
^^^Catatan: Demi kanyamanan, bab ini sebaiknya dibaca setelah berbuka puasa. Tapi, kembali lagi pada keputusan pribadi masing-masing ya.^^^
^^^Selamat menunaikan ibadah puasa, nyaimah dari tanggal 1 Ramadhan belum saum karena tamu bulanannya datang tepat di hari pertama puasa. Hmm ... ada perasaan sedih. Ada yang sama kayak nyai?^^^
^^^-------------------------------------^^^
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Aku menatapnya sambil mengulum senyum. Apa yang tadi kulakukan untuk melayaninya benar-benar membuatku malu hingga ke ubun-ubun. Lucu sekali saat dia berusaha keras agar tak bersuara. Saat mengingatnya lagi, pipiku bahkan terasa panas.
Saat ini, pak Zulfikar sedang tertidur pulas. Lelah ya, Pak? Kataku dalam hati. Aku kemudian mengelus rambutnya yang lembab. Lalu kuusap bibirnya yang sedikit membengkak. Maaf ya, Pak. Tadi, saat aku melayaninya, kepalaku tak senganja membentur bibirnya.
"Huft ...." Jam berapa ini ya?
Aku tiba-tiba merasa lapar. Saat mau bergeser aku kesulitan karena tubuhku ada di dalam kungkungannya.
"Pak," panggilku.
Aku masih canggung memanggilnya 'Mas.' Dia bergeming. Rupanya benar-benar kelelahan. Malah memelukku kian erat saja.
"Aku lapar Mas," kataku pelan.
Aduh bagaimana ini?
Akhirnya memberanikan diri mengirim pesan pada ceu Jani. Semoga ceu Jani belum tidur dan bisa mengantar makanan ke kamarku.
"Ceu, tos kulem tacan? (Ceu, sudah tidur belum?)"
Tapi tak ada balasan, mau kuteleponpun tak enak hati, kasihan. Ya, ini memang jamnya tidur. Waktu menunjukkan pukul 01.24 WIB.
"Mas ...." Aku mengguncang bahunya.
"Hmm," jawabnya. Matanya masih terpejam.
"Pak Zulfikar aku lapar," dengan suara cukup keras.
"A-apa? Siapa yang lapar?" Matanya terbuka, tatapannya linglung.
"Aku Pak, eh Mas. Aku lapar."
"Oh ya ampun sayang, maaf." Dia segera bangun. Lalu meregangkan tangannya.
"Aku sudah kirim pesan sama ceu Jani, tapi kayaknya sudah tidur."
"Mau makan apa sayang? Mas yang keluar," katanya sambil merapikan rambut dengan jemari tangannya.
"Hanya lapar saja kok, Mas. Aku tak mau yang aneh-aneh, biar aku saja yang ambil. Mau cari makanan di ruang tamu atau di kulkas." Akupun bangun.
"Kamu tetap di sini sayang, Mas yang ambilkan."
Sekarang dia me'Mas'kan dirinya sendiri. Akupun mulai terbiasa dengan panggilan itu. Walaupun saat mengucapkannya masih ragu.
"Kalau aku di sini saja, aku tak bisa memilih, Mas."
"Tenang sayang, nanti Mas bawa HP, apa yang ada di kulkas dan di meja, nanti difoto." Meraih ponselnya dan bergegas.
"Pak, maksudku Mas, tunggu."
"Kenapa lagi sayang?"
"Yakin Anda mau keluar dengan keadaan seperti itu?"
"Astaghfirullah, oiya maaf sayang," katanya. Sadar diri kalau dirinya hanya memakai mini boxer. Tubuh bagian atasnya masih polos.
Setelah memakai baju, iapun pergi. Beberapa saat kemudian, ia mengirim banyak pesan bergambar ke ponselku.
"Ini menu pilihannya sayang. Mas takut kepergok sama orang rumah. Tangan Mas gemetar saat buka kulkas. Ada yang melototi aku, sayang. Hahaha, kucing kamu." Aku tersenyum saat membaca pesannya.
"Anda sudah menjadi bagian dari keluargaku. Tak perlu sungkan, empusku baik, kok," balasku.
"Ayo, mau apa sayang? Lama buka kulkas, aku kedinginan, jadi mau peluk kamu lagi supaya hangat, hahaha."
"Ishh, tak ada yang aku sukai, Mas. Mas ke kamar lagi, ya."
"Yakin?"
"Ya, Mas."
"Oke," balasnya. Lalu dia datang lagi.
"Serius gak ada yang kamu sukai?" Menatapku.
"Semua yang Anda foto sebenarnya aku suka semua, tapi untuk malam ini, merasa tak berkenan memakannya, Pak," jelasku.
"Pak, lagi?"
"Ma-maaf, Mas."
"Terus mau apa sayang? Mas keluar saja ya, di simpangan pondok 'kan banyak pedagang kaki lima, apa kamu mau makanan pedagang kaki lima?" tawarnya.
"Emm, ti-tidak mau Mas. Aku sedang berpikir, mau apa ya?" Sambil mengusap perutku.
"Sepertinya aku mau steak daging sapi, Mas."
"Steak?" Dia terkejut sambil tersenyum, lalu mendekatiku.
"Aku juga tahu, kenapa jadi terpikirkan steak daging? Kenapa aku jadi geugeudeeun begini?" Sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
"Geugeudeeun itu apa sayang?"
"Istilahnya apa ya? Aku bingung menjelaskannya, Mas."
"Hmm, steak itu makanan kesukaanku waktu masih kecil sayang. Ya sudah, Mas cari dulu di aplikasi ya. Semoga saja ada," harapnya. Lalu sibuk memainkan ponselnya. Aku hanya menatapnya.
"Sudah tutup semua sayang. Oiya, di kulkas Mas lihat ada daging, bagaimana kalau Mas membuat langsung steak untuk kamu?"
"Emm, tak perlu, Mas. Laparnya tiba-tiba hilang," kataku. Lagi pula, aku tak yakin dia bisa memasak, memotong wortel saja tangannya kaku.
"Oh ya ampun, sayang. Wanita hamil menggemaskan ya."
Dia berhambur ke arahku. Setelah mencubit pipiku, ia menyingkap gaunku dan menghujani perutku dengan kecupan di sana-sini.
"Mmuach mmuach mmuach, kalian mengerjai Papa ya?" katanya. Aku meringis karena mulai merasa geli.
"Mas ... cu-cukup," aku menahan bahunya.
"Aku tidak bisa berhentinya sayang."
Dia malah melanjutkan menciumi tubuhku ke bagian yang lain. Tangannya mulai aktif tak terkendali. Aku mematung, pasrah.
"Emh ... Mas ...."
Aku memalingkan wajahku. Lantas mengintip apa yang dia lakukan dari balik jemari tanganku. Ini memalukan sekali, aku lantas menepis dan menahan tangannya. Tapi pak Zulfikar menggelengkan kepalanya sambil menatapku. Yang berarti, ia tak mau mendapat penolakan.
__ADS_1
"Ta-tapi Mas ...." Aku menutup bibirku.
"Sssttt," katanya. Malah semakin berani membuatku tak berdaya.
"Mas ...."
"Tak perlu cemas sayang, ini tak akan membahayakan calon anak kita," jelasnya sambil tersenyum puas saat melihat tubuhku mulai gemetar dan sedikit gelisah.
"Cu-cukup Mas ...," ratapku. Sungguh, aku tak kuasa ingin menjerit.
"Aku ingin membuatmu senang, sayang. Tadi kamu sudah menyenangkanku. Sekarang giliranku, supaya adil, setuju?"
"Mmm ...." Aku membisu.
Aku membekap bibirku sendiri. Perasaanku sudah tak fokus lagi. Kesadaranku seolah hilang timbul. Tak sadar memasygul rambutnya, membelai rahangnya. Lalu pak Zulfikar mengecupi jemari tanganku. Ya ampun, aku hampir tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Romantis sekali. Tapi ... ini membuatku malu. Tapi ... tubuhku seolah menyukainya.
Kenapa aku jadi seperti ini?
Aku seperti bukan diriku yang sebenarnya. Namun, di balik segenap rasa yang melenakan ini, selalu ada rasa lain yang membebani batinku.
Ya, bayang-bayang bu Dewi berputar di kepalaku. Jujur, hingga saat ini, aku masih tak percaya jika aku ternyata ... telah berbagi ranjang dan berbagi suami dengan bu Dewi.
Tidak, aku tidak ingin dituduh sebagai wanita yang merebut ranjangnya bu Dewi. Kenapa? Karena sedari awal, aku memang tak pernah berniat menjadi istrinya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, rasa ini tumbuh begitu saja.
Lalu rasa itu kian bersemi setelah aku tahu jika pak Zulfikar menikah dengan bu Dewi karena perjodohan, dan setelah aku tahu kalau pria ini mencintaiku.
Kemudian aku tiba-tiba serakah ingin memiliki dia seutuhnya setelah aku tahu kalau pak Zulfikar sering mendapat perlakukan buruk dari bu Dewi, dan setelah aku tahu jika di dalam rahimku telah tumbuh dan berkembang benih cintanya.
"Mas ...."
Aku meraih tengkuknya, lalu ia menghentikan sejenak aktivitas nakalnya. Pak Zulfikar berpindah poisisi, ia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuhku. Aku memeluknya erat, dan perasaan dilema itu tak bisa kubendung, hingga akupun berkaca-kaca.
"Ke-kenapa sayang? Apa tak nyaman?" tanyanya.
Kepalaku spontan menggeleng sambil menelusup di dadanya. Aku membasahi dadanya dengan airmataku.
"Kenapa, hmm?" tanyanya lagi sambil membelai rambutku.
"Huks, Mas ...."
Aku bingung mengungkapkan kalimat yang pantas untuk mengatakan kegundahan ini.
"Sayang, seperti harapan abah, aku ingin menjadi suami yang bisa membuatmu bahagia. Jika kamu bersedih, aku juga sedih. Saat kamu bahagia, aku juga bahagia sayang," katanya sambil mengusap airmataku.
Kemudian ia menengadahkan wajahku. Lalu memagut bibirku dengan lembut dan hati-hati. Aku terkejut namun tak bisa menolak. Entah ini pagutan yang ke berapa. Saking seringnya aku sampai lupa.
"Aku bisa membantumu melupakan kesedihanmu sayang. Rileks dan nikmati saja, oke?" bisiknya.
"Ja-jangan, Mas. Cukup," bibirku menolak, tapi ... saat dia berulah lagi, tubuhku merespon dengan baik dan spontan membuka diri.
"Cantik sekali," gumamnya.
Aku meremang, aku menggigit bibirku kuat-kuat saat sesuatu dari hipotalamus menyerang tubuhku. Pak Zulfikar tersenyum, menatapku puas, lalu memelukku.
Hipotalamus adalah kelenjar di otak yang mengontrol seluruh sistem hormon. Hipotalamus melepaskan hormon ke bagian lain dari otak yaitu kelenjar pituitari. Kelenjar ini kemudian akan mengirimkan hormon tersebut ke berbagai organ tubuh lainnya.
"Bagaimana sayang? Nikmat, kan?" bisiknya seraya menciumi tengkukku.
Pertanyaannya sangat frontal. Aku tak menjawab, malah menutupi wajah dengan kedua telapak tanganku. Saat aku rileks dan napasku mulai tenang, pak Zulfikar berulah lagi. Dia memainkan tubuhku sesuka hatinya.
.
.
"Neng Daini, Neng. Neng, tidak apa-apa, kan? Maaf Ceu Jani baru buka HP."
Teriakan ceu Jani dari depan kamar membuatku dan pak Zulfikar teperangah. Aku spontan menutupi bagian tubuhku yang terbuka.
"Neng Daini tidak kontraksi, kan?" Suara dokter Rahmi.
Pak Zulfikar kalang-kabut. Ia lari terbirit-birit ke kamar mandi. Aku sibuk merapikan busanaku. Lalu memakai jilbab dengan gugupnya. Setelah siap, aku segera membuka pintu kamar.
"Dai?"
Kak Listi langsung memeriksa tubuhku yang saat ini masih mematung dan terpaku. Ternyata di depan kamarku ramai. Ada kak Listi, dokter Rahmi dan ceu Jani.
"A-aku baik-baik, saja," jawabku.
"Setelah membaca pesan dari Neng Daini, Ceu Jani langsung membangunkan Kak Listi dan dokter Rahmi."
"Ya, Neng Daini. Kita khawatir Anda kenapa-napa," timpal dokter Rahmi.
Aku tersenyum sambil menatap wajah mereka satu persatu. Bahagia rasanya karena mereka memedulikanku.
"Tadi aku lapar, Ceu. Tiba-tiba mau steak daging sapi, tapi sekarang laparnya sudah hilang."
"Oooh," sahut dokter Rahmi dan kak Listi.
"Maaf jadi ganggu semuanya, terutama mengganggu Ceu Jani."
"Tidak apa-apa, Neng. Nya (ya) syukur atuh kalau Neng Daini tidak apa-apa mah. Ceu Jani bangun karena alarm nyala, Neng. Kan mau masak-masak untuk persiapan ke Jakarta," jelas ceu Jani.
"Ya sudah, kalau Anda baik-baik saja, kita pergi ya, Neng," ucap dokter Rahmi. Matanya bergulir memperhatikan kamarku. Mungkin mencari keberadaan pak Zulfikar.
Merekapun akhirnya pergi. Aku menutup pintu sambil mnghela napas lega.
"Pak, emm ... Mas, mereka sudah pergi," panggilku sambil mengetuk pintu kamar mandi. Lalu pak Zulfikar keluar sambil terkekeh.
"Ayo lanjutkan lagi sayang," ajaknya.
"Tidak mau," tolakku.
"Yakin kamu tidak mau?"
"Yakin," tegasku.
"Aku tak percaya kamu tidak mau," katanya sambil melepaskan jilbabku. Aku memukul pelan bahunya seraya tersenyum dan tersipu.
...🍒🍒🍒...
"Ini rumah orang tuanya, Mas?"
Abah tercengang, begitupun dengan ummi. Ummi memegang tanganku sambil membelalakan mata. Aku, ummi dan abah, berada di dalam satu mobil. Pak Zulfikar yang mengemudi.
Sementara kak Listi, dokter Rahmi, dan kak Gendis, berada di mobil milik pak Ihsan. Tapi kak Listi tak turut serta sebab sudah dijemput oleh kak Akmal saat kami tiba di terminal Kalideres.
"Ya, ini rumah mama dan papaku," kata pak Zulfikar.
Mobil yang kami tumpangi belum masuk ke pekarangan rumah karena sedang menunggu dibukakan pintu gerbang. Kak Gendis tampak sudah turun terlebih dahulu. Ia tengah mengobrol dengan petugas keamanan yang menjaga rumahnya.
Saking ketat pengamanan di rumah ini, kak Gendis saja yang notabene adalah putri kandung pak Aksa dan penghuni tetap rumah ini, tetap diperiksa dan ditanya-tanya.
Aku tentu saja tak mendengar pembicaraan antara kak Gendis dan petugas kemanan, hanya bisa menatap mereka dengan perasaan tak karuan. Nyaliku untuk tinggal di rumah megah ini tiba-tiba menciut.
__ADS_1
Lalu gerbang terbuka, kak Gendis memberi isyarat pada pak Zulfikar agar mobilnya segera masuk. Aku dan ummi yang duduk di kursi tengah berpegangan tangan. Abah yang duduk di samping kemudi terlihat tenang-tenang saja.
"Ummi, aku takut," bisikku pada ummi. Tanganku mendadak dingin.
"MasyaaAllah, seperti istana, Neng. Rumah seperti ini membayangkannya saja Ummi belum pernah." Ummi juga berbisik di telingaku.
"Ummi."
Aku memeluk ummi saat mobil yang kami tumpangi berhenti di area garasi yang ukuranya bahkan lebih luas dari rumahku.
Aku melamun sejenak sebab teringat lagi saat itu. Yaitu saat aku menangis di taman rumah ini dan kabur meninggalkan pak Zulfikar karena kehilangan nyali dan tak berani bertemu bu Yuze.
"Abah, ayo turun," ajak pak Zulfikar
Ia membuka pintu mobil di sisi abah. Abah turun sambil merapikan peci hitamnya. Aku yakin abah juga mungkin merasa gugup. Tapi ia pandai menyembunyikan perasaannya.
"Sayang, yuk!"
Pak Zulfikar juga membukakan pintu mobil yang searah dengan posisi dudukku. Tangannya mengulur untuk membantuku turun dari mobil. Ia juga menghalangi kepalaku dengan telapak tangannya agar tidak terbentur ke badan mobil.
"Mohon maaf, ini tamu dari mana ya, Pak?" tanya petugas keamanan pada pak Zulfikar.
"Mereka mer ---."
"Kami kolega bisnisnya Pak Zulfikar," sela abah.
Aku, ummi, bahkan pak Zulfikarpun terkejut setelah mendengar ucapan abah. Kak Gendis dan dokter Rahmi yang sedang mengeluarkan koper saling berpandangan.
"A-Abah," pak Zulfikar menatap abah. Seolah menyayangkan ucapan abah.
"Kalau kita langsung terus-terang, mereka akan kaget, Mas," kata abah sambil tersenyum. Abah berbicara saat para petugas keamanan itu menjauh.
Lalu salah satu dari mereka datang lagi.
"Apa Pak Zulfikar dan para kolega sudah ada janji temu dengan pak Aksa?" tanyanya sambil melirik ke arahku. Aku segera menunduk. Aku takut bertemu dengan petugas keamanan yang malam itu sempat menggodaku.
"Sudah." Kak Gendis yang menjawab.
"Ayo masuk saja," tambah kak Gendis.
"Maaf Kak Gendis, peraturannya, sebelum pak Aksa datang, seluruh tamu harus menunggu di gazebo yang ada di taman. Tidak boleh ada yang masuk ke rumah kecuali Kak Gendis dan Pak Zulfikar," terang petugas tersebut.
Mendengar keterangan itu, abah mendekat ke arahku, lalu memegang tanganku dan tangan ummi.
"Baik, kami akan menunggu," kata abah.
Pak Zulfikar menghela napasnya, aku tahu jika saat ini dia berada di posisi yang membingungkan. Kak Gendis cemberut sambil mengepalkan tangannya. Dokter Rahmi hanya menyimak tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Abah, apa oleh-olehnya mau diturunkan sekarang?" tanya pak Ihsan yang baru saja turun dari mobilnya.
"Oleh-oleh? Oleh-oleh apa?! Maaf, pak Aksa tak menerima gratifikasi! Semua oleh-oleh dalam bentuk apapun tak akan diterima," tegas salah satu petugas keamanan.
"A-apa?" Pak Ihsan yang belum tahu apa-apa hanya bisa melongo.
Aku memegang dadaku. Semua yang terjadi saat ini membuat hatiku sakit dan sedih. Airmataku menetes. Aku segera menghapusnya. Semoga tak ada yang menyadari kalau aku menangis.
"Pak Ihsan, Abah mengatakan pada mereka kalau kita koleganya pak Aksa," jelas abah dengan suara pelan.
"Ya ampun Abah." Pak Ihsan garuk-garuk kepala.
"Mereka tamu spesialku! Aku maunya mereka menunggu di ruang tamu! Apa perlu aku menelepon papaku dulu agar kalian percaya, hahh?! Dan asal kalian tahu ya, yang mereka bawa bukan gratifikasi!" teriak pak Zulfikar.
Kami semua terkejut, aku tak menyangka ia akan mengatakan kalimat itu. Abah mengusap lembut punggung pak Zulfikar.
"Sabar Mas, kita ikuti saja peraturannya. Abah tak apa-apa, kok," kata abah.
"Tapi Abah ---."
"Di mana gazebo tunggunya?" tanya abah, menyela ucapan pak Zulfikar.
"Di sana, mari saya antar," jawab petugas keamanan.
"Cepat keluarkan barang-barang yang katanya oleh-oleh! Cek satu-persatu!" titah petugas yang lain.
"Astagfirullahaladzim," lirih pak Zulfikar. Ia nyaris marah lagi. Beruntung kak Gendis memeluknya dan berkata ....
"Tahan dulu emosi kamu, Zul."
"Apa ini?! Bau sekali!" teriak petugas yang memeriksa oleh-oleh.
Ia melempar kasar plastik yang kuingat berisi pepes ikan mas buatan ceu Jani dan ummi. Pepes ikan yang padahal dibuat dengan penuh cinta, namun malah dilemparkan begitu saja.
Langkah abah terhenti, abah menoleh ke belakang. Tangan abah yang memegang tanganku gemetar saat melihat plastik berisi pepes ikan itu sudah tergeletak di tanah.
"Kurang ajar kamu!" teriak pak Zulfikar.
Ia mengambil plastik yang tergeletak lalu menendang petugas yang melemparkan plastik tersebut hingga tersungkur.
"Mas!" teriakku, bersamaan dengan teriakan ummi dan abah.
"Zul, jangan!" Kak Gendis melerai. Dokter Rahmi menutup mata. Pak Ihsan menatap bingung.
Petugas keamanan yang tersungkur segera ditolong oleh teman-temannya.
"Pak Zulfikar, Anda kenapa?" Ya, mereka pasti keheranan dengan sikap pak Zulfikar.
"Mereka sebenarnya bukan kolega bisnisku!" sentaknya.
"Mas!" Abah masih berusaha mencegah pak Zukfikar.
"Mereka mertuaku! Dan wanita cantik itu, itu istri mudaku! Aku poligami! Puas kalian?!" teriaknya sambil menunjuk ke arahku. Benar-benar tak bisa dicegah lagi.
"A-apa?!" Mereka tekejut. Saling menatap satu sama lain, lalu mundur beberapa langkah.
"Silahkan kalian menghujatku! Silahkan bergosip tentangku! Silahkan! Aku tak peduli!" teriaknya lagi sambil membetulkan dasi dan mengatur napasnya. Emosinya masih meluap-luap.
"Abah, Ummi, sayang, ayo masuk," ajaknya. Pak Zulfikar menarik tanganku dari genggaman abah. Aku menepisnya pelan.
"Sayang, kenapa?"
"Aku ingin tetap bersama Abah dan Ummi, Mas. Aku akan masuk kalau Abah dan Ummi juga masuk," kataku sambil menatap pada ummi dan abah.
"Mas, terima kasih sebelumnya. Tapi, Abah ingin tetap mengikuti peraturan di rumah ini. Abah, Ummi, dan pak Ihsan akan menunggu di gazebo saja. Kalau Daini memang ingin bersama Abah dan Ummi dulu, tolong izinkan ya," kata abah seraya menangkup tangan pak Zulfikar.
"Baik, aku sepakat. Aku juga akan menunggu di gazebo," katanya.
Lalu ia merebut tanganku dari tangan abah. Abah mengalah, melepaskan tanganku. Pak Zufikar menuntutku menuju gazebo.
"Abah, Ummi, Hanin, dokter Rahmi dan Pak Ihsan, aku meminta maaf. Mohon maaf atas semua ketidaknyamanan di rumah ini," ucap pak Zulfikar saat kita semua sudah berada di gazebo.
"Tidak apa, Mas. Tenang saja," sahut abah sambil menepuk bahu pak Zulfikar.
"Pak Zulfikar, pak Aksa dan bu Yuze sudah datang," jelas seorang petugas keamanan yang berlari ke gazebo dan menyampaikan kabar tersebut.
__ADS_1
...~Tbc~...