Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Akan Diperkenalkan


__ADS_3

Aku baru saja datang di kamar tunggu. Langsung menunduk karena di sini ada dua orang pria beseragam pengawal.


"Bu Daini ya? Kami berada di sini karena disuruh pak Zulfikar untuk menjaga Ibu. Kata pak Zulfikar, kalau Ibu sudah lapar, boleh makan terlebih dahulu," ujar salah satu dari mereka.


"Oh, te-terima kasih, Pak. Aku menunggu di luar saja." Aku risih berdekatan dengan laki-laki selain mahramku dan pak Zulfikar.


"Bu, Ibu yang di dalam. Kami yang di luar." Mereka beranjak.


Aku diam saja. Hanya mengangguk. Keberadaan mereka malah membuatku jadi tak nyaman. Tapi, mereka bekerja untuk pak Zulfikar. Aku harus menghormati mereka.


Aku menunggu sekitar lima belas menit. Sampai akhirnya, pak Zulfikarpun tiba, dan dia datang bersama bu Dewi. Mereka bahkan bergandengan tangan. Sama sekali tak ada hal yang mencirikan jika keduanya baru saja bertengkar.


"Pak Agus, Pak Budi, kita makan bersama yuk!" ajak pak Zulfikar. Nama dua pengawal itu ternyata pak Budi dan pak Agus.


"Kami sudah makan, Pak." Mereka menolak.


"Tak masalah. Kalian harus makan lagi. Kita makan bersama ya," ajaknya lagi.


Akupun inisiatif menghidangkan makanan tersebut dan mengatur kursi agar cukup untuk lima orang. Melihat aku merapikan kursi, pak Budi dan pak Agus sigap membantu.


"Kamu sedang hamil, lain kali, jangan berani angkat-angkat kursi lagi," sela pak Zulfikar. Sementara bu Dewi, sedari tadi belum bicara.


"Maaf," sahutku singkat.


Lalu kamipun makan bersama dalam keheningan. Pak Zulfikar duduk di antara aku dan bu Dewi. Sedangkan pak Agus dan pak Budi, duduk menjauh berhadap-hadapan.


Selesai makan, pak Budi dan pak Agus yang merapikan bekas makanan. Aku ingin membantu, namun dilarang pak Zulfikar. Bu Dewi masih tak bicara. Aku ingin menyapanya, tapi tak berani.


Setelah itu, pak Zulfikar pamit, katanya mau diambil sampel.


"Semoga lancar," kataku.


"Wi, aku ingin didampingi Hanin."


"Tidak bisa," sahut bu Dewi.


Percakapan kami terjadi setelah pak Agus dan pak Budi kembali ke parkiran.


"Sayang, kamu mau menunggu di sini? Apa mau langsung pulang?"


"Kalau aku pulang ke kontrakan, apa boleh?"


"Boleh, tapi pak Agus dan pak Budi harus mendampingi kamu."


"Kalau sama kak Listi? Boleh ya, Pak," rayuku. Aku tak memedulikan delikan mata bu Dewi.


"Emm, boleh 'deh, tapi pak Agus dan pak Budi harus tetap mendampingi," tegasnya. Benar-benar teguh pendirian.


"Jangan ngeyel 'dong, Dai! Kalau kamu dibegal baru tahu rasa!" sela bu Dewi. Akhirnya berbicara panjang juga.


"Wi, jangan bicara sembarangan!" sentak pak Zulfikar.


"Aku bicara fakta, Mas. Sekarang 'kan memang musimnya begal. Begalnya nekad-nekad lagi. Kalau mangsanya si Daini, aku yakin sebelum dibunuh bakal dipakai dulu. Hahaha."

__ADS_1


"Dewi! Jaga bicara kamu!"


"Atau baru dibunuh setelah puas dipakai berkali-kali."


"Dewi!" Pak Zulfikar beteriak lebih keras dari sebelumnya.


"Secara, si Daini cantik, seksi, dan bening. Hahaha."


"Dewi, diam kubilang!" Tangannya mengepal. Aku menahan tangannya agar pak Zulfikar tak melakukan hal bodoh.


"Hahaha, begalnya pasti bakal ketagihan kalau m e m p e r k o s a si Daini. Sama seperti kamu, Mas. Kamu juga kecanduan berzina dengan si Daini, 'kan? Ya, namanya juga tubuh yang sudah dimantra-mantrai," sindirnya.


Aku melongo, tak percaya jika bu Dewi berani berkata demikian. Pak Zulfikar menepis tanganku. Ia meninju kuat telapak tangannya.


"Dasar wanita gila!" Pak Zulfikar terlihat geram. Telinganya memerah. Dia marah, namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Yang gila itu si Daini, Mas. Bukan aku." Bu Dewi mengejekku dengan nada bicara yang santai.


"A-aku pergi," kataku. Segera mengambil tas dan berlalu karena tak mau mendengar cacian, tuduhan, dan hinaannya lagi.


"Hanin, tunggu." Pak Zulfikar mengejarku.


"Mas, kalau kamu mengejar dia, vidio itu ---."


"Sial!" rutuk pak Zulfikar.


Dia tak jadi mengejarku. Vidio itu disebut lagi. Ini untuk kedua kalinya. Vidio apa 'sih? Aku semakin penasaran.


...⚘️⚘️⚘️...


Saat ini, aku sudah berada di mobil kak Listi untuk menuju ke kontrakan. Mobil yang dikendarai pak Agus menguntit dari belakang. Tadi, setelah pergi dari pak Zulfikar dan bu Dewi, aku langsung menelepon kak Listi agar menjemputku.


"Sudah dikasih enak tinggal di apartemen mewah, uang jajan 25 juta setiap minggu, eh malah mau ngontrak dan jualan seblak. Mau kamu 'tuh apa 'sih, Neng? Heran, 'deh aku," gerutu kak Listi.


"Kak, bisa tidak jangan membahas masalah itu lagi?"


Aku mengabaikan kak Listi. Fokus ke jalanan yang lenggang. Karena tadi kota Jakarta diguyur hujan deras, lalu lintas saat ini masih lumayan sepi.


"Coba kita bisa tukeran nasib. Hidup kamu sempurna tahu, Neng. Suami kamu tampan, baik hati, kaya-raya pula. Kamunya juga cantik-jelita. Beruntung banget hidup kamu, Neng. Digilai sama cowok tajir-melintir. Hahaha, terus sekarang hamil, mana dapat kembar lagi."


Aku tersenyum mendengar perkataan kak Listi, Andai dia tahu bagaimana aku menjalani hari-hari, dia pasti berpikir dua kali untuk bertukar nasib denganku.


"Diam terus, gak asyik kamu, Neng," gerutunya.


"Hehehe, maaf, Kak." Aku akhirnya merespon kak Listi dengan tertawa sambil menepuk-nepuk lengannya.


Untungnya, aku memakai masker. Jadi, Kak Listi tidak tahu kalau pipiku masih merah karena ditampar bu Dewi.


"Kak, bisa berhenti dulu, gak? Aku mau beli itu." Menunjuk ke pedagang kaki lima yang sedang menjual tahu gejrot.


"Yakin gak apa-apa kalau kamu beli itu? Pak Direktur mengizinkan gak, Neng?"


"Ish, Kak. Masa ya mau beli yang kayak begini saja harus bilang dulu ke pak Zulfikar? Pasti boleh, 'lah, Kak."

__ADS_1


"Aku gak tanggung jawab ya Neng kalau suami kamu marah." Sambil menepikan mobil.


Aku bersemangat. Segera turun dari mobil. Mobil yang menguntitpun ikut menepi. Di luar dugaanku, pak Agus dan pak Budipun turun dari mobil dan mendekat ke arahku. Aku segera bersembunyi di belakang tubuh kak Listi.


"Maaf, Bu. Ibu tidak berniat membeli tahu gejrot itu, kan? Kami mendapat amanat dari pak Zulfikar agar Ibu tak jajan sembarangan," kata pak Budi.


"A-apa?" Aku terkejut.


"Tuh, 'kan, Dai? Apa kubilang? Gak percaya 'sih kamumah, Neng."


"Tapi, aku mau makan itu, Pak."


"Tenang, nanti saya akan menyiapkannya untuk Ibu. Sekarang, cepat kembali lagi ke dalam mobil. Menurut BMKG, sore ini akan turun hujan lagi." Sekarang giliran pak Agus yang berbicara.


Daripada menjadi pusat perhatian, akupun mengalah. Kembali ke mobil sambil menelan saliva. Rasa tahu gejrot melitas di angan-angan. Kak Listi terkekeh puas.


...⚘️⚘️⚘️...


Setibanya di kontrakan, setelah membuatkan kopi untuk pak Agus dan pak Budi, aku langsung menghempaskan diri di kamar sederhanaku. Sementara kak Listi, tadi kulihat sedang asyik memfoto semua hal yang ada di kontrakan ini. Entah apa tujuannya.


Lalu ponselku menyala. Ada panggilan dari pak Zulfikar. Setelah aku menjawab salamnya, ia langsung memberi ceramah singkat.


"Kata pak Agus, kamu mau makan tahu gejrot? Sayang, kamu sudah tahu, 'kan kalau makanan itu dilarang dikonsumsi oleh kamu? Ada cukanya, lambung kamu bisa kambuh."


"Jadi, Bapak menelepon hanya untuk masalah ini?" Aku benar-benar tak percaya.


"Ya," sahutnya.


"Oiya, jangan lama-lama di kontrakannya, jam setengah empat sore, kamu harus sudah ada di rumah."


"Apa?! Bapak bercanda ya? Sekarang saja sudah jam tiga sore. Perjalanan ke rumah Bapak kurang lebih setengah jam. Artinya, aku harus pulang saat ini juga?"


"Ya, benar sayang. Setibanya dari rumah sakit, aku inginnya kamu sudah ada di kamar kita dan menyambutku dengan senyuman dan ciuman," katanya.


"Apa?!"


"Hahaha, maaf ya sayang. Sepertinya, aku sedang terinfeksi virus bucin."


"Apa?!" Aku kembali terkejut.


"Cepat pulang sayang. Sungguh sayang, aku tak bisa jauh-jauh dari kamu."


"Lalu, gunanya kontrakan ini untuk apa, Pak? Bukankah Bapak sudah memberiku izin untuk mengontrak dan membuka usaha sendiri?"


"Ya sayang. Tapi 'kan, papa mau pulang dari rumah sakit. Besok, akan ada acara penyambutan untuk papa. Rencananya, aku akan memperkenalkan kamu ke keluarga besarku."


"A-apa?! Apa aku tak salah dengar?"


"Tidak sayang, kamu tak salah dengar. Cepat pulang ya cantik. Aku menunggumu. Sudah dulu ya sayang. Aku dan Dewi mau mengikuti kelas konseling. Setelah itu, langsung pulang 'kok. Nanti, aku akan menyewa chef agar membuat tahu gejrot spesial untuk kamu. Assalamu'alaikuum."


"Wa'alaikumussalaam."


Panggilan terputus.

__ADS_1


Aku menatap layar HP-ku seraya merenung. Benarkah aku akan diperkenalkan? Apa aku bisa membaur dengan mereka? Apa mereka bisa menerimaku? Atau mungkin, mereka akan membenciku?


...~Tbc~...


__ADS_2