Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Madu yang Manis


__ADS_3

*Dewi Laksm**i*


Biasanya mas Zul selalu mengangkat panggilanku walaupun sedang nyetir. Tapi tidak dengan tadi siang. Aku yakin saat aku menelepon, dia tidak sedang memegang ponselnya. Tapi biasanya langsung menelepon ulang.


Tapi hari ini dia tidak menelepon lagi. Kenapa ya?


Pikiranku benar-benar tidak tenang. Sampai-sampai jam les aku potong satu jam dari jam kontrak sebelumnya. Aku beralasan ada kepentingan mendadak. Padahal, aku ingin pulang karena mau menenangkan diri.


.


Setibanya di rumah, aku langsung ke kamarku. Aroma mas Zul terasa di kamar ini. Aku jadi merindukannya. Aku meraih ponsel berulang kali, berharap mas Zul menelepon atau mengirim pesan. Tapi nihil. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul empat sore, jikapun dia ke proyek, aku yakin di jam segini harusnya mas Zul sudah check in.


Benar, daripada aku terus menunggu dia menelepon, lebih baik aku saja yang meneleponnya. Aku tidak boleh gengsi, toh dulu juga selalu aku yang meneleponnya terlebih dahulu. Aku sering mengabaikan rasa malu demi mendapatkan cinta dari mas Zul.


"Nomor yang Anda tuju di luar jangkauan, silahkan tunggu beberapa saat lagi."


"Apa?!"


Aku terkejut, nomornya tidak aktif. Kekhawatiranpun melanda. Kuulangi panggilan itu dan jawabannya tetap sama. Kucoba mengirimnya pesan, benar saja, hanya centang satu.


Panik, jika itu tentang suamiku. Aku selalu panik. Pikiranku mencelos kemana-mana, takut mas Zul kenapa-napa. Tapi, sejauh ini aku tak pernah terpikirkan mas Zul selingkuh. Sebab, cinta pertamanya mas Zul sudah menipunya. Wanita tak tahu diuntung itu bahkan masih mendekam di penjara gara-gara mas Zul melaporkannya ke polisi.


Ya, perempuan itu berani menggelapkan uang perusahaan dengan cara memanipulasi tanda tangan suamiku. Kejadian itu terjadi saat mas Zul ditugaskan papa mertua menjadi mandor proyek. Perusahaan papa mertua sampai rugi dua miliar gara-gara wanita itu.


Aku menelpon Tania, sekretaris mas Zul. Aku harus hati-hati dengan sekretaris ini. Biar bagaimanapun, saat di perusahaan, wanita ini selalu berada di samping suamiku. Harus tegas dan galak bila berbicara dengan Tania. Aku harus memperlihatkan taringku sebagai nyonya Antesena.


"Ya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"


Langsung berpikir, aku mau ngomong apa ya? Maksudnya biar dia tidak curiga kalau aku sedang mencari suamiku.


"Tania, kamu tolong kirim proposal proyek hunian yang di Bandung ya," kataku.


"Emm, maaf Bu, dikirim dalam bentuk apa ya? File atau hard copy?" tanyanya.


Aduh, bagaimana ini?


Serius, aku bingung mau merangkai kata untuk menanyakan 'apakah hari ini mas Zul memintanya mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan proyek di Bandung?'


"Emm, file saja, kirim ke e m a i l pak Zul, ya," titahku.


"Baik, Bu."


Aku segera mengakhiri panggilan. Kalau Tania pernah mengirim file itu ke mas Zul, dia pasti akan mengatakan 'aku sudah mengirimnya, Bu.' Tapi, dia mengatakan 'baik, Bu.' Artinya, mas Zul tidak pernah meminta Tania mengirimkan file itu.


Aku merenung, bingung harus bertanya pada siapa untuk menyelidiki keberadaan mas Zul.


Sebisa mungkin orang-orang di sekitarku dan di sekitar mas Zul tidak boleh tahu kalau hari ini aku sedang mencari informasi tentang suamiku. Kalau ada yang tahu, mereka pasti akan mengira hubunganku dan mas Zul kurang harmonis.


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Semua orang harus yakin kalau aku dan mas Zul adalah pasangan serasi yang rumah tangganya sangat harmonis dan bahagia. Aku kembali mencari ide, aku harus memiliki seseorang yang bisa kujadikan juru kunci sekaligus bisa membantuku menangani masalah ini.


Paklik Aryo.


Benar, ada paklik Aryo yang bisa membantuku. Hubungan papaku dan paklik Aryo sangat baik. Paklik bahkan pernah mengatakan kalau dia sudah menganggapku sebagai anaknya.


Jabatan paklik juga di atas mas Zul. Paklik adalah Direktur Eksekutif. Dia memiliki kuasa dan wewenang yang lebih luas ketimbang mas Zul.


"Hallo, Dewi. Tumbenan akhir pekan telepon Paklik, hahaha. Ada apa?" Aku harus basa-basi dulu. Tidak boleh to the point.


"Kangenlah sama Paklik, emang gak boleh ya kalau aku telepon Paklik?"


"Hahaha, boleh dong Wi. Paklik kaget saja, gak biasanya kamu telepon di jam segini. Kalau pasangan muda, di akhir pekan biasanya kan pergi-pergian. Oiya, mana si Zul? Paklik mau bicara. Tadi Paklik mau telepon, eh malah gak aktif."


Deg, kalimat Paklik membuatku terhenyak. Aku memegang dadaku. Kupikir, Pakliklah yang menyuruh mas Zul mengontrol proyek di Bandung. Jika bukan Paklik yang menyuruh, lalu siapa? Inisiatif?


"Wi, hallo?"


"Oh, hahaha. Paklik maaf, Mas Zulnya lagi ke kamar mandi. HP-nya lagi di charg. Aku yang sengaja matiin HP-ny mas Zul." Aku berbohong.


"Oh, ya sudah tidak apa-apa, lain kali saja. Oiya Wi, hahaha. Bagaimana malam pertama kamu, perfoma si Zul beda gak?"


Paklik malah menanyakan itu. Sesuatu yang seharusnya tidak untuk dibicarakan.


"Em, kitakan perjaka dan perawan Paklik, ya gitu, kaku. Hehehe," kataku.


"Kaku? Kamu yakin? Paklik tahu kamu pasti berbohong. Hahaha, maaf ya Wi kalau kamu kelelahan. Soalnya Paklik sengaja menaruh obat kuat dan obat penggugah di minuman suami kamu. Hahaha, maksud Paklik biar kalian menggelora di malam pertama kalian. Maaf ya," katanya.


Aku menautkan alisku. Maksud Paklik apa ya? Aku sama sekali tak mengerti.


"Hahaha," aku pura-pura tertawa.


"Paklik jahil ya," aku sengaja meladeni Paklik untuk mengurangi rasa ketidakmengertian ini.


"Tapi kamu suka, kan? Kalau kamu ketagihan, obatnya masih ada di Paklik. Tenang saja, obat ini resep dokter, kok. Efeknya hanya setengah mabuk, tapi hasilnya wow," katanya.


"Emm, next time ya Paklik. Sudah dulu ya," kataku.


Aku kebingungan. Daripada semakin bingung, aku memilih berpamitan dan mengakhiri panggilan.


Aku berpikir keras. Aku mengulang kembali memori malam pertama kami. Seingatku, mas Zul terlihat kelelahan. Di malam itu, justru akulah yang agresif, bukan dia. Mas Zul sangat terburu-buru, bahkan sampai melupakan adegan pemanasan.


Tunggu, jika mas Zul meminum obat itu, lalu aku datang terlambat, berarti ... saat obat itu bekerja mas Zul seorang diri. Hmm, pantas saja dia terlihat kelelahan. Mungkin, sebelum aku datang atau saat obat itu mempengaruhi tubuhnya, mas Zul melakukannya seorang diri.


Aku tersenyum sendiri, aku jadi kasihan sama mas Zul. Tapi tiba-tiba ....


Aku jadi ingat dengan suara batuk itu. Ya, itu bisa jadi hanya perasaanku saja, tapi pada saat itu aku dalam keadaan sadar, suara itu jelas sekali terdengar berada di dalam kamar. Tidak, aku tidak berperasangka buruk pada suamiku, tapi aku harus membuktikannya.


Aku bangun dan bersiap. Aku harus membuktikan jika yang batuk itu benar-benar suara jin. Bukan suara manusia jadi-jadian.


"Radiiit!" teriakku.


"Ya, Bu." Supirku yang sedang bersantai langsung beranjak.


"Ibu mau ke mana?" Inar yang sedang mengepelpun keheranan.


"Nar, aku keluar dulu, Radit, ayo!" ajakku.


"Saya antar ke mana, Bu?" tanya Radit.


"Ke hotel," tegasku.


"Hotel? Hotel mana, Bu?" tanyanya lagi.


Aku tidak menjawab, aku sedang berpikir, apakah yang kulakukan sudah benar? Ya, aku sudah benar. Sedari awal, akulah si pengemis cinta itu. Akulah wanita malang yang selalu mengharapkan cinta dari suamiku sendiri.

__ADS_1


Kupikir, setelah menikah dan berhasil menikmati tubuhnya yang sempurna itu, aku akan merasa puas, tapi aku salah. Bisa tidur dengannya ternyata belum bisa membuatku puas dan yakin seratus persen jika dia sudah mencintaku.


Mas Zul ....


Tak terasa, air mata ini bederai. Radit melirikku, tapi dia tak mengatakan apapun. Takkan kubiarkan wanita manapun merebut mas Zul dari tanganku. Mas Zul adalah suamiku. Dia milikku, selamanya.


...***...


Zulfikar Saga Antasena


Aku membaringkan tubuhku di kasur asing ini. Menatap langit-langit kamar ini dengan perasaan gundah-gulana. Aku tak menyangka akan terjebak dalam kehidupan cinta serumit ini. Ada dua wanita di sisiku. Ada dua keluarga yang menggantungkan harapannya di pundakku.


Pria macam aku ini? Sejahat apa aku ini? Aku sendiri bingung. Akan kuapakan Hanin dan Dewi di masa depan? Aku tidak mau menyakiti perasaan Hanin dan Dewi. Aku ingin semuanya baik-baik saja. Tapi, bagaimana dengan perasaanku?


Aku juga ingin bahagia dan merasa tenang. Dan di kamar asing yang sederhana ini, entah kenapa aku tiba-tiba merasa tenang. Semua hal yang ada di rumah ini membuatku mawas diri jika kehidupan ini hanyalah senda-gurau yang sifatnya sementara.


Hanin ternyata berasal dari keluarga yang berkecukupan. Jika sisa warisan seorang anak saja mencapai empat hektar, itu artinya kakeknya Hanin sangat kaya-raya. Sebelum acara akad, aku sempat mengobrol singkat dengan bapak.


Kata bapak, dia adalah anak ke tiga dari sebelas bersaudara. Luar biasa. Namun bapaknya Hanin memilih hidup sederhana dan mewakafkan hartanya. Hatiku hangat saat mengobrol dengannya. Padahal, aku dan bapak baru bertemu pertama kali.


Aku melirik pintu kamar mandi, tadi ... Hanin masuk ke sana dan membawa pakaiannya. Katanya mau bersih-bersih dan mengganti baju pengantin dengan baju biasa. Aku tersenyum. Dia sungguh manglingi, cantik sekali. Aku bangun, lalu mengetuk pintu kamar mandi.


"Hanin, kenapa lama sekali?" tanyaku.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, aku kaget. Hanin keluar dan masih menggunakan baju pengantinnya.


"Belum ganti?" tanyaku.


"Mana kuncinya?" Malah menanyakan kunci.


"Untuk apa?" Aku ingin sekali bersitatap dengannya, tapi dia selalu berpaling.


"Aku mau minta bantuan ummi, bajunya sulit dilepas," keluhnya sambil menunduk.


"Hanin, kenapa harus minta bantuan ummi? Kan ada aku, mari aku bantu," aku memegang bahunya. Baju pengantin unik ini risletingnya ada di belakang. Wajar kalau dia kesulitan.


"Ti-tidak perlu," tolaknya sambil menepis tanganku yang bertengger di bahunya.


"Aku tidak akan memberikan kuncinya," tegasku. Melipat tangan dan menyandarkan tubuhku ke pintu.


"Anda kira aku tidak tahu apa kalau kuncinya ada di saku?"


Dengan gerakan cepat dan sedikit gemetar, dia memasukkan tangannya ke jasku. Aku menyeringai, kunci itu tidak ada di sana. Sebab, aku telah memindahkannya ke saku celana bagian depan.


"Mana kuncinya?!" Wajahnya mulai kesal,cemberut dan tentu saja semakin lucu.


"Ada di saku celanaku, ambil saja," titahku.


Dia berani tidak ya?


Ternyata tidak berani. Malah duduk di sisi tempat tidur, menunduk dan kembali menangis. Aku jadi merasa bersalah.


"Maaf, aku tidak bermaksud mempermainkan kamu, ini kuncinya. Tapi, tolong dipikirkan lagi, apa hanya sekedar membuka baju kamu harus meminta bantuan ummi? Apa itu tidak terdengar berlebihan?" kataku. Hanin diam saja masih menunduk.


"Aku saja yang membukanya, mau ya?" Aku duduk di sampingnya dan perlahan meraih kembali bahunya.


"Ba-baik, Pak Zulfikar boleh membantu. Ta-tapi harus tutup mata, raba saja risletingnya, terus langsung tarik," titahnya.


"Emm, o-oke," aku menahan senyum.


"Cepat!" katanya.


Dia membelakangiku, lalu mengangkat sedikit ujung hijabnya. Jedug, leher mulusnya terlihat sepintas. Jantungku langsung tak bisa dikendalikan.


"Cepat, Pak Zulfikar!" Kali ini suaranya semakin tegas.


"Ba-baik," aku kikuk. Aku mendekat, napasku mulai tak teratur.


Ujung jemariku sudah berada di penghujung risleting. Mulai kutarik dengan perlahan. Aku pura-pura memejamkan mata. Padahal, aku bisa melihat dengan jelas kulit halusnya, lalu samar kumelihat rambut halus berwarna sedikit kecoklatan yang tumbuh indah menghiasi tulang punggunya.


Tanpa kusadari, tubuh ini bergerak pelan hingga wajahku kian mendekat ke punggunya. Aku menghidu aroma tengkuknya. Hanin rupanya belum menyadari apa yang kulakukan.


Mataku terpejam, jiwaku terjerat oleh rasa yang aku sendiri belum bisa memahaminya. Sungguh, diri ini begitu tak tahu malu. Aku mengecup lembut punggung Hanin. Jelas, Hanin terkejut. Ia membalikan badan dan spontan menamparkau.


'PLAK.'


Kencang sekali. Hanin menutup mulutnya dan menangis. Ia beringsut ke ujung tempat tidur. Dia pasti sangat membenciku. Aku mengusap pipiku.


"Maaf," hanya kata itu yang mampu kuucapkan. Aku mendekat, aku tahu aku salah.


"To-tolong jangan seperti ini, huuu."


"Hanin, maaf ...." Aku menunduk di hadapannya.


"Sekarang jujur padaku, Pak. Apa motif Anda melakukan itu? Apa Anda hanya ingin main-main? Apa karena Anda telah merasa memilikiku? Bukankah pernikahan ini hanya setingan? Bukankah Anda akan menceraikanku setelah ini? Tolong jawab dengan sejujur-jujurnya," desaknya.


"Hanin, a-aku hanya terbawa perasaan, punggung kamu cantik, dan jikapun aku menciumnya, itu tidak dosa, kan?" kataku.


"Pak Zulfikar! Sebelum semuanya terlambat, kurasa akan lebih baik kalau kita mengakhirinya saat ini juga. Aku tidak ingin banyak hati yang tersakiti gara-gara pernikahan ini, huuuks." Suara Hanin terdengar serak. Melihatnya seperti itu, aku jadi ingin memeluknya.


"Aku tidak bisa Hanin. Bapak sudah menitipkanmu kepadaku, seperti kata Bapak, aku akan belajar untuk mencintai kamu."


"Pak ... lalu bagaimana dengan bu Dewi? Tolong pikirkan perasaan bu Dewi. Aku tidak mau menjadi orang ke tiga dan merusak rumah tangga Anda. Kumohon, aku mau cerai," tegasnya.


Cerai?


Kata itu membuat dadaku sesak. Aku tidak rela dan marah karena Hanin berani mengatakannya. Aku mendekat, aku mengekang kuat tangannya.


"Hanin! Jangan pernah mengatakan itu lagi! Ingat, aku tidak akan menceraikan kamu!" teriakku. Aku lalu memegang dagunya, aku ingin dia menatapku.


"Lihat aku, Hanin! Lihat aku!"


"Tidak, Pak. Aku tidak pantas melihat Anda!" Dia memalingkan wajah sambil memejamkan matanya.


"Hanin, dengar baik-biak!" Aku menyatukan keningku dengan keningnya. Hidung kita bahkan nyaris bersentuhan.


"Kuulangi sekali lagi, aku tidak akan menceraikan kamu!"


"Ta-tapi, Pak. A-aku tidak mau jadi madu dan dimadu. Tolong Anda mengerti perasaanku, dan juga perasaan bu Dewi. Jangan egois, Pak."


"Hanin, kamu bilang aku harus mengerti perasaan kamu dan juga Dewi? Lalu siapa yang akan mengerti perasaanku, Hanin? Apa kamu pikir berada di posisiku tidak sulit, hah? Hanin, jika aku menceraikanmu, maka aku akan menyakiti abah dan ummi kamu untuk kedua kalinya."


"Aku tak ingin mereka berpikir aku pria yang tidak bertanggung jawab. Untuk masalah Dewi, kamu jangan mengira aku tidak memikirkannya. Aku akan jujur pada Dewi, tapi aku perlu waktu." Aku melepaskan tangan Hanin. Aku mengangkat keningku dari keningnya.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Hanin menatapku. Kami bersitatap untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri. Jantungku berdebar. Aku lantas memalingkan wajah, aku tak sanggup menatap mata indah itu terlalu lama.


Lalu Hanin menunduk, memegang tanganku, dan berkata ....


"Pak Zulfikar, maafkan aku ... maaf atas permintaanku yang tak patut itu. Aku juga tidak ingin membuat abah dan ummi bersedih. Aku sadar sepenuhnya jika sekarang aku adalah istri Anda. Tapi ...."


"Tapi apa, Hanin?" Aku membalas genggaman tangannya.


"Tapi bagaimana jika suatu saat aku menginginkan hal yang lebih?"


"Maksud kamu?"


"Ba-bagaimana jika suatu saat a-aku ingin memiliki Anda?"


Deg, aku terbelalak, aku menelan saliva dengan susah-payah.


"Maka dari itu, tolong perlakukan aku dengan biasa saja. Mari kita kembali ke perjanjian awal. Aku ingin menikah karena ingin gelar janda. Jika memang Anda belum bisa memberikannya sekarang karena alasan menjaga perasaan ummi dan abah, oke aku faham." Dia melepaskan tangannya dari memegang tanganku.


"Aku akan menunggu sampai Anda siap untuk menceraikanku."


"Hanin, terus bagaimana kalau aku tak pernah siap?"


"Anda harus siap, Pak."


"Kenapa? Kenapa harus?" desakku.


"Anda tanyakan saja pada bu Dewi, apa dia ikhlas berbagi ranjang dengangku?"


"Kalau Dewi mengatakan siap, bagaimana?"


"Maka Anda harus bertanya padaku?"


"Ma-maksud kamu?"


"Anda harus bertanya padaku, apakah aku siap berbagi ranjang atau tidak," tegasnya.


"Saat kamu dan Dewi membuat keputusan, lalu bagaimana denganku, Hanin? Bagaimana jika keputusan kalian tidak sesuai dengan keinginanku?" tanyaku.


"Pak Zulfikar, tidak semua yang kita inginkan akan berjalan mulus. Tapi Anda harus yakin jika di setiap masalah, Allah pasti akan menurunkan pula jalan keluarnya."


"Hanin, maka dari itu mari kita cari jalan keluarnya bersama-sama." Aku kembali meraih tangannya dan diletakan di dadaku.


"Hanin, maukah kamu menolongku?" Kali ini, dia tidak menepis lagi. Aku bahagia.


"A-apa yang harus aku lakukan?" tanyanya. sekilas menatapku, lalu menunduk lagi.


"Tolong bersabarlah untuk menghadapi masalah ini bersamaku, maukah?" Perlahan dia mengangguk.


"Tolong jadi seseorang yang bisa mengerti perasaanku, maukah?" Dia mengangguk lagi.


"Ha-Hanin, se-sebenarnya ---."


'Tok tok tok.'


"Assalamu'alaikuum." Suara Ceu Jani.


"Makanannya sudah siap, Teh. Ditunggu di ruang makan ya," kata Ceu Jani.


"Wa'alaikumussalaam, ya Ceu, a-aku nyusul," ucap Hanin, gugup.


Dia spontan berdiri dan mungkin lupa kalau baju pengantinnya belum dilepas. Aku juga tak sadar kalau aku tak sengaja menduduki ujung baju pengantinnya.


Bruk, Hanin tersandung dan jatuh tepat ke pangkuanku. Aku otomatis memeluk tubuhnya. Gaun Hanin yang melorot, memperlihatkan tulang selangka berikut daerah yang berada di sekitarnya. Mataku jadi fokus ke sana, bahkan tak berkedip.


Napas Hanin yang memburu, membuat bagian itu naik-turun dengan indahnya.


Ohh, aku tidak tahan. Bolehkah aku meraihnya?


Otakku spaneng. Spaneng itu bahasa Jawa. Kalau bahasa Belandannya spanning. Artinya sama, yaitu ungkapan rasa tegang. Setegang tubuhku.


"P-Pak Zul, le-le-piskan! Emm ma-maksudku lepaskan!" Kalau sedang gugup lidah Hanin ternyata bisa salah juga.


"Maif, maksudku maaf," kataku. Sengaja disalahkan agar Hanin tidak malu. Pipi Hanin merona. Aku membatunya bangun. Dia menutup yang terbuka itu dengan tangannya.


"Hanin, tidak perlu ditutupi. Emm, begini saja deh, aku keluar duluan, kamu ganti baju, oke?" Dia mengangguk, pipinya masih merona.


"Pak, tunggu," katanya.


"Ya?" Aku menoleh.


"Bapak juga lebih baik ganti baju dulu."


"Oiya ya. Kamu benar. Bajuku ada di kamar tamu." Aku membuka kunci kamar.


"Pak, tunggu." Ada apa lagi, sih? Apa dia mau diapa-apakan? Aku kembali menoleh.


"I-itu tas Anda, kan?" Ia menunjuk tas yang ada di atas lemari.


"Ya, benar. Kok ada di kamarmu?"


"A-aku juga tidak tahu," katanya.


"Oke, aku juga mau ganti baju. Tenang, aku akan menggantinya di kamar mandi," aku mengambil tas itu.


"Aku saja yang di kamar mandi, Pak. Anda di sini saja."


"Baik," jawabku.


Hanin bergegas ke kamar. Duh, punggungnya itu lho. Tadi kan risletingnya sudah aku tarik. Jadi, ya begitulah. Aku baru berkedip saat punggung indah itu menghilang di balik pintu.


Aku lantas melucuti pakaianku untuk berganti. Saat sedang memakai kemeja, Hanin keluar dan langsung beteriak. Padahal, aku menyambutnya dengan senyuman.


"Aaaa," teriaknya. Sambil berlari terbirit-birit keluar dari kamar.


Kenapa ya?


Batinku keheranan, dan saat aku becermin, aku baru sadar kalau akau belum memakai celana panjangku. Berarti, tadi Hanin tak sengaja melihat sarang burung.


"Hahaha hahaha," aku tertawa sendiri. Perasaan senang ini tak pernah aku rasakan saat bersama dengan Dewi.


Salah Hanin sendiri tak memberi aba-aba, harusnya saat mau keluar kamar, ia bertanya dulu. Aku mengulum senyum, lalu berjalan dengan percaya diri menuju ruang makan. Hanin sudah cantik sedari kecil, aku melihat satu persatu album lawas yang menempel di dinding.


Madu yang manis.

__ADS_1


Batinku mengatakan itu saat melihat foto masa kecilnya. Dia tersenyum sambil memegang bendera merah putih.


...~Tbc~...


__ADS_2