
Listi Anggraeni
"Aku mau bicara sama kamu. Ini sangat penting," kata pak Direktur.
Setelah menyela kalimatku, dia keluar dari kamar perawatan dengan langkah cepat. Daini terlihat kebingungan. Dia menggulirkan pandangan ke arahku dan pak Direktur.
"Neng, tunggu ya."
Aku segera menyusul pak Direktur dengan langkah cepat juga. Kukira, kami akan bicara di depan kamar. Tapi aku salah duga. Ternyata pak Direktur membawaku ke lorong rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari kamar Daini.
Sebenarnya aku malas melakukan pekerjaan ini. Bayangkan, ini waktunya tidur, eh malah disuruh-suruh. Tapi, siapa dulu yang menyuruhku? Pak Direktur lho, bosku. Selain itu, sebagai teman baiknya Daini, aku tentu saja sulit untuk menolak sesuatu yang berhubungan dengan Daini.
Jujur, aku juga tergiur dengan gaji lembur tiga kali lipat. Jika gaji lemburku 120 ribu perjam, saat dikali tiga, maka akan jadi 360 ribu. Belum lagi nanti dikalikan dengan jumlah jam lemburnya. Sayang 'kan kalau kesempatan ini dilewatkan begitu saja?
Jaman sekarang, apa-apa mahal. Aku harus bersyukur mendapat pekerjaan ini. Sebagian uang lembur ini, akan aku sisihkan untuk membeli minyak goreng. Akhir-akhir ini, mamaku selalu mengeluhkan harga minyak goreng yang melambung tinggi. Lucunya, saat harga minyak goreng murah, mama tak pernah kebagian.
Sambil berjalan, aku juga memikirkan berita itu. Tadi, sekitar jam delapan malam, aku iseng membuka berita online. Entah kenapa, isi dari berita itu sangat mirip dengan kisah Daini dan pak Direktur. Hanya tersirat 'sih. Tapi firasatku mengatakan jika berita itu benar-benar membicarakan pak Direktur.
"Seorang putra pengusaha terkenal sekaligus kerabat petinggi negara yang masuk ke dalam jajaran crazy rich Indonesia dikabarkan telah melakukan hubungan terlarang atau perselingkuhan dengan bawahannya. Akibat kabar itu, sang istri yang juga merupakan putri tunggal crazy rich dikabarkan mengalami trauma berat hingga terganggu secara psikologisnya."
Aku masih mengingat isi berita itu. Diberita itu juga dikatakan kalau selingkuhan dari putra pengusaha itu adalah wanita yang berpenampilan alim dan pendiam. Tidak salah lagi, maksudnya pasti Daini. Semoga aku salah, tapi ini terlalu kebetulan.
Pak Direktur dan bu Dewi bukan orang sembarangan. Aku yakin mereka mampu membayar media untuk mempublikasikan sebuah berita. Ditambah keduanya sama-sama memiliki saham di stasiun televisi ternama.
Jika ingat hal itu, aku jadi ngilu sendiri. Tak sangka kalau sahabatku bakal terlibat cinta segitiga dengan konglomeratnya Indonesia. Tapi, seperti kata Daini, sehelai daun yang jatuhpun sudah ada yang mengaturnya. Artinya, ini memang takdirnya Daini. Selain itu, dari segi penampilan Daini memang layak dan serasi jika bersanding dengan pak Direktur.
...***...
"Lambat!"
Saat berhasil menyusulnya, aku langsung dibentak. Aku malas berkomentar. Sudahlah, dia bosnya, dia pemeran utamanya. Aku patuh saja, titik.
"Maaf, Pak. Mau bicara apa memangnya, Pak?" tanyaku.
"Kamu sudah lihat beritanya?"
"Berita? Berita apa ya, Pak? Saya tak mengerti." Aku pura-pura tak tahu.
"Jangan berbohong! Tadi, apa maksud kamu mengatakan pada Hanin harus sabar, dan kamu juga mengatakan tak sengaja melihat berita online, jujur saja, Listi!" desaknya sambil bertolak pinggang. Huh, dasar emosian! Harus ya bentak-bentak? Sama sekali tak ada lembut-lembutnya. Mungkin hanya bisa bersikap lembut dan baik pada Daini.
"Oh, masalah itu, emm, sebenarnya saya memang sempat baca beritanya, Pak."
"Kamu harus pura-pura tak tahu, jangan mengatakan apapun pada Hanin! Aku khawatir berita itu membuatnya down, dan mengganggu kesehatan janinya," tegasnya.
"Baik, akan saya usahakan tak mengatakan apapun pada Daini. Tapi, apa Bapak yakin Daini tidak akan mencari tahu?"
"Aku sedang berusaha menghapus berita itu dari peredaran. Semoga hal itu tak terjadi," katanya." Lalu berbalik badan untuk kembali ke kamar Daini.
"Aku akan menitipkan satu kartu kredit untuk kamu, malam ini juga, tolong urus kepulangan Hanin ya, pulang paksa. Setelah itu, tolong bawa Hanin ke Bandung. Tapi ingat, jangan kamu yang bawa mobil. Naik taksi saja," katanya.
"Apa?! Ke Bandung? Malam ini juga?" Aku terkejut, terheran-heran.
"Kamu tak sendiri, nanti ada dokter Rahmi juga. Dokter Rahmi akan memantau kondisi kesehatannya. Dokter Rahmi yang akan memutuskan apakah setibanya di Bandung Hanin perlu dirawat lagi atau tidak," tambahnya.
"Kenapa harus ke Bandung, Pak? Daini pasti butuh dukungan Bapak."
"Aku sebenarnya ingin tetap di sisinya. Tapi kondisi saat ini sedang genting dan tak memungkinkan. Selain berita itu, kabar tebarunya, Dewi sakit. Sama seperti Hanin, Dewi juga dirawat di rumah sakit."
"Bu manajer sakit? Sakit apa?"
"Sudahlah, kamu tak perlu tahu. Cukup fokus pada Hanin saja."
"Terus bagaimana dengan pekerjaanku, Pak? Berapa lama saya harus menemani Daini di Bandung?"
"Tenang saja, aku sudah menyuruh Tania membuat surat cuti untuk kamu. Kamu belum mengambil cuti tahunan, kan? Nah, kamu pakai cuti itu saja." Dengan entengnya pak Direktur mengatakan kalimat itu.
"Ya ampun Pak, cuti tahunan akan saya gunakan untuk jalan-jalan sama kekasihku," seruku.
"Tenang, nanti bisa kuatur, sekarang kamu urus Hanin dulu ya."
"Hmm, baik." Akhirnya aku setuju.
...***...
Saat kami tiba di kamar, Daini tak ada di tempat tidur.
"Sayang, sayang," panggil pak Direktur. Langsung panik dan segera bergegas ke kamar mandi. Akupun menyusul ke kamar mandi.
"Hanin, buka pintunya sayang," sambil mengetuk pintu.
Pintu belum dibuka dari dalam, namun samar-samar aku mendengar suara tangisan Daini. Aku yakin pak Direkturpun mendengarnya. Kami bersitatap. Pak Direktur gelisah.
"Hanin sepertinya sudah tahu. Ini gara-gara kamu," katanya. Nada bicaranya penuh penekanan.
"Tak sepenuhnya aku yang salah, Pak. Yang salah itu yang buat berita," sangkalku.
"Sayang, buka pintunya," kembali mengetuk pintu kamar mandi.
'Trak.' Akhirnya pintu terbuka juga.
"Hanin," pak Direktur langsung memeluk Daini. Ya ampun, pemandangan ini membuat mataku turut berkaca-kaca.
"Maafkan aku sayang, semua salahku. Andai aku bisa melepasmu, mungkin kamu tidak akan menanggung derita seberat ini. Tapi sayang, sampai kapanpun, rasanya aku tak bisa dan tak mungkin melepaskan kamu, Hanin. Aku teramat mencintai kamu, rasa cinta ini bahkan melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri," lirihnya.
Pak Direktur membersihkan air mata di pelupuk mata Daini dengan bibirnya. Pemandangan ini begitu romantis tapi menyayat batinku. Aku memegang dadaku dan tak terasa airmataku turut menetes.
"Huuu, mohon doanya aku bisa bersabar, Pak," kata Daini dengan suara serak dan pelan. Lalu melirik ke arahku dan terisak-isak.
"Neng, apa kamu sudah lihat berita yang kumaksud?" tanyaku sambil membantunya kembali ke tempat tidur.
"Jangan dipikirkan ya sayang, kumohon ...." Setelah Daini duduk di sisi tempat tidur, pak Direktur kembali memeluk Daini.
"InsyaaAllah, berita itu tidak akan mempengaruhi kesehatan calon bayi kembar kita," jawab Daini.
Ia menatap mata pak Direktur dengan tatapan dalam dan sendu. Aku yakin Daini juga sudah jatuh cinta pada pak Direktur. Hanya saja, dia belum gamblang mengungkap ataupun memperlihatkan perasannya. Kasihan sekali kamu, neng.
"Aku harus pulang, dari sini langsung ke rumah sakit. Aku sudah menitipkan kamu pada Listi. Sebentar lagi, dokter Rahmi juga akan datang ke sini. Jangan takut ya sayang. Baik-baik di sana ya. Sampaikan salamku untuk ummi, abah, sama Putra," ucap pak Direktur dengan suara gemetar. Aku menunduk karena tak sanggup menyaksikan adegan mengharukan ini.
"A-apa Anda akan ke Bandung juga? Emm, maksudku, apa kalau ada waktu Bapak akan menemuiku?" Suara Dainipun terdenger gemetar.
"Pasti sayang, aku pasti ke sana untuk bersilaturahim pada abah dan ummi sekaligus untuk menjemput kamu," katanya.
"Huuu, ka-kalau Anda tak bisa ke Bandung, tak apa-apa, ja-jangan memikirkan aku. Bapak harus memastikan bu Dewi sehat. Oiya, sampaikan salamku untuk bu Dewi. Aku juga akan berdoa agar bu Dewi lekas sembuh."
Entah terbuat dari apa hatimu, neng? Padahal, bu Dewi jahat sama kamu, tapi kamu tak pernah membencinya. Wajar dan pantas kalau pak Direktur sampai mabuk kepayang sama kamu. Kamu cantik luar dalam.
__ADS_1
"Ya sudah, Pak. Takut kemalaman, kalau Bapak mau pergi, ya lebih baik pergi sekarang," kataku.
"Kak Listi benar, Pak."
"Oke, tapi akau mau peluk sama cium kamu dulu. Listi kamu ke kamar mandi ya," kata pak Direktur. Jiwa prianya ternyata tak terpengaruh oleh situasi.
"Ya ampun, apes gua," celetukku saat masuk ke kamar mandi.
Di kamar mandi, jiwa pengintaiku meronta, aku menempelkan daun telinga di lubang kunci. Serius, penasaran mereka akan melakukan apa. Tapi untuk mengintip secara langsung, aku tak berani.
"Bukannya tadi sudah?" Suara Daini. Hahaha, aku masih bisa mendengar suara mereka.
"Untuk stock sayang." Suara pak Direktur.
"Apa? Stock? Anda bisa mencium bu Dewi, kan?"
Ya ampun, Dai. 'Kok bisa kamu terpikirkan bu Dewi?
"Dewi suka menggigit bibirku sayang, aku lebih suka mencium kamu daripada mencium Dewi. Sensasinya juga lebih ---."
"Ssstt, Anda tak sopan, jangan pernah membandingkan-bandingkan aku dan bu Dewi," sela Daini.
"Astaghfirullah, ya maaf sayang. Aku khilaf."
Aku masih menguping, namun di detik selanjutnya, aku tak mendengar kalimat apapun, yang terdengar hanya kesenyapan. Pikiranku traveling, malah membayangkan Daini yang cantik dan pak Direktur yang tampan sedang berbagi napas. Aku memukul kepalaku, lalu beranjak ke wastafel untuk berwudhu. Semoga air wudhu bisa menjernihkan pikiran kotorku.
'Tok tok.'
"Listi, aku sudah selesai."
"Yakin sudah selesai?" teriakku.
"Cepat keluar!" titahnya.
Aku membuka pintu kamar mandi. Benar, setelah berwudhu, hatiku jadi lebih tenang. Aku lantas mengedarkan pandangan pada wajah dua manusia yang sedang tejerat panah asmara itu.
Wajah pak Direktur tak berubah. Tetap tampan, dingin dan kaku. Saat kulihat wajah Daini, jelas sekali pipinya masih merona, dan aku salfok pada bibirnya, perasaan jadi lebih merah dan tebal dari sebelumnya.
"Assalamu'alaikuum," ada yang datang lagi. Pak Direktur segera membuka pintu, ternyata itu dokter Rahmi. Dia sudah siap rupanya. Sampai bawa koper segala.
"Widih, mau liburan, Dok?" goyonku.
"Hahaha, sekalian ke Bandung," jawabnya.
"Ya sudah karena kalian sudah datang, aku pergi ya. Listi ini kartu kreditnya, pegang sama kamu ya, ini ATM-nya. Passwordnya 'hanind.' Aku titipkan istriku pada kalian. Jangan lupa foto nomor polisi taksi yang akan membawa kalian ke Bandung.
"Sayang, aku pergi."
Setelah merapikan laptop dan mengambil tasnya, pak Direktur kembali memeluk Daini, dan menciumi perut Daini. Matanya berkaca-kaca. Dokter Rahmi memalingkan wajah, dan aku pura-pura tegar.
"Aku pergi, assalamu'alaikuum," pak Zulfikar berlalu dan tak menoleh. Jika menoleh lagi, aku yakin dia tidak sanggup meninggalkan Daini.
"Wa'alaikumussalaam," jawab kami serempak. Aku dan dokter Rahmi segera memeluk Daini yang menangis hingga semidu-midu.
"Sabar ya, Neng," ucap dokter Rahmi.
"Ya, Neng. Jangan sedih, nanti calon bayi kamu ikutan sedih," timpalku.
"Huks, terima kasih karena Kak Listi dan dokter Rahmi sudah bersedia repot-repot mengurusku," katanya.
"Ya Dai, gua juga dibayar, tapi kalaupun tidak dibayar gua ikhlas demi lu, Dai."
"Bu Listi, saya rasa bicara 'gua lu' di hadapan Neng Daini terdengar kurang sopan. Lebih baik pakai kata 'aku kamu' saja."
"Dok, aku dan Daini berteman."
"Bu Listi, mari kita bekerja profesional," ajaknya.
"Ishh, ya sudah deh, aku setuju."
Aku dan dokter Rahmi berselisih faham di saat Daini sedang melamun menatap pintu. Ia tak berkomentar, mungkin hatinya masih terikat pada pak Direktur.
"Dai, gu --- em, aku mau ke bagian administrasi ya, mau ngurus-ngurus kepulangan kamu. Dokter Rahmi, aku pergi dulu." Daini mengangguk, tatapan matanya terlihat kosong. Aku berlalu dengan perasaan kalut.
...***...
Di bagian administrasi, seluruh proses pemulangan pasien berjalan lancar. Beralih ke administrasi umum sangat memudahkan. Tinggal duduk santai di bagian kasir sambil menunggu rincian biaya tindakan medis, tanpa harus pusing-pusing mengurus jaminan BPJS.
...***...
Setelah semuanya selesai, aku kembali ke kamar Daini. Daini sedang dilepas infusnya sambil diedukasi tentang perawatan pada kehamilan pasca abortus imminens.
Mata Daini sembab, bibirnya sedikit membengkak. Ya ampun Dai, suamimu sepertinya reinkarnasian dari raja lebah atau mungkin mempunyai jurus vacum cleaner. Hahaha, canda raja lebah, canda vacum cleaner. Aku pribadi tidak percaya dengan istilah reinkarnasi.
Tapi aku tahu sedikit tentang reinkarnasi. Reinkarnasi adalah konsep religius yang menyiratkan bahwa setelah kematian manusia, setiap jiwa, pikiran, atau kesadaran mereka akan dipindahkan ke bayi yang baru lahir.
Kedengarannya memang seperti hal-hal fantasi yang mustahil terjadi, tetapi beberapa ilmuwan banyak yang percaya bahwa reinkarnasi itu nyata. Percaya atau tidak, maka kembali lagi pada pribadi dan kepercayaan masing-masing. Lho, kok malah membahas reinkarnasi?
"Bu Listi, kok bengong, sih?"
Ya, pak Direktur memang tidak ada di tempat ini. Tapi posisi pak Direktur seperti digantikan oleh keberadaan dokter Rahmi.
"Ya, Dok." Aku mengalah. Segera membantu Daini duduk di kursi roda.
"Jangan berselisih," ucap Daini, lirih.
"Maaf, Neng," kataku dan dokter Rahmi sambil saling sikut.
Aku bertugas mendorong Daini. Aku menolak bantuan bidan. Dokter Rahmi mendorong kursi roda yang berisi barang-barang.
...***...
Tiba di lobi, aku langsung memesan taksi jenis luxury rute Bandung-Jakarta.
"Pelan-pelan, Neng."
Dokter Rahmi membantu Daini duduk di kursi tengah. Aku dan pak supir membereskan barang-barang di bagasi.
Taksinya nyaman sekali, ini pertama kalinya aku naik taksi luxury.
Saat mobil taksi mulai melaju, Daini menatap ke luar sambil menangis, tangisan itu terdengar menyayat hati. Pak supir beberapa kali melirik, tapi tak berkomentar apapun. Aku dan dokter Rahmi mengusap bahu Daini di kedua sisi. Pada akhirnya, akupun menangis dan memeluk Daini.
...🍒🍒🍒...
Saat taksi melewati kawasan apartemen elit milik Daini alias apartemen pemberian pak Direktur untuk Daini, Daini bersikukuh ingin pindah ke sisi.
__ADS_1
Lalu kepalanya bersandar pada kaca mobil dan menatap apartemen itu hingga menghilang dari pelupuk matanya.
"Huks, huks."
Isakannya masih terdengar. Daini terus menatap ke luar sambil memegang ponselnya. Beberapa kali ia mengetik, saat kuintip, ternyata Daini hendak mengirim pesan pada pak Direktur. Nama suaminya ditulis 'Pak Direktur.' Namun setiap kali selesai mengetik, Daini menghapusnya lagi dan lagi.
Aku penasaran dengan apa yang ditulisnya. Perlahan mengintip sembari mengusap bahunya.
"Pak, kalau tak sibuk, segera ke Bandung, ya." Dihapus.
"Pak, besok mau bertemu pak Aksa, kan? Sampaikan salamku untuk pak Aksa, emm ... untuk bu Yuze juga." Pesan terkirim.
"Pak, bibirku sakit, Anda selalu saja begitu." Diberi emoji cemberut, tapi dihapus lagi.
"Maaf Pak, tapi aku harus mengatakannya. Kalau Bapak tak bisa menangani masalah ini, bagaimana kalau Anda merahasiakan kehamilanku? Lalu katakan saja pada keluarga Anda kalau kita sudah becerai." Pesan yang inipun terkirim.
"Atau jika sudah terlanjur mengatakan aku hamil, katakan saja jika setelah aku melahirkan, Anda akan menceraikanku." Pesan terkirim.
"Pak, aku merindukan Anda." Diakhiri emoji tersenyum malu-malu.
"Awh," pekikku. Lenganku dicubit kuat oleh dokter Rahmi.
"Anda ngintip, ya? Awas, nanti saya laporkan pada pak Direktur," bisik dokter Rahmi.
Jadi, pesan yang 'Pak, aku merindukan Anda.' Tak kuketahui rimbanya. Apakah pesan itu terkirim? Atau justru dihapus lagi. Hmm, jadi penasaran.
"Kenapa, Kak?" tanya Daini.
"Tidak apa-apa," jawabku.
"Apa Neng Daini mau makan sesuatu?" tanya dokter Rahmi.
"Tidak, Dok. Aku masih kenyang."
"Dai, ayo pindah ke tengah lagi," ajakku.
"Tak perlu, Kak."
"Neng, pak Direktur berpesan agar Neng Daini selalu diapit," sela dokter Rahmi.
Setelah dokter Rahmi mengatakan kalimat itu, Daini akhirnya mau pindah lagi ke kursi tengah.
Tiba-tiba ....
"Dasar laki-laki tak tahu diri! Tak bersyukur!" gerutu pak supir.
"Kenapa, Pak?" tanya dokter Rahmi.
"Oh, itu Mbak, saya kesal sama putra konglomerat yang katanya selingkuh sama bawahannya. Padahal, istri sahnya cantik dan konglomerat juga. Tadi sama teman-teman iseng-iseng baca tabloid online," jelasnya.
"Apa?!" kataku dan dokter Rahmi secara bersamaan. Lalu kami saling menatap. Daini langsung tertunduk sambil memainkan jemarinya.
"Dengar-dengar yang selingkuh itu anak pemilik perusahaan properti ternama di Jakarta. Itu wanita yang jadi selingkuhannya juga tak tahu diri. Pastinya 'sih sengaja menggoda menggunakan segala cara supaya bisa mendapatkan konglomerat. Murahan," tambahnya.
Daini semakin tertunduk airmatanya kembali jatuh. Kali ini membasahi layar ponselnya.
"Jangan sembarangan bicara, Pak. Anda 'kan tak tahu duduk perkara yang sebenarnya. Hati-hati lho, jika yang diberitakan itu faktanya tidak benar, Anda juga bisa teseret sebagai penebar kebencian dan fitnah," tegas dokter Rahmi.
"Ya, dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan," timpalku.
"Hahaha, kok mbak-mbak ini malah membela pelakor, sih? Kalau pendapat Mbak yang paling cantik bagaimana?" tanya pak supir. Maksudnya pasti bertanya pada Daini.
"A-apa yang dilihat dan didengar adakalanya hanya sebuah rekayasa," lirih Daini.
"Kalau saya 'sih percaya kalau berita itu asli. Oiya, ada juga yang mengatakan kalau si pelakor pura-pura jadi wanita sok alim untuk membuat si konglomerat terpikat. Ngeri ya," katanya sambil bergidik.
"STOP DI SINI!" teriak dokter Rahmi.
'Ckiiit.'
Pak supir sampai mengerem mendadak karena kaget. Ya, dokter Rahmi memang tiba-tiba beteriak.
"Mbak, saya kaget, kenapa berhenti di sini?" Pak supir keheranan.
"Saya tak sudi bergabung dengan ahli ghibah!" bentak dokter Rahmi.
"Maksudnya?" Pak supir kebingungan.
"Neng Daini, Listi, ayo kita turun," ajaknya. Lalu membuka pintu mobil setelah melemparkan uang 200 ribu ke pangkuan pengemudi taksi yang hingga detik ini masih melongo.
"Dok?" Daini geleng-geleng kepala.
"Neng, cepat turun, sini aku bantu."
Dokter Rahmi menarik tangan Daini untuk turun dari mobil sambil melakukan panggilan dengan seseorang. Akupun patuh, terpaksa turun dari taksi mewah ini.
Taksi inipun tak bisa berbuat banyak. Setelah menurunkan barang-barang dari bagasi, mobil itupun pergi. Lalu dokter Ramhi memesan taksi lain. Daini menghela napas.
"Padahal, aku tak apa-apa, Dok," katanya.
"Saya tidak mau Neng Daini sedih. Itu taksi baru kita." Sambil menunjuk pada mobil taksi jenis luxury yang mendekat ke arah kami.
Kamipun kembali naik. Daini tak banyak bicara, ia langsung duduk di kursi samping, mengatur posisi jadi bersandar, lalu merebahkan tubuhnya.
"Aku lelah dan ngantuk, izin tidur," katanya.
"Boleh, Neng. Tidur saja," kataku.
"Tidur yang nyenyak, Neng Daini," ucap dokter Rahmi sambil tersenyum dan menyelimuti Daini dengan mantelnya.
Daini mulai memejamkan mata. Wajahnya saat terpejam terlihat semakin cantik, teduh dan tentu saja glowing. Aku memijat pelan kakinya. Dokter Rahmi mengukur suhu tubuh dan tensi darahnya.
Kulihat mata Daini terpejam kuat seolah sedang terlelap. Namun aku tak tahu, apakah Daini tidur sungguhan? Atau hanya pura-pura tidur demi menenangkan batinnya yang terluka dan gundah-gulana.
"Semoga mimpi indah, Dai," gumamku.
"Neng Daini pasti bisa melewati semua ujian ini," kata dokter Rahmi.
...🍒🍒🍒...
Hingga tak terasa, setelah melewati kurang lebih dua jam perjalanan yang penuh dengan drama ini, mobil yang kami tumpangipun tiba jua di kota kembang Bandung.
"Alhamdulillah, akhirnya tiba juga di kota parahyangan Bandung, Paris Van Java," kata dokter Rahmi. Wajahnya berbinar senang.
...~Tbc~...
__ADS_1
...Ditunggu komentarnya. Yuk komen yuk!...