
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Pelan-pelan saja Pak Budi bawa mobilnya."
"Duh, Bu. Ini saya telat. Saya takut Bapak marah."
"Pak Zulfikar tidak akan marah. Lagi pula, Bapak terlambat gara-gara aku. Gara-gara harus menidurkan Raja dan Cantik dulu."
"Ya, Bu. Tapi saya tidak biasa terlambat."
Aku menghela napas sambil menatap keluar melalui kaca mobil. Akhirnya memilih diam setelah pak Budi memelankan laju kemudinya.
Setibanya di depan kantor, kedatanganku langsung disambut oleh beberapa orang staf. Aku mencari kak Listi, tapi ia tidak ada.
"Bu Daini, saya hanya mengantar sampai sini," ucap pak Budi sambil menyerahkan tas yang berisi perlengkapan perah ASI. Tas itu langsung diambil oleh staf pak Zulfikar.
Aku terus menunduk saat staf tersebut membawaku menuju ke ruangan pak Zulfikar. Jujur, aku merasa tidak nyaman. Aku tidak berani menatap orang-orang yang menyapaku. Yang kulakukan hanya menggangguk sambil mengucapkan salam dan terima kasih.
Kantor ini membuatku teringat kembali akan masa-masa sulit dan menyakitkan itu. Masa di mana aku dikucilkan, dipandang sebelah mata, dan dicibir habis-habisan karena dituduh sebagai wanita munafik yang sok alim.
"Pelakor."
"Munafik."
"Ja lang jalur syariah."
"Percuma berhijab kalau hatinya busuk."
"Wanita gila harta."
"Semoga mendapat karma."
Gunjingan dan umpatan itu kembali terngiang. Aku memegang dadaku yang tiba-tiba berdesir sambil beristighfar.
"Ibu tidak kenapa-napa, 'kan?"
Staf yang membawaku tampak khawatir. Ia memegang bahuku dan menatap cemas.
"Tidak apa-apa, 'kok. Terima kasi Bu Dilla," jawabku. Aku mengetahui namanya dari name tag yang digunakannya.
"Bu Daini cantik sekali. Oiya, syukurlah kalau Ibu tidak apa-apa. Saya tahu semua tentang Ibu dari Bu Caca," jelasnya.
Aku tersenyum saat mendengar penjelasannya. Rasanya ingin sekali bertemu bu Caca, tapi aku ke sini karena perintah pak Zulfikar.
"Terima kasih. Bu Dilla juga cantik," pujiku. Ia tersipu sambil merapikan rambutnya.
Saat pintu lift terbuka, aku disambut oleh seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Anwar.
"Bu Daini," teriak seseorang yang sangat kukenali.
"Kak Listi?"
Aku terkejut dan bahagia. Kak Listi berlari dan memelukku. Staf yang lain saling pandang. Penampilan kak Listi terlihat elegan. Roknya panjang, bajunya juga panjang. Rambutnya sudah sebahu. Cantik sekali.
"Kangen tahu, Bu," serunya sambil menuntun tanganku dan memberi isyarat pada yang lain agar berlalu.
"Aku juga kangen sama Kak Listi. Kenapa memanggiku ibu?" bisikku.
__ADS_1
"Ini di kantor, Neng. Biar bagaimanapun, kamu adalah istri dari bos perusahaan ini. Kamu istrinya pak Direktur."
"Panggil seperti biasa saja, Kak."
"Kalau di lingkungan kantor, aku harus memanggilmu 'ibu.' Sudah jangan protes lagi Neng, pak Direktur sudah menunggu kamu."
...⚘️⚘️⚘️...
"Kenapa terlambat? Aku sudah bilang 'kan harus tiba di kantor jam satu tepat?" protesnya sambil membelakangiku dan melipat tangan di dadanya.
Aku melirik pada kak Listi, maksudku ingin dibantu menjawab pertanyaannya. Tapi, kak Listi sudah tidak ada di tempat. Lho, kak Listi ke mana? Cepat sekali perginya.
"Ma-maaf Mas. Tadi menidurkan Raja dan Cantik dulu."
"Ada saatnya bersama anak-anak, ada saatnya bersama suami." Membalikan badannya dan menatap tajam ke arahku. Ya ampun, dia mendominasi sekali.
"Maaf, Mas. Kalau sekiranya kedatanganku yang terlambat ini membuat Anda tidak enak hati dan merasa terganggu, aku mohon undur diri saja. Mari membuat janji lagi di hari esok."
"Apa? Hanindiya, apa kamu sekarang sudah berani melawanku?" Sambil mendekat. Namun, aku tahu kalau ia sedang menahan tawanya. Fix, pak Zulfikar sedang berakting.
"Aku tidak berani melawan Anda, maaf." Aku menundukkan kepalaku sambil menautkan jemari.
"Hahaha, aduh sayang, aku tidak bisa memarahi kamu. Pura-pura marah sama kamupun aku tidak bisa."
Benar saja, ia hanya berakting. Detik berikutnya, ia sudah memelukku. Lalu membisikkan sebuah kalimat yang membuatku terkejut hingga terbatuk-batuk.
"Apa?! Uhhuk, uhhuk."
"Minum dulu sayang." Ia sigap memberiku air minum. Setelah aku minum, ia kembali mengutarakan keinginannya.
"Ya sudah, bo-boleh," jawabku seraya tersipu-sipu.
"A-apa?!" Terkejut untuk yang kesekian kalinya.
"Yuk sayang," ajaknya. Ia mengulurkan tangannya. Namun, saat aku hendak beranjak, ia sudah terlebih dahulu memangkuku.
"Pak Zulfikar! Mas! Aku bisa jalan sendiri," teriakku.
"Ssst," jawabnya.
...⚘️⚘️⚘️...
Kamarnya ternyata sudah disiapkan sedemikan rupa. Wangi, bersih, dan sangat rapi. Aku menunggunya. Pak Zulfikar sedang mandi. Sementara aku hanya berwudhu karena sudah mandi di rumah.
Lalu mata ini membelalak kala ia keluar dari kamar mandi. Spontan membekap bibirku sendiri karena sangat terkejut. Ia mendekat sambil tersenyum. Merangkak ke tempat tidur seraya menebarkan pesonanya. Aku terkesima hingga mematung. Baru sadar sepenuhnya saat sesuatu yang hangat nan lembut menelusuri tubuhku. Aku berusaha tenang, namun tidak bisa.
Faktanya, aku telah teperdaya. Aku mengikuti arusnya yang bergejolak. Aku mengimbangi hasratnya yang menggebu. Aku menyalakan api cintanya yang membara. Aku nyaris kehilangan kesadaran saat ia memanjakan sekujur tubuhku.
Sementara ia memekik perlahan saat aku memanjakan sekujur tubuhnya. Aku memperlakukannya bak seorang raja. Iapun memperlakukanku bak ratunya. Kami saling mengagumi. Kami saling mencintai, dan semestapun mendukung.
Terdengar suara hujan dari balik tirai. Curahnya seolah bersatu padu dengan terjangan gelombang cinta yang melenakan ini. Rasa ini teramat memabukkan, hingga aku berpikir tidak ingin mengakhirinya.
Peluh yang menghiasi tubuhnya tampak indah. Laksana butiran mutiara yang berkilau. Aku memujanya, aku mendambanya. Suara cinta dan alunannya memenuhi ruang pendengaran. Dan hal itu membuatnya kian menggila. Berulang kali ia menerbangkanku ke atas awan.
Hujan terdengar semakin deras, cuaca di luar berubah menjadi lembab dan dingin. Namun, keadaan itu berbanding terbalik dengan suhu di kamar ini. Sebab, suhu di kamar ini terasa panas.
"Sa-sayang ...."
__ADS_1
"Hanin ...."
"Cantik ...."
"Indah sekali ...."
"Cantik sekali ...."
"Seksi sekali ...."
Kata-kata itu yang terus terucap dari bibirnya. Sementara aku, aku hanya bisa bergumam ....
"Mmm --- Mas ..., Pak ...," merintih, dan melenguh-lenguh. Seperti itulah cinta.
"Hatimu dan tubuhmu akan selalu menjadi milikku," bisiknya.
"Anda membuatku sangat bahagia dengan cara yang luar biasa," balasku.
"Jika hadiah terindah bagi orang adalah emas, maka hadiah terindah bagiku adalah cintamu, senyuman tulusmu dan tubuhmu. Sa-sayang ...," di antara erangannya, ia merayuku.
"Cinta itu seperti angin ya, Mas. Kita tidak dapat melihatnya, tapi kita dapat merasakannya," sahutku pelan.
"Ya sayang, saat ini ... kita sedang merasakannya, bukan?"
Aku mengangguk lemah. Tubuhku seperti kehilangan keseimbangan dan separuh kekuatan.
"Mas ..., aku ingin memiliki dan mencintaimu hingga akhir usia." Suaraku semakin pelan. Dia berhenti sejenak dan menangkup pipiku.
"Hanin, ketika aku menatap matamu, aku menemukan separuh jiwaku ada di sana. Hanin, apapun yang terjadi, seberat apapun rintangannya, aku akan selalu bersamamu dan mencintaimu."
Aku membalas tatapannya, lalu perlahan mata ini berkaca-kaca.
"Mas ..., cinta sejati itu bermakna saling membantu untuk menggapai surga, bukan saling berpegangan tangan dan berjalan menuju api neraka." Aku mengatakan kalimat itu setelah menyematkan tanda cinta di tubuhnya.
"Hanindiya ..., dengarkan aku sayang. Bahkan kematian pun tidak akan bisa memisahkan kita. Karena kelak ... kita akan dipertemukan kembali di surga-Nya."
Air mataku menetes, dan bibirku gemetar mendengar ucapannya. Aku sangat bersyukur dan bahagia.
"Dalam diamku, aku selalu mencintaimu dan berdoa untuk kebaikanmu. Aku juga berdoa agar di kehidupan akhirat ... Mas Zulfikar adalah jodohku."
"Hanindiya, you are my heavenly angel. Menurutku, cinta kita adalah cinta yang terbaik. Karena kehadiranmu, aku merasa imanku jadi bertambah. Kamu membantuku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Oleh karena itu, aku ingin kembali bertemu denganmu di surga-Nya," lirihnya sambil membersihkan airmataku dengan bibirnya.
Aku belum sempat membalas kalimatnya. Sebab, ia kembali menerbangkan jiwa dan ragaku ke angkasa raya.
.
.
Rintik hujan tidak terdengar lagi. Artinya, hujan telah reda. Aku bergelung di balik selimut, berlindung jua di balik dada hangatnya. Lengan kokohnya menjadi bantal untukku. Nyaman sekali. Aku menatap wajah rupawannya. Ia sedang terelelap. Bahkan sampai mendengkur halus. Napasnya yang hangat menerpa wajahku. Perlahan, tangan ini membelai rambutnya. Lalu menelusuri wajahnya. Kemudian, aku menelusupkan kepalaku di dadanya dan terlelap.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
Rumah sakit tempat nyai bekerja sudah selesai akreditasi. Tinggal menunggu hasilnya. Mohon doanya semoga 'Paripurna.' Aamiin.
Oiya, mohon bersabar untuk para penggemar Bu Listi dan Pak Sabil. Sebab, nyai perlu mempersiapkan mental dulu sebelum mengintai malam pertama mereka. Duh, tidak sabar rasanya. 😊😊
__ADS_1
Apa yang adegan panas mereka perlu diintai? Atau diskip saja? Mohon beri masukan di kolom komentar. 😊😊