
Dewi Laksmi
"Wi, bagaimana kalau kita ke apartemennya besok saja?" tawar mas Zul.
Enak saja dia mendikteku. Sorry ya, aku bukan wanita lemah. Apalagi sok lemah-lembut seperti si Daini.
"Tidak Mas, aku maunya sekarang! Karena besok adalah saatnya kamu harus menentukan pilihan. Mau mengikuti keinginanku atau akan tetap bertahan bersama dengan keegoisan kamu!" teriakku.
Aku benar-benar marah besar. Padahal, dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sangat takut kehilangan mas Zul.
"Kamu membelikan dia apartemen mewah dan termahal di Jakarta?! Wow, luar biasa kamu, Mas!" teriakku lagi sambil menginjak gas kuat-kuat.
Jika malam hari, aktivitas jalanan di daerah ini memang sepi. Aku jadi leluasa, ngebutpun tidak merasa takut. Ditambah dengan emosi yang membara, membuatku kian berani saja.
"Wi! Astaghfirullah! Sadar, Wi! Kalau kita kenapa-napa, bagaimana?!" teriak mas Zul.
Ia sampai menarik gigi mobil ke posisi parkir hingga mobil yang kukendarai oleng dan berhenti mendadak.
"Kamu yang harusnya istighfar Mas! Bukan aku! Aku sebenarnya sudah tahu kalau kamu membelikan apartemen untuk dia! Tapi aku berusaha keras untuk sabar! Kamu harusnya bangga memiliki istri sekaya, sesabar, dan secantik aku!" Aku beteriak lagi sambil memukul-mukul kemudi.
"Wi, apa yang Hanin dapatkan, itu tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan apa yang sudah aku berikan untuk kamu. Kamu sudah aku beri mobil mewah, saham, mansion, apartemen, tanah, ritel, dan lain-lain! Harusnya kamu tak perlu marah!"
"Hei Mas!" Aku menepikan mobil untuk melanjutkan pertengkaran ini.
"Mau kamu berikan nyawa kamu sekalipun, jika itu untuk aku ya wajar, Mas! Karena aku adalah istri sah kamu! Kalau kamu memberikannya pada si Daini ya tak wajar, Mas! Kenapa?! Karena dia itu pelakor, Mas! PE-LA-KOR! Dia bahkan lebih rendah dari pelakor, aku malah lebih suka kalau menyebut dia sebagai pelacur! PE-LA-CUR!" sungutku.
"DEWI LAKSMI! Hentikan omong kosong kamu itu!" teriak mas Zul.
Kedua tangannya mengerat di udara. Sepertinya dia ingin mencecik atau menamparku, namun aku yakin dia tidak akan berani melakukan kekerasan padaku. Gigi mas Zul gemeretak, wajahnya memerah. Dia marah padaku demi membela wanita miskin itu! Kurang ajar!
"Wi, lebih baik kita tidak menemui Hanin kalau kamu masih emosi! Masa ya kita bertamu dalam kondisi marah-marah seperti ini?!" Dia menghela napas. Sepertinya sedang berusaha meredam kemarahannya.
"Baik, kita tenangkan dulu amarah kita! Setelah itu, baru kita pergi! Dan aku ingin tetap menemui dia malam ini juga!" tegasku.
Lalu kami terdiam, mencoba meredam emosi masing-masing. Dalam diamku, bayangan wanita itu terus mengganggu pikiranku. Wanita itu benar-benar telah merebut kebahagiaanku. Seumur hidupku, aku selalu merasa bahagia. Deritaku muncul setelah kemunculan si j a l a n g itu!
"Aaargh!" teriakku. Masih emosi jiwa. Bahkan setelah minum air kemasanpun, aku tetap saja emosi.
"Sudah semakin malam, biar Mas saja yang nyetir," ujarnya sambil memegang tanganku.
Mungkin berniat untuk menenangkanku. Aku mengangguk setuju. Lagipula, aku juga tidak mau mati muda gara-gara kecelakaan. Apalagi sebelum balas dendam pada wanita itu. Kamipun lantas bertukar posisi.
Mas Zul kembali menghela napas sebelum benar-benar melajukan kemudi. Sesekali ia juga menguap, aku kasihan juga sih melihatnya. Tapi aku sudah tak sabar ingin bersua maduku. Lebih tepatnya ingin segera balas dendam.
"Mas mohon sama kamu, jika sudah bertemu dengan Hanin, tolong jangan berulah. Kita tidak perlu lama-lama ya," katanya saat mobil mulai melaju membelah jalanan ibu kota.
Binar lampu mobil menyatu dengan lampu jalanan. Cahayanya terang-benderang, berbanding terbalik dengan hatiku yang remang-remang, atau mungkin telah gelap-gulita karena cahaya di hatiku telah dipadamkan oleh si munafik itu.
"Aku mau menginap di apartemennya, Mas."
"A-apa?!" Mas Zul kaget.
"Mau berantem lagi, Mas?" tawarku.
"Tidak, Mas lelah. Ya sudah, kalau mau menginap, kamu bisa tidur di kamar tamu. Di sana ada 3 kamar."
"Kamar tamu? Enak saja! Ya aku mau di kamar utamalah, Mas!"
"Hmm, ya sudah terserah kamu. Nanti kamu tidur di kamar utama, lalu aku dan Hanin tidur di kamar tamu."
"Apa?! Mas! Kamu bilang apa tadi?! Kamu dan Hanin?! Kamu tidak tidur sama aku?!" teriakku. Kemarahan kembali melanda.
"Apa?! Memangnya Mas bilang tidur sama Hanin? Perasaan tidak deh," elaknya.
"Issh, benar-benar kamu ya Mas! Ka ---."
"Sssst, cukup Wi! Mas lelah bertengkar terus! Itu apartemennya sudah kelihatan. Tolong jaga sikap kamu! Ingat, kamu itu anak bangsawan, dalam hal tata krama, harusnya kamu lebih baik daripada Hanin," tegasnya.
"Terus saja kamu memuji dia, Mas! Sanjung dia! Dan agungkan dia sampai ke langit!" teriakku.
"Wi, kamu berisik. Kita sudah di parkiran nih, jangan sampai umpatan kamu terdengar oleh orang lain! Aku tidak memuji Hanin, karena faktanya dia memang lebih menonjol daripada kamu!"
"Apa?! Mas!" teriakku saat mobil yang kami naiki berhenti di parkiran apartemen.
"Apalagisih, Wi?" Sambil melepas sabuk pengamannya.
"Tadi kamu bilang dia lebih menonjol daripada aku! Maksud kamu apa, hahh? Apa ini ada hubungannya dengan tubuh dia?!" teriakku. Aku menahan tangan mas Zul yang hendak membuka pintu.
"A-apa?! Ya ampun Dewi, maksud Mas yang menonjol itu emm ... tata krama Hanin! Bukan emm ---."
Dia mengacak rambutnya. Bola matanya berputar-butar. Dia terlihat ragu-ragu. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Jadi merasa jika tubuh si j a l a n g itu memang lebih baik daripada aku. Praduga ini membuatku kian membencinya.
"Cepat turun!" titahnya setelah dia membukakan pintu mobil untukku.
Aku turun dari mobil seraya berpikir bagaimana caranya aku bersikap pada si Daini agar Mas Zul lambat laun bisa membencinya hingga mencampakkannya.
Apa aku harus pura-pura jadi wanita lembut yang baik dan tertindas? Apa aku harus pura-pura menerima dia dan berbaik hati pada si j a l a n g itu? Atau tetap jadi seperti diriku apa adanya? Aku benar-benar bingung.
Aku mengikuti langkah mas Zul sambil melamun. Pikiranku tiba-tiba buntu. Apalagi saat kami sudah menaiki lift pribadi menuju ke unitnya.
"Hanin sebenarnya phobia ketinggian, namun saat unitnya mau Mas tukar dengan unit di lantai dasar, dia menolak."
"Aku tidak tanya, Mas! Mau dia phobia ketinggian atau phobia apapun, aku tak peduli!" tandasku.
"Hmm, ya maaf," mas Zul menghela napas, wajahnya yang tadi sedikit kusut berubah sumringah.
Apa dia merasa senang karena mau bertemu si Daini?
Cuih, benar-benar menyebalkan! Awas kamu ya Daini! Kita lihat saja nanti! Siapa pemenangnya? Kamu si pelakor? Atau aku! Sang Dewi yang terlahir dari sendok emas. Putri tunggal dari salah satu crazy richnya Indonesia.
...🍒🍒🍒...
'Ting.'
Lift terbuka, dan entah kenapa hati ini tiba-tiba berdebar. Gila, punya sihir apa kamu Daini? Kok bisa aku jadi berdebar seperti ini.
Aku dan mas Zul kini sudah berada di depan pintu unit. Aku terdiam. Jadi bingung juga mau mengatakan apa. Lalu mas Zul menekan bel. Sudah tiga kali ditekan tapi tidak ada respon.
"Mas, memang kamu tak tahu pinnya?"
"Eem, lu-lupa Wi," jawabnya singkat.
"Yakin kamu lupa? Apa kamu sebenarnya tahu tapi sengaja pura-pura lupa supaya aku tak tahu passwordnya?" tuduhku.
__ADS_1
"Wi, Mas malas berdebat. Lagipula kita kan tamu, masa kita main masuk-masuk saja?" elaknya.
"Jadi benar Mas tahu? Kalau tahu, ya tinggal kamu tekan saja Mas! Apa susahnya sih?!"
"Wi, cukup! Lama-lama kesabaran Mas bisa habis. Hanin punya privasi tinggal di apartemen ini. Apa salahnya kalau kita yang datang sebagai tamu menghormati privasinya? Seharusnya begitu, kan?" Sambil kembali menekan bel.
"Oke! Fine!" teriakku.
"Kalau sudah sepuluh kali tekan bel Hanin tidak membuka pintu, kita pulang saja ya," katanya. Aku diam saja karena kesal.
Lalu ....
'Trak.'
Pintu unit sepertinya akan terbuka. Aku memfokuskan pandangan pada pintu itu, mas Zul terlihat gelisah, ia menggaruk tengkuknya beberapa kali.
'Klak.' Pintu unit benar-benar terbuka.
"Aaa," teriakku. Langsung memeluk mas Zul.
"P-Pak Zulfikar?! Bu De-Dewi?!"
Si Daini terkejut. Ia menutup bibirnya yang sedikit sambil mengerjapkan mata berkali-kali.
"Kenapa kamu pakai mukena?! Aku kira kamu pocong!" sentakku.
Jujur, wajahnya memang putih bersih, ditambah memakai mukena putih polos yang nyaris menyatu dengan warna kulitnya. Pas awal aku lihat, bibirnya juga agak pucat. Ya wajar kalau aku kaget dan mengira kalau dia adalah hantu.
"Ma-maaf sudah membuat Ibu kaget," dia membungkukkan badan.
"Assalamu'alaikuum, Hanin," sapa mas Zul.
Dia tetap mematung di luar pintu sambil menahan tanganku. Mungkin menunggu wanita itu mempersilahkan kami masuk.
"Wa-wa'alaikumussalam," jawab si Daini.
Lalu dia dan suamiku sejenak bersitatap. Si Daini cepat-cepat memalingkan wajah saat aku berdeham.
"EHHEM!" Sengaja kukeraskan agar wanita ini sadar diri.
"Gak diajak masuk nih tamunya!" singgungku.
"Oh, ya emm ... ha-hampir saja lupa, si-silahkan masuk, Pak ... Bu," ajaknya lalu mundur beberapa langkah.
"Terima kasih, Hanin," kata mas Zul.
Mas Zul lantas menarik tanganku memasuki unit. Aku terus bergelayut di lengan mas Zul agar si Daini sakit hati.
.
.
Tak ada yang unik di apartemen ini. Semua hal yang ada di dalamnya bagiku sangatlah biasa.
"Silahkan duduk, Pak, Bu. Aku mau ambil air minum dulu. Oiya mau minum apa? Biar aku buatkan," tawarnya.
Wanita itu terus menunduk. Dia masih memakai mukenanya. Di balik mukena itu kulihat dia memakai baju tidur murahan yang harganya bahkan lebih murah jika dibandingkan dengan harga keset yang ada di rumahku.
"Tak perlu repot-repot," kata mas Zul.
"Wi, yakin kamu mau itu?"
"Yakinlah, Mas."
"Ba-baik, akan kubuatkan, tunggu ya Bu."
Dia sepertinya bergegas ke kamar. Mungkin untuk mengganti mukena.
Awalnya aku berharap dia membuka jilbabnya. Tapi ternyata tidak. Dia keluar dari kamarnya dalam keadaan telah memakai jilbab instan berukuran panjang yang menutupi dadanya.
"A-aku ke dapur dulu," katanya.
Terus menunduk. Dan mas Zulfikar sedari tadi terus menatapnya. Dia terlihat memperhatikan setiap gerak-gerik si Daini. Baru memalingkan wajah setelah sosok si Daini tak terlihat lagi.
"Harusnya kamu minta air putih saja."
"Ya suka-suka aku dong, Mas. Kenapa jadi kamu yang repot?!"
"Aku mau bantu dia bikin jeruk peras untuk kamu." Mas Zul beranjak.
"Mas, tunggu! Apa hak kamu membantu dia Mas?! Di sini ada aku! Istri sah kamu! Tega-teganya kamu lebih melirik dia daripada aku!"
Aku memegang tangan mas Zul. Dia menghela napas, lalu duduk kembali.
"Maaf," jawabnya singkat, lalu menunduk memainkan jemari tangannya.
Lalu aku sudah tak kuasa lagi menahan air mata. Tangisku pecah. Hal ini terjadi karena tatapan mas Zul pada si Daini begitu berbeda. Padahal penampilan dia biasa-biasa saja. Sedangkan aku, aku yang di balik auter ini memakai lingerie seksi, benar-benar telah diabaikan.
"Huuu," aku memukul dadaku.
"Wi, kenapa nangis? Apa mau pulang?" tanya mas Zul, dia seolah tak mengerti perasaanku.
"Tidak Mas, aku tidak mau pulang. Aku hanya sedang meratapi nasib diri. Sejak lahir, aku selalu merasa bahagia, semua yang kuinginkan selalu aku dapatkan, dan semua orang selalu menghargaiku. Tapi sekarang, gara-gara si Daini, hidupku tak lagi sempurna."
Saat kulirik, pelakor itu ternyata sudah selesai membuat minuman, dia mematung sambil menunduk.
Keberadaannya belum disadari oleh mas Zul yang duduk membelakangi posisi si Daini. Lalu kulanjutkan ratapanku. Semoga kata-kataku ini bisa membuat si Daini sadar kalau dia adalah pendosa.
"Kalau aku jadi si Daini, aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan dan pergi jauh-jauh dari kamu, Mas. Kalau bisa, mungkin akan lari ke ujung dunia, atau mati saja sekalian," tegasku.
"Wi, kamu berlebihan. Ingat Wi, Hanin itu bukan pelakor."
"Terus saja kamu bela dia Mas, sampai kamu sendiri yang akan menyesal karena menduakan aku dengan wanita itu. Aku ulangi peringatanku ya, Mas! Jika aku melaporkan perselingkuhan kamu, maka kamu, keluargamu, dan perusahaan kamu akan hancur!" tegasku.
Sengaja aku mengatakan itu agar si Daini sadar jika keberadaannya di sisi mas Zul laksana duri beracun yang bisa membahayakan dan membunuh mas Zul dan keluarganya secara tidak langsung.
"Ha-Hanin?"
Alih-alih menanggapi ucapanku, mas Zul malah menyadari keberadaan Daini.
Lalu wanita itu mendekati meja, bersimpuh, dan menghidangkan minuman dengan tangan gemetar. Lalu mata jeliku sekilas melihat ada yang menetes dari wajahnya. Rupanya dia juga menangis.
Dan yang membuatku sakit hati, mas Zul memegang tangan si Daini yang gemetar saat menghidangkan perasan jeruk hangat ke hadapanku.
__ADS_1
"Hati-hati," kata mas Zul.
"Kamu nangis?" tanyaku.
Aku tak tahan lagi. Aku memegang dagu si Daini untuk menengadahkan kepalanya.
"Wi apa yang kamu lakukan?!" mas Zul menarik tanganku.
"Mas! Aku mau lihat wajah asli iblis ini! Lihat! Dia pura-pura nangis demi mendapat simpati kamu, Mas!" teriakku sambil mendorong bahu si Daini hingga wanita itu terduduk di lantai.
"Awh," pekiknya.
Mungkin sengaja berakting kesakitan. Padahal aku mendorongnya tidak terlalu kuat.
"Dewi! Astaghfirullah, tolong jangan kasar! Dia manusia Wi, sama seperti kita! Dia bukan iblis! Kamu keterlaluan!" teriak mas Zul sambil membantu si Daini duduk di sofa.
"Puas kamu, Daini?! Gimana rasanya ditiduri suamiku, hahh?! Hahaha, enak ya?! Kecanduan kamu ya dicelup suamiku?! Berapa kali kamu dicelup oleh suamiku, hahh?!" teriakku. Aku hendak menjambak jilbabnya. Namun mas Zul melindunginya.
"Dewi, hentikan! Ucapan kamu tak patut didengar dan layak diucapkan!" bela mas Zul.
"Huuu, huuks, Bu Dewi, a-aku ...." Tubuh si Daini gemetar dan berurai air mata. Dia akting sok lemah dan tertindas.
"Aku mau membuka jibabnya, Mas!" Aku kembali menyerang.
"Dewi Laksmi! Cukup!" teriak mas Zul, lalu ....
'Prak.'
Mas Zul menendang guci tembikar, guci itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping.
Baru kali ini aku melihat mas Zul semarah itu hingga berani menendang guci yang harganya tentu saja lebih mahal dari harga diri si Daini.
"Astaghfirullah ...," gumam si Daini.
"Mas, k-kamu?" Akupun ketakutan. Mas Zul belum bicara, ia sedang mengatur napasnya.
"Huuks, Pak, Bu, ja-jangan bertengkar. A-aku yang salah. Aku sadar diri, aku tahu kalau aku tak pantas berada di antara kalian. Dari awal, aku tahu kalau aku adalah benalu. Jika dengan kepergianku Bu Dewi dan Pak Zulfikar akan kembali harmonis, aku akan pergi sekarang juga," kata si Daini.
"Jangan pergi Hanin, ini sudah malam. Maaf jika kedatangan Dewi dan aku mengagetkan kamu, kamu duduk lagi ya."
'Prok prok prok.' Aku tepuk tangan.
"Wah, kalian pasangan serasi, hahaha," ledekku.
"Aku tidak bisa terus seperti ini Pak. Huuks, a-aku memang harus pergi. Aku bisa menginap di mushola," katanya.
Mas Zul duduk dan memasygul kepalanya. Ia sepertinya sedang berpikir untuk mengatakan kalimat apa.
"Hanin!" panggilku.
"Ya, Bu."
"Dengar ya Daini! Kamu tidak boleh pergi! Karena kamu telah berani membuka pahamu untuk suamiku, karena kamu telah menikmati tubuh suamiku, maka sebagai balasannya, kamu harus tunduk di bawah kakiku! Dan kamu haru patuh di ujung telunjukku!" teriakku.
Mas Zul geleng-geleng kepala sambil menutup kedua telinganya. Dia seolah tak ingin mendengar apa yang kukatakan.
"Dengan kamu patuh, mungkin saja aku akan akan memaafkan kamu dan memberimu kebebasan untuk pergi dari genggamanku! Bagaimana? Kamu setuju?" tanyaku sambil beruraian air mata.
"Huuu huuu," si Daini terus menangis.
"Dewi, Mas sepertinya ---."
"A-aku setuju," sela Daini. Menyela kalimat mas Zul.
"Bagus," aku tersenyum puas.
"Hanin, kenapa kamu menyetujuinya?!" Mas Zul menatap si Daini.
"Aku tak punya alasan untuk tidak setuju, Pak."
"Wi, Mas tidak akan memaafkan kamu kalau kamu sampai melukai dia!"
"Silahkan mengancamku sesuka hati kamu, Mas! Karena semakin banyak yang Mas perbuat untuk wanita munafik ini, maka Mas akan semakin dekat dengan kehancuran! Dan wanita sok suci ini akan semakin menderita!" tegasku.
"Apa?!" Mas Zul mematung, tangannya mengepal kuat. Wajahnya tampannya memerah. Aku jadi berhasrat saat melihat dia seperti itu.
"Di mana kamar utamanya? Aku mau tidur! Ngantuk!" teriakku.
"Di sini, Bu. Ma-mari," ajak siDaini.
Dia sigap menunjukkan kamar tersebut. Aku mengikuti si Daini, mas Zul menyusul.
.
.
"I-ini kamarnya, Bu. Si-silahkan."
Aku tersenyum sinis dan masuk ke kamar utama sambil menarik tangan mas Zul.
"Mas ayo kita tidur! Biarkan dia tidur di kamar tamu atau di kamar pembantu saja," tegasku.
"Wi, jangan lancang! Kita yang seharusnya tidur di kamar tamu!" tolak mas Zul.
"Ti-tidak apa-apa, Pak. Ce-cepat masuk, Pak."
Si Daini mendorong bahu mas Zul hingga berhasil masuk ke kamar. Lalu dia cepat-cepat menutup pintunya sebelum aku dan mas Zul mengatakan apapun.
"Hanin, tunggu!" Mas Zul memanggilnya dan hendak menyusul si Daini.
"Kalau kamu menemui dia, maka hidup wanita itu akan semakin menderita!" ancamku.
"Astaghfirullah hal adzim, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih. Wi, Mas tidak menyangka kamu akan tega melakukan hal sebodoh ini!" kata mas Zul sambil mengusap dadanya.
"Bertengkarnya cukup, Mas! Sekarang aku mau tidur sama kamu. Tidak, maksudnya mau bercinta sama kamu, Mas," pintaku. Aku berhambur dan memeluknya erat-erat.
Saat mas Zul marah, entah kenapa, di mataku pesonanya malah bertambah. Aku jadi bernafsu, syahwatku memuncak. Aku lantas mendorong tubuhnya ke tempat tidur. Lalu cepat-cepat membuka auterku.
Rencananya, aku akan mendesah dan beteriak nikmat sekencang-kencangnya agar si Daini tahu kalau kami sedang bercinta. Biarlah telinga wanita itu terbakar api cemburu.
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk!...
__ADS_1
...Semakin banyak yang komen, nyai akan semakin semangat mengintai kisah TBR. Oiya, mengikuti kisah TBR itu harus banyak-banyak istighfar dan bersabar ya readers. Kalau perlu, siapkan kopi untuk nyai. Eh, maksudnya untuk meredam emosi saat readers merasa kesal, hehehe....
...Selamat hari Jumat yang penuh berkah. Salam rindu dari nyai....