Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Cekcok


__ADS_3

'Ting tong.' Interkom kembali berbunyi.


"Waduh Dai, ada tamu. Gua ngumpet di mana?" Kak Listi panik.


"Kak, Kakak tenang saja, untuk apa ngumpet? Kakak 'kan tamuku."


"Gak biasa Dai. Gua harus ngumpet, gimana kalau yang datang laki lu atau bu Dewi?! Iyyy, seram gua, Dai."


'Trak.'


Karena aku lama membukanya. Pintu terbuka. Jelas sekali siapa yang datang pasti pak Zulfikar. Karena hanya dia yang tahu sandinya selain aku.


"Yah, Dai. Keciduk dah, gua."


Kak Listi mematung. Langsung sok-sokan anggun. Duduk di sofa dengan gaya yang manis. Padahal, sebelumnya sempat jumpalitan di atas sofa.


"Assalamu'alaikuum," kata pak Zulfikar. Saat melihat kak Listi, tatapannya langsung dingin.


"Wa'alaikumusalaam," aku mendekat, mengambil tasnya. Lalu meraih tangannya untuk kusalami.


"Selamat datang, Pak. Hehehe, saya kesini baru kok. Daini telepon saya, jadi saya ke sini deh." Kak Listi berbohong.


"Oh, terima kasih sudah menemani istriku. Sekarang kamu boleh pergi," katanya. Sambil memelukku. Ya ampun, aku jadi malu.


"Pak, aku masih mau ngobrol sama Kak Listi. Boleh ya kalau dia pulang malam?"


"Oh, terserah."


Dia kaku sekali. Aku jadi sedikit kesal. Kak Listi nyengir kuda saat pak Zulfikar pergi ke kamar meninggalkan kami.


"Dai, benar deh. Gua mending pulang." Kak Listi bersiap.


"Kak, kok buru-buru banget?"


"Dai, lu gak lihat apa wajah laki lu kaya gimana? Jelas sekali kalau dia gak suka sama aku. Seram gua lihat wajah dinginnya. Ganteng sih ganteng, tapi gak dingin dan jutek gitu juga kali."


"Kak, pak Zulfikar baik kok."


"Ya, gua tahu, Dai. Dia 'kan bos gua juga. Tapi dia baiknya cuma sama lu. Sudah lah, gua pulang ya." Kak Listi benar-benar bersiap. Dia sudah memakai kembali kaus kakinya.


"Lu kalau ada apa-apa cepat hubungi gua. Oiya Dai, lu harus sabar ya. Secara posisi lu gak menguntungkan banget. Kalau yang gak tahu ceritanya, pastinya akan membenci lu. Saran gua, biar dikata bu Dewi baik dan mau menerima lu, lu harus tetap hati-hati, oke?" sambil memelukku.


"Ya, Kak," jawabku lirih.


"Dai, bu Dewi dan pak Zulfikar punya saham di beberapa televisi terkenal Indonesia. Lu jangan gegabah ya. Sebab, kalau lu salah dikit saja, yang membenci lu bisa seluruh warga Indonesia."


"Ya Kak." Aku tersenyum getir. Dari awal, aku tahu diri, kok. Bu Dewi mutiara, sedangkan aku ... aku hanya serpihan pasir.


Kak Listipun pergi setelah mengambil beberapa camilan dari kulkas. Saat aku masih di kostanpun, dia memang begitu, kalau di dalam kulkasku ada yang disukainya, pasti akan diambil. Nanti, dia tiba-tiba membelikan aku tas, jibab, dan lain-lain. Padahal, aku tidak pernah memintanya.


"Gua pergi dulu, hati-hati ya, Dai. Pak Direktur lihat lu sudah kaya kucing garong lihat pepes ikan, hahaha," celetuk Kak Listi sebelum dia pergi.


Aku diam saja, tapi sambil mencubit pipi kak Listi. Aku mengantarkan kak Listi sampai depan lift.


...***...


Saat masuk ke kamar, aku tak melihat pak Zulfikar. Hanya ada jas kerjanya yang digantung di hanger. Aku mencarinya ke kamar mandi. Tapi, kamar mandi juga pintunya terbuka, dan tidak ada beliau di sana.


"Pak Zufikar," panggilku. Serius, aku panik.


"Paaak!"


Langsung memegang dadaku. Sekhawatir ini ternyata aku terhadapnya.


Pak Zulfikar?


Saat angin dari luar berhembus sedikit kencang, tirai balkon menyingkap. Dan aku melihatnya tengah melamun di balkon. Memandang nun jauh ke sana dengan tatapan kosongnya.


Walaupun hati ini merasa takut, aku memaksakan diri untuk mendekat. Aku berjalan pelan, menunduk, memfokuskam pandangan pada lantai yang kupijaki.


"A-Anda di sini? Aku tadi cari-cari Bapak," ucapku.


Badan ini mulai terasa lemas. Serius, sedikit memandang ke luar, membuatku merasa jika lantai yang kuinjak sedikit begerak.


"A-aku duduk ya, Pak. Aku takut." Aku segera berjongkok saat dia menolehku.


"Kenapa ke sini?" tanyanya. Kembali menatap ke sana. Dia melamun lagi.


"Pak, a-aku mengira Anda sedang melamun, ja-jadi aku khawatir," jelasku sambil menengadahkan kepala untuk menatapnya.


"Ya, aku memang sedang melamun, aku sedang bingung sayang. Hmm," dia menghela napas. Tetap menatap ke sana.


"Pak, a-apa yang bisa kulakukan untuk membantu Anda? Apa kebingungan Anda akibat dari keberadaanku?" Aku terus menatapnya. Mata ini mulai berkaca-kaca.


"Hanin."


Pak Zulfikar berjongkok, dia lantas membersihkan lututku yang berdebu. Karena tidak pernah ke balkon, lantainya sedikit kotor.


"Maaf Pak, a-aku tak pernah ke sini. Tak pernah nyapu di sini, ta-takut," ungkapku.


"Tidak apa-apa sayang. Nanti aku akan menyuruh orang untuk membersihkan balkon. Emm, sekalian kaca-kacanya."


"Jangan melamun Pak. Apa lagi di sini. Aku takut Anda kemasukan setan."


"Apa?" Dia tersenyum.


"Terus, kalau sudah aku kemasukan setan, apa kamu mengira aku akan loncat?"


"Ehm, tidak juga sih. Tapi, lebih baiknya jangan melamun, kan?" sanggahku.


"Hmm, ya juga sih. Ya sudah, maaf ya. Ayo bicara di dalam." Di memegang tanganku.


"Berdiri pelan-pelan." Aku patuh. Berdiri perlahan saat dia masih berjongkok.


"Aaa! Bapak mau apa?!"


Aku kaget karena dia tiba-tiba menyingkap rokku. Aku memukul bahunya.


"Aku mau lihat, apa kamu pakai setret atau tidak? Eh, ternyata pakai. Ya sudah, ayo kita ke dalam." Dia derdiri, lalu menuntunku ke dalam.


"A-apa? Jadi hanya untuk itu? Sangat tidak masuk akal mengecek rokku secara tiba-tiba! Di balkon lagi!" gerutuku, kesal. Kaget, kan?


"Maaf sayang, kukira kamu tidak pakai setrit. Tadinya, kalau tidak pakai, mau ---." Dia tidak melanjutkan perkataannya. Dan akupun tak ingin bertanya alasannya.


Sesampainya di kamar, aku segera membuka dasinya. Lalu kemejanya.


Deg, tanganku terhenti sejenak. Ada tanda cinta lagi di dadanya. Membekas dan begitu merah. Tanda itu lebih dari satu.


Lalu ada sesuatu yang seolah menghantam dadaku. Dengan tangan sedikit gemetar, aku lanjut membuka kancingnya. Aku sedang pura-pura tak melihatnya. Aku harus tahu diri, jika yang berhak atas tubuhnya bukan hanya aku. Ada wanita lain selain aku. Ada bu Dewi.


Justru akulah yang tiba-tiba hadir dan meminta hak dari orang lain. Sampai aku membuka sabuknya, tangan ini masih gemetar. Aku menduga mereka telah bercinta di kantor. Membayangkan hal itu, tangan ini kian gemetar saja. Kepalaku kian menunduk.


"Sayang, kenapa?" Pak Zulfikar memegang tanganku.


"Tidak apa-apa."


"Apa kamu melihat tanda di tubuhku? Hanin ...." Dia lantas menengadahkan kepalaku. Kedua tangannya menangkup pipiku.


"Kalau aku melihat, memangnya kenapa?" kataku sambil memalingkan pandangan.


"Hanin, lihat aku sayang. Apa saat melihatnya kamu merasa biasa-biasa saja? A-apa tidak ada perasaan cemburu sedikitpun? A-aku dan Dewi melakukan itu sayang. K-kami bercinta. Emm, di-di kantor. Apa kamu benar-benar tak cemburu?" desaknya.


Apa maksudnya dia mengatakan itu? Apa untuk membuatku semakin terluka?


"Tidak Pak! Aku tidak cemburu! Untuk apa aku cemburu?! Aku sadar posisiku! Aku hanya istri simpanan Anda! Hanya istri siri yang bahkan tidak akan pernah dipandang sebelah matapun oleh keluarga Anda! Harusnya Anda tak perlu menjelaskannya! Huuuks." Aku mengatakan tak cemburu tapi nada bicaraku malah tinggi dan aku juga menangis.


"Sayang, maaf." Pak Zulfikar mendekapku.


"Aku mengatakannya karena aku berharap kamu cemburu. Jika kamu cemburu, itu artinya, kamu mencintaiku, Hanin."


"Pak ...." Aku menatapnya lekat.

__ADS_1


"Bukannya aku tidak ingin mencintai Anda, tapi ...."


"Tapi apa Hanin? Jadi, apa benar kamu mencintaiku?"


"Pak, a-aku takut."


"Apa yang kamu takutkan?"


"Jika aku mencintai Anda, aku takut hati ini semakin terluka. Jika aku mencintai Anda, aku takut Anda nekad, lalu meninggalkan bu Dewi demi aku si wanita tak seberapa yang jika dibandingkan dengan bu Dewi sungguh tidak ada seujung kukunya, huuks ...," jelasku.


"Hanin ...." Dia mendekapku kian erat.


"Huuu, ja-jangan sampai Anda melepas mutiara yang sudah ada di genggaman demi batu tak bernilai sepertiku."


"Tidak Hanin. Jangan mengatakan itu. Bagiku, justru kamulah yang paling kemilau. Di hatiku ... kamu sangat berharga Hanin. Kamu lebih dari apapun, bagiku kamu segalanya, Hanindiya."


"Tidak Pak! Jangan bodoh!" bantahku. Aku melepaskan diri dari dekapannya.


"Hanin," katanya.


"Apa aku boleh mengatakan agar Anda jangan mencintaiku?"


"Boleh saja. Tapi, aku akan tetap mencintai kamu," jawabnya.


"Pak, tolong pikirkan masa depan Anda dan keluarga Anda! Anda bukan orang biasa. Ingat Pak, apa yang Anda lakukan bisa berdampak untuk perusahaan Anda dan keluarga Anda. Jangan sampai Anda mengorbankan kebahagiaan banyak orang hanya demi aku! Hanya demi melampiaskan nafsu Anda pada tubuhku!" tegasku sambil mengusap air mata.


"Hanin! Kamu lancang sekali mengatakan itu!" bentaknya. Memegang kuat pergelangan tanganku.


"Tapi yang kukatakan benar, kan?!" teriakku sambil berusaha menepis tangannya.


"Hanin! Dengar ya! Nafsu dan cinta itu beda! Jangan bicara sembarangan tentang perasaanku!" Dia memegangku semakin kuat, bahkan terasa sakit.


"Lepas! Anda menyakiti tanganku! Aku hanya mengira andai saja wajahku jelek, sangat gendut, tubuhku tidak seperti ini, dan kulitku tidak seputih dan semulus ini, mungkin Anda tidak akan bernafsu dan langsung menceraikanku! Ya 'kan?" tuduhku lagi.


"Hanin!" teriaknya sambil menghempas tanganku. Pak Zulfikar sepertinya sangat marah.


"Memangnya kenapa kalau aku menyukai tubuh kamu, hahh?! Salahnya di mana kalau aku memang mengagumi semua hal yang ada tubuh kamu?! Aku pria normal, Hanindiya! Aku tak buta! Aku bisa melihat kalau kamu memang cantik dan seksi! Puas kamu?!" teriaknya.


Aku menunduk, menangis, sambil memegang perutku dan berharap agar pertengkaran ini tidak berpengaruh buruk pada kehamilanku.


"Kamu harus tahu, Hanin! Aku mecintai kamu bukan karena nikmatnya tubuh kamu saja! Ada rasa lain yang lebih bernilai daripada rasa itu! Ya jujur, aku memang sangat menyukai tubuh indahmu! Tapi selain itu, aku juga menyukai perangaimu, penampilanmu, kepribadianmu, dan tutur bahasamu! Selain itu, aku juga menyukai keluargamu! Faham?!" teriaknya.


"Pak ...," lirihku. Aku tahu dia tersinggung. Aku menyesalinya.


"Kalau hanya demi nafsu belaka! Jika aku mau, aku bisa membayar banyak gadis ataupun wanita nakal untuk menjadi budak se-ksku! Tapi aku tidak melakukannya karena aku punya agama! Dan aku juga dididik untuk jadi manusia yang beradab dan bermoral!"


"Pak, maaf. Ini terlalu melebar, aku ti ---."


Tidak ada maksud menyinggung Anda sampai ke arah itu, lanjutku dalam hati karena dia menyelaku.


"Aku bahkan masih perjaka saat meniduri kamu! Jangan kamu kira karena banyak uang aku bisa serendah itu! Ya, silahkan saja kalaupun kamu mau menuduhku sebagai maniak se-ks! Tapi kamu harus tahu kalau aku hanya terobsesi dengan tubuh kamu! Camkan itu, Hanindiya!" teriaknya lagi sambil mengatur napas.


"Pak, Anda salah faham. Aku tahu Anda pria baik dan berasal dari keluarga yang baik-baik. Pak, maaf kalau ada kata-kataku yang menyinggung perasaan Anda." Aku mendekatinya.


Tapi Pak Zulfikar malah berlalu, dia berjalan cepat meninggalkanku. Ia keluar kamar dan menutup pintu dengan kekuatan maksimal.


'BRUGH.'


Aku sampai terlonjak saking kagetnya.


"Pak!"


Aku mengejarnya sampai batas pintu. Lalu mematung dan menangis. Betapa bodohnya diri ini. Suamiku baru saja pulang kerja, tapi ... aku malah menyinggung perasaannya hingga dia marah.


Aku menyusulnya. Terserah dia mau semarah apa. Yang penting, aku harus menjadi orang pertama yang meminta maaf.


"Pak Zulfikar, Pak!" panggilku.


Di ruang keluarga, aku tidak menemukan dia. Aku ke ruang olah raga, dia juga tidak ada di sana. Aku berlari ke dapur.


...***...


"Pak, a-aku minta maaf." Dia diam saja.


"A-Anda mau makan apa? A-aku buatkan," tawarku. Dia tetap diam.


"A-aku buatkan jus jeruk ya."


Aku segera membuka kulkas. Mengambil tiga buah jeruk untuk diperas.


Lalu aku menarik kursi untuk mengambil blender yang terletak di barisan atas nakas.


Dia melirik saat aku naik ke kursi. Aku berjinjit untuk mengambilnya. Serius, ini sedikit sulit.


Pak Zulfikar menatap kakiku, dia menatap dari bawah lanjut ke atas. Dia memperhatikan rokku yang tentu saja semakin terangkat saat aku berjinjit.


"Turun!" teriaknya.


"A-aku mau mengambil blender, Pak."


"Hanin! Kataku turun, ya turun!" Dia menarik rokku hingga melorot. Untung saja aku memakai setrit.


"Pak! Kenapa harus menarik rokku?!" Jelas aku kesal.


"Kamu sengaja 'kan naik-naik ke kursi dan berjinjit-jinjit supaya aku bisa melihat kaki dan pahamu?!" teriaknya. Matanya fokus ke tubuh bagian bawahku.


"Astaghfirullah, Pak. Anda berlebihan!"


Aku tak peduli, tetap mengambil blender tanpa memakai kembali rokku. Enak saja dia mengatakan aku menggodanya! Padahal, jelas-jelas aku hanya ingin mengambil blender. Dasar laki-laki!


"Haish, Hanindiya! Kamu itu ya ---." Dia mengeratkan gigi. Lalu ....


'PLAK.' Dia berdiri dan memukul bokongku.


"Awh! Pak Zukfikar! Anda kenapa sih?!"


Aku terkejut. Memeluk blender sambil membelalakan mata.


"Kenapa katamu?! Penampilanmu menusuk mataku! Kamu tak sadar?!" teriaknya.


"Apa?!" Aku turun perlahan. Dia spontan membatuku turun dari kursi.


"Hati-hati!" sentaknya.


Aku meletakan belender di atas meja makan. Lalu pergi.


"Hanin! Mau ke mana kamu?!" teriaknya.


Aku diam saja. Syukurlah, dia tidak menyusulku. Aku ke kamar untuk mengganti baju simalakama ini dengan gamis. Aku bahkan memakai cadar.


Lalu kembali lagi ke dapur.


...***...


"Ha-Hanin?" Pak Zulfikar melongo.


"Mau ke mana kamu?!" Memegang tanganku.


"Tidak mau ke mana-mana!" ketusku.


"Kenapa pakai baju ini?" Nada bicaranya mulai merendah.


"Takut dituduh menggoda Anda lagi," jawabku. Lalu mengupas jeruk dan tak memedulikannya.


"A-apa? Hanin, b u g i l pun kamu halal asalkan di depanku," katanya sambi mendekat.


"Mau pakai es tidak jusnya?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Hanin, buka gamisnya, pakai baju yang tadi, oke?" Sekarang dia memelukku.


"Tidak mau!" tegasku.

__ADS_1


"Tadi kamu mau meminta maaf 'kan? Oke, aku memaafkan kamu, tapi jangan menuduhku sembarangan lagi," katanya. Menghela napas lalu duduk kembali.


"Terima kasih telah memaafkanku. Ini jusnya. Yakin tidak mau pakai es?" Aku menghidangkannya.


"Tidak perlu sayang, jeruknya dari kulkas, kan?"


Sekarang memanggil sayang lagi. Mungkin sudah tidak marah.


"Emm, A-Anda mau makan apa?" Akibat efek percekcokan itu, aku jadi kaku.


"Aku mau makan di luar," katanya.


"Oh," timpalku.


"Sama kamu," tambahnya.


"A-apa?" Aku kaget.


"Mama mengajakku dan Dewi untuk makan malam, dan aku ... aku ingin membawa kamu. Tadi, aku melamun karena memikirkan itu. Aku khawatir mama menyakiti perasaan kamu. Jadi, aku melamun."


"Begitukah? P-Pak bagaimana kalau aku tak perlu ikut?"


"Hanin," mendekat. Memegang tanganku.


"Aku tidak bisa selamanya menyembunyikan kamu. Hanin, kamu bukan istri simpananku. Kamu adalah istri yang aku cintai. Aku berhak memperjuangkan apapun yang ingin aku miliki. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Ya, aku memang sudah memiliki kamu. Tapi, aku juga ingin orang-orang tahu kalau kamu adalah milikku."


Aku terdiam, aku belum siap bertemu mama pak Zulfikar.


"Pak, a-aku takut, aku tidak percaya diri."


"Hanin, aku juga takut, aku juga tidak percaya diri. Tapi ... karena aku sangat mencintai kamu, aku akan menerjang apapun rintangannya."


"Pak, tidak perlu seperti ini. Aku dicintai Anda saja sudah bersyukur. Aku rela melakukan apapun asalkan hubungan Anda dan keluarga Anda baik-baik saja. Jangan sampai keberadaanku mencoreng nama baik Anda dan keluarga Anda."


"Aku tidak apa-apa tidak diakui. Asalkan Anda dan keluarga Anda tidak berselisih gara-gara aku. Pak, sampai detik ini, aku memang masih ragu untuk menyatakan cinta pada Anda. Tapi ... aku rela melakukan apapun demi kebaikan dan kebahagiaan Anda walaupun dengan cara menyakiti perasaanku sendiri," jelasku seraya berurai air mata.


"Sa-sayang ... aku tidak mungkin selamanya menyakiti perasaan kamu." Pak Zulfikar meraih tubuhku. Dia memelukku dan terdiam untuk beberapa saat.


Aku bisa mendengar napasnya yang cepat dan menderu-deru. Dia seperti menahan tangisan yang menyesakkan dadanya. Aku membalas pelukannya.


Kalau dia tahu aku mengandung, apa dia akan bahagia? Apa kehamilanku dapat mengurangi kesedihannya?


Tapi ... aku tak yakin.


Bagaimana kalau kehamilanku justru semakin membebaninya?


"Sayang, kita siap-siap ya. Kita ke butik muslimah."


"Ke butik? Untuk apa, Pak?"


"Kamu harus memakai baju yang berkelas."


"A-apa bu Dewi juga ke butik?"


"Ya sayang, dia pasti ke butik langganannya."


"Bapak tidak menemani bu Dewi ke butik?"


"Aku inginnya menemani kamu."


"Tidak bisa begitu, Pak. Anda harus adil."


"Hanin, hari ini aku sudah memberinya nafkah lahir dan batin. Sekarang aku giliran bersama kamu," tegasnya.


"Begitu ya, apa ke butik itu sebuah keharusan? Kalau tidak harus, boleh 'kan kalau tidak perlu ke butik? Baju pembelian Anda masih banyak yang belum aku pakai."


"Tapi sayang, aku ingin kamu memakai baju yang spesial."


"Pak, semua pemberian Anda itu spesial. Tak perlu ke butik ya."


"Emm," dia menggulirkan bola matanya. Sedang berpikir.


"Oke, kita tidak ke butik. Asalkan tolong lakukan sesuatu untukku."


"Se-sesuatu? A-apa itu? Aku harus melakukan apa?"


Serius, pikiranku sudah kemana-mana. Aku berpikir harus melakukan itu lagi. Adegan memalukan yang tadi pagi.


"Tolong kamu tolak ajakan bertemu klien dengan paklikku."


Oh, tenyata bukan yang aku pikirkan.


Astaghfirullah. Ada apa dengan dunia khayalku?


Sepertinya sudah mulai terkontaminasi kemesumannya.


"Sayang, kenapa melamun?"


"Emm, ma-maaf, kenapa pak Aryo harus bertemu klien denganku?"


"Sayang, pokoknya kamu langsung tolak saja. Aku tidak mau kamu bertemu klien pria. Mana duda lagi. Dia duda beranak satu. Konon, dia juga sedang mencari calon istri," tegasnya.


"O-oya?" Aku mengulum senyum.


"Janji mau menolaknya?"


"Bukankah aku harus profesional?"


"Sayang, tapi aku tidak suka."


"Begini saja, kalau iya paklik ingin mengajakku bertemu klien, aku akan datang bersama kak Listi."


Pak Zulfikar terdiam.


"Baiklah, aku pikir-pikir lagi. Sekarang, aku mau jus itu," katanya.


"Silahkan." Aku mendekatkan gelas berisi jus ke arahnya.


"Mau disuapi," katanya lagi.


"Oke." Aku meraih sendok.


"Jangan pakai sendok," protesnya.


"Oke." Aku mengambil gelas jus, lalu didekatkan ke bibirnya.


"Bukan seperti ini Hanin."


"Hahh? Lalu seperti apa, Pak?"


"Aku ingin meminum jus dari bibir kamu. Dari mulut kamu sayang," katanya sambil tersenyum.


"A-apa?!" Mataku langsung mengerjap berulang-ulang.


"Cepat lakukan sayang, apa kamu tidak bisa melakukannya? Kalau tidak bisa, apa perlu aku ajari?" Membuka cadarku.


"A-apa?"


Aku masih kebingungan. Ini terlalu dramatis dan mengada-ada. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jus jeruk mouth to mouth. Ya ampun, aku berdebar-debar. Aku malu melakukannya, tapi ... aku penasaran.


"Ayo dong sayang," desaknya.


Aku menghelas napas.


Haruskah drama percekcokan tadi berakhir dengan adegan romantis?


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Apa neng Daini mau melakukan keinginan pak Zulfikar? Kira-kira, kesan pertama mama Yuze saat bertemu dengan neng Daini seperti apa ya? Uhh, jadi semakin penasaran....


...Jika berkenan, berikan votenya untuk TBR ya. Berharap, karya nyai bisa lebih dikenal oleh pencinta MT/NT. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2