Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Daddy and Mommy


__ADS_3

"Besar sekali kadonya?"


Hanin terkejut melihat kado super besar yang dibawa pak Sabil.


"Ini kecil 'kok. Tidak sebanding dengan apa yang selama ini telah diberikan oleh Pak Zulfikar untukku," jawab pak Sabil. Ia meletakan kado tersebut di tempat khusus yang didekorasi oleh kak Gendis.


"Benar Bu Daini. Ini mah teu saupami (ini 'sih tidak seberapa). Kalau tanpa bantuan Pak Zulfikar mah, aduh si Aa tos (sudah) dimutasi ke luar kota," sahut bu Komjen. Nama bundanya pak Sabil siapa ya? Aku lupa.


"Apa ini gratifikasi?" Hanin melirikku.


"InsyaaAllah bukan sayang. Pak Sabil tidak jadi dimutasi karena ada alasan dan pertimbangannya. Lagi pula, kado itu bukan untuk kamu, tapi untuk bayi kembar kita. Ya 'kan Pak Sabil?"


"Benar Bu Daini. Pak Zulfikar tidak menerima apapun dari keluargaku atas pembatalan mutasi itu. Bingung juga mau beri apa. Pak Zulfikar 'kan sudah punya semuanya. Hahaha."


"Emm ...." Hanin menautkan alisnya. Sepertinya, aku harus menjelaskan kronologi detailnya di lain waktu.


"Di mana bayinya? Sudah enggak sabar saya mau lihat bayinya. Wah, pasti cantik dan ganteng ya, secara orang tuanya juga tampan dan cantik," puji pak Komjen sambil tersenyum.


"Terima kasih," sahutku. Hanin menunduk. Ia memang kurang suka dipuji. Apa lagi kalau dipuji cantik, di pasti tidak senang. Sebab kata Hanin, cantik itu relatif, dan hanya persepsi yang berasal dari penilaian secara kasat mata.


"Masih ada di ruang perinatal, Pak Komjen. Sebentar lagi kayaknya mau dirawat gabung," jelasku.


"Yang lainnya lagi pada lihat bayinya," sahut Irma yang tentu saja sambil merekam. Kali ini, mata lensa fokus ke pak Sabil.


"Irma, kenapa kamu lama banget rekam Pak Sabilnya?"


"Hehehe, soalnya Pak Sabil ganteng, Mas." Disambut tawa olah pak Komjen dan istrinya.


"Hei, jangan macam-macam Irma, Pak Sabil sudah ada yang punya."


"Ya, Mas. Aku juga tahu. Kak Listi, 'kan yang Mas maksud?"


Irma tersenyum hambar. Pak Sabil cengir kuda. Berulang kali ia melirik ke pintu. Pasti ingin bertemu dengan Listi.


"Ayah, Bunda, aku mau susul Tia, ya. Sekalian mau lihat si kembar." Pak Sabil beranjak. Sudah kuduga, dia memang sudah cinta mati sama Listi.


"Ya sudah sana. Bunda dan Ayah mau nunggu orok (bayi) di sini saja," kata bu Komjen. Irma menyusul pak Sabil.


"BTW, terima kasih ya Bu Daini dan Pak Zulfikar atas bantuannya. Berkat Ibu dan Bapak, Listi mau nikah gantung sama si aa. 'Duh, kalau enggak segera dinikahin, rempan (khawatir) Bunda mah. Kalakuan (kelakuan) si aa ampuuun 'deh. Yang dibicarakan teh Listi, Listi dan Listi. Haruuuh," keluh bu Komjen. Pak Komjen hanya senyum-senyum.


"Hahaha."


Aku malah tertawa. Sebab, tiba-tiba jadi teringat rekaman CCTV di kantorku. Di pantriku, pak Sabil merayu Listi hingga mereka melakukan adegan mesum. Saat melihat rekamannya aku sampai batuk-batuk dan langsung minum. Ternyata, pak Sabil bisa seliar itu. Teringat juga dengan rekaman di kamar kantorku.


"Hahaha." Malam itu, hampir saja pak Sabil dan Listi kehilangan kesucian mereka.


"Pak, kenapa?"


Hanin mencubit tanganku. Pasti keheranan karena aku malah tertawa. Sungguh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya pak Sabil pada malam itu.


Setelah membopong Listi ke kamar tidur, pak Sabil sebenarnya sudah mau pergi, namun Listi yang tidak sadar karena tidur malah menarik pak Sabil dan memeluknya. Bukan hanya memeluk, tangan Listi juga menggerayang ke dalam kemeja pak Sabil.


Dari rekaman CCTV, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana pak Sabil berusaha keras menahan diri. Belum lagi rok Listi yang beberapa kali terangkat akibat tidurnya yang urakan. Sebenarnya, yang terus memeluk itu Listi, bukan pak Sabil.

__ADS_1


Pak Sabil tidak bisa begerak karena Listi menjadikan dada pak Sabil sebagai bantal. Kondisi pak Sabil membaik setelah ia menutup matanya dengan bantal hingga benar-benar tidur. Pada akhirnya, mereka berpelukan sepanjang malam.


"Hahaha. Maaf, aku teringat sesuatu, ingat sama reka ---." Untung saja langsung tersadar jika rekaman CCTV itu harus dirahasiakan. Kalau tidak, pak Sabil bisa menembakku.


"Maksudku, ingat sama rekan-rekan kantor yang memiliki bakat melawak," ralatku.


"Tertawa berlebihan itu tidak baik, Pak. Apa lagi kalau tertawanya tidak bagi-bagi. Sebab bisa jadi, tawa Anda justru membuat orang di sekitar Anda merasa tersinggung."


"Ya sayang, aku minta maaf. Pak Komjen, Bu Komjen, aku minta maaf."


"Tidak apa-apa, Pak. Itu namanya kapiasem (ingat dengan hal-hal lucu). Saya juga sering begitu," kata bu Komjen.


"Tadaaa," seruan Irma mengagetkan lagi. Anak itu memang berisik.


"Wah," aku tercengang.


Mereka sedang mengiring petugas yang mendorong troli bayi. Troli bayi itu berisi bayi girlku. Aku segera menyambutnya. Pak Komjen dan bu Komjenpun demikian.


"Mohon maaf, hanya yang sudah mencuci tangan dan memakai masker saja yang boleh mendekati bayinya," terang dokter. Pak Komjen segera mundur, ia lantas memanggil ajudannya untuk mengambil masker.


Suster meletakan bayiku di samping Hanin. Hanin menebar senyum. Ia pasti bangga karena telah berhasil melahirkan bayi yang cantik dan sehat. Lalu rombongan yang lain tiba. Ummi, abah, papa, mama, dan yang lainnya.


"Mohon maaf, keluarga yang sudah melihat bayinya, semoga berkenan untuk menunggu di ruangan lain." Dokter kembali memeringati. Ya, mereka memang heboh. Semuanya sangat antusias.


"Yah, padahal aku masih mau merekam bayinya," protes Listi.


"Kamu rekam Aa saja," goda pak Sabil.


"A Abil! Issh, malu tahu." Listi melengos dan tersipu. Ia segera keluar setelah bersalaman dengan camernya.


"OMG," gumam Irma.


"Selamat ya Pak Aksa, Bu Yuze, cucu Anda cantik sekali. Aduh ini bibirnya, mirip banget sama Bu Daini," puji bu Komjen. Ia sedang memangku bayiku.


"Terima kasih. Sekarang kita sudah jadi kakek-nenek ya Pa. Hihihi," mama terkekeh sambil menyikut papa yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangan dari putriku.


"Iya, alhamdulillah. Mohon doanya dari Pak Komjen dan Bu Komjen untuk cucu saya yang satunya lagi. Belum bisa dirawat gabung karena masih dipantau," jelas papa.


"InsyaaAllah akan segera pulih," harap pak Komjen.


"Terima kasih atas doa dari semuanya. Saya tidak bisa merangkai kata untuk mengungkap kebahagiaan ini," kata ummi yang saat ini sedang menyuapi Hanin.


Sementara abah, Putra, pak Reza dan yang lainnya terlihat tengah mengobrol di ruang tamu yang jaraknya cukup jauh dari ruangan ini. Pak Sabil dan Listi? Entahlah mereka ada di mana.


"Kalau bu Dewi, kapan taksiran lahirannya?" tanya bu Komjen. Oiya, wanita itu belum menjenguk Hanin. Padahal, aku sudah menyuruh bang Radit untuk mengabarinya.


"Emm, sekitar dua bulan lagi, Bu. Soalnya, minggu ini kita akan menggelar acara 7 bulanan untuk Dewi," jelas mama.


"Dalam setahun langsung punya cucu tiga ya?" timpal pak Komjen. Percakapan itu membuat kak Gendis berlalu. Ia pasti merasa sedih karena tidak bisa memberikan cucu untuk mama-papa.


"Dis, mau ke mana?" panggil mama.


Jadi teringat saran bijak Hanin yang ditukil dari nasihat salah satu Khulafaur Rasyidin.

__ADS_1


Kata Hanin, jangan mebicarakan hartamu di hadapan orang miskin, jangan membicarakan kesehatanmu di hadapan orang sakit, jangan membicarakan kekuatanmu di hadapan orang lemah, jangan membicarakan kebahagiaanmu di hadapan orang yang bersedih, jangan bicara kebebasanmu di hadapan orang yang terpenjara, jangan bicara tentang anak di hadapan orang yang tidak memiliki anak, dan jangan bicara tentang orang tuamu di hadapan anak yatim.


Jadi, memang tidak boleh membahas tentang anak di hadapan kak Gendis.


"Kak Gendis, tunggu." Aku mengejarnya.


Saat ini, semua orang memang sedang fokus pada Hanin dan bayiku. Suka cita mama-papa dan semua orang, sedikit banyaknya pasti akan mengingatkan kembali perjuangan kak Gendis saat ia berusaha untuk memiliki momongan hingga akhirnya memutuskan mengajukan gugatan cerai karena tidak tahan dengan mertuanya yang selalu menanyakan cucu pada kak Gendis.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kak," aku menariknya ke dalam dekapanku. Ia kutemukan sedang menangis sambil berjongkok di pojokan selasar rumah sakit.


"Huuu."


"Aku mengerti yang Kakak rasakan." Sambil mengelus rambutnya.


"Huks, Zul, maaf ya ... Kakak seperti ini bukan karena iri sama kamu. Kakak bahagia 'kok melihat kalian. Ta-tapi ---."


"Sstt, jangan dibahas lagi, Kak. Apa yang Kak Gendis lakukan sudah tepat. Jangan dipikirkan lagi ya. Kak Gendis berhak bahagia dengan pilihan hidup Kakak. Jangan mengingat lagi masa-masa itu."


Selama proses cerai itu, mama dan papa memang sangat tertekan. Media mengejar kak Gendis, hingga berimbas pada anjloknya saham milik keluarga besarku. Kak Gendis pernah disalahkan keluarga besar atas gugatan itu.


"Kakak hanya sedih dengan nasib Kakak, Zul. To-tolong jangan menyalahkan Kakak ya."


"Aku tidak pernah menyalahkan Kakak. Jika ada orang yang berani menyakiti Kakak, maka dia akan berhadapan denganku. Oiya, besok kita akan mengadakan preskon untuk mempublikasikan kelahiran putra-putriku. Jika acara itu akan membuat Kakak bersedih, aku akan membatalkannya."


"Jangan Zul. Jangan dibatalkan. Kamu justru harus mempublikasi anak-anak kamu agar posisi Hanin semakin diakui. Oiya, Kakak salut sama kamu, 'kok bisa posisi Komisaris jadi jatuh ke tangan paklik Aryo? Bukankah kandidatnya istri kamu?"


"Setelah wanita itu melahirkan, Kakak akan mengetahui semuanya."


"Selalu begitu. Dulu kamu bilang setelah pembacaan hasil autopsi ke dua. Mana buktinya? Pak Sabil juga tutup mulut terus. Padahal, Kakak sudah berusaha bertanya sama mereka. Heran, 'deh."


"Hahaha. Kalau aku memberitahu Kakak sekarang, aku khawatir Kakak enggak bisa jaga rahasia."


"Aneh kamu, 'tuh. Masa tidak percaya sama Kakak kandung sendiri? Oiya, kenapa kamu tidak pernah ke rumahnya Dewi?"


"Kakak tahu dari mana?"


"Rahasia, tidak penting juga. Anehnya, 'kok Dewi tidak marah 'sih? Biasanya dia marah-marah 'kan kalau kamu sama Daini terus?"


"Dia tidak akan marah lagi, Kak. Aku dan dia sudah menyepakati sebuah perjanjian. Intinya, dia tidak akan berani macam-macam lagi."


"Ya sudah, kamu kumpul lagi sama yang lain. Aku mau ke firma."


"Ke firma? Untuk apa, Kak?"


"Ada perlu sedikit sama pak Ikhwan, sekalian konsultasi masalah hukum."


"Pak Ikhwan juga pulang kerja mau ke sini, Kak. Untuk apa ke sana? Tunggu di sini saja."


"Enggak bisa dibicarakan di sini, Zul. Harus di kantor. Aku juga mau sekalian beli hadiah untuk Daini dan ponakan-ponakanku." Setelah kak Gendis pergi, aku kembali ke ruangan.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2