Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Kalah Langkah


__ADS_3

"Pak Zulfikar," sapa pak Ikhwan. Menyalamiku, disusul oleh seorang dokter yang usianya kemungkinan sebaya denganku.


"Saya dokter Rahmi," ucapnya.


"Aku Zulfikar."


"Dia masih sepupuku, Pak," tambah pak Ikhwan.


"Oke, tak masalah. Asalkan bisa bekerja secara profesional," ucapku sambil berjalan menuju mushola rumah sakit.


Rencananya kami akan melaksanakan shalat Maghrib dulu. Selepas itu, barulah membicarakan surat perjanjian pranikah dan kembali menemui Hanin.


Setelah shalat Magrib, aku mengantarkan dokter Rahmi untuk menemui Hanin. Sementara pak Ikhwan menungguku di kafe yang terletak di depan rumah sakit.


"Tolong kerjasamanya, Anda cukup jadi dokter untuknya. Jangan bertanya apapun kecuali yang berhubungan dengan kondisi medis," tegasku saat kami melewati selasar rumah sakit. Aku harus memastikan jika dokter ini benar-benar ada di pihakku.


"Bapak tenang saja," jawabnya singkat.


"Apa pak Ikhwan sudah cerita?" tanyaku.


"Sudah Pak. Pak Ikhwan sudah menceritakan semuanya. Bapak tidak perlu khawatir. "


"Syukurlah kalau Anda faham. Kalau merasa keberatan menjaga rahasia ini, aku sarankan dari sekarang lebih baik mundur saja. Aku bisa mencari dokter lain."


"Saya janji, Pak. Selama tugasku tidak melanggar kode etik profesi kedokteran, aku yakin bisa menanganinya."


Tak terasa, kamar Hanin sudah berada di hadapan.


"Baik, ini kamarnya. Awalnya dirawat di kamar eksekutif, tapi dia menolak dan ingin pindah ke kamar ini." Sambil mengetuk pintu.


Lalu Listi membuka pintu. Pandanganku langsung tertuju pada Hanin. Dia sedang tidur.


"Sssttt." Listi memberi isyarat agar tidak berisik.


"Habis shalat Maghrib, dia bilang ngantuk berat, tidur 'deh," terang Listi dengan suara pelan.


"Cantik banget," puji dokter Rahmi yang saat ini tengah melongo menatap Hanin.


"Siapa dulu dong kakaknya," sela Listi sambil nyengir. Aku mendekati Hanin untuk mencium keningnya.


"Anda kakaknya?" tanya dokter Rahmi pada Listi.


"Ya, Dok. Kenalkan, namaku Listi. Kakaknya Daini." Listi berbohong.


"Ehm, kok beda ya? Dari penampilannya saja beda sekali. Adiknya terlihat seperti ahli surga, sementara kakaknya terlihat seperti ahli ---."


Tak melanjutkan kalimatnya karena Listi sudah keburu membekap mulut dokter Rahmi. Aku tersenyum. Mereka baru bertemu tapi cepat akrab.


"Hei, jangan kurang ajar ya, Dok! Aku juga calon ahli surga!" sentak Listi, tapi tetap dengan suara pelan.


"Hahaha, Anda jangan tersinggung dulu dong. Saya mau bilang kakaknya terlihat seperti ahli di bidang kecantikan," sela dokter Rahmi.


"Oh, begitu? Hihihi, maaf ya, Dok. Kirain."


Listi tertawa lumayan kencang. Jadilah Hanin terbangun. Saat dia membuka mata, aku mengecup keningnya.


"Pak Zulfikar?" Hanin bangun dan meraih tanganku.


"Maaf Dai, berisik ya?" ucap Listi.


"Tidak apa-apa, Kak."


"Sayang, ini dokter Rahmi, mulai hari ini, dia akan menjadi dokter pribadimu." Aku memperkenalkan dokter Rahmi pada Hanin.


"A-apa? Dokter pribadi?"


Dia terkejut. Apa lagi saat dokter Rahmi menyodorkan tangan untuk bersalaman. Hanin terlihat gugup.


"Saya dokter Rahmi Indadari, panggil saja dokter Rahmi."


"Em, a-aku Daini," ucapnya malu-malu. Lalu mencium tangan dokter Rahmi. Dokter Rahmi kaget. Langsung menarik tangannya.


"Bu, jangan cium tangan saya," kata dokter Rahmi. Hanin melirikku. Aku menatapnya seraya tersenyum.


"Sayang, dia dokter pribadi kamu. Mungkin dokter Rahmi malu kalau kamu mencium tangannya."


"Ta-tapi, cium tangan pada orang yang lebih tua tak masalah 'kan?" sanggahnya.


"Ya, Bu. Memang tak masalah. Tapi sayanya tak nyaman," jelas dokter Rahmi.


"Ya sudah, begini saja, kalau memang istriku mau cium tangan, tolong jangan dipermasalahkan ya," belaku.


"Baik, Pak."


Terlihat raut sungkan di wajah dokter Rahmi. Dia sepertinya mengagumi sosok Hanin. Istriku ini memang luar biasa. Wanita saja mengaguminya, apa lagi aku.


"Nama panjangnya Daini Hanindiya Putri Sadikin Antasena," jelasku. Hanin melirik, mungkin tak setuju karena aku menambahkan embel-embel Antasena di belakang namanya.


"Cantik sekali." Lagi dokter Rahmi memuji Hanin.


"Jangan panggil ibu, panggil Daini saja," tolak Hanin.


"Ya sudah, karena kalian telah berkenalan, aku pergi dulu ya sayang."


"Mau ke mana lagi, Pak? Pulang?" Tatapan Hanin seolah tak ingin kutinggalkan.


"Tidak sayang, aku tidak pulang. Mau membahas sesuatu dengan pak Ikhwan, tidak jauh 'kok, di kafe depan rumah sakit ini. Setelahnya, aku dan pak Ikhwan akan kembali lagi ke sini."


"Oh," jawab Hanin singkat.


"Apa kamu tak mau aku pergi?" godaku.


"Ti-tidak 'tuh, Anda boleh pergi kemanapun ada mau," tegasnya.


"Hahaha."


Aku tertawa. Listi dan dokter Rahmi tersenyum. Hanin tersipu. Wajahnya merona dan kian cantik saja. Oh ya ampun, andai saja dokter kandungan tak melarangku.


"Baiklah, aku pamit ya sayangku." Aku memeluknya, dia menepis. Mungkin malu karena ada Listi dan dokter Rahmi.


"Cepat, Pak Direktur. Kalau pelukan terus, urusannya tak akan selesai-selesai," komentar Listi.


Setelah mencium perutnya, akupun pergi. Di ambang pintu, aku membalikan badan demi menatap kembali wajah cantiknya yang meneduhkan.


Sekarang, tak terbesit lagi penyesalan, "Kenapa aku dan Hanin bertemu di saat yang tidak tepat? Kenapa aku terlambat mengenalnya?"


Penyesalan itu telah tergantikan oleh rasa bahagia. Sebab, wasilah kejadian itu justru membuatku bisa menemukannya. Menemukan mutiara tersembunyi yang kemilau, terjaga dengan baik, indah rupanya, pun tabiatnya.


...🍒🍒🍒...


"Apa?! Anda yakin bu Dewi menggigit dirinya sendiri untuk memfitnah bu Daini?! Apa ada bukti kalau bu Dewi menggigit bu Daini?!"


Pak Ikhwan teperangah setelah mendengar penjelasanku. Matanya sampai melotot saking kagetnya.

__ADS_1


"Pak Ikhwan, Hanin tak mengatakan kalau Dewi menggigitnya, dia hanya mengatakan jatuh di kamar mandi dan pingsan. Bekas gigitan di tubuh Hanin baru aku ketahui dari sahabatnya."


"Hanin bahkan menyuruh Listi merahasiakannya. Pada Listi, Hanin tak menjelaskan kenapa luka itu ada. Awalnya, Listi justru mengira kalau akulah yang telah melakukan kekerasan pada Hanin," jelasku panjang lebar.


"Hmm, jika bu Daini menutupinya, kasus ini sulit dipidanakan, Pak. Apa lagi kalau dihubungkan dengan kecurigaan Anda terhadap psikologisnya bu Dewi. Jika terbukti secara medis bu Dewi mengalami gangguan psikologis, maka seluruh tindakan pidana maupun perdata yang disanggahkan kepadanya tidak bisa diproses hukum."


Aku menghela napas panjang, jadi teringat kembali kebiasaan-kebiasaan Dewi yang dulu kuanggap sebagai hal yang lumrah. Setelah memiliki Hanin, sedikit demi sedikit, aku jadi tahu perbedaannya.


"Sebenarnya, aku ingin menggugat surat perjanjian pranikah."


"Pak, tolong dipikirkan lagi. Maksud saya, poin yang akan Anda gugat harus jelas alasannya. Keluarga bu Dewi bukan sembarang orang, jangan gegabah, Pak."


"Pak Ikhwan, jika mau membahas prihal kekuasaan, keluargaku juga berkuasa." Aku jadi sedikit kesal.


"Saya faham, tapi tolong Pak Zulfikar telaah dulu posisi Anda saat ini. Ya, keluarga Bapak memang berkuasa. Tapi, apa mereka ada di pihak Bapak? Ingat, mama Anda sangat marah dengan keputusan Anda, dan setahu saya, kemarin bu Yuze mengatakan pada sekretarisnya kalau beliau akan menyusul papa Anda ke luar kota. Kemungkinan untuk membahas permasalahan Anda."


"Apa? Memangnya papaku belum pulang?"


"Belum, Pak. Mungkin ada agenda tambahan. Apa Anda sudah lama tidak berkomunikasi dengan pak Aksa?" Pak Ikhwan menatap keheranan.


"Akhir-akhir ini, aku sibuk. Selain sibuk dengan pekerjaan kantor, aku juga sibuk dengan urusan Hanin dan Dewi. Aku tak suka dengan poligami. Poligami merepotkan," keluhku.


"Hahaha." Pak Ikhwan malah geleng-geleng kepala sambil tertawa.


"Yakin Anda tak suka poligami?"


"Yakin," tegasku.


"Tapi tak mau melepas salah satu dari mereka?" lanjutnya.


"Pak Ikhwan, untuk saat ini, aku terpaksa berbagi ranjang karena kondisinya mengharuskanku seperti itu. Aku tak mungkin menceraikan Hanin karena aku mencintainya. Selain itu, Hanin juga sedang mengandung anakku."


"Aku juga tak bisa menceraikan Dewi karena berbagai alasan dan batu sandungan. Pertama, aku terikat perjanjian pranikah. Kedua, Hanin tidak ingin aku menceraikan Dewi. Sampai saat ini Hanin selalu merasa bersalah karena telah merebut kebahagiaan Dewi."


"Ketiga, yang tadi sudah kujelaskan, Pak. Dewi mengancamku. Dia mengatakan aku tidak akan melihatnya lagi di dunia ini kalau aku menceraikannya."


"Huhh." Pak Ikhwan menghembuskan napasnya.


"Begini saja, untuk sementara, kita tunggu dulu hasil penyelidikannya. Semoga orang yang Anda perintah dapat dipercaya. Selagi menunggunya, Anda juga jangan tinggal diam."


"Kalau perlu, Anda harus merekam ucapan atau prilaku bu Dewi secara diam-diam. Rekaman-rekaman itu, kedepannya bisa dijadikan data forensik untuk menganalisa kesehatan psikis bu Dewi."


Aku mengangguk setuju.


"Kalau sampai data rekam medisnya tak ditemukan, dan bu Dewi memang benar tak memiliki kelainan, Anda yang akan dituntut, Pak."


'Brak.' Aku spontan menggebrak meja. Pak Ikhwan terkejut.


"Aku yakin keluarga Dewi sengaja menipuku, Pak! Perjanjian sepuluh tahun pernikahan dan ancaman akan memidanakanku kalau sampai ada wanita lain di sisiku, semuanya itu ide mereka! Aku ingat, dulu papaku sempat mempertanyakan dan tak menyetujui poin ini! Arrghh!" teriakku. Untungnya kafe ini sedang sepi.


"Sabar, Pak. Sabar." Pak Ikhwan memegang bahuku.


"Saat aku diberikan kebebasan untuk memilih wanita yang kuinginkan, Angel malah menipuku hingga keluargaku rugi dan kecewa. Di saat aku patuh terhadap pilihan mama papa, pilihan merekapun ternyata mengecewakanku."


Aku mengepalkan tangan kuat-kuat sambil menundukkan kepalaku pada sisi meja.


"Pak, ini ujian. Berbaik sangkalah jika Yang Maha Kuasa sedang memberi cobaan untuk menaikkan derajat Anda. Sekarang Anda sudah memiliki bu Daini. Setidaknya, keberadaan bu Daini bisa membuat hari-hari Anda berbunga-bunga, ya' kan?"


"Bukan berbunga-bunga lagi. Tapi lebih dari itu. Saat bersama Hanin, aku merasa dunia ini mendukungku. Aku jadi bersemangat. Oiya, dia mengandung anak kembar, Hanin hebat 'kan, Pak?"


"Kembar? Alhamdulillah," saya turut bahagia," seru Pak Ikhwan.


"Selain merekam, yang harus kulakukan apa lagi, Pak?"


"Hemat saya, sebelum bu Dewi berubah pikiran dan keberadaan bu Daini diketahui publik, alangkah baiknya kalau Bapak menyembunyikan bu Daini. Bu Daini sedang mengandung Pak, kita harus menjaga kondisi psikis dan psikologisnya," sarannya.


"Setuju, aku memang sudah ada niatan untuk menyembunyikan Hanin. Terus bagaimana dengan ancaman Dewi, Pak? Dua hari yang lalu dia memintaku menceraikan Hanin dalam waktu 3x24. Besok adalah hari terakhir," keluhku.


"Apa saat bertemu dengan Anda, bu Dewi membahas masalah itu lagi?"


"Tidak Pak. Entah dia lupa, pura-pura lupa atau apalah alasannya, yang jelas dia tidak menyinggung hal itu lagi. Aku bingung pak Ikhwan, Dewi sering berubah pikiran."


Pak Ikhwan mengernyitkan alisnya, dan seperti mengingat sesuatu.


"Bukankah Anda pernah bilang kalau bu Dewi sempat mengancam akan mempermalukan bu Daini di hadapan teman-teman kantornya?"


"Ya, Pak. Dia sempat mengatakan itu."


"Tapi bu Dewi tidak melakukannya, kan?"


"Ya, Pak. Hanin 'kan tiga hari tidak masuk kerja karena sakit. Lalu saat masuk kerja lagi, dia malah pingsan di kamar mandi."


"Hmm, untuk antisipasi, bagaimana kalau Anda pura-pura sudah menceraikan bu Daini? Itu hanya saran ya, Pak. Terserah Anda mau setuju atau tidak," katanya.


"Tidak Pak! Aku tidak bisa! Walau hanya pura-pura, aku tetap tidak bisa! Aku takut Dewi meminta bukti peceraian dan memintaku bersumpah atas nama Tuhan. Bayangkan, Pak. Dewi memintaku untuk tidak meniduri Hanin dan bersumpah atas nama Tuhan."


"Pak Ikhwan, tolong aku, Pak. Aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengan Dewi. Aku sangat tertekan. Tapi aku bingung harus melakukan apa. Aku juga takut pada papaku. Bagaimana kalau papaku juga ada di pihak Dewi? Bagaimana ini, Pak?"


Tanpa ragu ataupun malu, aku memegang tangan pak Ikhwan. Mataku berkaca-kaca. Tanpa ragu juga, pak Ikhwan mengusap bahuku.


"Pak Zulfikar, sabar. Saya dan Anda 'kan sedang berusaha. Kita hanya perlu menunggu hasilnya."


"Pak, apa aku lepaskan saja semuanya? Aku tak peduli lagi dengan kedudukanku. Selama ini, terus terang, aku hanya pura-pura tegar." Aku memijat keningku.


"Pak Zulfikar, melepaskan semuanya bukan berarti akan menyelesaikan masalah. Saya yakin bu Dainipun tak mau Anda melakukan hal itu."


"Ya, Pak. Hanin dan aku pernah membahasnya. Dia menguatkanku untuk menghadapi masalah ini bersama-sama. Aku pernah mengajaknya kabur ke luar negeri. Tapi dia menolak."


"Begini saja, besok, bagaimana kalau kita agendakan pertemuan dengan pak Aksa? Saya akan jadi penengah untuk Anda. Libatkan pak Sabil juga. Seperti halnya bu Yuze, pak Aksa juga harus melihat rekaman CCTV-nya, Pak."


"Aku setuju. Tapi Pak Ikhwan, saat ini prioritasku adalah mempertahankan Hanin dan membawa Hanin menjadi bagian dari keluarga Antasena. Aku tak peduli lagi dengan CCTV itu. Akupun juga tak peduli pada orang yang mencekok Hanin. Aku hanya ingin mama dan papaku menerima Hanin."


"Ya, Pak. Kita jelaskan juga kalau bu Daini telah mengandung. Pak Aksa dan bu Yuze itu kaum intelektual, harusnya mereka bisa menerima bu Daini."


"Papa dan mamaku memang berpendidikan, Pak. Tapi mereka tak mungkin segampang itu menerima keputusan poligamiku. Mereka pasti menuduhku sebagai suami durhaka yang tega menghianati istrinya."


"Pak Zulfikar, hati itu tidak bisa dipaksakan dan juga tak bisa diingkari. Jika faktanya Anda memang belum mencintai bu Dewi dan tiba-tiba jatuh cinta pada bu Daini, apa itu salah Anda?"


"Benar kata Dewi, kalau saja wanita yang salah kamar itu bukan Hanin, aku mungkin tidak akan terkatung-katung dalam kecemasan dan kebingungan ini, Pak. Jujur, Hanin memang telah mengambil hatiku."


"Pak Zulfikar, jika boleh jujur, saya juga sebenarnya kagum dan tertarik sama bu Daini, hehehe, ungkapnya.


"Apa?!" Jelaslah aku kaget dan marah pastinya.


"Hahaha." Pak Ikhwan kembali tertawa.


"Jangan kurang ajar ya, Pak!" sentakku.


"Saya hanya ingin mencairkan suasana, jangan dianggap serius, Pak. Pada dasarnya seluruh pria memang menyukai wanita cantik, kan?" sangkalnya. Aku cemberut, kesal. Lalu meminum coffee latte pesananku."


"Setelah mengetahui papa Aksa ada di pihak siapa, kita harus membicarakan masalah ini dengan orang tuanya bu Dewi. Jangan lupa berdoa semoga diberikan jalan keluar yang terbaik," sarannya.


"Aamiin," sahutku.

__ADS_1


Setelah membaca kembali salinan surat perjanjian pranikah, aku dan pak Ikhwan beranjak dari kafe menuju rumah sakit. Pak Ikhwan berdalih ingin menjenguk Hanin.


...🍒🍒🍒...


Saat aku tiba di kamar perawatan, Hanin sedang dipakaikan henna oleh dokter Rahmi, Listi memegang tangan Hanin.


"Pak, aku dipaksa memakai henna. Padahal aku sudah menolak," kata Hanin.


"Maaf Pak, saya yang salah. Hehehe, saya memang sengaja membawa henna. Saat melihat tangan cantiknya, jadi tak sabar mau berkreasi," jelas dokter Rahmi.


"Ini hennanya halal, kan?" tanyaku.


"Halal dong, Pak," sahut Listi.


"Emm, tidak apa-apa sayang. Lanjutkan saja. Oiya, di luar ada pak Ikhwan, apa boleh kalau aku membawanya masuk?"


Aku meminta izin dulu pada Hanin sebab kata Listi, Hanin sering menghindar bertemu lawan jenis kecuali untuk urusan pekerjaan dan itupun selalu didampingi oleh Listi.


"Pak Ikhwan pengacara?"


"Iya sayang, dia mau jenguk kamu, boleh?"


"Emm, karena ada Bapak, sepertinya tak masalah. Menjenguk yang sedang sakit 'kan sunah, dapat menguatkan ukhuwah, persaudaraan, serta solidaritas sesama muslim. Bahkan ada yang mengatakan kalau menjenguk orang sakit itu fardhu 'ain jika yang sakit adalah seorang kerabat atau keluarga dekat. Alasannya karena menjenguk termasuk bagian dari silaturahmi, sedangkan silaturahmi itu hukumnya wajib," jelasnya.


Aku, dokter Rahmi, dan Listi menyimak penuturan Hanin.


"Neng Daini pandai sekali," kata dokter Rahmi.


"Jadi panggil neng?" Panggilan itu di telingaku terdengar sedikit aneh.


"Ya, Pak. Soalnya bu Daini tidak mau dipanggil ibu. Ya sudah, saya ikut-ikutan dengan Listi memanggilnya neng."


"Selama istriku tak masalah, kamu lakukan saja," terangku sambil membuka pintu kamar. Pak Ikhwan masuk. Ia langsung menebar senyum pada Hanin.


"Jangan lama-lama memandangi istriku!" Aku spontan meninju perut pak Ikhwan.


"Aduh, Pak. Maaf. Hahaha." Langsung duduk sambil tertawa.


Sekedar informasi. Pak Ikhwan adalah duda beranak dua, istrinya meninggal karena kanker payudara. Usia pak Ikhwan selisih lima tahun denganku. Pak Ikhwan 35 tahun, aku 30 tahun. Jadi wajar 'kan kalau aku cemburu dan sedikit risih?


"Terima kasih karena sudah berkenan menjengukku, Pak. Aku doakan semoga pak Ikhwan sehat selalu," kata Hanin.


Lalu kamipun berbincang-bincang. Namun di tengah perbincangan itu, saat membuka ponselnya, pak Ikhwan tiba-tiba terlihat kaget. Ia mendekat ke sisiku dan menyodorkan ponselnya.


"Seorang putra pengusaha terkenal sekaligus kerabat petinggi negara yang masuk ke dalam jajaran crazy rich Indonesia dikabarkan telah melakukan hubungan terlarang atau perselingkuhan dengan bawahannya. Akibat kabar itu, sang istri yang juga merupakan putri tunggal crazy rich dikabarkan mengalami trauma berat hingga terganggu secara psikologisnya."


Deg, artikel online itu membuat jantungku berdentum. Aku dan pak Ikhwan saling menatap. Tubuhku berdesir, aku tertunduk. Semoga Hanin tak menyadari kegundahanku.


"Saya dan Pak Zulfikar harus keluar dulu. Sebentar 'kok," kata pak Ikhwan. Hanin menatapku sambil mengangguk pelan.


"Pak Zulfikar, saya yakin ini alibi," duga pak Ikhwan saat kami sudah berada di depan kamar.


"Maksud Bapak?"


"Saya belum yakin 'sih. Tapi pihak bu Dewi seperti telah mencium gelagat Anda, Pak. Walaupun bu Dewi mengatakan belum menceritakan kasus Anda ke keluarganya, tapi berita tadi seolah sengaja dibuat untuk membangun opini publik jika sakitnya bu Dewi disebabkan oleh Anda."


Dalam hati aku beristighfar. Dewi ternyata mempunyai cara jitu untuk menyangkal kecurigaanku. Dia telah melangkah jauh di depanku. Pak Ikhwan terlihat gelisah.


"Saya tak yakin kalau bu Dewi belum menceritakan masalah ini pada orang tuanya," duga pak Ikhwan.


"Aku juga berpikir seperti itu, Bagaimana ini, Pak?"


"Cepat bawa bu Daini dari sini, Pak. Sebelum bu Daini tahu berita itu, Anda harus membawanya ke tempat yang aman dan membuatnya tenang. Kira-kira ke mana, ya?"


"Apa ke Bandung?" Aku ada ide.


"Untuk sementara, sebelum wartawan tahu identitas bu Daini, ke Bandung juga boleh. Anda harus tenang ya, Pak. Bertindaklah seolah yang diberitakan itu bukan Anda."


"Baik," jawabku pelan.


Kemudian kami kembali ke kamar perawatan. Lalu dokter Rahmi dan pak Ikhwan izin pulang. Setelah itu, Listipun izin pulang. Sekarang, di kamar ini, hanya ada aku dan Hanin.


Tanpa mengatakan apapun. Aku segera memeluknya. Hanin terdiam, dia tak mengatakan apapun. Namun ia membalas dekapanku.


"Sayang, besok, setelah shalat Subuh, aku akan mengantarmu ke Bandung," kataku saat aku melepas dekapan dan membaringkan kembali tubuhnya.


"Ke Bandung?" Tatapannya ada dua persepsi. Antara senang dan kaget.


"Ya sayang, kamu sudah rindu 'kan sama ummi, abah?"


"Emm, ya Pak. Aku memang merindukan mereka. Tapi ...." Dia tampak ragu.


"Tapi apa?" tanyaku.


"Ti-tidak apa-apa kilahnya." Menunduk.


"Aku bantu cuci hennanya ya, boleh? Kamu belum shalat Isya, kan?" Kualihkan pembicaraan untuk menyembunyikan kegelisahanku.


"Ya, Pak. Aku tak betah tiduran terus," keluhnya.


"Sabar sayang. 'Kan demi anak kita." Sambil membersihkan henna di tangannya dengan tissue basah.


"Oiya, apa dokter Rahmi sudah melihat luka di dadamu?"


"Sudah, sudah diobati. Tapi aku dilarang pakai dalaman, jadi tak nyaman," keluhnya.


"Apa? Hahaha, ya ampun sayang, harusnya kamu tak perlu bilang. Aku 'kan jadi ma ---."


"Awwwh!" Hanin menyela kalimatku dengan cubitan di perutku.


"Tidak lucu, Pak," gumamnya.


"Maaf," kataku sambil memapahnya karena Hanin tiba-tiba turun dari tempat tidur.


"Sayang, kok kamu turun 'sih?"


"Sudah boleh 'kok, Pak. Tadi dokter bilang boleh karena flek darahnya sudah berhenti."


"Benarkah? Berarti sudah boleh ---."


"Awwwh!" Lagi, Hanin mencubit perutku.


"Belum boleh, Pak. Tetap harus menunggu satu bulan," katanya.


"Nanti kita cari cara lain ya sayang," godaku. Hanin tersenyum.


"Setuju? Mau?" tanyaku.


Aku butuh kejelasan. Hanin merenung sejenak. Hatiku berdebar, takut mendapat penolakan. Lalu Hanin mengangguk. Berarti dia setuju dengan ideku. Pipinya merona.


"Yes." Akupun riang-gembira.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2