Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Peristiwa [Bagian 2]


__ADS_3

Ceu Janita


Ummi memaksa pergi ke ruang tamu. Aku gagal mencegahnya. Kang Hendra pasti marah.


"Ummi, tunggu dulu Mi."


"Heran Ummi sama kamu, Ceu!" Ummi merajuk. Ia tak mengindahkan perintahku.


Aku dan ummi tiba di ruang tamu bersamaan dengan masuknya beberapa orang bersenjata ke dalam rumah. Sontak, aku dan ummi gemetar dan teramat ketakutan. Ummi memegang dadanya. Aku menahan punggung ummi agar ummi tidak terjatuh.


"Jangan begerak! Angkat tangan! Rumah ini sudah dikepung!" teriak salah satu dari mereka.


Lalu semua orang kecuali aku angkat tangan. Aku tak bisa mengangkat tangan karena harus menyokong tubuh ummi.


"Pak Zulfikar! Anda licik! Apa mereka polisi?!" teriak tamu yang duduk di kursi!"


"Kami ke sini karena mendapat laporan jika kalian telah menculik bu Dewi dan mengancam pak Zulfikar!" jelas pria yang saat ini tengah menodongkan senjata.


"Apa?! Kami tidak menculik siapapun! Justru Pak Zulfikarlah yang sudah menculik bu Dewi!" teriak pria yang ditodongi senjata.


"Jangan berdusta! Aku punya bukti! Aku tidak mungkin menculik istriku sendiri! Kalian jangan mengada-ada!" sentak pak Zulfikar.


"MAS! Jelaskan pada Ummi! Sebenarnya ini ada apa, 'sih?! Bukannya Dewi ----."


"U-Ummi?" Ternyata, pak Zulfikar baru sadar akan keberadaan ummi.


"Ummi tenang ya," bisikku.


"Bu, biar kami jelaskan! Menantu Ibu yang tampan ini sebenarnya sangat jahat! Dia tega menyakiti istri dan seluruh anggota keluarga mertuanya demi mendapatkan anak Ibu!" teriak pria yang ditodong senjata.


"Diam! Jangan bicara lagi!" sentak pria yang disinyalir sebagai polisi.


"Halah! Kalian juga polisi pemakan gaji buta!"


Tiba-tiba, salah satu dari pria yang duduk di kursi berdiri dan dengan gerakan cepat menarik bahu suamiku. Lantas menodongkan senjata ke kepala suamiku.


"Kang Hendra!" teriakku.


"Turunkan senjata kalian!" teriak polisi. Namun mereka tak mengindahkan.


Hingga akhirnya kejadian tak terdugapun terjadi. Seorang penjahat meletupkan senjatanya mengarah ke pak Zulfikar. Namun pak Zulfikar berhasil diselamatkan polisi dengan cara didorong kuat hingga tersungkur ke lantai. Ummi membelalak. Akupun demikian.


'DOR.'


Peluru mengenai pot bunga hingga pecah berkeping-keping.


"Ummi!" teriakku. Saat pot itu pecah, ummi pingsan dengan bibir yang membiru.


"Ummi!" Kang Hendra berlari membantuku.


"Ummi!" Pak Zulfikarpun menghampiri dan tampak panik.


"Pak Zulfikar! Ummi punya penyakit jantung!" teriakku.


"Astaghfirullah! Ummi!" seru pak Zulfikar.


Tanpa basa-basi, pak Zulfikar segera membopong ummi. Sementara polisi lanjut menggiring kawanan tamu tak diundang itu untuk keluar dari rumah dan lantas melumpuhkan mereka dengan cara berduel. Entah seperti apa kejadiannya karena perkelahian itu terjadi di halaman rumah.


"Cepat panggil dokter Rahmi! Kita harus membawa Ummi ke rumah sakit!" teriak pak Zulfikar.


"U-Ummi?"


Tiba-tiba neng Daini datang. Aku tak punya banyak waktu. Segera berlari sambil beteriak memanggil dokter Rahmi. Perasaanku tak karuan. Baru kali aku mengalami kejadian seburuk ini.


"Ummi?!"


Dokter Rahmi tiba. Rupanya, ia inisiatif keluar dari kamar setelah mendengar suara tembakan.


"Bahaya! Ummi bisa gagal jantung! Kang Hendra cepat ambil oksigen yang ada di kamar Daini!" teriak dokter Rahmi sambil menahan kepala ummi yang saat ini masih berada di pangkuan pak Zulfikar.


"Pak Zulfikar! Turunkan dulu Umminya. Simpan di lantai saja! Aku harus melakukan resusitasi jantung paru!" teriak dokter Rahmi.


Dengan pelipis yang bekeringat dan tangan gemetar, pak Zulfikar merebahkan ummi. Daini mematung. Ia menatap ummi dengan air mata berurai.


"Cepat telepon ambulance, Kang!" teriakku pada kang Hendra. Aku pribadi segera berlari tunggang langgang untuk menyusul abah ke Pondok.


.


Saat melewati halaman rumah, kulihat lima orang pria yang tadi berada di ruang tamu telah berhasil dibekuk oleh sekelompok pria yang besar kemungkinan adalah polisi. Mereka memakai baju santai. Jadi, aku tak bisa membedakan yang mana polisi yang mana preman.


...⚘️⚘️⚘️...


Saat Ini


________


Zulfikar Saga Antasena


Aku baru saja menelepon pak Sabil agar meluncur ke Bandung saat ini juga setelah membantu dokter Rahmi melakukan bantuan hidup dasar pada ummi. Alhamdulillah, resusitasinya berhasil. Ummi sudah bisa bernapas lagi. Namun kondisinya sangat lemah dan memucat.


Ambulance sedang di perjalanan. Ummi sudah memakai oksigen, dan saat ini sedang diinfus oleh dokter Rahmi. Dokter Rahmi menyarankan agar ummi dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulance sebab dikhawatirkan jantung dan paru-parunya akan kembali mengalami gagal napas.


"Sa-sayang."


Aku mendekati Hanin. Ingin memeluknya karena sedari tadi ia tidak berhenti menangis setelah melihat keadaan ummi. Namun Hanin malah menjauh dan berlari ke kamarnya.


"Hanin. Sayang." Aku mengejarnya.


"Lepas!" teriaknya saat tangannya berhasil kuraih.


"Sayang, a-aku ---."


"Cukup Pak! Cukup! Aku sudah tidak tahan lagi!" teriaknya.


Ia pasti shock karena kondisi ummi yang memburuk, dan aku sadar jika semua ini adalah kesalahanku.


"Sayang, maaf. Aku tahu aku salah."


"Huuu, aku sudah mengorbankan semuanya demi Anda! Tapi aku tak rela mengorbankan ummiku sendiri demi hubungan ini!"


Dia menepis tanganku. Lalu bersimpuh di lantai dan menangis. Aku terpaku. Merasa sedang berada di titik terendah dan teramat kepayahan.


"A-aku salah. Aku akan bertanggung jawab." Aku berusaha mendekatinya lagi. Namun ....


"Pergi! Jangan dekat-dekat aku dulu!" usirnya. Hanin marah, dan hal inilah yang paling aku takuti.

__ADS_1


"Sayang ...." Akupun menjauh.


"Huuu, ummi, ummi," ratapnya. Aku memegang dadaku. Merasa bersalah yang teramat sangat.


"Aku akan mengobati ummi, sayang. Aku akan menyediakan pengobatan terbaik untuk ummi."


"Huuu. Ini bukan masalah pengobatan! Ini adalah tentang kelalaian! Anda lalai menjaga ummiku dari skenario ini! Mana janji Anda yang katanya mau menjaga keselamatan keluargaku?! Manaaa?!" teriaknya. Baru kali ini ia beteriak sekeras itu.


"Sayang, a-aku salah. Maaf."


Aku menatapnya dalam-dalam. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku khawatir kondisi ini mempengaruhi kehamilannya. Semua ini gara-gara papi! Beraninya dia mengirim preman bersenjata untuk menekanku!


"Pak Zulfikar! Ada abah!" jelas kang Hendra yang menemuiku dengan terengah-engah.


"Abah." Hanin kembali ke ruang tamu sambil menangis.


.


Abah tengah berhadapan dengan Wakil Komandan yang sepertinya telah menjelaskan duduk perkaranya pada abah. Tangan abah tampak mengepal. Lalu Hanin datang dan memeluk abah. Disusul dengan kedatangan Putra dan ceu Jani.


Lalu suara ambulance menggema. Suasana jadi menegang dan canggung. Belum lagi teriakan anggota polisi yang menyuruh preman suruhan mertuaku untuk naik ke dalam mobil patroli.


"Abah, ma-maafkan aku."


Aku bersimpuh di hadapan abah yang saat ini tengah menatap beberapa petugas medis yang membopong ummi menuju ambulance. Abah diam saja. Terus menatap sambil mengusap punggung Hanin yang hingga saat ini masih menangis di dada abah.


"Apa yang terjadi Mas! Jelaskan sama aku!" teriak Putra.


"A Putra, Mas minta maaf."


Aku meraih tangan Putra. Tapi, seperti halnya Hanin, dia juga menepis tanganku. Perasaan ini terasa hancur. Padahal, aku melakukan ini demi membalas perbuatan jahat keluarga Dewi yang terbukti ingin mencelakai Hanin dan juga mencelakai keluargaku.


"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Ummi, aku tidak akan memaafkan kamu, Mas!" teriak Putra.


Wajar Putra bicara seperti itu. Putra masih remaja. Emosinya pasti meluap jika menemukan kejanggalan yang tidak bisa diterima olehnya.


"A Putra, tak baik membentak-bentak!" sela abah.


Di saat seperti ini, abah masih bisa menasihati Putra. Namun ia masih enggan bicara denganku.


"Pak Zulfikar, kami akan memastikan tidak ada wartawan yang mengetahui kejadian ini. Beberapa anggota akan stay di sini. Untuk pembagian tugasnya, nanti akan diatur sama pak Abil," kata Wakil Komandan. Aku hanya mengangguk lemah.


"Abah dan Putra mau ikut ke rumah sakit." Hanya kalimat itu yang diucapkan oleh abah. Itupun tanpa menatapku.


"Aku juga ikut," seru ceu Jani.


"Ceu Jani dan Kang Hendra tetap di sini. Layani tamu dengan baik," ucap abah dengan tatapan dinginnya yang mampu meluluh lantakkan batinku hingga tak berani menatapnya.


"Abah, aku juga mau ikut," pinta Hanin.


"Izin sama suami kamu. Bukan sama Abah. Abah pribadi tak ingin kamu ikut. Jaga kandungan kamu," kata abah sambil menarik tangan Putra.


Hanin menatapku sejenak. Kutahu dia sedang meminta izinku. Aku menggelengkan kepala, tak mengizinkannya pergi. Jadinya, Hanin kembali ke kamar sambil terisak-isak.


.


"Sayang, buka pintunya. Kita harus bicara. Kumohon ... jangan seperti ini," lirihku di balik pintu kamar yang dikunci dari dalam oleh Hanin.


"Sayang, katakan apa yang harus kulakukan? Aku akan mengabulkannya. Tapi, tolong maafkan aku."


"Pak, mungkin neng Daininya lagi mau sendiri dan menenangkan diri dulu," kata kang Hendra.


"Sayang, baik. Jika kamu ingin sendiri dulu, silahkan. Tapi, tolong jangan terlalu lama marahnya ya. Aku akan bertanggung jawab. Aku melakukan semua ini pada dasarnya adalah demi kamu. Hanin, aku tak bisa hidup tanpa kamu. Aku teramat sangat mencintai kamu," tegasku.


...⚘️⚘️⚘️...


Iptu Sabil Sabilulungan


Berulang kali aku meraih tangannya agar berpegagan, dan berulang kali juga ditepisnya.


"Yang penting tidak jatuh, 'kan?!" teriaknya.


"Ya, tapi kalau kamu pegangannya tidak kencang, ya bisa jatuh!" teriakku.


Karena sama-sama memakai helm, kita harus bicara dengan suara kencang alias beteriak. Dia memakai helm milik seorang Polwan yang sedang patroli malam.


Polwan itu adalah dia yang pernah digosipkan dekat denganku. Padahal, aku tak menyukainya. Aku dekat dengannya karena kebetulan pernah terlibat sebuah program yang mengharuskan kami bekerja bersama-sama. Ekspresinya saat melihat Listi benar-benar membuatku ingin tertawa. Dia menatap Listi dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


Karena jaketku dipakai Listi, lama-lama, aku jadi kedinginan jua. Namun, rasa dingin itu hilang saat wanita ini memelukku.


Ya ampun, ada perasaan bergejolak di dada dan punggungku. Aku merasakannya, dan sepertinya, dia tidak sekecil yang kubayangkan. Aku salah menduga.


"Pak Sablon!" teriaknya.


Lagi, dia memukul punggungku saat aku tak sengaja melakukan pengereman mendadak.


"Maaf. Emm, kita berhenti dulu yuk! Sudah adzan Subuh. Baiknya, kita shalat dulu," kataku.


"Terserah," jawabnya singkat.


.


Lalu aku menepikan motor di sebuah mushola yang tampak sepi.


"Gue enggak bawa mukena," katanya. Dan ia tak sadar memegang bahuku saat turun dari motor.


"Pakai mukena yang ada di mushola saja. Gampang, 'kan?" timpalku.


"Ih, enggak mau 'lah. Kalau kotor bagaimana?"


"Terus, kamu enggak akan sholat?"


"Ya mau 'lah. Tapi, aku mau beli mukena dulu."


"Apa?!" Aku sampai geleng-geleng kepala.


"Aku tidak setuju! Kamu pakai mukena yang ada saja." Aku lantas menariknya menuju pelataran mushola.


"Pak, maaf. Apa ada mukena yang masih bersih?" tanyaku pada bapak marbot muda yang baru saja keluar dari mushola.


"Ada Pak. Silahkan masuk. Mukena bersihnya ada di rak yang paling atas," jelasnya sambil menunduk saat tak sengaja bersitatap dengan Listi


"Tuh, ada, 'kan? Yuk!"


"Pak Sabil! Aku bisa jalan sendiri! Enggak perlu ditarik-tarik."

__ADS_1


"Maaf."


Aku melepas tangannya. Dia lantas bersiap. Meyingsingkan celana panjangnya sampai batas lutut. Aku melongo.


"Listi! Cukup!" Aku menghalanginya.


"Anda kenapa, 'sih?!"


"Kamu bisa, 'kan mengulur celananya di tempat wudhu?! Kenapa harus di sini?! Kalau ada yang melihat kaki kamu bagaimana?!"


"Maksudnya?! Aku mengulurnya karena mau wudhu! Kenapa jadi Anda yang ribut, 'sih?!" Sekarang, ia mengulur lengan bajunya.


"Listi, aurat kamu terlihat!" Lagi-lagi aku menghalanginya.


"Di sini enggak ada orang, Pak! Lihat, 'tuh! Masih sepi, 'kan! Masih gelap juga!" sentaknya.


"Apa?! Terus, kamu pikir aku ini bukan orang?! Listi, aku punya mata! Aku juga punya akal dan pikiran!" jelasku.


"A-apa?!" Dia mengerjapkan mata.


"Ah, sudahlah! Lanjutkan saja! Terserah kamu!" Aku berlalu meninggalkannya.


.


Saat aku hendak shalat sunat, aku mendengar Listi beteriak. Aku spontan menyusulnya ke toilet wanita.


"Listi! Kamu tidak apa-apa, kan?!"


"Huuu, Pak Sabil tolong."


"Kamu kenapa?!" Aku panik. Segera menggedor pintu toilet. Beruntung, di moshola ini tak ada siapa-siapa lagi.


"Cepat buka pintunya!"


"Gu-gue ada tamu bulanan. Bagaimana ini?"


"Apa?!" Aku terkejut maksimal.


"Gue butuh pembalut dan ce la na da lam yang baru. Maaf, apa Pak Sabil yang tampan dan terhormat bisa membantuku? Anda 'kan pengayom," katanya.


"Apa?!" Aku masih terbengong-bengong.


"Cepat dong, Pak. Yang tiba-tiba ngajak gue ke Bandung 'kan Anda. Jadi, Anda harus tanggung jawab."


"Tapi Listi, di jam segini minimarket belum ada yang buka. Toko-toko juga belum ada yang buka."


"Itu 'sih derita Anda! Terserah Anda! Pokoknya harus dapat.Titik. Ahh ..., cepat dong, Pak. Kayaknya mau ada yang merembes lagi. Dan ini sedikit menyakitkan," keluhnya.


"Tu-tunggu, aku punya persediaan ce la na da lam dan handuk kecil. Bagaimana kalau memakai itu dulu untuk sementara waktu?" Walau ragu, aku terpaksa mengatakan hal memalukan itu.


"Apa?! Anda gila ya?! Gue enggak mau pakai celana bekas Anda! Ihh, jijik!" teriaknya.


"Ini darurat Listi! Lagi pula, aku belum pernah memakainya. Itu celana baru tapi sudah dicuci. Mau ya?" bujukku.


"Tidak mau! Bisa saja, 'kan Anda berbohong dengan mengatakan masih baru? Padahal pernah dipakai! Enak saja! Kalau gue memakainya, itu sama saja kita telah bersentuhan tapi tidak secara langsung! Ogah! Gue tak sudi!" teriaknya.


"Apa?!"


Bersentuhan tapi tidak secara langsung?


Otakku langsung ngelag. Istilah kerennya brain lags. Tak hanya itu, mendengar kalimat Listi, tubuhku mendadak jadi lemas. Sepertinya, tak bisa melanjutkan perjalanan ke Bandung kalau tidak sarapan nasi Padang dulu.


"Pak Sabil, huuu ... gue sakit perut Pak. Cepat ... gue butuh minyak hangat juga. Huks, huks." Dia sepertinya benar-benar kesakitan dan sangat membutuhkan bantuanku.


"Aku harus bagaimana?" tanyaku.


'Trak.'


Dia membuka pintu kamar mandi. Jaketku ia gunakan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Di sudut kamar mandi tampak celana panjangnya yang tergeletak begitu saja dan sudah basah.


"Listi? K-kamu?" Wajahnya pucat. Tangannya dingin. Dia hampir jatuh. Untungnya aku segera memeluknya.


"Ini gara-gara Anda. Sepertinya, gue juga masuk angin," katanya sambil meringis-ringis.


"Emm, begini, kita ke rumah warga ya. Kita minta bantuan sama warga." Aku memangkunya. Dia pasrah. Bibirnya gemetar. Mungkin sedang menahan rasa sakit.


Ya ampun, kasihan sekali.


"Sabar ya," kataku.


"Ibu ... huuu," gumamnya.


Ternyata, wanita tomboy ini tak segarang yang kubayangkan. Tapi, aku risih dengan kakinya yang terbuka dan menjuntai begitu saja.


Tenang, aku sedang diuji. Seragam dan jabatanku sedang dipertaruhkan.


"Pak Sabil, rumah warganya lumayan jauh. Tolong bantu pijat punggungku dulu, please .... Semoga saja bisa langsung sembuh. Biasanya, ibuku atau Daini yang rajin memijatnya," katanya.


"Ba-baik."


Aku mendudukkannya di teras mushola. Dia langsung tertelungkup. Seolah dengan senang hati menyerahkan punggungnya untuk kupijat. Malah menyingkap bajunya hingga punggung itu terlihat jelas.


Wanita ini sangat berbahaya. Aku menelan salivaku berulang kali untuk menenangkan jiwa dan raga. Mataku beredar, mencari keberadaan CCTV, tapi tidak kutemukan. Bagus, setidaknya, yang kulakukan ini tidak akan menimbulkan fitnah.


"Pak, cepat ... perutku semakin melilit."


"Ba-baik." Dengan tangan gemetar jemariku akhirnya menyentuhnya. Ini adalah punggung wanita pertama yang pernah kusentuh.


Kulitnya halus.


"Ahh ... ja-jangan terlalu pelan Pak, le-lebih keras," titahnya.


"Ba-baiklah."


"Ahh, sa-sakit sekali." Ia melengking-lengking sambil memegang perutnya.


"Sabar."


Aku segera menghubungi pos polisi terdekat untuk meminta bantuan. Lalu menghubungi Wakil Komandan dan pak Zulfikar untuk memberitahu mereka jika aku akan datang terlambat karena ada sedikit masalah.


Syukrlah, pak Wakil tak marah, dan Zulfipun mengatakan jika kondisi saat ini telah kondusif. Ummi sudah berada di rumah sakit dan berangsur membaik. Namum, yang menjadi masalah adalah ....


Zulfi mengatakan jika bu Daini marah besar dan tak ingin bicara dengan Zulfi.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2