
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Acara ramah tamah dengan anak yatim masih berlangsung. Namun aku memilih kembali ke kamar dengan alasaan tak enak badan.
Padahal, aku ke kamar karena tak nyaman menjadi pusat perhatian wartawan. Mereka terus membidikkan kamera ke arahku. Meski aku sudah memakai cadar, dan pak Ikhwan telah memerintah agar mereka berhenti mengambil gambarku.
"Walaupun pakai cadar tapi tetap kelihatan cantik."
"Pantas saja pak Direktur mau menikahinya kalau bentukannya seperti itu."
"Sudahlah, jangan terlalu memujinya. Pelakor tetaplah pelakor."
Aku tak sengaja mendengar percakapan beberapa orang wartawan yang tengah menikmati makanan. Padahal, abah dan ummi telah menyediakan tempat spesial untuk mereka. Namun, apa yang mereka katakan tetap melukai perasaanku.
Kegalauanku bertambah saat menerima beberapa pesan dari orang tak dikenal. Pesan itu berisi foto-foto mesra pak Zulfikar dan bu Dewi. Aku tak masalah mereka bermesraan. Toh, mereka suami istri.
Tapi, kenapa foto-foto itu harus dikirimkan ke nomorku?
Terakhir, aku terkejut karena nomor tak dikenal ini mengirim vidio. Aku tak berani membukanya. Setelah vidio itu dikirim, ada pesan teks yang berbunyi ....
"Hei pelakor! Silahkan kamu lihat sendiri bagaimana pria yang kamu anggap sebagai suami kamu sedang bercinta dengan istri sahnya. Semoga vidio ini bisa membangkitkan kecemburuan kamu dan membuatmu patah hati."
"Aku tak menyangka ada wanita senaif kamu yang rela berbagi ranjang hanya demi harta dan takhta. Apa kamu tidak jijik membagi tubuh suami kamu dengan wanita lain? Kamu adalah wanita terbodoh di dunia. Saranku, segera tinggalkan suami kamu dan hiduplah dengan tenang."
Entah siapa pengirimnya. Dari caranya menulis, jelas berbeda sekali dengan gaya bahasa bu Dewi. Aku hanya bisa menahan rasa sakit di dada, dan berjanji tidak akan membuka vidio itu sampai kapanpun. Saat mencoba menelepon nomor tersebut, selalu tak diangkat.
"Neng, ini petisannya."
Kak Listi masuk membawa petisan yang tadi sempat aku minta.
"Lho, kamu nangis? Pasti gara-gara pak Direktur," tuduhnya.
"Bukan, Kak."
"Terus, kenapa kamu nangis?"
"Aku bahagia karena acaranya sangat meriah."
"Oh, begitu? Ya sudah, kita makan petisnya bareng-bareng yuk!" ajaknya.
"Baik. Oiya, kata pak Zulfikar, Kak Listi ke sininya diantar sama ajudan ayahnya pak Sabil, apa benar?"
"Apa?! 'Kok pak Direktur bisa tahu 'sih?"
"Tahu dari pak Sabil, Kak."
"Issh, dasar polisi gendeng!" rutuknya.
"Kok bisa Kakak diantar sama ajudannya ayah pak Sabil? Kalau tidak salah, pakai mobil pak Sabil juga, kan?"
"Ceritanya panjang, Neng. Sudah ah, gue malas becerita tentang dia."
"Hehehe, sepertinya, kak Listi dan pak Sabil ada main."
"Ih, apa 'sih, Neng. Gue enggak tertarik sama dia," bantahnya.
"Enggak apa-apa tahu, Kak. Lagi pula, Kakak sudah putus juga 'kan sama kak Akmal?"
__ADS_1
"Ya, dan gue putus sama Akmal salah satu penyebabnya ya karena pak Sabil."
"Kalau Kak Listi jadian sama pak Sabil, aku dan pak Zulfikar akan menjadi orang yang paling bahagia. Kata pak Zulfikar, pak Sabil itu anak tunggal, sama seperti Kak Listi, kan? Wah, pasangan serasi. Bedanya, kalau Kak Listi 'kan 'anak mama,' kalau pak Sabil mungkin lebih mandiri."
"Hahaha, hahaha. Mandiri?" Kak Listi malah terbahak.
Lalu, Putra tiba-tiba masuk ke kamarku. Ya, kamarku memang tak dikunci, dan pintunya dibiarkan terbuka.
"Ada apa, A?"
"Cepat keluar, Teh!" Putra terlihat panik.
"Tenang dong A Putra. Ada apa?" timpal kak Listi.
"Ada bu Yuze dan pak Aksa, Teh."
"Apa?!" Aku dan kak Listi kaget berjamaah.
"Iya. Aku serius. Di depan, sekarang wartawan lagi pada heboh, cepat keluar, Kak!"
"Apa ada pak Zulfikar?" tanyaku. Masih berharap jika diapun datang.
"Mas Zulfikar enggak ada, Teh. Tapi, kalau enggak salah mah, pak Aksa dan bu Yuze datang sama pengawal dan polisi yang waktu itu ke rumah kita. Emm, sama pak Sabil."
"WHATS!!"
Kak Listi histeris. Potongan petisan buah yang sudah berada di mulutnya sampai terjatuh begitu saja.
"Ihh, malah pada bengong. Cepat pada ke depan! Aa ke depan lagi, ya." Putra bergegas.
"Kak, pak Sabil 'kan kepala keamanannya keluarga Antasena."
"Ya, gue tahu, Neng. Tapi ---." Kak Listi garuk-garuk kepala.
"Tapi apa, Kak?"
"Ya sudah deh, kita ke depan yuk, Neng." Kak Listi mengalihkan pembicaraan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Saya dan istri menghormati apapun keputusan putra saya selama hal itu tidak bertentangan dengan norma dan agama. Neng Daini adalah istri sah anak saya. Jadi, sama seperti Dewi, Neng Daini juga menantu saya. Pernikahan siri anak saya, sudah disetujui oleh Dewi dan keluarga besarnya. Dengan demikian, kalian tidak perlu memerdebatkannya lagi," jelas bu Yuze pada wartawan.
Aku terharu, tertunduk seraya melelehkan air mata. Bagaimana tak terharu, pak Aksa yang bahkan masih menggunakan kursi rodapun ternyata bisa menyempatkan diri datang ke acara ini.
"Istri saya benar, mulai hari ini, saya mohon pada kalian agar tak membuat berita yang berlebihan tentang acara ini, khususnya tentang Neng Daini. Seluruh media yang akan memberitakan, mohon untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tim kuasa hukum keluarga Antasena. Jika ketahuan melakukan publikasi tanpa persetujuan dari saya, maka saya akan melakukan somasi dan melaporkan media tersebut pada pihak yang berwajib," tambah pak Aksa.
Papa ... terima kasih, lirihku dalam hati.
Awak media saling berpandangan. Namun tak ada satupun dari mereka yang melakukan interupsi.
"Perlu kalian tahu, saya dan istri sangat menantikan kelahiran cucu kembar saya. Selain Neng Daini, Dewipun sedang hamil. Dan saya berjanji tidak akan membeda-bedakan cucu saya. Jangan kalian kira saya akan lebih condong ke anak yang dilahirkan dari Dewi. Kalian salah besar kalau menduga seperti itu. Intinya, saya akan memerlakukan mereka secara adil," pungkas pak Aksa.
Kalimat pak Aksa jelas membuatku semakin bahagia. Ummi dan abahpun pasti bahagia. Di hadapan media, bu Yuze bahkan tak sungkan mengelus dan mencium perutku.
Kemudian kami melakukan foto bersama. Kehadiran pak Aksa dan bu Yuze sungguh membuatku senang luar biasa. Kalaupun pak Zulfikar tak hadir, rasanya tak mengapa.
"Bisa enggak 'sih fotonya jangan dekat-dekat gue terus?!" sentak kak Listi karena pak Sabil selalu berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Karena kasusku, kak Listi sempat viral. Tak heran kalau wartawanpun tertarik memotret kak Listi. Ditambah, kak Listi memang cantik dan fotogenik. Fotogenik adalah istilah untuk penampilan wajah dan sikap tubuh yang menghasilkan potret yang menyenangkan, epic, dan apik.
"Aku hanya kebetulan saja berdiri di samping kamu, jangan ke-PD-an," kilah pak Sabil.
Setelah acara foto-foto, dilanjutkan dengan makan bersama. Aku memilih ke kamar lagi karena kakiku mulai kram dan kesemutan.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di kamar, aku langsung mengecek ponselku dan kembali terkejut. Kali ini, ada pesan dari nomor bu Dewi.
"Bagaimana acaranya? Kamu pasti senang ya karena mama dan papa ke sana."
"Sama seperti kamu, aku juga sedang merasa senang, 'kok. Hahaha, aku dan mas Zul baru saja selesai bercinta. Tadi sore, aku sudah diUSG, dan dokter mengatakan mulai malam kami boleh melakukan hubungan intim sesuka hati."
"Hmm, rasanya nikmat sekali. Mas Zul juga terlihat sangat menikmatinya. Kangen kali ya. Wajar, dia memang sudah lama enggak merasakan kenikmatan tubuhku."
Airmataku meleleh. Ada yang panas di dada ini. Bukan karena hubungan intim mereka. Tapi, aku terluka karena bu Dewi menceritakannya. Dia benar-benar sengaja ingin melukai perasaanku, dan membuat jiwaku terguncang.
Sabar ....
"Ada hal lain yang membuatku tambah senang, mas Zul tak lagi menyebut nama kamu! Yang dia sebut adalah namaku. Dia telah memuaskanku, Daini. Hahaha, aku sampai mendapati titik puncak ternikmat itu beberapa kali. Kalau tidak salah, aku sampai mendapatkannya delapan kali. Hahaha, kamu pasti sedih 'kan membaca pesan ini? Aku sangat puas, Daini. Puas melihat kesedihan kamu. Hahaha."
"Oiya, bagaimana rasanya tubuh kamu tak diinginkan lagi? Terbukti, mas Zul tak mau menjemput kamu lagi. Sebenarnya, mama Yuze dan papa Aksa kesana karena ingin menghibur kamu. Intinya, agar kamu tak sedih karena mas Zul tak bisa datang."
"Sekarang, dia sedang memelukku. Tubuh kita masih dalam keadaan polos dan bekeringat. Mas Zul ternyata sangat mencintaiku. Dia menjamah sekujur tubuhku dan mengatakan kalau aku sangat cantik dan seksi. Kamu hanya pelariannya, Daini. Hahaha, ungkapan cinta dia untuk kamu hanya kamuflase. Hanya sekedar pelampiasan untuk mencari rasa dan suasana yang baru."
"Ahhh .... Hahaha, nikmatnya masih terasa. Tubuhnya sangat perkasa, wangi, dan menawan. Selamat menangis, Daini. Silahkan kamu di sana menangis karena membaca pesan ini, dan di sini, aku juga aku akan menangis. Tapi, aku akan menangis karena merasakan kenikmatan, hahaha."
"Huuks."
Aku tak sanggup lagi membaca pesannya. Segera beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu dan menenangkan batinku.
Kemudian ada pesan dari pak Zulfikar.
"Sudah tidur belum sayang? Aku merindukanmu. Oiya, mama dan papaku ke sana tanpa sepengetahuanku. Aku baru tahu mereka ke sana setelah melihat berita. Selamat atas acara empat bulanannya sayang. Kamu sangat cantik. Aku senang karena kamu memakai cadar. Jadi, orang-orang tidak tahu kalau di balik cadar itu ada penampakan bidadari. I love you so mmuaaach. Aku juga sudah berdoa untuk kebaikan kamu dan calon anak-anak kita."
Aku hanya membacanya dan tak ada niat membalas pesannya.
...⚘️⚘️⚘️...
Dewi Laksmi
"Mama Yuze dan pak Aksa sudah keterlaluan Pi! Cepat lakukan sesuatu!" Aku sedang menelepon papiku.
"Ya sayang. Mami dan papi sudah melihat tayangan beritanya. Mereka benar-benar telah menabuh genderang perang. Tenang saja, sebentar lagi, pak Aksa akan hancur. Papi punya berita besar yang bisa mempermalukannya."
"Baik, Pi. Buktikan ucapan Papi. Jangan cuma janji!" tegasku.
Setelah menelepon papi, aku membaca kembali pesan-pesan yang semalam kukirimkan untuk si Daini.
"Hahaha."
Aku tertawa sendiri. Setiap malam, aku akan terus mengirim pesan seperti ini untuk memprovokasi dan membuatnya stres. Padahal faktanya, aku belum bisa bercinta dengan mas Zul. Sial! Kandunganku lemah. Kata dokter, hubungan intim bisa membahayakan kandunganku.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1