
Mereka benar-benar tidak menghargaiku! Hei! Aku menggaji kalian dengan uang! Bukan dengan daun kering! Aku berusaha terus meronta-ronta. Namun ikatan di kakiku malah semakin kuat. Kurang ajar kamu Uu Ta Uu! Kamu juga Ikhwan! Awas kalian ya! Akan potong gaji kalian!
"Mmm! Hmm!"
Artinya, lepaskan! Lepas! Tapi percuma saja. Toh, mereka tidak akan mendengarku. Di saat aku masih meronta, bisa-bisanya mereka malah kompromi.
"Siapa yang akan menjelaskan pada pak Direktur?" tanya pak Sabil.
"Anda saja, saya 'kan hanya pengacaranya. Sedangkan Pak Sabil 'kan penasihat hukumnya."
"Hematku, lebih baik Pak Ikhwan saja. Aku agak malas menjelaskannya. Kalau disuruh apel ke rumah Listi 'sih aku semangat," jelas pak Sabil sambil melap keringat di keningku dengan tissue.
Daripada sia-sia mengeluarkan tenaga, aku akhirnya mengalah. Terdiam dan memelototi mereka secara bergantian.
"Hahaha, Pak Zulfikar tetap tampan. Padahal lagi marah ya," puji si Uu.
"Kita juga tampan, 'kok. Hahaha." Mereka malah berbalas tawa.
"Ahrmm!" teriakku. Artinya, cepat bicara! Apa yang ingin kalian katakan! Tapi, mereka mana paham. Sial!
"Ya sudah, kita gamsuit saja yuk Pak!" Yang kalah yang menjelaskan ya," ajak pak Sabil. Ya ampun Uu. Kamu perwira! 'Kok bisa 'sih mengambil keputusan semacam ini dengan cara gamsuit?
"Ide bagus," sahut pak Ikhwan. Mereka benar-benar menyebalkan! Mataku semakin mendelik saja.
"Gamsuit," ucap mereka bersamaan. Hasilnya, pak Sabil kalah.
"Yah. Hmm, baiklah, aku yang menjelaskan."
Sementara pak Ikhwan langsung nyengir kuda. Aku mengatur napas karena emosi. Di dalam mobil ini, sepertinya hanya aku yang tersiksa. Sudah diselingkuhi! Dikerjai anak buah! Nasib-nasib. Untungnya aku masih memiliki Daini Hanindiya Putri Sadikin.
"Ehm-ehm." Sebelum bicara, pak Sabil berdeham dulu. Dasar pria yang sedang jatuh cinta, parfumnya benar-benar menyeruak dan sedikit menggangguku.
"Begini, Pak." Dia mulai serius.
"Barang bukti adalah barang yang digunakan oleh terdakwa untuk melakukan suatu delik atau sebagai hasil suatu delik, dan disita penyidik untuk digunakan sebagai barang bukti di pengadilan." Pak Sabil mulai biacara serius. Pak Ikhwan manggut-manggut, aku tidak peduli. Sengaja memalingkan wajah saat pak Sabil bicara.
"Selain barang bukti, ada juga alat bukti. Alat bukti ini dapat berupa keterangan saksi, keterangan ahli, surat atau tulisan, petunjuk, keterangan pihak-pihak dan data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca atau didengar. Sedangkan barang bukti adalah barang yang digunakan untuk melakukan atau membantu tindakan pelanggaran etika, dan pelanggaran hukum baik pidana maupun perdata," lanjutnya.
Ini bukan kelas kuliah hukum Uu. Kenapa tidak langsung saja? Pak Ikhwan juga! Bukannya memberi saran, malah manggut-manggut terus.
'BUGH.'
Aku menghentakkan kaki. Semoga mereka paham kalau ingin segera pada intinya saja. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak butuh pemanasan! Kecuali dalam hal itu. 'Tuh, 'kan? Jadi rindu pada Hanin. Kalau ia tahu aku diikat dan dibekap seperti ini, Hanin pasti marah.
Tendanganku membuat mereka terkejut. Namun tetap tidak ada tanda-tanda akan melepaskanku.
"Begini saja 'deh. Intinya, Pak Zulfikar harus merahasiakan informasi ini pada siapapun. Termasuk pada pihak-pihak yang Anda curigai ataupun yang berhubugan dengan foto dan vidio tersebut. Aku dan Pak Ikhwan telah sepakat tidak berasumsi, tidak akan menyudutkan siapapun dan menuduh pada siapapun sebelum penyidik membeberkan fakta sebenarnya." Syukurlah, pak Sabil tidak bertele-tele lagi.
"Pak Zulfikar, bukankah kita dan orang dalam telah sepakat untuk merahasiakan info apapun yang dia berikan? Dalam hal ini, maksudnya Bapak cukup tahu saja dan tutup mulut. Ingat Pak, kepergian pak Pratama Surawijaya bukan berarti akan mengurangi pengaruh keluarga besar mereka. Jadi, aku berharap Bapak bisa bersabar dan menahan diri."
"Jika Anda gegabah dan asal tuduh, kita semua akan habis, Pak. Bayangkan, ada berapa orang yang terlibat pencurian data barang bukti ini? Anda, aku, pak Ikhwan dan mata-mata. Cara kita menggunakan orang dalam saja sudah salah, Pak. Jadi, aku berharap Bapak bisa bekerja sama. Asal Bapak tahu saja, mata-mata kita adalah ayah dari dua orang anak perempuan yang usianya masik balita."
"Betul itu," sahut pak Ikhwan sambil mengangkat jempol.
"Selain itu, pelantara si mata-mata juga harus menjadi bahan pertimbangkan Anda. Bayangkan Pak, pelantara mata-mata itu adalah seorang pria tampan yang baru saja menemukan tambatan hatinya. Dia tampan dan masih muda. Belum menikah lagi. 'Kan kasihan, Pak." Sambil mengulum senyum. Dasar Uu! Aku tahu jika dia sedang membicarakan dirinya sendiri. Ya, pak Sabil adalah pelantara mata-mata.
"Betul itu."
Lagi, pak Ikhwan menyahut sambil mengangkat jempol. Ya ampun pak Ihwan, memangnya enggak ada kalimat dan gaya yang lain apa? Gaya dan ucapannya sangat monoton.
"Oiya satu lagi, Anda harus kasihan juga sama pak Ikhwan, Pak. Dia 'kan belum menikah lagi. Selain itu, Pak Ikhwan juga punya anak yang masih kecil." Pak Sabil terus berorasi sesuka hatinya. Aku menyimak. Apa yang dia katakan memang banyak benarnya.
__ADS_1
"Bapakmah enak sudah kaya tujuh turunan. Kalaupun Anda diam saja, uang Anda akan tetap mengalir. Lha kita? Kalau aku, mata-mata, atau pak Ikhwan sampai dipenjara gara-gara pencurian data barang bukti bagaimana? Jika itu terjadi, karier kami akan hancur, Pak. Selain itu, citra instansi kami juga akan dipertaruhkan."
"Betul itu."
Sialan! Kenapa pak Ikhwan jadi menyebalkan? Apa gara-gara terlalu pusing memikirkan urusanku.
"Terlebih aku pribadi belum merasakan nikmatnya surga dunia. Hahaha." Apa hubungannya kasus ini dan surga dunia Sabilulungan?!
"Hahaha. Betul itu. Kalau dipikir-pikir, saya juga sudah lama enggak merasakan surga dunia lagi," sahut pak Ikhwan. Ini lagi. Apa maksudnya coba? Kalau kamu mau yang cari istri lagi Ikhwan Hadikusuma!
"Nah, betul itu. Pak Zulfikar mah enak ya, mana istrinya punya dua lagi," timpal pak Sabil.
Sialaaan! Sebenarnya, kalian mau curhat apa mau menasihati?! Mataku kembali mendelik. Kesal! Sebal! Geram!
"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya surga dunia itu Pak Ikhwan?" Uu malah menanyakan itu pada pak Ikhwan. Memang benar-benar ya! Si Uu harus segera dinikahkan sama Listi. Sudah enggak tahan kayaknya.
"Rasanya? Waduh, kalau saya ceritakan, khawatir pak Sabil berbuat yang tidak-tidak sama Listi."
"Ceritakan 'lah, Pak. Sedikiiit saja. Apa salahnya? Anggap saja berbagi ilmu." Ya ampun Sabilulungan! Jadi, aku dibekap dan diikat seperti ini demi mendengarkan cerita kalian?!
"Hahaha. Aduh, bagaimana menceritakannya ya? Pokoknya, kalau sudah merasakannya sekali suka mau lagi, dan lagi. Kalau sedang terjadi suka lupa diri dan lupa waktu. Setelah selesai bikin ngos-ngosan, dan emm .... Hahaha." Diakhiri tawa. Pak Ikhwan juga sepertinya harus segera menikah lagi.
"Wah, aku jadi penasaran, Pak. Hehehe." Pak Sabilpun terkekeh. Kalian ya! Ingin rasanya menggetok kepala kalian berdua dengan palu.
Setelah mereka puas tertawa, pak Ikhwan melepas dasi yang menutupi mulut.
"Aaarrgggh!" Aku langsung beteriak. Nyaris memecahkan kaca mobil saking kencangnya.
"Uhhuk uhhuk." Karena terlalu kuat jadinya batuk-batuk.
"Minum Pak, minum." Pak Sabil langsung menyodori air di botol kemasan.
"Tak sudi!" sentakku.
"Cepat lepaskan talinya! Ingat ya! Gaji kalian aku potong!" ancamku.
"Jangan 'dong, Pak. Untuk Pak Sabil 'sih enggak masalah tidak diberi juga, Pak Sabil 'kan anak orang kaya, dianya juga sudah digaji negara," keluh pak Ikhwan.
"Bodo amat!" sentakku. Masih kesal.
"Baik, Bapak akan kami lepaskan, asal janji dulu tidak akan bertindak gegabah." Pak Ikhwan mencoba bernegosiasi.
"Apa kalian sudah puas sekarang?! Kalian puas dengan tindakanku! Apa kalian curiga pada seseorang yang aku curigai?!" teriakku.
Jujur, aku sedih, marah, dan merasa malu. Biar bagaimanapun Dewi adalah istriku. Harga diri Dewi, harusnya aku yang menjaganya, tapi ... bisa jadi karena aku terlalu mencintai Hanin, Dewi mengambil jalan pintas dengan cara hina seperti itu.
"Pak, sudah kami jelaskan, kami tidak pernah sembarangan menuduh dan menduga-duga. Sabar ya, Pak."
Pak Ikhwan merangkul bahuku. Ia dan pak Sabil kemudian saling menatap. Aku yakin mereka sudah curiga. Apa lagi saat ini kita berada di jalan raya yang jelas-jelas akan menuju ke rumah Dewi.
"Aku tidak bisa sabar! Aku merasa harga diriku sudah diinjak-injak!" teriakku.
Dan tubuh ini kembali gemetar. Pak Sabil akhirnya melepaskan tali yang mengikat tanganku. Posisiku saat ini diapit. Pak Sabil di sisi kanan, dan pak Ikhwan di sisi kiriku.
"Saya paham yang Anda rasakan." Pak Ikhwan menepuk pundakku. Aku tertunduk. Mata ini kembali berkaca-kaca.
"A-aku gagal menjadi suami yang baik," lirihku.
Akhirnya, sisi lemahku muncul di hadapan mereka. Ini memang memalukan. Tapi, aku tidak bisa menyembunyikannya.
"Bukan salah Anda. Lagi pula, vidio itu belum selesai diselidiki. Bisa jadi, pemeran dalam vidio itu bukanlah orang yang Anda maksud," jelas pak Sabil.
__ADS_1
"Maaf kalau tindakanku nyaris mencelakai kalian. Karena emosi, aku sampai tidak berpikir ke arah sana. Jika kalian ada di posisiku, kalian juga pasti merasakan sakitnya dikhianati dengan cara seperti itu."
"Pak, kita belum tahu titimangsa kejadian itu. Bisa jadi, kejadian itu terjadi sebelum Anda dan terduga pelaku memiliki hubungan." Pak Sabil kembali menenangkanku.
"Dia masih virgin saat aku pertama kali menidurinya," lirihku.
Akhirnya, terpaksa mengatakan hal yang rahasia itu. Masih ingat saat-saat itu, dan aku yakin seyakin-yakinnya jika dia masih virgin.
Mendengar pengakuanku, pak Sabil dan pak Ikhwan saling berpandangan. Mereka berdua lantas memelukku.
"Dadaku sakit. Sakit sekali." Aku hendak memukul kembali dadaku. Namun mereka menahan tanganku.
"Pak, semuanya belum terbukti. Jangan sampai data yang belum pasti itu memengaruhi Anda." Pak Ikhwan kali ini membelai rambutku. Aku segera menepisnya.
"Hanya Hanin yang boleh memegang kepalaku!"
"Eh, maaf Pak."
"Bagaimana caranya aku harus bersikap pada wanita itu? Apa aku bisa bersabar sampai persidangan selesai? Aku jijik sama dia. Bagaimana ini, Pak Sabil, Pak Ikhwan? Lalu, apa aku juga harus menyembunyikan hal ini dari Hanin? Karena dia baik, dia selalu tidak senang kalau aku tidak datang untuk melayani wanita tidak punya moral itu," keluhku. Mulai detik ini, aku malas menyebut namanya lagi.
"Baiknya, Anda juga merahasiakannya dari bu Daini," saran pak Sabil.
"Di hadapan terduga pelaku, Anda harus berakting seolah tidak terjadi apa-apa. Hanya itu yang bisa kita lakukan agar apa yang kita lakukan mengenai pengambilan data barang bukti itu tidak diketahui siapapun," tambah pak Ikhwan. Aku menghela napas.
"Baiklah, kalau begitu, tolong antar aku ke apartemen baruku. Sama siapa saja boleh. Aku malas menyetetir, pikiranku kacau."
"Baik, sama saya saja. Biar mobil firma dibawa sama Pak Sabil." Pak Ikhwan mengajukan diri.
"Setuju, aku mau kembali ke kantor Pak Zulfikar."
"Ke kantor?" sahutku dan pak Ikhwan bersamaan.
"Ya, Pak. Aku mau mengecek calon istriku."
"Kayak anak muda saja," ejek pak Ikhwan sambil mendorong pak Sabil agar segera keluar dari mobilku.
Selama dalam perjalanan menuju apartemen, aku hanya terdiam. Perasaan sakit itu terus menggelayuti pikiranku. Tidak habis pikir kenapa Dewi bisa s e j a l a n g itu. Apa aku bisa bertahan untuk bersikap biasa saja terhadapnya sampai akhir persidangan? Entahlah.
...⚘️⚘️⚘️...
"Sudah sampai Pak."
Pak Ikhwan memberitahuku. Dia segera memarkir mobilku di basement. Aku keluar dari mobil dengan langkah lunglai.
"Mau saya antar ke dalam, Pak?"
"Tidak perlu Pak Ikhwan, terima kasih." Sambil meraih kunci mobil dari tangannya.
"Ya sudah, Anda hati-hati ya, Pak. Saya akan kembali ke firma."
"Tidak mampir dulu?" tanyaku.
"Tidak Pak."
"Bawa mobilku saja." Melempar kunci mobil ke tangannya.
"Tidak perlu, Pak. Aku mau naik taksi saja. Mobil Anda terlalu mewah."
Dia mengembalikan kunci ke tanganku dengan cara dilempar jua. Haish, untung saja bisa kutangkap. Lalu aku melengos tanpa memedulikan pak Ikhwan lagi. Saat hendak memasuki unit, perasaan sakit itu menyeruak lagi. Berapa orang 'kah jumlah pria yang melayani dia dia vidio itu? Aku sangat penasaran.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...