Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Siasat


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


Aku menyesap perlahan bibirnya. Rasanya sungguh manis, lembut, kenyal, dan beraroma mentimun. MasyaaAllah, ketegangan bersama Dewi seolah-olah menguap begitu saja kala aku merasakan sensasi hangat dan nyaman ini.


Aku juga sedikit lega karena telah mengutarakan prihal hubunganku dengan Dewi. Belenggu di hati ini rasanya memudar. Aku menatap wajahnya saat dia memejamkan mata. Kutekan lembut dagunya agar pertautan ini kian mendalam. Tak lupa, tangan ini menggurita. Menelesuri leher jenjangnya, tulang selangkanya dan daerah sekitarnya.


Aku seolah tak memberinya ruang untuk menghirup udara. Aku terlalu menggebu. Drama yang telah kulewati membuatku merasa jika menikmati tubuhnya adalah obat yang paling mujarab untuk menenangkan jiwa dan raga ini.


"Uhhuk, uhhuk."


Hanin terbatuk dan seperti tersedak. Terpaksa aku melepas jalinan ini, lalu menatapnya dan tersenyum sambil menelusuri bibirnya. Napasnya Hanin tersenggal, pipinya merona, dadanya naik turun, indah sekali.


Lantas kubuka satu persatu penghalang di tubuhnya. Hanin pasrah, wajahnya kian memerah, aku menatap nanar pada tubuhnya yang teramat indah. Tubuh elok ini sungguh membuatku kian tergugah dan bergairah.


Aku mengecupi kulit halusnya. Kusematkan tanda cinta di setiap sudutnya. Kuhidu aroma wanginya. Kupuaskan diri ini merengut seluruhnya. Kubalikan tubuhnya untuk menikmati sisi lain dari bagian tubuhnya.


Dia terlihat begitu malu-malu, wajahnya tersipu-sipu, lalu ia berulang kali menolak dan menepis pelan tangan nakalku.


Aku lantas menatapnya, meraih tubuhnya ke pangkuanku. Mataku mengiba, sementara tanganku terus bekerja, pelahan, namun sedikit memaksa. Hanin akhirnya membuka diri, walaupun mungkin ia melakukannya dengan terpaksa.


Aku menguasai sekujur tubuhnya, aku melakukan semua hal yang ingin kulakukan. Hingga tubuhnya menggelinjang, melengking-lengking dan menggelepar karena ulahku. Hanin menutup wajah dan membekap bibirnya sendiri. Lucu sekali, dia sepertinya ingin mengingkari segenap rasa nikmat yang telah kuciptakan.


Namun tubuhnya berkhianat, dan aku faham benar jika saat ini tubuh eloknya sangat menginginkanku. Ia bahkan mendesah dan melenguh-lenguh, saat tangannya mencengkram bahuku dan tak sempat menutupi bibirnya. ******* Hanin terdengar manja dan menggoda. Aku menyukainya, aku menginginkan yang lebih dari ini, aku ingin merasukinya dan menikmati seutuhnya.


"Pak, emm ... ja-jangan," dia terbangun setengah duduk dan menahan tanganku.


"Ke-kenapa sayang? Bukankah tubuhmu menginginkannya?" Sungguh, aku tak tahan lagi. Aku bisa gila kalau sampai tak melakukannya.


"Emm ...." Dia sepertinya sedang berpikir.


"Please sa-sayang, please ...."


Urat maluku rupanya telah putus. Aku mengemis padanya karena ingin segera menyalurkan b i r a h i ini sekarang juga.


"A-aku takut," lirihnya.


"Aku akan pelan-pelan, janji," ucapku sambil mengecup keningnya.


"Emm, ta-tapi ... ja-jangan menindih pe-perutku," katanya.


"Apa aku terasa berat?" Setahuku berat badanku ideal.


"Ta-takut maagku kambuh." Alasan yang sebenarnya terdengar sedikit janggal.


"Emm ... begini, agar aku tidak menindihmu, bagaimana kalau kamu yang di atasku?" tawarku.


"A-apa ta-tapi a-aku malu." Benar-benar menggemaskan wanita ini. Ahh, aku jadi semakin mencintainya.


"Ayolah sayang, kamu istriku, tak perlu malu. Lagipula, aku sudah melihat semuanya." Aku memosisikan diri, aku pasrah sepasrah-pasrahnya.


"Emm, a-apa yang harus kulakukan?" tanyanya.


Wajahnya semakin memerah saja. Ya, selama ini memang selalu aku yang mendominasi tubuhnya.


Bagaimana aku tak tergila-gila coba?


Dia sangat polos, tapi ... dia selalu patuh dan mau melaksanakan apapun yang kuinginkan. Termasuk dalam hal-hal seintim ini.


Dia sudah berada di atasku. Hanin memeluk tubuhnya dan menunduk. Entah aku salah lihat atau karena terlalu menggilainya. Aku merasa tubuh Hanin terlihat lebih seksi dari sebelumnya.


"Begini caranya sayang."


Aku memegang tangannya untuk membimbingnya.Tangan Hanin gemetar, tubuhnya mulai berpeluh. Seksi sekali istriku ini, aku menatapnya tanpa berkedip. Tenggorokanku mengering karena terpesona.


Dia tampak ragu dan ketakutan, kulihat dia juga meringis dan berkaca-kaca. Ya, ini memang cukup sulit. Tapi ... aku tak bisa menundanya lagi.


"A-akh ...." Hanin merintih pelan. Aku segera memagut bibirnya.


Waktu terus berputar, peluh kian bergulir, menetas dan membasahi. Aku dan Hanin terus meraih dan mencapainya untuk mendapatkan titik itu.


Entah berapa kali aku memanggil namanya. Entah berapa lama aku memicu dan memacu. Entah berapa sering Hanin mengerat, mengejang dan menjerat tubuhku.


Hingga sampailah pada titik di mana aku dan Hanin seolah telah kehilangan separuh kewarasan dan jiwa kami. Tubuh kami berada di bumi, namun jiwa kami terbang bersama menuju nirwana.


Rasanya sungguh dahsyat dan luar biasa. Apa spontan mengerang-erang karena tak bisa mengendalikan diri.


.


Saat aku tersadar, tubuh Hanin masih berada di atasku. Dia terpejam nyaman, menjadikan tubuhku sebagai kasurnya. Aku mendekapnya, mengelus punggung polosnya, mencium puncak kepalanya, lalu aku memohon kepada-Nya agar kehangatan dan kebahagiaan ini tidak lekas berakhir.


"Sayang ... aku janji akan membawa kamu ke hadapan orangtuaku. Aku akan meresmikan pernikahan kita, percaya padaku, Hanindiya," gumamku.


"Jangan takut ya ... aku akan selalu ada di sisimu. Papa dan mama pernah mengatakan kalau mereka akan bahagia jika aku juga bahagia. Jika kebahagiaanku ada di kamu, aku yakin mereka bisa menerimamu." Walau tidak yakin, aku tetap mengatakan kalimat itu.


"I love you, Hanindiya."


Aku mencium kembali puncak kepalanya, lalu memejamkan mata seraya merasakan kehangatan dan kelembutan kulitnya yang menempel di tubuhku.


Dan bibir ini spontan tersenyum saat mengingat kembali setiap desiran dan kenikmatannya. Rasanya ... ingin kuulang lagi, lagi, dan lagi.


Daini Hanindiya Putri Sadikin, kamu adalah canduku.


...🍒🍒🍒...


Dewi Laksmi


"Bu bangun Bu, sudah siang."


Terdengar suara Inar dari luar kamar. Aku teperanjat. Saat kulihat jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Aku cepat-cepat bangun.


Sepulangnya dari apartemen si Daini, dan setelah melewati pertengkaran hebat itu, aku memang susah tidur. Baru bisa tidur menjelang Subuh. Jadilah kesiangan seperti ini. Gara-gara si Daini, hidupku jadi berantakan.


Aku bergegas ke kamar mandi.


Untuk sementara waktu, kamu boleh senyum Daini. Tapi sebentar lagi, senyuman itu akan hilang dari bibir kamu. Aku bahkan bisa menjadikanmu melupakan cara tersenyum karena mulai hari ini hidupmu akan terus didera penderitaan dan kepedihan.


Hari ini rencana untuk menghancurkan hidup si Daini akan segera dimulai. Aku akan ke rumah orang tua mas Zul dan menjalankan misiku.


Aku semakin marah saat mas Zul terang-terangan memutuskan untuk menginap di apartemen si Daini. Ancamanku sama sekali tak didengarnya. Mas Zul benar-benar telah dibutakan mata hatinya oleh si Daini.


"Kalau kamu nginap, kamu akan menyesal, Mas! Lihat saja besok! Kamu akan menyesali keputusan kamu!" teriakku kala itu saat kami berada di depan pintu unit apartemen si Daini.


"Apa yang akan kamu lakukan, Wi?! Aku peringatkan ya, bukan aku yang akan menyesal! Tapi kamu!" teriak mas Zul.


"Huuu, tega kamu, Mas! Beraninya kamu mencampakkan aku seperti ini! Ingat ya Mas, kalau aku memintanya, papiku bisa mengakuisisi perusahaan kamu dalam sekali kedipan mata!"


"Wi, yang memulai kerumitan ini kamu! Saat aku akan menceraikan Hanin, kamu melarangku! Sekarang kamu malah mengatakan kalau cerai atau tidaknya aku dengan Hanin tidak penting lagi karena kamu akan tetap menyakiti dia! Kalau itu keinginan kamu, maka kamu jangan pernah berharap aku akan menceraikan Hanin! Camkan itu, Wi!"


"Mas, kamu diguna-guna sama dia! Sadar Mas!" teriakku.


"Kamu yang harusnya sadar Wi! Lihat, apa yang kamu lakukan pada wajahku?! Kamu bukan papa dan mamaku, tapi kamu sudah berani menganiayaku! Apa kamu tak sadar telah menganiaya suami kamu?!"


"Aku tidak menganiaya kamu, Mas! Aku melakukannya karena membela diri! Alasannya ya karena kamu telah menganiayaku terlebih dahulu dengan cara menyebut nama si j a l a n g itu saat aku mencumbu tubuh kamu!"


"Dia bukan j a l a n g! Dia wanita baik-baik!" bela mas Zul pada saat itu sambil membalikan badan.

__ADS_1


"Wanita baik-baik katamu?! Cuih! Dia pantas kuludahi!"


Saat itu, mas Zul tak menoleh lagi. Hanya saja, kulihat tangan dia mengepal kuat, bahunya naik turun menahan amarah.


"Cepat pulang, ini sudah hampir pagi!" katanya. Lalu masuk kembali ke unit. Dugaanku benar, mas Zul ternyata mengetahui passwordnya.


"Kurang ajar!"


'Prak.'


Mengingat kejadian itu membuatku kembali emosi hingga aku membanting botol parfum milik mas Zul ke lantai kamar mandi sampai pecah berkeping-keping.


Wangi parfum menyeruak. Keadaan ini membuatku merindukannya tapi juga sangat membencinya. Namun di hati ini ... aku tetap mencintainya.


"ARGHHH!"


Bak orang gila, aku beteriak di kamar mandi sambil mengacak rambutku.


Lalu saat becermin, aku melihat bayangan si Daini tengah mengejekku. Wanita j a l a n g itu ternyata sangat cantik. Tubuhnya bahkan terlihat seksi saat di tidak memakai jilbabnya.


"ARGHHH!"


'PRAKK.'


Aku beteriak lagi dan melempar cermin kamar mandi dengan botol sabun. Rasanya, aku ingin menghancurkan wajah si Daini hingga tak bisa dikenali. Dari dulu, aku tidak suka disaingi dan tak pernah tersaingi. Apalagi oleh orang yang sama sekali tak sepadan dengan harkat dan martabatku.


Aku mengguyur tubuhku dengan air keran. Lalu menangis histeris. Sebenarnya, aku ingin menghancurkan mas Zul saat ini juga. Tapi aku belum berani melakukannya karena sangat mencintainya. Ya, surat perjanjian pranikah itu memang menguntungkanku, tapi ... jika mas Zul nekad?


"Huuu hwaaa, huuu, mamiii! Papiii!" teriakku.


.


Selesai mandi, bersiap dan bersolek, aku bergegas. Menyetir sendiri.


"Bu, yakin tak mau diantar?" tanya Radit.


"Tak perlu!" bentakku.


"Bu, maaf. Sarapannya sudah siap," kata Inar.


"Makan sama kamu saja, Nar! Aku tak beselera!" tandasku.


Lalu pergi begitu saja saat Radit dan Inar masih berpandangan dan kebingungan dengan sikapku.


Pagi ini, rencanaya, sebelum pergi ke kantor, aku mau ke rumah mertuaku dulu. Bibirku menyeringai karena sangat yakin jika rencanaku itu akan membuat mas Zul kaget dan tertekan.


Saat melewati kostan bekas si Daini, aku berhenti sejenak. Sedang mengenang kembali saat-saat di mana aku mencari informasi tentang si Daini pada ibu kost.


...🍒🍒🍒...


Akhirnya, aku sampai jua di rumah mertuaku. Yaitu kediaman papa Aksa Adiwangsa Antasena dan mama Elok Yuze Shaosheng. Aku disambut hormat oleh penjaga. Dibukakan pintu mobil, dan dipersilahkan masuk.


"Papa dan mama ada?" tanyaku pada seorang pelayan.


"Kalau tak salah, pak Aksa tidak ada. Kalau ibu ada. Mari kami antar kesana," jawab pelayan itu.


.


"Dewi? Hai, sayang."


Mama Yuze sudah keburu melihat kedatanganku. Dari tangga ia bergegas turun.


Kami langsung berpelukan. Dan aku tak kuasa menahan tangis. Mama Yuze jelas keheranan.


"Huuu."


"Mama, huuuks."


"Lagi berantem sama Zul?" tanyanya.


"Mama, ki-kita jangan bicara di sini. Banyak pelayan," kataku.


"Ya sudah, kita ngobrol di kamar Mama, kaget Mama, Wi. Kok tumben kamu menangis? Tunggu, ini mata kamu sembab begini? Apa bekas nangis juga?"


"I-iya, Ma."


Kami melangkah cepat menuju kamar. Di kamar mama, aku kembali terisak.


"Sudah sayang, ayo cepat cerita." Mama Yuze memelukku.


"Aku mau bicara sama papa juga, Ma. Apa papa Aksa ada di rumah? Huuu, huuks."


"Kebetulan papa lagi tak di rumah, sayang. Kemarin diundang jadi pembicara in house training ke luar kota. Rencanya akan pulang pulang lusa. Sama Mama saja ceritanya. Nanti Mama akan ceritakan lagi sama papa. Ada apa, Wi? Cepat katakan!"


"Huuu, Ma ...."


"Jangan bikin Mama penasaran, Wi."


Aku menghela napas. Mengusap airmataku. Mama Yuze mengelus-elus bahuku.


"Ma ... ma-maaf kalau aku cerita masalah ini sama Mama. Aku sudah berusaha untuk diam dan sabar. Tapi aku tidak bisa, Ma. Aku bukan wanita penyabar seperti Mama. Aku wanita lemah, huuu huuu."


"Wi, katakan sayang. Katakan saja." Mama Yuze menatap khawatir. Sudut matanya mulai berkaca-kaca.


"Mas Zul, Ma ... mas Zul."


"Iya, ada apa dengan Zul? Zul kenapa? Ringan tangan sama kamu?"


"Bu-bukan Ma. Mas Zul izin sama aku ma-mau ...."


"Mau apa?" Mama tak sabaran.


"I-izin mau po-poligami, Ma."


"Apa?! Poligami?!Astaghfirullah, Zul! Kamu serius, Wi?!" Mama menatapku, seolah tak percaya.


"Se-serius, Ma. Untuk apa aku berbohong? Huuu."


"Ya ampun, Zul! Terus kamu izinkan?! Mau poligami sama siapa dia?! Kamu kenal sama wanitanya?!"


"Huks, a-aku awalnya belum beri izin, Ma. Tapi semenjak itu, dia jadi jarang pulang. Sikapnya juga berubah. Tak manis lagi, Ma. Dia dingin sama aku. Sering pulang malam, dan ma-maaf Ma, maaf karena aku mengatakan ini. Sa-saat kami berhubungan intim, Mas Zul seperti tidak beselera."


Mama Yuze melongo, panik.


"Aku sering melihat dia saat pulang ke rumah rambutnya sudah basah. Terus bajunya bau parfum wanita, Ma. Huuu, huks."


"Wi," mama Yuze mendekapku kembali.


"Sejak kapan Zul seperti itu? Kurang ajar tuh anak! Beraninya!" Gigi mama Yuze gemeretak.


"Kapan waktunya, aku lupa, Ma. Yang jelas sudah lumayan lama."


"Jadi selama itu kamu memendamnya dari semua orang?"


"I-iya, karena sudah tak sanggup lagi. Aku juga tak cerita sama papi dan mamiku karena aku tak mau merusak citra mas Zul di hadapan mami dan papiku. Tapi karena sudah tak tahan lagi, aku terpaksa becerita sama Mama. Dan karena aku sangat mencintai mas Zul, a-aku terpaksa mengizinkan mas Zul poligami, Ma."

__ADS_1


"A-APA?! K-kamu serius?!" Mata mama Yuze membelalak.


"Se-serius, Ma. Kurasa lebih baik diizinkan saja daripada kami terus bertengkar. Aku mau belajar ikhlas dan sabar untuk menerima keputusan mas Zul. Tapi Mama tenang saja, kalaupun aku mengizinkan, aku tak akan membiarkan mas Zul menikah secara resmi dengan wanita itu. Huuu, ma-maafkan aku, Ma."


"Huuu, Wi ... terbuat dari apa hati kamu, Nak? Beruntung sekali mama memilih kamu sebagai pendamping Zul. Hati kamu mulia sekali sayang. Mama tak sangka kamu mau dipoligami. Mama salut sama kamu, Nak."


"A-aku sebenarnya tak ikhlas sepenuhnya Ma. A-aku hanya sedang belajar untuk ikhlas."


"Huuu, Wi ... Mama sangat sayang sama kamu. Maaf karena Zul telah melukai hati kamu. Sekarang, katakan apa yang bisa Mama lakukan untuk kamu? Cepat katakan, Nak. Apa Mama harus memisahkan wanita itu dari Zul? Apa kamu tahu identitas wanita itu?"


"Ma ... a-ku tak ingin menyakiti putra Mama. Aku hanya ingin balas dendam pada si pelakor itu. A-apa boleh? Hiks, huks."


"Sayang, pelakor memang harus diberi hukuman agar dia sadar. Ada kok, undang-undang yang bisa menjerat si pelakor. Kita tinggal konsultasi saja sama pengacara. Lakukan apa yang kamu mau, Nak. Mama akan dukung."


"Ta-tapi, Mak. Di dalam hati kecilku ... a-aku ingin jadi wanita baik, a-aku ingin ikhlas menerima pelakor itu sebagai maduku. Huks, a-aku tak ingin menyakiti dia, Ma. Walau aku sangat membencinya. Ta-tapikan ... pe-pelakor juga manusia, Ma."


"Apa? MasyaaAllah, Dewi. Mama terharu punya menantu sholehah seperti kamu. Huuu, Wi ... kamu benar-benar wanita yang sangat luar biasa."


Mama Yuze memujiku. Ia memelukku. Di balik punggung mama, dan tanpa dilihat oleh siapapun, bibirku tersenyum licik.


Berhasil.


Simpati dari mama sudah aku dapatkan. Papa Aksa nanti juga akan mengikuti mama Yuze dengan sendirinya. Posisiku di atas angin. Sementara posisi si Daini ada di bawah sandalku.


Dengan tetap membiarkan si Daini dan mas Zul bersama, maka posisiku akan selalu diuntungkan. Sementara mas Zul dan si Daini alias si j a l a n g itu, akan terus mendapat tekanan dari berbagai pihak.


Bahkan saat aku diampun, si Daini akan tetap tertekan. Kenapa? Karena mama Yuze dan papa Aksa pasti akan selalu berada di pihakku dan tak mungkin menerima si Daini. Rasakan kamu, Daini!


Siapa suruh kamu berani bermain api dengan sang Dewi. Aku Dewi Laksmi, wanita yang terlahir dari sendok emas, tak mungkin bisa dikalahkan! Aku bukan sainganmu, Daini!


...***...


Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Hmm, lagi masak apa sayang? Harum sekali."


Aku yang sedang membuat tumis tauge, terkejut. Mas Zul mendatangiku, memelukku dari belakang.


"P-Pak, ja-jangan ganggu," tolakku.


"Tapi aku mau mengganggumu." Malah meletakan dagunya di leherku. Lalu mengecupi leherku, hingga aku spontan mengatakan ....


"Ahh ... emh ...."


"P-Pak, hentikan." Aku menggedikkan bahu.


"Tidak mau!" Malah memelukku semakin erat. Aku terpaksa mematikan kompor portable.


"Kenapa A-Anda belum siap-siap? Ma-mau kerja, kan?" Aku jadi gelagapan.


"Tenang saja, ini masih pagi. Masih ada banyak waktu untuk bareng sama kamu, gangguin kamu dulu. Hahaha," tawanya nyaring sekali.


"Cepat sarapan," titahku.


Aku mendorong bahunya agar segera ke meja makan. Aku sudah menyiapkan menu sarapan alakadarnya. Omelet campur ikan tuna, susu kedelai hangat, rebusan kentang, dan potongan buah apel.


"Wah, cantik sekali hidangannya, secantik yang membuatnya," katanya. Sambil memperhatikan menu yang kusajikan.


Hari ini, aku belum masuk kerja karena di surat sakit, aku baru masuk kerjanya besok.


"Sarapan bersama dong sayang," ajaknya.


"Aku mau makan sama tauge, Pak. Nunggu dingin dulu," jawabku.


"Tauge? Wah wah wah, tauge itu baik untuk kesuburan sayang. Konon bisa meningkatkan libido juga," katanya sembari tersenyum.


"Ma-masa sih? Aku baru tahu."


"Hahaha, aku juga katanya, sayang."


Ia mulai menikmati menu sarapan yang kusiapkan sambil terus menatapku. Aku jadi salah-tingkah karena ditatap terus.


"Emm, a-apa Bapak hari ini mau menginap lagi?" tanyaku. Karena bingung mau ngobrol apa, aku jadi menanyakan prihal itu.


"Menginap di mana?" Malah balik bertanya.


Aku menunduk. Tuh 'kan? Jadi bingung lagi.


"Hari ini, rencananya, aku mau pulang ke rumah mama, mau menginap di sana."


"Sa-sama bu Dewi?" tanyaku.


"Tidak, Hanin. Hanya aku, aku tidak akan menemui Dewi dulu sebelum di meminta maaf. Dia sudah berani kasar, dia menganiayaku dan belum minta maaf."


"Oh, tapi Anda akan bertemu bu Dewi di kantor, kan?" Aku membalas tatapannya sejenak. Lalu menunduk lagi.


"Ya sih, kenapa memangnya? Apa kamu ada rasa cemburu?" tuduhnya sambil mendekatkan kursinya ke kursiku.


"Apa? Ti-tidak. Untuk apa aku cemburu?!" sangkalku dengan suara sedikit keras. Aku sendiri sampai kaget dengan suaraku.


"Hahaha, kamu lucu sekali." Dia mengacak rambutku yang masih basah.


"Oiya, apa kamu tahu? Aku sudah mendapat jawaban dari tubuh kamu?" bisiknya.


"A-apa?"


Pak Zulfikar mendekat. Memeluk bahuku.


"Tubuh kamu menyukaiku," bisiknya lagi.


"I-itu hanya efek hormonal," sangkalku.


"Hahaha, benarkah?" godanya. Ya ampun, aku teramat malu.


"Jangan bahas lagi!"


Akupun beranjak. Mau rapi-rapi dapur. Dia masih terkekeh sambil terus menatapku.


"Jangan lihat aku!" teriakku.


"Haissh, kamu menggemaskan sekali."


Malah mengejarku, menangkap tubuhku, lalu dihimpitkan ke dinding. Pak Zulfikar juga mencekal kedua tanganku ke atas kepala. Kemudian ....


"Mmph ...." Dia memagut bibirku, awalnya sangat lembut, namun selanjutnya ... terasa begitu rakus dan menuntut.


Lalu dia meletakan satu tanganku di antara dua kakinya. Aku terkejut, mataku membelalak. Aku merasakan sesuatu.


Tidaaak.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Menurut reader, apakah neng Daini sudah mencintai pak Zulfikar?...


...Mohon maaf terlambat up. Kasus omicron di daerah nyai kembali meningkat. Ada rekan sejawat nyai yang positif juga. Ini menyebabkan ada perubahan jadwal kerja nyai di dunia nyata. Berdampak juga pada jadwal nyai mengintai TBR dan AGAPE....

__ADS_1


...Oiya, yang belum berkunjung ke AGAPE, nyai tunggu ya. Genre AGAPE fiksi modern, ada actionnya juga. Ada bucinnya gak nyai? Uh, di AGAPE segala macam rasa ada di sana. Haturnuhun atas dukungannya....


...Mohon doanya agar nyai diberi kesehatan, dan semoga reader juga selalu dalam keadaan sehat walafiat. Aamiin....


__ADS_2