
Zulfikar Saga Antasena
"Hmm, wangi apa ini?"
Aroma masakan menusuk hidungku. Aku yang tidur di sofa terbangun perlahan. Rupanya, Hanin sedang mengeksekusi bahan-bahan yang sudah kusiapkan. Aku tersenyum sambil melihat jam di tanganku, waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB. Sebenarnya ada waktu lima belas menit lagi untuk Hanin membangunkanku.
Tapi aku penasaran dan ingin melihatnya ke dapur.
Seperti apa ya rasanya melihat istri memasak?
Ya, Dewi memang putri sultan, dia mungkin tak pernah memasak atau diizinkan memasak oleh mami dan papinya. Aku juga tak pernah menuntutnya untuk memasak.
Aku mengintip di balik tirai pembatas antara ruang makan dan dapur. Semoga aku tidak bintitan karena mengintip istri sendiri.
Dia sedang menggoreng sesuatu, entah sedang memasak apa. Lucunya, dia masih memakai baju kantornya. Padahal aku sudah menyiapkan baju untuknya.
Tunggu, apa dia tidak masuk ke kamar utama?
Aku bergegas ke kamar utama. Benar saja, tak ada tas Hanin di kamar ini, di kamar tamupun tidak ada. Ternyata, dia menyimpan tas dan bingkai fotonya di kamar ART.
"Ya ampun Hanin," gumamku.
Segera memindahkan tas dan bingkai foto itu ke kamar utama. Lalu aku kembali ke dapur. Kedatanganku ternyata mengagetkannya.
Dia teperanjat. Sayur yang dipegangnya hampir tumpah. Aku spontan memegang pinggiran mangkuknya. Namun bukannya menolong, malah aku sendiri yang kelimpungan.
"Ah, panas! Ah-ah, panas!" teriakku.
Pantas saja Hanin meletakkan piring di bawah mangkuknya. Setelah menyimpan mangkuk itu di meja, Hanin menghampiriku.
"Ti-tidak apa-apa, kan?"
Kalau aku tidak salah lihat, dia sepertinya khawatir, wajahnya terlihat panik. Kesempatan emas, aku mengaduh.
"Aduh, ahh, awh ... Hanin ... sa-sakit," keluhku.
"Ya ampun, lagian kenapa pegang-pegang segala sih, Pak?! Memangnya gak lihat apa kalau sayurnya masih mengepul?" gerutunya. Lucu sekali, aku fokus pada gerakan bibirnya saat mengomel. Menggemaskan, jadi ingin menggigitnya.
"Sampai merah begini? Tunggu, aku ambil es batu dulu," dia berlari, kembali lagi, lalu mengompres tanganku dengan es batu. Kemudian jemariku yang memerah itu ditiupnya.
MasayaaAllah, romantis sekali.
Aku bahagia, aku tersenyum lebar. Dia belum sadar kalau aku terus menatap wajahnya. Pelipis Hanin bekeringat, secara dia masak sambil menggunakan busana syar'i. Pasti panas sekali.
"Sudah tidak sakit, kan?" tanyanya.
"Mm-masih, Hanin. Masih terasa panas," padahal sudah sembuh sih.
"Jangan bohong, ini sudah gak merah, kok." Hanin melepaskan tanganku sambil mengusap peluh dipelipis menggunakan punggung tangannya.
"Mau makan kapan?" tanyanya sambil mencuci piring.
Aku beralih ke meja makan memandangi masakannya sambil tersenyum. Dia memasak dadar telur, ikan bumbu merah-meriah, sayur bening, ada sambal tomat, dan goreng tempe. Sederhana sih, ini menu warteg. Tapi aku senang melihatnya.
"Boleh kita makan sekarang?" ajakku.
"Memangnya Bapak mau pulang kapan?" tanyanya, tapi dia tak menoleh. Setelah mencuci piring, lanjut lap-lap.
"Aku mau menginap di sini," jawabku. Seketika dia menghentikan aktivitasnya dan terdiam. Aku lantas mendekat dan memeluknya dari belakang
"Pak, lepas! Aku gerah, jangan iseng ya Pak," dia menepis dan menggedikkan bahunya.
"Lagian kenapa kamu tidak ganti baju? Padahal aku sudah menyiapkan pakaian untuk kamu. Ada di kamar kita," jelasku.
"Kamar kita?" Dia melengos, lalu duduk di meja makan.
"Iya kamar kita, aku tidak salah bicara, kan?" Aku menyusul, duduk di sampingnya. Eh, dia malah berdiri lagi dan menyiapkan air minum untukku.
"Kita akan makan bersama, kan?" tanyaku.
"Bapak saja, aku tidak lapar, maaf hanya bisa masak ini. Kalau masak yang rumit, memakan waktu," terangnya sambil berlalu.
"Hanin," aku menahan tangannya.
"Apa seperti ini kamu memperlakukan suamimu? Kalau kamu tidak makan, aku juga tidak makan! Aku tidak beselera makan makanan warteg seperti ini!" Padahal aku suka dan sangat beselera.
"Lepas! Kalau Anda tidak suka, kenapa tidak pulang saja? Kenapa harus menginap di sini? Apa alasan Anda pada bu Dewi?! Pak Zulfikar, Anda punya istri sah! Ingat itu!" teriaknya sambil terus berusaha melepas genggaman tanganku. Aku jadi kesal, sebagai suami, aku sepertinya harus tegas pada Hanin.
"Hanindiya, aku bertanggung jawab pada keputusanku! Kamu tak perlu tahu alasan apa yang aku katakan pada Dewi! Tugas kamu itu patuh pada suami! Sekarang, cepat kamu mandi! Aku tidak mau melihat kamu kusut seperti ini! Ganti baju kamu!" teriakku. Padahal Hanindiya sama sekali tidak kusut. Dia tetap cantik.
"Kalau aku kusut, bukankah Anda masih punya bu Dewi yang lebih rapi dan cantik?! Kenapa Anda tidak pulang saja?! Kenapa harus menginap di sini? Kenapaaa?" teriaknya. Hidungnya memerah. Matanya berkaca-kaca. Dia pasti menahan diri agar tidak menangis.
"Kenapa katamu? Ya karena kamu adalah istriku Hanindiya! Sekarang ayo mandi!" bentakku. Lalu memangkunya.
"Hei, turunkaaan! Pak Zulfikar! Hei, aku bisa jalan sendiri!" teriaknya sambil meronta. Aku tak peduli. Langsung membawanya ke kamar mandi yang ada di kamar utama.
.
"Setelah kita mandi, baru makan," tandasku. Aku meletakannya di sisi bathup. Pecahlah sudah tangisnya.
"Huuks, ummi ... ummi ...," rintih Hanin sambil berjongkok memeluk lututnya. Hatiku berdesir, apa aku keteraluan? Tapi aku sudah terlanjur bersikap tegas. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapannya.
"Mau mandi sendiri, atau aku yang memandikan? Oiya, aku juga mau mandi."
Aku mulai membuka kancing kemejaku saat Hanin masih menunduk. Sekarang, tubuh bagian atasku sudah polos.
__ADS_1
"A-Anda mandi duluan saja, a-aku menyusul." Hanin beranjak.
"Tidak Hanin, aku ingin kita mandi bersama," ajakku. Aku menghalangi pintu.
"A-aku tidak mau, Pak." Masih menolak.
"Hanin, aku sudah melihat semuanya. Apa yang kamu takutkan?"
Aku memegang bahunya. Lalu perlahan membuka jibabnya. Hanin tak mengatakan apapun, ia tak lagi menolak. Namun airmatanya terus mengalir. Pun saat aku membuka gamisnya, Hanin juga tak menolak.
Hingga pada akhirnya aku menuntut Hanin ke dalam bathup. Dia masih menangis saat aku memeluk tubuhnya dari arah belakang.
"Maaf yah," bisikku seraya mencium tengkuknya.
"Huuu ... ke-kenapa Anda seperti ini?" tanyanya saat tanganku memaksa, dan tak bisa kukendalikan lagi.
Aku menjawab pertanyaannya dengan caraku sendiri. Aku mencumbu tubuhnya tanpa ragu. Aku mengekang tangannya yang berusaha menolak. Aku memagut bibirnya saat dia mulai protes.
Tangan Hanin mengerat pada sisi bathup, tubuhnya menegang. Dari pantulan cermin, kulihat dia menggigit bibirnya sendiri. Pipi dan bagian tubuhnya memerah, napasnya terputus-putus. Aku senang melihat keadaan ini. Terlihat begitu indah nan seksi hingga aku hilang kendali dan menggila.
Tubuh Hanin akhirnya melemas perlahan, dia terkulai pasrah di dadaku. Napasnya masih memburu. Aku memeluknya, lalu mengecup puncak kepalanya berulang kali. Lalu kuciumi pipi dan daun telinganya.
"Takut keburu Maghrib, sekarang kita akan mandi sungguhan ya," bisikku.
"A-Anda sakit jiwa," katanya. Dia membalikan badan, menghadapku. Lalu memukuli dadaku sambil menangis.
"Pukul lebih keras," titahku.
"Jangan main-main dengan tubuhku lagi! Ini terakhir kalinya, huks, huks," sambil terisak-isak.
"Tidak bisa Hanin, ini baru permulaan." Aku lantas meraih shampo.
"Mau aku keramasi?" tanyaku.
"Teu kudu! (Tidak perlu!)," katanya. Aku tidak tahu artinya.
"Apa itu teu kudu?" tanyaku.
"Pergi!" usirnya.
"Oh, artinya pergi?" Sekarang aku mengerti.
"Anda menyebalkan!" teriaknya. Dia menjauhi tubuhku sembari nenutupi bagian itu. Pipinya merona, cantik sekali.
"Baiklah, kalau kamu marah aku mau teu kudu," maksudnya mau pergi.
"A-apa?" Hanin melongo saat aku mengatakan 'mau teu kudu.' Aku meraih handuk.
"Aku mau mandi di toilet kamar tamu. Oiya, harusnya kamu beterimakasih untuk yang tadi aku lakukan. Tak perlu pura-pura tidak mau," bisikku sesaat sebelum beranjak dari bathup. Hanin membisu, namun kulihat tangannya mengepal kuat.
"Diaaam!" teriaknya. Hanin memeluk kembali lututnya sambil menengadah, dia menatapku penuh kebencian. Lalu menangis, menelusupkan kepala di antara dua lututnya.
"Huu ... huuks, jika itu membuat Anda puas dan bahagia, teruslah mempermalukan dan menghikanku sesuka hati Anda. Semoga kepuasan Anda bisa menghapuskan dosa-dosaku. Silahkan perlakukan aku sebagai kupu-kupu malammu, aku tidak peduli lagi," lirihnya. Ucapannya membuat tubuhku mematung, sementara hatiku bedesir-desir.
"Hanin dengarkan aku, kamu salah faham, aku melakukannya kare ---."
"Cukup Pak! Cukup! Aku mau sendiri!" teriaknya.
"Baiklah, jangan lama-lama mandinya. Kita makan bersama sebelum adzan Maghrib. Aku tak sabar ingin menikmati masakan kamu."
Aku keluar dari kamar mandi sembari merenung. Harapku, semua hal yang kulakukan untuk Hanin bisa membuatnya sadar jika aku menyukainya.
Kenapa aku tidak mengatakannya secara langsung? Alasannya karena aku belum memiliki keberanian dan takut melukainya di kemudian hari.
Kenapa aku belum memiliki keberanian? Karena aku memiliki Dewi.
Kenapa aku belum jujur pada Dewi? Karena aku takut menyakiti Dewi, menyakiti keluarganya, juga menyakiti keluargaku.
Biarkan saja aku tertuduh menjadi pria egois yang tak punya hati. Biarkan saja Hanin terus membenciku, biarkan saja aku terus terluka dan tertekan demi kebahagiaan Dewi, keluarganya dan juga keluargaku.
Semenjak aku dihianati dan ditipu oleh cinta pertamaku, hatiku sudah terluka. Kukira luka ini akan sembuh setelah aku menikah dengan Dewi. Aku tak menyangka luka ini kian menganga saat aku sadar jika aku telah menipu diriku sendiri dengan berpura-pura mencintai Dewi. Tanpa diketahui siapapun, airmataku menetes.
...***...
Bu Nani (Pemilik Kost)
Aku membereskan barang-barang neng Daini dengan sekelumit tanda tanya yang memenuhi kepala. Masih merasa kaget dengan pemandangan tadi. Berani sekali pria itu memegang tangan neng Daini.
Kata neng Daini, dia sodaranya. Tapi terdengar aneh di telingaku. Tadi, sebelum neng Daini pulang, pria tampan yang mobilnya keren itu tiba-tiba datang dan menyodoriku banyak uang untuk mengosongkan kamar neng Daini.
"Ini kost-kostan khusus perempuan, Pak." Aku sempat menolaknya.
"Memang untuk sodaraku, Bu. Sodaraku perempuan, bukan untukku," jawabnya pada saat itu.
Anehnya, dia memaksa ingin kamar neng Daini, padahal aku sudah mengatakan jika kamar ini ada pemiliknya. Benar-benar janggal. Tiba-tiba ada mobil kargo yang berhenti di depan kostan.
"Bu, kami mau mengambil barang-barang milik bu Daini," kata salah satu dari mereka.
"Eh, bentar dulu, ini beneran? Soalnya ibu gak ada amanat dari neng Daini kalau barang-barangnya mau diangkut."
"Ini bukti pesannya, Bu."
Mereka menunjukkan bukti pemesanan. Memang benar atas nana neng Daini. Tapi alamat pemesannya adalah kantor tempat neng Daini bekerja. Tapi, nomor yang tertera berbeda dengan nomor neng Daini.
"Bang, maaf ya. Bukannya Ibu gak percaya, karena Ibu keamanatan barang-barangnya, mohon maaf ini Ibu mau menelepon pemiliknya dulu." Aku tidak mau disalahkan.
__ADS_1
"Silahkan, Bu," kata si Abang kargo.
Di dering ke tiga, neng Daini baru mengangkat.
"Ha-halo Bu, assalamu'alaikuum," suaranya lirih dan pelan. Aneh sih, tapi ya sudahlah.
"Wa'alaikumussalam, Neng Daini, maaf ni Ibu mau tanya. Emang barang-barang Neng Daini benar mau dikargoin? Ibu kaget tiba-tiba ada mobil kargo mau angkut barang-barang kamu. Kan kamu bilangnya mau dititip dulu."
"Oh, i-iya Bu, maaf aku lupa. Ya Bu me-memang aku yang pesan kargonya." Suaranya masih lirih. Ya ampun, Neng Daini kenapa ya? Kok aku jadi khawatir.
"Oh begitu? Ya sudah, kalau kamu yang pesan, ya tak masalah. Ibu cuma memastikan saja, soalnya nomor pemesannya beda sama nomor kamu. Alamat pemesan juga pakai alamat kantor kamu."
"Haniiin, sudah belum? Cepat dong, aku lapar."
Sayup kudengar suara pria, lalu panggilan terputus mendadak. Neng Daini benar-benar aneh. Dia tiba-tiba menutup panggilan, padahal aku yang meneleponnya. Aku menghela napas.
"Ya Bang, silahkan ambil saja." Aku mempersilahkan mereka mengangkut barang-barang neng Daini.
.
Setelah shalat Magrib, tepatnya pukul setengah tujuhan, aku kedatagan tamu lagi. Anakku sampai kaget dan beteriak memanggilku yang sedang berada di dapur.
"Mama, Mama, itu ada tamu. Mobilnya bagus banget Ma, kayanya yang mau kost," kata anakku. Namanya Nanda.
"Serius Nan?"
"Ya, Ma."
Aku bergegas ke depan rumah.
Ada apa dengan hari ini? Kenapa kedatangan mobil mewah terus? Apa mau dapat rezeki lagi?
Aku membelalak saat melihat tamu yang dimaksud anakku. Mereka adalah dua wanita cantik yang penampilannya sangat modis.
"Ma-maaf, silahkan duduk," tawarku. Tapi mereka tetap berdiri.
"I-Ibu pemilik kost-kostan ini?" tanya salah satu dari mereka. Parasnya menurutku lebih cantik daripada yang satunya. Namun wajahnya terlihat panik.
"I-iya betul, mau pada kost di sini? Kebetulan sudah penuh," jawabku.
"Wi, Wi, hei tenang dulu. Kita tanyakan baik-baik," kata temannya. Aku dan anakku melongo tak faham.
"Tapi Reni, aku gak bisa tenang, aku mau ketemu sama perempuan munafik itu!" bentaknya. Aku semakin tak faham.
"Maaf ya, mbak-mbak ini kenapa ya? Coba bicara pelan-pelan, Ibu tak mengerti," kataku.
"Wi, kamu duduk, biar aku yang bicara," kata wanita yang dipanggil Reni. Mbak Wi duduk sambil memegang dadanya. Matanya berkaca-kaca. Aku jadi dag dig dug der tak berdaya.
"Nanda, kamu cepat masuk," titahku. Nanda masih di bawah umur, lebih baik aku saja yang menghadapi mereka.
"Ya, Ma." Nanda masuk ke rumah.
"Begini Bu, apa Ibu mengenal wanita ini? Nah, pria ini suaminya temanku," sambil menunjuk pada wanita yang ia panggil 'Wi.'
"Aku sudah dua kali melihat wanita ini bertemu suami temanku. Pertama di gang depan, dia diajak ke dalam mobil oleh suami temanku. Nah, hari ini aku lihat dia ngobrol sama suami temanku di depan kost-kostan Ibu. Sekarang Ibu jelaskan, apa benar dia kost di sini? Kalau benar, kami mau bertemu dengan wanita itu," kata Mbak Rani.
Dia menunjukkan foto neng Daini dan pria itu. Aku menelan saliva kasar. Ada apa gerangan? Lututku sampai lemas. Aku merasa berada di dalam adegan sinetron.
"Bu, cepat Bu! Di mana wanita itu? Aku harus menanyakan hubungannya dengan suamiku. Aku yakin dia pelakor munafik yang berkedok jadi wanita sok suci!" tegas Mbak Wi, aku melongo. Belum bisa mengatakan apapun.
Aduh, harus ngomong apa ya? Seketika kebingungan melanda.
"Cepat bicara, Bu!" teriaknya. Airmatanya bederai.
"Wi, tenang dulu, Wi. Kamu 'kan sudah tahu dia bekerja di kantor suamimu. Kalau gak ketemu sekarang, ya kita labrak saja ke kantornya," ujar Mbak Reni sambil memeluk Mbak Wi.
"Aduh, Ibu jadi kaget mendengarnya. Yuk kita mengobrolnya sambil duduk," bujukku.
Aku tidak mau ikut campur ataupun kepo dengan masalah mereka. Sebab yang kulihat secara kasat mata pada saat ini, belum tentu sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Peranku sebagai ibu kost hanyalah menjelaskan apa yang aku tahu tanpa dikurangi ataupun dilebih-lebihkan.
"Cepat cerita Bu," desak Mbak Wi.
"Silahkan minum dulu, emm begini ...."
Aku menjelaskan kalau hari ini pria itu datang dan mengatakan mau menyediakan kost untuk sodara perempuannya. Bahkan sudah membayar untuk satu bulan ke depan dengan harga tiga kali lipat. Lalu neng Daini datang dan mengatakan kalau pria itu saudaranya, kemudian pria itu memaksa neng Daini masuk ke dalam mobilnya.
Aku juga membeberkan fakta kalau neng Daini gadis yang cantik, baik, sopan, alim dan agamis.
"Apa dia pernah membawa pria atau main sama pria?" tanya Mbak Wi dengan nada emosi.
"Setahu Ibu tidak pernah Mbak, semua tamu di kost-kostan ini wajib lapor pada Ibu, dan sejauh ini yang datang ke sini hanya teman kantornya. Kalau tidak salah namanya mbak Listi," terangku.
"Huuu," mendengar penjelasanku Mbak Wi menangis.
"Wi sabar. Lagian suami kamu belum tentu juga selingkuh sama wanita itu. Ya sudah, terima kasih informasinya Bu."
Mereka kemudian berpamitan. Setelah mereka pergi, aku baru ingat belum menjelaskan kalau neng Daini kemungkinan tidak akan kost di sini lagi karena barang-barangnya sudah diangkut kargo ke suatu tempat yang tidak aku ketahui.
Sebagai sesama muslim, aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka.
"Ma, ada apasih?" Nanda kepo.
"Ssst, tidak ada apa-apa," jelasku. Namun jadi kepikiran.
Masa ya neng Daini jadi pelakor? Secara kasat mata, rasanya tidak mungkin.
__ADS_1
...~Tbc~...