
"A Abil."
Aku kembali memanggilnya sambil melambai-lambaikan tangan. Dia mengerjap lalu memegang tanganku.
"Masa sama pacar enggak salim? Salim atuh," katanya. Memosisikan tanganku agar bersalaman.
"Ya, sudah. Salim."
Akupun patuh. Menarik tangannya dan diletakan di keningku. Yang penting salaman, enggak apa-apa 'lah posisi salamannya salah juga. Ya ampun, tangannya wangi dan terlalu lembut untuk seorang pria yang berprofesi sebagai polisi. Lantas ia menarik tanganku menuju pantri. Sudah kaya kantor milik pribadi saja.
"Kita mau ke mana?" Dengan bodohnya aku bertanya. Padahal, aku sudah tahu ini mau ke pantri.
"Mau ke pantri 'lah sayang, masa mau ke kamar? Hehehe, Aa sengaja menyiapkan makanan untuk kita di pantri. Maksudnya supaya enggak acak-acakan."
"Oh, ya sae (bagus), A."
.
Di meja makan yang ada di pantri, sudah tersedia menu-menu yang dipesannya. Terdiri dari dua porsi sego bebek, dua porsi bakso, kentang goreng, steak, kurma, dan jus. Ada parsel buah juga.
"Ini kebanyakan tahu, A."
"Enggak masalah, sisanya untuk nanti malam saja. Kamu mau lembur, 'kan?" Sambil menarik kursi untukku.
"Kok A Abil tahu kalau aku mau lembur?" Perasaan, aku belum memberitahunya.
"Aa tahu dari camer," jelasnya sambil tersenyum. Ya ampun, ini pasti ulah ibu atau bapak.
"Siapa yang kasih tahu, ibu atau bapak?" Jadi penasaran.
"Dua-duanya."
Sambil menyiapkan piring untukku. Dia bahkan menusukkan sedotan ke gelas plastik yang berisi jus alpukat dan menyodorkannya ke hadapanku.
"Terima kasih." Segera meminum jus pemberiannya.
"Aa beli sego bebeknya yang sedang, enggak yang pedas, takut kamu sakit perut."
"Terima kasih. Ya sudah, kita makan yuk."
Aku beranjak untuk cuci tangan, dia menyusul. Lalu memelukku dari belakang sambil mencuci tangannya.
"A Abil! 'Kan masih luas wastafelnya, heran 'deh."
"Ya Aa juga heran, ayang. Kenapa ya mau dekat-dekat kamu terus?" sangkalnya. Sekarang malah disengajakan menciumi pundakku.
"A-Abi! Emh ... hentikan, geli tahu, A," tolakku.
"Oke-oke, ayang. Maaf ya."
Dia kemudian mengambul tissue dan membantuku mengelap tangan. Entahlah ini bisa dibilang kategori romantis atau berlebihan. Lucunya, aku tidak menolak.
Setalah berdoa, kamipun makan bersama. Posisi duduk aku dan dia sangat dekat. Dia mengunyah sambil menatapku. Aku membalas tatapannya untuk mengurangi kegugupan.
Lalu ada perasaan berdesir di dadaku saat ia membersihkan lelehan sambal yang berada di ujung bibirku. Bukannya mengelap pakai tissue, ia malah memakai sisa-sisa lelehan itu tanpa sungkan.
Perlakuannya terlalu manis. Apa yang dia lakukan sama percis dengan kebiasaan yang sering dilakukan Akmal. Kenapa harus sama? Tapi, faktanya memang seperti ini. Aku harus terbiasa dan belajar membuka diri untuk menyimpan rasa yang dimiliki pak Sabil di relung hatiku.
"A Abil," panggilku setelah acara makan selesai. Saat ini, dia sedang mengupas mangga.
"Ya ayang."
Harus mulai dari mana ya bicaranya? Sedikit bingung.
"Emm, apa alasan A Abil menyukaiku? Bukankah A Abil bisa mendapatkan wanita yang lebih kaya dan lebih cantik dibanding aku? Akumah apa atuh, A?"
Dia langsung menoleh dan tersenyum. Lalu mendekat dan menyodorkan potongan mangga ke mulutku. Aku menerimanya. Mangganya manis sekali.
"Aa menyukai dan mencintai kamu tanpa alasan, hanya bermodal pada keyakinan kalau kamu adalah jodohku." Diapun menikmati mangga yang tadi dikupasnya.
"A Abil." Kembali memanggilnya.
"Ya ayang, kayaknya kamu mau bicara serius ya? Kita pindah ke depan yuk. Sepertinya akan lebih enak kalau kita bicara sambil duduk di sofa."
"Baiklah." Kamipun berpindah ke ruang kerja.
...⚘️⚘️⚘️...
Aku segera duduk di sofa. Lalu tanpa kuduga, pak Sabil tiba-tiba merebahkan kepalanya di pangkuanku.
"A Abil?"
Awalnya ingin menolak, namun tatapan mengibanya itu membuat hatiku luluh perlahan. Dia menikmati mangga sambil menatapku. Aku menatap langit-langit karena gugup. Eh, dia malah membuat garis-garis di leherku dengan ujung jari telunjuknya.
"A, jangan. Tadinya aku mau jauh-jauhan tahu. Tapi, A Abilnya malah tidur di sini."
"Leher kamu bagus, jenjang sekali," pujinya. Kembali menatapku. Aku menahan tangannya.
"Jangan memuji terus A, aku tahu 'kok A Abil berbohong." Sambil memalingkan wajah.
"Kok kamu bilang begitu, 'sih?"
"Katanya, kalau wanita dilihat dari bawah itu suka jelek. Aku enggak PD tahu, A. Lubang hidung aku pasti terlihat jelas 'kan? Sudah ah, jangan lihat terus," sambil menggerakkan pahaku.
"Hahaha, ayang tetap cantik 'kok. Serius."
Malah mengambil HP dan memotretku dari bawah. Angle di posisi ini hasilnya pasti sangat jelek dan memalukan.
"A Abil! Iseng banget, 'sih. Jangan! Hapus, A!"
"Jangan dihapus dong, ayang."
"Mana coba lihat hasilnya, A." Aku berusaha merebut HP-nya.
"Hahaha, tetap cantik 'kok ayang. Serius." Menyembunyikan HP ke saku celananya.
"Aku mau lihat."
"Ambil kalau berani." Dia memasukkan ponselnya ke daerah itu. Mana berani aku mengambilnya. Dasar licik!
"Awas ah!" Aku merajuk.
"Baiklah, maaf ya. Mau lihat? Ini dia."
Pak Sabil akhirnya menunjukkan ponselnya. Saat kulihat, kupikir, tidak terlalu buruk juga. Hasilnya lumayan baik walaupun tidak sempurna .
"Hapus ya, A."
"Jangan ayang." Dan ia masih nyaman merebahkan kepala di pangkuanku.
"Oiya, ayang mau bilang apa? Katakan sekarang ya," bujuknya.
__ADS_1
"Emm, aku lupa lagi, mau bilang apa ya?"
"Ya sudah, lupakan saja."
Serius, aku benar-benar lupa. Mau bilang apa ya? 'Kok bisa lupa total begini? Apa karena terlalu gugup? Akhirnya hanya bisa menikmati mangga sambil memalingkan wajah.
"Kalau kakimu mulai pegal, bilang ya."
Enteng sekali dia bicara seperti itu. Kenapa juga dia berani tidur di sini? Apa akhir-akhir ini aku terlalu gampangan? Lalu tidak sengaja rambutnya kejatuhan potongan mangga yang hendak aku makan, terpaksa aku ambil dan bersihkan. Jadilah seperti adegan aku membelai rambutnya.
"Terima kasih," ucapnya. Akhirnya beranjak jua dari pangkuanku setelah mangga dipiring tidak bersisa.
"Sama-sama." Akupun beranjak menuju meja kerjaku.
"Ada yang bisa aku kerjakan?" Dia menarik kursi dan memosisikan diri tepat di depanku.
"Tidak ada. A Abil pulang saja."
"Aku sudah bilang sama bunda dan ayah mau menemani kamu lembur."
"Hah? Serius?" Melongok. Kalau dia menemani, kita jadi bermalam bersama dong.
"Kenapa memangnya kalau aku menemani kamu? Ayang, kamu kekasihku. Mana bisa aku meninggalkan kamu sendirian di ruangan sebesar ini. Kalau ada yang menjahati kamu bagaimana?"
"Ya sudah, terserah A Abil saja. Tapi, nanti A Abil tidur di tempat lain ya. Soalnya 'kan kamar di ruangan ini hanya ada satu. Itupun punya pak Direktur. Jadi, aku tidak mungkin tidur di kamar pak Direktur."
"Tenang saja, aku bisa tidur di sofa."
"Aku yang tidur di sofa, A. 'Kan aku enggak mau tidur di kamarnya pak Direktur."
"Baiklah. Nanti aku yang tidur di kamarnya pak Zulfikar."
"Jangan A, A Abil harus tidur di luar."
"Lho, kenapa?"
"Khawatir aku somnabulisme."
"Somnabulisme? Apa itu?" Dia ternyata tidak tahu maknanya.
"Artinya gangguan tidur berjalan, A. Istilah lainnya sleepwalking."
Sleepwalking adalah salah satu kondisi gangguan tidur di mana seseorang bangun dan berjalan saat sedang tidur.
"Kan bahaya kalau aku tiba-tiba pindah ke kamarnya pak Direktur," jelasku.
"Oh, begitu ya. 'Kok bisa kamu mengalami ganguan tidur seperti itu? Apa tidak memerlukan konsultasi dokter?" Malah terlihat khawatir.
"Kalau lagi kecapekan saja, A."
"Apa sering seperti itu?" Masih saja khawatir.
"Jarang."
"Berarti, tidurnya harus segera ada yang menemani." Sambil mengulum senyum.
Aku paham maksudnya. Responkupun hanya tersenyum setelah mendengar kalimatnya. Aku sudah melakukan beberapa kali shalat hajat, namun sejauh ini belum ada jawaban. Kemudian kembali fokus ke laptopku untuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku membiarkannya menunggu sambil menatapku.
"Apa tidak bosan menatapku terus?"
"Tidak atuh, karena semakin ditatap, kamu semakin cantik."
"Aku serius ayang, kalau tidak percaya, belah saja dadaku, hahaha."
"Gombalannya kayak anak SMA tahu, A. Basi."
"Enggak apa-apa, 'kan kita juga mantan anak SMA."
Akhirnya, aku bekerja sembari meladeni ocehannya.
Saat Isya menjelang, kami bahkan melaksanakan shalat Mahgrib berjamaah di masjid perusahaan. Sepulang shalat Isya, aku kembali bekerja. Pak Sabil lanjut menemani dengan cara yang seperti tadi. Menatapku.
.
Lalu pada pukul 23.08 WIB, ia berjalan terhuyung menuju sofa dan ambruk begitu saja. Rupanya sudah ngantuk berat sedari tadi. Lagi pula, siapa suruh dia menungguku?
Ketika dia sudah benar-benar tertidur, beberapa aku kali meliriknya. Pak Sabil meringkuk seperti kedinginan. Jadi tidak tega melihatnya. Mau tidak mau, akupun mengambil selimut ke kamar pak Direktur dan menyelimutinya.
Setelahnya, lanjut menyelesaikan pekerjaan hingga hampir tengah malam. Di saat mataku mulai lelah, aku memejamkan mata sejenak. Namun sepertinya, malah ketiduran di meja kerjaku.
...⚘️⚘️⚘️...
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Bagaimana rasanya menjadi wanita yang sangat aku cintai?"
"A-aku tidak pernah menginginkan sangat dicintai oleh Anda."
"Bagaimana rasanya jadi istri dari pria yang katanya kaya raya, hmm?"
"Aku juga tidak pernah menyangka bisa menikahi konglomerat seperti Anda. Dalam mimpipun aku tidak pernah mengharapkannya."
"Kenapa aku sangat mencintai kamu, Hanindiya? Apa menurutku aku salah kalau terlalu mencintai kamu?"
"Tanyakan saja pada diri Anda. Kenapa Anda sangat mencintaiku? Jika Anda bertanya padaku, Anda salah alamat. Perasaan cinta itu tidak salah, yang salah itu, saat kita mencintai sesuatu yang diharamkan agama."
Aku mengingat kembali pembicaraanku dan pak Zulfikar yang terjadi beberapa jam yang lalu. Jujur, apa yang dia katakan terasa mengusik hatiku.
Dia bertanya demikian setelah puas menyalurkan hasratnya. Kurasa, apa yang dia katakan terdengar janggal. Pak Zulfikar juga cukup kasar saat melakukannya. Kenapa? Ada apa?
Hingga saat ini, aku bahkan masih merasakan ketidaknyamanan di tubuhku. Karena ulahnya, aku sampai menelepon dokter Rahmi untuk memeriksa kandunganku. Syukurlah, kandunganku baik-baik saja.
Aku sebenarnya ingin menanyakan permasalahannya. Namun terpaksa mengurungkan niatku setelah melihatnya meneteskan air mata seusai melaksanakan shalat Isya.
Aku begeser untuk mendekat, meletakan kepala di lengannya yang tengah terlelap dengan posisi terlentang. Sudah sering menyuruhnya agar tidur miring ke kanan. Namun jika sudah tidur seperti ini, siapapun pasti tidak sadar sudah berpindah posisi ke mana saja.
Aku membelai rambutnya, sebagai istri aku sangat ingin mengurangi beban dan keluh-kesahnya. Bukan hanya dengan tubuhku, aku juga ingin membantunya dengan apapun yang kubisa.
Tapi, jika titik permasalahannya saja tidak kuketahui, apa yang bisa kulakukan? Apa bertanya pada pak Sabil atau pak Ikhwan saja? Tapi, aku tidak mau berkomunikasi dengan pria lain tanpa seizinnya.
"Kamu jahat, aku membencimu, sangat membencimu." Tiba-tiba, ia mengigau. Lalu wajahnya meringis seperti ketakutan.
"Pak Zulfikar, Pak." Aku menepuk pelan bahunya, dan iapun terbangun.
"Siapa yang Anda benci? Anda baru saja mengigau."
"Mengigau?"
"Ya Pak."
"Maaf, tidak perlu dipermasalahkan sayang, hanya sebuah igauan, tidak penting," katanya.
__ADS_1
Malah meneluspkan kepalanya di dadaku. Lalu meletakan tanganku di kepalanya. Artinya, dia ingin aku membelai rambutnya. Ya ampun, manja sekali.
"Aroma tubuh kamu itu rasanya enak sekali. Aku suka berlama-lama dengan posisi seperti ini. Hmm." Dia menghidunya.
"Mungkin, itu aroma dari seorang calon ibu."
"Ya, bisa jadi. Oiya, bagaimana hasil pemeriksaan dokter Rahmi? Kamu dan kandunganmu baik-baik saja, 'kan?"
"Alhamdulillaah. Semuanya baik-baik saja."
"Kenapa tadi tiba-tiba memanggil dokter Rahmi?" Ya ampun, pria ini tidak menyadari perbuatannya.
"Mau saja, Pak. Tidak ada alasan lain."
"Bukan gara-gara aku, 'kan?" Mulai menyadari.
"Emm ...." Bingung, kalau bilang bukan, itu artinya aku telah berbohong.
"Pasti karena aku."
Ia menghela napas. Lalu merubah posisi. Sekarang, kepalaku yang menelusup di dadanya. Aku terdiam. Ya, memang karena Anda, pak Zulfikar Saga Antasena.
"Maaf ya sayang, secepatnya aku akan mengkonsultasikan masalah ini pada dokter." Dia bicara serius.
"Maksud Bapak?" Sejenak menatap wajahnya.
"Sayang, semakin ke sini, aku merasa jadi semakin suka melakukan hal-hal yang sedikit aneh sama kamu. Maaf jika terkadang tubuh kamu tersakiti." Ia mengecup keningku. Untuk sesaat, aku memandang matanya. Berharap bisa menyelami isi hatinya.
"Sayang, aku yakin semua itu terjadi akibat ulah wanita itu."
"Wanita itu?" Aku semakin bingung.
"Hanindiya, dia sering melakukan hal-hal yang aneh terhadap tubuhku. Kamu tahu maksudku?" Apakah yang dimaksudnya adalah bu Dewi?
"Aku tidak bisa melawannya karena terikat oleh sebuah janji suci pernikahan. Sungguh, saat dia melakukannya terhadapku, tubuhku memaknai aktivitas itu sebagai kekerasan yang melukai jiwa dan ragaku. Aku sangat tertekan dengan semua itu, Hanindiya. Tapi, saat bersama kamu, keinginan itu selalu muncul." Dia menjeda kalimatnya. Seolah kesulitan untuk melanjutkannya lagi.
"Aku tidak mengerti apa yang Anda bicarakan."
"Sayang, selalu ada keinginan aneh di otakku. A-aku .... Aku ingin melakukan yang dilakukan wanita terhadap tubuh kamu. Aku senang mendengar teriakan kamu."
"A-apa?!" Aku terperanjat hingga spontan menjauhkan diri dari tubuhnya.
"Sayang," dia menarik tanganku. Lalu mendekapku erat.
"Ini memang gila dan tidak wajar. Tapi ... aku terpaksa memberitahumu agar kamu bisa memahamiku. Aku bahkan senang saat kamu tidak sengaja mencakar atau memukul punggungku. Jika dia yang melakukannya, aku sangat marah. Tubuhku menolak. Tapi ... saat kamu yang melakukannya, aku justru merasa senang dan sangat menikmatinya."
Aku membisu, semakin menyadari jika kehidupan berbagi ranjang yang kami jalani ini memiliki dampak negatif terhadap siklus aktivitas biologis. Apa yang terjadi pada pak Zulfikar, bahkan telah memasuki ranah kejiwaan. Dia ternyata tertekan secara fisik dan mental.
"Hanindiya ...." Dia menangkup pipiku.
"Ya Pak."
"Setelah tahu masalah itu, apa kamu akan membenciku? Sebenarnya, silahkan saja kalaupun kamu ingin membenciku, tapi ... tolong jangan meninggalkanku, sayang."
Ia menatapku penuh harap. Lalu ia memagutku dalam-dalam dan lembut. Untuk sementara waktu, akupun menikmatinya dan terlena. Ia baru melepas jalinan itu setelah aku menggelengkan kepala.
"Tapi, aku merasa Anda tidak pernah menyakitiku. Saat Anda agak kasar, aku berpikir itu karena Anda sedang ada masalah."
"Sebenarnya, itu karena aku menahan diri agar tidak menyakiti kamu. Apa tidak masalah kalau aku mengatakan rahasia ranjangku pada dokter? Hukumnya bagaimana sayang?"
"Konteksnya adalah karena Anda ada masalah. Pada dasarnya, Bapak sedang mencari solusi untuk mengobatinya, 'kan? Hukumnya boleh, Pak. Kalau menceritakan masalah ranjang pada dokter tidak diperbolehkan, lalu bagaimana dengan pria atau wanita yang bermasalah dengan kesehatan organ reproduksinya? Bukankah mereka harus menghubungi dokter kandungan untuk mengobati masalah tersebut?"
"Baiklah, aku paham sayang."
"Nanti, aku juga akan menemani Anda."
"Oiya sayang, tadi aku tidak sengaja melihat kamu seperti menahan tangis. Apa itu karena aku kasar? Jika ya, maaf ya."
"Emm, itu karena aku merasa bersalah. Bukankah malam ini harusnya Anda bersama bu Dewi? Tapi, Anda malah memadu cinta bersamaku. Aku juga melihat Anda mematikan HP. Aku merasa perbuatan Bapak sangat tidak adil. Aku kasihan ---."
"Cukup! Aku muak mendengar nama wanita itu! Dia tidak pantas kamu kasihani!" selanya dengan nada tegas.
"Pak, tapi 'kan ---."
"Hanin, cukup! Kamu tidak tahu apa-apa!" Malah marah. Dia bahkan membelakangiku.
"Pak Zulfikar," aku memeluk punggungnya.
"Jangan pegang aku dulu!" Merajuk. Ia bahkan menepis tanganku.
Apa yakin dia tidak suka aku pegang? Aku tidak percaya. Baiklah, aku perlu melakukan sesuatu untuk mengetesnya. Karena sebentar lagi adzan Subuh, aku memutuskan untuk segera mandi.
Segera bangun dan mengambil handuk yang kebetulan berada di lemari gantung yang menghadap ke arahnya. Kusengajakan tidak membuka pakaianku di kamar mandi. Responnya biasa-biasa saja. Sepertinya memang marah sungguhan.
Namun, saat aku hendak memakai handuk. Tubuhku telah dipeluknya.
"Yang semalam itu belum cukup rupanya ya? Dasar nakal, jangan salahkan aku, kamu yang sengaja menggodaku Hanidiya," bisiknya seranya membalikan tubuhku dan menyambar bibirku begitu saja sebelum aku sempat mengatakan apapun. 'Tuh, 'kan? Apa kubilang, dia paling tidak tahan melihat auratku terbuka.
...⚘️⚘️⚘️...
Iptu Sabil Sabilulungan
"AAA!" teriak seseorang." Teriakannya membangunkanku.
"Ti-Tia?!" Mataku membelak, kami saling menatap dan terkejut.
"Kenapa kita tidur bersama?! Kenapa kamu tidak pakai baju?!" teriaknya lagi sambil memeluk tubuhnya dan panik. Aku belum bisa menjawab. Masih mengingat-ingat kejadian semalam. Yang namanya bangun tidur, ingatannya pasti masih tercecer di alam mimpi.
"A Abil! Kita tidak melakukan apa-apa, 'kan?!" Sambil mengecek tubuhnya yang masih menggunakan pakaian kantor.
"Hahaha," akhirnya aku bisa tertawa setelah ingatan semalam kembali ke memori otakku.
"A Abil!"
"Ayang, sabar dong." Aku lantas menariknya ke dalam dekapan. Hangat sekali.
"A Abil! Eh, lepas! Jangan begini!"
"Hei, kita tidak melakukan apapun. Semalam, saat terbangun, aku melihat kamu tidur di meja kerja. Jadi, aku memindahkanmu ke kamar ini. Awalnya, aku tidur di sofa, tapi entah di jam berapa, aku merasa kedinginan dan tanpa sadar pindah ke kamar ini," jelasku sambil terus memeluknya kuat-kuat.
"Apa semalam kita pelukan?" Kali ini, dia tidak berusaha melepaskan diri dari dekapanku.
"Aku juga tidak tahu. Kemungkinannya 'sih, ya."
"Aku harus cek CCTV kamar ini. Siapa tahu A Abil melakukan hal-hal yang tidak senonoh."
"Siapa takut," sahutku.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1