
"Mana a Abilnya sayang?"
"Masih di kamarnya, Bu."
"Kamu enggak bangunin?"
"Enggak."
"Lho, 'kok begitu 'sih sayang, Ibu 'kan sudah menyuruh kamu untuk ---."
"Sudah Bu, sudah," selaku.
Agak kesal deh sama ibu. Kayaknya sayang banget sama pak Sabil. Aku dan ibu sudah berada di ruang makan. Sedangkan Bapak, pasti sudah pergi ke toko.
"Oh, hehehe. Ibu kira kamu benar enggak bangunin."
Sambil sibuk menata menu sarapan. Menu kali ini sangat tidak seperti biasanya. Lebih lengkap. Pastinya untuk menjamu anak baru ibu-bapak. Ya, aku sebut saja dia anak baru di rumah ini.
"Eits, gelas yang itu untuk a Abil, sayang. Kamu yang ini." Sampai menepis tanganku.
"Ya ampun Ibu, segitunya," ketusku.
"Listi, kamu pikir 'deh, siapa 'sih yang enggak mau punya menantu sekeren pak Sabil? Kurang apa lagi coba dia sayang? Kamunya saja yang enggak berpikir jernih."
"Apa?! Ishh." Sudah kuduga ibu dan bapak pasti menyukai pak Sabil karena kedudukannya.
"Sayang, jangan kamu berpikir bapak dan ibu merestui kamu dan pak Sabil karena kedudukannya. Sama sekali tidak, Nak. Ibu dan bapak menyukainya karena menurut kami, pak Sabil memang pantas untuk kamu." Eh, 'kok ibu seperti bisa membaca jalan pikiranku?
"Tapi, kalau memang kamu tidak suka, ya ibu dan bapak tidak akan memaksa." Aku mendengarkan ocehan ibu sambil menikmati roti gandum.
"Oiya, ibu mau tanya serius sama kamu. Apa kamu sekali tidak ada rasa sedikitpun sama pak Sabil?"
"Emm ---."
"Assalamu'alaikuum," dia datang. Sudah rapi dan wangi. Langsung menyalami ibu dan menebar senyum.
"Wa'alaikumussalaam. MasyaAllah, Aa ganteng banget," puji ibu.
"Terima kasih, Bu." Tanpa canggung langsung duduk, menghadap meja makan dan mengamati menu yang tersaji.
"Aa biasa sarapan sama apa? Maaf di sini hanya seperti ini."
"Ini juga sudah banyak sekali Bu. Aku biasa sarapan sama roti bakar, susu dan buah-buahan."
"Untungnya, Ibu tanya-tanya dulu sama bundanya Aa. Jadi, silahkan dinikmati. Ini susu, roti, dan buah-buahannya sudah disiapkan." Ibu benar-benar cari muka. Ya ampun, apa ibu dan bapak sangat menyukai pak Sabil?
"Wah, terima kasih, Bu. Jadi merepotkan Ibu." Pak Sabil terlihat bahagia ia sepertinya menerima roti dan susu yang disodorkan ibu dengan senang hati.
"Bapak mana?" tanyanya.
"Sudah pergi ke toko, A. Nanti kalau pekerjaan rumah sudah selesai, Ibu juga menyusul Bapak."
"Apa Ibu tidak memiliki asisten rumah tangga?"
"Ada, A. Sopir juga ada, tapi hanya dipanggil sesekali saja kalau benar-benar dibutuhkan," jelas ibu. Lalu ibu meninggalkan kami dengan alasan mau menyalakan PAM. Aku segera menunduk. Fokus pada piringku yang berisi nasi goreng.
"Tenang saja, ini malam terakhir aku menginap di sini. Jadi, aku tidak akan merepotkan kamu dan ibu bapak lagi." Entah apa maksudnya mengatakan kalimat itu. Aku tak peduli. Tetap menunduk, mengunyah makananku.
"Tia."
"Apa."
"Seminggu ke depan, aku akan sibuk. Mungkin, sama sekali tidak bisa berkunjung ke rumah kamu."
"Tidak masalah," jawabku. Lagi pula, apa hubungannya kesibukannya dengan berkunjung ke rumahku?
"Tia."
__ADS_1
"Ya."
"I love you."
Aku diam saja, lalu dia beranjak setelah menghabiskan susunya. Aku juga berdiri. Tapi bingung mau melakukan apa.
"Aku mau berangkat. Oiya, apa boleh aku meminjam helmmu?"
"Aku sedang cuti, kalau Anda mau, aku bisa mengantar Anda ke kantor. Bapakku enggak bawa mobil. Bapak bawa motor, helm yang bagusnya dipakai sama bapak," jelasku. Dia mematung dan terbengong-bengong. Seolah tidak percaya dengan tawaranku.
"Benarkah kamu mau mengantarku? Tentu saja aku mau," tegasnya.
"Ya sudah, aku tunggu di garasi." Berlalu. Entah ada angin dari mana. 'Kok bisa tiba-tiba ingin mengantarnya.
.
Dengan PD-nya dia duduk di samping kemudi. Langsung memasang sabuk pengaman. Ibu yang sedang menyiram bunga melihat kami sambil tersenyum. Ibu pasti berpikir kalau aku sudah menerimanya.
"Tidak ada yang ketinggalan, 'kan?" tanyaku sebelum menyalakan kemudi.
"Ada," jawabnya.
"Enggak diambil dulu?"
"Sengaja aku tinggalkan," katanya.
"Barang apa?" tanyaku sambil membalas lambaian tangan ibu.
"Bukan barang." Hmm, dia pasti mau merayuku. Ya sudah, aku memutuskan tidak bertanya lagi.
"Kamu tahu alamat kantorku?"
"Tahu."
"Oiya, kenapa kamu jadi kaku seperti ini? Mana Listi yang dulu bar-bar itu?" Dia terus menatapku. Tidak pegal apa 'tuh leher menengok terus?
"Oiya, hari ini, polisi forensik akan melaporkan hasil autopsi pak Pratama Surawijaya. Laporannya masih belum terpublikasi untuk publik, sementara ini, hanya akan disampaikan pada keluarga dan pihak terkait. Apa kamu mau menyaksikannya secara langsung?"
"Memangnya boleh kalau aku melihat langsung?"
"Boleh dong, 'kan ada aku. Mau?" Aku mengangguk. Ya, aku memang penasaran dengan hasilnya.
"Tapi, aku di luar saja, Pak. Kalau aku ikut bersama Anda, takut ada yang salah sangka."
"Salah sangka bagaimana?"
"Mereka pasti akan mempertanyakan hubungan kita."
"Ya enggak masalah, aku lajang. Kamu juga lajang, bukan?"
"Ya 'sih. Tapi ...."
"Tapi apa, Tia? Apa kamu masih berharap sama mantan kamu? Dengar, sebentar lagi, Akmal mau menikah," terangnya.
"A-apa?! Dari mana Anda tahu Akmal mau menikah? Anda tidak asal bicara 'kan?"
"Aku serius. Setelah meyakinkan diri bahwa aku menyukai kamu, jujur, aku sering menyelidiki semua hal yang memiliki hubungan dengan kamu."
"Tidak ada kerjaan," gumamku.
"Aku bahkan sudah mengetahui nomor sepatu, sendal, dan nomor ---." Dia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Nomor apa?!" Pikiranku sudah ke sana.
"Hahaha, nomor rumah dan nomor telepon kamu," jawabnya. Ya ampun, kukira nomor apa. Syukurlah.
"Kalau dia mau menikah, ya bagus 'lah."
__ADS_1
Aku sedikit melamun. Jujur, aku memang belum bisa melupakan pria itu. Aku membencinya, tapi ... banyak kenangan bersamanya yang belum lekang dari ingatanku.
"Calon istri Akmal adalah wanita yang bersamanya saat kita berpapasan dengan mereka. Kamu masih ingat, 'kan?"
"Ya, aku ingat."
Aku tertunduk lesu. Bodohnya aku selama ini. Kupikir, dia tidak akan semudah itu melupakanku. Jika dia telah mantap untuk menikah, berarti dia telah menghapus semua hal tentangku.
"Hei, kenapa? Kamu sedih mendengar kabar itu? Untuk apa sedih? Untuk apa kecewa? Sementara di sampingmu, saat ini ada pria yang lebih layak untuk kamu," ocehnya sambil membelai rambutku. Kesombongannya selalu muncul kalau membahas tentang Akmal. Aku hanya bisa menghelas napas dan membiarkan dia mengelus rambutku di sepanjang perjalanan.
"Ayo kita datang ke pesta pernikahannya, lalu tunjukkan sama pria sombong itu kalau kamu juga sudah melupakan dia."
"Ide bagus," sahutku.
"Atau kamu balas balas dendam saja," katanya.
"Maksudnya?"
"Begini, Akmal 'kan menyegerakan menikah setelah putus dari kamu, 'nah, kenapa kamu juga tidak menikah saja? Impas, 'kan?"
"Menikah? Menikah sama siapa? Menikah itu tidak mudah, Pak. Aku belum siap."
"Hei, ya menikah sama aku 'lah, Tia. Ya, menikah memang tidak mudah, tapi kita bisa belajar sama-sama, 'kan?" Aku terdiam sejenak. Sedang menelaah ucapannya.
"Setuju?"
"Setuju apa?"
"Menikah denganku."
"Emm, sudah sampai," jawabku. Dia menghela napas.
"Tia, tunggu." Dia memegang bahuku saat hendak membuka pintu mobil.
"Kenapa?"
"Bibirmu terlalu merah, apa boleh kalau sedikit dihapus?"
"A-apa?! Apa merah sekali? Ini lipstik baruku beli dari tiktik." Langsung becermin di spion.
"Saat kita berangkat, kulihat warnanya masih merah muda. Sepertinya memang berubah semakin merah seiring berjalannya waktu," katanya.
"Oh ya ampun."
Aku terkejut. Benar saja, merah sekali. Seperti cabai. Aku lantas mencari tissue basah di dalam tasku, tapi tidak ada. Tissue wajah di dalam mobilpun ternyata sudah habis.
"Mau aku bantu bersihkan?" tawarnya.
"Memangnya Pak Sabil bawa tissue basah?"
"Tidak, adanya bibir basah," candanya sambil tersenyum.
"A-apa? Ish, tidak lucu tahu Pak." Sambil membersihkannya dengan tanganku.
"Hahaha," dia tertawa.
"Apa sekarang tidak terlalu merah?" Memintanya memberikan penilaian.
"Coba kulihat lebih dekat." Dia memeriksanya. Matanya fokus. Mataku mengerjap, karena pak Sabil semakin mendekat.
"A-Anda mau apa?" Segera memundurkan kepalaku."
"Haish, sial!" dengusnya. Ia baru menyadari kalau sabuk pengamannya belum dibuka dan membatasi ruang geraknya.
"Hahaha," gelakku. Lumayan lucu. Pak Sabilpun tertawa hingga daun telinganya memerah.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...