Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sosok yang Berbeda


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Aduh, bagaimana ini sayang? Aku panik."


Bu Dewi sudah kontraksi. Kata dokter yang menanganinya, ia sudah bukaan 6 cm. Saat ini, aku dan pak Zulfikar sedang berada di dalam mobil menuju rumah sakit yang akan menangani persalinannya.


...⚘️⚘️⚘️...


Tiba di sana, semua keluarga inti bu Dewi sudah berkumpul. Bu Silfa tampak cemas. Ia berulang kali mengusap air mata yang meleleh di pipinya. Secara spontan, aku mendekat dan memeluknya. Sementara pak Zulfikar, segera mengobrol dengan tim dokter.


"Daini, maafkan saya ya." Tanpa kuduga, bu Silfa membalas pelukannya. Dia menangis di dalam rangkulanku.


"Kak Dewi pasti baik-baik saja." Aku berusaha menenangkan.


"Kata dokter, kondisi Dewi sangat lemah. Dia mengalami anemia karena di akhir kehamilan panyakitnya kambuh dan tidak mau meminum obat penambah darah."


"Aku sudah tahu tentang masalah itu. Kak Dewi sudah ditransfusi darah, Bu. Pasti akan baik-baik saja."


"Kadar Hb-nya tidak bisa naik. Padahal sudah ditransfusi. Sekarang masih 7 gram persen, dan kata dokter belum bisa dilakukan operasi SC. Padahal, Dewi sudah kesakitan, Dai."


"Aku takut, Neng Dai."


"Bu Daini, tolong istri saya, Bu." Bang Radit datang tiba-tiba.


"Ada apa Bang?" tanyaku.


"Bagaimana keadaannya?" tanya pak Zulfikar.


"Pendamping maksimal hanya boleh tiga orang," ucap seorang bidan yang keluar sejenak dari ruangan.


Lalu aku, bang Radit dan bu Silfa bergegas masuk.


"Dewi ingin bertemu dengan bu Daini," jelas bang Radit dengan suara lirih.


"Ya Bang, aku akan menemuinya," jawabku.


Tiba di dalam ruang observasi, untuk sesaat, aku mematung bingung. Mata tertuju pada Bu Dewi yang terlihat tidak berdaya. Ada tiga jalur infus yang terpasang di tubuhnya. Memakai monitor, EKG, EEG, oksigen, kateter dan infus pump dan siringe pump. Ia juga di kelilingi banyak tim medis.


"Bu Silfa, Pak Radit, kami harus menjelaskan sesuatu," seorang dokter menghampiri. Lalu dokter tersebut membawa bu Silfa dan bang Radit ke suatu tempat.


Aku segera duduk di samping bu Dewi yang belum menyadari kedatanganku. Bu Dewi tampak pucat dan lebih kurus. Padahal, tiga hari yang lalu saat aku dan pak Zulfikar menemuinya, kondisinya baik-baik saja. Hanya sedikit pucat, dan kata dokter pribadinya, bu Dewi tidak mau dicek darah.


"Kak Dewi," aku memegang tangannya


"Da-Daini," ia menoleh perlahan.


"Kak Dewi," aku tidak kuasa menahan air mata.


"Da-Daini, perutku sakit sekali. Kata dokter, aku tidak bisa melahirkan normal karena ada penurunan Hb, dan trombosit di tubuhku. Info terbaru, aku harus segera dioperasi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Kak Dewi. Dokter pasti akan melakukan tindakan yang terbaik untuk Ibu."


"Daini ..., aku minta maaf ya." Ia menatapku lekat.


"Sudah dimaafkan Kak. Bukan 'kah Kak Dewi sudah meminta maaf berkali-kali? Aku juga minta maaf." Mengingat semua hal yang terjadi, selalu ada yang berdesir di dadaku. Sungguh, pengalaman hidup yang sangat berharga.


"Daini, aku sudah banyak sama kamu dan mas Zul. Bukan hanya kamu dan mas Zul, aku juga sudah menipu mami dan papiku. Huks, papi ... papi meninggal gara-gara aku, Dai."


"Ssst, Bu Dewi, cukup. Jangan bicara tentang hal itu lagi. Semuanya sudah berakhir. Pak Zulfikar juga sudah memaafkan Bu Dewi."


"Daini, setiap malam aku bertaubat minta ampunan. Aku wanita kotor, Daini. Dulu, aku sering menudingmu wanita tidak baik-baik. Padahal ... yang kotor itu aku, Dai. Aku menjijikkan. Sebenarnya, sedari awal aku harus sadar diri jika aku tidak pantas menikah dengan mas Zulfikar."


Bu Dewi terus bicara. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Mas Zul pria baik yang sangat baik, Dai. Jika sudah mencinta seseorang, dia akan selamanya setia. Dulu, saat ia setuju menikahiku, dia memang belum mencintaiku. Hanya karena merasa bersalah dan tidak enak pada orang tuanya, mas Zul memaksakan diri. Dia berharap bisa mencintaiku seiring dengan berjalannya waktu. Namun, sebelum berhasil mencintaiku, mas Zul malah bertemu dengan kamu dan jatuh cinta."


"Daini, apa dosa-dosaku akan terampuni?"


"[Allah] itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jika kita bertaubat dengan sungguh-sunguh, semua dosa akan diampuni kecuali dosa syrik."


"Daini, aku ingin kamu mendampingiku sampai ke ruang operasi. Aku mau memegang tanganmu, lalu kamu mengaji di telingaku. Aku pernah mendengar suara kamu saat kamu ngaji. Suara kamu merdu, bacaan kamu bagus. Kamu juga cantik dan baik. Pantas saja mas Zul tergila-gila sama kamu. Dulu, semua hal yang ada padamu benar-benar membuatku iri." Airmatanya menetes, lalu tangannya mengusap pipiku.


"Bu Dewi ...," akupun tak kuasa menahan air mata.


"Pipimu lembut dan mulus sekali. Daini, aku ingin menjadi temanmu."


"Bu Dewi, huu. Cukup Bu, jangan bicara lagi." Aku memeluknya.


"Bang, kamu mencintaiku, 'kan?" Sekarang, bu Dewi memegang tangan bang Radit.


"Ya, aku mencintaimu."


"Bang Radit, apa aku cantik?"


"Cantik, kamu sangat cantik."


"Keluarga yang bisa masuk ke kamar operasi hanya dua orang. Siapa yang akan masuk? Mari ikut saya untuk menandatangani peraturan selama di ruang operasi," jelas serang dokter.


"Aku ingin didampingi sama Mami dan Daini. Bang Radit, maaf ya ... enggak apa-apa 'kan kalau Bang Radit menunggu di depan saja?"


"Tidak apa-apa, Wi. Aku dan pak Zulfikar akan menunggu di depan ruang operasi."


"Daini, aku ingin bertemu mas Zul dulu. Boleh, 'kan?"


"Tentu saja boleh, Kak."


Lalu bang Radit memanggil pak Zulfikar. Ia tiba dengan cepat. Segera menghampiri bu Dewi. Mereka saling menatap. Pertemuan mereka kali ini begitu mengharukan.


"Kamu dan anak kita harus selamat," lirihnya. Mata pak Zulfikar berkaca-kaca. Namun, ia menjaga jarak dari bu Dewi.

__ADS_1


"Mas, aku minta maaf."


"Aku sudah memaafkan kamu," jawabnya.


"Mas ..., Daini ..., jika sesuatu terjadi, tolong jaga anak ini," sambil mengusap perutnya.


"Sayang, istighfar. Kamu bicara apa, 'sih?" Bu Silfa mengusap wajah bu Dewi yang hanya tersenyum menyikapi sikap maminya.


Setelah persiapan operasi darurat selesai dilakukan, aku dan bu Silfapun bersiap untuk mendampingi bu Dewi sampai ke kamar operasi. Saat memasuki kamar operasi, perasaanku sedikit tidak tenang. Jadi teringat lagi saat-saat menegangkan ketika aku melahirkan Cantik dan Raja. Semoga operasinya berjalan lancar. Aku duduk di sisi kanan kepala bu Dewi. Segera melantunkan ayat suci di telinganya.


Bu Dewi tersenyum. Aku merasa jika bu Dewi benar-benar menjadi sosok yang berbeda. Begitu sumringah, murah senyum dan ramah. Aku bahagia, untuk pertama kalinya, aku mengecup keningnya sambil menitikkan air mata.


"Kamu mau jadi adikku?" Kali ini, ingin menjadi adikku. Padahal sebelumnya, ingin menjadi temanku.


"Mau, Kak," bisikku. Sementara dokter dan tim medis yang lain tengah bersiap untuk memulai operasi.


"Aku anak tunggal, pasti senang 'deh kalau punya adik yang cantik plus sholehah seperti kamu."


"Aku juga pasti senang punya kakak seperti Kak Dewi."


"Kamu senang? Kamu tidak takut punya Kakak sepertiku?"


"Tidak, Kak. Ya sudah, Kakak tenang ya. Aku mau ngaji lagi," bujukku.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


NB:


Mohon doa dan dukungannya untuk karya terbaru nyai. "ISTRI SITAAN." Jika berkenan, boleh like, komen, pavorit, dan beri penilaian. Dengan mengikuti event, semoga karya nyai bisa diminati. Aamiin.



Sinopsis:


Alsava Serena harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan kuliah setelah dipaksa oleh sang ayah untuk menikah dengan pria yang tidak pernah ia kenali. Gadis berusia 18 tahun itu menjadi korban keserakahan ayahnya. Kehidupannya berubah sulit setelah perusahaan ayahnya bangkrut akibat hobi berjudi. Sang ibu yang sering sakit-sakitan, dan adik-adiknya yang masih kecil, membuat Serena menyetujui permintaan ayahnya.


"Kamu itu istri sitaan! Ingat itu!"


Pria yang membelakanginya membentaknya dengan kejam. Serena tidak mengatakan apapun, hanya bisa melelehkan air mata, terisak-isak seraya meremas gaun pengantinnya.


"Apa kamu tahu siapa saya?!"


"Ti-tidak, a-aku tidak tahu siapa Anda." Gadis cantik itu menjawab dengan terbata-bata, dan isakannya semakin terdengar jelas.


"Dasar bocah! Bisanya hanya nangis! Lap ingusmu!" Pria itu melemparkan kotak tissue pada Serena.


Dengan siapakah Serena menikah? Bagaimana Serena menjalani hari-harinya sebagai "Istri Sitaan?"

__ADS_1


_______


__ADS_2