
"Sayang kendalikan dirimu, ayo istighfar, jangan seperti ini Hanindiya, jangan membuatku khawatir."
Pak Zulfikar memelukku. Lalu bu Silfa datang dan membantu pak Zulfikar melepas mukena yang masih kukenakan.
"Astaghfirullah ...," lirihku. Aku memegang dadaku. Bayangan bu Dewi yang muncul di mimpiku terus terbayang.
"Apa aku boleh masuk?"
"Kata dokter keluarga belum boleh masuk. Karena mau ada visit dulu," jelas bu Silfa.
"Mohon perhatian, kepada keluarga bayi Nyonya Dewi, ditunggu di ruang NICU."
Ada pengumuman dari bagian informasi. Kami semua terkejut. Jadilah kami beramai-ramai menuju ke sana. Ke ruang NICU.
"Ada apa, Suster?"
Bang Radit yang berada di barisan depan langsung bertanya dengan wajah yang menunjukkan kepanikan. Apa lagi pak Zufikar, tangannya yang memegangku terasa dingin.
"Bayi Nyonya Dewi sudah menangis. Keadaan umumnya juga baik. Rencananya akan dipindahkan ke ruang perinatal," jelas Suster.
"Alhamdulillaah," kami bersyukur. Pak Zulfikar memelukku. Bang Radit dan bu Silfapun berpelukan.
"Apa kami sudah boleh melihatnya?" tanya pak Zufikar.
"Ibu dan Bapak boleh langsung menjenguk ke ruang bayi saja. Sekitar sepuluh menit lagi, bayinya akan berada di ruang Perinatologi."
"Baik, Suster. Terima kasih atas informasinya."
Selagi menunggu sepuluh menit, aku kembali ke ruang ICU untuk melihat bu Dewi. Syukurlah, aku sudah diperbolehkan mendampinginya lagi.
"Kak Dewi ..., bayi Kakak sudah menangis dan sehat. Jadi ..., K-Kakak juga harus cepat bangun untuk melihatnya." Kerongkonganku terasa tercekik saat mengatakan kalimat itu. Sebab, aku khawatir dengan kondisinya.
Bu Dewi belum sadar, namun wajahnya sudah tampak segar. Di sudut matanyapun sudah tidak ada air mata lagi.
"Kak Dewi, cepat bangun. Aku menunggumu, aku merindukan senyummu. Semuanya sedang menunggu Kak Dewi. Aku bahkan merindukan saat-saat di mana Kak Dewi memarahiku. Oiya Kak, kata pak Zulfikar, bayi Kakak sangat cantik. Cepat sadar dong, Kak. Aku ingin melihat bayi Kakak bermain bersama Raja dan Cantik."
Monitor tiba-tiba berbunyi, dan aku melihat jemari bu Dewi begerak.
"Dokter! Suster!" teriakku spontan sambil berdiri dan menatap pada tanga bu Dewi yang tadi begerak.
"Ya, Bu."
Dokter dan suster tiba. Mereka segera mengecek bu Dewi.
"Alhamdulillaah, tanda-tanda vitalnya mulai stabil," ujar seorang dokter. Mata mereka terlihat berbinar. Di balik masker medis itu, aku yakin mereka tersenyum setelah melihat perkembangan bu Dewi.
Aku sangat bersyukur dan bahagia. Segera berlari ke luar dari ruang ICU untuk menyampaikan kabar baik ini pada pak Zulfikar, bang Radit, dan bu Silfa.
"Mas! Bang Radit! Bu Silfa!" panggilku.
Mereka menoleh bersamaan. Pak Zulfikar langsung mendekat. Bang Radit dan bu Silfa menyusul.
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Tangan Bu Dewi begerak, Mas. Kata dokter tanda-tanda vitalnya juga sudah mulai stabil," terangku.
"Oya? Alhamdulillah." Mereka mengucap hamdalah bersama-sama.
"Ya sudah, Ibu dan Bang Radit mau melihat Dewi dulu." Mereka berlalu.
"Mas, aku mau melihat bayinya. Sekarang sudah bisa, 'kan?"
"Sudah bisa sayang. Mari," ajaknya. Ya ampun, jantungku jadi bedebar-debar. Apa benar bayi itu mirip denganku?
"Pakai baju ini dulu sayang," katanya. Ia membantuku memakaikan baju khusus untuk pengunjung.
"Bayi Nyonya Dewi ada di sana."
Seorang suster mengarahkan. Pandanganku langsung tertuju ke sana. Ke infant warmer yang di atasnya diletakkan bayi mungil berkulit kemerahan. Aku dan pak Zulfikar mendekat. Mata pak Zulfikar berkaca-kaca saat melihatnya. Sementara aku, aku tidak kuasa menahan air mata.
Makhluk suci itu seolah menatapku. Lalu saat bibirnya begerak mengeluarkan tangis khasnya, muncullah lesung pipinya.
"Dia bahkan memiliki lesung pipi seperti kamu, sayang." Suara pak Zulfikar terdengar gemetar.
"Kalau mau menyentuh bayinya, harus cuci tangan dulu." Seorang dokter mengingatkan.
"Kami sudah mencuci tangan, Dok," sahut pak Zulfikar. Sementara matanya terus menatap pada putrinya. Aku segera memangkunya dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Lalu duduk di kursi khusus dan kembali menatap wajah cantiknya.
Pak Zulfikar kemudian duduk di sampingku. Ia mencium kening bayinya dan membisikkan kalimat yang membuat hatiku tersayat-sayat.
"Ma-maaf karena dulu ... aku pernah berharap agar kamu tidak lahir ke dunia ini. Maaf yaa ...." Pak Zulfikar memalingkan wajah dan mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"A-aku juga minta maaf," lirihku.
"Ini Papa Zul, ini Mama Dai. Kami adalah orang tua kamu. Kamu juga memiliki satu mama dan satu papa lagi. Papa Radit dan Mama Dewi," ocehku sambil mengelus kepala pak Zulfikar yang tiba-tiba saja bersandar di bahuku.
Kemudian ia menangis. Bibirnya menunjukkan jika ia ingin minum ASI. Sebagai seorang ibu, aku memahami keinginannya.
"Apa boleh aku memberinya ASI?" Pertanyaan itu muncul begitu saja. Ya, aku ingin mengASIhinya.
"Aku mengizinkan sayang, tapi kita harus meminta izin dulu pada bu Silfa."
"Saya mengizinkan." Bu Silfa muncul dan langsung menjawab pertanyaanku.
"Bu Silfa?" Aku terkejut.
"Saya sudah konsultasi sama dokter, Neng Dai. Melihat kondisi Dewi yang belum memungkinkan memberikan ASI, saya dan pihak keluarga sepakat akan meminta sama kamu untuk menyusuinya. A-apa kamu bersedia Neng?" Bu Silfa tiba-tiba bersimpuh dan menangis di pangkuanku.
"Ibu, hentikan Bu. Jangan seperti ini. Sebelum Ibu memintapun, aku memang ingin menyusuinya." Aku kemudian memberi isyarat pada pak Zulfikar agar menghentikan sikap bu Silfa dari.
"Mami, sudah Mami," bujuknya.
"Huuu, Zul, Mami tidak menduga jika pada akhirnya akan seperti ini. Mami sangat menyesal karena dulu ... huuu ... Mami jahat sama Neng Daini. Neng Daini bahkan hampir kehilangan nyawanya akibat kejahatan Mami, huuu."
"Ibu ... jangan bahas itu lagi. Mari kita perbaiki semuanya," pintaku.
"Mari Bu Daini, kami akan mengantar Ibu ke ruang menyusui," ajak seorang suster.
__ADS_1
"Baik, Sus." Aku ke sana didampingi oleh pak Zulfikar. Bu Silfa mengangguk sambil tersenyum. Namun senyumnya bersamaan dengan tangisnya.
...***...
"Sayang, tolong jangan menghadap ke sini. Menghadap ke tembok ke sana saja," pinta pak Zulfikar saat suster yang mengantar meninggalkan ruang menyusui.
"Lho, kenapa Mas? Jelas-jelas dianjurkan menghadap ke sini supaya bisa melihat pemandangan."
"Haish, apa kamu lupa kalau aku juga bayi kamu?" ucapnya tanpa ada rasa malu sedikitpun.
"A-apa?!"
Aku spontan memukul bahunya. Dia tertawa kecil sambil memosisikan bayi ketiga kami di pangkuanku. MasyaaAllah, aku kembali menitikkan air mata. Momen ini tidak akan kulupakan. Aku membacakan doa-doa kebaikan untuknya.
"Lihat sayang, saat menoleh lirikkan matanyapun mirip sama kamu."
"Oya?"
"Ya, coba 'deh kamu menoleh. Aku mau menyamakannya." Dengan patuh aku menoleh ke arahnya tanpa curiga.
"Mmm ...." Mataku membelalak.
"Pak Zulfikar! Mas! Sempat-sempatnya!" Dia baru saja melahap bibirku. Memalukan! Bagaimana kalau ada dokter?! Aku kesal! Langsung cemberut.
"Jangan pura-pura, bukankah tadi kamu menikmatiny juga," bisiknya.
"Mas, ada bayi tahu. Kalau tadi melihat bagaimana? Aku malu. Maaf ya sayang." Aku mengecup pipi lembutnya.
"Dia tidak melihat 'kok. Aku jamin," katanya sambil mengusapkan telapak kaki bayi ke pipinya.
"Telapak kakinya lembut seperti bibir kamu sayang." Aku diam saja, malas meladeni gombalannya.
"Sssttt, jangan berisik, Mas. Ada yang bobok."
"Wah, kamu hebat. Terima kasih sayang." Mengecup keningku.
"Sama-sama. Aku sangat bahagia karena bisa memberinya ASI. Di dalam tubuhnya, saat ini sudah terisi dengan sari-sari makanan yang berasal dari tubuhku. Menurut Imam Syafi'i dan Imam Ahmad, untuk dapat dikatakan menjadi saudara sepersusuan adalah dengan lima kali menyusu penuh hingga kenyang. Jadi, aku hanya perlu menyusuinya minimal empat kali lagi sampai ia kenyang. Setelah itu, ia akan menjadi anak ketigaku."
"Oh, begitu ya sayang? Aku kira hanya sekali menyusu saja sudah bisa dikatakan saudara sepersusuan."
"Belum Mas, minimal harus lima kali dan syaratnya harus menunjukkan jika bayi yang disusui terlihat kenyang. Kenyang di sini maksudnya sampai bayi berhenti sendiri."
"Baik, aku sekarang jadi paham. Tapi kamu tidak akan menyusuinya lima kali doang, 'kan?"
"Tidak Mas, selagi ASIku cukup dan selagi bu Dewi tidak melarangku memberikannya, aku berjanji akan sering menyusuinya."
"MasyaaAllah, aku jadi semakin jatuh cinta sama Neng Daini Hanindiya Putri Sadikin," pujinya. Aku membalas pujiannya dengan senyuman.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
______
__ADS_1
Maaf karena nyai terlambat lagi mengintai TBR. Alasannya karena nyai sedang berusaha mengintai 'ISTRI SITAAN.' Karena ikut event, nyai disarankan up tiap hari oleh editor. Yang belum berkunjung ke dunia 'ISTRI SITAAN,' nyai tunggu dukungan dan kedatangannya ya. Mari berkenalan dengan 'Pak Bos Marvin' dan 'Serena.' Terima kasih.