Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Maaf


__ADS_3

Warning! Adult Area!


___________________


Dewi Laksmi


"Kamu sudah datang, Mas? Ya ampun, kamu tampan sekali."


Setelah menyalaminya, aku langsung memeluknya dan mengendusi tubuhnya. Harum sekali. Rapi, dan gagah.


"Hmm." Jawabannya hanya itu.


"Mas, rambut kamu basah?" Sambil mengeceknya.


"Ya, memangnya kenapa kalau rambutku basah?" Ia duduk di sisi tempat tidur dan memainkan ponselnya.


"Mas tidak tidur dulu dengan Daini, 'kan?"


"Memangnya kenapa kalau aku tidur dulu sama Hanin?" Benar-benar cuek, masih tetap memainkan ponselnya.


"Mas!"


"Kalau kamu emosi, aku keluar lagi." Dia berdiri hendak pergi.


"Jangan Mas!" Aku menahan tangannya. Lalu ia duduk lagi.


"Jangan main HP terus dong Mas," protesku.


"Baik." Dia meletakkan HP di nakas. Lalu naik ke tempat tidur. Memeluk guling sambil terlentang.


"Mas, aku tanya serius? Rambut kamu basah karena keramas apa karena tidur sama Daini?" Sambil merebahkan diri di sampingnya.


"Jawaban apa yang kamu inginkan? Aku harus jawab karena keramas? Atau harus jawab karena mandi besar?" Matanya menatap langit-langit.


"Mas, jawab jujur saja. Apa susahnya?" Aku memeluknya, mengelus-elus dadanya. Tapi, dia tidak membalas pelukanku.


"Wi, kenapa rambutku basah saja kamu permasalahkan? Tidak ada tema lain apa? Aku mohon dengan sangat, jangan membuatku badmood."


"Mas, aku hanya mau tahu penyebabnya. Kalau kamu keramas biasa ya tak masalah. Kalau keramas gara-gara meniduri Daini dulu sebelum masuk ke kamarku, aku sedikit kecewa karena perfoma kamu saat melayaniku bisa berkurang."


"Miris," gumamnya.


"Maksudnya apa, Mas? Kenapa kamu bilang miris? Wajar 'kan kalau aku memertanyakannya?"


"Wajar bagi kamu, belum tentu wajar bagi aku. Aku tak mau menjawab pertanyaan kamu. Keramas adalah hak pribadiku dalam rangka merawat tubuhku sendiri dan mensyukuri nikmat. Jadi, aku tak perlu menjelaskannya lagi sama kamu."


"Ya sudah, maaf Mas. Aku tidak akan bahas lagi." Karena terlanjur merindukannya, aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya.


"Mas, kamu bisa memelukku, 'kan?"


"Hmm."


Lalu ia membalikan badan dan memelukku. Aku menatapnya lekat. Matanya dipejamkan saat posisi wajah kami sudah berhadapan. Segera kusentuh bibirnya. Aku sungguh merindukannya.


"Mas ...."


Aku tidak tahan. Tangan ini refleks merabainya. Menelusup ke mana saja, ke area yang kuinginkan. Lantas bibirku memagutnya dalam-dalam. Dia diam saja. Tak menolak, namun juga tak membalas tindakanku. Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. Kembali kutatap wajah tampannya, dan dia masih memejamkan mata.


"Mas, tidak bisakah kamu membuka mata dan melihatku?"


"Tidak bisa." Jawabannya menusuk dadaku. Terasa menyakitkan.


"Kenapa, Mas? Aku juga istri kamu."


"Maaf," jawabnya singkat.


"Mas, aku cantik. Lihat, aku sudah seksi dan wangi. Apa kamu sama sekali tak ingin melihatnya?" Sambil menunjukkannya dengan senang hati. Dia membuka matanya. Melirik sejenak, lalu berpaling lagi.


"Wi, cepat lakukan saja! Silahkan gunakan tubuhku untuk menyalurkan hasrat kamu! Selagi aku baik, kamu harus memanfaatkannya, bukan?" pintanya dengan tegas.


"Mas, bisa 'kan nada bicarnya biasa saja?! Aku sudah mengabulkan permintaan kamu! Daini sudah menjadi istri legal kamu! Sekarang, apa salahnya kalau kamu juga memenuhi keinginanku, Mas?!" Akupun jadi sedikit emosi.


"Wi, aku rujuk dengan kamu karena permintaan Hanin. Orang tuanya Hanin juga memintaku rujuk lagi karena mereka peduli sama kamu. Keluarga Hanin berhati mulia, tidak seperti keluarga kamu." Dia bangun, melipat tangan di dadanya dan menatapku sejenak.


"Mas, biar bagaimanapun, aku adalah istri kamu. Dan anak ini adalah anak kita." Aku kembali memeluknya untuk meredam amarahnya.


Apakah ini karma? Dulu, aku sering menyuruh pria pilihanku untuk berlutut di kakiku sebelum mereka mendapat kesempatan untuk menikmati dan memuaskan tubuhku.


Mas Zul mulai tenang. Aku segera naik ke tempat tidur dan menyuguhkan keindahan tubuhku untuknya. Lanjut bergaya erotisme untuk menggodanya.


Karena dia diam saja, aku inisiatif menarik tangannya, menuntunnya untuk menjamah tubuhku. Saat kusentuh, tubuhku ternyata bereaksi. Secara biologis, siapa 'sih yang bisa menolak godaan seperti ini? Mas Zulfikar pria normal. Jadi, wajar kalau tubuhnya merespon dengan baik.


Kubuka dengan cepat ikat pinggangnya yang menghalangi. Dia memalingkan wajah sambil mengatur napasnya. Ya, mulut mas Zul boleh saja mengatakan tidak suka. Tapi faktanya, tubuhnya yang sempurna ini tidak sejalan dengan kesombongannya.


Aku meraihnya untuk memamerkan keahlianku. Aku pemain lama. Pastinya sangat mahir dalam hal ini. Sesekali, aku menatap wajahnya. Dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya. Ya ampun, tampan sekali.


"Kenapa diam saja, Mas? Kamu menikmatinya, 'kan? Kamu munafik, Mas. Tubuh kamu ternyata merindukan belaianku." Aku tersenyum, menatapnya sedikit sinis agar dia sadar diri jika tubuhnya telah berkhianat.


"Ce-cepat lakukan saja," seraya mengerang pelan. Kulanjutkan memberinya keterlenaan hingga tangannya meremat pada bantal.


"Lihat tubuhku Mas. Lihat keseksianku, jangan memikirkan wanita itu ya. Lupakan dia Mas." Aku menindihnya perlahan dan membisikan kalimat itu.


"Wi, apa yang kamu katakan semakin mengingatkanku pada Hanin. Jangan salahkan aku kalau yang kubayangkan saat ini adalah Hanin. Hanindiya ...," gumamnya.


"Mas!"


'PLAK.'


Aku spontan menamparnya.


"Ahh! Dewi! Kamu?!"


"Kamu tak menghargaiku, Mas! Kenapa menyebut nama dia?!" Aku naik pitam. Segera menduduki dadanya, dan tangan ini sudah berada di posisi mencekiknya.


"De-Dewi Laksmi! Lepas! Da-dasar wanita gila! Kamu ternyata belum berubah! Harusnya kamu bersyukur! Ma-masih untung aku mau menemui kamu dan membiarkan tanganmu menyentuh tubuh berhargaku!" Sambil berusaha melepas cengkraman tanganku. Namun aku tak melepasnya.


"Memang apa bedanya aku dan wanita itu, Mas?! Apa dia lebih enak?! Katakan Mas?!"

__ADS_1


"Gila kamu! Mana ada perbandingan yang seperti itu!"


"Mas, aku masih perawan saat berhubungan pertama kalinya sama kamu! Kamu juga tahu itu, 'kan? Jadi, aku tak ada bedanya dengan si Daini! Tapi kenapa kamu memerlakukanku berbeda?! Mas, setidaknya, walaupun kamu tidak mencintaiku, kamu harus berusaha tetap adil dalam hal memenuhi kebutuhan biologisku! Kamu harus profesional!"


Dia berhasil melepaskan diri. Sekarang, bahkan berani mendorong tubuhku hingga terlentang.


"Mas! Kamu jangan kasar ya!"


"Yang kasar itu kamu, Dewi Laksmi! Aku mendorong kamu sudah dengan perhitungan! Aku manusia waras! Aku tidak mungkin menyakiti kandungan kamu dan membahayakan calon anakku!"


"Mas, maafkan aku. Yuk, kita mulai lagi ya. Kamu belum menyentuhku, Mas. Lupakan kejadian tadi, oke? Mari bersikap profesional." Aku mengiba dan memohon belas kasihnya.


"Dasar gila! Kamu menyuruku profesional?! Kamu pikir aku g i g o l o apa?!" sungutnya sembari memakai kembali yang tadi kulepaskan.


"Mas, aku sudah minta maaf. Ke-kenapa dipakai lagi, Mas? Kita belum melakukannya." Aku bangkit untuk memeluknya. Namun kali ini, dia menepsiku.


"Sudah kubilang jangan pernah membandingkan Hanin dengan kamu! Tapi kamu tak mematuhi permintaanku! Ingat! Hanin tak bisa dibandingkan dengan kamu! Tidak selevel!" teriaknya.


Kalimat itu membuatku kian tersiksa. Hingga akhirnya aku menangis karena tak kuasa lagi menahan air mata ini.


"Huuu, kamu jahat, Mas. Kamu melukai jiwa ragaku. Memangnya apa kelebihan dia jika dibanding sama aku, Mas?"


"Banyak! Hanin banyak lebihnya. Aku tak perlu menjelaskannya. Silahkan kamu intropeksi diri!" Dia meraih ponselnya dan bergegas pergi. Aku mengejar. Memeluk punggungnya.


"Mas, ja-jangan pergi."


"Maaf, aku tidak bisa. Nafsuku juga sudah hilang." Dia mengurai tanganku dan benar-benar pergi. Aku terus mengejar, aku bahkan tak peduli dengan keadaanku.


"Cepat pakai baju kamu dan tidurlah dengan nyaman."


"Jangan pergi dulu, Mas! Aku merindukan kamu."


"Maaf, Wi. Aku tidak bisa."


Dia menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar. Aku bersimpuh di balik pintu sambil terisak-isak. Ini benar-benar tragis dan sangat menyakitkan. Ingin kuputuskan urat nadiku saat ini juga. Tapi ... di dalam perutku ada nyawa yang harus kuselamatkan.


"Papi .... Mami ... huuu, huks ...."


Aku memegang dadaku. Rasanya perih sekali. Laksana ditikam ratusan sembilu. Aku kemudian becermin. Tubuhku sempurna dari sisi manapun. Dulu, tubuh ini begitu dipuja. Para pria itu selalu memuji dan menyanjungku. Mereka bahkan rela mencium kakiku demi mendapatkan tubuhku.


Tapi ... di mata mas Zul, aku bagaikan sampah daur ulang. Secantik apapun aku, tetaplah tak berharga. Padahal, dia tidak tak pernah tahu sisi gelapku.


"Huuu ...."


Aku kembali bersimpuh. Lalu merebahkan diri di lantai dengan menjadikan lenganku sebagai bantalan kepalaku. Aku mulai kedinginan, tapi aku tak peduli. Airmataku membasahi lantai, kuremas tubuh hinaku ini dengan tangan gemetar.


Harusnya, dulu ... saat pertama kali melakukan hubungan badan dengannya, aku berpolah lugu dan polos saja. Saat itu, karena terlalu nafsu akan pesonanya, aku malah mendominasinya. Apa mungkin dia curiga?


Tidak! Itu tidak mungkin!


...⚘️⚘️⚘️...


Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Issh, kak Listi kemana, 'sih? Kok tak datang-datang."


"Kak, sudah sampai mana? Hennanya sudah siap."


Pesan terkirim. Tapi tidak ada balasan. Awalnya mau menghubungi ibu atau bapaknya kak Listi. Tapi tidak enak hati. Khawatir mereka masih trauma pasca kejadian penculikan itu. Aku memutuskan menyusulnya ke depan gerbang.


"Mau ke mana, Bu?" Di perjalanan bertemu dengan pak Reza.


"Mau ke gerbang, Pak. Boleh, 'kan? Mau menunggu kak Listi."


"Boleh, Bu. Silahkan. Tapi, akan saya dampingi ya." Pak Reza menguntit.


"Terima kasih Pak Reza."


"Ini tugas saya, Bu. Oiya, 'kok Ibu mengajak kak Listi main di jam malam?"


"Emm, entah kenapa, aku tiba-tiba mau pakai henna, Pak. Sudah minta izin sama pak Zulfikar dan diperbolehkan."


"Oh, ngidam kali, Bu."


Kami tiba di halaman depan. Gerbang tertutup dan penjaganya sudah berada di pos. Sedang mengobrol bersama temannya sambil minum kopi.


"Bu Daini?"


Mereka serempak berdiri dan menghampiri. Mata mereka melirik kesana kemari. Mungkin sedang mencari keberadaan pak Zulfikar.


"Aku mau menunggu kak Listi, Pak. Dia sudah janji mau menginap."


"Oh, teman Ibu yang tomboy itu?"


"Ya, Pak."


"Tadi sudah ke sini. Sudah sampai gerbang."


"Oya?" Aku menautkan alis.


"Terus, di mana kak Listinya, Pak?"


"Pergi sama pak Abil, Bu. Kayaknya pak Abil ada hal penting yang harus dibicarakan sama kak Listi."


"Apa? Pergi sama pak Sabil?"


"Ya, Bu. Kami semua saksinya. Bisa Ibu cek di CCTV." Mereka berusaha meyakinkanku.


"Tidak perlu, Pak. Aku percaya, 'kok. Ya sudah, kalau begitu, aku ke dalam lagi. Terima kasih atas informasinya."


Akupun kembali ke kamar dengan hati bertanya-tanya.


"Apa pakai hennanya mau ditemani bu Juju atau Ipi?" tanya pak Reza.


"Tidak perlu, Pak. Mereka juga sudah istirahat. Aku tidak apa-apa, 'kok. Bisa pakai henna di lain waktu."


"Baiklah, saya permisi Bu." Setelah mengantarku sampai depan kamar. Pak Reza berpamita.

__ADS_1


"Ya, Pak. Terima kasih banyak."


.


Tiba di kamar, aku kaget sebab pak Zulfikar sudah berbaring di tempat tidur. Sepertinya, urusannya bersama bu Dewi sudah selesai. Aku mendekat pelan. Berjalan mengendap-endap agar tak membangunkannya.


Pikirku, kenapa cepat sekali? Kenapa tidur di sini? Harusnya masih bersama bu Dewi, 'kan? Tapi, ya sudahlah. Aku telah berjanji tidak akan ikut campur dan membuatnya tersinggung lagi.


Aku merebahkan diri setelah membetulkan selimutnya. Masih ada kancing bajunya yang terbuka. Sabuknyapun belum terpasang dengan sempurna.


Tidak, aku tidak boleh cemburu. Aku membuang jauh-jauh perasaan itu. Syukurlah, jika pak Zulfikar dan bu Dewi telah melakukannya, artinya ... hubungan mereka telah membaik. Lalu berusaha memejamkan mata.


"Nakal," bisikan itu membuatku membuka mata.


"P-Pak Zulfikar?"


"Dari mana kamu, hmm?"


"A-aku ---."


"Kamu harusnya izin dulu sebelum melangkahkan kaki dari kamar ini."


"Ma-maaf, Pak. Aku tadi ke depan ger ---."


"Aku sudah tahu dari bu Juju," selanya.


"Ma-maaf, Pak."


"Aku tidak akan memaafkan kamu." Dia membelakangiku.


"A-Anda kenapa?" Aku yakin dia tidak serius memarahiku.


"Harusnya kamu mencari cara agar aku bisa memaafkan kamu."


"Pak, maaf." Aku mencium tangannya. Ingin memeluknya tapi kesulitan karena perutku sudah membesar.


"Tidak mau." Ya ampun, manja sekali. Kayak anak kecil saja.


"Ya sudah, apa yang harus kulakukan agar Anda memaafkanku?"


"Layani aku sayang." Langsung membalikan badan dan merangkulku.


"A-apa?!"


Apakah sama bu Dewi belum cukup? Ingin berkata demikian tapi tak etis.


"Ta-tapi ---."


"Tidak ada tapi-tapian." Sambil membuka kemejanya dan dilempar sembarang.


"Pak ...." Aku menatapnya heran.


"Maaf ya sayang."


Sekarang menarik busanaku dengan tergesa. Aku sempat mengira kalau pak Zulfikar dicekok obat sama bu Dewi. Namun dari tatapan matanya, aku yakin kalau ia tidak dalam pengaruh obat apapun.


"A ---. Sa-sakit." Ia menyemat kuat tanda cinta di leherku


"Maaf sayang."


Namun ia tak mengurungkan keinginannya. Aku hanya bisa pasrah. Ingin rasanya protes dan bertanya kenapa ia bisa seperti ini. Tapi ... aku tak berani.


"Ma-maaf ya sayang."


Itu ucapan maaf yang kesekian kalinya. Aku terbaring miring sambil memeluk guling. Tengah berusaha menahan tangis dan teriakan. Ada apa dengannya? Kenapa malam ini agak kasar?


"Huks ...." Akhirnya menangis juga.


"Ma-maaf sa-sayang .... Sakit ya?"


Aku mengangguk lemah. Ia mengecup kelopak mataku beberapa kali. Namun ... tetap melanjutkan aktivitas itu hingga ia melenguh-lenguh, memanggil namaku, berdecak lirih dan melampaui batasnya. Kemudian menjatuhkan tubuh lelahnya di sisiku.


Terakhir, dengan napas yang masih terengah, ia menelusupkan kepalaku di dadanya. Lanjut mencium puncak kepalaku dan mengucapkan kalimat itu.


"Ma-maaf ya sayang ...."


"Huuu. Ka-kalau bayi kembar kita kenapa-napa, itu salah Anda," tuduhku.


"Maaf sayang. Besok, kita USG lagi. Jangan nangis, oke?"


"Anda kenapa, Pak? Sakit, tahu. A-apa Bapak lupa kalau aku sedang hamil?" Aku cemberut.


"Aku tidak mungkin lupa sayang, dan aku yakin kalau mereka akan baik-baik saja." Sambil mengusap perutku.


"Ya sudah, sebagai permintaan maaf, aku akan memijat kamu sampai kamu tidur."


"Tidak perlu, Pak."


Tapi ia tak memedulikan penolakanku. Sekarang, mulai memijatku dengan lembut menggunakan VCO. Jujur, ini nyaman sekali. Semoga tidak berakhir dengan pijatan yang bukan-bukan. Kantukpun menyerang, dan mataku mulai meredup. Saking nikmatnya, akupun terlelap.


.


Aku baru terbangun saat adzan Subuh berkumandang. Terkejut seketika karena melewatkan shalat malam. Aku menggeliat perlahan. Saat memandangi tubuhku, ternyata sudah berbusana lengkap.


Lalu mata ini membelalak sempurna saat menyadari jika kamar ini telah berubah bak taman bunga. Aku mengucek mataku untuk memastikan kalau yang kulihat adalah kenyataan. Pantas saja aku mencium keharuman yang semerbak. Segera turun dari tempat tidur. Kakiku langsung menginjak mahkota mawar yang terhampar.


Ada secarik kertas di atas nakas. Aku mengambilnya.


"Aku minta maaf sayang. Anggap saja jika semua bunga yang ada di kamar ini sedang membantuku untuk meminta maaf sama kamu."


Aku menghela napas. Perlahan, bibir ini mulai tersenyum. Menyiapkan hal seperti ini tentu saja tidak mudah. Ia juga mengirim pesan.


"Aku ada urusan sayang. Ada hal mendesak yang harus kuselesaikan. Jangan khawatir, aku pergi sama papa dan pak Reza. Mohon doanya."


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2