipu itu.
Dia ternyata memanipulasi inti tubuhnya dengan melakukan operasi selaput dara. Aku baru mendapatkan fakta itu dari detektif asing yang aku sewa untuk memeriksa kehidupan wanita itu semasa kuliah di luar negeri. Detektif itu direkomendasi oleh pak Sabil.
Kebohongan Dewi sangat banyak. Sayangnya, dia terbukti secara medis memiliki kelainan mental berupa kepribadian ganda. Jadi, untuk sementara waktu, aku belum bisa menuntutnya secara hukum. Baik pidana maupun perdata.
Intinya, setelah dia melahirkan anakku, aku akan memutuskan semua hubungan dengan wanita gila itu. Aku tidak peduli dengan saham dan pandangan negatif dari publik. Yang penting, aku bisa terlepas dari wanita itu. Titik.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...