Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Pertemuan


__ADS_3

Jantungku berdegup saat kafe yang akan dijadikan tempat pertemuan itu ada di hadapanku. Aku baru saja turun dari taksi. Pak Zulfikar memberitahuku alamatnya tadi sore. Aku mengedarkan pandangan. Kafe ini sangat mewah. Terkenal dengan rooftop megahnya yang berada di ketinggian dengan view gemerlapnya ibu kota.


Kafe ini menyediakan sajian berkonsep gastronomi Nikkei yang artinya gabungan antara makanan Jepang dan Peru. Dinding kafenya terbuat dari kaca. Jadi, pengunjung dapat melihat dengan jelas pemandangan ibukota sembari bersantap dalam hidangan mewah ala fine dining.


Sungguh, aku gugup dan tak percaya diri. Aku yakin ini tempat pilihan bu Dewi. Aku ingin seseorang memegang tanganku dan mengatakan padaku, 'Tenang Dai, semua akan baik-baik saja.'


Sebagian meja yang kulintasi telah diisi pengunjung. Mereka menatapku, ada yang tersenyum, ada yang juga memandang keheranan.


Seunik itukah penampilanku hingga aku jadi pusat perhatian?


"Hanin, kami sudah menunggu. Di lantai 3 ya. Meja VVIP nomor 1," pesan dari pak Zul.


.


Bismillahirrahmanirrahim. Aku sudah berada di lantai tiga.


Meja VVIP nomor 1. Nah, itu dia. Akupun mendekat ke sana.


Hanin, kamu pasti bisa.


Jedug, empat orang itu menatapku. Aku mematung dan menunduk. Tanganku memegang erat sisi rok.


Ummi, abah, aku takut.


Ada pria beseragam polisi, ada juga yang memakai pakaian formal lengkap dengan dasi dan jas. Dugaku, dia adalah pengacara.


Sementara pak Zul hanya memakai kemeja polos tanpa dasi. Dia menganggukkan kepala saat bersitatap denganku. Lalu ada wanita cantik dengan gaun mewahnya yang gemerlap. Ya, dia adalah bu Dewi. Dia menatapku dari ujung jilbab hingga ke kakiku.


"A-assalamu'alaikuum," sapaku.


"Wa'alaikumussalaam," jawab mereka serempak. Aku mendekat, dan ....


'BYUR.'


Tiba-tiba saja, bu Dewi mengguyur wajahku dengan jus yang ada di hadapannya. Aku terkejut. Pun dengan yang lain.


"Dewi!" teriak pak Zul. Dia sampai berdiri.


Pak polisi dan pengacarapun berdiri dan melongo. Aku mengelap wajah dengan jilbabku, tanganku gemetar. Airmataku berurai. Ya, aku memang pantas mendapatkan semua ini. Bahkan layak mendapatkan yang lebih buruk lagi.


"Hanin, kamu tidak apa-apa, kan?" Pak Zul mendekat.


"Mas! Duduk!" teriak bu Dewi.


"Bu Dewi mohon maaf, Bu. Pertemuan ini untuk meluruskan masalah, bukan untuk memunculkan masalah baru." Pak Polisi melerai.


"Silahkan Anda duduk."


Bapak pengacara mendekatkan kursi ke sisiku. Aku duduk perlahan sambil terus mengusap lelehan air mata.


"Jujur saja padaku! Kamu sengaja memperdaya suamiku, kan?!"


Rupanya, sebelum aku datang, polisi dan pak Zulfikar telah menjelaskan kronologi kejadian malam itu pada bu Dewi.


"Bu Dewi, a-aku ---."


"Jangan pura-pura lugu! Ngaku saja kalau kamu keenakan ditiduri oleh suamiku sampai-sampai berdalih minta dikawini! Apa bedanya kamu dengan pe la cur?!"


"Wi! Jang ---."


"Diam kamu, Mas!"


"Bagaimana ini Pak Zul?" tanya pengacara.


"Bu Dewi tenang ya, tidak baik kalau pengunjung lain melihatnya," kata polisi. Sementara Pak Zulfikar menunduk sambil memasygul rambutnya.


"Aku malah senang kalau wanita munafik dan sok suci ini diketahui belangnya!" sentak bu Dewi.

__ADS_1


Ia duduk kembali di kursinya, menopang kaki dan memalingkan wajah. Pak polisi dan pengacarapun kembali duduk.


"Ka-kapan aku diizinkan bicara? tanyaku setelah air mata ini mulai mereda.


"Cinta, kamu tenang ya. Beri kesempatan pada polisi dan pengacara untuk melaksanakan tugas mereka. Kamu juga harus memberi kesempatan pada Hanin. Seperti yang sudah Mas jelaskan sebelumnya. Malam itu, aku dan Hanin mabuk, kita melakukannya tanpa sengaja." Pak Zuklfikar memegang tangan bu Dewi.


"Huuu, diam kamu Mas! Kalau Mas tak terpengaruh guna-guna dia dan tak ketagihan menikmati tubuhnya! Setelah kamu menikahinya, harusnya Mas langsung menceraikan dia! Lha, ini Mas malah meniduri dia lagi! Aku yakin dia menyantet kamu, Mas!"


"Bu De ---."


"Diam kamu ja lang! Huuu, huuks."


Aku kembali membisu. Memegang dadaku yang terasa sesak dan sakit. Bu Dewi memfitnahku.


"Istighfar Wi, darimana kamu dapat kesimpulan seperti itu? Jangan mengada-ada Wi," kata pak Zulfikar.


"Pak, masalah ini jadi melebar ke mana-mana, daripada jadi perhatian pengunjung lain, bagaimana kalau kita pindah saja ke ruangan eksekutif privat," kata pak Polisi.


"Aku setuju, dari awal aku juga mau di situ," sahut pak Zulfikar.


"Aku mau tetap di sini!" Bu Dewi bersikukuh.


"Oke, kita tetap di sini. Tapi Mas mohon dengan sangat agar kamu jangan teriak-teriak lagi. Kalau orang lain tahu, dampaknya bisa fatal. Kalau ada wartawan yang tahu, saham perusahaan kita bisa anjlok," terang pak Zufikar. Ia memegang tangan bu Dewi.


"Huuu, ini semua gara dia, Mas." Bu Dewi menangis lagi sambil menunjuk ke arahku.


Pak Zulfikar memeluknya. Aku menatap adegan itu dengan perasaan berdesir-desir. Entah kenapa aku tiba-tiba ada perasaan ingin juga dipeluk pak Zulfikar. Benar-benar tak tahu malu.


"Bu Daini, sekarang kami mempersilahkan pada Anda untuk berbicara. Oiya, selama proses penyelidikan, kami akan menetapkan Anda sebagai saksi kasus salah kamar ini," terang polisi.


Bu Dewi terlihat mulai tenang. Dia terus memeluk pak Zulfikar. Pak Zulfikar juga sesekali mengelus pipi bu Dewi. Di balik meja, tanganku gemetar. Ada apa dengan perasaan ini?


"A-aku mengerti, Pak. Sebenarnya, aku adalah korban. Tapi ... kalau Bapak sudah menetapkanku sebagai saksi, aku siap bekerja sama. Untuk Bu Dewi, pernyataan Ibu tentang santet dan guna-guna itu, tolong cepat ditarik lagi. Tuduhan Ibu adalah fitnah dan sangat melukai perasaanku."


"Perasaan aku juga sakit gara-gara kamu, Daini!" selanya.


"Wi, Mas mo ---."


"Karena kita sudah bertemu, aku juga ingin meminta maaf pada Bu Dewi atas kelancanganku selama ini. De-demi Allah Bu ... semua yang terjadi pada malam itu sama sekali tidak ada rekayasa. Tapi Ibu tidak perlu takut dan khawatir lagi. Ka-karena aku dan suami Ibu akan segera becerai," tegasku.


"Apa benar seperti itu, Mas?!"


"I-iya, kita akan becerai," ucap pak Zulfikar.


Lalu bu Dewi menatap tajam padaku. Aku menunduk. Tidak ingin bersitatap dengannya karena malu dan merasa sangat bersalah.


"Aku tidak ingin kalian becerai!" kata bu Dewi.


"A-apa?"


Aku terkejut, begitupun dengan pak Zulfikar, polisi dan pengacaranya.


"Bu Dewi, ke-kenapa jadi begini?" Aku benar-benar tak mengerti.


"Pokoknya, kamu harus tetap jadi istri siri suamiku! Kalian hanya boleh becerai atas seizinku! Kamu tidak boleh protes Daini! Dan kamu Mas, kamu juga tidak boleh protes! Atau aku akan membawa media dan membocorkan kasus ini sebagai kasus perselingkuhan dan perzinahan!" tegasnya sambil berdiri dan sepertinya akan pergi.


"Wi tunggu! Mas tidak mengerti maksud kamu. Bukankah kamu tadi menginginkan agar aku dan Dewi segera becerai?! Kenapa kamu berubah pikiran?! Kenapa, Wi?!" Pak Zul menahan tangan bu Dewi. Napasnya memburu, wajahnya memerah seolah-olah tengah menahan amarah.


"Lepas Mas! Pokoknya kalian jangan becerai! Titik! Untuk alasannya, lambat-laun nanti juga Mas akan faham sendiri! Aku mau pulang duluan Mas. Oiya, aku juga ingin tinggal bersama dengan wanita sok suci itu!" Aku teperanjat dan semakin tak mengerti.


"Dewi, Mas mohon, jangan seperti ini. Mas bingung, Wi."


"Tidak perlu bingung, Mas! Mas tinggal ikuti saja kemauanku dan mulai berpikirlah dari sekarang untuk mencari alasan pada mami dan papiku serta beralasan pada mama dan papamu!" tegasnya.


"Wi, kalau kamu seperti ini, masalahnya jadi tambah rumit. Keluarga kita tidak boleh tahu masalah ini. Wi, please ... tolong pikirkan sekali lagi."


"Aku sudah berpikir Mas! Dan itu keputusanku!"

__ADS_1


"Wi, tolong jangan mempersulit keadaan ini."


"Yang mempersulit masalah ini, dia! Bukan aku! Aku pergi!" Bu Dewi menepis tangan pak Zulfikar dan pergi begitu saja.


Aku menunduk sambil memegang kuat sisi rokku. Apa yang dilakukan bu Dewi sungguh di luar dugaan.


Kenapa jadi begini?


"Bagaimana ini, Pak Ikhwan?" tanya pak Zulfikar pada pengacaranya setelah bu Dewi pergi.


"Hmm, saya menangkap ada sebuah misi tertentu di balik keputusan istri Anda," kata Ikhwan.


"Kalau menurut Pak Sabil bagaimana?" Pak Zulfikar menatap pak polisi.


"Sama seperti pendapat Pak Ikhwan, saya juga berasumsi jika bu Dewi melakukan ini karena ingin mempersulit Anda. Motifnya tentu saja karena bu Dewi sakit hati."


"A-apa?! Jadi kalian berpikir Dewi sengaja melakukan ini untuk menekanku?"


Tatapan pak Zulfikar begitu sendu. Aku melihat mimik ketakutan dan kesedihan dari raut wajahnya.


"Ya, seperti itulah kira-kira Pak. Dengan tidak bercerainya Anda dan bu Daini, selain bisa mempersulit Anda, bu Dewi juga bisa menekan dan mempersulit bu Daini," jelas pak Sabil.


Aku dan pak Zulfikar saling menatap. Lalu dia menggeser kursi ke sampingku. Aku menundukkan kepala. Aku tidak bisa berkata-kata lagi karena kebingungan. Hanya bisa menangis dan menangis.


"Hanin," dia menarikku ke dalam dekapannya. Pak Sabil dan pak Ikhwan saling menatap.


"Pak Sabil, Pak Ikhwan, kalian boleh pergi. Terima kasih atas kerja samanya."


"Sama-sama Pak Zul. Kalau begitu, kami permisi," ucap pak Sabil.


Kemudian merekapun pergi setelah bersalaman. Namun tidak bersalaman denganku.


"Hanin, aku tidak menyangka akan bersamamu lagi dengan cara seperti ini. Dewi mungkin ingin balas dendam padaku." Pak Zulfikar melamun sambil mengetuk-ngetuk gelas minumannya.


"Pak, Anda tidak boleh berburuk sangka. Bu Dewi melakukannya mungkin untuk mendewasakan Anda. Tapi sebagai seorang pria, Bapak seharusnya bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan."


"Hanin, dari awal, aku memang tidak mau becerai dari kamu. Aku tulus mencintai kamu. Jadi, mungkin dengan cara ini Allah menjawab doa-doaku. Aku berdoa sama Allah agar kita tidak berpisah." Dia memegang tanganku.


"Aku tidak menyangka Anda sepengecut ini," tuduhku.


"Hanin, ada banyak hal yang aku lalui sampai aku memutuskan untuk menikahi Dewi. Hubunganku dan keluargaku tidak sesimpel dan seindah yang orang-orang bayangkan."


"Adakalanya aku harus mengalah demi kebahagiaan keluargaku. Aku bahkan sering berada pada posisi di mana aku tidak bisa memilih ataupun menentukan pilihan."


Aku tak mampu berkata-kata lagi. Entah seperti apa kedepannya, aku sama sekali tidak bisa membayangkannya.


"Kamu mau makan apa? Setelah makan, aku akan mengantarmu pulang." Pak Zul membersihan airmataku dengan tissue.


"Aku sudah makan Pak. Ti-tidak perlu diantar, aku bisa sendiri. Bapak cepat pulang. Anda harus membicarakan lagi masalah ini dengan bu Dewi." Aku beranjak.


"Hanin, tu-tunggu." Dia memegang tanganku.


"Kenapa, Pak?"


"Kalau kamu masih sakit, besok tidak perlu bekerja ya. Kamu harus benar-benar pulih dulu, baru boleh kerja."


"Aku sudah sehat, Pak."


"Hanin, aku ingin memelukmu, boleh 'kah? Hanin, tidak bisakah kamu menemaniku dulu?"


Aku menjawab pertanyaanya dengan senyuman yang dipaksakan sambil menggelengkan kepala.


"Assalamu'alaikuum," aku meninggalkannya di saat dia baru saja merentangkan tangan untuk memelukku.


"Hanin, jangan pergi dulu."


Maafkan aku Mas ....

__ADS_1


Aku menangis dan berusaha keras agar tidak menoleh ke belakang.


...~Tbc~...


__ADS_2