
Menikah untuk becerai?
Benar-benar ide gila pikirku. Pernikahan itu artinya terkumpul dan menyatu. Bisa juga berarti ijab qobul atau akad nikah yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia. Kemudian ditujukkan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan sesuai peraturan yang diwajibkan oleh Islam dan negara.
Ini proses sakral, kok bisa dia terpikirkan menikah demi mendapat gelar janda? Ide bodoh macam apa itu? Aku jadi emosi. Ingin memarahinya atas ide asal-asalan itu.
Gara-gara surat ini, aku jadi kepikiran. Kepalaku pusing tak karuan. Saat rapatpun, aku tak konsentrasi. Wanita itu benar-benar telah mengganggu ketenanganku.
"Nia, aku tidak enak badan. Kamu lanjutkan prsentasinya," titahku pada Nia sebelum meninggalkan ruangan rapat. Setelah itu langsung kepikiran bagaimana caranya aku bisa menemui Hanin dan bicara empat mata dengannya untuk membahas masalah ini.
Tapi wanita itu bukan seperti wanita pada umumnya. Dia ingin ada penengah atau saksi saat bicara denganku. Aku bingung harus mengajak siapa. Kalau aku mengajak orang lain, artinya secara tidak langsung aku telah membocorkan aibku pada orang lain. Ya, ini memang sebuah kesalahan, tapi apa yang aku lakukan pada Hanin adalah sesuatu yang sungguhan.
Aku harus mendapatkan nomor dia saat ini juga. Tapi, caranya? Kalau langsung ke divisi mutu dan meminta nomor Hanin, aku khawatir karyawan lain akan curiga.
Aku memijat kepalaku.
"Berpikir, Zul. Berpikirlah!" teriakku. Ting, ada ide.
Segera aku mengirimkan pesan pada Nia.
"Nia, tolong kamu suruh agar manajer seluruh divisi mengirimkan data staf dan identitasnya padaku. Aku tunggu sebelum jam tiga. Sama nomor telepon seluruh staf mereka." Pesan terkirim.
"Baik, Pak. Tapi sebelumnya mohon maaf Pak, untuk keperluan apa ya?" Pesan balasan dari Nia.
"Aku mau merancang skema kegiatan kompetensi karyawan untuk tahun depan."
"Pak, kalau untuk skema kompetensi, biasanya dirancang oleh divisi sertifikasi, Pak."
"Ya ampun, memangnya kalau aku direktur, tidak boleh membuat rancangan?" Aku jadi kesal.
"Boleh, pak. Baik Pak."
Lalu akupun gelisah saat menunggu jam tiga. Jujur, ingin segera mendapatkan nomor telepon kucing itu. Karena tidak ada kegiatan, sambil menunggu jam tiga, aku menelepon Dewi. Kuharap dengan menelepon Dewi, pikiranku teralihkan. Sayangnya, Dewi tak mengangkat teleponku.
Daripada suntuk, aku akhirnya keluar dari ruanganku untuk pergi ke kantin dan melihat-lihat. Ini pertama kalinya aku ke kantin. Biasanya, makan sianganku selalu diantar ke ruangan.
"Selamat siang, Pak."
"Selamat datang, Pak."
"Selamat atas jabatan barunya."
Sapa beberapa karyawan dan staf yang berpapasan denganku. Ada yang tersenyum, ada pula yang menatapku penuh keheranan.
"Wah, Direktur kita yang baru bersahaja, ya."
"Ganteng banget, pengantin baru tahu. Lihat wajahnya, seger ya.
Sayup kudengar pujian yang berlebihan itu. Padahal, aku bukan orang yang bersahaja ataupun mudah bergaul. Aku jalan-jalan ke sini karena ingin tahu di mana karyawan biasanya makan. Aku penasaran, kucing itu makan di kantin ini, kan?
"Silahkan, duduk di kursi yang ini, Pak."
__ADS_1
Pelayan kantin menyambutku dengan senyum merekah. Aku membalas senyuman mereka lalu mengamati kondisi sekitar. Ya, mirip-mirip sidak lah. Hanya saja kali ini tak ada misi apapun.
"Seluruh staf divisi makan di sini?" tanyaku.
"Ya, Pak."
"Emm, apa ada pemisahan?" tanyaku lagi.
"Maksudnya, Pak?" Mereka sepertinya tidak faham.
"Maksudku karyawan laki-laki dan perempuan apa tempatnya dipisah?"
"Oh, belum Pak. Sejauh ini belum ada pemisahan."
"Terus untuk yang tidak nyaman makan bersama lawan jenis, bagaimana?" Aku ingin tahu sesuci apa wanita itu hingga tak ingin bertemu empat mata denganku.
"Em, perasaan tidak pernah ada komplain, Pak."
Hahaha, dasar pembohong. Berarti, tidak mau bertemu empat mata dan meminta saksi hanya alasan dia saja.
"Eh, Pak. Maaf, kalau tidak salah ada deh karyawan yang tidak pernah mau makan di sini," sela seorang pelayan kantin. Ia berbicara pada pelayan lain yang kuduga sebagai atasannya.
"Sebentar, oiya Pak Zul. Maaf saya lupa. Ya, memang ada karyawan yang tidak mau makan di sini. Kalau tidak salah namanya bu Daini dari divisi mutu."
Deg, mendengar namanya jantungku berdesir. Berarti dia tidak berpura-pura sok suci.
"Lho, kok tidak mau makan di sini? Kenapa? Menunya kurang enak? Jangan sampai ada karyawan yang sakit karena tidak mau makan gratis di kantin ini," tegasku sambil duduk di salah satu bangku.
"Siapa nama temannya? Panggilkan ke sini. Aku mau bicara," kataku.
Mereka saling tatap. Ada juga yang menunduk dan seperti ketakutan. Apa aku terlalu galak? Perasaan tidak, deh. Maksudku hanya ingin tegas pada kucing itu.
"Cepat panggil dia! Anda tidak mengerti ucapanku?!" bentakku.
"Saya panggil siapa, Pak? Bu Daini, apa bu Listi?"
"Temannya saja!" Ya, mereka pasti tidak tahu kalau Hanin tidak masuk kerja.
"Ba-baik, Pak."
Seseorang bergegas. Gugurlah sudah image bersahaja yang tadi sempat diucapkan untukku. Mungkin sudah terganti oleh image Direktur galak. Semua orang yang mengelilingiku menunduk.
"Selagi menunggu, silahkan Bapak minum dulu."
Seorang pelayan memberiku jus jeruk. Ya ampun, jus jeruk ini mengingatkanku pada malam itu. Berawal dari jus jeruk aku menyerahkan keperjakaanku pada wanita yang salah.
"Singkirkan jus itu!" Spontanitas aku mengatakan itu.
"Ba-baik, Pak. Maaf, saya memberikan jus jeruk karena kata bu Tania, Bapak menyukai jus jeruk," dengan tangan gemetar, pelayan pria itu memberi alasan sambil mengambil kembali jus tersebut.
"Mulai sekarang aku tidak suka jus jeruk!" bentakku.
__ADS_1
"Maaf, Pak."
Saat aku masih emosi, seorang wanita datang bersama dengan pelayan kantin. Aku yakin jika wanita ini adalah temannya Hanin.
"Ini teman dekatnya bu Daini, Pak." Ternyata dugaanku tepat.
"Selamat siang, Pak. Saya Listi, temannya Daini," terang wanita itu. Bagus, aku jadi tahu identitas teman dekatnya Hanin.
"Aku tidak mau bicara di sini, ayo bicara di ruang kerjaku," ajakku.
"Ba-baik, Pak." Wanita bernama Listi itu terlihat kaget. Namun segera menyusulku saat aku berlalu.
.
.
"Apa kamu mengenal Daini?"
Setibanya di ruang kerja, aku segera mengintrogasinya.
"Ya, Pak. Kami sahabat dekat."
"Kenapa temanmu itu tidak suka makan di kantin, hahh?! Apa menu yang disajikan tidak enak?!"
"Maaf Pak. Bisa tidak kalau Bapak tidak perlu teriak-teriak? Telinga saya normal, Pak. Kalaupun Pak Direktur bicara pelan, saya tetap bisa mendengarnya."
Ternyata, Hanin dan temannya nyaris sebelas dua belas. Berani sekali wanita ini memperingatiku. Mau kulawan tapi aku sadar akan tujuan awalku.
"Aku tidak mau banyak bicara, cepat kamu jawab saja pertanyaanku!"
"Teman saya bukannya tidak suka makan di kantin, Pak. Hanya saja, dia tidak nyaman berdesakan dengan lawan jenis. Selain itu, dia juga selalu menjaga wudhu," jawabnya. Aku membisu mendengar fakta itu.
"Daini memang berbeda, dia sangat religius," tambahnya lagi.
"Lain kali aku mau bicara langsung dengan temanmu itu. Terus, dia suka makan siang di mana?"
"Makan di meja kerjanya, Pak. Sudah dapat izin kok dari bu Caca."
Aku menghela napas.
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
"Baik, Pak. Permisi."
Setelah itu, aku kembali merenung. Entah ada angin dari mana, aku tiba-tiba ada niatan untuk menyetujui pernikahan itu. Tapi dengan syarat hanya menikah secara agama. Aku tidak ingin menikah secara hukum negara sebab aku takut menyakiti hati Dewi dan keluarga besarku. Aku ingin pernikahan aku dan Hanin bersifat rahasia.
Menikah dengan wanita itu?
Batinku berkecamuk. Jantungku kembali berdegup, dan hal lain yang berhasil aku renggut dari wanita itu, kembali menari-nari di kepalaku. Apa sebenarnya yang terjadi dengan batinku? Sungguh, aku bingung dengan perasaan ini.
...~Tbc~...
__ADS_1