
Iptu Sabil Sabilulungan
"Aa mau ke mana lagi? Baru juga datang, 'kok sudah mau pergi lagi?" protes bu Asih. Dia adalah pegawai kepercayaan yang telah bekerja lama di rumahku. Kata bunda, bu Asih sudah bekerja di rumahku sejak aku masih di dalam kandungan. Jadi, dia sudah seperti nenek keduaku.
"Sekarang jadwalnya nganjang, Bu," jawabku. Nganjang artinya berkunjung atau bertamu. Karena bu Daini sudah ditemukan, aku jadi lega dan merasa jika misi hari ini telah selesai.
"Nganjang? Nganjang ke mana A? Memangnya Aa sudah punya gebetan? 'Kok Ibu baru tahu, 'sih?"
"Hehehe, sebenarnya masih PDKT, Bu. Doain ya."
Sekarang, aku sedang bersiap untuk pergi ke rumah Listi. Rencananya mau menginap lagi di rumahnya dengan alasan ayah bundaku tidak ada di rumah dan atas dasar alasan keamanan.
"Masih PDKT? 'Kok bisa? Oiya, sudah izin sama ibu dan bapak belum, A?"
"Sudah, Bu. Malam kemarin 'kan ayah, bunda, dan aku menginap di rumahnya."
"Apa?! Jadi, kalian tidak menginap di hotel?" Bu Asih terkejut.
"Ya, Bu. Ibu tenang saja, rumah ini dijaga ketat 'kok. Jadi, jikapun aku tidak ada, Ibu tidak perlu takut."
"Ibu memang tidak takut, A. Cuma jadi penasaran saja sama cewek yang disukai kamu. Apa dia aparat juga?"
"Bukan Bu. Dia pekerja kantoran. Yang pasti orangnya itu cantik, lucu, dan agak galak."
"Orang mana, A?"
"Nanti aku kenalkan kalau kita sudah jadian. Untuk saat ini, aku masih berusaha mendapatkan hatinya, Bu. Untungnya, ayah dan bunda merestui. Satu lagi kabar baiknya, orang tua gadis yang aku sukai, menyukaiku, Bu."
"Wah, kalau kayak begitu ceritanya, langsung taaruf saja, A. Daripada Aa melakukan pendekatan, mending langsung lamar, A."
"Tapi, Bu. Dia mengatakan tidak mencintaiku."
"Ya ampun, kurangnya Aa apa coba? Dia mau mencari pria yang kayak apa? 'Kok bisa tidak suka sama Aa?"
"Mungkin, dia kurang suka sama profesiku, Bu. Ibu tahu sendiri 'kan citra polisi di mata masyarakat seperti apa?"
"Tapi 'kan yang jahat hanya oknum, A." Sambil membantu merapikan kemejaku.
"Ya 'sih. Ya sudah, aku pergi ya, Bu. Takut keburu malam." Kulihat, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10.42 WIB.
"Ya sudah. Hati-hati ya, A. Sama pak ajudan enggak ke sananya?"
"Enggak Bu, sendiri doang."
"Lho, kenapa sendirian A? Ibu khawatir ah. Jangan sendirian A. Sudah tahu Aa itu sedang menangani kasus orang besar. Berisiko tahu A. Sama ajudan ya."
"Bu, keberadaan ajudan ayah, justru akan mengundang kecurigaan. Pokoknya, Ibu tidak perlu khawatir. Aku sudah besar, Bu. Aku tahu apa yang harus kulakukan." Lalu menyalaminya.
"Beuh, wangi banget parfumnya, A. Apa tadi pakainya enggak kebanyakan?" Bu Asih mengendus bajuku.
"Namanya juga mau bertemu orang spesial, ya harus wangi 'lah, Bu."
Sambil bergegas. Bu Asih mengantarku sampai parkiran. Biar cepat, aku memutuskan menggunakan motor. Ajudan ayah dan petugas keamanan hanya saling menatap. Namun, mereka tidak menanyakan hal apapun. Di sisi lain, mereka pasti sudah tahu kalau ayahku sedang terancam.
'Bruuum.'
Motor yang kukemudikan melesat cepat meninggalkan komplek. Semoga Listi belum tidur. Kalaupun sudah tidur, tidak masalah. Tapi, saat kami bertukar pesan, Listi mengatakan tidak bisa tidur sebelum mengetahui kabar pasti tentang bu Daini. Dia tidak tahu kalau bu Daini sudah ditemukan. Aku sengaja belum memberitahunya agar kabar ini bisa kujadikan sebagai kejutan.
...⚘️⚘️⚘️...
Di perjalanan, saat motorku sedang melewati jalan tikus, aku merasa diikuti oleh motor lain. Tunggu, biar kulihat dulu siapa mereka. Aku memancingya dengan cara berhenti. Pura-pura mengecek motorku yang padahal tidak kenapa-napa.
Benar saja, sebuah motor berhenti di belakangku. Berjarak sekitar lima meter. Aku pura-pura tidak melihatnya. Kawasan ini memang sepi. Ditambah rawan begal. Mirisnya, berdasarkan data, pelakunya adalah anak-anak di bawah umur.
"Kenapa motornya Bang?" Salah satu dari mereka mendekat. Seorang remaja tinggi kurus berusia sekitar 15 tahun. Kayaknya, mereka basa-basi dulu sebelum beroperasi.
"Tadi enggak enak saja dibawanya. Makanya aku cek." Seolah fokus pada roda motor. Padahal, aku sedang waspada.
"Motornya bagus, Bang. Boleh buat kita, enggak?" Yang lainnya menyusul. Mereka bertiga. Satu motor tumpuk tiga.
"Masih kredit motornya, belum lunas." Padahal, ini motor pemberian dari bunda.
"Ayolah Bang, buat kita saja." Sambil mengelus motorku. Kurang asem 'nih para bocah. Enggak tahu apa kalau aku bawa pistol?
'Srek.' Tanpa kuduga, salah satu dari mereka langsung menikam lenganku deng pisau jenis belati.
"Awh," teriakku. Langsung berdiri dan mengambil pistol.
"Aku polisi! Angkat tangan!c Menodongkan pistol. Aku tak memedulikan lenganku yang berdarah.
"Woy, dia polisi! Kabuuur!" Dua orang langsung lari. Pelaku yang menusukku masih melongo, saat sadar diapun berlari. Namun, sebelum lari, dia masih sempat mengambil helmku yang kuletakkan di atas motor.
"Hei, kembalikan helmku! Awh."
Salahku helmnya dibuka. Harusnya dipakai saja. Menangkap merekapun rasanya percuma saja. Sebab, ujung-ujungnya pasti dikembalikan pada orang tuanya. Lagi pula, di motorku sudah ada sidik jari dua pelaku. Jadi, aku bisa menangkap mereka kapan saja.
Luka sobeknya cukup dalam. Ini menyakitkan. Namun, aku memaksakan diri tetap membawa motor. Aku menahan rasa sakit dengan metode ambil napas dari hidung, buang napas dari mulut. Tidak memakai helm, membuat wajahku terasa dingin. Karena sudah melewati setengah perjalanan, aku tetap melanjutkan perjalanan ke sana. Ke rumah Listi.
...⚘️⚘️⚘️...
Aku menekan bel yang terletak di gerbang rumahnya. Tubuhku mulai panas dingin. Ini bisa jadi disebabkan dari pisau yang kotor.
"Ahh ...."
Serius sakit sekali. Lagi, aku menekan bel. Demi bertemu Listi, aku rela mengabaikan lukaku. Dari halaman rumahnya, kulihat dia datang. Listi sudah memakai piyama tidurnya. 'Kok seksi sekali? Apa pada malam hari setiap wanita akan berubah jadi makin seksi?
"Pak Sabil? A-Anda serius mau menginap di rumahku?" Sambil membuka kunci gerbang.
"Tia, to-tolong." Di depan dia aku jadi lemah. Langsung sempoyongan seperti orang mabuk.
"Lho-lho, Pak Sabil kenapa?! Mabuk?" Dia mengendus dan menahan bahuku. Rupanya belum sadar kalau aku terluka.
"Aku tidak mabuk. Haram, Tia. Masa aku mabuk 'sih? A-aku diserang begal. Ahh, sa-sakit." Jadi ada alasan untuk bermanja-manja. Aku berakting seolah hendak jatuh ke lantai.
"Eh, P-Pak Sabil, kenapa? Tahan dulu Pak! Tadi Bapak bilang apa?! Diserang begal?!" Asyik, dia langsung memelukku. Hmm, hangat sekali. Tidak kusia-siakan. Segera menjatuhkan kepala di bahunya.
"I-iya, a-aku dibegal. Aku kehilangan helmku."
"Pak Sabil! I-ini ---." Dia terkejut dan panik saat menyadari lenganku berdarah.
"A-aku ditikam."
"Kenapa tidak bilang dari tadi?! Bapaaak! Ibuuu! Tolooong!" teriaknya. Meminta bantuan. Lalu memapahku menuju teras.
__ADS_1
"Aduh, Anda makan apa 'sih? Makan batu?! Berat tahu!" keluhnya.
"Aku 'kan tidak gendut, masa berat?" sangkalku.
"Pak Sabil! Melangkah dong! Kaki Anda panjang 'kan? Jangan memelukku terlalu kencang!" protesnya. Dia kesulitan saat memapahku yang memang disengajakan merangkulnya sambil melangkah sedikit demi sedikit.
"Aku korban begal. Aku terluka, jangan galak-galak atuh geulis. Kamumah begitu lho. Super tega," ocehku.
"Tega apanya?! Kalau aku tega, aku enggak akan membukakan pintu! Ibuuu, Bapaaak! Mereka kemana 'sih? Awh, pinggangku pegal! Pak Sabil tahan dulu ya. A-aduh, makanya punya badan 'tuh jangan terlalu bongsor! Kayak begini 'kan jadinya? Menyulitkan tahu!" Dia ngos-ngosan. Namun, pada akhirnya berhasil juga membawaku ke teras rumahnya.
"Terima kasih," lalu merebahkan tubuhku di teras rumahnya.
"Ibu dan Bapakku pasti sudah tidur. Tunggu, aku ambil kunci mobil dulu ya. Kita ke klinik." Dia tampak cemas.
"Tia, tunggu." Memegang tangannya.
"Pak, ini tidam bisa dibiarkan! Kalau infeksi bagaimana?!"
"Obati sama kamu saja. Bisa 'kan? Aku ada kotak P3K di bagasi motorku."
"Kalau diobati sama aku takut tidak maksimal, Pak! Oiya, motornya?!" Dia langsung berlari ke gerbang. Kunci motorku masih menempel di sana.
"Tia, hati-hati!"
Aku terkejut. Dia menaiki motorku dan melajukannya tanpa kendala. Aku baru tahu kalau dia bisa mengemudikan motor tipe kupling. Keren sekali calon istriku ini. Serba bisa. Setelah menyimpan motorku di garasi. Ia berlari ke dalam rumah. Tidak lama sudah keluar lagi sambil membawa kotak P3K.
"Aku obati dulu seadanya. Setelahnya, tetap harus ke klinik," katanya.
"Kamu akan mengobati di teras rumah. Tia, aku kedinginan, apa kamu tidak bisa membawaku ke dalam rumah?"
"Oiya ya. Tapi, aku tidak sanggup memapah Anda lagi. Di sini saja ya."
"Aku bisa jalan, 'kok." Segera berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.
"Pak Sabil?! Itu bisa jalan sendiri? Kenapa tadi kayak mau pingsan? Jangan bilang kalau Anda sengaja mengerjaiku!"
"Itu tadi, sekarang tidak lagi," elakku.
"Issh. Ya sudah, cepat tiduran di sofa." Dia membantuku berbaring. Lalu tampak gugup saat hendak membuka bajuku.
"Biar aku saja yang buka."
Aku duduk sejenak untuk membuka kemejaku. Di bagian lengan, kubuka dengan perlahan karena bekas tikaman itu membuat kemejaku menempel ke kulit.
"Ke-kenapa tidak pakai kaus dalam?" Dia segera memalingkan wajah setelah melihat sepintas roti sobekku.
"Aku tidak nyaman pakai kaus dalam. Tenang saja, dalaman yang lain masih pakai 'kok," godaku.
"Jangan bercanda, Pak! Hsshh," malah ikut-ikutan meringis saat aku menarik paksa kemejaku yang menempel pada luka.
"Pelan-pelan dong, Pak. Sini, sama aku saja."
Dia mengambil alih. Menarik perlahan-lahan, dan ... berhasil. Lukanya kecil, tapi cukup dalam. Darah yang keluar dari lukaku sudah mulai menggumpal.
"Aku bersihkan dulu," katanya. Syukurlah, kalaupun kata bu Daini dia tidak bisa memasak, setidaknya, Listi masih bisa merawat luka ringan.
"A-ah pelan-pelan Tia. Perih."
"Sabar dong, Pak. Oiya, bagaimana kabar Daini? Apa sudah ada perkembangan? Karena terlalu fokus sama luka Pak Sabil, aku hampir lupa sama Daini."
"A-apa? Benar sudah ketemu?! Ketemu di mana, Pak?" Sambil menekan lukaku.
"Aah! Tia, sakit," pekikku. Segera memegang tangannya.
"Ada apa ini?! Pak Polisi kenapa?" Tiba, bu Mentari tiba.
"Ibu, emm ---." Listi memberi isyarat agar aku yang menjelaskan.
"Bu, aku dibegal. Helmku diambil dan ini, lenganku kena tikam," jelasku.
"Ya ampun Pak Polisi, 'kok bisa kecolongan begal? Masih untung Pak Polisi tidak apa-apa. Listi, kamu cepat bangunkan Bapak. Biar Ibu yang bungkus lukanya. Kita bawa Pak Polisi ke klinik, lukanya harus dijahit."
"Baik, Bu." Listi berlari.
"Bu, maaf jadi merepotkan Ibu dan sekeluarga."
"Pak Polisi juga dulu sudah menyelamatkan Listi. Sudah tidak perlu dipikirkan."
"Terima kasih ya, Bu. Oiya Bu, kalau boleh, aku akan menelepon dokter pribadi saja supaya datang ke sini. Maksudnya, biar Ibu dan bapak tidak repot-repot membawaku ke klinik."
"Kalau memang baiknya kayak begitu, ya silahkan saja. Pak Polisi pasti orang kaya ya, sampai punya dokter pribadi segala."
"Tidak Bu, aku tidak kaya. Biasa saja. Dokter pribadi adalah fasilitas yang diberikan oleh pak Zulfikar untukku."
"Oh, begitu ya? Ya sudah, tapi cepat enggak datangnya? Ibu khawatir lukanya keburu infeksi."
"Nanti aku telepon, Bu."
"Pak Sabil?!" Pak Haikal datang. Ia dan Listi sudah bersiap. Listi telah membawa kunci mobil.
"Pak, kata Pak Polisi, enggak perlu ke klinik, Pak Polisi mau memanggil dokternya ke rumah ini," terang bu Mentari.
"Jangan, kita ke klinik saja. Fasilitas di klinik lebih lengkap. Bapak sudah tahu ceritanya dari Listi." Pak Haikal cepat-cepat membantuku berdiri. Ya ampun, mereka benar-benar baik. Aku jadi merasa telah menjadi menantu mereka.
"Ba-baiklah, aku mau ke klinik." Aku tidak berani menolak saran dari pak Haikal. Secara, beliau adalah kepala keluarga di rumah ini.
"Listi, kamu jaga Pak Sabil. Biar Bapak yang nyetir. Ibu duduk di depan." Pak Haikal benar-benar ada di pihakku. Aku bahagia sekali. Bibirku rasanya ingin tersenyum. Tapi ditahan dulu.
"Tapi, Pak." Listi kurang setuju. Sekilas, kulihat dia agak cemberut.
"Listi," pak Haikal merebut kunci mobil dari tangan Listi. Bu Mentari sudah ada di dalam mobil.
"Pfftt." Aku menahan tawa saat telah berada di mobilnya.
"Jangan cari kesempatan di dalam kesempitan ya, Pak," bisiknya sambil mencubit pinggangku.
"Kita lihat saja," jawabku. Lalu merebahkan kepala di bahunya. Saat ini, mobil telah melaju.
"Pak Sabil, ish! Jangan begini. Anda berani sekali?! Di depan ada bapak-ibuku lho," berbisik lagi. Ya ampun, Listi tidak sadar jika bibirnya telah menempel di daun telingaku. Hal itu membuatku semakin panas dingin dan merinding.
"Ini namanya pacaran di bawah pengawasan orang tua," bisikku.
"Ish." Lagi, dia mencubitku. Kali ini cukup kuat.
__ADS_1
"Ahh," aku kesakitan.
"Pak Polisi tidak apa-apa?" Bu Mentari panik.
"Sabar Pak. Bapak ngebut ya," sahut pak Haikal.
"A-aku dicubit Tia, Pak."
"A-apa?!" Listi melotot.
"Sayang, jangan begitu dong. Kamu jangan kayak anak kecil," protes bu Mentari.
"Ya sayang, untuk apa kamu cubit-cubit Pak Sabil. Itu namanya kurang sopan," timpak pak Haikal. Mereka berdua benar-benar membelaku.
"Bapak, Ibu, kalian lupa ya anaknya yang mana? Aku anak Ibu dan Bapak. Kenapa Pak Sabil yang dibela?" protesnya. Ngambek. Cemberut lagi.
"Hahaha," pak Haikal dan bu Mentari malah tertawa.
Aku tersenyum simpul. Lalu, memejamkan mata sambil menghidu aroma tubuhnya. Listi wangi sekali. Dia pakai minyak apa ya kira-kira?
"Jangan tidur! Sebentar lagi sampai!" ketusnya.
"Sayang, biarkan Pak Polisi tidur. Jangan begitu, Nak."
"Bela terus," ocehnya.
"Hehehe." Pak Haikal terkekeh.
"Ibu, apa Ibu bisa tidak memanggilku Pak Polisi? Bapak juga, apa bisa tidak memanggilku Pak Sabil?" tanyaku.
"Maksudnya?" Bu Mentari menoleh ke belakang.
"Ibu dan Bapak panggil aku 'A Abil' saja," jelasku. Bu Mentari dan pak Haikal saling menatap.
"Kalau bisa, Tia juga panggil aku 'Aa' saja," tambahku. Malam ini, aku benar-benar telah menjadi seorang pemberani. Berani mengungkapkan isi hati.
"Oh, boleh. Mulai sekarang Ibu akan panggil 'A Abil.' Bapak juga setuju, 'kan?"
"Setuju." Asyik. Sayangnya, Listi diam saja.
"Kalau kamu bagaimana? Mau memanggilku Aa?" Karena mendapat signal baik dari kedua orang tuanya, aku jadi semakin berani.
"Tidak mau!" tolaknya.
"Sayang, kamu jangan jutek-jutek, enggak baik kayak begitu," bu Mentari menasihatinya.
"Sudah sampai," kata Listi, malah mengalihkan pembicaraan. Aku hanya bisa tersenyum. Malam ini, ia boleh saja masih menolakku. Tapi, aku tidak akan patah semangat. Seperti kata ayah, cinta itu harus diperjuangkan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Aaargh," teriakku saat dokter menyuntikkan anastesi lokal di daerah sekitar lukaku. Aku memegang tangan Listi. Bu Mentari dan pak Haikal menunggu di luar.
"Dok, pelan-pelan dong," seru Listi. Seolah sangat memedulikanku.
"Maaf, Pak. Memang agak sakit. Tapi, kalau enggak dianastesi dulu akan semakin sakit," jelas dokter.
"Berapa jahita kira-kira, Dok?" tanyaku.
"Empat atau lima jahitan, Pak. Setelah dijahit, nanti Bapak akan disuntik vaksin tetanus supaya tidak infeksi."
"Baik, cepat lakukan, Dok."
"Perlu dirawat enggak, Dok?" tanya Listi.
"Tidak perlu, setelah disuntik tetanus bisa langsung pulang. Nanti, saya resepkan obat anti nyeri dan antibiotik."
"Sabar ya," kata Listi saat dokter mulai melakukan penjahitan.
Ia kemudian mengusap keringat di pelipisku dengan tissue. Ya ampun, sikapnya manis sekali. Apa ini bisa dikatakan sebagai pertanda jika ia mulai menyukaiku? Aku menatapnya lekat-lekat. Listi tidak menyadarinya karena ia fokus pada luka jahitan.
"Cantik," gumamku.
"Ihh, Bapak bisa saja. Saya jadi grogi." Dokter muda itu salah sangka.
"Selain cantik, dokter juga terlihat lucu. Boleh minta nomornya?" candaku. Maksudnya, agar dokter tersebut tidak malu.
"Tak perlu aku pegangin ya, Pak. Sudah enggak sakit, 'kan?" kata Listi. Dia tiba-tiba menepis tanganku dan pergi begitu saja. Eh-eh, dia kenapa?
"Tia? Kamu mau ke mana? Tia, aku belum selesai dijahit!" teriakku.
"Bodo amat!" sentaknya. Tetap pergi.
"Tia," aku kembali memanggilnya. 'Kok bisa sikapnya berubah secepat itu? Aku tidak mengerti.
"Memangnya, perempuan tadi siapanya Bapak?" tanya dokter.
"Emm, pacarku, Dok."
"A-apa?! Saya kira adiknya Bapak. Pantas langsung ketus. Bapak bagaimana 'sih? Kenapa menggodaku? Dia pasti cemburu 'lah, Pak."
"A-apa?! Cemburu?!" Serius, aku langsung bangun. Kenapa aku jadi bodoh?
"Pak, belum selesai, satu jahitan lagi. Tolong duduk lagi, Pak," kata dokter.
"Sudah saja, Dok! Aku harus menyusulnya!"
"Tapi, Pak. Prosedurnya belum selesai."
"Dok, cepat! Aku akan bertanggung jawab! Risiko aku yang tanggung! Cepat gunting benangnya!" Jadi tak sabaran. Jika benar Listi seperti itu karena cemburu, itu artinya ....
"Dok, cepat! Ba-baik, Pak. Tapi, Bapak harus tanda tangan penolakan tindakan," katanya.
"Ya, nanti aku tanda tangan! Cepat!"
Setelah jahitan ketiga digunting, aku segera keluar untuk mencarinya. Aku juga menyesali kebodohanku. 'Kok bisa aku tidak memahami bahasanya? Kamu bodoh Sabilulungan! Aku menyalahkan diriku sendiri.
"Sudah selesai?" tanya bu Mentari.
"Belum, Bu. Apa Ibu dan Bapak lihat Listi?"
"Listi? Oh, tadi lari ke sana. Kayaknya mau ke toilet," jawab pak Haikal sambil mengernyitkan alisnya. Tak mau kehilangan kesempatan, akupun berlari ke arah yang ditunjukkan.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...