
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Berdoa atau mendoakan adalah hal yang biasa dilakukan oleh umat muslim termasuk aku. Dalam agamaku, berdoa merupakan kekuatan. Artinya, aku boleh meminta segala sesuatu melalui doa. Doa akan dikabulkan dengan berbagai cara.
Namun, di setiap doa, aku tentu saja selalu meminta kebaikan. Sekalipun itu adalah doa untuk orang yang pernah menjahatiku. Termasuk yang kulakukan saat ini. Aku memohonkan kebaikan untuk almarhum pak Pratama Surawijaya agar diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dan dilapangkan di alam kuburnya. Aku juga sudah memaafkan kesalahannya.
"Terbuat dari apa hati kamu, Neng? Bisa-bisanya ngaji berlama-lama untuk orang yang pernah menyakiti kamu."
"Kak, ketika kita berdoa yang baik-baik terhadap orang yang menyakiti kita, kita juga akan mendapatkan berbagai keutamaan dan kebaikan dari doa-doa kita. Sebab, pada dasarnya, saat ada orang yang mencela kita ataupun menjahati kita, orang itu sebenarnya sedang memberikan pahala kepada kita. Jadi, kenapa harus dengan mencela dan menjahatinya kembali? 'Kan sayang, Kak. Nanti pahala yang kita dapatkan dari si pencela bakal hangus."
"Ck ck, kamu memang berhati malaikat Neng," pujinya sambil merebahkan diri di kasurku dan melamun menatap langit-langit kamar.
"Kakak juga tadi ngaji untuk almarhum, 'kan?" Sembari merebahkan diri di samping kak Listi.
"Ya, aku memang ngaji, tapi enggak sebanyak kamu."
"Tapi ikhlas, 'kan Kak ngajinya?"
"Ikhlas 'sih, ikhlas, Neng. Hmm, enggak nyangka ya, Neng. Aku kaget tahu," katanya.
Lanjut memiringkan tubuhnya hingga posisiku dan kak Listi berhadapan. Semenjak usia kehamilanku memasuki empat bulan, aku memang sudah tidak nyaman lagi tidur terlentang. Selalu miring kiri atau kanan sambil memeluk guling.
"Kematian itu 'kan pasti dan sangat rahasia, Kak."
"Hmm, kalau ingat mati aku suka enggak enak makan tahu, Neng. Mana aku banyak dosa lagi. Enggak kayak kamu, Neng. Kamu 'kan sholehah." Sekarang sambil mengelus perutku.
"Itumah penilaian Kak Listi saja. Di sisi-Nya, aku juga belum tentu tergolong orang-orang yang sholehah, Kak."
"Tapi, kebaikan yang bisa dilihat dari kamu itu banyak sekali, Neng. Dari penampilan saja, kamu sudah tertutup. Enggak kayak aku. Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran tahu Neng."
"Penasaran apa, Kak?"
"Penasaran mau segera tahu hasil autopsinya papinya bu Dewi. Bisa jadi 'kan Neng bukan meninggal karena serangan jantung?" duganya.
"Kita lihat saja hasilnya, Kak. Yang jelas, kematian almarhum adalah nasihat untuk kita yang masih hidup. Artinya, setiap ada kematian, di situlah ada sebuah pengingat bahwa siapapun orangnya pasti akan mengalami kematian dan meninggalkan dunia ini."
"Ya, kamu benar, Neng." Kak Listi mengangguk-angguk.
"Dari kematian seseorang, sejarah telah mencatat banyak hal. Orang yang berkuasa di zamannya, akan meninggal dan hanya menjadi catatan sejarah. Orang kaya di zamannya, akan meninggal dan tidak bisa membawa hartanya kecuali harta yang diinfakkan di jalan Allah," lanjutku. Kak Listi masih manggut-manggut.
"Orang-orang cerdas dan pintar di zamannya, akan meninggal dan ilmunya tidak lagi berarti kecuali yang ilmu yang diajarkan dan diamalkan. Orang-orang yang papa di zamannyapun akan meninggal sama halnya dengan orang lain yang meninggalkan cerita. Jadi, beruntunglah bagi orang-orang yang napasnya belum mendesak di kerongkongan, namun ia mau berbuat kebajikan dan bertaubat," pungkasku.
"Jadi berdesir hati aku Neng mendengar kata-kata kamu. Pak Direktur 'tuh beruntung banget ya dapat kamu." Aku hanya tersenyum menyikapi pujiannya.
"Doakan aku supaya cepat hijrah ya, Neng," pintanya.
"Aamiin. Selalu aku doakan 'kok, Kak."
"Seperti apa kamu mendoakannya, Neng?"
"Apa aku harus bilang sama Kakak? Enggak perlu, 'kan? Intinya, aku selalu berdoa yang baik-baik."
"Issh, bilang saja, Neng. Aku 'kan mau tahu," desaknya.
"Emm, baiklah. Salah satunya, aku berdoa agar Kak Listi cepat dapat jodoh dan menikah, hehehe."
"Apa? Hahaha, sudah aku duga. Kamu pasti akan bicara kayak begitu."
"Kok Kakak sudah menduga, 'sih? Apa itu karena Kakak merasa jodoh Kakak sudah dekat?"
"A-apa? Ti-tidak, tidak begitu, Neng. Aku hanya mengira. Ish, kamu begitu ah, enggak asyik." Malah merajuk. Bibirnya dimajukan. Perasaan, aku tidak bicara berlebihan.
"Kak Listi ngambek? Maaf." Aku memeluknya, dan dia langsung tertawa.
"Hahaha, aku enggak ngambek, Neng. Terima kasih ya. Maksudku, terima kasih karena kamu sudah mendoakan aku. Oiya, aku juga suka mendoakan kamu 'kok, Neng."
"Aku juga terima kasih sama Kak Listi. Sesama umat Islam memang harus seperti itu, Kak. Tolong menolong dalam kebaikan, dan saling mendoakan."
Kali ini, kak Listi menghela napas sambil senyum-senyum. Sikapnya memang agak aneh. Tadi, sempat teriak tanpa sebab. Sekarang, senyum-senyum sendiri. Aku sempat menjahilinya dengan menuding kak Listi jatuh cinta sama pak Sabil, tapi ia membantahnya.
"Kenapa senyum-senyum, Kak? Apa aku lucu?"
"Tidak apa-apa, Neng. Aku senyum karena kepikiran tentang surga dunia."
"Maksudnya?" Aku menautkan alis.
"Ya ampun, Neng. Aku teringat akan hal itu karena kamu yang memulainya terlebih dulu. Kamu 'kan yang tadi mengatakan berdoa agar aku cepat dapat jodoh dan menikah?"
"Oh, hahaha." Aku jadi mengerti. Ternyata, kak Listi memikirkan tentang itu. Dia pasti memikirkan hal yang bukan-bukan. Sebab, pipinya terlihat memerah.
"Kak Listi, biar aku jelaskan ya. Surga dunia itu adalah kenikmatan, kesenangan, dan segala bentuk kebahagiaan yang diperoleh selama kita masih hidup dan berada di dunia ini. Jadi, arti lain dari surga dunia adalah kenikmatan duniawi," jelasku.
"Ya ampun, kupikir surga dunia itu ---." Dia tidak menjelaskan kalimatnya.
"Itu yang Kakak maksud juga termasuk ke dalamnya."
"Hehehe," malah terkekeh sambil menutupi wajahnya.
"Makanya, cepat nikah dong Kak," godaku.
"Issh, memangnya menikah itu mudah, Neng? Menikah itu mahal tahu biayanya. Aku juga belum ada jodohnya."
"Pak Sabil kaya, 'kok."
__ADS_1
"Daini, maksud kamu apa coba?" ketusnya. Cemberut lagi.
"Kak Listi, sebagai sebagai sahabat Kakak, aku tidak mungkin menjerumuskan Kakak pada hal-hal yang tidak baik. Termasuk dalam hal mencarikan jodoh yang cocok untuk Kakak. Setelah mendengar cerita dari pak Zulfikar, aku justru semakin yakin kalau pak Sabil adalah pria terbaik untuk Kak Listi. Bobot bibit bebetnya jelas, Kak. Aku jadi tahu banyak tentang pak Sabil. Oiya, kakek buyutnya pak Sabil adalah salah satu pahlawan nasional lho, Kak. Hebat bukan?"
"Memangnya, kalau kakek buyutnya pahlawan bisa jadi pahlawan juga?"
"Setidaknya, rekam jejaknya baik, Kak. Apa Kakak mau menikah dengan suami yang kakek buyutnya adalah koruptor atau anggota partai terlarang misalnya?"
"Ya enggak 'lah, Neng."
"Nah, itu Kakak tahu alasannya."
"Bicara sama kamu, aku memang selalu kalah," katanya.
"Hehehe. Ya sudah, kita bobok yuk, Kak. Biar nanti Subuh kita enggak kesiangan. 'Kan mau ke rumah duka."
"Oiya, ya. Sebentar, aku mau kasih kabar ke bapak sama ibu dulu."
"Ya, Kak."
Saat kak Listi memainkan ponselnya, mataku mulai terkantuk-kantuk. Sebelum benar-benar terlelap, aku terus memikirkan pak Zulfikar. Di manakah ia tidur? Di rumah sakit 'kah? Atau, di rumah duka? Aku jadi khawatir. Ia sulit tidur tanpa bantal. Karena tidak tenang, aku inisiatif meneleponnya. Tapi tidak diangkat. Lanjut menelepon pak Reza. Sama. Tidak diangkat juga.
Apa menelepon pak Sabil saja? Tapi, tidak berani. Akhirnya ada ide.
"Kak Listi, bisa membantuku?"
"Bantu apa, Neng?"
"Tolong Kakak telepon pak Sabil, terus tolong tanyakan kabar suamiku, Kak. Aku khawatir. Aku sudah telepon tapi tidak diangkat. Pak Reza juga tidak mengangkat panggilanku."
"Ya ampun, Neng. Apa yang kamu khawatirkan? Pak Direktur sudah besar. Ada pak Reza dan pengawalnya juga, 'kan? Sudah, ah. Tidur yuk!"
"Kak, please ...."
"Oke, oke. Apa 'sih yang enggak boleh untuk Neng Daini?" Akhirnya, kak Listi memenuhi permintaanku.
Tak kusangka, pak Sabil langsung mengangkatnya. Sayangnya, kak Listi tidak meloudspeaker panggilan tersebut.
"Enak saja! Siapa yang kangen?!" ketusnya. Aku ingin menguping ucapan pak Sabil tapi tidak berani.
"Aku menelepon Anda karena perintah Daini. Bu Daini mau tahu kabar suaminya," sambungnya.
"Oh, begitu? Baiklah. Akan aku sampaikan. Terima kasih Pak Sabil." Lalu mengakhiri panggilan. Namun, wajah kak Listi tampak murung.
"Bagaimana katanya, Kak?"
"Pak Direktur ---."
"Kenapa, Kak?"
"A-apa?!"
"Neng, jangan kaget dulu. Diperiksa polisi bukan berarti penjahat. Tenang, oke?" Lantas memelukku.
"Kok bisa, Kak? Pantas saja dia tak menerima panggilanku. Tapi, kenapa tak mengabariku ya, Kak?"
"Pasti karena pak Direktur tidak ingin membuatmu cemas. Neng Daini yang aku kenal adalah istri penyabar. Aku yakin kamu bisa menerima informasi ini dengan hati jernih."
"Ya, Kak," lirihku.
"Allah itu selalu menyayangi hamba-Nya. Adapun bukti sayang-Nya, bisa berupa rahmat dan juga ujian. Jika kita mampu melewatinya, niscaya Ia akan memberikan banyak rahmat dalam kehidupan hamba-Nya. Kuharap, Anda bisa memetik hikmah dari semua hal yang terjadi. Anda harus yakin bahwa setiap ujian pasti akan membawa hikmah tersendiri. Intinya, tidak ada ujian yang sia-sia."
Pesan itu kukirim untuk pak Zulfikar. Semoga bisa membuatnya jadi lebih semangat. Sementara kak Listi, dia sudah terlelap sedari tadi.
"Kamu pasti tahu kabarnya dari pak Sabil, 'kan? Aku baik-baik saja sayang. Polisi memeriksaku hanya sebagai pelengkap. Jadi, jangan khawatir ya sayang. Papaku juga rencananya akan diperiksa. Keluarga Dewi benar-benar keterlaluan. Mereka seolah-olah menduga jika kematian papi Wijaya ada hubungannya denganku." Pesan balasan dari pak Zulfikar.
"Apa malam ini Anda tidur di kantor polisi?"
"Ya sayang. Rencananya, mau menginap di kamar kantornya pak Sabil. Kamarnya nyaman 'kok. Aku pernah ke sana. Hmm, malam ini enggak bisa peluk kamu. Pasti jadi insomnia." Aku membalasnya dengan emoji senyum malu-malu.
"Ya sudah, cepat tidur ya cantik. Semoga, aku dan kamu dipertemukan di alam mimpi. Kangen pegang-pegang kamu."
Selanjutnya, malah mengirimku pesan-pesan yang tidak layak dibaca oleh anak di bawah umur. Aku saja sampai malu saat membacanya.
"Aku ngantuk Pak. Sudah ya." Mencoba mengalihkan keisengannya.
"Ya sudah. Selamat istirahat sayang. I love you."
"I love you too."
...⚘️⚘️⚘️...
Selepas shalat Subuh, kami ke sana. Ke rumah duka. Di antara iring-iringan mobil mewah itu, aku berada. Satu mobil bersama kak Listi, mama Yuze, bu Juju, dan kak Gendis. Papa Aksa ada di mobil lain. Pak Dhimas dan beberapa orang keluarga yang tidak aku kenalipun turut serta dalam rombongan ini.
Apa yang terjadi terhadap pada papinya bu Dewi, tentu saja langsung menarik perhatian publik. Tadi, sebelum berangkat ke rumah duka, pak Ikhwan telah menerima beberapa orang wartawan untuk menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan informasi yang didapat dari polisi yang berjaga di kediaman orang tua bu Dewi.
Sepanjang perjalanan, suasana begitu canggung. Tak ada yang bicara sepatah katapun. Akupun demikian. Memilih diam dan memfokuskan pandangan pada jalanan yang dilalui. Kak Listi terus memegang tanganku. Ia seolah memahami perasaanku saat ini.
Aku seperti terkurung dalam jeruji kebingungan yang tidak bisa kuketahui muara dan hulunya. Di satu sisi, ini adalah takdir. Namun di sisi lain, ada saja media yang berdesas-desus jika sumber masalah ini adalah aku. Ada yang menulis judul di laman depan berita mereka, 'Harta, takhta, wanita sholeha?'
Lagi, entah ini yang keberapa kalinya, penyesalan itu kembali menyelimuti jiwaku. Perasaan bersalah datang lagi dan membuat hatiku remuk redam. Di saat seperti ini, aku hanya bisa beristighfar sambil mengusap calon buah hatiku.
Apa benar aku si sumber masalah itu? Apakah aku sangat egois karena memilih tetap bertahan di sisinya? Sekarang, aku sudah mendapatkan semuanya. Cinta, pernikahan sah, harta, dan juga buah hati yang tidak lama lagi akan lahir ke dunia ini. Apakah aku salah jika mendapatkan semua itu?
__ADS_1
Aku berusaha menahan air mata ini agar tidak menetes. Melihat bagaimana papa Aksa, mama Yuze dan kak Gendis yang berubah murung, membuat hatiku kian tersayat. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika keluarga ini selalu berusaha melindungiku dan membela pak Zulfikar. Namun, baru di detik ini, aku menyadari jika keberadaanku benar-benar merepotkan dan membebani.
Ya Rabb, aku tahu jika kesabaran itu tidak ada batasnya, tapi ... saat ini ... aku seperti merasakan kalau kesabaranku nyaris sirna.
"Neng, kenapa?" bisik kak Listi. Aku menjawab dengan gelengan kepala.
Perasan ini terus mengusik hatiku. Dan bertambah semakin dalam saat aku telah berada di rumah duka.
...⚘️⚘️⚘️...
Karena yang meninggal bukan orang biasa, suasana di rumah duka begitu ramai. Bagiku, keadaan ini tentu saja terasa asing. Banyak pejabat, aparat tinggi negara, dan pesohor yang melayat. Wartawan dari berbagai mediapun tampak hadir. Karangan bunga menjamur di sepanjang jalan dan sekitar rumah duka.
Sebenarnya, ada jalur khusus yang diperuntukkan untuk keluarga Antasena, namun karena takut jadi pusat perhatian, saat kak Listi dan pengawal lengah, aku mencoba memisahkan diri dari rombongan.
"Hanin, mau ke mana?" Seseorang memegang tanganku.
"Lepas!" Spontan menepisnya.
"Tidak akan. Jelaskan dulu, kamu mau ke mana?"
"P-Pak Dhimas? A-aku mau ke toilet, Pak. Lepas, aku sudah tidak tahan." Semoga dia percaya.
"Kamu tahu toiletnya di mana? Aku antar ya."
"Tidak perlu!" sentakku. Segera berlalu saat dia melepaskanku.
"Hanindiya, hati-hati. Jangan sampai tersesat ya," teriaknya. Namun, aku tidak memedulikannya.
Syukurlah, karena suasana ramai, ditambah aku juga memakai masker, jadi tidak ada yang mengenaliku. Aku mendudukkan diri di kursi yang terletak di ujung tenda. Di sini lumayan lapang. Setidaknya, aku bisa bernapas lega.
"Meninggalnya mendadak?"
"Iya, awalnya 'sih jatuh dari kamar mandi."
Aku mendengar obrolan pelayat yang duduk di sebelahku.
"Katanya, semalam jenazahnya langsung diautopsi tahu."
"Ya, aku juga dengarnya seperti itu. Sst, gosipnya, meninggalnya tidak wajar."
"Masa 'sih?"
"Ada yang bilang gara-gara guna-guna?"
"Dih, kamu masih percaya yang kayak begitu?"
"Aku juga 'kan katanya. Jadi, enggak tahu juga benar tidaknya. Tapi, melihat bagaimana pak Zulfikar dan seluruh keluarganya sayang banget sama istri mudanya, emm, bisa jadi, 'kan?"
"Ssst, bisa jadi almarhum meninggal karena ulah si istri muda."
Kalimat itu membuat dadaku sakit seketika. Tanganku sampai gemetar dan tubuh ini langsung menggigil akibat menahan amarah.
"Istri mudanya memang sangat cantik dan terlihat agamis. Tapi kita 'kan tidak tahu tabiat asli dan belangnya seperti apa. Banyak yang yakin kalau keluarga Antasena sudah termakan guna-guna wanita itu. Kalian pikir 'deh, kurangnya bu Dewi apa coba?"
"Iya juga 'sih? Ihh, seram ya?"
"Ya seram banget. Katanya, sekarang mereka sudah nikah resmi tahu. Wah, menang banyak 'tuh si pelakor. Hidupnya mujur ya?"
"Benar, aku kasihan sama bu Dewinya. Sudah suaminya direbut, dipaksa menerima pelakor, eh, sekarang bapaknya malah meninggal mendadak. Semoga saja si pelakornya cepat dapat karma."
Astaghfirullah ....
Rasanya, aku tidak sanggup lagi mendengar gunjingan itu. Akupun bergegas meninggalkan kursi yang kutempati. Langkahku hampa, pikiranku kalut sekalut-kalutnya.
Aku terus melangkah meninggalkan rumah duka hingga tak terasa sudah berada di sisi jalan raya. Saat ada taksi melintas, tangan ini seolah begerak sendiri dan menghentikan taksi tersebut. Di dalam taksi, aku langsung menangis.
"Mau ke mana, Mbak?"
"Ke ...." Aku bingung sendiri.
"Mbak?"
"Emm, ke-ke bandara, Pak."
"Baik," sahutnya.
Lantas, aku mematikan ponselku. Lalu menatap ke belakang dan terus menangis.
"Huuu."
Pak Zulfikar ... maafkan aku. Mama Yuze, papa Aksa, aku minta maaf. Kak Listi, kak Gendis, aku juga minta maaf.
"Huuu, huks."
Abah .... Ummi ... maaf ... aku hanya manusia biasa. Ummi .... Abah .... Aku sedang berada di posisi yang rapuh dan kepayahan. Maaf ....
Aku tetaplah manusia yang sering menghadapi kondisi-kondisi kritis yang terkadang menjerumuskanku ke dalam perbuatan dosa. Aku tetaplah manusia yang tidak bisa membebaskan diri dari keluh-kesah. Aku ditakdirkan sebagai makhluk khoto wanisyian. Yaitu, tempatnya salah dan lupa.
Aku menyadari sebagai makhluk yang sangat lemah, baik fisik maupun psikologisnya. Ya, aku memang mempunyai akal sebagai kelebihan yang bisa digunakan untuk menanggulangi kelemahanku. Namun saat ini, aku merasa jika akal sehatku sedang tidak berfungsi dengan baik. Aku sadar tengah mengalami kegagalan, kekhilafan dan kealpaan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Sudah sampai bandara, Mbak." Kalimat itu mengagetkanku.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...