Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Muai Terkuak


__ADS_3

Mereka masuk dengan ekspresi kebingungan. Pak Zulfikar tetap memegang erat tanganku.


"Tak ada guna kalian melihat yang tak perlu dilihat, anggap saja wanita bernama Daini itu tak ada di tempat ini," kata bu Dewi. Aku kian menunduk.


"Daini istriku, istri keduaku. Jangan tanya kenapa, karena aku jelaskanpun, kalian belum tentu memahaminya," bela pak Zulfikar.


Staf divisi mutu kembali terkejut untuk kedua kalinya. Namun mereka belum ada yang berkomentar. Hanya menatapku dan seolah-olah  tak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini.


"Dia pemeran utama yang ada di berita itu. Keren, kan?" sela bu Dewi.


"Kalian mau menjengukku, kan? Ingat ya, kalian tidak ada hak ikut campur dengan urusan rumah tanggaku. Aku mau poligami ataupun monogami, itu hakku. Faham?" tegas pak Zulfikar. Bola matanya beredar mengitari satu persatu perwakilan staf divisi mutu yang tertunduk.


"Segitunya kamu membela dia, Mas."


"Hanin, sekarang kamu ke kamar tunggu, jangan ada di sini," perintahnya. Tanpa memedulikan ucapan bu Dewi.


"Baik," jawabku. Namun sebelum pergi, aku inisiatif menyiapkan minuman berupa beberapa gelas kemasan air mineral. Kuletakan di meja dekat mereka.


"Nah, kamu lebih pantas jadi pembantu," ledek bu Dewi. Dia mempermalukanku. Tapi tak masalah. Toh, aku berada di sini bukan untuk bu Dewi. Melainkan untuk pak Zulfikar.


"Jangan sembarangan bicara, Wi. Kamu manajer mereka. Apa pantas kamu mengatakan itu di hadapan mereka? Hanin dan aku sudah menikah. Kalian harus tahu, Dewi mengizinkan aku menikahinya secara siri. Jika kalian merasa tak nyaman berada di sini, kalian boleh pergi," kata pak Zulfikar. Ia sedikit meringis saat berbicara. Pasti ia merasakan kesakitan. Kasihan sekali.


"Tidak, Pak. Kami ke sini untuk menjenguk Anda." Seorang staf memberanikan diri berbicara.


Pak Zulfikar terdiam, pelipisnya bekeringat.


"Apa ada yang sakit, Pak? Perlu aku panggilkan dokter atau suster?" tawarku.


"Ya sayang, panggilkan dokter, kepalaku sakit," keluhnya. Dia bahkan memanggilku sayang di hadapan mereka. Ya ampun, malu sekali.


"Aku saja yang tekan belnya!" Perkara bel saja, bu Dewi tak mau mengalah.


"Maafkan kami, Pak. Apa kedatangan kami mengganggu?" tanya staf mutu.


Namun pak Zulfikar tak menjawab. Aku panik. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya. Aku menekan bel lagi setelah bu Dewi menekannya. Lalu dokter dan dua orang suster datang.


Mereka terkejut saat melihat ada beberapa pengunjung di kamar ini.


"Mohon maaf, penunggu di kamar ini maksimal dua orang, kenapa bisa banyak sekali?" keluh dokter.


"Aku yang membawanya, mereka stafku," kata bu Dewi. Rupanya, bu Dewi memaksa membawa pengunjung ke kamar ini.


"Mohon maaf, Dok. Kami akan segera kembali," kata seorang staf.


Mereka berdesas-desus pelan, setelah berpamitan, merekapun berlalu meninggalkan ruangan. Bu Dewi menatap kepergian mereka sambil menghela napas. Dokter dan suster segera memeriksa pak Zulfikar.


"Produksi drain telinganya bertambah banyak, Dok. Warnanya merah pekat," lapor suster.


"Sepertinya, Pak Zulfikar terlalu banyak berkomunikasi, apa benar?" tanya dokter. Pak Zulfikar mengangguk pelan.


"Mohon dibatasi ya Pak, gendang telinga Bapak perdarahan lagi," jelas dokter. Aku dan bu Dewi terdiam.


Aku jadi menyesal karena merasa menjadi penyebab pak Zulfikar banyak bicara.


"Saya akan berikan vitamin dan obat tidur dosis rendah. Semoga Pak Zulfikar bisa beristirahat," kata dokter.


"Silahkan, Dok," kataku. Bu Dewi diam saja, tumben.


Setelah suster menganti selang drainase, dan dokter menyuntikkan beberapa obat, merekapun pergi. Sebelum pergi, dokter berpesan agar aku dan bu Dewi tidak sering-sering mengajak pak Zulfikar berkomunikasi.


"Baik, Dok," jawabku. Dan bu Dewi diam saja. Kenapa ya? Aku heran dengan sikapnya.


"Bu, emm, Kakak Dewi kenapa?" Aku menyentuh bahunya. Bu Dewi tetap diam.


Karena bu Dewi bergeming, aku memutuskan untuk membaca Al-Qur'an selagi pak Zulfikar tertidur. Sambil membaca Al-Qur'an, sesekali aku menoleh ke arah bu Dewi yang ternyata masih duduk dan melamun. Posisinya bahkan belum berubah. Aku jadi khawatir.


"Kak Dewi?"


Aku memberanikan diri mendekatinya. Bu Dewi menatap pada satu titik fokus dan jarang mengedipkan mata. Ya Allah, apa yang terjadi? Aku semakin khawatir. Tak mungkin juga aku lapor pada dokter. Akhirnya, aku memutuskan untuk menelepon kak Gendis.


"Kak, Kakak di mana? Cepat ke rumah sakit, Kak."


"Ada apa, Neng? Kok kamu kayak panik, sih? Zul tak apa-apa, kan?"


"Pak Zulfikar sedang tidur, tadi diberi obat tidur sama dokter, Kak. Ini masalah Kak Dewi, Kak De ---." Aku tak bisa berkata-kata lagi sebab seseorang tiba-tiba mencekik leherku.


"Halo, halo, halo Neng Daini, halo Neng."


'Prak.'


Aku menjatuhkan ponselku karena berusaha berontak dari si pencekik itu. Dan panggilan kak Gendis sepertinya telah terputus.


"K-Kak Dewi ---."


Ternyata, bu Dewi yang mencekikku. Aku membelalak. Tangannya kuat sekali. Sambil mencekikku giginya gemeretak.


Pak Zulfikar tolooong ....


Batinku memanggilnya. Walaupun aku tahu kalau pak Zulfikar tak mungkin bisa menolongku.


"Bu, lepas! Ke-kenapa?" tanyaku saat jeratan tangannya mengendur.


"Aku membencimu, Daini!" katanya.


Mata bu Dewi melotot, tapi lama kelamaan tatapannya jadi tak fokus, tangannya yang mencekikku terlepas. Lantas ia menangis tersedu-sedu. Aku melongo. Teramat keheranan dengan sikapnya. Segera mengambil ponselku yang tadi jatuh. Syukurlah, masih bisa menyala. Namun kacanya retak.


Saat hendak menelepon kak Gendis lagi, dua orang pria tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Mereka memakai seragam hitam-hitam ala bodyguard. Kupikir, mereka petugas keamanan rumah sakit yang bertugas mengontrol.


"Kak Dewi, Kakak kenapa?"


Karena bingung, akupun memeluknya. Dia tak mengatakan apapun, terus menangis dan menangis.


"Maaf, kami harus membawa Non Dewi," ucap petugas keamanan itu. Berarti, mereka bukan petugas keamanan rumah sakit?


"Maaf, Bapak-bapak ini siapa ya?" tanyaku.


"Kami bodyguard yang bekerja di kediaman Non Dewi. Ini kartu kami."

__ADS_1


Salah satu dari mereka menyodorkan kartu tanda pengenal. Aku segera mengeceknya dalam keadaan masih memeluk tubuh bu Dewi. Aku benar-benar kebingungan dengan peristiwa aneh ini.


"Baiklah, silahkan," kataku.


Setelah memastikan mereka bukan orang jahat dari tanda pengenal itu, aku akhirnya membiarkan mereka pergi membawa bu Dewi. Mereka lantas menggandeng bu Dewi.


"Oiya, apa Anda bu Daini?" Di ambang pintu, salah satu dari mereka bertanya.


"Benar," jawabku. Masih dalam mode bingung.


"Nanti akan ada seseorang yang ingin bicara dengan Anda."


"Siapa?" tanyaku. Masih dalam mode kebingungan dan terheran-heran.


"Nyonya Silfa," jawabnya.


"Nyonya Silfa?" Aku menautkan alis. Merasa tak asing dengan nama itu.


"Ya, Bu. Nyonya Silfa, beliau ibundanya Non Dewi," jawabnya. Lalu mereka pergi dan tak menolehku lagi. Aku semakin kebingungan. Apa yang terjadi pada bu Dewi benar-benar membuatku pusing tujuh keliling.


Lalu seseorang masuk lagi. Kupikir dia kak Gendis, tapi aku salah. Ternyata, dia seorang wanita yang wajahnya pernah aku lihat di layar kaca. Aku yakin jika wanita ini adalah nyonya Silfa.


"Bu Silfa?" sambutku.


"Kamu Daini, kan?"


"Ya, Bu. Silahkan masuk."


"Bagaimana kabarnya Mas Zul?" tanyanya sambil merapikan paket buah dan bunga hidup yang dibawanya.


"Alhamdulillah, membaik Bu," jawabku seraya menyalaminya.


Bu Silfa duduk di kursi tunggu dan terus menatapku. Aku duduk di kursi yang ada di hadapannya. Ada apa ya kira-kira? Aku benar-benar kebingungan.


"Saya mau bicara serius sama kamu. Bisakah kita mengobrol jauh dari Mas Zul?" tanyanya.


"Mas Zul sedang tidur, Bu."


"Ya, tapi yang akan saya obrolkan adalah hal penting yang sifatnya sangat rahasia. Bisakah?" pintanya.


"Boleh, Bu. Mari bicara di depan kamar tunggu," ajakku.


Dari depan kamar tunggu, aku masih bisa melihat pak Zulfikar. Tapi aku yakin saat kami berbicara pelan, walaupun pak Zulfikar bangun, ia tidak akan bisa mendengarnya.


"Baik, mari." Bu Silfa beranjak mendahuluiku.


.


.


"Saya sudah memantau kamu sejak lama," bu Silfa memulai pembicaraan.


"Maksud Ibu?"


"Tenang saja, tak perlu khawatir," katanya. Entah apa maksudnya, aku tak memahaminya.


"Bu?" Aku semakin kebingungan.


"Daini ...." Menatapku.


"Kenapa, Bu?"


"Tolong bujuk Zul agar tidak menceraikan Dewi, saya mohon sama kamu."


"Maaf Bu, aku tidak punya hak untuk ikut campur masalah ini. Pak Zulfikar sudah memutuskannya. Sebelumnya, jujur, aku memang pernah melarangnya. Tapi kali ini, aku tak bisa melarangnya lagi."


"Daini, kalau sampai Zul menceraikannya, Dewi bisa ---."


"Neng Daini, Neng!" Kak Gendis tiba. Teriakan kak Gendis membuat bu Silfa tak melanjutkan kalimatnya. Kak Gendis terkejut saat melihat bu Silfa.


"Bu Silfa? Dewi mana?" Langsung menanyakan bu Dewi.


"Dewi tadi pulang, jadi Mami sengaja ke sini untuk menggantikan Dewi," sela bu Silfa.


Padahal, fakta sebenarnya tidak seperti itu. Saat berdiri, bu Silfa mengelus punggungku, yang artinya, ia ingin agar aku mengiyakan penuturannya. Saat melirikku, ia juga mengedipkan matanya. Ini benar-benar aneh.


"Tadi ada apa, Neng? Kok kamu telepon akunya seperti lagi panik, sih?" Kak Gendis menatapku.


"Ehm, ta-tadi Pak Zulfikar kesakitan, Kak. Jadi, aku panik," jawabku sambil menunduk. Aku tak bisa menyembunyikan kebingungan ini.


"Ada apa Neng? Kamu jujur saja, kenapa kamu seperti ketakutan? Saat kamu menelepon, kamu mengatakan 'ini masalah kak Dewi.' Kamu juga bilang Zul sedang tidur. Tapi Bu Silfa bilang datang ke sini karena menggantikan Dewi. Sebenarnya ada apa 'sih? Jujur saja," desak kak Gendis.


"Tak ada apa-apa, Dis. Saat Daini menelepon kamu, Mami ada di sini, kok."


"Apa?!"


Kak Gendis jelas kebingungan. Akupun bingung harus mengatakan apa. Aku takut salah ucap. Jika aku jujur, aku juga takut terjadi kesalahfahaman antara kak Gendis dan bu Silfa. Terpaksa, diam seribu bahasa.


"Neng, ada apa? Cepat katakan," desaknya.


"Gendis, kamu tenang dong, tak ada apa-apa 'kok. Kenapa kamu harus panik?"


"Bu, aku tentu saja panik. Tadi Daini meneleponku dan ingin mengatakan suatu hal tentang Dewi. Sekarang Daininya malah diam. Ya, aku bingung 'lah. Kalau Daini diam saja, itu artinya, ada yang dia sembunyikan. Lihat, dari tadi dia menunduk terus. Oiya, apa ini? Kenapa HP kamu rusak begini, Dai?"


"Gendis, kamu tenang dong! Jangan berisik! Adik kamu lagi istirahat," tegas bu Silfa.


"Baik, kalau Ibu tak mau berkata jujur dan Daini diam saja, aku mau mengecek CCTV di ruangan ini. Kalian mencurigakan," kata kak Gendis sambil berlalu.


"Dis, Gendis, tunggu."


Bu Silfa menyusul. Aku hanya bisa menatap kepergian mereka. Namun tatapanku teralihkan kerena melihat tubuh pak Zulfkar begerak.


.


.


"Anda sudah bangun?" tanyaku saat sudah ada di dekatnya.

__ADS_1


"Aku tidak tidur sayang," jawabnya.


"A-apa?" Aku mengerjapkan mataku.


"Maaf tak bisa menolong kamu saat Dewi hampir mencelakai kamu. Aku 'kan belum bisa begerak sayang," jelasnya.


"A-apa?" Aku kembali terkejut.


"Sayang." Dia meraih tanganku.


"Apa anda pura-pura tidur? Bukankah Anda tadi disuntik obat tidur?"


"Ya sayang, tapi 'kan itu obat tidur dosis rendah. Hanya untuk membuatku rileks saja."


"Aku tak mengerti," kataku.


"Harusnya, kejadian tadi membuatmu faham kenapa aku ingin menceraikan Dewi," katanya.


"Maksud Bapak?"


"Sikap Dewi aneh, bukan? Nah, alasan itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa aku ingin menceraikannya."


"Ja-jadi A-Anda sudah tahu kalau bu Dewi agak aneh?"


"Sudah sayang. Aku sudah tahu sejak lama. Namun catatan rekam medis milik Dewi menujukkan kalau dia baik-baik saja," jelasnya sambil menguap.


"Aku semakin tak mengerti," gumamku.


"Sayang, begini, di surat perjanjian pranikah itu ada keterangan kalau aku dan Dewi dinyatakan sehat secara lahiriah dan batiniahnya. Ada surat dokternya juga. Tapi, melihat kondisi Dewi yang seperti itu, aku curiga jika keluarga Dewi memalsukan rekam medis milik Dewi untuk tetap bisa mengambil keuntungan dari pernikahan kami."


"Saat aku bisa membuktikan jika mereka menipuku, maka surat perjanjian pranikah itu bisa dibatalkan. Jadi, bukan aku yang harus membayar denda, tapi mereka," jelasnya panjang lebar.


"Aku bingung." Menautkan alisku.


"Ya ampun sayang. Begini, deh. Boleh aku meminta tolong?" pintanya.


"Boleh, Pak," jawabku.


"Tolong ambilkan sikat gigiku." Sambil menunjuk kotak kecil yang dibawa dari ruang HCU.


"Ini, Pak. Mau sikat gigi? Aku bantu ya." Akupun membantunya.


"Hmm, segar," katanya. Lalu secara tiba-tiba dia merangkul leherku saat aku sedang mengelap bibirnya.


"Kenapa?" tanyaku sambil mengerjapkan mata karena jarak kita teramat dekat.


"I wanna kiss you, my lovely," gumamnya.


"Apa? Anda tidak serius, kan?"


"Serius, dong."


"Pak, Anda jangan macam-macam banyak CCTV," protesku.


"Biarkan saja," katanya.


"Pak aku tidak ma ---."


Dia benar-benar tak tahu tempat. Bisa-bisanya dalam keadaan sakit masih terpikirkan untuk melakukan hal memalukan ini.


Aku terseok-terseok. Aku meremang dan pastinya tak bisa menolak. Pasca operasi, keterampilannya dalam hal ini ternyata tak berubah. Malah semakin menjadi-jadi. Semakin mumpuni. Ya ampun, kalau tiba-tiba ada petugas masuk bagaimana?


"Manis sekali," ucapnya setelah melakukannya cukup lama dan berhasil membuatku sesak napas. Aku mematung. Masih tak menyangka jika tadi ... aku malah mengimbanginya. Memalukan!


"Aku merasa kalau kamu tak malu-malu lagi, apa itu artinya ---."


"Tidak mengandung arti apa-apa," selaku. Serius, pipiku seakan memanas karena malu.


"Baiklah, sekarang kita bahas yang tadi. Emm, masalah sikap Dewi. Bagaimana pendapatmu?" Sambil tersenyum-senyum.


"Ya, aku juga merasa heran, Pak. Tapi belum bisa menyimpulkannya."


"Wah, setelah aku memberikan kamu vitamin C, kamu jadi cepat-tanggap ya," ledeknya.


'Brak.'


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Kak Gendis datang tanpa bu Silfa, malah datang bersama petugas keamanan dan beberapa orang petugas medis. Aku dan pak Zulfikar terperanjat kaget. Kenapa demikian? Kerena tangan kak Gendis dipegangi pihak keamanan rumah sakit.


"Lepaskan! Kalian salah tangkap!" teriak kak Gendis.


"Ada apa ini?" tanya pak Zulfikar.


"Maaf, Bapak tetap tenang ya. Masalah ini sudah teratasi," jelas dokter sambil menenangkan pak Zulfikar.


"Zul, mertua kamu memfitnahku!" teriak kak Gendis. Aku dan pak Zulfikar spontan saling menatap.


"Ada yang tak beres Zul! Kamu harus tahu!" teriaknya lagi.


...~Tbc~...


Assalamu'alaikuum Wr. Wb.


Dear my reader tercinta. Mohon maaf karena upnya terlambat. Pengintaian TBR terkendala program mudik, hehehe. Oiya, nyai sedang mudik ke daerah sekitaran Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat? Ada yang tahu?


___


Gema takbir berkumandang. Tanda kemenangan telah datang. Mohon maaf atas semua kesalahan. Mari bergandengan tangan untuk bersyukur kepada Allah SWT atas hari yang indah dan diberkahi ini.


Semoga Allah SWT selalu memberkahi kita semua dengan nikmat iman-Islam, kebahagiaan, dan kemakmuran.


Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H.


Salam sayang, salam ukhuwah.


Wassalamu'alaikuum Wr. Wb.

__ADS_1


__ADS_2