
Dia masih saja terlelap. Padahal, aku sudah membangunkannya berulang kali. Alarm di ponselnyapun sengaja tak kumatikan agar ia lekas bangun. Tapi, alarm itu seperti tak ada pengaruhnya sama sekali.
"Pak, bagun! Sudah jam lima. Bapak belum mandi, belum shalat Subuh, belum sarapan juga. Bukannya jam setengah enam mau segera ke Jakarta?" Aku mengguncang bahunya untuk yang kesekian kali.
"Hmm, ngantuk sayang, sebentar lagi ya, dua menit lagi. Tidak-tidak, lima menit lagi," jawabnya. Tubuhnya masih polos. Makanya aku tak berani membuka selimutnya.
"Ya ampun Pak, kata Anda ada rapat penting, 'kan? Cepat bangun!" Sekarang, aku memaksa membuka matanya.
"Serius, masih ngantuk sayang." Dia malah memelukku.
Sementara aku, aku sudah bangun dari jam empat. Sudah mandi, shalat, ngaji, dan sempat ke dapur untuk makan pisang goreng.
Di dapur sudah ramai. Ada Putra juga. Katanya, ia diberi izin pulang sampai jam sepuluh pagi. Pak Sabil, temannya, dan dokter Rahmipun sudah berkumpul di dapur. Kak Listi, kata dokter Rahmi, setelah shalat Subuh tidur lagi.
"Bagaimana caranya agar aku bisa membangunkan Bapak? Haruskah aku guyur air?"
"Ngantuk berat sayang. Serius, mata ini terasa kayak dilem. Aku juga kelelahan sayang. Semalam 'tuh terlalu banyak energi yang kukeluarkan demi membahagiakan kamu. Siapa yang semalam peluk-peluk, terus minta lagi, hmm?" kilahnya.
"Apa?! Pak, aku memang peluk-peluk Anda. Tapi aku tak merasa minta lagi. Jangan menyalahkan kejadian semalam hanya karena tak mau bangun," sangkalku.
"Hmm, jelas-jelas kamu memintanya, kamu pegang-pegang aku, 'kan? Kalau tidak mau lagi, untuk apa cium-cium aku dan pegang-pegang segala?" ocehnya. Namun matanya tetap terpejam.
"Issh, ya sudah. Oke, silahkan berasumsi. Tapi, bisa jadi Anda tidak mau bangun karena ulah setan."
"Ulah setan?"
"Ya, Pak. Menurut hadist, setan membuat tiga ikatan di tengkuk kepala salah seorang dari yang tidur. Lalu, dia memukul setiap tempat ikatan dan berkata, 'Malam masih panjang, maka tidurlah!' Apabila orang itu bangun kemudian menyebut nama-Nya, maka akan lepas satu ikatan. Apabila orang itu berwudhu, akan lepas satu ikatan lagi. Apabila orang itu mengerjakan shalat, maka terlepaslah seluruh ikatannya," terangku.
Bagus, pak Zulfikar mulai membuka matanya.
"Orang yang bagun dan shalat, akan melewati pagi hari dengan semangat dan jiwa yang baik. Sebaliknya, jika orang tersebut tetap tidur, maka dia akan melewati pagi hari dalam keadaan jiwa yang jelek dan pemalas."
Sekarang dia mulai menggeliat, lalu membuka selimut sampai batas perut.
"Pak, Subuh adalah salah satu waktu yang sangat istimewa dari waktu-waktu yang lainnya. Akan banyak sekali godaan saat ingin bangun Subuh. Setan tidak suka kita melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Kalau aku sudah melakukan berbagai usaha untuk membangunkan Anda, namun Anda tetap saja masih sulit bangun, awas! Jangang-jangan, itu tandanya Anda sudah dikencingi setan."
"Apa?! Dikencingi setan! Tidak mungkin!" teriaknya.
Lalu duduk dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku tersenyum. Akhirnya, berhasil juga membangunkannya.
"Baik, aku bangun. Tapi, kamu temani aku mandi ya sayang," pintanya seraya beranjak mengambil handuk.
"Baik." Tak ada jawaban lain kecuali patuh.
"Kamu juga ganti bajunya pakai handuk dong sayang."
"A-apa? A-aku sudah mandi, Pak."
"Sayang," tatapannya menelisik.
"Mmm, baik."
Akhirnya mengiyakan juga. Aku mengikutinya ke kamar mandi dengan perasaan tak menentu. Apakah kejadian semalam akan terulang lagi?
"Hanya menemani mandi 'kan, Pak?"
"Kita lihat nanti saja sayang," jawabnya.
...⚘️⚘️⚘️...
"Apa?! Dewi demam? Sejak kapan, Ma?"
"...."
Aku yang sedang mengeringkan rambutku turut terkejut. Selesai shalat Subuh, pak Zulfikar menerima panggilan dari bu Yuze.
"Memangnya dokter pribadinya enggak ikut ke rumah kita? Dewi punya dokter pribadi, Ma. Masih sodaranya Dewi, namanya dokter Edward."
"...."
"Apa?! Ya sudah, mana Dewinya? ku mau bicara sama dia."
Aku tak berkomentar. Tetap fokus mengeringkan rambutku. Harusnya, rambutku tak perlu dikeringkan lagi. Tapi, gara-gara menemaninya mandi, sesuatu terjadi tanpa bisa kuhindari dan mewajibkanku untuk kembali keramas.
"Wi, please, jangan membuat mama dan papaku panik! Kamu ke klinik ya, atau untuk sementara, sebelum dokter Edward datang, kamu minum paracetamol dulu. Paracetamol aman 'kok untuk ibu hamil."
"...."
"Wi, Mas ke Bandung karena harus menjelaskan kronologi penculikan itu pada abah dan umminya Hanin. Akupun harus memastikan dan meyakinkan keluarga Hanin agar tak mengkhawatirkan masalah ini lagi. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika yang diculiknya adalah kamu."
"...."
"Sudahlah Wi, aku masih memaafkan sikap kamu karena kamu sedang mengandung anakku. Tapi, jika sikap kekanak-kanakkan kamu terus berlanjut, aku tak akan mengizinkan kamu tinggal di rumah mama papa lagi. Mengerti?"
"...."
"Wi, Hanin juga pernah sakit, tapi tak se-rewel kamu. Dia malah pergi ke klinik sendiri untuk berobat tanpa bantuan siapapun. Aku bahkan sering tak tahu kalau dia sedang sakit. Itu karena dia tak manja seperti kamu. Dia jauh lebih dewasa daripada kamu. Padahal, dari segi usia kamu lebih tua."
"...."
"Hallo? Astaghfirullah, Dewi," katanya. Lalu melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
"Sabar," kataku.
Aku mendekat dan mengusap bahunya. Pak Zulfikar menghela napas seraya memandangi wajahku. Kemudian menatap mataku lekat-lekat. Ujung-ujungnya, pandangannya beralih dan terfokus ke bibirku. Aku spontan mengatupkannya.
"Untungnya, ada kamu yang selalu membuat batinku tenang." Sambil mengusap wajahku.
"Dulu, sebenarnya, aku setuju menikahi kamu karena merasa kasihan. Tapi, di hari pertama aku menjadi suamimu, keinginan untuk menceraikan kamu langsung lenyap seketika. Di hari berikutnya, aku kecanduan tubuh kamu dan masakanmu yang menurutku sangat lezat dan pas di lidahku. Kalau sedang sendirian, aku sering menatap foto kamu dan membayangkan senyum manismu." Masih dalam keadaan membelai wajahku.
"Entah di hari keberapa, aku merasa jika kamu adalah jodohku," pungkasnya.
__ADS_1
Di akhiri dengan mendorong pelan bahuku agar bersandar ke dinding, setelah punggungku menempel ke dinding, tak kusangka, dia merampas bibirku begitu saja. Awalnya, aku terkejut hingga mata ini membelalak.
Namun, beberapa saat kemudian, aku refleks memejamkan mata, merengkuh lehernya, lalu membalas perlakuannya dengan caraku sendiri. Entah ini yang keberapa kali, dia sepertinya tak mengenal kata bosan. Bibirku bahkan kebas karena terlalu sering ia kunjungi.
'Tok, tok, tok.'
"Assalamu'alaikuum. Teteh, Teteeeh."
Itu suara Putra. Kamipun terpaksa melepas jalinan itu. Pak Zulfikar garuk-garuk kepala sambil tersenyum.
"Wa'alaikumussalaam."
"Aku saja yang buka pintu, sayang. Aku 'kan belum bertemu Putra." Dia bergegas membuka pintu. Aku bersiap, memakai jilbab, lantas menyusulnya.
"Putra? Kamu? 'Kok cepat sekali tingginya?"
Pak Zulfikar langsung memeluk Putra dan membadingkan tinggi Putra dengan tingginya.
"Aku tumbuh ke atas, Mas. Bukan ke samping," katanya.
Sejak kapan Putra memanggilnya 'Mas?' Ya sudahlah, terserah Putra saja.
"Ada apa 'sih, A? Kamu ganggu Teteh, tahu," ledekku.
"Memangnya lagi apa Teteh sama si Mas?"
"Kamu masih bocah, tak perlu tahu." Pak Zulfikar menepuk bahu Putra.
"Aku ke sini di suruh abah. Semuanya sudah pada kumpul mau sarapan bareng. 'Lah, Mas sama Teteh malah di kamar terus."
"Hahaha, Mas 'kan mau ke Jakarta lagi. Terus, teteh kamu mau Mas tinggal untuk sementara waktu. Jadi, Mas harus punya stock rindu dan cinta."
"Pak, bicara apa 'sih? Jangan membahas hal yang aneh-aneh sama Putra," larangku.
"Enggak ada yang aneh 'kok, Teh. Aku dan Mas Zul sudah akrab. Kalau di pondok ada jadwal boleh pegang HP, aku sering bertukar pesan sama Mas Zul."
"Kamu dengar 'kan sayang? Kalau Putra mau, Mas mau menanggung semua biaya kuliahnya Putra. A Putra mau jadi apa? Dokter? Perwira? TNI? Pengacara? Pilot? Apapun boleh."
"Aa mau jadi pendakwah, Mas. Rencananya, mau ikut tes beasiswa biar bisa kuliah di Maroko."
"Wah, cita-cita kamu sangat mulia. Baiklah, Mas akan menanggung semua kebutuhan kamu selama di Maroko."
"Kalau lulus, Mas. Belum tentu juga, aku enggak yakin. Saingannya berat, yang diterimanya hanya beberapa orang."
"Harus yakin dong. A Putra pasti bisa. Semangat!" serunya.
"Kalau enggak lulus, aku mau kuliah di Jakarta biar bisa sekalian jaga Teteh."
"Itu juga ide bagus. Kalau kamu ambil jurusan manajemen ekonomi, komputer, IT, atau administrasi, kamu bisa magang di perusahaan Mas."
"InsyaaAllah, aku ambil jurusan tarbiyah, Mas. Mau jadi guru kayak abah. Hehehe, mau jadi penerus abah."
...⚘️⚘️⚘️...
"Lama benar aku nunggu kamu, Neng. Kalau aku adalah sebatang kayu, sudah jamuran dari tadi," kata kak Listi, saat aku, Putra dan pak Zulfikar tiba di dapur.
"Enggak perlu dipedulikan, Neng. Dia sudah makan duluan, 'kok," terang dokter Rahmi.
"Ya, Bu, Pak Zulfikar, aku juga sudah makan. Sebab, jam 9 pas harus menghadap Komandan," jelas pak Sabil.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Maaf kalau keterlambatanku jadi menghambat kegiatan pak Sabil."
"Tidak sama sekali, Pak. Tapi, kami mohon izin untuk kembali lebih awal. Terima kasih karena Abah dan Ummi sudah menerima dan menjamu kami dengan ramah dan baik," tambah teman pak Sabil. Entah siapa namanya. Sebab, sedari kemarin, mereka tak memakai seragam polisi.
"Abah yang terima kasih. Karena pak Sabil dan kerja keras anggota Bareskrim Metro, penculikan itu bisa digagalkan. Abah sangat bersyukur karena Daini selamat. Abah tidak bisa membalasnya. Hanya bisa berdoa agar seluruh anggota Bareskrim, khususnya yang terlibat operasi kemarin mendapat pahala yang berlimpah."
"Aamiin," sahut semuanya. Serempak.
Akhirnya, pak Sabil dan temannya berpamitan. Selanjutnya, setelah aku dan pak Zulfikar sarapan, kak Listipun berpamitan.
Tepat pukul 07.10 WIB, aku merelakan pak Zulfikar pergi ke Jakarta.
Ada perasaan sedih, namun, aku berusaha tegar dan tak menangis. Aku ingin membuktikan kepadanya kalau aku baik-baik saja walaupun tanpa ada dia di sisiku. Tapi, saat mobilnya menghilang dari pandanganku, air mata ini menetes jua.
Aku segera berlari ke kamarku dan melarang dokter Rahmi yang hendak menyusul.
...⚘️⚘️⚘️...
Ya, aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri dan keluargaku walaupun tanpa ada embel-embel klan Antasena. Namun, aku sudah terlanjur mencintainya.
Lalu hari ini, seusai shalat witir, aku tiba-tiba merasa ikhlas jikapun harus berbagi ranjang seumur hidupku. Berbagi ranjang dengan bu Dewi, ataupun dengan wanita lainnya.
Kenapa?
Kenapa cinta ini di dalam dadaku ini begitu sulit difahami? Aku merenung, namun tak menemukan jawabannya.
Aku memeluk bantal bekasnya tertidur. Aroma minyak rambutnya masih melekat. Lalu mengingat kembali segenap hal indah yang terjadi semalam. Perlakuannya terhadapku, begitu manis, lembut dan mengesankan.
Cinta memang rumit, itulah sebabnya aku bertekad untuk menjaga hati ini agar tetap aman dan tidak mudah rapuh.
Hari ini, aku yakin jika konsep cinta sejati itu akan hadir di saat aku menjaga pikiran dan hati untuk tetap bersih dan sehat. Karena menurutku, kemampuan untuk menemukan cinta sejati, justru akan datang dari cara kita memberi atau berbagi cinta dengan sesama.
Aku tidak boleh terlena dengan cinta duniawi. Sebab, cinta duniawi itu bagai samudera. Samudra memiliki permukaan dan bertepi. Permukaan samudra bisa diraih dan disentuh.
Sedangkan cinta ilahi itu laksana langit, begitu tinggi dan tidak berbatas. Setinggi apapun aku ingin menyentuh langit, aku tidak akan bisa menemukan ujungnya. Cinta ilahi melampaui semua hubungan cinta duniawi, dan cinta ilahi mencakup semua hubungan cinta yang ada di dunia ini.
"Neng Daini, apa aku boleh masuk?" Dokter Rahmi membuyarkan lamunanku.
"Masuk saja, Dok. Tak dikunci," sahutku.
Dokter Rahmi masuk sambil membawa sfbuku dan catatan.
__ADS_1
"Kita mau belajar apa, Dok?"
"Teori senam hamil, Neng. Praktiknya nanti kalau usia kandungan Neng Daini sudah 24 minggu atau 28 minggu."
...⚘️⚘️⚘️...
Zulfikar Saga Antasena
Aku bahkan tak bisa menghadiri acara empat bulanannya Hanin.
"Maafkan aku, sayang. Aku tak bisa ke Bandung, aku sibuk mengurus perusahaan dan juga harus memenuhi panggilan polisi terkait kejadian dan kasus yang menimpa keluargaku akhir-akhir ini. Dari mulai kasus rem mobil blong yang hampir merenggut nyawaku, papaku jadi korban tabrak lari, sampai dengan kasus penculikan kamu."
Aku hanya bisa meneleponnya dan meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Pak." Suaranya terdengar lirih, ia pasti sedih.
"Maafkan aku juga karena akhir pekan kemarin tak jadi pulang ke Bandung. Tiba-tiba ada rapat mendadak sayang. Padahal, aku sangat merindukan kamu, dan teramat sangat merindukan calon anak-anak kita."
"Tidak apa-apa, Pak." Lagi hanya kalimat itu yang ia ucapkan.
"Sayang, tidak bisakah kamu mengatakan kalimat lain? Apa kamu tidak merindukanku? Sudah lama lho kita tidak bertemu secara langsung. Apa kamu tahu? Andai tiap malam aku tak bisa VC sama kamu, aku bisa gila," keluhku.
"Hmm." Hanya itu jawabannya.
"Katakan sesuatu sayang, please. Katakan kalau kamu juga merindukan aku."
"Tidak, Pak. Aku tidak merindukan Anda. Aku seperti ini karena lagi marah. Aku marah sebab dokter Rahmi menyiapkan acara empat bulanan dengan berlebihan. Ini pasti atas saran Bapak, 'kan? Aku tidak suka."
"Kan acaranya mengundang anak yatim sayang, aku rasa tidak berlebihan, 'kok. Sudah ya, jangan bahas itu. Ayo, cepat katakan kalau kamu merindukan aku."
"Tidak, aku tidak rindu. Tolong ya, Anda jangan gombalin aku terus. Kalau Anda benar-benar merindukan aku dan calon bayi-bayi kita, harusnya Anda bisa meluangkan waktu untuk menemuiku secara langsung. Bukan cuma VC dan menyuruhku melakukan ini dan itu," protesnya.
"Hahaha, apa pipi kamu saat ini sedang memerah karena marah? Wah, pasti makin cantik kalau kamu marah. Biasanya tambah menggemaskan. Kalau kamu ada di dekatku, pipi dan bibirmu sudah aku gigit," godaku.
"Cukup, jangan membual terus, Pak. Jujur saja, Bapak sebenarnya sudah tak menginginkan aku lagi, kan? Pak, menikah itu tak cukup hanya dengan kata-kata cinta dan harta yang berlimpah ruah saja. Tapi lebih dari itu," tandasnya.
"Sayang, aku sengaja tak menemui kamu karena memiliki banyak alasan. Aku belum bisa menjelaskannya karena belum menemukan titik terang lagi. Sabar ya sayang."
"Huuu." Akhirnya tangisan itu terdengar juga.
"Hanin ..., kenapa menangis sayang? Harusnya kamu bahagia, kan?"
"Pak, bagaimana aku bahagia kalau Anda tak bisa datang? Nanti, kalau keluargaku menanyakan tentang Anda, aku harus jawab apa? Kata dokter Rahmi, akan ada wartawan lokal juga. Padahal, aku tidak mengundang mereka. Huuu, aku ---."
"Ssst, sayang, Hanin yang kukenal bukan Hanin yang cengeng. Seminggu yang lalu, kamu bahkan mengatakan ikhlas kalaupun aku memiliki tiga istri lagi. Ya, 'kan? Kamu masih ingat? Masalah wartawan, jangan dipikirkan, aku akan mengutus pak Ikhwan untuk jadi juru bicara. Jangan sedih lagi ya. Oiya, aku tegaskan lagi, aku hanya ingin memiliki kamu sayang. Aku tak ada niat memiliki wanita lain selain kamu."
"Huuu, Pak ..., maaf kalau aku menanyakan hal ini. Aku juga sebenarnya malu mengatakannya."
"Ada apa sayang? Katakan saja."
"A-apa Anda tidak akan menemui aku lagi? Apa Anda tidak akan menjemputku untuk pulang ke Jakarta? Apa Anda menginginkan aku tetap tinggal di Bandung? Selamanya?"
Bibirku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Hatiku terasa hangat dan berbunga-bunga. Walaupun ia tak pernah secara langsung mengungkapkan perasaannya, tapi apa yang dia katakan seolah menyimpulkan jika dia juga sebenarnya merindukanku.
"Aku akan ke Bandung dan menjemput kamu sayang. Kamu harus tahu kalau mama dan papaku ingin mengadakan acara tujuh bulanan yang sangat spesial untuk calon bayi kembar kita. Sabar ya sayang, untuk waktunya, akan aku kabari lagi."
"Pak, sudah dulu ya. Aku dipanggil ummi, banyak tamu yang ingin menemuiku."
"Baik, jangan kacapekan ya sayang. Nanti aku telepon lagi. Malamnya, kalau kamu tak lelah, kita VC lagi ya." Setelah mengucap salam, aku mengakhiri panggilan.
Lantas duduk kembali di kursi kerjaku. Kemudian membuka lagi file rahasia yang dikirimkan oleh pak Sabil.
"Untuk sementara waktu, tolong jaga jarak dulu dengan bu Daini. Kalau bisa, Anda harus berakting seolah-olah kurang memedulikan bu Daini."
Aku mengingat kembali percakapanku dengan pak Sabil beberapa minggu yang lalu.
"Memangnya kenapa, Pak? Ada apa?!" tanyaku kala itu.
"Di ponsel tersangka yang melakukan tabrak lari pada pak Aksa, ada panggilan beberapa kali dari nomor yang tak dikenal. Setelah dilacak, nomor itu adalah milik istri pamannya bu Dewi. Nomor itu sudah lama tidak aktif. Tapi entah kenapa malah diaktivasi lagi."
Saat itu, aku begitu terkejut. Pamannya Dewi pernah menjadi rival papa, dan tender proyeknya pernah dua kali kalah oleh anak perusahaan milik papa.
"Ada hal yang menarik lagi, Pak. Plat motor pengantar paket yang pernah pura-pura mengantar paket ke kontrakan bu Daini, ternyata pernah mengantar paket juga ke rumah milik Anda dan bu Dewi. Kata bang Radit, paketnya langsung diterima oleh bu Dewi."
"Pemilik plat nomor itu sudah meninggal. Ada banyak hal yang saling terkait dan berhubungan yang sedang kami selidiki dan belum bisa aku ungkap seluruhnya. Aku hanya bisa memberi saran agar Anda jaga jarak dulu dengan bu Daini, dan mulai memperbaiki hubungan Anda dengan bu Dewi dan keluarga besarnya."
Itulah alasan kenapa aku belum datang lagi ke Bandung dan memilih tak menghadiri acara empat bulanan. Ya, aku sedang menjaga jarak dengan Hanin untuk sebuah misi yang tengah disusun oleh penyidik Bareskrim Polri.
"Maaf ya sayang." Aku mencium potret Hanin yang ada di ponselku.
Lalu, ada panggilan dari Dewi.
"Ya cinta ada apa?"
"Mas, aku mau nonton, aku juga mau ke salon, kamu bisa antar aku, kan?"
"Bisa, tapi Mas pulangnya agak malam."
"Pulang cepat dong, Mas. Salonnya tutup jam delapan malam."
"Baik, akan Mas usahakan."
Aku lebih nyaman berlama-lama di kantor. Baru pulang dari kantor, setelah puas VC dengan Hanin.
"Mas, hallo Mas!"
"Ya cinta."
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1