Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Akur? [Visual]


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Jujur, kalau saja tidak berpatokan pada kata bersyukur, aku pasti merasa bosan tinggal di rumah ini. Kenapa demikian? Sebab, di rumah ini aku sangat dimanjakan. Baru akan memegang sapu saja para pekerja di rumah ini sudah ribut. Berjalan ke dapur atau ke ruang tamupun diikuti.


Katanya, khawatir aku tergelincir dan membahayakan kandunganku. Padahal, aku sangat ingin beraktivitas di dapur. Mau buat kue, menyiram tanaman, atau sesekali ingin nongkrong di halaman depan sambil berjemur.


Hari ini, aku juga sudah mengikuti kelas ibu hamil bersama bu Dewi. Bu Yuze sengaja mendatangkan dua orang bidan ke rumah ini untuk mengedukasi aku dan bu Dewi. Namun, bu Dewi tidak mengikuti kegiatan ini sampai selesai dengan alasan mual-mual.


Aku baru merasa tidak terkekang saat telah berada di kamarku. Sebab, tak ada satupun dari pekerja di rumah ini yang berani masuk ke kamar tanpa seizinku.


"Huuhh ...." Lega rasanya kalau sudah berada di kamar.


"Bebas," gumamku.


Waktu baru menunjukkan pukul tiga siang. Artinya, dua jam lagi pak Zulfikar pulang. Masih banyak waktu.


"Assalamu'alaikuum."


Langsung terkejut seketika. Apa aku salah dengar? Bukankah masih jam tiga? 'Kok itu seperti suara pak Zulfikar 'sih? Sebentar, apa jamnya salah?


Aku mengecek jam yang ada di ponselku. Hasilnya sama. Artinya, itu memang suara pak Zulfikar.


"Assalamu'alaikuum. Sayang," mengulang panggilnya.


"Wa'alaikumussalaam. Ya, Pak."


Aku bergegas membuka pintu. Mengambil tas kerjanya, lalu meraih tangannya untuk kusalami. Kucium tangannya dengan khidmat. Lalu iapun mencium tanganku. Lanjut mengecup kening, hidung, bibir, dan perutku.


"Jangan bertanya kenapa aku pulang cepat," katanya saat aku membantunya membuka dasi. Padahal, aku baru saja akan bertanya demikian.


"Aku justru senang kalau Anda pulang cepat."


"Oya?"


"Ya," jawabku.


"Terima kasih sayang. Pantas saja aku mau pulang lebih cepat. Ternyata, ada yang merindukanku," celotehnya.


"Mau mandi dulu? Apa mau makan dulu?" tanyaku.


"Mau makan dulu sayang."


"Baik, mau sama apa, Pak? Nanti aku yang siapkan ya. Mau makan di sini? Apa mau makan di dapur?"


"Di sini."


"Baik, aku telepon dapur dulu. Mau sama apa saja, Pak?" Aku bersiap menelepon sambil memegang buku tulis untuk mencatat pesanannya.


"Aku mau yang spesial sayang." Sambil tersenyum dan mendekat.


"Oke, cepat sebutkan. Mau aku catat, Pak."


"Aku mau ...," bisiknya. Baru saja menyebutkan menu yang ia inginkan.


"A-apa?" Saking kagetnya, aku sampai menjatuhkan pulpen yang kugenggam.


"Terus, aku juga mau pakai ...," dia kembali membisikan kalimat lain yang membuatku merinding hingga menelan kasar salivaku sendiri.


"Cepat siapkan sayang," bisiknya lagi sambil meniup daerah di sekitar telingaku.


"A-apa Anda tidak lelah?"


"Tidak dong. Aku memang sengaja pulang cepat karena mau bercinta sama kamu sayang." Kali ini sambil memeluk punggungku. Apa dia salah minum obat?


"Emm, Pak ... a-anu, emm ...." Serius, aku gugup.


"Kenapa? Tidak mau? Masih sakit?"


"Emm, ti-tidak, Pak. A-aku mau 'kok." Walaupun masih merasa aneh, aku tidak berani menolaknya.


"Terima kasih sayang, kamu siapkan menunya selagi aku mandi," katanya.


Lalu ia bergegas ke kamar mandi sambil bersiul-siul. Aku menghela napas, ada apa gerangan? Memangnya ada yang sengaja pulang cepat dari kantor karena ingin bercinta? Tapi, faktanya memang ada. Dan dia adalah suamiku.


Apa dia tidak ada niatan untuk menyalurkannya pada bu Dewi? Tapi, ya sudahlah. Aku tidak berhak mengusik perasaan pribadinya. Walaupun sedikit malas, tapi aku tetap mematuhinya. Menyediakan menu yang ia inginkan. Menyenangkan suami adalah ibadah.


.


"Cantiknya," dia sudah selesai mandi. Langsung memelukku dalam keadaan masih memakai handuk. Aroma sabunnya membuat moodku membaik.


"Ti-tidak pakai baju dulu, Pak?" Selalu saja begini, gugup saat melihat roti sobeknya. Padahal, ini bukan kali pertama aku melihat tubuhnya.


"Untuk apa pakai baju? 'Kan kita mau bercinta sayang."


"Eh, hahaha. I-iya juga ya." Tuh, 'kan? Gugupku semakin parah.


"Apa kamu tahu? Kamu jadi semakin seksi saat hamil seperti ini." Ia merebahkan tubuhku. Lalu menciumi perutku sambil senyum-senyum.


"Kadang masih enggak menyangka kalau aku bisa membuat perutmu jadi membesar seperti ini. Aku hebat 'kan sayang?" pujinya pada diri sendiri. Aku mengiyakan.

__ADS_1


"Ya, Anda hebat."


"Dan kamu lebih hebat daripada aku, sayang."


"Terima kasih, Pak. Tapi, aku tidak bisa jadi hebat tanpa ada dukungan dari Anda," lirihku. Tubuh ini mulai gelisah dan tidak bisa dikendalikan.


Selalu kesulitan berkata-kata jika telah berada di kondisi seperti ini. Kondisi di mana tubuhku tak bisa menolak setiap sentuhannya. Daripada mimik wajah ini menunjukkan kegugupan karena malu, lebih baik memejamkan mata saja. Namun, sesekali pura-pura terpejam demi melihat wajahnya yang rupawan. Semoga dia tidak menyadari kalau aku sering mencuri pandang.


Lalu, aku menikmati setiap sentuhan itu. Lanjut, melakukan berbagai hal yang diinginkannya. Dalam hal ini, aku beperan bak seorang wanita penggoda. Beruntung, di kamar ini terpasang peredam suara. Jika tidak, aku bisa malu setengah mati.


Di saat aku masih terkulai lemas akibat aktivitas itu, dan jiwa ini masih setengah sadar, kulihat pak Zulfikar sudah bersiap. Ia telah mandi dan rapi. Sedang memakai setelan kasual. Entah hendak ke mana. Mau bertanya, namun bibir ini malas berucap dan mata ini masih enggan terbuka sepenuhnya.



"Terima kasih untuk yang tadi ya sayang. Aku sangat puas. Apa kamu tahu? Setelah menikmati hidangan dari kamu, aku jadi bersemangat," bisiknya. Lantas mengecup bibir dan keningku. Akhirnya, aku membuka mata dan menanyakan sesuatu.


"Mau kemana, Pak?"


"Ada urusan sayang, tapi bukan urusan kantor. Aku ditelepon sama pak Ikhwan agar segera ke firma. Oiya sayang, jangan kaget ya, malam ini, pengamanan di rumah ini akan diperketat."


"Memangnya ada apa, Pak? Bukankah sedari awal sudah ketat?" Jadi penasaran.


"Emm, tidak ada apa-apa sayang. Supaya berlapis saja pengamanannya. Tidak ada salahnya, bukan?" Dari caranya bicara, aku menduga jika ia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Apa Anda akan pulang malam?"


"Belum tahu sayang. Nanti, aku kabari lagi ya. Oiya, saat kamu masih tidur, Listi menelepon ke HP kamu. Dia meminta izin untuk bertemu kamu, dan sudah aku izinkan."


"Oya? Kak Listi mau ke sini?" Aku jadi semangat.


"Ya sayang. Kurasa, Listi mau curhat."


"Kok Bapak tahu, 'sih?"


"Itu baru dugaan sayang, belum tentu benar. Ya sudah, aku pergi dulu ya." Sebelum benar-benar pergi, ia memagutku lumayan lama hingga aroma pasta giginya terasa memenuhi rongga mulutku.


Setelah melihat tubuhnya menghilang di balik pintu, mataku kembali terpejam. Namun, aku segera sadar belum shalat Asar. Tidak ada cara lain untuk melawan rasa malas, kantuk, dan lelah ini kecuali dengan memaksakan diri.


Padahal, di beberapa ayat dan hadist telah dijelaskan jika shalat Ashar merupakan shalat wustha yang benar-benar harus dijaga kekhusyukannya. Ada yang mengatakan jika shalat Ashar sebagai jalan menuju ke dalam surga, dan bagi siapapun yang meninggalkannya, maka telah terhapuslah amalannya dan sia-sialah pahalanya.


Selain itu, malaikat malam dan malaikat siangpun ternyata berkumpul di tengah-tengah manusia dan saling bergantian di waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar. 


"Semangat Dai! Jangan jadi pemalas!" Aku menyemangati diri sendiri.


.


Dan aku terkejut saat seseorang tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa mengucap salam, meminta izin, ataupun mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf tidak minta izin dulu, tanggung." Ia masuk ke kamarku dan menutup pintu. Jujur, aku sedikit takut. Khawatir bu Dewi menjahatiku lagi.


"A-ada apa, Kak?"


"Apa benar mas Zul sudah pulang dari jam tiga?" Ia menatapku sambil melipat tangan di dadanya. Matanya sembab seperti telah menangis dalam waktu yang cukup lama.


"Be-benar, Kak." Aku semakin merapatkan selimutku karena bu Dewi mendekat.


"Apa dia bilang kalau mau pulang lebih cepat?"


Wajahnya berubah masam. Lalu ia duduk di sisi tempat tidurku. Jantungku berdegup. Mataku mengitari area sofa dan karpet di depan televisi. Di sana, tadi ada jejak-jejak aktivitas itu. Syukurlah, pak Zulfikar rupanya telah memasukan pakaian yang bececeran ke keranjang kotor.


"Tidak bilang apapun, Kak. Pak Zulfikar datang tiba-tiba dan emm ..., sekarang sudah pergi lagi. Aku menunduk. Berharap bu Dewi segera pergi. Sebab, aku belum mandi dan shalat Ashar.


"Apa dia pulang lebih awal hanya untuk e-nak-e-nak sama kamu?" Sambil menatap selimut yang menutupi tubuhku. Aku gugup dan bingung. Harus menjawabnya dengan cara apa ya?


"Kak, a-aku belum shalat Ashar, apa boleh aku tinggal ke kamar mandu dulu? Kakak boleh menungguku sambil menonton TV atau membaca buku."


Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Namun, dia seolah tak mendengarkan apa yang kukatakan. Malah melamun sambil menatap aquarium mini yang ada di kamar ini.


"Seperti apa rasanya dicintai suami kamu, Dai?" Suara bu Dewi terdengar sendu. Ia juga menghela napasnya berulang-ulang.


"Kak Dewi, a-aku ---."


Kebingunganku semakin bertambah. Dengan itikad baik, aku akhirnya memberanikan diri untuk beranjak dari tempat tidur dan menggulung tubuh dengan selimut.


"Kak, tunggu aku mandi dan shalat Ashar dulu ya. Setelah itu, mari kita bicara lagi."


Tak kusangka, bu Dewi menyetujuinya. Ia mengangguk sambil mengelus-elus jas pak Zulfikar yang tergantung di hanger. Aku bergegas ke kamar mandi sambil membawa baju ganti.


Kukira, saat aku keluar dari kamar mandi, bu Dewi sudah pergi. Faktanya, dia masih setia menungguku. Bahkan, dia sedang melakukan hal yang membuatku tersenyum dan spontan memujinya.


"Kak Dewi cantik," pujiku.


"Eh, kamu sudah selesai? Aku coba-coba pakai jilbab syar'i milik kamu. Maaf ya tidak izin dulu. Soalnya jilbab kamu tergeletak begitu saja. Aku mencobanya karena penasaran." Ia melepas kembali jilbabku yang sempat dipakainya.


"Tidak apa-apa 'kok, Kak. Kakak cantik tahu pakai jilbab yang tadi. Apa Kak Dewi suka? Kalau Kakak suka, Kakak boleh mengambilnya. Atau, kalau tidak suka warnanya, Kakak boleh memilihnya. Sini, lihat ini, pilih-pilih saja, Kak. Silahkan."


Aku bahagia, segera menuntun tangannya menuju almariku. Lalu mempersilahkannya memilih dan melihat-lihat jilbabku.


"Wah, lumayan banyak, Dai."

__ADS_1


"Ya, Kak. Alhamdulillah. Ya sudah, silahkan Kakak pilih saja. Aku mau shalat dulu."


"Baik, kalau kamu sudah shalat, aku ada permintaan untuk kamu."


"Sip," sahutku.


Selesai shalat, aku menghampirinya. Bu Dewi telah memegang beberapa jilbab milikku. Dia sedang duduk menghadap cermin.


"Dai."


"Ya, Kak."


"Kalau aku berpenampilan kayak kamu, apa mas Zul bisa menyukaiku?" Pertanyaannya membuatku terkejut.


"A-aku tidak tahu, Kak."


"Dai." Bu Dewi memegang tanganku.


"Ya, Kak."


Hatiku begemuruh, aku tak sanggup melihat mata bu Dewi yang berkaca-kaca. Walaupun ia sering menjahatiku, namun ... aku sudah memaafkannya.


"Tolong bantu aku agar mas Zul menyukaiku. Berikan tips-tipsnya, Dai. Atau ... tolong berikan satu cara agar aku tidak mencintainya. Dai, jika boleh memilih, aku juga tidak ingin mencintainya sedalam ini. Tapi ... a-aku tidak bisa menghindari perasaan ini. Aku iri sama kamu, Dai." Airmatanya yang tadi berkaca-kaca itu akhirnya menetes jua.


"K-Kak Dewi, huuu ...."


Aku tak kuasa lagi menahan rasa ini. Aku spontan memeluknya dan menangis. Tangisanku bahkan lebih kuat daripada tangisannya. Bu Dewi membalas pelukanku. Kamipun menangis bersama-sama.


Lalu, aku mengusap airmatanya. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat matanya yang memerah. Aku tak menyangka bisa sedekat ini dengannya. Kalaupun suatu saat bu Dewi berubah dan berulah lagi, sungguh, aku tidak akan melupakan kejadian ini.


"Kak Dewi, aku pribadi tidak bisa berbuat banyak untuk memaksa pak Zukfikar mencintai bu Dewi. Tapi, aku akan berdoa agar Yang Maha Kuasa menggerakan hati pak Zulfikar untuk mencintai Anda seperti halnya dia mencintaiku."


"A-apa kamu yakin Tuhan akan mengabulkan doamu?"


"InsyaaAllah," jawabku.


"Daini, apa kamu tidak membenciku?"


"Tidak," sembari menggelengkan kepalaku.


"Daini, apa dalam Islam karma itu ada?" Pertanyaanya kembali membuatku terkejut.


"Kak, agama Islam tidak mengenal istilah karma. Dalam Islam, apa yang kita dapatkan saat ini, tidak serta-merta dipandang sebagai karma dari perbuatan di masa sebelumnya. Sebab, hal itu bersifat ghaib. Artinya, hanya Allah saja yang mengetahuinya."


Bu Dewi menyimak, namun raut wajahnya menunjukkan kebingungan.


"Misalnya saja, jika seseorang sakit parah, maka ia tidak bisa menganggap bahwa sakitnya itu sebagai karma. Karena bisa jadi hal itu adalah ujian yang sengaja dilimpahkan oleh Allah untuk menguji keimanannya, menaikkan derajatnya, atau untuk menghapus dosa-dosanya," jelasku panjang lebar.


"Ya ampun, Dai. Pantas saja mas Zul lebih suka sama kamu daripada aku. Ternyata, kamu memang pintar. Jujur, cara kamu bicara membuatku jadi tenang. Kamu juga cantik alami. Ini, kamu belum pakai makeup apapun, 'kan?" Sambil mengusap pipiku.


"Be-belum, Kak." Aku gugup. Apa seperti ini rasanya akur bersama istri tua? Rasanya campur aduk. Nano-nano.


"Kalau boleh tahu, kamu pakai skin care apa, Dai?"


"Kakak mau tahu? Itu tempat skin careku." Aku menunjukkannya.


"Oh, kamu pakai ini? Kukira pakai yang mahal."


"Yang penting cocok, Kak. Aku tidak melihat dari sisi harganya."


Lalu, pandangan bu Dewi teralihkan pada parfum milik pak Zulfikar yang kutahu masih baru dan belum pernah dipakainya.


"Parfum ini ...," ia mengambilnya dan kembali menangis.


"Kenapa, Kak?"


"Dai, ini adalah parfum kesukaannya. Parfum ini aku yang beli. Tapi ... dia tidak menggunakannya."


"Kak, pak Zulfikar belum memakainya, bukan berarti tidak mau menggunakannya."


"Tapi, Dai. Selama ini, dia sering memakai merek yang sama dengan parfum yang kubelikan. Kupikir, yang dia gunakan adalah parfum dariku. Aku hapal kemasannya. Ini ada stiker di segelnya. Stiker ini aku yang memasangnya Dai. Sebenci itukah dia kepadaku?"


"Kak, bisa jadi, pak Zulfikar tidak memakainya karena ingin menyimpan parfum dari Kakak sebagai kenang-kenangan. Buktinya, dia tidak membuang parfum itu. Ya, 'kan?"


"Apa mungkin seperti itu?" Syukurlah, bu Dewi sepertinya terpengaruh bujukanku.


"Sekarang, bagaimana kalau aku ajari cara memakai jilbabnya," tawarku. Sedang mengalihkan fokusnya agar melupakan prihal parfum itu.


"Baik."


Bu Dewi setuju. Aku segera memosisikan diri. Berdiri di hadapannya dan mulai memakaikan jilbabku pada bu Dewi.


"Da-Daini?! Bu-Bu Dewi?!"


Entah kapan kak Listi datang. Di ambang pintu kamar, kak Listi mematung. Menatap heran ke arahku dan bu Dewi.


"Ka-kalian akur?" tanyanya. Lalu memukul pipinya sendiri. Mungkin, sedang memastikan jika yang dilihatnya saat ini bukanlah mimpi.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2