Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
The Moment [Bagian 1]


__ADS_3

Sebelumnya ....


Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Ketidaknyamanan pada usia kehamilan trimester tiga adalah perasaan yang tidak menyenangkan bagi ibu hamil yang meliputi kondisi fisik ataupun mental pada usia kehamilan tujuh bulan hingga aterm atau cukup bulan. Ketidaknyamanan itu meliputi nyeri pada punggung, sesak napas, sering buang air kecil, sulit tidur, kram, odem, varises, nyeri ulu hati, sembelit, konstipasi, mudah lelah, dan lain-lain."


Itu yang dikatakan dokter Rahmi saat memberiku penyuluhan.


"Ketidaknyamanan itu akan bertambah pada kehamilan kembar seperti Neng Daini. 'Kan bayinya ada dua. Selain itu, walaupun usia kehamilan Neng baru 36 minggu, bayinya terhitung sudah besar-besar."


"Hufth ..."


Aku mengusap perutku. Sekarang, miringpun sakit, terlentang apa lagi. Bangunpun sulit, harus memegang sesuatu atau dibangunkan. Tapi, aku tidak enak kalau terus meminta bantuan sama bu Juju. Jadi, selalu berusaha mandiri.


Posisi yang nyaman saat ini adalah posisi setengah duduk dengan meletakan tumpukkan bantal di belakang punggungku.


Kata dokter Rahmi, usia kehamilan normal itu adalah dari 37 minggu sampai 42 minggu. Sekarang, usia kehamilanku 36 minggu. Jadi, butuh seminggu lagi untuk memasuki fase aterm.


"Kalau sudah bulannya, harus sering berhubungan badan ya, Neng. Cairan suami itu mengandung hormon yang bisa menyebabkan rahim mulas secara alamiah," terang dokter Rahmi kala itu.


Faktanya, belum bulanyapun, pak Zulfikar sering melakukannya. Karena dokter pernah mengatakan rahimku bagus dan kuat, ia nyaris tiap malam meminta izin menggauliku.


"Jika kamu lelah, cukup diam, pasrah, dan nikmati saja ya sayang. Biar aku saja yang begerak dan mengeksplorasi tubuhmu. Oke? Kalau kamu merasa sakit atau tidak nyaman, cepat bilang ya sayang." Itu adalah kalimat andalannya


"Kamu semakin seksi. Semakin besar perut kamu, di mataku terlihat semakin cantik. Kamu juga semakin menjerat sayang, dan jeratanmu itu membuatku ter-Hanin-Hanin. Pokoknya, aku tidak boleh menyia-nyiakan momen ini."


Kadang suka senyum-senyum sendiri saat mengingat rayuan mautnya. Sungguh, aku tidak menyangka jika ia sangat menggilai tubuhku.


"Sekujur tubuhmu cantik, kukumu juga cantik, rambut-rambut halus yang menghiasi tubuhmupun terlihat begitu indah. Aku sangat menyukaimu, Hanindiya."


Bibirku tersenyum lagi. Rayuannya terngiang-ngiang.


"Daddymu sangat menyukai Mommy, apa setelah kalian lahir ke dunia, Daddy akan tetap menyukai Mommy?" Sambil mengusap perutku.


Karena pak Zulfikar mau dipanggil daddy. Mau tidak mau, aku jadi memommykan diri. Padahal, aku inginnya dipanggil ummi atau ibu. Tapi tak masalah. Karena menjadi ibu bukanlah sebuah panggilan, melainkan sebuah peran.


Entah kenapa, hari ini, aku merasa sangat lelah. Sudah diantar makan siang sama bu Juju. Namun baru kali aku tidak memakannya karena tidak ada nafsu makan. Apa gara-gara aktivitas semalam?


"Daddymu nakal," keluhku. Pipiku rasanya panas saat mengingatnya. Untungnya, tadi pagi sudah sarapan bareng pak Zulfikar.


Karena kakiku mulai pegal, kupaksakan berdiri dengan cara berpegangan pada sisi tempat tidur. Sepertinya, lebih baik jalan-jalan ke area ruang terbuka hijau daripada tiduran seperti ini.


"Mau ke mana Bu?" Bu Juju langsung menghampiri saat aku keluar dari kamar.


"Mau ke depan, Bu. Ke taman."


"Ibu temani ya."


"Tidak perlu, Bu. Lagi pula di taman ada pak Budi, kan?"


"Ya, Bu. Ada. Dia lagi potong rumput."


"Ibu jangan rapi-rapi terus. Ibu boleh istirahat, 'kok." Sambil berlalu.

__ADS_1


"Hati-hati ya Bu Daini." Bu Juju selalu mengkhawatirkanku.


"Ya, Bu. Terima kasih."


Apartemen ini sangat privat. Jadi, aku merasa seperti tidak punya tetangga. Unitnya ada di lantai dasar dan sangat luas. Akhirnya, tiba juga di ruang terbuka hijau yang sudah kuanggap sebagai taman pribadi. Namun, aku tidak menemukan pak Budi.


Tunggu, aku menautkan alis, sebab, acap kali melangkah, perut bagian bawahku tiba-tiba terasa sakit. Lalu, seolah ada yang mendesak di bagian inti tubuhku.


"Sshh." Aku meringis.


Ada perasaan tidak nyaman seperti mau haid. Akhirnya, aku memilih duduk di bangku taman sambil menyandarkan punggungku. Pikirku, ini tidak mungkin perasaan akan melahirkan. Sebab, usia kehamilanku baru 36 minggu. Tapi, jikapun harus lahir di usia ini, kata dokter kandungan, berat badan bayi kembarku sudah mencukupi.


Aku mengatur napas, ada perasaan khawatir yang tiba-tiba menyeruak. Apakah ini tanda-tanda persalinan? Karena perasaan khawatir itu, aku memutuskan untuk kembali ke kamar.


Sebelum ke kamar, aku mampir ke dapur, maksudnya ingin minum. Namun, saat aku berjinjit untuk mengambil gelas yang terletak di etalase, tiba-tiba ada yang mengalir dari sana. Aku terkejut dan spontan menjatuhkan gelas hingga pecah berkeping-keping dan mengotori lantai.


'PRAKS.'


"Bu Daini!" teriak bu Juju.


Ia berlari ke dapur. Pasti karena mendengar suara pecahan gelas. Di saat aku masih mematung karena kaget, bu Juju telah menyadari jika di balik kakiku ada cairan yang mengalir.


"Bu! Itu kayak air ketuban!" teriaknya.


Langsung menuntunku dengan wajah panik. Lalu membantuku agar berbaring di sofa yang ada di dapur.


"Pak Budi! Pak Budi!" teriaknya. Lantas mengambil ponselnya, dan aku tahu bu Juju akan menghubungi siapa.


Bu Juju memang seperti itu, kadang memanggiku 'neng,' kadang juga memanggilku 'bu Daini.' Setelah menelepon pak Zulfikar, ia menghampiriku.


"Apa yang dirasa, Neng? Apa ada mulas? Ya ampun, pak Budi kemana lagi?! Pak Budiii! Budiii!" beteriak lagi.


"Ibu tenang saja. Aku baik-baik saja. Ya, aku memang merasa perutku agak sakit, tapi ini 'kan kodratku," jawabku dengan suara pelan.


"Ibu tahu kamu pasti kuat dan tabah. Sabar ya. Bisa Ibu tinggal dulu sebentar? Ibu mau mencari pak Budi."


"Ya Bu, silahkan. Tapi maaf, tolong ambilkan HP-ku. Aku mau telepon kak Listi."


"Baik, Neng."


"Terima kasih, Bu."


...⚘️⚘️⚘️...


Saat Ini ....


Entahlah kak Listi bisa datang atau tidak. Ia tidak memberi jawaban. Harusnya, bu Juju tidak langsung menelepon pak Zulfikar. Aku flu sedikit saja, ia sudah panik. Apa lagi ini? Cairan itu terus merembes membasahi sofa. Padahal, aku tidak melakukan gerakan apapun.


"Bu Daini?! Maaf, Bu. Saya tadi lagi cuci mobil sport bapak." Pak Budi datang tergesa-gesa bersama bu Juju.


"Enggak apa-apa, Pak."


"Saya bantu papah ke mobil ya, Bu. Kita harus segera ke rumah sakit."

__ADS_1


Aku terdiam. Ada perasaan risih kalau dipapah sama pak Budi.


"Ini darurat, Neng. Enggak apa-apa ya." Bu Juju seolah memahami kerisihanku.


"Begini saja, Bu Juju saja yang membantuku berjalan, aku masih kuat jalan 'kok."


Selagi aku mampu menjaga diri dari sentuhan laki-laki lain, aku akan melakukannya. Kecuali aku pingsan, mungkin ceritanya akan berbeda dan bisa dikategorikan sebagai kondisi darurat.


"Ya sudah, Pak Budi cepat siapkan mobilnya! Ibu mau siapkan barang-barang. Bu Daini enggak apa-apa 'kan kalau menunggu dulu?"


"Ya Bu."


Lumayan lama juga bu Juju menyiapkan barang-barang. Setelahnya, ia lantas memapahku perlahan. Mulasnya hilang timbul. Aku berdebar-debar, berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Bibirku tak henti melantunkan dzikir dan shalawat. Apa hari ini aku akan menjadi ibu? Rasanya seperti mimpi.


'BRUUUM.'


Tiba di parkiran, aku dan bu Juju terhenyak. Sebab, kedatanganku ke parkiran bersamaan dengan kedatangan mobil pak Zulfikar.


'BRUK.'


Ia turun tergesa dan membanting pintu mobilnya. Bu Juju langsung menunduk. Pun dengan pak Budi yang sedang memasukan perlengkapan bayi ke dalam bagasi.


"Sayang!"


Ia berlari ke arahku. Wajahnya benar-benar panik. Semakin panik saat melihat cairan itu merembes dan membasahi kaki hingga ke sandalku.


"Ya Rabbi. Bu Juju! Pak Budi! Kenapa kalian membiarkan Hanin berjalan?! Kenapa tidak pakai kursi roda?!" teriaknya. Marah. Ya ampun, aku pribadi baru kepikiran sama kursi roda.


"Ma-maaf Pak. Saya Lupa," sahut pak Budi.


"Ya, I-Ibu juga lupa." Bu Juju gugup.


"Dasar tidak bisa dipercaya! Cepat ambil kursi rodanya!" teriaknya lagi.


"Baik, Pak." Pak Budi berlari.


"Sayang, maaf karena aku datang terlambat. Apa yang kamu rasakan? Jangan begerak ya." Lalu memelukku.


"Aku baik-baik saja. Anda tenang saja. Oiya, Anda juga jangan marah-marah sama bu Juju dan pak Budi. Karena panik, aku juga lupa sama kursi roda," jelasku.


"Aku tidak marah-marah," elaknya.


Sekarang sambil mengelap kakiku yang basah dengan tissue yang disiapkan oleh bu Juju. Lalu membantuku duduk ke kursi roda. Ternyata, pak Zulfikar sudah menghubungi ambulance khusus yang biasa digunakan oleh penghuni apartemen.


"Kalau naik mobil biasa, aku khawatir terjadi sesuatu saat dalam perjalanan menuju rumah sakit," katanya saat ia dan orang suster membantuku naik ke dalam ambulance.


Lalu ia sibuk menelepon mama-papa, dan juga abah sama ummi untuk meminta doa dari mereka. Namun, pak Zulfikar melarang mereka bicara denganku dengan alasan aku butuh istirahat.


Aku tersenyum mendengar alasanya. Ada-ada saja. Intinya, dia sangat posesif. Sepanjang perjalanan, ia terus memeluk dan menanyakan kondisiku. Sesekali menegur pak sopir ambulance agar cepat-cepat namun harus hati-hati. Mata suster menyipit. Aku tahu jika di balik masker itu mereka sedang mentertawakan ulah lebay suamiku.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2